Guna mengajak masyarakat melestarikan budaya Tanah Air, Sekar Ayu Jiwanta Foundation mempersembahkan pagelaran seni yang bertajuk Genta Sriwijaya.
Genta Sriwijaya merupakan cerita sejarah yang dikemas dalam bentuk pagelaran seni modern, gabungan antara seni tari, musik, teater, dan komedi yang dipadu dengan tata panggung, tata cahaya, serta permainan multimedia.
Genta Sriwijaya bercerita tentang Kedatuan Sriwijaya yang ketika itu dipimpin oleh Maharaya Dapunta Hyang Sei Jayanasa yang berkuasa antara kurun 617 Masehi hingga 702 Masehi.
Untuk mewujudkan cita-citanya membuat Sriwijaya menjadi sebuah Kedatuan yang besar, megah, dan kuat, Maharaja Dapunta Hyang melakukan sebuah perjalanan suci yang diberi nama Ngalap Berkah, guna menaklukkan wilayah-wilayah di sekitarnya, serta memperoleh kekuatan spiritual. Dalam perjalanannya itu terjadi beberapa peristiwa menarik lainnya.
Pertunjukan ini turut menggandeng sutradara Kenthus Ampiranto, Denny Malik sebagai creative dan show director, Rangga Djoned sebagai art director, dan Tohpati sebagai music director.
“Saya bergabung karena dulu pernah kerja sama juga sama Sekar Ayu Foundation tapi untuk buat pagelaran wayang orang. Akhirnya setelah tiga kali buat, yang keempat ini sepakat untuk buat Genta Sriwijaya,” ucap Kenthus Ampiranto saat ditemui di The Pallas, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis, 8 November 2018.
“Saya bangga karena komunitas ini latar belakangnya bukan seniman, tapi mau melestarikan dan memunculkan kembali sejarah nenek moyang untuk anak-anak muda,” ucap sang sutradara.
Tak hanya itu, pagelaran ini juga akan dibintangi oleh sederet public figure berbakat, seperti Andrea Miranda, Daniel Christianto, Ruth Sahanaya, Ivy Batuta, Inaya Wahid, Yenny Wahid, Bambang Pamungkas, Cathy Sharon, Ncesa Nabati, Sogi Indra Dhuaja, dan Deasy Novianty.
Genta Sriwijaya bakal digelar pada 20 November 2018 mendatang di Teater Besar Jakarta Taman Ismail Marzuki. (pik)
Film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak memborong nominasi dengan masuk ke dalam 14 dari 18 kategori untuk film cerita panjang
Komite Festival Film Indonesia telah mengumumkan daftar nomine untuk seluruh kategori penghargaan Piala Citra 2018. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak memborong nominasi dengan masuk ke dalam 14 dari 18 kategori untuk film cerita panjang.
Total ada 22 judul film cerita panjang yang menjadi nomine 18 kategori. Film-film ini dipilih dari 130-an film bioskop setahun terakhir, lewat seleksi yang melibatkan 20 asosiasi. Selain film cerita panjang, nomine lain adalah tujuh film cerita pendek, tiga dokumenter panjang, 10 dokumenter pendek, dan enam film animasi.
Setelah Marlina, peraih nominasi terbanyak berikutnya adalah Aruna & Lidahnya dengan sembilan kategori, Sekala Niskala dengan sembilan nomine dalam delapan kategori, Wiro Sablengdengan delapan kategori, serta Sultan Agung dengan enam kategori.
Selain Wiro Sableng, keempat film di atas menjadi nomine film cerita panjang terbaik.
Berikut daftar nomine 22 kategori penghargaan untuk Piala Citra 2018. Malam Anugerah akan dihelat di Jakarta pada 10 Desember 2018.
1. Penata Busana Terbaik
– Adrianto Sinaga (Wiro Sableng)
– Bambang Sugiarto (Wage)
– Gemaila Gea Geriantiana (Chrisye)
– Meutia Pudjowarsito (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
2. Penata Rias Terbaik
– Darto Unge (Sultan Agung)
– Didin Syamsyudin (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Jerry Octavianus (Wiro Sableng)
– Novie Ariyanti (Sebelum Iblis Menjemput)
– Retno Astuti (Wage)
3. Pengarah Artistik Terbaik
– Adrianto Sinaga (Wiro Sableng)
– Alan Sebastian, Edy Wibowo (Sultan Agung)
– Frans XR Paat (Wage)
– Frans XR Paat (Kafir)
– Frans XR Paat (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
4. Penata Efek Visual Terbaik
– Canary Project (Kafir)
– Danny S Kim, Teguh Raharjo (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Geppetto Animation (22 Menit)
– Keliek Wicaksono (Wiro Sableng)
– x.Jo, Hery Kuntoro (Sultan Agung)
5. Penata Musik Terbaik
– Aghi Narrotama, Bemby Gusti (Kafir)
– Aksan Sjuman (Kulari ke Pantai)
– Aria Prayogi (Wiro Sableng)
– Ken Jenie, Mar Galo (Aruna & Lidahnya)
– Zeke Khaseli, Yudi Arfani (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
6. Pencipta Lagu Tema Terbaik
– Ade Avery, Jessilardus Mates, Ayudia Bing Slamet – Teman tapi Menikah (Teman tapi Menikah)
– Mhala Numata, Tantra Numata – Juara (Naura & Genk Juara)
– Rayi Putra, Astono Andoko, Anindyo Baskoro – Kulari ke Pantai (Kulari ke Pantai)
– Tarapti Ikhtiar Rinrin, MA Nur Fauzan – Rindu Sendiri (Dilan 1990)
7. Penata Suara Terbaik
– Aria Prayogi, Ichsan Rachmadita (Wiro Sableng)
– Khikmawan Santosa, Yusuf A Patawari (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Satrio Budiono, Krisna Purna (Sultan Agung)
– Trisno, Hadrianus Eko, Yasuhiro Morinaga (Sekala Niskala)
8. Penyunting Gambar Terbaik
– Cesa David Luckmansyah (Hujan Bulan Juni)
– Dinda Amanda, Dwi Agus Putranto (Sekala Niskala)
– Kelvin Nugroho (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Teguh Raharjo (Sebelum Iblis Menjemput)
– W Ichwandiardiono (Aruna & Lidahnya)
9. Pengarah Sinematografi Terbaik
– Anggi Frisca (Sekala Niskala)
– Batara Goempar (Sebelum Iblis Menjemput)
– Hani Pradigya (Wage)
– Ipung Rachmat Syaiful (Wiro Sableng)
– Yunus Pasolang (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
10. Pemeran Utama Pria Terbaik
– Adipati Dolken (Teman tapi Menikah)
– Ario Bayu (Sultan Agung)
– Gading Marten (Love for Sale)
– Iqbaal Ramadhan (Dilan 1990)
– Oka Antara (Aruna & Lidahnya)
– Vino G Bastian (Chrisye)
11. Pemeran Utama Wanita Terbaik
– Della Dartyan (Love for Sale)
– Dian Sastrowardoyo (Aruna & Lidahnya)
– Marsha Timothy (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Prisia Nasution (Lima)
– Putri Ayudya (Kafir)
12. Pemeran Pendukung Pria Terbaik
– Egi Fedly (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Ence Bagus (Guru Ngaji)
– Marthino Lio (Sultan Agung)
– Nicholas Saputra (Aruna & Lidahnya)
– Teuku Rifnu Wikana (Wage)
– Yoga Pratama (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
13. Pemeran Pendukung Wanita Terbaik
– Ayu Laksmi (Sekala Niskala) – fourcolours
– Dea Panendra (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Dewi Irawan (Ayat-ayat Cinta 2) MD pictures
– Hannah Al Rashid (Aruna & Lidahnya) palari
– Karina Suwandi (Sebelum Iblis Menjemput)
– Ruth Marini (Wiro Sableng)
14. Pemeran Anak Terbaik
– Alifa Lubis (Koki-koki Cilik)
– Bima Azriel (Petulangan Menangkap Petir)
– Fatih Unru (Petualangan Menangkap Petir)
– Ida Bagus Putu Raditya Mahijasena (Sekala Niskala)
– Lil’li Latisha (Kulari ke Pantai)
– Maisha Kanna (Kulari ke Pantai)
– Ni Kadek Thaly Titi Kasih (Sekala Niskala)
15. Penulis Skenario Asli Terbaik
– Andibachtiar Yusuf, Irfan Ramli (Love for Sale)
– Gina S Noer, Mira Lesmana, Riri Riza, Arie Kriting (Kulari ke Pantai)
– Kamila Andini (Sekala Niskala)
– Mouly Surya, Rama Adi (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
– Vera Varidia (Koki-koki Cilik)
16. Penulis Skenario Adaptasi Terbaik
– Johanna Wattimena, Upi (Teman tapi Menikah)
– Rano Karno (Si Doel The Movie)
– Titien Wattimena (Aruna & Lidahnya)
17. Sutradara Terbaik
– Edwin (Aruna & Lidahnya)
– Kamila Andini (Sekala Niskala)
– Mouly Surya (Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak)
18. Film Animasi Pendek Terbaik
– Keluarga Satu Setengah (Michaela Clarissa Devi)
– Knight Kris (William Fajito, Antonius)
– Si Juki the Movie (Faza Meonk)
– Terrorvision 3000 (Percoleto Galactic)
– Thank You (Benvuto Lucano A)
– The Awakening Lullaby (Sendika R)
19. Film Dokumenter Pendek Terbaik
– Andreas Melawan Realitas (Protus Hyasintus Asalang
– Angin Pantai Salemko (Rahung Nasution, Yogi Fuad)
– Deathroom 48 (Saul Manurung)
– Di Bawah Langit yang Sama (Adih Saputra)
– Lahir di Darat, Besar di Laut (Steven Vicky Sumbodo)
– Neraka di Telapak Kaki (Sarah Adilah)
– Ojek Lusi (Winner Wijaya)
– O-SEPIG (Agnes Michelle)
– Pagi yang Sungsang (Pingkar Persitya Polla)
– Rising from the Silence (Shalahuddin Siregar)
20. Film Cerita Pendek Terbaik
– Elegi Melodi (Jason Iskandar)
– Har (Luhki Herwanayogi)
– Joko (Suryo Wiyogo)
– Kado (Aditya Ahmad)
– Melawan Arus (Eka Saputri)
– Siko (Manuel Alberto Maia)
– Topo Pendem (Imam Syafi’i)
21. Film Dokumenter Panjang Terbaik
– Lakardowo Mencari Keadilan (Linda Nursanti)
– Nyanyian Akar Rumput (Yuda Kurniawan)
– Semesta (Chairun Nissa)
22. Film Cerita Panjang Terbaik
– Aruna & Lidahnya (Meiske Taurisia, Muhammad Zaidy – Palari Films)
– Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (Rama Adi, Fauzan Zidni – Cinesurya, Kaninga, HOOQ)
– Sekala Niskala (Kamila Andini, Gita Fara – fourcolours films, Tree Water Productions)
– Sultan Agung (Mooryati Soedibyo, Putri Kuswisnuwardhani, Haryo Tedjo Baskoro – Mooryati Soedibyo Cinema)
Aktor Rio Dewanto merasa terbebani saat menerima film Hanum & Rangga. Hal tersebut diakuinya saat jumpa pers di sebuah bioskop, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat,baru baru ini.
Untuk meringankan beban tersebut, pemeran Yudha dalam film Ini Kisah 3 Dara (2016) memastikan apakah dirinya harus berperan seperti karakter-karakter yang ada di dua film sebelumnya, atau kah harus memberikan karakter baru dalam sosok Rangga.
Pasalnya dua film sebelumnya tokoh Rangga sempat diperankan oleh Abimana Aryasatya.
Namun, kini dirinya yang memerankan tokoh tersebut.
“Waktu ditawari saya tanya apakah saya harus mengikuti karakter sebelumnya. Apakah saya harus ketemu Mbak Hanum dan Mas Rangga? Apakah saya harus nonton film sebelumnya?,” tutur Rio.
“Kata sutradara nggak perlu, kamu cari karakter sendiri yang bisa disuguhkan ke masyarakat,” ucap Rio.
Dalam film yang diangkat dari novel Faith & The City tersebut Rio Dewanto dipasangkan oleh Acha Septriasa yang berperan sebagai Hanum. (pik)
Paradise City, menjadi suguhan pamungkas Guns N Roses dalam konser bertajuk “Not In This Lifetime” Tour in Jakarta 2018, di Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (8/11/2018) malam.
Penonton ikut menyanyikan lagu Guns N Roses dan juga asyik bergoyang sepanjang konser 3 jam itu, dari lagu pertama hingga lagu ke 25.
Tampak Axl Rose yang terlihat semakin terengah di akhir lagu. Usia tak bisa berbohong, suara Axl Rose mulai terlihat parah ketika mencapai nada tinggi.
Lagu Paradise City pun berakhir seiring ledakan confetti yang menghias langit.
Jelang turun panggung, Axl pun mengucap terima kasih.
“Terima kasih Jakarta, Indonesia,” ujarnya.
Duff Mckagan, Slash dan Axl terlihat melambaikan tangan usai Axl mengucapkan terima kasih. Para pentolan grup musik itu terlihat ke belakang panggung diikuti 4 personil yang lain.
Beberapa saat kemudian, Guns N Roses kembali menuju ujung depan panggung. Axl terlihat mengenakan mantel berwarna merah.
Setelah berkumpul di bagian depan panggung, para personil dengan kompak saling rangkul.
Mereka juga membungkukkan tubuh sebagai bentuk pamit kepada penonton.
Sebelum meninggalkan panggung, Slash dan Duff membagikan pick gitar ke arah penonton.
Selain melantunkan lagu milik sendiri seperti ‘Sweet Child O Mine’, ‘Chinese Democracy’, ‘Welcome to the Jungle’ dan ‘November Rain’, GNR juga menyenandungkan nomor-nomor dari grup lain diantaranya ‘Live and Let Die’ milik Wings dan ‘Knockin on Heavens Door’ dari Bob Dylan.
Setelah tampil di Jakarta, Guns N Roses akan melanjutkan tour ke Filipina, Malaysia, Abudhabi dan Johannesburg. Tour bertajuk “Not In This Lifetime” ini dimulai sejak 1 April 2016 dan diakhiri 8 Desember 2018 mendatang. (pik)
Angelica Simperler ditunjuk menjadi pemain film Keira garapan Harry Dagoe Suharyadi. Film tersebut dijadwalkan akan tayang pada 15 November mendatang. Perempuan yang akrab disapa Angel ini berperan sebagai Keira yang memiliki tujuh kepribadian, meskipun sesungguhnya ia memiliki sembilan kepribadian.
Penyandang tujuh kepribadian kadang dirasa tidak masuk akal. Angelica sudah bermain untuk beberapa film, namun baginya Keira adalah film terberatnya karena tokoh tersebut belum terlalu ia pahami. Bahkan dirinya mengaku sempat nangis sebelum berangkat ke Lampung untuk syuting.
“Aku merasa karakter Keira memang berat, Tapi ini yang menarik untuk mempelajari. Nah prosesnya itu cepat banget, gak lama reading langsung ke Lampung. Jadi pas malam mau berangkat aku jadi nangis,” ujar Angelica Simperler saat ditemui baru baru ini.
Karena di film ini dirinya menjadi pemeran utama, jadwalnya pun sangat padat. Sehingga ia sempat kelelahan. Wanita bertubuh mungil ini sampai minta izin untuk libur satu hari. Sayang, permintaannya tak diizinkan sang sutradara. Menanggapi hal tersebut, sang sutradara buka suara.
Menurutnya ada alasan mengapa dirinya tak mengizinkan Angelica Simperler untuk tidak libur. Karena kalau Angel kembali fresh, dirinya tak bisa mendalami karakter Kiera. “Dalam keseharian, kondisinya Angelica memang harus capek. Scene dia gak akan dapat kalau kondisi dia segar,” paparnya.
Film Keira juga dibintangi Ray Sahetapy, Ferly Putra, RockyJeff, Erlandho Saputra Tiga Setia Gara, Cinta Ramlan, Yan Widjaya, Djenar Maesa Ayu dan masih banyak lagi. Film Keira yang dibintangi Angelica Simperler dijadwalkan akan tayang pada 15 November 2018. (pik)
Sebagai pencinta musik keras, Presiden Indonesia Joko Widodo diharapkan datang ke konser Guns N’ Roses. Band rock itu akan mengguncang Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada Kamis (8/11).
“Kalau soal kedatangan Pak Jokowi belum ada yang tahu, kemungkinan selalu ada,” kata Adib Hidayat, selaku perwakilan dari promotor saat jumpa pers di GBK, Jakarta, Selasa (6/11).
Menurut pihak promotor, sejauh ini tidak ada undangan resmi untuk Jokowi. Namun tentu semua pihak bakal menyambut baik kedatangan orang nomor satu di Indonesia itu di konser Guns N’ Roses.
“Kalau (Jokowi) datang pasti senang,” ujarnya.
Persiapan konser Guns N’ Roses di Stadion Gelora Bung Karno Senayan Jakarta–foto istimewa
Jelang konser spektakuler tersebut, TEM & UnUsUaL Entertainment selaku promotor menyebut persiapan konser Guns N’ Roses telah mencapai 80 persen. Panggung besar sudah berdiri di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta.
Area serta panggung siap menyambut ribuan fans yang akan berkumpul untuk merayakan momen kebersamaan formasi klasik Guns N’ Roses yang sangat ditunggu-tunggu pecinta musik rock.
Apalagi band dengan hits November Rain itu bakal beraksi dengan formasi klasik setelah berpuluh tahun lamanya. Tujuh personel Guns N’Roses telah mendarat di Jakarta, Senin (6/11) kemarin. “Dia masih jet lag. Istirahat buat sound cek hari ini,” ujar Adib Hidayat. Mereka memboyong sebanyak 50 orang kru dan akan menggebrak GBK dengan durasi 3 jam. “Lapangan rumput hijau pun sudah ditutup terpal,” timpal Adib lagi. (pik).
Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok–foto wartakota.tribunews
Jelang libur akhir tahun, banyak film keluarga yang akan tayang. Salah satunya ‘A Man Called Ahok’. Film bergenre drama ini bercerita tentang keluarga pengusaha Kim Nam, ayah dari Basuki Tjahja Purnama alias Ahok.
Diambil berdasarkan kisah nyata keluarga Ahok di Belitung Timur, film tersebut lebih menyoroti bagaimana kesuksesan keluarga Kim Nam dalam mendidik anak-anaknya. Kim Nam yang dikenal sebagai pengusaha dermawan juga melahirkan sifat tersebut kepada Ahok hingga akhirnya berhasil menjadi pebisnis sukses serta Bupati Belitung Timur.Ketika mendengar Ahok mungkin terpikir kalau film akan bercerita mengenai politik. Namun film ini lebih berkisah tentang bagaimana seorang ayah mendidik anaknya. Hal tersebut diungkap oleh sang sutradara, Putrama Tuta.
“Ini film tentang value keluarga bagaimana keluarga sangat berpengaruh buat kehidupan seseorang. Saya memang lebih menekankan bagaimana hubungan ayah dan anak, bagaimana keluarga bisa membuat generasi masa depan tumbuh hingga membuat perubahan,” papar Tuta saat press conference di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (5/11/2018). Daniel Mananta (MC terkenal) dipercaya jadi Ahok. Bintang lain adalah Denny Sumargo, Sinta Nursanti, Chew Kin Wah (aktor Malaysia), Eriska Rein, Donny Damara, Erik Febrian dll.
Film yang diproduseri oleh Emir Hakim itu rencananya mulai tayang pada 8 November mendatang. Emir mengatakan bahwa tak ada target penonton tertentu. Ia mengharapkan sebanyak-banyaknya.
Tuta menambahkan, ia berharap penonton yang hadir tak hanya keluarga tapi juga anak muda. “Saya pengen anak-anak muda zaman sekarang punya mimpi signifikan karena mereka akan memiliki pengaruh ke banyak orang,” tambahnya. (pik)
Pamela Anderson saat wawancara di acara “60 Menit” di jaringan televisi Australia, Nine Network’s.
MASIH ingat Pamela Anderson? Bagi Anda penyuka film seri televisi Baywatch, mungkin masih mengingatnya. Pam, menjadi salah satu gadis penjaga pantai, yang menjadi pemikat serial tersebut. Pam, wanuita bomb seks kelahiran Kanada itu, kini sedang membawa misi untuk memperjuangkan pendiri pendidi WikiLeaks, Julian Assange, untuk bisa kembali ke Australia.
Pam telah meminta Perdana Menteri Australia Scott Morrison untuk membela pendiri WikiLeaks, situs yang mengelola dan mengungkap dokumen-dokumen rahasia, agar membantu membawanya kembali ke Australia.
Mantan bintang Naked Souls (1995) itu mengatakan, Morrison harus bangga dengan apa yang dilakukan oleh Assange yang kelahiran Australia itu, yang terpaksa telah bersembunyi di kedutaan Ekuador di London selama enam tahun.
Anderson membantah desas-desus bahwa dia lebih dari seorang teman dekat Assange, tetapi dalam sebuah wawancara di acara “60 Menit” di jaringan televisi Nine Network’s, Pam menegaskan bahwa hubungan mereka sebatas “perjuangan romantis”.
Anderson, yang menjalin persahabatan dengan Assange atas minat bersama mereka dalam aktivisme itu, meyakini pentingnya langkah pemerintah Australia untuk berbuat lebih banyak dalam membantunya mengembalikan Assange ke Australia.
Assange mengungsi di kedutaan Ekuador pada 2012 setelah pengadilan Inggris memerintahkan ekstradisinya ke Swedia untuk menghadapi pertanyaan dalam kasus pelecehan seksual.
Kasus itu telah dijatuhkan, tetapi para pendukung mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Assange bisa diekstradisi ke Amerika Serikat, jika dia meninggalkan kedutaan tersebut. WikiLeaks mempublikasikan rahasia diplomatik dan militer AS, ketika Assange menjalankan operasi.
“Pertahankan temanmu dan bawa Julian kembali, dan bawa dia kembali ke Australia dan berbanggalah dengannya dan araklah dia dengan pawai ketika dia pulang,” kata Anderson, ketika ditanya tentang pesannya untuk PM Morrison.
Anderson menegaskan memiliki hubungan dengan pemain sepak bola Prancis Adil Rami, tetapi soal ikatannya dengan Assange adalah “perjuangan romantis” untuk “mendidik dunia”.
“Kami tidak memiliki hubungan romantis, tetapi saya merasa sangat dekat dengannya dan saya merasa lebih dekat dengannya daripada saya pikir banyak orang telah mendapatkannya,” katanya.
“Saya pikir saya berharga dalam beberapa cara karena saya pikir orang berpikir dia adalah layar komputer dan saya memanusiakannya.”
A computer hacker & a former sex bomb seems like an unlikely alliance. But Julian Assange & @PamFoundation share a special bond, one she says is a “romantic struggle”. She’s been visiting him in the Ecuadorian embassy for the past two years, and photographed every time #60Minspic.twitter.com/9p7m8yx2Wv
Ketika ditanya apakah ada hubungan “fisik” jika Assange keluar dari kedutaan, Anderson dengan centil menggoda, “Siapa yang tahu? Dia sedikit pucat bagi saya.”
Anderson juga memicu kritik dalam wawancara, dengan komentar yang meremehkan gerakan #MeToo.
“Feminisme terlalu jauh. Saya seorang feminis, tapi saya pikir feminisme gelombang ketiga ini membosankan. Saya pikir itu melumpuhkan manusia. Saya pikir gerakan #MeToo ini terlalu banyak bagi saya – saya minta maaf, saya mungkin akan terbunuh karena mengatakan itu, ” katanya kepada pewawancara Liam Bartlett.
“Feminism can go too far. I'm a feminist, but I think that this third wave of feminism is a bore. I think it paralyses men.” Pamela Anderson criticises the #MeToo movement, warning women to use “common sense” @PamFoundation#60Minspic.twitter.com/6dUmvbueRu
“Ibuku mengajariku jangan pergi ke hotel bersama orang asing. Jika seseorang menjawab pintu di dengan jubah mandi dan seharusnya itu adalah pertemuan bisnis, mungkin aku harus pergi dengan orang lain.”
Ketika Bartlett bertanya apakah dia berbicara tentang Harvey Weinstein, dia menjawab “Ya.”
“Kurasa beberapa hal hanyalah soal akal sehat. Atau, jika kamu masuk, dapatkan pekerjaan itu,” tambahnya sambil tertawa.***
Catatan tentang Pamela Anderson
Filmografi
The Taking of Beverly Hills (1991)
Snapdragon (1993)
Raw Justice (1994)
Naked Souls (1995)
Barb Wire (1996)
The Making of Bret Michaels (2002) (documentary)
Scooby-Doo (2002)
Pauly Shore Is Dead (2003)
Scary Movie 3 (2003)
No Rules (2005)
Borat: Cultural Learnings of America for Make Benefit Glorious Nation of Kazakhstan (2006)
Blonde and Blonder (2007)
Serial Televisi
Home Improvement (1991-1993)
Baywatch (1992-1997)
Days of Our Lives (1992)
Come Die with Me: A Mickey Spillane’s Mike Hammer Mystery (1994)
Kabar duka kembali mewarnai dunia hiburan. Aktris Pretty Asmara dikabarkan meninggal dunia.
Kabar ini dibagikan melalui akun instagram sahabat Pretty Asmara, pedangdut Ade Nurul.
Dalam akun instagramnya dia mengunggah video kebersamaannya bersama Pretty.
“Innalillahiwainnalillahirajiun.. Telah berpulang Sahabat kita PRETTY ASMARA.. Mohon dimaafkan semua kesalahannnya.. Semoga almarhumah dapat tempat terbaik di sisi Nya… Aminn.”
Kabar ini dibenarkan oleh kuasa hukum Pretty Asmara Sahrul Romadana.
“Benar (meninggal dunia), jam 06.00 WIB pagi di RS. Pengayoman, Cipinang,” kata Sahrul.
Perempuan bernama asli Dian Pretty Asmara yang bermain dalam sejumlah sinetron dan film sempat tersandung masalah kepemilikan narkoba. Dia divonis enam tahun penjara di PN Jakarta Selatan dan ditambah menjadi delapan tahun setelah ajukan banding.
Jenazah aktris berusia 41 tahun dan berbobot 143 kg ini sudah dimandikan dan dikafani di RS Pengayom. Keluarganya meminta agar jenazah Pretty dimakamkan di Lumajang, kota kelahirannya (pik)
Para pemenang ajang Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018
Tiga dari lima film dokumenter terpilih menjadi pemenang ajang Eagle Awards Documentary Competition (EADC) 2018. Juara pertama diberikan pada film ‘Damai dalam Kardus’.
Film garapan Andi Ilmi Utami dan Sulaeman Nur menceritakan kehidupan salah satu warga Poso bernama Gunawan. Kerusuhan agama di Poso pada satu dekade lalu telah menghancurkan seluruh yang dimiliki Gunawan.
Bukan saja kotanya yang hancur, tapi juga menghancurkan keluarganya. Sementara juara dua diraih film ‘Menabur Benih di Lumpur Asmat’ besutan Yosep Levi dan Bernad Konten.
Film ‘Menabur Benih di Lumpur Asmat’ bercerita tentang perjuangan guru SD Yufri di Asmat untuk memenuhi kebutuhan gizi siswanya. Dia berusaha mengatasi masalah gizi swasembada pangan secara mendiri di lahan yang didominasi dengan lumpur.
Sedangkan juara terakhir jatuh pada film ‘Pusenai Last Dayak Basap’. Film karya Fajaria Menur Widowati ini berkisah tentang seorang nenek suku Dayak Basap yang tinggal di Desa Teluk Sumbang, salah satu desa terluar di Kalimantan Timur. Ia berusaha beradaptasi dengan modernisasi pascarelokasi dari hutan ke pemukiman.
Dampak dari perubahan lingkungan menyebabkan ia harus mencari rotan hingga puluhan kilometer. Bahkan, warga setempat terancam kehilangan mata pencahariannya lantaran hutan akan diubah menjadi perkebunan sawit.
Tiga film ini telah melalui tahap seleksi dari 187 peserta. Ketiga film itu telah dipilih oleh sineas ternama seperti Garin Nugroho, Nia Dinata, dan sineas dari India Supriyo Sen.
Juara satu mendapatkan hadiah sebesar Rp100 juta, juara kedua Rp60 juta, dan juara ketiga Rp40 juta. Mereka juga akan mendapatkan kamera Panasonic dan beasiswa S2 dari Kemendikbud.
Presiden Direktur Metro TV Suryopratomo berharap ajang EADC 2018 dapat meningkatkan kesadaran bahwa Indonesia harus jadi negara yang hebat. Pasalnya, Indonesia harus terus berproses untuk menjadi Indonesia.
“Jadi sesuai dengan tema kita Menjadi Indonesia, untuk menjadi Indonesia itu pilihan berat dan butuh proses,” tutur dia.
Dia berharap film-film dokumenter itu bisa menjaga keutuhan NKRI dengan cara berbeda.
Seluruh film ini akan ditayangkan di Metro TV setiap hari mulai tanggal 12 November hingga 16 November 2018 pukul 21.30 WIB sampai 22.00 WIB. (pik)