BULOG: Pelestarian Lingkungan Bagian tak Terpisahkan dari Upaya Jaga Ketahanan Pangan

JAYAKARTA NEWS— Perum BULOG kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap bumi dengan menanam 1.050 pohon mangrove di kawasan pesisir Bali, Arboretum Mangrove Benoa, Senin (22/6/2026).

Acara ini melibatkan jajaran Bulog di antaranya, Direktur SDM dan Transformasi Perum BULOG, Ade Prastya Nurdin, serta Pemimpin Wilayah Bulog Bali, Simon Melkisedek Lakapu, komunitas Sahabat Mangrove Ranger Indonesia, masyarakat local serta aktivis pelestarian ekosistem pesisir.

Aksi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari komitmen perusahaan untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan hidup.

Mangrove dikenal sebagai benteng alami pantai yang mampu menahan abrasi, menyaring kualitas air, sekaligus menjadi rumah bagi berbagai biota laut. Dengan penanaman ini, BULOG berupaya memperkuat ekosistem pesisir Bali dan mendukung program nasional rehabilitasi hutan mangrove.

Direktur SDM dan Transformasi Perum BULOG, Ade Prastya Nurdin/Foto: Instagram Perum BULOG

Direktur SDM dan Transformasi Perum BULOG, Ade Prastya Nurdin menegaskan, pelestarian lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga ketahanan pangan. Perusahaan mengintegrasikan operasional bisnisnya dengan inisiatif keberlanjutan melalui berbagai pilar, termasuk program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Kegiatan ini melibatkan masyarakat lokal dan komunitas pecinta lingkungan, sehingga menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bahwa pelestarian alam adalah tanggung jawab kolektif yang bisa dilakukan secara nyata.

Penanaman 1.050 mangrove di Bali menjadi bukti bahwa BULOG berkomitmen menjalankan bisnis yang selaras dengan misi sosial dan ekologis. Upaya ini menegaskan peran BULOG sebagai perusahaan yang peduli tidak hanya pada pangan, tetapi juga pada masa depan bumi. (*/di)

FANTASTIS | Ratusan Hektare Tanah Tandus Jadi Ijo-Royo-Royo

https://youtu.be/un9f3tFTkoA

Ini video kisah sukses Danbrigif 3/TBS Kariango Kolonel Inf Doni Monardo dan Kasbrigif Letkol Inf AM Putranto menghijaukan lahan markas seluas 300 hektare. Lahan yang tadinya tandus dan banyak tumpukan sampah, sekarang menjadi markas brigade paling hijau di dunia.

#donimonardo #brigifkariango #trembesi

Cara Indika Berbakti untuk Negeri

JAYAKARTA NEWS, PASER – Kabar gembira itu datang dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur. Indika Energy, sebuah perusahaan yang beranggotakan –antara lain-- PT Kideco Jaya Agung, PT Multi Tambangjaya Utama, melakukan kick-off dua program yang langsung menyasar masyarakat sekitar.

Nama program itu: Canting (Cegah serta Tangani Stunting Berkelanjutan) dan program penanaman- rehabilitasi mangrove di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Kenapa stunting? Stunting adalah persoalan penting yang jika tidak diselesaikan, bakal mengganggu “bonus demografi”.

Sekadar me-refresh ingatan, stunting adalah masalah kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang. Hal itu mengakibatkan terganggunya tumbuh kembang anak.

Ciri utama penderita stunting adalah pertumbuhan tubuh di bawah rata-rata. Meski begitu, mereka bukan kaum cebol atau kerdil — melainkan bertubuh pendek karena kekurangan gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan.

Tak kurang, Presiden Joko Widodo menaruh perhatian sangat serius. Tak heran jika angka stunting cenderung menurun. Jika tahun 2021 angka stunting 24,4 persen, turun menjadi 21,6 persen di tahun 2022. Di akhir masa jabatannya, 2024, Jokowi menargetkan angka stunting turun hingga 14 persen.

“Rumah” Kepiting

Kedua, program mangrove. Ini terkait perbaikan lingkungan hidup. Indika Energy melalui Kideco melakukan penanaman dan rehabilitasi kawasan mangrove di Kabupaten Paser yang bertetangga dengan Ibukota Nusantara.

Aksi ini adalah upaya meredam tingginya persoalan pesisir seperti abrasi dan rob, akibat dieksploitasi lalu dibiarkan merana. Tak sekadar menanam, namun juga merawat dan menjaga hutan mangrove yang sudah ada, dari kerusakan tangan-tangan jahil.

Melalui program tersebut, setidaknya Indika Energy turut melindungi wilayah sisi timur Pulau Kalimantan dari hantaman ombak Selat Makassar.

Mangrove bukan saja pohon dengan fungsi mitigasi bencana, tetapi juga bisa memperbaiki ekosistem. Termasuk, sebagai “rumah” kepiting (bakau), udang dan ikan yang tentu saja bisa meningkatkan nutrisi dan gizi masyarakat setempat.

Adalah Doni Monardo. Kepala BNPB 2019 – 2021 ini hadir di Paser bersama rombongan Indika Energy Group pada 14 dan 15 Maret 2023.

Pencanangan kedua program ini disempurnakan dengan hadirnya Bupati Paser, dr. Fahmi Fadli, Komisaris Independen Indika Energy, Eko Putro Sandjojo, Vice President Director dan Group CEO Indika Energy, Azis Armand. Selain itu tampak Direktur Indika Energy, Retina Rosabai, Direktur Utama Kideco, Kurnia Ariawan, dan Leonardus Herwindo selaku CEO Indika Nature.

“Keberlanjutan merupakan elemen inti dari hal-hal yang dilakukan Indika Energy Group, untuk memastikan kegiatan perusahaan dan inisiatif yang dilakukan berjalan selaras dengan keinginan kami untuk memberikan sumbangsih terhadap pembangunan Indonesia,” tutur Azis Armand.

Fokus 14 Titik

Untuk mewujudkan Indonesia yang berkelanjutan, diperlukan generasi masa depan yang sehat dan cerdas. Untuk itulah, Indika bersama Kideco meluncurkan program Canting Berkelanjutan. Kick offnya, dilaksanakan di Posyandu Melati Putih, Desa Janju, Paser Kalimantan Timur.

“Stunting menjadi salah satu fokus dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia, yang tidak hanya berdampak pada kondisi fisik namun juga kemampuan kognitif anak,” tutur Retina Rosabai seraya menambhakan bahwa Indika Energy dan Kideco fokus melakukan intervensi di 14 desa di Kabupaten Paser.

Retina menegaskan, pemilihan 14 titik itu sudah berdasar data sebaran stunting terbesar di wilayah Paser. Saat ini, angka stunting rata-rata di Kabupaten Paser mencapai 22 persen, kisaran yang sama dengan angka nasional. “Bapak Presiden menginstruksikan agar angka stunting bisa diturunkan menjadi 14 persen di tahun 2024. Kita mendukung instruksi presiden,” tambahnya.

Target Presiden, dinilai cukup agresif. Retina setuju, stunting harus diberantas. Ancaman pengidap stunting adalah kapasitas otak yang tidak berkembang melebihi kapasitas anak usia kelas 6 SD.

Direktur Utama Kideco, Kurnia Ariawan menegaskan jika program pencegahan stunting di Kabupaten Paser berhasil maka otomatis menuai dampak yang sangat positif dimasa depan. “Saya berdoa, kelak ada pemimpin baik di level provinsi bahkan tingkat nasional, akan lahir dari kecamatan Tana Grogot,” ujarnya.

Mangrove Desa Lori

Saat bersamaan, Indika Nature, Indika Energy menandatangani perjanjian kerja sama dengan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove Indonesia (BRGM) untuk program penanaman dan percepatan rehabilitasi mangrove. Penandatanganan dilakukan oleh Azis Armand, Vice President & Group CEO Indika Energy, dan Ayu Dewi Utari, Sekretaris BRGM, disaksikan dr. Fahmi Fadli, Bupati Kabupaten Paser.

Pada hari yang sama dilakukan penanaman sekitar 300 bibit mangrove di Desa Lori, Kalimantan Timur. “Mangrove adalah ekosistem pesisir yang penting, dan Indonesia adalah rumah bagi mangrove terluas di dunia. Kami melihat mangrove tidak hanya dapat memberikan dampak terhadap lingkungan namun secara terintegrasi dapat berpotensi untuk meningkatkan perekonomian dan sosial masyarakat setempat,” tutur Azis Armand.

Indika Energy telah lama berkomitmen untuk menanam kembali dan merestorasi area tempat perusahaan beroperasi. Di luar area operasional, bersama anak perusahaan dan mitra, Indika Energy telah menanam lebih dari 100 ribu pohon mangrove di seluruh Indonesia.

Melalui program IMPACT, Indika Energy mendukung upaya Pemerintah dalam penanaman dan rehabilitasi mangrove dalam skala yang lebih luas dan berkelanjutan menuju pencapaian netral karbon di Indonesia. Indika Energy berencana untuk melaksanakan rehabilitasi mangrove di lahan seluas 250 Hektar (Ha) yang tersebar di 4 desa, yaitu Desa Lori, Desa Sungai Langir, Desa Tajur, dan Desa Pasir Mayang di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.

Selain penanaman dan rehabilitasi mangrove, juga dilakukan kegiatan pemberdayaan masyarakat sekitar berupa penguatan kelembagaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia agar mangrove yang ditanam tetap hidup berkelanjutan. Semua itu selaras dengan slogan kabupaten Paser: Olo Manin Aso Buen Si Olo Ndo, Hari esok lebih baik dari hari ini.

Pohon Untuk IKN

Rekam jejak Indika dalam menjaga alam, bukanlah semata atas dua program di atas. Beberapa waktu lalu, Indika Energy ikut mendukung pembibitan pohon bernilai ekologis dan ekonomis, yang selanjutnya akan ditanam di kawasan Ibu Kota Negara, Kalimantan Timur.

Aktivitas itu melibatkan kerjasama TNI Angkatan Darat, Bumn MIND ID, Kadin Indonesia di bawah komando Persatuan Purnawirawan TNI-AD (PPAD). Setidaknya ada 65 jenis bibit pohon dengan total 160 ribuan pohon siap tanam setinggi 1 sampai 5 meter saat ini sedang tahap pengiriman ke Ibukota Nusantara dalam waktu dekat. (*/egy)

Komisi IV Temukan Produk Arang Ilegal, Ancam Keberadaan Mangrove

JAYAKARTA NEWS— Pada inspeksi mendadak (sidak) di Kepulauan Riau (Kepri), Komisi IV DPR RI menemukan produk arang ilegal yang bahan bakunya diambil dari mangrove. Produk arang itu tersimpan dalam gudang yang memuat begitu banyak tumpukan karung arang yang siap dipasarkan.

Temuan ini mendapat perhatian serius Komisi IV DPR di tengah upaya pemerintah merehabilitasi hutan mangrove dengan menggelontorkan anggaran hingga Rp1 triliun lebih. Tentu temuan ini bertolak belakang dengan upaya pemerintah tersebut. Ketua Komisi IV DPR Sudin yang memimpin sidak ini, Rabu (25/1/2023) menyerukan, agar gudang penyimpanan arang ilegal tersebut disegel. Gudang arang ini berada di Pulau Galang, Batam, Kepri. Demikian dikutip dari laman dpr.go.id

“Berapa ratus ribu batang mangrove yang dipotong. Pemerintah menggelontorkan anggaran Rp1 triliun lebih untuk penanaman mangrove. Sementara di Kepri ini mangrove ditebang untuk bikin arang. Pemiliknya harus segera di-BAP. Kita juga akan sidak tempat-tempat lainnya. Semua produk arang ini diekspor ke Singapura dan Malaysia,” ungkap Sudin.

Kerugian negara segera dihitung oleh tim Penegakkan Hukum (Gakkum) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang ikut dalam sidak tersebut. Ternyata tak hanya satu gudang, masih ada gudang lainnya di Pulang Galang yang juga jadi sasaran sidak Komisi IV. Ketika melihat produk arangnya, ternyata batang arangnya cukup besar. Menurut Sudin, batang arang itu didapat dari menebang pohon mongrove yang berusia sekitar 50 tahun.

Sudin sudah memerintahkan Gakkum KLHK menyegel gudang-gudang ilegal tempat penyimpanan arang mangrove tersebut. Setidaknya ada tiga gudang yang berhasil disidak Komisi IV DPR bersama Gakkum KLHK. Informasi seputar produk arang berbahan magrove ilegal ini, lanjut Sudin, sudah didapat satu bulan sebelumnya. Ketika masuk masa sidang, Komisi IV pun segera menyidak gudang-gudang penyimpanan arang ilegal tersebut.

“Kita akan cek, apakah ada izin reklamasinya apa tidak. Izin reklamasi ada di KKP. Kalau tidak ada izin, kita perintahkan disegel, karena merusak hutan mangrove. Kita juga pernah menyegel PT. Kayla di Batam. Saya katakan segel, karena itu merusak hutan bakau. Kita enggak peduli siapa backing-nya. Kalau melanggar hukum, ya kita akan tegakkan hukum,” tandas politisi PDI Perjuangan itu. ***

Doni Monardo Dapat Ilmu Baru Cara Nanam Mangrove

Dari Belawan, Doni Monardo mendapat ilmu baru cara menanam pohon bakau (mangrove). Dari aktivis mangrove Belawan, Effendy Wong, Doni mendapat cara baru menanam mangrove. Bukan dengan polybag, melainkan dengan menanam langsung dari biji pohon mangrove.

Doni Monardo Dapat Ilmu Baru Nanam Mangrove

JAYAKARTA NEWS – Menanam mangrove menggunakan polybag? Kuno. Doni Monardo mendapatkan ilmu baru dari kawasan hutan mangrove Belawan, Sumatera Utara. Ilmu baru itu didapat hari ini, Selasa (7/6/2022), saat Komisaris Utama PT Mind ID itu melakukan kunjungan ke Sumatera Utara.

Doni berangkat pagi hari bersama Dani Amrul Ichdan, Direktur Hubungan Kelembagaan PT Mind ID, beserta sejumlah staf. Mendarat di Bandar Kualanamu, Doni dan rombongan disambut Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Herianto, pengurus PPAD (Persatuan Purnawirawan TNI Angkatan Darat), dan jajaran manajemen PT Inalum.

Agenda pertama adalah mengunjungi penggiat lingkungan, Effendy Wong (66) yang sudah menunggu di markas Polairud Belawan. Dengan tiga speed boat, rombongan Doni Monardo menuju hutan mangrove buah tangan dan ketekunan Effendy yang sudah dilakukannya selama 12 tahun.

“Saya mulai menanam mangrove tahun 2010. Saat ini sudah tertanam dan tumbuh sekitar 400.000 pohon di lahan kehutanan seluas sekitar 20 hekater,” kata pria berambut putih itu.

Sebagai penggiat lingkungan, siapa tidak kenal Doni Monardo. Termasuk Effendy. “Sudah lama saya ingin didatangi pak Doni. Saya ingin menunjukkan hutan mangrove yang saya kelola. Dan yang terpenting ingin menunjukkan cara menanam mangrove yang lain dari yang lain,” ujarnya.

Turun dari boat, Doni pun melintas jalan tanah berlumpur. Berjalan di antara rimbunnya hutan mangrove. Di situ, Doni diagendakan menanam mangrove. Sebuah kegiatan yang sebenarnya sudah tak terhitung berapa kali Doni lakukan.

Doni Monardo (ketiga dari kiri) bersama manajemen PT Mind ID, PT Inalum, Effendy Wong, Kadishut Sumut, Martuani Sormin Siregar, menanam mangrove bersama di kawasan hutan mangrove tepi Belawan, Sumatera Utara. (foto: egy massadiah)

“Hari ini saya mendapatkan ilmu baru. Saya mengucapkan terima kasih kepada pak Effendy. Ilmu baru menanam mangrove yang beliau ajarkan kepada saya, sungguh luar biasa. Bahwa menanam mangrove tidak perlu menggunakan polybag atau melalui penyemaian bibit. Ternyata, menanam mangrove bisa langsung dari biji atau buahnya,” kata Doni sumringah.

Buah mangrove, seperti diketahui, bentuknya menyerupai tongkat. Hijau warnanya. Panjang biji mangrove  yang siap tanam antara 25 – 35 cm. “Pilih buah mangrove yang di pangkalnya sudah keluar ring berwarna coklat. Jika sudah keluar ring, itu artinya siap tanam, dan hasilnyha 99 persen tumbuh,” kata Effendy.

Sebelum meninggalkan lokasi hutan mangrove, Doni bersama Dani Amrul, Irjen Pol Purn Martuani Sormin Siregar (Komisaris PT Mind ID), Herianto (Kadishut Sumut), menanam mangrove di lokasi yang telah disiapkan. Doni mengambil lima buah mangrove siap tanam. “Saya menanam lima. Pancasila,” kata Doni bersemangat.

Usai menanam, Doni pun memekikkan yel-yel khasnya, “Kita Jaga Alam….”, dan hadirin serentak menyahut “Alam Jaga Kita”. Doni pun mengulang yel-yel itu sebanyak lima kali. (egy/roso)

Legenda Baba Akong

Pasca tsunami 1992, Baba Akong getol menanam mangrove. Meski sempat tidak didukung keluarganya, tapi ia tetap menanam, hingga akhirnya sang istri, Angelina Nona turut serta membantu sang suami menanam mangrove di pesisir belakang rumahnya di Pantai Ndete, Magepanda, Kabupaten Sikka, NTT.

Kini, meski baba Akong telah tiada, tetapi warisannya abadi. Sebuah keteladanan seorang warga negara yang sadar bencana. Budidaya mangrove Baba Akong bahkan tidak saja mendapat penghargaan dari pemerintah, tetapi juga menjadi bahan penelitian para peneliti dalam dan luar negeri.

Kisah Baba Akong benar-benar menjadi legenda.

Satu Juta Jenis Hewan dan Tanaman Terancam Punah

Akar Mangrove
Oleh: Leo Patty

JAYAKARTA NEWS – Bumi, saat ini, sebentar lagi harus memberi penghidupan bagi 9 miliar manusia plus pertumbuhan ekonomi, yang artinya manusia mengejar kesejahteraan hidup dengan model Barat. Semua ini memberi konsekuensi berat terhadap lingkungan hidup —- yang harus dijaga kalau manusia ingin lestari.

Penelitian para ilmuwan Intergovernmental Panel on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) memperingatkan sebanyak satu juta hewan dan dan tanaman terancam punah akibat pertumbuhan ekonomi.

Mereka kemudian menyerukan kepada semua negara di dunia dan sektor swasta untuk mengerem ambisi kepentingan diri sendiri, yang selama ini sudah menghalangi reformasi pertanian, energi, dan pertambangan untuk menyelamatkan ekosistem Bumi.

“Jika kita ingin mewariskan dunia ini kepada anak cucu kita tanpa menghancurkannya akibat aktivitas manusia saat ini, kita harus bertindak sekarang, “ tutur Robert Watson, ketua panel ilmuwan IPBES, yang beranggotakan 130 negara, termasuk AS, Rusia, dan Cina.

“Jika kita bertindak sekarang, banyak dari satu juta jenis hewan dan tanaman akan punah,” tambahnya dalam konferensi pers di Paris, Senin, 6 Mei 2019 lalu.

Laporan para ilmuwan, yang diberi judul Global Assessment, menyebutkan satu juta jenis hewan dan tanaman dari sekitar delapan juta jenis sedang menghadapi resiko kepunahan, yang beberapa jenis akan punah dalam hitungan puluhan tahun kedepan.

Laporan mengidentifikasi industri pertanian dan perikanan jadi motor penggerak krisis ini. Akibatnya tingkat kepunahan hewan dan tanaman telah mencapai puluhan sampai ratusan kali lebih tinggi dibangingkan rata-rata kepunahan selama 10 juta tahun terakhir.

Situasi makin diperburuk oleh perubahan iklim, yang disebabkan batu bara, minyak, dan gas atau bahan bakar fosil, tambah laporan tadi.

“Kita berhadapan dengan krisis kepunahan,” ujar Hoda Baraka dari 350.org, kelompok pemerhati perubahan iklim di Amerika Serikat. “Kita harus bekerjasama untuk menentang industri bahan bakar fosil yang terus menyebabkan krisis iklim sehingga bisa membangun perubahan nyata dan berkelanjutan.”

Laporan ini menjadi bagian dari riset-riset, yang hasilnya, mengusulkan dunia perlu menerapkan bentuk baru perekonomian yang menghindari resiko dampak polusi, kehancuran habitat, dan perubahan iklim.

Laporan ini dikumpulkan selama 3 tahun dan didasarkan kepada 15.000 kertas kerja ilmiah. Laporan mengidentifikasi banyak resiko, mulai dari punahnya banyak serangga, yang berperan vital dalam penyerbukan tanaman pangan, sampai hancurnya karang, yang mendukung ekosistem laut, serta hilangnya tanaman-tanaman obat.

Ancaman nyata, berdasarkan daftar laporan, terhadap keberlangsungan hidup 40 persen jenis amphibi, sekitar 33 persen karang, ikan Hiu, dan sekitar sepertiga semua mamalia laut. Namun gambaran mengenai serangga kurang jelas, meski diperkirakan sekitar 10 persen terancam punah.

Laporan ini punya langgam bahasa yang mirip dengan laporan United Nations Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), pada Oktober tahun lalu. Lembaga internasional ini menyebutkan dunia perlu mengubah ekonomi dan sosialnya untuk mengurangi gas rumah kaca dengan cepat agar terhindar dari konsekuensi berat akibat permanasan global.

Temuan-temuan ini juga diharapkan akan memberi tekanan lebih besar kepada negara-negara di dunia untuk melakukan perlindungan terhadap hutan dan keragaman hayati. “Kita (manusia) telah mengubah kehidupan dunia secara dramatis. Pesan kuncinya adalah berlaku sepeperti biasanya (business as usual) harus diakhiri,” tegas Eduardo Brondizio.

Sumber informasi: reuters.com

Demi Hutan Rehabilitasi Mangrove Ibu Iriana Rela Kehujanan

 

 

 

JAYAKARTA NEWS – Sekalipun sempat diguyur hujan, Ibu Negara  Iriana Widodo, bersama dengan Ibu Mufidah Yusuf Kalla, dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, tetap melaksanakan agenda penanaman pohon bakau di Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Dalam kegiatan tersebut juga melibatkan  para ibu yang tergabung dalam Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja (OASE). Demikian pula  masyarakat sekitar Labuan Pandeglang, tidak ketinggalan untuk ambil bagian menanam pohon bakau jenis Rhizophora mucronata dan pulai  jenis Alstonia scholaris.

Acara  bertema “Rehabilitasi Mangrove untuk Mitigasi Bencana dan Perubahan Iklim” itu  dilaksanakan serentak di  10 titik wilayah di Indonesia.

“Hujan tidak mengurangi semangat dari kita semua. Kita menanam ada 10 titik mangrove,” kata Ibu Negara  dalam sambutan di acara yang dilaksanakan  di lokasi penanaman, yaitu Pantai PLTU, Labuan, awal pecan ini.

Penanaman  satu juta pohon bakau   serentak dilakukan di 10 provinsi di Indonesia, dimana sekitar 53 ribu batang mangrove disiapkan untuk keperluan tersebut.

“Kita menanam di 10 titik, yaitu di Langkat (Sumatera Utara), Kota Cirebon (Jawa Barat), Lampung Timur (Lampung), Brebes (Jawa Tengah), Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan), Pohuwato Gorontalo, Donggala (Sulawesi Tengah), Lombok Barat (Nusa Tenggara Barat), Kota Ambon (Maluku) dan Labuan (Banten), dengan total yang ditanam 53 ribu batang pohon,” papar Iriana.

Untuk diketahui, hutan  mangrove memiliki banyak manfaat, antara lain  sebagai penyerap polutan, pencegah intrusi air laut, penelitian dan pendidikan, penyimpan karbon. Hutan mangrove juga amat baik untuk  wisata alam, tempat pemijahan aneka biota laut, pelindung garis pantai dari abrasi dan tsunami, penyedia HHK dan HHBK, serta tempat berlindung dan berkembang biaknya berbagai jenis fauna ekosistem payau.

Dana mengenai hutan mangrove di Indonesia menggabarkan, bahwa  nagara kita  memiliki  sekitar  19 persen dari total mangrove di dunia. Luas hutan mangrove Indonesia mencapai 3,48 juta hectare. Rinciannya,  kawasan mangrove berstatus baik seluas 1,67 juta hektar, dan yang  rusak 1,81 juta hektar.

Pemerintah telah menerbitkan Perpres No. 73 Tahun 2012 tentang Strategi Nasional Pengelolaan Ekosistem Mangrove, dan Peraturan Menteri Koordinator Perekonomian No. 4 Tahun 2017 tentang Kebijakan, Strategi, Program, dan Indikator Kinerja Pengelolaan Ekosistem Mangrove Nasional, yang dimaksudkan untuk mendukung program rehabilitasi hutan mangrove yang rusak, Pertahun ditargetkan untuk merehabilitasi 65 ribu mangrove, dan ini diprogramkan hingga tahun 2045, dengan melibatkan seluruh komponen yang ada bauk itu kementerian, lembaga, BUMN, BUMS, BUMD, dan juga masyarakat.***