Menkes Budi Pastikan Penanganan Stunting di Kupang

JAYAKARTA NEWS – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memastikan salah satu upaya Penanganan Stunting tersedianya antropometri dan USG di puskesmas Kota Kupang dan digunakan oleh Puskesmas. Kegiatan ini dilakukan di sela-sela kunjungannya ke kota Kupang dalam rangka launching wolbachia pada Selasa 24 Oktober 2023.

Sebagai contoh Menkes Budi meninjau ketersediaan USG dan antropometri di 2 Puskesmas yaitu Puskesmas Oebobo dan Puskesmas Oepoi.

Di kedua Puskesmas tersebut, Menkes meninjau poli Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. USG dan antropometri sudah tersedia dalam kondisi baik untuk digunakan. Menkes juga memastikan SDM di kedua Puskesmas mampu mengoperasikan alat kesehatan itu.

“SDM baik dokter maupun bidan harus bisa mengoperasikan USG, ibu hamil untuk skrining kesehatannya cukup ditangani di Puskesmas, kecuali ada hal lain yang mengharuskan dirujuk ke rumah sakit,” ujar Menkes Budi di Puskesmas Oepoi, Kupang, Selasa (24/10).

Selain itu, Menkes Budi juga memastikan set antropometri sudah tersedia di Posyandu yang masuk ke dalam wilayah kerja Puskesmas Oebobo dan Puskesmas Oepoi.

“Antropometri sudah tersebar di seluruh Posyandu kami, dan kader-kader nya sudah dilatih,” kata kepala Puskesmas Oebobo dr. Maria Kurniawati Mari.

Dengan adanya USG di setiap Puskesmas di Kota Kupang masyarakat atau ibu hamil mengaku merasa senang karena untuk memeriksakan kehamilannya tidak harus ke rumah sakit, tapi bisa dilakukan di Puskesmas yang lebih dekat dengan tempat tinggal masing-masing.

“Kebanyakan ibu hamil mengaku senang bisa USG di Puskesmas, mereka bisa dengan mudah ke Puskesmas untuk memeriksakan kehamilannya tanpa antre di rumah sakit,” ucap dr. Maria.

Di sela-sela kunjungannya di Puskesmas Oebobo, Menkes Budi menyempatkan berbincang dengan salah satu ibu yang akan menimbang anaknya.

“Ibu harus rutin menimbangkan anaknya ke posyandu, berat badan anak harus naik setiap bulannya, berikan anak protein hewani seperti telur. Kalau ayah nya merokok gunakan uang yang tadinya buat rokok untuk beli telur,” kata Menkes Budi.

Antropometri adalah suatu metode yang digunakan untuk menilai ukuran, proporsi, dan komposisi tubuh anak. Standar antropometri anak didasarkan pada parameter berat badan dan panjang/tinggi badan yang terdiri atas empat indeks, meliputi Berat Badan menurut Umur (BB/U); Panjang/Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U); Berat Badan menurut Panjang/Tinggi Badan (BB/PB atau BB/TB); dan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U).

Dengan tersebarnya antropometri di setiap Posyandu di Kupang, berkontribusi pada penurunan angka stunting di NTT. Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) Februari 2023, stunting di NTT tinggal 15,7% atau 67.518 Balita, terjadi penurunan signifikan dibanding 2018 yang mencapai 35,4% atau 81.434 penderita.

Menkes RI Budi Gunadi Sadikin mendistribusikan antropometri ke seluruh Posyandu dan USG ke seluruh Puskesmas untuk mengatasi stunting.

Untuk bisa cek stunting dibutuhkan timbangan khusus yang namanya set antropometri. Sebelumnya alat tersebut hanya disediakan di level Puskesmas, padahal yang membutuhkan adalah Posyandu yang jumlahnya 300 ribuan.

Kemenkes dalam 2 tahun ini membagikan 300 ribuan timbangan antropometri ke seluruh Posyandu di Indonesia.

Tak hanya itu, stunting sangat bergantung pada kondisi ibu saat hamil. Menkes Budi menambahkan, untuk mengetahui kesehatan bayi dalam kandungan diperlukan USG.

Sebelumnya, hanya ada 2 ribu USG dari 10 ribu Puskesmas. Dalam 2 tahun terakhir, Kemenkes mendistribusikan 10 ribu USG ke seluruh Puskesmas.***/mel

Daun Kelor Bantu Turunkan Angka Stunting

JAYAKARTA NEWS – Selama ini warga Kelurahan Kelor, Gunungkidul, memanfaatkan daun kelor sebatas untuk dikonsumsi sebagai hidangan sayur, teh, atau keripik. “Akan tetapi untuk dimanfaatkan sebagai makanan tambahan bergizi bagi anak balita belum dilakukan.”

Dilansir dari Rilis BRIN, Sabtu (26/8/2023), hal itu dikatakan Dini Ariani, Periset dari Pusat Riset Teknologi Proses Pangan (PRTPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada pelatihan produk pangan lokal diperkaya daun kelor dalam rangka membantu percepatan penurunan kasus stunting di Kabupaten Gunungkidul, khususnya di Kelurahan Kelor.

Pelataihan dua hari ini, Rabu-Kamis (23-24/8) dilaksanakan BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Proses Pangan (PRTPP) dan Pusat Riset Kesejahteraan Sosial Desa dan Konektivitas (PRKSDK). Bekerjasama dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Gunungkidul serta PT BPR Bank Daerah Gunungkidul.

Pelatihan ini kata Dini Ariani untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu kader PKK dan Posyandu, UKM, dan ibu yang memiliki anak stunting tentang cara pengolahan makanan tambahan diperkaya daun kelor yang bergizi khususnya untuk anak balita.

“Produk makanan tersebut sudah di ketahui kandungan gizinya, sehingga pemberian kepada anak sebagai makanan tambahan disesuaikan dengan kebutuhan anak,” jelasnya. 

Menurutnya daun kelor memiliki manfaat tinggi yang dibutuhkan oleh tubuh seperti protein 20-30%, kalsium 2.095 mg, besi 27.1 mg, beta karoten 16.800 mg, kalium 259 mg, 6.80 mg vitamin A (empat kali lebih tinggi dari pada wortel), 220 mg vitamin C (tujuh kali lebih tinggi dibanding jeruk), serta 423 mg Vitamin B per 100 gram bahan.   

Terdapat beberapa jenis inovasi makanan diperkaya daun kelor yang diperkenalkan seperti bakso ikan kelor, nugget ikan tempe-kelor, bolu kukus tempe-kelor, sempol tempe-kelor, ekado ikan kelor, serta sosis ayam kelor. “Adapun bahan yang digunakan adalah daging, daun kelor, tempe, telur, ayam, sayuran, tepung terigu, tapioka, susu, minya goreng, serta bumbu dan rempah,” katanya lagi.

Sutarman, Lurah Kalurahan Kelor, Gunungkidul mengatakan pelatihan ini diharapkan mampu mencetak kader-kader untuk mengembangkan potensi produk berbasis daun kelor yang sudah ada. “Saat ini kami hanya mengembangkan dari segi pemanfaatan ekonomi saja untuk dijual sebagai oleh-oleh namun dari segi pengolahan yang benar dan informasi kandungan gizi serta potensi daun kelor, kami belum ada pengetahuannya,” ungkapnya.

Terkait dengan pemasaran produk, pihaknya telah menyediakan tempat khusus untuk memasarkan yaitu Omah Godong Kelor yang rencananya akan menjadi pusat oleh-oleh makanan berbasis daun kelor di desa ini. “Selain mengatasi masalah stunting, juga mampu meningkatkan kesejahteraan warga,” imbuh Sutarman.

Sebagai informasi, berdasarkan data per November 2022 Kelurahan Kelor merupakan daerah dengan tingkat stunting tinggi di Kabupaten Gunungkidul. Dari 146 balita terdapat 35 bayi dalam keadaan stunting (38%), wasting sebanyak 4 balita (4,4%), dan underweight sebanyak 16 orang (17,6%).***/mel

Bupati/Walikota Diminta Tingkatkan Percepatan Penurunan Kemiskinan Ekstrim dan Stunting di Jatim

MADIUN, JAYAKARTA NEWS– Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka Puncak Peringatan Bulan Bakti Gotong Royong Masyarakat (BBGRM) XX & Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK Ke 51 Tahun 2023 di Pendopo Ronggo Jumeno Caruban, Kab. Madiun, Minggu (16/7) malam.

Dalam sambutannya, Gubernur Khofifah mengajak seluruh Bupati/Walikota dan stakeholder terkait terus tingkatkan sinergi untuk menurunkan kemiskinan ekstrim serta menurunkan stunting lebih signifikan.

“Target nasional tahun 2024 angka kemiskinan ekstrim mencapai nol persen sementara penurunan stunting 14%. Insya Allah , kita bisa mencapainya lebih cepat lagi jika gotong royong dan sinergi kita tin gkatkan lagi. Untuk itu, di momentum BBGRM ini, kita bisa tingkatkan sinergi Perguruan Tinggi dengan mengikutsertakan KKN komprehensif yang bisa menurunkan kemiskinan ekstrim dan angka stunting lebih cepat,” tuturnya.

“Penguatan gotong royong dan sinergi dari berbagai stakeholder Insya Allah menghasilkan angka stunting di Jatim akan terus menurun signifikan. Terlebih selama tiga tahun berturut-turut angka stunting di Jatim juga menurun signifikan,” imbuhnya.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Jatim pada tahun 2020, prevelensi (prosentase) stunting di Jatim mencapai 25,6 persen. Kemudian tahun 2021 menurun 23,5 persen, dan di tahun 2022 kembali turun dan menjadi 19,2 persen. Dimana, angka ini juga dibawah standar WHO yaitu di angka 20 persen.

Khofifah mengungkapkan, ada penemuan menarik dari seorang guru besar yang memiliki spesialisasi di bidang gizi. Ia menjelaskan, stunting bukan hanya disebabkan oleh kekurangan nutrisi semata tapi juga faktor lain di lingkungan keluarga.

“Beliau melakukan survei di salah satu negara di Asia Selatan, di mana di suatu desa rata-rata anaknya tumbuh stunting. Ternyata problemnya bukan karena semata asupan gizinya yang rendah, atau kekurangan protein dan kalori. Tapi ternyata kurang kasih sayang dalam pengasuhan,” katanya.

Untuk itu, Khofifah menegaskan awal kehidupan bukan dimulai saat kelahiran, namun saat kehamilan. Sehingga, seorang ibu harus mendapat perhatian dan kasih sayang cukup dari pasangan beserta keluarganya.

“Jadi intervensi kita tidak bisa sekedar di pemberian gizi. Tapi juga bagaimana agar sosialisasi parenting di setiap calon keluarga yang akan melakukan pernikahan itu bisa dilakukan dengan lebih seksama,” ucapnya.

Selanjutnya, Khofifah mengatakan bahwa Jawa Timur masih memiliki 1,8% kemiskinan ekstrem pada tahun 2022. Untuk itu, ia berpesan untuk menjadikan bulan bhakti gotong royong ini menjadi momentum untuk menurunkan kemiskinan ekstrem secara signifikan dengan bergotong royong.

“Bersama-sama kita lakukan penyisiran di mana ada rumah yang tidak layak huni, termasuk MCK komunal yang sudah harus berbasis rumah tangga. Intervensinya bisa kerja sama dengan Baznas di setiap kabupaten/kota mumpung kita berada pada bulan bhakti gotong royong,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK Prov. Jatim Arumi Bachsin Emil Dardak menyampaikan bahwa BBGRM dan HKG-PKK memang selalu diperingati bersamaan. Mengingat, semangat keduanya adalah gotong royong.

“Nah, penanaman semangat gotong royong ini dimulai dari tingkat terkecil yaitu keluarga. Jadi dimulai dari orang tua dan anak-anak. Salah satu sumber sosialisasi dari BKB, BKR, maupun BKL. Mudah-mudahan ini bisa terus dan memenuhi kebutuhan,” katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Khofifah menyerahkan berbagai penghargaan. Diantaranya, penghargaan kepada Pelaksana Gotong Royong Terbaik Prov. Jatim 2023.

Tak hanya itu, ia juga memberikan Bantuan Keuangan Khusus Program Jatim Puspa, Desa Berdaya, dan Pemberdayaan Bumdesa 2023 kepada Pemerintah Kab. Madiun dan Pemerintah Desa lokasi program senilai Rp. 966.875.000. Bantuan diberikan kepada Bupati Madiun.

Usai penyerahan penghargaan, Gubernur Khofifah dan Ketua TP PKK Jatim Arumi bersama-sama melakukan peninjauan stand pameran yang berlokasi di depan pendopo. Jumlah stand yang ikut menyemarakkan pameran berjumlah 52 stand. (poedji)

Kapolri Dorong Polda hingga Polsek Aktif Tangani Stunting untuk Lahirkan Generasi Unggul

JAYAKARTA NEWS – Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengatakan pelaksanaan Bakti Kesehatan Polri Presisi telah diselenggarakan serentak di seluruh jajaran Polda dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-77.

Dalam acara tersebut, terdapat beberapa kegiatan sosial kemanusiaan yang diadakan, termasuk pelatihan Bantuan Hidup Dasar yang berhasil memecahkan rekor MURI dengan diikuti oleh 77.000 peserta.

Acara ini juga menjadi momen peluncuran Aplikasi Tanya Dokkes Presisi, sebuah inovasi yang diharapkan dapat memberikan akses yang lebih mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi seputar kesehatan.

Kapolri berharap melalui aplikasi ini, masyarakat dapat dengan cepat mendapatkan jawaban terkait pertanyaan kesehatan mereka.

“Giat ini kita telah berhasil memecahkan rekor muri pelatihan Bantuan Hidup Dasar terbanyak yang diikuti oleh 77.000 Telapak tangan anak bangsa selain itu juga dilaksanakan launching Aplikasi Tanya Dokkes Presisi serta giat kemanusian lainnya,” tulis Kapolri dalam pernyataannya melalui akun Instagram pribadinya, @listyosigitprabowo dikutip Kamis (13/7/2023).

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga menekankan pentingnya peran jajaran wilayah dalam penanganan stunting di masing-masing wilayah. Langkah ini bertujuan untuk menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul guna menyongsong bonus demografi dan mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Selain itu, seorang peserta yang mengikuti operasi penghapusan tato juga memberikan apresiasi kepada Kapolri atas penyelenggaraan operasi tersebut. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilakukan di masa depan dengan kesuksesan yang lebih besar.

Kegiatan Bakti Kesehatan Polri Presisi ini menunjukkan komitmen Kapolri dan jajarannya dalam menjalankan tugas sosial kemanusiaan serta meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Diharapkan melalui upaya-upaya ini, Polri dapat semakin dekat dengan masyarakat dan berkontribusi dalam menciptakan Indonesia yang lebih sehat dan maju.

“Saya juga menekankan agar jajaran wilayah dapat berperan aktif terhadap penanganan stunting di wilayah masing-masing, hal ini bertujuan untuk lahirkan SDM Unggul menyongsong bonus demografi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045,” kata Kapolri.***/jay

Cara Indika Berbakti untuk Negeri

JAYAKARTA NEWS, PASER – Kabar gembira itu datang dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Indika Energy, sebuah perusahaan yang beranggotakan –antara lain-- PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Tambangjaya Utama, melakukan kick-off dua program yang langsung menyasar masyarakat sekitar.

Nama program itu: Canting (Cegah serta Tangani Stunting Berkelanjutan) dan program penanaman- rehabilitasi mangrove di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Kenapa stunting? Stunting adalah persoalan penting yang jika tidak diselesaikan, bakal mengganggu “bonus demografi”.

Sekadar me-refresh ingatan, stunting adalah masalah kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang. Hal itu mengakibatkan terganggunya tumbuh kembang anak.

Ciri utama penderita stunting adalah pertumbuhan tubuh di bawah rata-rata. Meski begitu, mereka bukan kaum cebol atau kerdil — melainkan bertubuh pendek karena kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Tak kurang, Presiden Joko Widodo menaruh perhatian sangat serius. Tak heran jika angka stunting cenderung menurun. Jika tahun 2021 angka stunting 24,4 persen, turun menjadi 21,6 persen di tahun 2022. Di akhir masa jabatannya, 2024, Jokowi menargetkan angka stunting turun hingga 14 persen.

“Rumah” Kepiting

Kedua, program mangrove. Ini terkait perbaikan lingkungan hidup. Indika Energy melalui Kideco melakukan penanaman dan rehabilitasi kawasan mangrove di Kabupaten Paser yang bertetangga dengan Ibukota Nusantara.

Aksi ini adalah upaya meredam tingginya persoalan pesisir seperti abrasi dan rob, akibat dieksploitasi lalu dibiarkan merana. Tak sekadar menanam, namun juga merawat dan menjaga hutan mangrove yang sudah ada, dari kerusakan tangan-tangan jahil.

Melalui program tersebut, setidaknya Indika Energy turut melindungi wilayah sisi timur Pulau Kalimantan dari hantaman ombak Selat Makassar.

Mangrove bukan saja pohon dengan fungsi mitigasi bencana, tetapi juga bisa memperbaiki ekosistem. Termasuk, sebagai “rumah” kepiting (bakau), udang dan ikan yang tentu saja bisa meningkatkan nutrisi dan gizi masyarakat setempat.

Adalah Doni Monardo. Kepala BNPB 2019 – 2021 ini hadir di Paser bersama rombongan Indika Energy Group pada 14 dan 15 Maret 2023.

Pencanangan kedua program ini disempurnakan dengan hadirnya Bupati Paser, dr. Fahmi Fadli, Komisaris Independen Indika Energy, Eko Putro Sandjojo, Vice President Director dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand. Selain itu tampak Direktur Indika Energy, Retina Rosabai, Direktur Utama Kideco, Kurnia Ariawan, dan Leonardus Herwindo selaku CEO Indika Nature.

“Keberlanjutan merupakan elemen inti dari hal-hal yang dilakukan Indika Energy Group, untuk memastikan kegiatan perusahaan dan inisiatif yang dilakukan berjalan selaras dengan keinginan kami untuk memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia,” tutur Azis Armand.

Fokus 14 Titik

Untuk mewujudkan Indonesia yang berkelanjutan, diperlukan generasi masa depan yang sehat dan cerdas. Untuk itulah, Indika bersama Kideco meluncurkan program Canting Berkelanjutan. Kick offnya, dilaksanakan di Posyandu Melati Putih, Desa Janju, Paser Kalimantan Timur.

“Stunting menjadi salah satu fokus dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia, yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik namun juga kemampuan kognitif anak,” tutur Retina Rosabai seraya menambhakan bahwa Indika Energy dan Kideco fokus melakukan intervensi di 14 desa di Kabupaten Paser.

Retina menegaskan, pemilihan 14 titik itu sudah berdasar data sebaran stunting terbesar di wilayah Paser. Saat ini, angka stunting rata-rata di Kabupaten Paser mencapai 22 persen, kisaran yang sama dengan angka nasional. “Bapak Presiden menginstruksikan agar angka stunting bisa diturunkan menjadi 14 persen di tahun 2024. Kita mendukung instruksi presiden,” tambahnya.

Target Presiden, dinilai cukup agresif. Retina setuju, stunting harus diberantas. Ancaman pengidap stunting adalah kapasitas otak yang tidak berkembang melebihi kapasitas anak usia kelas 6 SD.

Direktur Utama Kideco, Kurnia Ariawan menegaskan jika program pencegahan stunting di Kabupaten Paser berhasil maka otomatis menuai dampak yang sangat positif dimasa depan. “Saya berdoa, kelak ada pemimpin baik di level provinsi bahkan tingkat nasional, akan lahir dari kecamatan Tana Grogot,” ujarnya.

Mangrove Desa Lori

Saat bersamaan, Indika Nature, Indika Energy menandatangani perjanjian kerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Indonesia (BRGM) untuk program penanaman dan percepatan rehabilitasi mangrove. Penandatanganan dilakukan oleh Azis Armand, Vice President & Group CEO Indika Energy, dan Ayu Dewi Utari, Sekretaris BRGM, disaksikan dr. Fahmi Fadli, Bupati Kabupaten Paser.

Pada hari yang sama dilakukan penanaman sekitar 300 bibit mangrove di Desa Lori, Kalimantan Timur. “Mangrove adalah ekosistem pesisir yang penting, dan Indonesia adalah rumah bagi mangrove terluas di dunia. Kami melihat mangrove tidak hanya dapat memberikan dampak terhadap lingkungan namun secara terintegrasi dapat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian dan sosial masyarakat setempat,” tutur Azis Armand.

Indika Energy telah lama berkomitmen untuk menanam kembali dan merestorasi area tempat perusahaan beroperasi. Di luar area operasional, bersama anak perusahaan dan mitra, Indika Energy telah menanam lebih dari 100 ribu pohon mangrove di seluruh Indonesia.

Melalui program IMPACT, Indika Energy mendukung upaya Pemerintah dalam penanaman dan rehabilitasi mangrove dalam skala yang lebih luas dan berkelanjutan menuju pencapaian netral karbon di Indonesia. Indika Energy berencana untuk melaksanakan rehabilitasi mangrove di lahan seluas 250 Hektar (Ha) yang tersebar di 4 desa, yaitu Desa Lori, Desa Sungai Langir, Desa Tajur, dan Desa Pasir Mayang di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Selain penanaman dan rehabilitasi mangrove, juga dilakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar berupa penguatan kelembagaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mangrove yang ditanam tetap hidup berkelanjutan. Semua itu selaras dengan slogan kabupaten Paser: Olo Manin Aso Buen Si Olo Ndo, Hari esok lebih baik dari hari ini.

Pohon Untuk IKN

Rekam jejak Indika dalam menjaga alam, bukanlah semata atas dua program di atas. Beberapa waktu lalu, Indika Energy ikut mendukung pembibitan pohon bernilai ekologis dan ekonomis, yang selanjutnya akan ditanam di kawasan Ibu Kota Negara, Kalimantan Timur.

Aktivitas itu melibatkan kerjasama TNI Angkatan Darat, Bumn MIND ID, Kadin Indonesia di bawah komando Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD). Setidaknya ada 65 jenis bibit pohon dengan total 160 ribuan pohon siap tanam setinggi 1 sampai 5 meter saat ini sedang tahap pengiriman ke Ibukota Nusantara dalam waktu dekat. (*/egy)

Di Hadapan Jenderal Andika Perkasa, Megawati Beberkan Cara Memasak yang Baik

JAYAKARTA NEWS— Perempuan Indonesia harus digugah kembali semangatnya. Dia mendorong perempuan masa kini memberi yang terbaik untuk keluarga termasuk dalam hal pemenuhan guzi untuk penurunan stunting.

Megawati mengatakan hal itu saat kick off kolaborasi penurunan stunting dan menerapkan apa yang tertuang dalam buku yang diluncurkan ‘Resep Makanan Baduta dan Ibu Hamil untuk Generasi Emas Indonesia’ di Jakarta, Senin (8/8/2022).

Acara yang digelar oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dihadiri Panglima TNI, Mensos Tri Rismaharini, Kepala BPIP Yudian Wahyudi, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. Laksana Tri Handoko, Kepala Pusdokkes Polri Irjen Pol Asep Hendradiana mewakili Kapolri dan perwakilan Dharma Wanita dan Bhayangkari.

Di bagian paparannya, Megawati mengatakan, perempuan jaman perjuangan yang gigih namun saat ini ada kesan perempuan masa kini melempem, kurang memperjuangkan bagaimana posisi perempuan di Indonesia.

“Ibu-ibu harus punya manajemen rumah tangga untuk memasak. Kelewatan kalau gak bisa memasak,” kata Megawati.

Megawati bicara dan memotivasi para peserta luring dan daring yang hadir agar memberi gizi yang terbaik bagi setiap keluarga.

Bahkan Megawati memaparkan bagaimana cara-cara memasak termasuk sayuran yang baik.
Dia mengatakan dirinya banyak mendapat pelajaran memasak yang baik dari sang ibu, Fatmawati.

“Maaf ke pada bapak-bapak. Ini saya mau menjelaskan apa yang ada di dalam buku,” kata Megawati sambil tersenyum. Jenderal TNI Andika Perkasa bersama ratusan yang hadir serius mendengarkan paparan Megawati.

Wanita kelahiran Yogyakarta itu mengatakan yang paling penting dari kesuksesan peluncuran buku ini dengan memberi contoh nyata, termasuk dengan turun ke bawah. Memberi contoh ke masyarakat secara langsung. Bahkan mau turun ke pasar untuk melihat langsung yang ada di situ.

Dia memotivasi pentingnya memasak bahkan sewaktu muda Megawati mengaku dia diberi doktrin oleh Ibu Fatmawati.

“Suatu saat akan ada manusia kecil di badan kita. Jadi harus bisa mengatur makanan apa yang baik untuk diri sendiri. Insha Allah kemungkinan untuk stunting bisa dihindari. Dan anak hingga umur dua tahun perlu makanan berkualitas dengan gizi, protein,” ucapnya.

Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi ini mengatakan di Tanah Air kita ini penuh dengan aneka tumbuhan yang bisa dimanfaatkan menjadi makanan.

“Rahasia memasak sudah saya berikan. Semoga ada manfaatnya, semoga bisa jadi pengetahuan. Semoga siap jadi calon ibu dan mental seorang Ibu diperkuat,” katanya.

Di akhir sambutannya, Megawati menegaskan dirinya sangat menyambut baik, semakin banyak yang membantu Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam penuntasan masalah stunting ini.***/din

Ketua TP PKK Jatim Arumi Bachsin Ajak Kader Waspadai Gizi Buruk Guna Turunkan Stunting

JAYAKARTA NEWS— Ketua Tim Penggerak (TP) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Emil Dardak mengajak para kader PKK untuk waspada terhadap gizi buruk pada anak. Mengingat, gizi buruk seringkali menjadi penyebab angka stunting terus bertambah.

Menurut Arumi, diperlukan peningkatan kualitas kader dalam edukasi dan penyampaian informasi kepada masyarakat. Sebab, untuk membangun kesadaran terhadap pentingnya gizi maupun pola hidup sehat, memang dibutuhkan intervensi langsung.

“Kita harus intervensi langsung pada keluarga yang sekiranya punya pola hidup kurang baik. Maka dari itu, perlu peningkatan kapasitas kader-kader dalam melaksanakan edukasi dan penggerakan masyarakat. Karena pergerakan masyarakat tidak akan lepas dari kemampuan penyampaian atau komunikasi kepada mereka,” ujarnya saat membuka Rapat Pertemuan Kader dalam rangka Pencegahan Stunting, Penurunan AKI dan AKB di Hotel Alana, Surabaya, Senin (23/5).

Arumi menjelaskan, peningkatan kualitas ini penting karena tingkat prevalensi stunting Indonesia maupun Jatim masih di bawah standar WHO 20%. Di mana, pada 2021, jumlah kematian bayi berjumlah 3.330 bayi dengan tingkat prevalensi stunting 23,5%.

“Sebenarnya ini sudah lebih baik daripada tingkat prevalensi stunting nasional. Angka ini juga sudah turun dari yang sebelumnya sekutar 26%. Tapi ini tetap harus digenjot lagi agar memenuhi standar WHO untuk Indonesia,” terangnya.

Lebih jauh, istri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak itu mengatakan bahwa permasalahan ini harus segera diselesaikan. Sebab, tingkat stunting akan berdampak pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang berindikator 3 dimensi. Yakni umur panjang dan sehat, pengetahuan, serta standar hidup yang layak. “Selain itu, setiap satu nyawa dari anak-anak kita itu tentunya berharga,” imbuhnya.

Selain itu, Arumi menerangkan betapa seorang ibu memegang kunci dalam sukses tidaknya upaya penurunan stunting yang gencar dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jatim. “Kunci keberhasilan dari proses ini adalah pengetahuan ibu dalam menyiapkan dirinya melahirkan anak yang sehat dan juga selamat, serta mengasuh anak dengan gizi yang optimal. Maka kita juga harus fokus pada kesehatan dan mental ibu,” tambahnya.

Meski begitu, Arumi mengingatkan bahwa faktor eksternal seringkali berubah secara drastis. Oleh karenanya, para kader harus dapat menyesuaikan apa yang mereka pelajari dengan kondisi yang ada di lapangan.

“Yang terjadi di sekitar kita sering berubah. Kita masih dihadapkan dengan pandemi yang berkepanjangan dan sekarang sudah disambut oleh hepatitis akut. Ini jelas mengubah cara kita hidup. Inilah mengapa teori yang kita ketahui harus tetap update dengan perubahan di sekitar kita,” katanya.

Di akhir, Arumi berharap agar rapat pertemuan kader ini dapat memberikan bekal pengetahuan teknik sederhana. Agar ilmu tersebut bisa diaplikasikan kepada masyarakat.

“Insya Allah, dengan meningkatnya kemampuan ini, peranan kader PKK dapat lebih optimal lagi dan berdampak dalam mendukung percepatan penurunan AKI dan AKB serta pencegahan stunting di Jatim,” pesannya. (poedji)

Tekan Angka Stunting secara Keroyokan

Jayakarta News – Upaya Pemprov Jatim menangani stunting terus dilakukan. Salah satunya melalui gelaran Roadshow Monitoring Evaluasi (Monev) Stunting dan Angka Kematian Ibu dan Bayi (AKI dan AKB) ke lima Bakorwil seluruh Jawa Timur.

Melalui Monev tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Jatim, Arumi Emil Elestianto Dardak mengajak seluruh elemen di pemerintahan dan masyarakat bersama-sama menjadikannya Cross Cut Program atau Program Keroyokan untuk menekan angka stunting.

“Ketika ada stunting, AKI dan AKB, itu bukan hanya tanggung jawab Dinas Kesehatan, BKKBN atau orang tuanya saja. Melainkan bisa jadi keroyokan berbagai dinas lainnya,” tutur Arumi ketika memberikan arahan pada acara Monev Stunting AKI dan AKB di Pendopo Kabupaten Trenggalek, Senin (24/2) siang.

Cross Cut atau keroyokan yang disebut Ketua TP PKK Jatim bukan tanpa alasan. Pasalnya, melalui monev di lima Bakorwil, dirinya mendapati hasil yang cukup beragam terkait penyebab Stunting. Mulai dari permasalahan gizi, sanitasi, pola asuh, hingga tradisi menikah usia dini.

Dengan beragamnya penyebab itu, kerja sama dari berbagai pihak dirasa sangat diperlukan guna memperkuat proses penanganan stunting.

Pada roadshow Monev Stunting dan AKI-AKB terakhir itu, Arumi juga meminta kepada para pengurus dan Kader TP PKK di daerah untuk terus bisa berperan aktif berkoordinasi dengan berbagai pihak. Seperti halnya kasus pernikahan dini.

Dirinya turut berpesan kepada penghulu atau staf di Kantor Urusan Agama (KUA) untuk bisa mengarahkan serta memastikan kesiapan setiap calon pengantin yang dirasa masih terlalu dini untuk menikah.

Pemberian edukasi tersebut diharapkan bisa menekan penurunan angka pernikahan dini di Jatim. “Harapannya apa, supaya lingkaran stunting ini bisa terputus,” tutur istri Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak itu.

Arumi sedang berkomunikasi dengan salah seorang anak berindikasi stunting. (foto: humas pemprov jatim)

Keseriusan Pemprov Jatim dalam menangani stunting sendiri, sebut Arumi, juga mengacu pada target Presiden RI Joko Widodo agar Indonesia bisa jadi Negara Maju pada 2045 mendatang. Beberapa indikator negara maju adalah tidak adanya ibu yang meninggal saat melahirkan, tidak adanya bayi yang meninggal karena kekurangan gizi serta berkurangnya kemiskinan.

“Pokoknya kalau masih ada Stunting, AKI dan AKB masih banyak, tidak keren jadinya. Kalau kita mau jadi negara maju, ayo sama-sama kita ke arah sana,” ajak Arumi kepada ratusan perwakilan TP PKK dari Kab/Kota se Bakorwil Madiun.

Sebelumnya, Arumi didampingi Ketua TP PKK Kab. Tulungagung Novita Hardini Nur Arifin meninjau langsung ke Desa Mlinjon, Kec. Suruh, Kab. Trenggalek. Di daerah tersebut merupakan desa dengan angka stunting tertinggi di Kab. Trenggalek. Di dalam kunjungannya tersebut, dirinya menyampaikan apresiasi penuh kepada para perangkat desa yang ikut berkontribusi khususnya dalam hal penganggaran khusus penanganan stunting.

“Dari yang awalnya kecil, sekarang penyisihan anggaran untuk stunting semakin besar. Alhamdulillah,” ujar wanita yang juga menjabat sebagai Ketua Perwosi Jatim itu.

Melalui peningkatan di Desa Mlinjon, akan berdampak pada data perbaikan dari kabupaten hingga ke pemerintah pusat. Hal tersebut disebutkan Arumi menjadi suatu kebanggaan bagi setiap warga untuk mendukung Indonesia menjadi negara maju di masa depan.

Sementara itu, Ketua TP PKK Kab. Tulungagung Novita Hardini menyampaikan progres positif yang didapat oleh PKK Kab. Tulungagung. Terjadi penurunan angka stunting sebanyak 25 % sampai akhir 2019. Dirinya mengaku sangat berterima kasih dan termotivasi untuk semakin baik kedepannya.

“Kedatangan ibu Arumi ini menjadi motivasi kami untuk terus bisa meningkatkan penanganan khususnya stunting di enam kecamatan yang masih menjadi PR,” ungkap Novita. (poedji)

Lamongan “Zero Stunting 2020”

Jayakarta News – Ketua TP PKK Provinsi Jatim Arumi Emil Elestianto Dardak mengajak kepada seluruh kader PKK dan seluruh masyarakat untuk menjaga kualitas hidup mereka. Ajakan itu ia sampaikan agar mereka bisa ikut bersama-sama mencegah adanya kasus stunting di tengah-tengah masyarakat. Apalagi menurutnya, kualitas hidup seseorang di setiap fase kehidupan akan berpengaruh pada potensi adanya stunting.

“Yang terpenting itu adalah kualitas hidup, tidak peduli usia berapa pun, tetapi kualitas hidup itu menjadi penting,” kata Arumi Emil Dardak saat menyampaikan sambutannya di acara Kunjungan Kerja (Kunker) Monitoring dan Evaluasi (Monev) Stunting dan Kematian Ibu dan Bayi (KIB) di Desa Karangturi, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, Kamis (30/1) pagi.

Arumi menuturkan, sejak seseorang berada pada fase bayi sampai lanjut usia (lansia) memerlukan kualitas hidup yang baik. Pada fase bayi, selain fisik dan psikologis, maka kualitas hidup lainnya juga harus mendapat perhatian. Utamanya saat pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif.

“Kualitasnya akan bertambah ketika ibunya menyusui ASI eksklusif karena dengan ASI ekslusif bayi itu mendapatkan bounding dan sentuhan langsung kasih sayang dari ibunya, dan mendapatkan gizi karena tidak ada gizi yang lebih baik selain ASI,” tuturnya.

Arumi menjelaskan, kualitas hidup yang baik pada usia anak-anak akan diperoleh jika ia mendapatkan gizi yang baik. Termasuk pola asuh yang baik dari orang tua. Seperti menyayangi dan membesarkan anak dengan kata-kata yang baik. Selain itu juga memberikan contoh dan perilaku yang baik.

“Kualitas hidup anak akan menjadi baik ketika gizinya terpenuhi, pola asuh anak dan remaja yang penuh cinta dan kasih sayang,” jelasnya.

Istri dari Wakil Gubernur Jatim ini pun mengungkapkan, ketika seseorang berada pada fase remaja kualitas hidupnya bisa diperoleh dengan  memberikan edukasi. Meliputi kesehatan diri dan harga diri atau self-value. Harapannya, dengan menghargai diri sendiri akan ada usaha menghormati diri dengan merawat tubuh dan kesehatan mereka, baik secara fisik maupun psikisnya.

“Caranya bagaimana, ditunjukkan di rumah, ditunjukkan oleh diri sendiri kalau saya ini berkualitas, saya ini berharga,” ungkapnya.

Selanjutnya, pada fase dewasa dan menikah, maka hal penting yang perlu diperhatikan adalah mengetahui bagaimana mempersiapkan kehamilan yang baik, bagaimana merawat janin yang masih dalam kandungan, serta bagaimana mempersiapkan hal terbaik bagi anak-anak mereka.

“Karena calon ibu memegang peranan yang penting di kemudian hari. Karena mencetak generasi-generasi baru bagi masa depan mereka,” ucapnya.

Arumi Emil Dardak sedang memberi sambutan. (foto: poedji)

Setelah itu, pada fase lansia, seseorang pun berhak mendapatkan kualitas hidup yang baik dengan menjalin komunikasi dan silaturahmi. Hal itu dapat dilakukan dengan menjalin komunikasi antar sesama untuk berbagi pengetahuan dan informasi.

“Makanya harus diperhatikan betul, ketika lansia kualitas hidupnya harus baik,” imbuhnya.

Dirinya berpesan, kualitas hidup yang baik akan dapat dicapai jika semuanya mampu menerapkan pola hidup yang baik pula. “Itu semua kata kuncinya adalah pola hidup yang baik, pola hidup yang sehat,” pesannya.

Sementara itu, Bupati Lamongan H. Fadeli dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mendukung program penurunan angka stunting di Jatim, Pemerintah Kabupaten Lamongan telah mencanangkan dan melaunching program Lamongan Zero Stunting.

“Target di Pemerintah Kabupaten Lamongan dengan semua pihak, stakeholder di tingkat kabupaten dan kecamatan, kami telah melaunching Lamongan menuju zero stunting di 2020,” kata Bupati Fadeli. (poedji)

Membangun Sumber Daya Manusia melalui Investasi Gizi yang Cermat

Jayakarta News – Presiden RI pada pidato pelantikannya 20 Oktober 2019 lalu menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia menjadi prioritas pertama pemerintahnnya pada periode 2019-2024. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 menjadikan penurunan stunting sebagai fokus prioritas bidang kesehatan. Saat ini 30,8% balita di Indonesia mengalami stunting (RISKESDAS 2018). Intervensi melalui pemenuhan kebutuhan gizi serta pencegahan dan pengobatan penyakit menjadi fokus upaya penurunan stunting secara terintegrasi.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) sebagai bagian dari masyarakat sipil memiliki peran penting dalam pengembangan keilmuan yang dapat membantu pemerintah memperbaiki upaya-upaya perbaikan gizi dan kesehatan. Pemenuhan gizi yang tepat sedini mungkin sangat penting dilakukan untuk mencegah masalah beban ganda gizi baik tingginya permasalahan kekurangan gizi dan meningkatnya masalah obesitas dan pertumbuhan epidemi penyakit tidak menular yang disebabkan oleh asupan gizi yang berlebih pada era transisi gizi yang cepat.

Melalui International Conference on Nutrition (ICON) 2019 yang diselenggarakan pada 4 November 2019 di Gedung IMERI FKUI, Jakarta, dibahas berbagai faktor yang mempengaruhi gizi dan kesehatan sesuai siklus kehidupan. Periode 1000 hari pertama kehidupan, yaitu sembilan bulan kehidupan janin dalam kandungan, kelahiran dan bertumbuh hingga usia dua tahun merupakan periode yang sangat penting dalam menentukan status gizi dan kesehatan untuk jangka panjang. Hal ini termasuk mengurangi angka kesakitan dan kematian anak serta mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal.  

Maraknya makanan olahan yang dikenal sebagai ultra process foods yang disertai berkurangnya asupan buah-buahan dan sayur-mayur yang mendorong balita lebih menyukai makanan-makanan olahan mengakibatkan peningkatan obesitas dan penyakit degeneratif pada anak. Berbagai upaya penyampaian pesan-pesan pola makan sehat telah dilakukan di sekolah-sekolah, namun efektifitas penyampaian pesan tersebut perlu dikaji. Asupan gula tambahan dalam taraf yang tinggi pada pola makan harian balita juga mengakibatkan perubahan biologis, sebagai manifestasi awal penyakit degeneratif pada anak.  

Di sisi lain, keluarga-keluarga yang mengalami kerawanan pangan juga rentan dalam pemenuhan kebutuhan gizi pada anak. Diperlukan suatu panduan untuk dapat memenuhi kebutuhan gizi sesuai jenis pangan yang terjangkau dan tersedia agar anak-anak tersebut terhindar dari kekurangan gizi jangka panjang yang mengakibatkan stunting.

“Anak yang mengalami stunting akan memiliki inteligensia dan kemampuan kognitif yang rendah, hambatan belajar serta tingkat kelulusan sekolah yang rendah. Saat dewasa, upah yang didapat juga rendah. Diperkirakan sebesar 2-3% Produk Domestik Bruto nasional hilang akibat masalah gizi” ujar Dr. Rr. Dhian Probhoyekti, SKM, MA, Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI.

Selain faktor akses dan utilisasi pangan, stunting juga dapat disebabkan oleh kondisi biologik yaitu gangguan penyerapan yang memerlukan penanganan secara klinis.

Dalam mencegah stunting, memberi perbaikan pertumbuhan dan perkembangan anak, dan mengatasi beban ganda gizi, pendekatan intervensi spesifik gizi dan sensitif multisektor harus dilakukan. Pendekatan tersebut adalah memadainya akses pada pola asuh anak, stimulasi psikososial dan praktek pemberian makan sesuai usia, pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan, ketersediaan sarana air bersih dan sanitasi serta keberagaman makanan yang aman dan bermutu.

Di sisi lain, prevalensi anemia pada ibu hamil yang tinggi yaitu sebesar 48,9 % (RISKESDAS, 2018), mengakibatkan sulitnya menurunkan angka kesakitan dan kematian pada ibu. Penyebab utama dari anemia adalah kekurangan zat besi, dan hal ini terjadi pada hampir separuh ibu hamil di Indonesia.

Berbagai penyakit degeneratif yang terjadi pada usia remaja hingga dewasa, yaitu penyakit jantung dan penyakit metabolik memiliki hubungan erat dengan status gizi dan kesehatan pada usia tersebut, maupun yang telah dipicu sejak usia kanak-kanak. Di Indonesia penyakit tidak menular akibat masalah gizi yang dipicu pola makan serta gaya hidup yang tidak sehat meningkat pesat seperti di berbagai negara lainnya.

Asupan dan metabolisme zat gizi mikro pada usia reproduktif, sangat penting diimbangi dengan pola makan dari beragam kelompok makanan sesuai pedoman gizi seimbang yang tercermin dalam panduan Isi Piringku. Gangguan gizi dan metabolik seperti gangguan kadar lemak dalam darah, diabetes melitus atau dikenal sebagai kencing manis serta obesitas sentral semakin meningkat dan menjadi bagian yang harus ditanggung oleh negara melalui Jaminan Kesehatan Nasional.

Dengan demikian, “Investasi gizi yang cermat bersama dengan peningkatan akses pada berbagai sektor adalah kunci pembangunan SDM dan pembangunan nasional”. Kami mengundang para akademisi, pemangku kebijakan dan pihak-pihak yang terkait untuk mendiskusikan tantangan yang kita hadapi pada beban ganda malnutrisi di era transisi gizi serta mengupas perkembangan dan terobosan-terobosan terbaru yang berbasis riset dalam mengatasi kendala-kendala dalam menanggulangi stunting” tegas Dr. Rina Agustina, M.Sc, PhD, Ketua Program Studi Doktor Ilmu Gizi FK UI, selaku penyelenggara ICON 2019. (press release)