Apa Kabar Rico Tian?

Rico Tian–foto instagram ricotian

JAYAKARTA NEWS— Aktor sinetron dan film ganteng ini sudah hampir 5 tahun tak muncul di dunia entertainment. Kemana gerangan ?

Ternyata, dia banting setir ke dunia bisnis : real estate dan mencoba berbisnis ke bursa saham.

“Tapi darah seniku masih bergejolak. Makanya, malam ini aku sengaja umumkan, aku coma back ke dunia hiburan yang telah lama membesarkan namaku,” lontar Rico Tian, yang malam itu merayakan ultahnya ke-30 di sebuah kafe di kawasan SCBD, bersama rekan-rekannya. Hadir beberapa model dan pesohor kondang, antara lain Rossa (malah Rico Tian menyanyi duet bersamanya), Ozi Syahputra (pemain sinetron ‘Si Manis Jembatan Ancol), Davi (finalis KDI dangdut), Ivo Nilakresna, penyanyi gaek yang kini berkursi roda dan seabreg artis lain.

Rico Tian dan Rossa– foto istimewa

Sinetron pamungkas yang dimainkannya adalah ‘Putih Abu Abu’ (2013). Setelah itu, Rico Tian raib tak ada kabar beritanya. 

Belakangan, Rico yang betah membujang ini mencoba membuat semacam komunitas yang disebutnya dengan nama RCT Family. 

“RCT Family hasil audisi dari 34 orang yang mempunyai talenta bagus. Mereka kita pilih menjadi 8 orang (4 cowok dan 3 cewek) yang sekarang ini aku bina bersama bantuan manajemen aku dan mbak Vemmy Sagita yang berpengalaman dengan dunia sinetron dan film,” kata Rico bersemangat.

Delapan talent tersebut adalah Aidil Saputra, Riri, Arief Fernando, Al Hidayat, Marchella, Fannita,  Khanza Buluks dan Rico Tian sebagai leadernya.

RCT Family telah menelurkan web series di kanal Youtube dengan produk andalannya berupa sitkom (sinetron komedi) bertajuk ‘Kost’an 88’ yang telah mencuri perhatian para viewers Youtube. Hingga kini, telah diproduksi sebanyak 5 buah Web di Youtube yang sudah bisa diklik saat ini.

“Kita akan buat lagi serialnya,” janji Rico Tian.

Sitkom ini mengisahkan tentang kehidupan anak muda milenial. “Kami garap serius dengan standar kualitas film. Jadi bukan bikin asal-asalan. Meski tayang di kanal Youtube, dibawah supervisi Vemmy Sagita kita optimistis sitkom ini bakal disukai para remaja milenial,” lanjut Rico Tian. 

Dalam sitkom ini, juga dilibatkan beberapa bintang tamu terkenal yaitu Rossa (biduanita) dan Ozi Syahputra (Si Manis Jembatan Ancol) dll.

Selain Web series sitkom, RCT Famiily juga memproduksi single lagu dengan judul ‘Sahabat’  yang dilantunkan oleh 8 orang. 

Dalam lagu ini, digandeng Irfan Aulia (gitaris Samson), sedangkan Yoyo padi penggebuk drum di lagu ini. Tak ketinggalan juga, diajak serta Irvan Nat sebagai Vocal Director (pernah memperkuat diva Malaysia, Siti Nurhaliza).

Tatkala masih berjaya, Rico Tian pernah memperkuat belasan sinetron, ftv dan film, di antaranya ‘Cinta Fitri season 2, 3, 4 dean 5’, ‘Azizah’, ‘Suci’, ‘Cinta Bunga’, ‘Melati untuk Marvel’, ‘Cinta 1 Rupiah’, ‘7 Bidadari dan Jaka Tarub’, ‘Rawa Pening’ dan seabreg sinetron/ftv lainnya. Terakhir, Rico Tian membintangi 2 film bertema remaja, yaitu ‘Love and Edelweiss’ (2010) dan ‘Sayonara’ (2014). 

“Namun, dari semuanya, yang paling berkesan dan booming di layar kaca buatku adalah sinetron ‘Putih Abu Abu’ dimana aku menjadi terkenal berkat sinetron ini. Dari remaja sampai orang tua kalau bertemu aku, pasti meminta selfie bersama dan mengerubuti aku. Memang sih sinetron, ftv dan film lain juga melejitkan aku,”  timpalnya lagi.

Ada benarnya, dalam dunia kreatif tak ada yang tak mungkin. Semuanya serba mungkin. Dan Rico Tian telah membuktikannya lewat dunia hiburan dan dunia bisnis. Atau dua dunia ini akan sekaligus direngkuhnya atau kembali akan menggeluti dunia semula, yaitu hiburan ? Kita tunggu gebrakan Rico Tian. (pik)

Generasi Milenial, Antara Lagu Perjuangan dan ‘Kereta Malam’


JAYAKARTA NEWS – Greget dan semangat HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia masih tetap berdenyut di bulan Agustus ini.

Dalam dunia seni, beberapa musisi dan pesohor mencoba merekam dan merilis album lagu-lagu perjuangan.

Lilis Chandra Kirana, ibu rumah tangga dan pimpinan Bintang Kirana Voice  baru-baru ini merilis album ‘Untukmu Indonesiaku’ berisi 7 lagu perjuangan. Yaitu ‘Desaku’ (L Manik), ‘Rayuan Pulau Kelapa’ (Ismail Marzuki), ‘Tanah Airku’ (Ibu Sud), ‘Indonesia Pusaka’ (Ismail Marzuki), ‘Terimakasihku’ (Sri Widodo), ;Sepasang Mata Bola’ (Ismail Marzuki0 dan ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ (NN).

“Tujuan saya merekam ulang lagu-lagu perjuangan yang bersemangatkan Nasionalisme untuk mengingatkan generasi milenial agar hafal dan bisa menyanyikannya. Jangan mereka tahunya hanya lagu dang dut ‘Kereta Malam’ saja…,” lontar Lilis tersenyum kepada penulis.

Lilis menjelaskan, sebelum merekam lagu perjuangan ini, dia dan teman-temannya harus berkieliling ke kota-kota di seluruh Indonesia. Mereka ke Bandung, Jogjakarta, Surabaya dan sejumlah kota lainnya untuk meminta izin kepada hak waris dan pemilik lagu tersebut.

“Semuanya setuju. Hanya ada satu lagu yang sulit dicari hak waris dan siapa pencipta aslinya. Akhirnya kita tuliskan NN saja,” imbuhnya.

Apakah lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’ yang dinyanyikan oleh Iwan Fals sebagai lagu tema dalam film ‘Bumi Manusia’, Lilis tidak ingat pasti. Karena di album, tertulis nama  Ismail Marzuki sebagai pencipta lagu ‘Kulihat Ibu Pertiwi’. Padahal, lagu tersebut adalah adaptasi dari lagu rohani/lagu gereja di abad 18.

Selain direkam, album ‘Untukmu Indonesiaku’ juga bisa dibuka lewat YouTube. 

“Kita sengaja merekam dengan semangat dan doa. Dalam berbagai genre musik. Ada pop, pop jazz, keroncong, dan sedikit rock, juga ada etnis Balinya,” lontar Lilis lagi.

Lilis yang bersuamikan pengusaha asal Jerman bernama Hans ini juga berkisah, selain tarik suara, ia juga punya hobi mengoleksi busana batik, baik batik dari Solo, Jogjakarta, Lasem maupun Cirebon.

“Semua produk lokal, Indonesia. Walau suami saya orang Jerman, toh jiwa saya tetap Indonesia. Saya hanya mengoleksi dan mengumpulkan batik khas Indonesia, bukan batik bajakan asing seperti dari negara tetangga kita atau dari negara lain. Saya enggak rela kalau warisan bangsa Indonesia seperti batik dibajak oleh orang asing,” sergap Lilis.

Ini menarik. Perpaduan antara lagu perjuangan Indonesia dan batik khas Indonesia. Kapan dipadupadankan nih, misalnya dalam sebuah fashion show di luar negeri ?

“Tepat…kami juga sedang memikirkan ke arah sana. Siapa lagi kalau bukan kita orang Indonesia yang akan mewariskan lagu perjuangan dan batik Indonesia,”  timpal Lilis.
Who knows ? (pik)

Ini Dia Neona Penyanyi Cilik Sukses, Anak Nola B3

Anodya Sula Neona Ayu alias Neona 10 tahun, anak penyanyi Nola B3, sukses di panggung hiburan tanah air–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Penyanyi  cilik belakangan kembali naik daun. Anodya Sula Neona Ayu alias Neona, 10 tahun,  anak ke 2 pasangan Nola B3 dan Baldy sudah memiliki 7 single hits. 

Ke 7 single tersebut bertajuk ‘Aduh Neik’, ‘Ada Deh’, ‘Warbiasyak’, ‘Kasih Ibu’, ‘Bintang Kejora’, ‘1234’ dan ‘Kepompong’ yang semuanya memperoleh respon positif dari masyarakat.

Sebagai bukti, video klip ‘Aduh Neik’ sudah dilihat lebih dari 16 juta kali. Dan lebih sempurna lagi, Neona baru saja merilis album perdana full yang berjudul ‘With Love’ .

Di sisi lain, Neona juga merupakan brand ambassador dari beberapa produk ternama di Indonesia dan telah membintangi 5 film layar lebar, seperti ‘Naura dan Genk Juara’, ‘Flight 555’ dan ‘Habibie Ainun 3’ (baru akan dirilis Desember 2019).

Neona dan orangtuanya–foto istimewa

Penyanyi cilik yang pernah menggaet Juara 1 Hip Hop Dance Primary di Singapura ini akan tampil dalam konser ‘Cinta’ di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (7 Desember) pk 7 PM. 

Dalam konser ini, Neona akan melantunkan sebanyak 20 lagu andalannya bersama kelompok dancenya yang diberi nama ‘DNeo’. Selain itu, konser ini juga didukung oleh beberapa bintang tamu, seperti Mama Nola, Kakak Naura, The Baldys, Dneo, Ayonk, Hops Pupet, Rishanda, The Rising, Musik Sanip dan Mbah Onah.

Konser ini bercerita ihwal cinta Neona terhadap seni dan budaya Indonesia, dimana dia akan masuk ke alam mimpi dan petualangan, bertemu dengan tokoh animasi dan boneka. Petualangan Neona akan berisi nasehat tentang kehidupan dan keluarga. 

Neona dan ibunya, Nola B3–foto istimewa

Tentu, kionser anak ini akan didukung oleh tata panggung, tata musik, tata suara dan multimedia yang akan membawa ‘Kawan Neo’ (fans fanatik Neona) dan khalayak anak serta orang tuanya yang hadir larut dalam cerita Neona. 

“Saya akan mengajak semua fans dan penonton untuk menyanyi bersama dari single hits yang telah diluncurkan dan lagu baru yang ada di album perdana saya,” cetus Neona kepada penulis belum lama ini.

Persiapan apa untuk sampai pada ‘hari H’ nanti ?

“Latihan fisik, seperti olahraga, senam dan berlari sesuai umur. Ini sangat penting mengingat konser musik ini sebentar lagi akan tiba,” jawab Neona cepat. 

Jawaban-jawaban Neona yang cespleng cukup membuat surprise kedua orang tuanya, Nola dan Baldy. Padahal, kedua orang tuanya tidak pernah mengajarkan yang seperti itu. Paling banter memberikan nasehat dan saran bagi latihan vokal dan fisiknya.

Setelah Jakarta, apakah konser Cinta Neona akan dilanjutkan di kota lain ?

“Rencananya demikian, paling dekat Bandung yang dekat dulu deh,” timpal Neona. (pik)

Kisah Cinta Semalam Seorang Pengemudi Ojek

Marthino Lio–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Musik  dan film seperti kakak dan adik. Film harus ada iringan musiknya (kecuali film bisu zaman Charlie Chaplin). Demikian pula musik.

Banyak pemusik serta biduan/biduanita terjun ke dunia film. Misalnya Titiek Puspa, Bunga Citra Lestari (BCL), Lala Karmela, pasutri Melly Goeslaw dan Anto Hoed, Dr Tompi (jadi sutradara) dan masih banyak lagi.

Marthino Lio, 30 tahun, awalnya jadi penyanyi duet bersama Melly Goeslaw dalam film ‘Habibie 2’. Dia melantunkan lagu ‘Ratusan Purnama’.

Marthino Lio jadi pengemudi ojek– foto twitter moveonaja

Kini, Marthino merambah ke dunia film. Beberapa kali ia menjadi pemeran utama pria. Misalnya dalam film ‘Sultan Agung’ garapan Hanung Bramantyo, Terakhir, ia unjuk kebolehan sebagai driver ojek online (ojol) dalam film ‘Moveonaja’. yang disutradarai Hestu Saputra. Film ini produksi patungan antara Northcliff dan Open Door Film.

‘Moveonaja’ adalah film berkisah tentang keseharian yang ringan namun menyenangkan. Seluruh syuting di Pulau Dewata (Bali), termasuk malam Tahun Baru.

“Ketika saya baca skenarionya, saya suka.  Bertema komedi romantis. Ceritanya hanya terjadi dalam satu malam,” urai Marthino.”Terlebih lagi, saya dipertemukan dan dipasangkan dengan Lala Karmela dan Asmara Abigail. Lalu ada pelawak Uus, seru deh,” imbuhnya.

Salah satu adegan dalam film ‘Moveonaja’–foto twitter moveonaja

Pengemudi ojek bernama Irwan (Marthino Lio), arsitek yang bekerja di Bali menyukai profesi barunya ini, paska terkena PHK dari perusahaannya.

Ketika Irwan mendapat masalah dalam kehidupan percintaannya dengan Jessica (Lala Karmela), sahabat karib sekontrakannya, Dani (Uus) berusaha membantu Irwan.

Melalui aplikasi kencan, yang pada akhirnya mempertemukannya dengan Nadia (Asmara Abigail). Perbedaan karakter antara Irwan dan Nadia menjadi konflik menarik, unik dan lucu. Nadia sangat perfeksionis sedangkan Irwan terkesan cuek dan dingin.

Berbagai kejadian yang mereka berdua lalui di malam Tahun Baru di Bali telah membuktikan bahwa mereka saling membutuhkan satu sama lain. Tanpa disadari merupakan bagian dari proses masing-masing dalam mencari ‘orang yang tepat’ yang mereka butuhkan. 

Apakah hal ini bisa berjalan sesuai harapan mereka ? Apakah Irwan kembali fokus mengejar Jessica atau luluh dengan sikap untuk Nadia ?

“Semua kejadian dan percintaan dengan Nadia maupun perjumpaannya kembali dengan Jessica hanya terjadi dalam satu malam.,” lontar Marthino.

Dalam film ini, yang paling menonjol seni perannya adalah Asmara Abigail, yang sebelumnya kebanyakan mendapat peran dalam film jenis horor. Baru kali ini, Asmara Abigail mendapat peran yang cocok dengan krakternya : sangat perfeksionis dan semua permintaannya tak pernah ditolak. 

Marthino Lio kebagian cowok pengemudi ojek yang cuek dan dingin. Ia tetap berbicara tenang dan apa adanya, kaku dan hati-hati dalam melangkah. 

“Apakah masa lalu harus kembali ataukah ditinggalkan dan mencari yang baru lagi. Yuk move on aja, pesan dari film ini,” kali ini yang bicara adalah produser Anirudhya Mitra. (Ipik Tanoyo)

Pesta Musik dan Budaya Balkonjazz Festival

JAYAKARTA NEWS— Balai Ekonomi Desa (Balkondes) didirikan tahun 2016 oleh Menteri BUMN, Rini M. Soemarno. Bertujuan untuk mengembangkan ekonomi 20 Desa di Kecamatan Borobudur dengan mengembangkan industri pariwisata di daerahnya.

Sinergi 20 BUMN di bawah koordinasi Kementerian BUMN mewujudkan konsep Community Based Tourism (CBT) dengan mempersiapkan dan membangun fasilitas penginapan (homestay) berikut restoran dan ruang berkumpul (bale) di masing-masing desa serta program-program aktivasi yang menonjolkan dan mempertahankan kearifan lokal pedesaan. Juga, memberikan peluang pekerjaan untuk meningkatan perekonomian penduduk desa.

Dan semuanya akan segera dirasakan oleh masyarakat sekitar Candi Borobudur melalui sebuah pesta perayaan bernama Balkonjazz Festival yang siap digelar pada 14 September 2019 mendatang di Balkondes PT Telkom Tuksongo, Magelang, Jawa Tengah. 

Festival itu sendiri dipromotori oleh PT Managemen CBT Nusantara (MCN) sebagai pihak yang menaungi Balkondes dan menggaet Sinergi Nusantara sebagai Event Consultant untuk penyelenggaraan Balkonjazz.

“Gelaran Balkonjazz merupakan pesta perayaan hari jadi Balkondes kedua, Balkondes dibangun tidak hanya sebagai tempat tinggal sementara bagi wisatawan, namun juga menjadi destinasi yang mempu memberikan pengalaman menarik,” ujar Direktur PT MCN, Jatmika Budi Santoso kepada penulis, baru-baru ini.

Diungkapkan oleh Jatmika, melalui konsep ‘The Experience of Village Atmosphere, wisatawan akan merasakanh secara langsung bagaimana terlibat membuat kerajinan tangan, membuat olahan makanan, keindahan panorama alam di sekitar Borobudur, aktivitas fisik yang akan melibatkan para wisatawan, juga experience menikmati pertunjukan kesenian daerah dari masyarakat sekitar.

Inisiator sekaligus Direktur Balkonjazz, Bakkar Wibowo dari Sinergi Nusantara menguraikan, festival musik jazz ini adalah proses kolaborasi antara musik dan budaya, yang nantinya akan menjadi pemantik agar potensi ekonomi lokal akan lebih dikenal lagi oleh masyarakat Indonesia maupun mancanegara. 

“Kali ini, di Balkonjazz, juga akan menampilkan pasar tradisional yaitu pasar Balkon Tuksongo yang menjadi media transaksi ekonomi dan promosi bagi masyarakat lokal. Kita juga akan mengusung kesenian tradisi lokal sebagai bagian dari kolaborasi bersama masyarakat sekitar,” timpal Bakkar Wibowo.

“Boleh dikata, Balkonjazz adalah perayaan orang-orang desa dalam menyambut wisatawan lokal dan mancanegara yang memprioritaskan produk lokal. Material yang kita gunakan nantinya adalah produk lokal, produk pribumi Indonesia,” imbuh Bakkar Wibowo lagi.

Beberapa nama besar dari musisi lokal yang akan unjuk diri memeriahkan Balkonjazz diantaranya Yura Yunita, Rio Febrian, Payung Teduh, Dialog Dini Hari, Langit Sore, Tashoora, Frau dan Nosstress.

“Semuanya musisi lokal, enggak ada musisi asing. Balkonjazz Festival ini yang rutin akan dihelat tiap tahun akan mengkhususkan diri pada produk lokal dan musik lokal,” demikian ucap Bakkar Wibowo, promotor muda asal Jogjakarta dalam bincang-bincang ini. (pik)

Hamemayu Bawono – from Klaten with Love

Hamemayu Bawono–foto istimewa

JAYAKARTA NEWS— Ada filosofi kebudayaan Jawa yang mengatakan ‘Hamemayu Hayuning Bawono’. Dan Hamemayu Bawono – tanpa Hayuning –  8 tahun, adalah nama seorang model cilik dan pemain sinetron/film yang tengah merangkak dari bawah. Dia kelahiran Klaten (Jawa Tengah), 9 Mei 2011 yang dibesarkan di Solo. 

Setelah ujian bertubi-tubi menerpanya, kini Mayu (panggilan akrabnya) sudah setahun hengkang ke Jakarta guna mengembangkan karirnya lebih lanjut, bersama orantuanya. Itu setelah dia meraih juara 1 dalam event yang digelar oleh Dinas Kementerian Pariwisata Jakarta.

Ketika seorang juri bertanya kepada Mayu, kamu ingin menjadi apa kelak, dengan mantap Mayu menjawab : “Ingin menjadi artis dan aku juga bisa berakting,” mantap jawaban Mayu.

Hamemayu Bawono–foto istimewa

Alhamdullilah, puji Tuhan, mulailah Mayu menjalani dunia seni di Ibukota yang katanya sekejam ibu tiri ini. Dia mendapat peran pendukung utama (PPU) untuk anak seusia Mayu, yaitu sinetron ‘Menembus Mata Batin’ sebanyak 8 episode, ‘Firasat’ dan ‘Cermin Kehidupan’ dan lain-lain.

Bahkan, kini Mayu dikontrak Tu7uh Rumah Produksi untuk bermain di film horor bertajuk ‘Bisikan Gaib’ arahan sutradara Tarmizi Abka.

Berperan sebagai Rachel kecil, Mayu akan menjalani syuting yang memang melelahkan di Bangka Selatan dan Pelabuhan Ratu. “Saya paling suka adegan marah. Kayak Prilly Latuconsina itu aktingnya bagus banget, menurut saya,” urai Mayu lagi mengidolakan Prilly Latuconsina.

Kalau sudah full main film, sekolahnya gimana ?

“Saya enggak mau pendidikan terbengkelai, Makanya, ibu menyarankan home schooling saja,” jawabnya.

Apa yang membuat Mayu tertarik pada PH Tu7uh Rumah Produksi yang dipimpin dua produser, pasutri Andre Murtono dan Tirta Siregar ?

“Saya lihat keunikan-keunikan pada PH ini, seperti kantornhya bukan di gedung, melainkan di rumah yang terasa homey sekali, Yang penting produksi filmnya berkualitas jelas, Saya bisa mendapatkan pelajaran dari sini,” paparnya.

Saat ini, sebelum syuting, Mayu mengikuti  ‘acting class’ dan mengambil kelas private. 

“Saya jadi paham dan mengerti apa arti sebuah pelajaran tentang hidup, menghargai usaha dan pengorbanan. Karena enggak hanya pondasi akting yang diajarkan di sini, tetapi juga diajarkan dan dikuatkan pada mental kita agar benar-benar siap menghadapi rintangan dan kompetitor di luar sana. Semoga hidup saya kelak menjadi berwarna,” pungkas Mayu yang berharap ‘Bisikan Gaib’ bisa sukses di peredaran kelak. (pik)

Prilly Unggah Curhatan Leonardo Dicaprio soal Kebakaran Amazon

Sudah 16 hari hutan Amazon Amerika Selatan terbakar, tapi sedikit orang yang peduli, kata aktor yang juga pemerhati lingkungan Leonardo Dicaprio— foto istimewa/instagram prilly latuconsina

JAYAKARTA NEWS— Seusai syuting film ‘Danur 3’ yang melelahkan lahir-batin, Prilly Latuconsina pun ‘balas-dendam’ dengan berlibur ke Bali sepuas-puasnya. Namun begitu, waktu liburnya sempat juga terusik dengan muncul kabar tentang kebakaran hutan Amazon di Amerika Selatan. Hutan ini adalah hutan tropis terluas di dunia. Tak heran berbagai  kalangan merasa prihatin akan bencana tersebut. Termasuk Prilly.

Dia pun lantas mengunggah tulisan Leonardo Dicaprio, aktor top Hollywood yang juga pemerhati lingkungan, di akun instagram pribadinya.  Tulisan Dicaprio mengungkap tentang kebakaran hutan Amazon  namun sedikit orang di bumi ini yang peduli tentang itu. Padahal Amazon adalah ‘paru-paru’ dunia.

 “Ketika orang-orang di negara ini sibuk dengan ketakutan tentang instagram mereka yang diretas, atau meributkan siapa yang terlihat di baris depan pada pekan mode, atau betapa menakjubkannya produk-produk Kylie Skin yang baru, kita tidak menyadari tentang hal-hal yang lebih penting yang kita sebagai manusia harus peduli.” .

“Ribuan mil jauhnya dari tempat kami berada, hutan Amazon telah terbakar selama 16 hari terakhir, dan masih berjalan dalam tingkat yang gila.”

“Ini seharusnya membuat kita takut karena Amazon adalah hutan hujan terbesar di planet ini yang menciptakan 20% oksigen bumi – udara yang kita hirup terus-menerus dan tampaknya diterima begitu saja.”

“Orang-orang lebih peduli tentang politik, uang, dan keuntungan pribadi, dan media tampaknya ‘terinfeksi’ oleh hal-hal ini yang kami lihat hampir tidak ada liputan tentang bencana menyedihkan yang terjadi di Amazon.”

“Lepaskan diri Anda hanya beberapa menit dari dunia material Anda dan berdoa untuk Amazon. Semoga para pemerintah (termasuk kita sendiri) yang mengklaim telah berkomitmen untuk memerangi perubahan iklim akan bergabung untuk menghentikan kebakaran hutan yang sekarang secara perlahan membunuh paru-paru planet bumi kita – sebelum udaranya menjadi terlalu tipis untuk 7 miliar paru-paru manusia di dunia. “. Tulis Dicaprio.***ebn

Pesta & Masterclass Blues akan Tutup 2019

Jayakarta News – Mengusung Keep The Blues Alive n’ Kicking, Festival Blues Internasional itu hadirkan musisi blues terkenal dari dalam & luar negeri.

Konser Jakarta Blues Internasional Festival yang merupakan pergelaran festival musik berskala internasional, akan digelar 7-8 Desember 2019 di area Tenis Indoor Senayan, akan disediakan tiga panggung di dua tempat terpisah, yaitu ICONIC Stage & Crossroad Stage yang akan digelar di area parkiran, serta Vintage Stage yang akan digelar di dalam gedung Tenis Indoor Senayan.

Festival ini juga akan dijadikan Masterclass Blues Coaching. Sehingga Boart Indonesia selaku penyelenggara akan menghadirkan musisi-musisi internasional terkenal. Paul Gilbert, Ken Hensley, The Calling, Bumblefoot, Miguel Balaguer dari Spanyol, Shun Kikuta (Jepang) sudah mengkonfirmasikan kehadiran mereka dalam perhelatan Akbar Blues tahun ini.

Mereka akan tampil bersama puluhan band lokal ternama, dan band anyar yang siap meramaikan kancah musik Indonesia. Musisi local-hero yang tampil di antaranya, The Rollies, Gugun Blues Shelter, Adrian Adioetomi, Blues Libre, Edwin Marshall Project, Voxa dan yang lainnya.

Festival tersebut akan dimulai pukul 14.00 WIB, dengan menampilkan band-band blues bersentuhan classic-rock, pop-jazz dan soul-blues. (atm)

Bumi Manusia: Bumi Pramudya, Bumi Kemerdekaan Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Apakah salah jadi Pribumi ?

Minke (baca Mingke), tokoh utama dalam film ‘Bumi Manusia’ garapan sutradara Hanung Bramantyo, mengaku sebagai pribumi (inlander) dan Jawa. Sosok Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan.

Meski bersekolah di HBS (Hoogere Burger School, sekolah menengah umum 5 tahun di zaman Hindia Belanda) yang setiap hari berbahasa Belanda, namun Minke tetap menghormati dan menghargai bahasa pribuminya, asalnya, yaitu bahasa Jawa.

Minke memang berdarah bangsawan/Bupati, ganteng dan cerdas. Makanya ia bisa dan boleh bersekolah di HBS yang hanya diperuntukkan untuk kalangan Sinyo dan Noni Belanda totok dan peranakan. Di sekolah yang terkenal di kota Surabaya itulah, Minke setiap hari berpakaian kain sarung dan mengenakan blangkon. Simbol kepribumiannya.

Sahabat baiknya di HBS, Robert Suurhorf – yang benci pada pribumi, tapi tidak pada Minke yang dianggapnya Belanda – , suatu hari mengajaknya ke Wonokromo. Ke sebuah perkebunan yang diberi nama Boerderij Buintenzorg seluas 150 hektar dengan 500 orang pekerja pribumi yang milik tuan Herman Mellema dan setiap harinya diurus oleh gundiknya, Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). Apakah Minke hanya dikenalkan pada Nyai Ontosoroh yang ramah dan pandai itu ? Tidak.

Tujuannya adalah Minke diperkenalkan pada Annelies Mellema (Mawar de Jongh) yang berusia 19 tahun, putri ke dua Nyai Ontosoroh yang cantik jelita. Di perkebunan tersebut, Annelies dijuluki kecantikannya melebihi Ratu Wilhelmina yang bertahta di Belanda.

Dari sinilah cerita bermula. Konflik dan peristiwa kebahagiaan dan kesedihan datang silih berganti. Dan Minke masuk terlibat didalamnya. Semua gara-gara Annelies yang merupakan ‘bunga penutup abad” yang tak banyak bicara. Serta sepak terjang Nyai Ontosoroh yang semula bernama Sanikem, gundik desa yang tak bersekolah resmi tapi pandai berbahasa Belanda, karena diajarkan oleh ‘suaminya’, Herman Mellema.

Kisah cinta dan pergulatan batin Minke yang pribumi jawa dan Annelies yang blasteran Belanda-Jawa ini yang menjadi inti cerita utama film yang diangkat dari novel Tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer. Kisah cinta dua anak manusia di bumi Hindia Belanda ini yang kemudian menjadi latar dan memantik pergolakan batin Minke atas hak-haknya sebagai pribumi ditengah politik kolonial Belanda di awal abad 20.

Apakah seorang pribumi tidak punya hak dan kemerdekaan sebagai bangsa yang berdaulat di tanah jajahan? Mengapa politik devide et impera dan pemisahan tiga bangsa (Belanda, Timur Asing yaitu Arab dan Tionghoa serta inlander/pribumi) masih bercokol di zaman itu ? Situasi kelam pemisahan pendidikan akibat penjajahan ini yang kemudian mencuatkan Politik Etis (Politik Balas Budi) yang lebih dikenal sebagai ‘Trilogi van Deventer’ di Hindia Belanda.

Lihatlah di mana-mana terpampang papan nama bertuliskan ‘Verboden voor honden en inlander’ (dilarang masuk bagi anjing dan pribumi). Sakit. Sedih. Jiwa pemberontakan Minke bergolak.Ia hanya minoritas di tanah jajahan. Namun, ia tak berdaya. Ayahnya, seorang Administratur terkenal di kota B (mungkin ini dimaksudkan kota Blora, kota kelahiran Pramoedya) yang menghamba pada majikannya, Belanda, yang akan mengangkatnya sebagai Bupati. Ketika Minke dijemput utusan ayahnya dengan delman untuk bertemu dengan ayahnya di kota B, Minke berjalan menunduk dan menyembah ayahnya (Donny Damara). Ibunya (Ayu Laksmi) hanya bisa menangis melihat ‘perubahan’ yang terjadi atas diri anaknya yang selama ini dikirim ke HBS di Surabaya.

“Nyuwun pengapunten, Papa,” sembah Minke. Ayahnya gusar mendengar pengakuan bersalah anaknya. “Surat-suratku tak dibalasnya. Aku sekolahkan tinggi-tinggi, kamu melawan,” Bupati B murka. Sekalii lagi, Minke menyembah mohon ampun. Mama ikut melerai dan hati papa pun melunak.

Menurut Papa, kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaannya atas ilmu dan pengetahuan. Di awal film, setelah berjalan 5 menit, jelas terpampang di layar. Hanung Bramantyo memang sangat lihai menyuguhkan gimmick atau kejutan dengan kalimat ‘kita memasuki zaman modern. Zaman kemajuan’. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa, akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.

Hanya itu satu-satunya jalan yang baik untuk Pribumi. Aku (Minke) setuju atas pernyataan papa. Kelak, Minke harus duduk sejajar dan setingkat dengan orang Eropa. Bersama-sama memajukan bangsa dan negeri ini.

Minke bergerak cepat. Jiwa pribuminya bangkit. Melihat politik kolonial yaitu stelsel untuk mengukuhi kekuasaan atas negeri dan bangsa-bangsa jajahan, dia melawan dengan caranya. Karena di HBS pandai, Minke kemudian banyak menulis di koran lokal S N v/d D dengan nama pena Max Tollenaar. Atas tulisan-tulisan Minke ini, gegerlah seluruh kota, seluruh negeri. Hingga ke sekolahnya di HBS, dan sampai ke negeri Belanda. Guru-guru sekolahnya mempertanyakan hal tersebut.

Umpatan dan cibiran mengarah ke Minke. Gosip dan hoax pun berseliweran tak jelas ujung pangkalnya. Minke menginginkan perkebunan milik Nyai Ontosoroh dan sekaligus puterinya, Annelies. Di satu sisi, Minke memang memiliki sifat ‘phylogynik’ yaitu pintar merayu perempuan. Sifat ini berlawanan dengan ‘misogynik’ yaitu kaku dan diam terhadap perempuan.

Berkat ketampanan dan kepintarannya, akhirnya Nyai Ontosoroh menyuruhnya agar Minke tidur di rumah dan perkebunan miliknya menemani Annelies. Di salah satu adegan, Hanung Bramantyo memvisualkan adegan Minke mencium pipi dan bibir Annelies atas suruhan Ontosoroh yang sedikit agresif. Adegan ini cukup membetot simpati fans Minke aka Iqbaal Ramadhan yang sukses memerankan sebagai Dilan.

Akhirnya, tibalah hari bahagia itu. Minke melamar Annelies. Dalam salah satu adegan, sebelum tibanya pernikahan secara Islam, Minke telah meniduri Annelies (di buku novelnya, tidak ada). Hari pernikahan digelar. Seluruh penduduk kampung bersuka cita. Semua karyawan perkebunan Buitenzorg diliburkan dan terlibat dalam kepanitiaan, Puluhan sapi dan ayam dipotong. Tamu dan undangan diundang dalam perjamuan istimewa ini, dari Residen, Bupati, sampai Wakil Gubernur yang orang Belanda.

Happy end dan cerita berakhir?

Belum. Datang tragedi mengerikan. Herman Mellema (‘suami’ Ontosoroh) ditemukan mati mengenaskan di rumah bordil milik babah Ah Tjong (Chew Kim Wah), yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah dan perkebunan Ontosoroh. Muncul tokoh-tokoh misterius di insiden ini, pak Gendut dan Robert Mellema (Georgino Abraham) yang diam-diam memerkosa adik kandungnya, Annelies di perkebunan yang sepi dan raib entah kemana. Darsam (Whani Darmawan),centeng asal Madura yang setia menjaga keluarga Ontosoroh sudah mengeluarkan cluritnya siapa pembunuh majikannya.

Di pengadilan Landraad, Ontosoroh danAnnelies bebas dari tuduhan. Babah Ah Tjong dihukum.

Muncul tragedi kedua. Mendadak sontak muncul Ir. Maurits Mellema (putra almarhum Herman Mellema yang menikah dengan Amelia Hammers) yang menyatakan duka citanya tas kematian ayahnya sekaligus menggugat hak waris atas perkebunan Buitenzorg di Wonokromo. Ontosoroh protes tidak terima.

“Kowe pribumi. Dan kowe tak pernah menikah dengan ayah saya. Kowe cuma dijual 25 gulden oleh ayah kowe kepada tuan Herman Mellema. Ayah kowe ingin jadi mandor,” kelit Maurits

Ontosoroh terkesima. Dia masih membela diri dalam mempertahankan perkebunannya. “Anak Hermen Mellema, Annelies yang telah menikah dengan Minke berhak atas warisan tersebut,” bela Ontosoroh.

“Annelies masih dibawah umur. Dalam Pengadilan Putih di Belanda, dan berdasar catatan, Annelies tidak pernah menikah dengan siapa pun,” teriak Maurits.

Bagai disambar geledek Ontosoroh terhuyung. Minke marah bukan alang kepalang. Dia bangkit melawan hakim ketua yang orang Belanda. Tapi hal ini berhasil dicegah oleh marsose Belanda. Minke disuruh keluar dan Ontosoroh menyusulnya. Terjadi kerusuhan di luar Pengadilan. Puluhan ulama dan orang Madura yang dikoordinir Darsam, berusaha memasuki Pengadilan. Terjadi tembak menembak. Korban pun berjatuhan.

Atas berbagai kejadian yang terbentang dihadapan matanya, Annelies sakit. Dokter Martinet, dokter pribadi keluarga Ontosoroh mengatakan kepada Minke, hanya Minke yang bisa menyembuhkan penyakit Annelies. Martinet mohon mengundurkan diri sebagai dokter pribadi, dan digantikan oleh Minke.

Tibalah hari penentuan. Kereta Gubermen siap mengantarkan Annelies untuk berobat ke Belanda diantar sahabat dekat Minke yang bernama Jan Dapparste aka Panji Darman (Bryan Domani). Panji Darman adalah indo blasteran yang teleh menjadi Jawa, dibantu Minke. Nantinya, Minke dan Ontosoroh akan menyusul Annelies ke Belanda. Sayup-sayup roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, menuju Surabaya, untuk kemudian berlayar ke Belanda. Bunyi roda kereta tak terdengar lagi. Minke dan Ontosoroh menundukkan kepala di belakang pintu.

“Kita kalah, Ma,” bisik Minke.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo (Sinyo, panggilan untuk Minke), sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya,” ujar Ontosoroh lirih.

Sebuah ending yang menggantung. Mungkin nantinya akan dilanjutkan sekuel berikut oleh Hanung Bramantyo di film berikutnya. Karena Pramudya Ananta Toer sendiri menulis novelnya menjadi Tetralogi : Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah kaca.

Yang jelas, Hanung memaparkan, inilah karya terbaik sekaligus terberat bagi dirinya. 2 bulan syuting, dan 2 tahun produksi. Dan bagi pemain, 3 bulan workshop.

Hanung menambahkan, Iqbaal Ramadhan memahami apa yang dirasakan Minke. Karena Iqbaal adalah minoritas di negaranya (Amerika) tempatnya belajar. “Baik Minke maupun Iqbaal sama-sama berusia 19 tahun. Dia juga cerdas. Jadi, enggak ada alasan enggak memilih dia,” ucap Hanung.

‘Bumi Manusia’ ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer di tempat tahanannya, Pulau Buru selama 14 tahun. Tanpa proses pengadilan. Pemerintah Orde Baru telah membebaskan Pramoedya tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya tidak bersalah secara hukum dan tidak terlibat dalam G 30 S/PKI. Dari banyak karya sastranya, ‘Bumi Manusia’ yang ditulis paling lama dan ditulis dalam 4 bahasa : Indonesia, Jawa, Belanda dan Jawa. Dan Pulau Buru telah menjadi ‘bumi Pramudya’ alias ‘bumi Indonesia kecil’. Dari Pulau Burulah, mencuat gagasan ihwal hak asasi manusia, kemerdekaan Indonesia dari Hindia Belanda dan kesetaraan gender serta pembebasan kemerdekaan atas diri manusia.

Dari Minke, kemudian muncul organisasi-organisasi dan perkumpulan pribumi dan ikut bergabung beberapa orang Indo, seperti Budi Utomo, Syarikat Dagang Islam, Serikat Islam, Muhammadiyah dll.

Ingatlah selalu pesan Pramoedya Ananta Toer kepada generasi muda Indonesia. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian !”. (Ipik Tanoyo)

Akhirnya, Meni, Anak Titi DJ, Go Internasional

Stephanie Poetri Doughtery–instagram stephanie poetri

JAYAKARTA NEWS— Kabar baik! Stephanie Poetri Doughtery, anak Diva Pop Indonesia Titi DJ, akhirnya berhasil mewujudkan obsesinya go internasional lewat musik. Tak tanggung-tanggung, pelantun tembang ‘I Love You 3000’ ini  dikontrak label rekaman asal Amerika 88Rising. Pada 17 Agustus 2019 lalu, Meni—begitu dia akrab disapa—tampil memukau membawakan lagu ‘I Love You 3000’  di Head In The Clouds 88 di LA State Historic Park, Amerika Serikat.

“Ini adalah mimpi yang jadi kenyataan. Ini gila!!! Ini tahun pertama saya 17 Agustus tidak di Indo. Tapi saya senang masih bisa mewakili. Terima kasih kepada semua orang yang  mendukung saya! Tidak sabar menunggu kalian melihat apa yang terjadi selanjutnya,” tulis Meni di instagramnya.

Titi DJ dan anak-anaknya–instagram titidj

Meni, begitu namanya akrab disapa, sebenarnya bukan pendatang baru dalam dunia musik Indonesia. Ia telah mulai berkiprah sejak 2015 dengan tampil menyanyikan  soundtrack film AADC (Ada Apa Dengan Cinta) 2 berjudl ‘Bimbang’ bersama Goodbye Felicia.  

Namun saat itu kiprahnya di musik masih hanya sebatas hobi. Tidak diseriusinya. Alasannya dia masih sekolah dan ingin konsentrasi di pendidikannya. Di luar itu dia memiliki banyak minat yang hendak dikerjakannya. Itu sebabnya kala itu dia belum berpikir untuk terjun ke dunia musik secara serius.

‘Aku memang tertarik pada musik sejak kecil. Tapi dulu itu tidak berpikir untuk diseriusi, masih hanya sebatas hobi. Lagi pula aku masih sekolah dan ingin konsentrasi belajar. Aku sekolah di sekolah internasional yang pelajarannya banyak banget, tugasnya banyak dan harus segera diselesaikan. Makanya dulu itu sibuk banget. Kata orang, sekolah aku tuh kurikulumnya sudah kayak orang kuliah, banyak dan berat,” tutur gadis cantik berambut panjang ini dengan bahasa campur-campur Inggris Indonesia.

Soal  bahasa, gadis kelahiran Mei 2000 ini, mengaku masih tidak begitu lancar berbahasa Indonesia sehingga kadang agak kagok dan canggung. Bisa jadi ini karena sejak kecil dirinya sudah disekolahkan di sekolah internasional dimana bahasa Inggris menjadi kesehariannya. “Mungkin aku masih terlihat canggung berbahasa Indonesia. Tapi setidaknya sekarang sudah lebih mendingan, sudah bisa dimengerti,” katanya sambil tertawa.

Untuk diketahui, Stephanie adalah anak tunggal dari pernikahan Titi DJ dengan suami keduanya, Andrew  Hollis Dougherty, seorang berkebangsaan Amerika. Sebelumnya, Titi menikah dengan aktor Bucek Depp. Dari pernikahan itu lahir tiga anak, si kembar Salmaa dan Salwaa serta Daffa.  Sedang pada pernikahan Titi yang ketiga, yakni dengan Ovy, musisi rock, tidak memiliki anak.

Menurut Titi, semua anaknya sebenarnya memiliki bakat  menyanyi  namun tidak mau memperdalamnya.  Hanya Stephanie yang terlihat lebih serius mengembangkan. Sedang ketiga kakaknya, menolak mengikuti jejak ibunya. Sementara Daffa, satu-satunya putra dalam keluarga Titi, lebih suka terjun sebagai produser ketimbang menyanyi.

“Meni pun baru mau serius menekuni musik setelah dia lulus SMA,” ungkap Titi sembari menyebut semua anaknya lebih suka menekuni pendidikan.  Hasilnya membanggakan.  Meni misalnya, memiliki prestasi bagus di sekolahnya SMA Global Jaya International School. Tahun lalu ia lulus SMA dengan nilai memuaskan, setidaknya untuk tiga mata pelajaran Sastra Inggris, Matematika dan Psikologi, ia meraih nilai tertinggi.

Setelah lulus SMA, tutur Meni, ia merasa lebih bebas dan baru mulai serius menekuni hobinya. “Sekarang aku bisa bebas melakukan apa yang aku mau. Aku tertarik dengan musik, jadi aku tekuni ini dulu. Sambil berpikir akan meneruskan pendidikan kemana, bidang  apa yang  akan aku  ambil nanti. Aku suka graphic design, juga suka psikologi,” ungkap Meni yang baru saja meluncurkan single solonya, ‘Appreciate’.

Lagu ciptaannya ini ditulis dalam dua versi yakni Inggris dan Indonesia. “Originalnya, aku bikin dalam bahasa Inggris. Kemudian aku juga minta bantuan mama untuk menerjemahkan dalam bahasa Indonesia. Jadi ada dua,” ujar gadis yang piawai melukis wajah ini.

BUKAN KARENA ANAK TITI DJ

Menurut Meni ia ingin menjadi musisi dan dikenal orang bukan hanya karena menjadi penyanyi tapi juga karena karya-karyanya. “Aku bukan hanya suka menyanyi tapi juga bikin lagu dan producing. Di masa depan, aku ingin orang mengenal aku bukan hanya bisa menyanyi tapi juga mampu bikin lagu untuk orang lain. Sebagai musisi. Aku ingin nantinya banyak musisi tahu aku dan mau bekerja sama dengan aku karena karya-karya aku. Bukan karena aku siapa. I Do everything myself. Itu goal aku,” ucapnya.

Sejak masih sekolah, membuat lagu sudah menjadi salah satu kesukaannya. Inspirasi datang dari mana saja. “Kalau dapat inspirasi aku langsung bikin, trus aku rekam sendiri di kamar. Jadi udah banyak banget lagu yang aku rekam sendiri di kamar hahahha,” kata Meni yang sudah memiliki koleksi lagu sendiri sekitar 50-an.

Dalam bermusik, boleh dibilang ia belajar secara otodidak. Dia juga tidak les vokal. Bakat seni memang mengalir deras padanya. Tak heran, ibunya adalah penyanyi senior dengan julukan Diva Musik Pop, sementara ayahnya, Andrew Hollins Dougherty adalah guru musik yang kini menjadi Kepala Sekolah SMP Global Jaya International School, tempat dimana Meni sekolah. Sesekali sang mama memberi saran. Mamanya memang tidak terlibat jauh dalam mengasah Meni, karena menurutnya, aliran musik mamanya berbeda dengannya.

“Dari kecil aku hidup dalam keluarga yang darah seninya ‘keras’ banget. Jadi kreativitas itu penting banget di keluarga kita. Kita tuh selalu mencari cara untuk bisa mengeluarkan apa isi hati  dan pikiran kita. Jadi bukan hanya dengan berbicara tapi juga lewat lukisan, menyanyi, bikin lagu, dll.”

“Nah kalau soal bermusik, aku beda dengan mama. Aliran aku adalah musik kekinian. Aku lebih modern hahaha. Mama tahu itu. Makanya nggak pernah minta aku dengerin musik ini-itu,” tambah Meni yang mengaku suka lagu ‘Matamu’ yang dinyanyikan mamanya. Bagi Meni, lagu itu selain memiliki melody yang indah juga memiliki arti tersendiri. “Lagu itu mama bikin tentang papa aku..hahha,” kata Meni membuka rahasia.

Meski kini menseriusi musik, namun Meni mengaku tidak ingin menjadi ‘Diva; seperti mamanya. Karena menurutnya menyandang gelar ‘Diva’ dirasakan terlalu berat, tuntutan dan tekanannya  banyak dan selalu menjadi sorotan. Dia tidak suka itu. “Aku nggak mau seperti mama. Aku mau biasa-biasa saja,” kata Meni.***ebn/tkh