Brang Wetan: Warisan Perlawanan dari Malang Selatan

Oleh : Heri Mulyono

Dari Kadipaten Sengguruh hingga Pertempuran Sumberpucung, Kisah Panjang Resistensi Jawa Timur terhadap Ekspansi Mataram

Di balik nama Malang yang kini identik dengan wisata dan pendidikan, tersimpan lapisan sejarah perlawanan yang panjang — bermula dari sebuah persekutuan kadipaten-kadipaten Jawa Timur yang disebut Brang Wetan, hingga pertempuran sengit melawan ekspansi Kesultanan Mataram di kawasan Malang Selatan pada awal abad ke-17.

Brang Wetan: Identitas Kawasan Timur Jawa

Brang Wetan — secara harfiah berarti ‘sebelah timur’ atau ‘kawasan timur’ dalam bahasa Jawa — adalah sebutan yang digunakan untuk merujuk pada seluruh wilayah Jawa bagian timur. Pada masa Mataram Islam, istilah ini resmi digunakan dalam konsep tata wilayah kerajaan, mencakup dua bagian utama: Pesisir Wetan (kawasan pesisir utara Jawa Timur) dan Mancanagara Wetan (wilayah pedalaman Jawa Timur).

Identitas Brang Wetan tidak lahir dalam satu malam. Ia merupakan buah dari proses peradaban panjang yang bermula dari pusat-pusat kekuasaan besar: Kerajaan Kanjuruhan di Malang pada abad ke-8, disusul Medang, Kahuripan, Daha-Janggala, Singasari, hingga Majapahit. Setiap kerajaan meninggalkan lapisan identitas yang membentuk watak masyarakat Jawa Timur — terbuka, dinamis, dan egaliter, berbeda dengan tradisi hirarkis Kejawen yang dominan di Jawa Tengah.

Pasca runtuhnya Majapahit pada awal abad ke-16, kawasan Brang Wetan tidak serta-merta menyatu di bawah satu kekuasaan baru. Sebaliknya, ia terpecah menjadi sejumlah kadipaten semi-otonom yang masing-masing mempertahankan kewenangan dan harga dirinya. Kadipaten Surabaya, Tuban, Lumajang, Pasuruan, Blitar, Ngrowo (Tulungagung), Caruban (Madiun), dan Kadipaten Malang — yang berpusat di wilayah Sengguruh — adalah simpul-simpul kekuasaan yang membentuk jaringan Brang Wetan ini.

Ketika Kesultanan Mataram di Jawa Tengah mulai menguat di bawah Panembahan Senopati (bertakhta sejak 1586), ambisi menyatukan seluruh Jawa pun terang-terangan dicanangkan. Kadipaten-kadipaten Brang Wetan yang selama ini mandiri pun mulai merasakan tekanan. Konfrontasi tidak lagi soal adat dan budaya semata, tetapi soal kedaulatan dan ketahanan hidup.

Kadipaten Sengguruh: Benteng Terakhir di Malang Selatan

Di antara kadipaten-kadipaten Brang Wetan, Kadipaten Malang — yang sering disebut Kadipaten Sengguruh — menempati posisi strategis yang luar biasa. Terletak di jalur tengah antara pesisir utara dan pegunungan selatan, ia adalah ‘pintu gerbang’ menuju jantung Jawa Timur. Siapa pun yang hendak menguasai Surabaya sebagai pusat Brang Wetan, harus lebih dulu menaklukkan Malang.

Pusat pemerintahan Kadipaten Malang diperkirakan berada di sekitar wilayah Pakisardjo — kini dikenal sebagai Kecamatan Pakisaji — yang terletak di antara aliran Sungai Brantas dan Metro, dengan Gunung Kawi di sisi baratnya.

Dua benteng utama menjaga kadipaten ini: satu di Gunung Buring (Kedung Kandang) di utara, dan satu lagi di Gunung Kendeng Malang Selatan — pegunungan kapur di Kecamatan Kalipare, yang tidak ada kaitannya dengan Pegunungan Kendeng di pesisir utara Jawa — tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Desa Jenggolo, di selatan. Keduanya berdiri di pertemuan tiga sungai yang disebut Sungai Supit Urang — sebuah posisi pertahanan yang sulit ditembus.

Pada masa yang dikisahkan, Kadipaten Malang berada di bawah kepemimpinan Adipati Ronggo Tohjiwo. Ia adalah pemimpin yang sadar akan ancaman ekspansi Mataram, namun juga mengerti bahwa kekuatan militer kadipatennya perlu diperkuat.

Ronggo Tohjiwo memiliki seorang putri bernama Dyah Ayu Proboretno — perempuan yang dalam berbagai sumber babad digambarkan tidak hanya cantik parasnya, tetapi juga merupakan pejuang andal yang mahir ilmu kanuragan, terlatih sejak kecil di padepokan lereng Gunung Kendeng Malang Selatan (pegunungan kapur di Kecamatan Kalipare, bukan Pegunungan Kendeng di pesisir utara Jawa yang membentang di Jawa Tengah hingga Bojonegoro).

Untuk mendapatkan seorang panglima perang yang sepadan dengan Proboretno sekaligus menguatkan persekutuan dengan kadipaten lain, Ronggo Tohjiwo menggelar sayembara.

Siapa pun yang mampu menandingi kesaktian Proboretno dalam adu tanding akan berhak menjadi suaminya. Dari ribuan ksatria yang datang, hanya satu yang berhasil: Raden Panji Pulangjiwo, seorang ksatria dari tanah Sumenep yang kemudian menjadi panglima perang utama Kadipaten Malang.

Sultan Agung dan Gelombang Ekspansi ke Brang Wetan

Tahun 1613 menjadi titik balik penting dalam sejarah Jawa. Sultan Agung Hanyakrakusuma naik takhta Mataram dan langsung mencanangkan visi besar: menyatukan seluruh Pulau Jawa di bawah satu panji. Visi ini bukan sekadar ambisi politik, tetapi juga bermakna ideologis — membangun imperium Islam Jawa yang tunggal dan berwibawa.

Strategi Sultan Agung bergerak sistematis dari barat ke timur. Wilayah-wilayah Brang Wetan ditaklukkan satu per satu. Caruban (Madiun) jatuh lebih dulu setelah perlawanan panjang sejak 1586. Ngrowo (Tulungagung) menyusul. Wirasaba ditaklukkan pada 1615 dengan Sultan Agung memimpin langsung. Satu per satu pintu menuju Surabaya terbuka — dan Malang adalah pintu terakhir yang paling tangguh.

Pada tahun 1613-1614, Sultan Agung mengirim senopatinya, Tumenggung Surontani, untuk menaklukkan kawasan Malang. Surontani mendirikan basis operasinya di kawasan Mentaraman — dua wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Jatiguwi dan Desa Ngebruk di Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Nama ‘Mentaraman’ sendiri kelak diabadikan sebagai ingatan bahwa di tempat itulah pasukan Mataram pernah bercokol dan bertempur.

Pertempuran Malang Selatan: Api yang Tak Padam

Konflik antara Pasukan Mataram dan kekuatan Brang Wetan di Malang Selatan tidak terjadi dalam satu pertempuran tunggal, tetapi merupakan serangkaian peristiwa yang saling terkait — diplomasi yang gagal, perang tanding, siasat licik, dan pengorbanan yang membekas dalam ingatan kolektif masyarakat.

Kisah perlawanan paling dramatis bermula dari tindakan Proboretno yang secara diam-diam membentuk laskar perempuan dari rekan-rekan seperguruannya di padepokan Gunung Kendeng Malang Selatan (Kecamatan Kalipare). Langkah ini dicurigai Tumenggung Surontani sebagai bentuk makar.

Surontani menegur Proboretno, namun Proboretno justru datang ke markas Mataram di Jatiguwi untuk mengklarifikasi. Yang terjadi kemudian adalah kesalahpahaman fatal: terjadi perang tanding antara keduanya. Proboretno terjebak di suatu tempat hingga tak dapat bergerak dan gugur di sana. Tempat gugurnya Proboretno itu kemudian dikenal sebagai Cengkeg, di kawasan Desa Sumberpucung.

Kabar gugurnya Proboretno membakar amarah Raden Panji Pulangjiwo. Perang besar pun meletus. Dalam pertempuran di Jatikerto (Bedali Kulon), pasukan Brang Wetan di bawah Panji Pulangjiwo berhasil memorak-porandakan barisan Mataram hingga banyak prajurit luka dan sebagian gugur.

Tumenggung Surontani berhasil melarikan diri menyusuri tepi Kali Aksa (kini Sungai Brantas), namun Panji Pulangjiwo terus mengejarnya. Pelarian Surontani akhirnya terhenti di sebuah tempat bernama Kedung Banteng — yang kini dikenal sebagai situs Watu Tumpuk, berada di kawasan Bendungan Sutami, Karangkates. Di situlah, pada tahun 1614, Tumenggung Surontani gugur di tangan Panji Pulangjiwo.

Sisa-sisa pasukan Mataram yang kocar-kacir berlari memasuki rimba dan bersembunyi. Tempat persinggahan darurat itu kelak diabadikan dengan nama Ngebruk — yang berasal dari kata ‘bruk-brukan’, menggambarkan bagaimana jasad para prajurit Mataram yang gugur bergelimpangan di tanah.

Mataram tidak menyerah. Senopati baru ditunjuk: Tumenggung Alap-alap, seorang ahli strategi dari Caruban. Alap-alap menempuh jalan yang berbeda — bukan kekerasan frontal, melainkan tipu daya halus. Ia mendekati Panji Pulangjiwo dengan tawaran gencatan senjata dan perundingan di Dusun Sanggrahan, dekat Desa Panggungrejo.

Secara rahasia, Alap-alap menyiapkan sebuah panggung pertunjukan dengan seorang wanita yang didandani menyerupai Proboretno — sosok yang sangat dirindukan Panji Pulangjiwo sejak kepergian istrinya.

Panji Pulangjiwo yang diliputi kesedihan mendalam terpancing mendekati panggung itu. Ketika ia melangkah naik, ia terperosok ke dalam sumur maut yang telah disiapkan di bawah panggung. Para prajurit khusus Mataram menyerbu dan Panji Pulangjiwo gugur di sana. Dengan gugurnya sang panglima, perlawanan bersenjata Kadipaten Malang terhadap Mataram pun akhirnya padam.

Warisan yang Tak Terputus

Kekalahan Brang Wetan di Malang Selatan tidak berarti padamnya semangat perlawanan. Peristiwa-peristiwa ini meninggalkan jejak toponimi yang hingga kini masih terbaca di peta Kabupaten Malang: Desa Mentaraman (menandai bekas markas pasukan Mataram), Pasar Ngebruk (mengenang tempat bergelimpangannya prajurit), kawasan Cengkeg di Sumberpucung, serta kawasan Kepanjen yang namanya dipercaya berasal dari kata ‘Kepanjian’ — pusat basis Panji Pulangjiwo.

Sejarawan lokal mencatat bahwa wilayah Sengguruh — yang kini meliputi Malang Selatan, sebagian Wlingi Blitar, dan Kesamben — adalah medan tempat beberapa babak terpenting dalam sejarah perlawanan Jawa Timur berlangsung. Bahkan nama ‘Malang’ sendiri dipercaya lahir dari kesan Sultan Agung bahwa masyarakat di kawasan ini selalu ‘malang’ atau menghalangi kehendak Mataram.

Semangat Brang Wetan tidak sepenuhnya padam meski secara politik Mataram berhasil mengintegrasikan Kadipaten Malang. Perlawanan terus berlanjut dalam berbagai bentuk — dari gejolak yang dipicu Trunojoyo, keberanian Untung Surapati yang menjadikan kawasan Malang sebagai pangkalan terakhirnya, hingga api perang Diponegoro yang menjalar ke pelosok Jawa Timur. Baru pada 1830, setelah Perang Diponegoro berakhir, seluruh Bang Wetan resmi berada di bawah kekuasaan penuh Pemerintah Hindia Belanda.

Kisah Brang Wetan dan pertempurannya di Malang Selatan adalah kisah tentang harga diri sebuah peradaban yang menolak dilipat begitu saja. Di balik babad dan legenda yang mengalir dari mulut ke mulut selama berabad-abad, terdapat fakta sejarah yang tak terbantahkan: bahwa masyarakat Jawa Timur pernah berdiri tegak, memilih pertempuran daripada tunduk tanpa syarat, dan mengabadikan perlawanan itu dalam nama-nama tempat yang masih kita ucapkan hingga hari ini. (*)

Sejarah dan Spiritualitas

Oleh Gde Mahesa

Dua kata di atas ibarat angka 11 dan 12, saling berkaitan juga mempengaruhi dalam wujud peradaban.

Masa sekarang banyak insan atau sebagian masyarakat, golongan, mengidamkan kembalinya jati diri suku bangsa dalam tatanan hidup lewat tradisi budaya. Namun kira-kira apakah akan mampu untuk mencapainya ?

Saya berpikir sungguh sangat sulit. Kenapa? Sebab kemurnian tradisi budaya kita telah terkontaminasi oleh paham, doktrin, aturan spiritual atau kepercayaan dari manca negara. Mohon maaf, jangan berburuk sangka lebih dulu, sebab segala hal dalam sejatinya jati diri secara tidak sadar telah terkikis sehingga membentuk peradaban hingga menjadi tatanan kehidupan.

Sejarah telah membuktikan, dan diakui bahwa kepercayaan Nusantara asli adalah Kapitayan, juga perjalanan bangsa Nusantara anggap saja dari Singosari, Medang, Majapahit, Mataram Islam dan NKRI jika mau jujur, Kerajaan-kerajaan tersebut hancur musnah dikarenakan dua hal, pertama tentunya kepentingan kekuasaan atau perebutan hak waris dalam dendam yang turun tumurun. Kedua tentunya kehancuran peradaban tsb karena spiritual atau kepercayaan. Mau tidak mau kita harus mengakui.

Leluhur memang harus kita junjung tinggi, namun tidak semua leluhur merupakan orang luhur. Kita bisa bayangkan bagaimana negeri ini bisa dikuasai atau dijajah dalam penguasaan phisik dan mental budaya sehingga menjadi susuatu yang tak dapat disadari.

Sebuah contoh perenungan menghilangkan hitungan tentang penanggalan yang sebenarnya Mataram atau tanah Jawa sudah mempunyai, lantas dikawinkan dan diubah menjadi penanggalan Islam oleh Sultan Agung pada era Mataram Islam.

Saya, semakin dalam dan menyelam maka semakin prihatin tentang sejatinya jati. Namun puji syukur, jiwa sukma ini dapat larut pada alam semesta sehingga tetap membuat senyum dari sang sejati sambil berucap : “Lucu-nya Engkau”. (*)

Jejak Freemason di Malang: Sebuah Pandangan dari Masa Kolonial Hindia Belanda

JAYAKARTA NEWS— Freemasonry, organisasi persaudaraan dengan akar di Eropa yang berasal dari abad pertengahan, memiliki jejak yang kaya di Malang, Indonesia, terutama selama era kolonial Hindia Belanda. Freemason pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada 1762 oleh Jacobus Cornelis Mattheus Radermacher, dan sejak saat itu, organisasi ini berkembang di seluruh jajahan, termasuk Malang.

Pendirian dan Pengembangan di Hindia Belanda

Freemasonry di Hindia Belanda menjadi tempat berkumpul bagi elit Eropa untuk berdiskusi tentang berbagai isu, seperti yang dicatat dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” oleh Dr. Th. Stevens. Pada 1922, Grand Orient of the Netherlands di Weltevreden (Batavia) mengendalikan 20 loji, termasuk beberapa di Jawa seperti Malang.

Freemason di Malang

Loji Freemason nomor 89 di Malang, didirikan pada 1901, menjadi pusat elite Eropa dan pribumi berpendidikan Barat. Gedung yang kini menjadi The Shalimar Boutique Hotel di Jalan Cerme No. 16, asalnya adalah Macconieke Lodge dari tahun 1930-an, menjadi bukti fisik kehadiran Freemason di kota ini. Freemason dikenal dengan semboyan “liberty, egality, dan fraternity” dan berperan dalam modernitas dan pencerahan.

Peninggalan Fisik dan Kontribusi Sosial

Beberapa bangunan bersejarah di Malang yang berhubungan dengan Freemason termasuk:

  • Lavalette Kliniek, sekarang IHC RS Lavalette, dikelola oleh Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette, anggota Freemason.
  • Gedung Macconieke Lodge, kini The Shalimar Boutique Hotel, menunjukkan arsitektur dan sejarah Masonic.
  • Perpustakaan Kota, Saat itu dikenal sebagai ‘Lodegebouw” pernah memiliki koleksi buku terlengkap di Hindia Belanda. sekarang telah berubah menjadi Malang Tea Gallery bernama Cafe POP (Piece of Peace) Mason 52.

Freemason juga aktif dalam filantropi, mendukung pendidikan dan amal, terutama untuk anak-anak dan masyarakat miskin.

Literatur Belanda dan Eropa

Literatur dari Belanda dan Eropa memberikan wawasan mendalam tentang Freemason di Indonesia. Buku-buku seperti “Vrijmet selarij: Geschiedenis, Maatschapelijke Beteekenis en Doel” oleh Dr. Dirk de Visser Smith, dan “Geschiedenis van de Orde der Vrijmetselaren In Nederland Onderhoorige Kolonien en Londen” oleh H. Maarschalk, membahas pengaruh dan operasi Freemasonry di Hindia Belanda, termasuk Malang.

Pengaruh dan Kontroversi

Meskipun Freemason memberikan kontribusi positif, mereka juga tidak luput dari kontroversi dan teori konspirasi, terutama karena sifat tertutup dan ritual mereka. Namun, banyak literatur menyoroti peran mereka dalam pembangunan intelektual dan sosial.

Sejarah Freemason di Malang adalah bagian dari cerita kolonialisme dan interaksi budaya di Indonesia. Meskipun tidak lagi aktif setelah larangan pada 1961, jejak mereka masih terlihat melalui bangunan-bangunan dan makam-makam yang berisi simbol Freemasonry. Makam di Sukun, misalnya, adalah saksi dari kehadiran Freemason di Malang, dengan tokoh-tokoh seperti Dr. P.A.A.F. Eyken dan Mr. Gerrit Christiaan Renardel de Lavalette dimakamkan di sana.

Jejak ini tidak hanya memberikan gambaran tentang masa lalu tetapi juga mencerminkan dinamika sosio-politik dan budaya pada zaman kolonial di Malang. (Heri)

Sejarah Peradaban Jawa Kuno: Dari Salakanegara hingga Mataram

JAYAKARTA NEWS – Pulau Jawa, yang dikenal sebagai pusat kebudayaan dan peradaban di Indonesia, memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak masa prasejarah.

Peradaban Jawa Kuno mencakup periode yang luas, mulai dari zaman kerajaan-kerajaan awal hingga era kerajaan besar seperti Mataram. Melaui tulisan ini kita akan menelusuri perjalanan sejarah peradaban Jawa Kuno, mengamati perkembangan politik, sosial, dan budaya yang terjadi selama berabad-abad.

Salakanegara: Awal Peradaban Jawa Kuno
Salakanegara dianggap sebagai kerajaan pertama di Jawa yang berdiri pada abad ke-2 Masehi. Kerajaan ini terletak di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Pandeglang, Banten.

Berdasarkan catatan sejarah, pendiri Salakanegara adalah Aki Tirem, yang kemudian digantikan oleh putranya, Dewawarman I. Kerajaan ini dikenal melalui catatan yang sangat terbatas, namun dianggap penting karena menjadi cikal bakal peradaban di wilayah Jawa Barat.

Tarumanagara (358–669 M)
Kerajaan Tarumanagara adalah salah satu kerajaan tertua di Jawa, berdiri pada abad ke-4 Masehi. Raja yang terkenal dari kerajaan ini adalah Purnawarman, yang memerintah pada awal abad ke-5.

Tarumanagara dikenal melalui berbagai prasasti yang ditemukan di Jawa Barat, seperti Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun, dan Prasasti Kebon Kopi. Prasasti ini mencatat berbagai kegiatan keagamaan dan proyek pembangunan infrastruktur, seperti penggalian kanal untuk irigasi, yang menunjukkan kemajuan dalam teknologi dan administrasi pada masa itu.

Kerajaan Sunda dan Galuh (669–1579 M)
Setelah runtuhnya Tarumanagara, muncul dua kerajaan besar di Jawa Barat, yaitu Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh. Kerajaan Sunda, yang berdiri di sekitar abad ke-7, memiliki ibu kota di Pakuan Pajajaran (sekarang Bogor). Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada abad ke-14 di bawah pemerintahan Sri Baduga Maharaja. Kerajaan Galuh, yang berpusat di Ciamis, sering disebut bersamaan dengan Kerajaan Sunda sebagai Kerajaan Sunda-Galuh, menunjukkan adanya persatuan dan kerja sama di antara kedua kerajaan ini.

Kerajaan Kalingga (6–7 M)
Kerajaan Kalingga, yang diperkirakan berdiri pada abad ke-6 hingga ke-7 Masehi, terletak di wilayah Jawa Tengah, tepatnya di sekitar Pekalongan dan Jepara. Raja yang terkenal dari Kalingga adalah Ratu Shima, yang dikenal dengan ketegasannya dalam menegakkan hukum. Kalingga merupakan salah satu kerajaan penting yang memperkenalkan pengaruh Hindu-Buddha di Jawa dan menjadi pusat pembelajaran agama serta kebudayaan.

Kerajaan Mataram Kuno (752–1045 M)
Kerajaan Mataram Kuno, atau dikenal juga sebagai Kerajaan Medang, adalah salah satu kerajaan terbesar dan paling berpengaruh di Jawa. Kerajaan ini didirikan oleh Sanjaya pada abad ke-8 dan mengalami dua dinasti utama, yaitu Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu dan Dinasti Syailendra yang beragama Buddha. Salah satu raja terkenal dari Dinasti Syailendra adalah Rakai Pikatan, yang menikah dengan Pramodawardhani dari Dinasti Syailendra, menyatukan kedua dinasti ini.

Candi Borobudur dan Prambanan
Pada masa Kerajaan Mataram Kuno, dibangun dua candi besar yang menjadi bukti kemegahan peradaban Jawa Kuno. Candi Borobudur, yang dibangun pada abad ke-9 oleh Dinasti Syailendra, adalah salah satu candi Buddha terbesar di dunia.

Candi ini terdiri dari sembilan tingkat dan memiliki ribuan panel relief yang menggambarkan ajaran Buddha. Di sisi lain, Candi Prambanan, yang dibangun pada abad ke-10 oleh Dinasti Sanjaya, adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, yang didedikasikan untuk Trimurti: Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Kerajaan Kediri (1042–1222 M)
Setelah runtuhnya Mataram Kuno, muncul Kerajaan Kediri di Jawa Timur, yang didirikan oleh Airlangga. Kerajaan ini dikenal sebagai pusat perdagangan dan kebudayaan. Pada masa pemerintahan Jayabaya, Kediri mencapai puncak kejayaannya. Jayabaya terkenal dengan ramalannya, yang menjadi pedoman bagi masyarakat Jawa hingga saat ini. Kerajaan Kediri juga dikenal melalui berbagai karya sastra, seperti Kakawin Bharatayuddha dan Kakawin Arjunawiwaha.

Kerajaan Singhasari (1222–1292 M)
Kerajaan Singhasari didirikan oleh Ken Arok pada abad ke-13 setelah berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri. Kerajaan ini mengalami masa kejayaan di bawah pemerintahan Kertanegara, yang bercita-cita menyatukan Nusantara di bawah kekuasaan Singhasari.

Kertanegara juga mengirimkan ekspedisi Pamalayu ke Sumatra untuk memperluas pengaruh kerajaan. Namun, masa kejayaan Singhasari berakhir ketika Jayakatwang, raja Kediri yang dihidupkan kembali, berhasil merebut kekuasaan.

Kerajaan Majapahit (1293–1527 M)
Setelah runtuhnya Singhasari, berdirilah Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya pada akhir abad ke-13. Majapahit dikenal sebagai kerajaan terbesar di Nusantara dan mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Hayam Wuruk dan patihnya, Gajah Mada.

Pada masa ini, Majapahit berhasil menyatukan wilayah Nusantara melalui Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Gajah Mada. Kejayaan Majapahit tercermin dalam karya sastra Nagarakretagama dan Pararaton, serta peninggalan arsitektur seperti Candi Penataran dan Candi Tikus.

Masa Kemunduran Majapahit dan Bangkitnya Kerajaan Islam
Setelah wafatnya Hayam Wuruk, Majapahit mulai mengalami kemunduran akibat konflik internal dan serangan dari luar. Pada abad ke-16, pengaruh Islam mulai menyebar di Jawa, yang ditandai dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam seperti Kesultanan Demak. Runtuhnya Majapahit pada tahun 1527 menandai berakhirnya era kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan awal dari era kerajaan Islam.

Kerajaan Mataram Islam (1587–1755 M)
Kerajaan Mataram Islam didirikan oleh Panembahan Senopati pada akhir abad ke-16 di wilayah Yogyakarta. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Sultan Agung, yang berhasil memperluas wilayah kekuasaan hingga hampir seluruh Jawa.

Sultan Agung juga dikenal sebagai raja yang menggabungkan kebudayaan Hindu-Buddha dengan Islam dalam pemerintahan dan kebudayaan Mataram. Kerajaan ini akhirnya terpecah menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kesunanan Surakarta pada tahun 1755 melalui Perjanjian Giyanti.

Sejarah peradaban Jawa Kuno menunjukkan kekayaan budaya dan kompleksitas politik yang berkembang selama berabad-abad. Dari kerajaan-kerajaan awal seperti Salakanegara dan Tarumanagara hingga kemegahan Majapahit dan Mataram, peradaban Jawa Kuno memberikan kontribusi besar dalam pembentukan identitas dan kebudayaan Jawa yang kita kenal hari ini. Melalui peninggalan arkeologis, prasasti, dan karya sastra, kita dapat memahami lebih dalam tentang perjalanan panjang sejarah yang membentuk peradaban Jawa Kuno. (Heri)

Jelajah Sejarah dari Sisa-sisa Kisah Kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Palembang

JAYAKARTA NEWS – Dibandingkan kota-kota lain, Palembang diyakini kota tertua di Indonesia dengan usia lebih dari 1.400 tahun.

Palembang merupakan bekas pusat kerajaan Sriwijaya yang sejak abad ke 9 sudah berkembang menjadi kota niaga.

Tidak lagi berdiri, tetapi sisa-sisa kerajaan Sriwijaya masih bisa ditemukan di pelosok Palembang.

1. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya tempat yang tepat untuk mempelajari secara lengkap sejarah kerajaan tersebut.

Di tempat yang dulu bernama Situs Karanganyar ini orang bisa melihat sejumlah artefak dan peninggalan Kerajaan Sriwijaya.

Di sini dibangun dua pulau buatan dan kolam lengkap dengan kanal sepanjang 3 kilometer yang terhubung ke Sungai Musi.

Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya beralamat di jalan Syakyakirti, Karang Anyar, Kecamatan Gandus, Palembang.

2. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
Sultan Mahmud Badaruddin II pahlawan asal Sumatra Selatan yang namanya diabadikan untuk nama museum.

Secara umum museum berisi sejarah Sumatra Selatan, tetapi ada juga pameran peninggalan kerajaan Sriwijaya.

Sejumlah artekfak dan arca Buddha disimpan di sini. Seperti patung Ganesha dan patung Sang Buddha.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II berada di jalan Sultan Mahmud Badaruddin 19 Ilir, Bukit Kecil, Palembang.

3. Museum Balaputera Dewa
Museum ini lebih dikenal juga dengan museum Balaputradewa, nama Raja Sriwijaya yang berkuasa di abad 9 Masehi.

Di museum ini tersimpan 3.882 barang, termasuk replika prasasti awal berdirinya Kerajaan Sriwijaya.

Antara lain prasasti Kedukan Bukit, Telaga Batu, Kota Kapur, Talang Tuo, dan Prasasti Siddhayatra.

Koleksi lain yang berhubungan dengan Kerajaan Sriwijaya adalah arca Buddha, arca Hindu, dan Fragmen.

Museum  Balaputera Dewa berlokasi di jalan Srijaya I no 28 Palembang.

4. Situs Candi Tingkap
Situs ini lokasinya agak jauh dari Palembang. Tepatnya di Desa Tingkap, Kecamatan Surulangun, Kabupaten Musi Rawas.

Tempatnya berada di kawasan dekat kebun karet.

Situs ini penting warisan Kerajaan Sriwijaya karena terdapat arca Buddha.

Arca berbentuk Sang Buddha yang berdiri di atas bungai teratai.

Posisi tangannya membentuk witarkamudra dan mengenakan jubah panjang.

Di situs ini juga ditemukan sisa-sisa bangunan yang terbuat dari bata merah.***/mel

Gitarja Sang Sri Tribhuwana: Serpihan Sejarah Nusantara

JAYAKARTA NEWS— Setelah pentas di Museum Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, kini Opera Majapahit ‘Gitarja’ menyapa khalayak seni di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Jakarta, Kamis (7/12/2023).\

Sewaktu gladi bersih di GKJ sehari sebelumnya, gelaran berdurasi 1, 5 jam ini berhasil memikat jurnalis.

“Saya tegaskan. Ini berkisah tentang Nusantara abad XIII. Ini enggak hanya menyangkut daerah dan etnis tertentu saja,” lontar Mia Johannes alias Mhyajo selaku sutradara, penulis dan penata artistik.

Pentas ini sekuel kedua. Dalam ‘Gayatri’ kisah pertamanya berbentuk trilogi namun setiap cerita berdiri sendiri-sendiri.

“Ada pertalian benang merah pada tajuk ‘Opera Majapahit’ yang berformat film, teater dan musik ini,” jelasnya.

Karya seni memang tidak baku. “Biar mengalir seperti air. Mungkin di tahun mendatang berupa instalasi kolase adegan dengan beberapa pelakon saja dan enggak di atas stage. Kita dinamis dan siap berubah,” tutur Mhyajo yang menguraikan ihwal Gitarja kali ini berformat opera sepenuhnya.

Gelaran ‘Gitarja’ di GKJ, Jakarta (foto Ibonk)

Pendukung utama dari Opera ini Kemendikbud Ristek yang juga menggandeng Nino Prabowo (narator), Franky Raden (penata musik dan Indonesian National Orchestra), Satya Cipta dan Betho (pesinden) plus 12 pelakon. Dibantu juga oleh Iwan Hutapea (penata cahaya) dan Kleting Titis Wicanti (penata kostum).

Berkisah tentang kekayaan dan kesakralan karakter wanita Nusantara. Sang Sri Tribhuwana adalah ibu Hayam Wuruk dan jembatan sejarah Nusantara yaitu Singhasari, Medang (Mataram kuno) yang bertumpu pada keturunan Rajasa.

Kenapa Anda mementaskan lakon kuno seperti Gitarja?

“Ini cerita serpihan sejarah Nusantara. Saya sengaja menggulirkan ke generasi penerus dan enggak melalui jalur pendidikan formal. Melalui jalur seni film, teater dan musik ini saya pikir lebih pas dan menghunjam,” timpal Mhyajo.

Bagi dirinya mementaskan gelaran ini seperti merawat (ibu) bhumi yang memberikan nafas kehidupan. (pik)

Separator Radjaballi, Pengaburan Sejarah di Masa Kini

Oleh : Restu Respati* 

MALANG, JAYAKARTA NEWS— Perempatan Radjaballi kini tampak berbeda. Di Zona 2 Kawasan Heritage Kajoetangan Kota Malang tersebut kini dibangun separator jalan permanen. Di tengah separator nantinya ada sebuah taman.

Separator jalan adalah pemisah jalur yang merupakan bagian dari jalan. Merupakan bangunan beton yang ditinggikan. Bentuk dari separator adalah memanjang sejajar dengan jalan. Jika dilihat fungsi dan bentuknya, separator termasuk ke dalam jenis marka jalan. Separator jalan dimaksudkan untuk meningkatkan keselamatan, kelancaran, dan kenyamanan pengguna jalan maupun lingkungan jalan.

Namun, pembangunan separator jalan ini berada di zona Kawasan Heritage Kajoetangan. Yang seharusnya menjaga keasliannya, baik gedung maupun tata ruang di luar gedung. Kawasan adalah daerah yang memiliki ciri khas tertentu atau berdasarkan pengelompokan fungsional kegiatan tertentu. Heritage adalah warisan, peninggalan, pusaka.

Heritage dalam kamus Oxford ditulis sebagai sejarah, tradisi, dan kualitas yang dimiliki sebuah negara atau masyarakat selama bertahun-tahun dan dianggap sebagai bagian penting dari karakter mereka.

Kawasan Heritage Kajoetangan selain sudah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Malang, juga merupakan kawasan yang dibanggakan oleh masyarakat Kota Malang. Sejarah Kajoetangan baik berupa gedung maupun lanskapnya tidak bisa dipisahkan dengan sejarah lahirnya Kota Malang.

Hal ini bisa dilihat pada Rencana Pengembangan Kota Malang (Bouwplan Kota Malang). Meskipun gedung dan lanskapnya tinggalan dari kolonial, namun berdasarkan Piagam Pelestarian Pusaka Indonesia yang dideklarasikan pada tahun 2003, Warisan Budaya ini termasuk dalam Pusaka Budaya Indonesia dalam interaksinya dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaannya.

Foto: Restu Respati

Sejak Kajoetangan ditetapkan sebagai Kawasan Heritage, banyak perubahan yang terjadi di kawasan ini. Pernak pernik baru ditambahkan dan sama sekali tidak terkait dengan kesejarahan Kajoetangan. Mulai dari hamparan batu andesit di tiga titik zona, lampu hias bernuansa Yogyakarta, sampai Monumen Lokomotif Lori.

Setelah Zona 3 ditancapi Monumen Lokomotif Lori yang menghalangi Monumen Chairil Anwar, kini Zona 1 di depan pertigaan Gedung PLN dan Zona 2 di perempatan Radjaballi dibangun separator jalan permanen.

Khusus Zona 2 di perempatan Radjaballi, jika ditelusuri dari foto dan dokumen pada era kolonial Belanda, zona ini tanpa separator jalan. Jadi dengan dibangunannya separator jalan permanen di perempatan ini dapat mengakibatkan pengaburan kesejarahan lanskap Kajoetangan.

Apalagi jika nanti bentuk bangunan separator dan taman di tengahnya tidak selanggam dengan bentuk arsitektur gedung yang sudah ada. Semoga saja tidak. 

Karena sudah terlanjur dibangun, sebaiknya Pemerintah Kota Malang benar-benar memperhatikan bentuk separator jalan agar tidak kehilangan nuansa heritage-nya. Apalagi kedua ‘Gedung Kembar Radjaballi’ saat ini sudah tidak kembar lagi karena salah satunya sudah mengalami renovasi perubahan bentuk. 

*Restu Respati, Pemerhati Sejarah dan Cagar Budaya Kota Malang

Radio ARH, dari Radio Amatir sampai Global Radio

JAYAKARTA NEWS— Tahun 1966 – 1968 pasca Orde Lama, bermunculan radio amatir seperti cendawan tumbuh di musim hujan. Sebagian besar milik perorangan namun banyak pula yang dikelola oleh aktivis mahasiswa Angkatan 66. Fantastis!

Ada sekitar 700an radio amatir yang muncul ke udara menikmati eforia kebebasan ekspresi perjuangan mahasiswa dan berita-berita yang up to date.

Surat kabar dan majalah tak lagi dianggap ngetren saat itu. Surat kabar dengan sistem cetak tindih kala itu hanya ada Berita Yudha, Angkatan Bersenjata, Kompas, Sinar Harapan, Duta Masyarakat dan Mercu Suar yang berita-beritanya pro Orde Baru plus media yang baru terbit El Bahar yang berada di posisi berseberangan.

Masyarakat perlu komentar dan penyebaran informasi secara cepat.

Karena siaran radio amatir dianggap telah mengganggu frekuensi khusus instansi milik pemerintah (telekomunikasi, penerbangan, perkapalan) maka perlu dilakukan penataan dan penertiban.

Gubernur Ali Sadikin sedang menerima plakat Radio ARH dari Penanggung Jawab Radio ARH , Zainal Abidin Suryokusumo. (Foto : koleksi ARH)

Ali Sadikin selaku Gubernur Kepala Daerah Chusus (masih ejaan lama) Ibukota Jakarta dan Kementerian Perhubungan plus instansi Komunikasi menerbitkan sejumlah peraturan. Yaitu harus punya izin frekuensi, penanggung jawab, struktur organisasi, pembagian ruangan untuk siaran, pemancar dan diskotik dan lahan yang menata untuk bagian antena pemancar (tower).
Radio-radio amatir disarankan bergabung (merger) menjadi satu radio dengan satu paket izin siaran.

Maka, 7 dari 8 radio amatir menjadi Radio Arief Rachman Hakim (ARH). Embrio Radio ARH adalah aktivis mahasiswa Angkatan 66, Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) dan Laskar Ampera Arief Rachman Hakim. Arief Rachman Hakim adalah mahasiswa UI tingkat 6 yang tertembak di depan Istana.

Sementara ada beberapa radio amatir milik perorangan yang mengantongi surat izin siaran, antara lain Radio Draba, Cakrawala, Ramako, El Shinta dll.

Zaman berganti, radio amatir ini kemudian menjadio radio komersial dan disebut Radio Siaran Swasta Niaga (terakhir kata Niaga berubah menjadi Nasional).

Di era Ali Sadikin itulah, Radio ARH mendapat bangunan di Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai bentuk penghargaan untuk Laskar Ampera dan setiap penyiar Radio wajib ikut program pendidikan siaran Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI).

Zulkifli Ibrahim dalam tulisannya berjudul ‘Radio ARH, Riwayatmu Dulu’ menyarankan agar Penanggung Jawab Radio ARH, Zainal Abidin Suryokusumo (1937-2007) diberi penghargaan sebagai Pejuang Penyiaran Radio. Kala hidupnya, Zainal Abidin Suryokusumo dikenal sebagai Bang Daktur.

Kini, Radio ARH ganti pemilik. Sejak 2005, formatnya berubah menjadi Global Radio di bawah naungan MNC Media Group.

Bekas bangunan Radio ARH kini difungsikan menjadi Sekretariat Ikatan Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (IKBLAARH).

Salah seorang penyiar Radio ARH dan aktif di Bengkel Belia Radio ARH, Wina Armada Sukardi bahkan menulis bahwa ikon cagar budaya radio ARH kini dibuang tanpa sisa, sementara gedung TIM eksis berdiri megah.

Bengkel Belia ARH yang dulu aktif menghelat sandiwara radio dan teater serta menghimpun generasi muda ‘kelas menengah bawah’ kini banyak yang sukses menjadi pengusaha, seniman dan anggota DPRD dan lain-lain. (pik)

Ada 13 Museum Daerah di Festival Museum Negeri Sumut 2023

MEDAN, JAYAKARTA NEWS – Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sumatera Utara menggelar Festival Museum Sumatera Utara dari 2 hingga 5 Maret 2023. Tercatat, 13 museum yang berasal dari Kabupaten/Kota ikut berpartisipasi.

Selain pameran benda sejarah dari 13 museum di Sumatera Utara, acara ini juga menghadirkan sejumlah kegiatan perlombaan, ada juga yang menonjolkan kearifan lokal yang dimiliki Sumut seperti aksara Batak, kemudian perlombaan melukis, lomba baca puisi, lomba permainan tradisional, dan lomba Treasure Museum tingkat SMP dan SMA.

Adapun ke 13 museum yang ikut hadir meriahkan kegiatan festival museum itu, antara lain Meseum Negeri Sumut, Meseum Perkebunan, Rahmat International Wildlife Museum & Gallery, Museum Pusaka Karo, Meseum Daerah Kabupaten Langkat. 

Kemudian Trans Museum, Museum Perjuangan TNI, Museum Daerah Deliserdang, Museum GPKP, Kebudayaan Serdang Bedagai, Pahlawan Nasional, Letjen Jamin Ginting, Meseum Tebing Tinggi dan Meseum Batubara.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara, Zumri Sulthony, M.Si, CHE, Kamis (2/3) di Museum Negeri Sumatera Utara, pada kata sambutannya.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sumatera Utara, Zumri Sulthony, M.Si, CHE saat menyampaikan kegiatan di acara Festival Museum Sumut. (Foto. Monang Sitohang)

Menurut Zumri, tujuan dilaksanakannya kegiatan ini adalah agar museum-museum yang ada di seluruh Sumut mendekatkan diri kepada masyarakat serta dapat mengkomunikasikan koleksi-koleksinya secara luas.

“Festival Museum ini merupakan sebuah kegiatan yang memiliki beberapa agenda, di antarnya sejumlah perlombaan mulai dari tingkat SMP hingga SMA dan acara puncaknya adalah pameran bersama yang diikuti oleh 13 museum yang ada di Sumut,”ujar Zumri.

Setelah itu, pembawa acara melanjutkan dengan pantunnya, Kayu Jati, Kayu Cendana ditiup angin kayunya patah, Festival Museum ini begitu bermakna edukasi siswa dalam sejarah, kemudian mempersilahkan  Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu), H. Musa Rajekshah memberikan sambutan sekaligus membuka acara Festival Museum Sumatera Utara.

Sementara itu, Wagubsu, H. Musa Rajekshah menyampaikan agar keberadaan puluhan museum yang ada di Sumut bukan hanya menjadi pusat edukasi, melainkan juga menjadi magnet bagi wisatawan mancanegara untuk datang ke daerah. 

“Festival ini sangat baik untuk memperkenalkan museum-museum yang ada di Sumut. Ini masih 13 museum. Di Sumut tadi katanya ada lebih dari 80 museum. Ini kita harapkan ke depan banyak lagi yang berkontribusi ikut acara ini,” ujar pria yang akrab disapa Ijeck.

Dan Ia berharap masyarakat yang ada di Medan maupun daerah lainnya di Sumut dapat memanfaatkan museum-museum yang ada sebaik-baiknya.

“Karena kalau orang datang dari luar negeri pasti dia ke museum. Dari museum itu ia bisa melihat kebudayaan yang ada di daerah itu. Sama halnya sewaktu saya ke Inggris. Isi museumnya lengkap. Bukan hanya dari daerahnya melainkan apa yang ada di dunia ada di museum itu,” kata Ijeck.

Untuk itu, kata Ijeck, tak ada salahnya dibuat di museum ini tempat pengunjung untuk nongkrong di kafe.

“Kita juga sudah buat bagaimana mengunjungi museum dengan cara virtual, kemudian memang konsep museum atau apapun itu tidak hanya sebatas orang datang lalu melihat tetapi kita buat tempat mereka nongkrong, cafe dan lainnya, kita juga mesti membuat acara seperti ini agar masyarakat datang dan lebih dikenal, dan yang paling terpenting adalah promosi,” jelas Ijeck (Monang Sitohang)

Belajar dari Flu Spanyol 1918, Perubahan Perilaku Jadi Kunci Penanganan Pandemi

JAYAKARTA NEWS— Sejarawan Universitas Indonesia Dr Tri Wahyuning M Irsyam, MSi mengingatkan bahwa pandemi Covid-19 yang sedang melanda Indonesia dan sebagian besar negara di dunia tak jauh berbeda dengan Flu Spanyol pada 1918 silam.

Pemerintah Hindia Belanda atau Indonesia pada saat itu juga memberikan imbauan kepada masyarakat agar patuh terhadap protokol kesehatan, seperti memakai masker, tinggal di rumah dan menjaga kebersihan, layaknya apa yang dianjurkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk penanganan pandemi Covid-19 saat ini.

Dalam menyampaikan imbauan itu, Pemerintah Hindia Belanda melakukannya melalui berbagai upaya seperti melalui kampanye mobil kesehatan. Menurut Tri, hal tersebut lebih efektif dilakukan mengingat masih banyak keterbatasan pada saat itu.

“Secara rutin  berkeliling kota dan dia seolah-olah mengingatkan bahwa ini adalah penyakit yang sifatnya mematikan. Jadi lebih baik kalau tidak perlu tinggal di rumah, tetap memakai masker. Jagalah kebersihan. Itu yang disampaikan terus dan terus dan terus,” jelas Tri di Media Center Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Jakarta, Sabtu (1/8). Demikian dikutip dari laman bnpb.go.id

Selain melalui kampanye tersebut, Pemerintah Hindia Belanda juga menerbitkan buku literasi berjudul “Lelara Influenza” (Penyakit Influenza), yang kemudian dialihbahasakan ke dalam cerita pewayangan oleh campur tangan dalang.

Sejarawan Universitas Indonesia Dr. Tri Wahyuning M. Irsyam, MSi, Sejarawan Publik Kresno Brahmantyo dan Host: Mochamad Achir – Presenter Televisi (Instagram bnpb_indonesia)

Sejarawan Publik Kresno Brahmantyo mengatakan, buku “Lelara Influenza” cukup populer, meski pada saat itu masyarakat belum banyak yang dapat membaca.

“Ada data yang menunjukkan bahwa tingkat peminjaman buku itu pada tahun 20 sampai 23 itu cukup signifikan. Tinggi, 3.000,” ujarnya.

Dalam buku terbitan Balai Pustaka tersebut dijelaskan tentang bagaimana influenza menurut gejala dan penanganannya. Beberapa kalimatnya juga menekankan tentang imbauan agar manusia tidak bertindak ceroboh.

“Berhati-hatilah jangan sampai bertindak ceroboh yang bisa mengakibatkan munculnya debu. Orang yang terkena panas dan batuk tidak boleh keluar rumah. Harus tidur atau istirahat saja. Badannya diselimuti sampai rapat, kepalanya dikompres, tidak boleh mandi,” jelas Kresno.

Dalam hal ini, pemahanan serta literasi masyarakat akan bahaya pandemi sangat penting dan diutamakan. Sebab, hal itu akan mempengaruhi adanya perubahan perilaku masyarakat sehingga upaya penanganan akan lebih mudah dilakukan.

Beda Pandang Antara Pemerintah dan Masyarakat

Kendati penyampaian imbauan kesehatan dan penanganan pandemi Flu Spanyol 1918 sudah dilakukan, namun hal itu tidak menutup adanya perbedaan persepsi antara pemerintah dengan masyarakat.

Tri menyampaikan bahwa rata-rata masyarakat pada saat itu berkeyakinan bahwa wabah yang melanda berasal dari alam, kendati pemerintah berusaha meyakinkan bahwa hal itu berasal dari adanya transmisi dari pendatang.

“Mereka masyarakat melihat, bahwa sumber penyakit ini adalah dari alam. Dari debu, dari angin, dan sebagainya. Sementara pemerintah melihatnya, pihak pemerintah Belanda, adalah dari luar. Pendatang yang datang ke Indonesia itu membawa, atau carrier,” ungkap Tri.

Adanya perbedaan pendapat yang membuat penanganan penyakit justru menjadi lambat tersebut kemudian juga memantik kepedulian para tokoh nasional yang akhirnya bergerak untuk perubahan, salah satunya adalah dr. Cipto Mangunkusumo dengan para siswa STOVIA dan munculnya mantri-mantri kesehatan.

Melalui gerakannya, imbauan penerapan protokol kesehatan digalakkan. Selain itu, tercetuslah beberapa upaya lainnya seperti pemanfaatan ramuan jamu tradisional untuk penanganan penyakit. Kemudian pelabuhan sebagai pintu masuk Hindia Belanda harus ditutup sementara dan dibatasi pergerakannya.

Beberapa rumah penyintas diberi tanda bendera kuning, dengan tujuan untuk mencegah adanya masyarakat yang datang dan berpotensi tertular dan beberapa langkah lain yang juga menimbulkan pro dan kontra.

Apabila kembali melihat pada literasi sejarah Flu Spanyol 1918, Tri mengatakan bahwa masyarakat dan Pemerintah Hindia Belanda atau Indonesia pada saat itu memang belum benar-benar siap.

Segala informasi mengenai pandemi yang masuk ke Hindia Belanda pada saat itu sempat tidak terlalu dihiraukan bahkan sampai akhirnya memicu perbedaan pendapat antara pemerintah dengan masyarakatnya.

Satu pelajaran penting yang kemudian dapat dipetik dari pandemi seabad silam menurut Tri adalah bahwa belajar dari literasi masa lalu menjadi penting untuk menangani masalah yang tidak jauh beda di masa sekarang maupun di kemudian hari. Dalam hal ini, penyamaan persepsi dan pemahaman menjadi kunci bagaimana pandemi dapat lebih mudah ditangani.

“Masalah lalu itu bukan hanya untuk masa lalu, tapi juga untuk masa sekarang dan masa yang akan datang. Jadi marilah kita melangkah dengan kearifan masa lalu,” kata Tri.

Sejalan dengan Tri, Kresno Brahmantyo juga menganggap bahwa catatan atau rekaman kelam mengenai ‘pageblug’ hendaknya dapat dijadikan sebagai pembelajaran, baik untuk masa sekarang maupun yang akan datang. Sebab menurut Tri, setiap peristiwa atau bencana dapat berulang dan tentunya dibutuhkan solusi penanganan yang sama untuk ke depannya.

“Mulailah kita mulai membuat rekaman (catatan). Supaya nanti ketika 10 atau 20 tahun yang akan datang kita punya data untuk menghadapi ini semua. Karena ini berulang, dan kelihatannya solusinya sama juga,” pungkas Kresno. ***/ebn