Kontroversi Asal Usul Kota Medan

JAYAKARTA NEWS— Demi menolak jejak historis yang berbau kolonial Belanda, Pemerintahan Kota Medan pun meninjau ulang hari jadi Kota Medan. Padahal, sebelum 1975, dirgahayu Kota Medan diperingati setiap 1 April karena di tanggal itulah kota Medan ditetapkan sebagai Geementeraad (Dewan Kota) oleh pemerintah Hindia Belanda pada 1590.

Alasan mengingkari peran Belanda, maka pemerintah membentuk panitia perumus Hari Jadi Kota Medan. Panitia tersebut terdiri dari kaum cendekia, pemerhati sejarah, sejarawan, pemangku adat serta tokoh masyarakat yang dianggap kompeten merumuskan hari jadi Kota Medan. Didaulatlah Prof. Mahadi, SH sebagai ketua dengan sekretarisnya, Syahruddin Siwan. Anggotanya terdiri dari Letkol Nas Sebayang (Ketua DPRD Medan), Mariam Darus, Lukman Sinar, M. Abduh, M. Solly Lubis, Miharza, Moh. Said, Dada Meuraxa dan Nasir Tim Sutannaga.

Panitia kemudian menggelar seminar selama tiga hari yakni pada 27-29 Maret 1971 terkait pengumpulan bahan-bahan atau sumber-sumber informasi yang dapat mendukung penelitian mereka. Seminar tersebut begitu alot karena memicu perdebatan panjang. Sejumlah pakar hukum, ahli fikih Islam dan kaum Sufi yang menguasai Tasawuf menentang adanya kebenaran pada legenda-legenda rakyat.

Tentangan itu muncul karena panitia bersepakat menelaah teks tradisional bertajuk: Riwayat Hamparan Perak (RPH), sebagai bahan untuk mencari hari jadi Kota Medan. Padahal naskah RPH itu jelas-jelas anonim, tidak diketahui siapa penulisnya dan kebenarannya masih perlu dikaji secara mendalam.

Naskah RPH ini lebih mengarah kepada silsilah keturunan datuk-datuk atau wajir dua belas kuta (datuk-datuk Hamparan Perak). Di dalam naskah RPH ini diterangkan bahwa riwayat turunan ditulis dalam bahasa dan huruf Batak Karo di atas kulit alim (kayu). Kemudian pada 1857 Masehi, riwayat itu dialihbahasakan ke dalam aksara dan bahasa Melayu.

Selanjutnya dialihbahasakan ke dalam bahasa latin pada 29 Desember 1916. Naskah dalam aksara latin ini disimpan eh Datuk Syaiful bin Datuk Hafiz Haberham yang menjabat sebagai Datuk dua belas kuta (Kepala Urung Hamparan Perak).

Panitia menelaah naskah RPH teks latin yang mereka salin dari dokumen simpanan Datuk Syaiful. Mereka juga menginterviu Syaiful di rumahnya pada 7 Juli 1971. Naskah itulah yang dijadikan rujukan utama untuk merumuskan Hari Jadi Kota Medan.

Nah hasil rumusan pada seminar tiga hari itulah, panitia menulis laporan panjang yang juga berisi rekomendasi pada 12 Agustus 1972. Rekomendasi itu kemudian diserahkan kepada Walikota Madya Medan saat itu, Kolonel M. Saleh Arifin. Oleh Walikota, laporan dan rekomendasi itu diserahkan ke DPRD Medan untuk dikaji lagi.

Hasilnya, pada 10 Januari 1973, DPRD Medan memutuskan agar panitia menyempurnakan hasil penelitian mereka. Empat hari kemudian, Walikota Medan meneruskannya dengan membuat surat edaran yang isinya memberi kesempatan kepada panitia untuk menyelesaikan penyempurnaan penelitian tersebut.

Panitia kemudian memperkaya sumber kajian. Selain RPH, panitia kemudian meneliti sejumlah sumber lain berupa buku adat rechtsbundels nomor XXXVIII, buku Simalungun oleh J. Tiderman, buku Batakspigel karangan M. Jaustra, Sejarah Kebudayaan Batak oleh N. Siahaan, buku 50 Tahun Kotapraja Medan, buku Perang Batak yang ditulis O.L. Napitupulu, koran SIB edisi 16 Desember 1972 oleh Drs H Simanjuntak, Sejarah Kebudayaan Suku-suku di Sumut oleh Dada Meuraxa, Pustaha Pulu Linang, Catatan tentang Wari-wari Karo, Keterangan ahli guru P. Batu, keterangan dari keturunan datuk-datuk Hamparan Perak dan keterangan dari pengetua-pengetua adat Karo serta amatan terhadap makam-makam tua dan situs-situs sejarah di Medan.

Atas hasil penelitian itu, panitia berkesimpulan, hari jadi Kota Medan dalam bentuk perkampungan pada 1 Juli 1590, sebagaimana direkomendasikan lada laporan 12 Agustus 1972. Landasannya, didirikannya si sepuluh dua kuta di areal Medan (perkampungan yang dibangun Guru Patimpus). Keputusan itu ditetapkan dan mulai berlaku sejak 15 Maret 1975 oleh DPRD Medan dan Panitia Khusus Hari Jadi Kota Medan. Panitia khusus ini diketuai MA Harahap, sekretaris S Situmorang dan anggotanya: SE Sormin, Badar Kamil, Djanius Djamin dan Mas Sutarjo.

Kendati demikian, penetapan dan pemberlakuan hari jadi Kota Medan ini menuai kontroversi. Tak kurang dari  Sejarawan Universitas Negeri Medan Dr Ichwan Azhari yang mengeritiknya dengan keras.

Lewat buku berjudul “Asal Usul Kota Medan dalam Riwayat Hamparan Perak” Ichwan menulis bahwa penggunaan RPH sebagai bahan utama mencari jejak histori Kota Medan sungguh bermasalah. Dan motif mengganti hari jadi Kota Medan asal bukan berbau kolonial juga terkesan dangkal dan hal itu secara tidak langsung telah menciderai RPH sebagai sebuah karya sastra.

Di sisi lain, memakai RPH sebagai rujukan, serta merta telah mendiskreditkan dan mendistorsi kebesaran Guru Patimpus sebagai ulama Islam yang kharismatik oleh tafsir panitia hari jadi Kota Medan.

Ichwan menulis bahwa panitia mendaulat Guru Patimpus sebagai pendiri sebuah kota yang sesungguhnya tidak dia lakukan. “Sebenarnya hari jadi Kota Medan bisa direvisi dengan terlebih dahulu menelitinya secara mendalam dan kajian tidak didasarkan pada sebuah wacana teks sastra,” tulis Kepala Pusat Studi Sejarah dan Ilmu Sosial (PUSSIS) Universitas Negeri Medan itu.

Menurut Ichwan, jikapun kita menolak 1 April sebagai dirgahayu Kota Medan dengan dalih buatan Belanda, sesungguhnya masih ada tanggal yang lebih layak. Ichwan merekomendasikan, tanggal pindahnya Ibukota Asisten Residen Deli dari Labuhan ke Medan (1879), atau hari perpindahan Ibukota Residen Sumatera Timur dari Bengkalis ke Medan pada 1 Maret 1887.

Bisa juga pindahnya Istana Kesultanan Deli dari Labuhan ke Medan pada 18 Mei 1891. Memakai RPH sebagai rujukan dengan dasar hari Jadi Kota Medan ditandai berdirinya sebuah perkampungan, dinilai kurang tepat. “Kampung tidak mungkin berevolusi menjadi sebuah kota tanpa faktor-faktor luar yang mendukungnya,” pungkas Ichwan Azari. ***sumber: indonesia.go.id/ebn

Ratu Kalinyamat, Bangkitkan Kembali Politik Maritim Nusantara

JAYAKARTA NEWS— Mitologi Mataram yang selalu mendongengkan perkawinan antara penguasa darat (Sultan) dengan penguasa laut (Ratu Kidul) sebenarnya adalah simbol untuk membangkitkan kembali kejayaan kerajaan maritim penguasa lautan.

Entah mengapa Jepara mempunyai jejak sangat kuat dalam sejarah Nusantara. Uniknya jejak itu melibatkan sosok perempuan. Sebut saja di masa Hindu-Buddha ada nama Ratu Sima. Di masa transisi Majapahit ke Demak ada Ratu Kalinyamat dan di masa kolonial ada nama Raden Ajeng Kartini.

Dari tiga nama besar di atas barangkali hanya Ratu Sima yang paling sulit untuk meneliti rekam sejarahnya. Zaman dia hidup di pertengahan milenium pertama adalah tantangan bagi peneliti sejarah. Minimnya catatan tertulis, kabar atau kesaksian yang terekam dari sejarah lisan, hingga sulitnya mendapatkan sisa-sisa artefak yang bisa bertahan hingga sekarang adalah kesulitan paling besar untuk mengembangkan studi tentang sosok perempuan yang lebih mirip tokoh dongeng ini.

Sosok Kartini barangkali adalah sosok yang bisa disebut dalam istilah sejarawan dunia Montgomery Watt sebagai orang yang berada di dalam “terangnya cahaya sejarah”. Lahir di akhir abad 19, hampir semua catatan yang diperlukan untuk mengembangkan penelitian sejarah tentang perempuan yang menjadi inspirasi bangsa Indonesia ini bisa didapatkan. Yang perlu dilakukan hanya pengembangan berbagai sisi kehidupannya yang belum terungkap.

Yang tersisa adalah Ratu Kalinyamat. Sosok perempuan tangguh dari Jepara ini cukup banyak terekam dalam naskah-naskah tradisional maupun catatan-catatan penjelajah dunia yang singgah di pesisir Nusantara. Hanya saja pengembangan lebih jauh tentang karakternya yang “mendunia” dengan jejak kepemimpinan politik yang kuat masih jarang.

Ratu Penguasa Seluruh Lautan

Theodoor Pigeaud, ahli naskah Jawa dari Belanda punya dugaan kuat kalau akar mitologi orang Jawa tentang “ratu penguasa lautan” berasal dari tradisi di pesisir utara Jawa. Dalam buku “Kerajaan Islam Pertama di Jawa” (1985) yang ditulis bersama rekannya de Graaf, dia menduga bahwa orang-orang Jepara punya tradisi kuat untuk melestarikan peradaban lamanya.

Salah satu buktinya adalah inskripsi yang ditemukan di pemakaman tua Mantingan atau Pamantingan yang terletak di sebelah selatan Jepara. Inskripsi itu berupa candra sengkala atau penanggalan bersandi yang menyatakan tahun pendiriannya. Tulisan itu berbunyi “rupa-brahmanawarna-sari” yang artinya tahun 1481 Jawa atau 1559 Masehi.

Pencatatan sejarah dengan menggunakan tahun Saka Jawa telah banyak diketahui para peneliti sebagai ciri khas peradaban Jawa sebelum Islam. Pamantingan yang diceritakan sebagai tempat Sunan Kalijaga membuat tiang tatal yang digunakan di Masjid Demak mempunyai kedekatan paralel dengan nama dewi Manting yang merupakan nama dewi padi di Bali.

Pigeaud menulis bahwa dewi menurut kepercayaan lama itu telah mengejawantah baik sebagai dewi tetumbuhan dan dewi kesuburan maupun sebagai Nyai Lara Kidul.

Mengapa legenda Nyai Lara Kidul yang paralel dengan sejarah kebesaran kepemimpinan politik Ratu Kalinyamat sebagai penguasa lautan malah berkembang dari pesisir utara? Bukankah utara dalam bahasa Jawa disebut Lor, sedangkan Kidul artinya Selatan?

Ini berkait dengan kosmologi Jawa kuno. Sederhana saja, dalam pemahaman orang Jawa sebelum adanya kompas, untuk menentukan arah angin gunung adalah patokan utamanya. Gunung yang tinggi dalam bahasa Jawa kuno disebut Lor alias Luhur atau yang tinggi tempat dewa bersemayam.

Sedangkan laut dalam kosmologi kuno yang sudah dilupakan selalu dinamakan kidul. Kamus bahasa Indonesia-Jawa Kuno terbitan Depdikbud (1992) menyebutkan bahwa kata selatan dalam bahasa Jawa Kuno bisa berarti daksina atau kidul atau kdwal atau mretyudesa atau udik. Kdwal atau keduwal  dalam bahasa jawa sehari-hari bisa berarti penampung apa saja. Begitu juga dengan laut. Kosmologi orang Jawa Kuno bahkan kosmologi semua orang jaman pra modern menyebut laut sebagai tempat semua berakhir.

Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sangat masuk akal.

Mitologi Mataram yang selalu mendongengkan perkawinan antara penguasa darat (Sultan) dengan penguasa laut (Ratu Kidul) sebenarnya adalah simbol untuk membangkitkan kembali kejayaan kerajaan maritim penguasa lautan.

Catatan Pembohong Besar

Namanya Fernao Mendes Pinto. Dia adalah seorang pembawa misi katolik, penjelajah, pelaut, prajurit, dan terutama penulis. Buku catatan perjalanan hidupnya (memoir) pada saat diterbitkan memunculkan banyak kehebohan.

Apakah peristiwa-peristiwa yang dia tulis benar-benar dia lakukan? Ataukah dia hanya menulis dari cerita-cerita yang dia dengar saat dia melakukan perjalanan ke Asia Selatan, Timur dan Tenggara pada pertengahan abad 16?

Kisah-kisah yang dia tulis sangat luar biasa. Dia memulainya sebagai seorang pembawa misi Katolik ke India dari orde Jesuit. Nasib kemudian membawanya ke Laut Merah menuju Ethiopia. Setelah menyelesaikan tugas pertamanya dia diserang armada Turki dan berakhir dengan dirinya menjadi budak yang dijual ke Mocha (Yaman).

Pinto menjadi milik seorang tuan Yunani sebelum dijual ke tuan Yahudi seharga tiga puluh ducats atau 4500 dolar. Perjalanannya berlanjut mengikuti karavan pedagang ke Hormuz. Di sana dia bertemu rekan-rekan Portugisnya dan ditebus dengan harga sepuluh kali lipat. Dari sana dia lanjut kembali ke Goa sebelum berangkat ke Malaka.

Dia lanjut misi ke Patani, China, Jepang, balik Burma sebelum kembali ke pangkalan Goa. Dari Goa dia berangkat ke Banten. Dari sini lah kesaksian pastor Jesuit tentang perempuan senior utusan Raja Demak yang memimpin armada lautan terbesar di Nusantara dituliskan.

Walaupun dalam banyak hal tulisan Mendes Pinto terlalu luar biasa sehingga sangat kentara bohongnya, beberapa catatan Mendes Pinto oleh para ahli sejarah harus diakui punya sisi yang sesuai dengan sumber-sumber lokal. Saking kontroversialnya tulisan Pinto, nama dia menjadi ejekan bagi seorang penulis yang biasa berbohong.  Fernao? Mentes? Minto? (Fernao apakah kamu bohong?).

De Graaf dan Pigeaud menyebut catatan Pinto sebagai sumber yang kurang bisa dipercaya. Tetapi, Cornelis PA Tiele, sarjana Belanda akhir abad 19 hingga Maurice Collis administratur Inggris di Burma abad 20  menilainya sebagai catatan yang tidak bisa direndahkan begitu saja.

Minimnya sumber-sumber sejarah Asia Tenggara pada waktu itu membuat catatan Pinto sangat penting. Banyaknya informasi yang disusun dalam catatan itu membuat karya itu menjadi karya Eropa yang paling komplet tentang sejarah abad 16  Asia.

Duta Besar Perempuan dari Demak

Nhay Pombaya tulis Mendes Pinto menyebut nama seorang duta besar Kerajaan Demak yang datang ke Banten pada akhir 1545. Nyai Pambayun, barangkali adalah penyebutan nama yang benar dalam bahasa Melayu tentang putri sulung Raja Demak penguasa Pulau Jawa, Kangean, Madura, dan Bali.

Dia adalah seorang janda berumur sekitar 60 tahun dengan kemampuan diplomatis yang luar biasa memberikan pesan singkat  kepada Raja Sunda yang bernama Tagaril.  Pesan itu adalah perintah bagi Raja Sunda agar bersiap-siap dalam enam minggu untuk hadir ke Jepara bersama segenap pasukan. Raja Demak telah menunggu di sana untuk melakukan penyerangan ke Pasuruan.

Pesan yang luar biasa dari seorang yang luar biasa, begitu yang ditangkap Mendes Pinto sebagai bagian dari orang-orang Portugis yang harus menghabiskan musim penghujan di Banten sampai tiba angin barat yang akan memulangkan mereka.

Tiba-tiba saja Mendes Pinto dari rombongan pelaut yang mencari lada harus berubah menjadi prajurit-prajurit manca yang menemani Raja Sunda memenuhi perintah penguasa seluruh pulau. Bersama dengan tiga puluh perahu jenis Kalalus dan sepuluh jenis Juripango, Mendes bersama empat puluh enam orang Portugis lainnya ikut bersama 7000 (tujuh ribu) orang pasukan menuju peperangan.

Bagi seorang pembawa misi Jesuit, Mendez Pinto melihat sosok Nyai Pembayun dengan keistimewaan yang luar biasa. Sebagai seorang Katolik yang dalam dirinya masih terbangun semangat perang Salib melawan Kesultanan Turki Usmani, munculnya seorang duta besar perempuan kerajaan Islam dari kepulauan paling timur dunia menjadi ciri pembeda perkembangan islam di kawasan ini.

Keistimewaan seorang perempuan senior, perbawa, kharisma dan kemampuan diplomasi yang bisa dipercaya ditulis oleh Mendez Pinto  sebagai karakter khas kepemimpinan perempuan di Asia Tenggara. Perempuan itu lah yang seperempat abad kemudian akan memegang kekuasaan bandar-bandar kerajaan Jepara setelah kegagalan Raja Demak dalam penyerbuan ke Pasuruan itu.

Di bawah kekuasaan dia lah perahu-perahu raksasa setinggi seribu kaki yang bernama Jung akan dicatat oleh para ahli sejarah Eropa sebagai bentuk kapal induk pertama yang pernah ada dalam sejarah dunia. Penyerbuan Malaka oleh Kerajaan Aceh yang didukung Ratu Jepara adalah momentumnya.

Ribuan prajurit bisa diangkut hingga kuda dan gajah-gajah pilihan. Sayang, kapal  induk teknologi Nusantara yang dibuat dari kayu Jati tanpa paku besi ini tidak tahan api.

JAYAKARTA NEWS— Mitologi Mataram yang selalu mendongengkan perkawinan antara penguasa darat (Sultan) dengan penguasa laut (Ratu Kidul) sebenarnya adalah simbol untuk membangkitkan kembali kejayaan kerajaan maritim penguasa lautan.

Entah mengapa Jepara mempunyai jejak sangat kuat dalam sejarah Nusantara. Uniknya jejak itu melibatkan sosok perempuan. Sebut saja di masa Hindu-Buddha ada nama Ratu Sima. Di masa transisi Majapahit ke Demak ada Ratu Kalinyamat dan di masa kolonial ada nama Raden Ajeng Kartini.

Dari tiga nama besar di atas barangkali hanya Ratu Sima yang paling sulit untuk meneliti rekam sejarahnya. Zaman dia hidup di pertengahan milenium pertama adalah tantangan bagi peneliti sejarah. Minimnya catatan tertulis, kabar atau kesaksian yang terekam dari sejarah lisan, hingga sulitnya mendapatkan sisa-sisa artefak yang bisa bertahan hingga sekarang adalah kesulitan paling besar untuk mengembangkan studi tentang sosok perempuan yang lebih mirip tokoh dongeng ini.

Sosok Kartini barangkali adalah sosok yang bisa disebut dalam istilah sejarawan dunia Montgomery Watt sebagai orang yang berada di dalam “terangnya cahaya sejarah”. Lahir di akhir abad 19, hampir semua catatan yang diperlukan untuk mengembangkan penelitian sejarah tentang perempuan yang menjadi inspirasi bangsa Indonesia ini bisa didapatkan. Yang perlu dilakukan hanya pengembangan berbagai sisi kehidupannya yang belum terungkap.

Yang tersisa adalah Ratu Kalinyamat. Sosok perempuan tangguh dari Jepara ini cukup banyak terekam dalam naskah-naskah tradisional maupun catatan-catatan penjelajah dunia yang singgah di pesisir Nusantara. Hanya saja pengembangan lebih jauh tentang karakternya yang “mendunia” dengan jejak kepemimpinan politik yang kuat masih jarang.

Ratu Penguasa Seluruh Lautan

Theodoor Pigeaud, ahli naskah Jawa dari Belanda punya dugaan kuat kalau akar mitologi orang Jawa tentang “ratu penguasa lautan” berasal dari tradisi di pesisir utara Jawa. Dalam buku “Kerajaan Islam Pertama di Jawa” (1985) yang ditulis bersama rekannya de Graaf, dia menduga bahwa orang-orang Jepara punya tradisi kuat untuk melestarikan peradaban lamanya.

Salah satu buktinya adalah inskripsi yang ditemukan di pemakaman tua Mantingan atau Pamantingan yang terletak di sebelah selatan Jepara. Inskripsi itu berupa candra sengkala atau penanggalan bersandi yang menyatakan tahun pendiriannya. Tulisan itu berbunyi “rupa-brahmanawarna-sari” yang artinya tahun 1481 Jawa atau 1559 Masehi.

Pencatatan sejarah dengan menggunakan tahun Saka Jawa telah banyak diketahui para peneliti sebagai ciri khas peradaban Jawa sebelum Islam. Pamantingan yang diceritakan sebagai tempat Sunan Kalijaga membuat tiang tatal yang digunakan di Masjid Demak mempunyai kedekatan paralel dengan nama dewi Manting yang merupakan nama dewi padi di Bali.

Pigeaud menulis bahwa dewi menurut kepercayaan lama itu telah mengejawantah baik sebagai dewi tetumbuhan dan dewi kesuburan maupun sebagai Nyai Lara Kidul.

Mengapa legenda Nyai Lara Kidul yang paralel dengan sejarah kebesaran kepemimpinan politik Ratu Kalinyamat sebagai penguasa lautan malah berkembang dari pesisir utara? Bukankah utara dalam bahasa Jawa disebut Lor, sedangkan Kidul artinya Selatan?

Ini berkait dengan kosmologi Jawa kuno. Sederhana saja, dalam pemahaman orang Jawa sebelum adanya kompas, untuk menentukan arah angin gunung adalah patokan utamanya. Gunung yang tinggi dalam bahasa Jawa kuno disebut Lor alias Luhur atau yang tinggi tempat dewa bersemayam.

Sedangkan laut dalam kosmologi kuno yang sudah dilupakan selalu dinamakan kidul. Kamus bahasa Indonesia-Jawa Kuno terbitan Depdikbud (1992) menyebutkan bahwa kata selatan dalam bahasa Jawa Kuno bisa berarti daksina atau kidul atau kdwal atau mretyudesa atau udik. Kdwal atau keduwal  dalam bahasa jawa sehari-hari bisa berarti penampung apa saja. Begitu juga dengan laut. Kosmologi orang Jawa Kuno bahkan kosmologi semua orang jaman pra modern menyebut laut sebagai tempat semua berakhir.

Sampai di sini, legenda Nyai Lara Kidul yang berkembang di Pamantingan jika dikaitkan dengan sejarah kebesaran Ratu Kalinyamat alias Ratu Arya Japara yang menyebal menjadi Ratu Pajajaran menjadi sangat masuk akal.

Mitologi Mataram yang selalu mendongengkan perkawinan antara penguasa darat (Sultan) dengan penguasa laut (Ratu Kidul) sebenarnya adalah simbol untuk membangkitkan kembali kejayaan kerajaan maritim penguasa lautan.

Catatan Pembohong Besar

Namanya Fernao Mendes Pinto. Dia adalah seorang pembawa misi katolik, penjelajah, pelaut, prajurit, dan terutama penulis. Buku catatan perjalanan hidupnya (memoir) pada saat diterbitkan memunculkan banyak kehebohan.

Apakah peristiwa-peristiwa yang dia tulis benar-benar dia lakukan? Ataukah dia hanya menulis dari cerita-cerita yang dia dengar saat dia melakukan perjalanan ke Asia Selatan, Timur dan Tenggara pada pertengahan abad 16?

Kisah-kisah yang dia tulis sangat luar biasa. Dia memulainya sebagai seorang pembawa misi Katolik ke India dari orde Jesuit. Nasib kemudian membawanya ke Laut Merah menuju Ethiopia. Setelah menyelesaikan tugas pertamanya dia diserang armada Turki dan berakhir dengan dirinya menjadi budak yang dijual ke Mocha (Yaman).

Pinto menjadi milik seorang tuan Yunani sebelum dijual ke tuan Yahudi seharga tiga puluh ducats atau 4500 dolar. Perjalanannya berlanjut mengikuti karavan pedagang ke Hormuz. Di sana dia bertemu rekan-rekan Portugisnya dan ditebus dengan harga sepuluh kali lipat. Dari sana dia lanjut kembali ke Goa sebelum berangkat ke Malaka.

Dia lanjut misi ke Patani, China, Jepang, balik Burma sebelum kembali ke pangkalan Goa. Dari Goa dia berangkat ke Banten. Dari sini lah kesaksian pastor Jesuit tentang perempuan senior utusan Raja Demak yang memimpin armada lautan terbesar di Nusantara dituliskan.

Walaupun dalam banyak hal tulisan Mendes Pinto terlalu luar biasa sehingga sangat kentara bohongnya, beberapa catatan Mendes Pinto oleh para ahli sejarah harus diakui punya sisi yang sesuai dengan sumber-sumber lokal. Saking kontroversialnya tulisan Pinto, nama dia menjadi ejekan bagi seorang penulis yang biasa berbohong.  Fernao? Mentes? Minto? (Fernao apakah kamu bohong?).

De Graaf dan Pigeaud menyebut catatan Pinto sebagai sumber yang kurang bisa dipercaya. Tetapi, Cornelis PA Tiele, sarjana Belanda akhir abad 19 hingga Maurice Collis administratur Inggris di Burma abad 20  menilainya sebagai catatan yang tidak bisa direndahkan begitu saja.

Minimnya sumber-sumber sejarah Asia Tenggara pada waktu itu membuat catatan Pinto sangat penting. Banyaknya informasi yang disusun dalam catatan itu membuat karya itu menjadi karya Eropa yang paling komplet tentang sejarah abad 16  Asia.

Duta Besar Perempuan dari Demak

Nhay Pombaya tulis Mendes Pinto menyebut nama seorang duta besar Kerajaan Demak yang datang ke Banten pada akhir 1545. Nyai Pambayun, barangkali adalah penyebutan nama yang benar dalam bahasa Melayu tentang putri sulung Raja Demak penguasa Pulau Jawa, Kangean, Madura, dan Bali.

Dia adalah seorang janda berumur sekitar 60 tahun dengan kemampuan diplomatis yang luar biasa memberikan pesan singkat  kepada Raja Sunda yang bernama Tagaril.  Pesan itu adalah perintah bagi Raja Sunda agar bersiap-siap dalam enam minggu untuk hadir ke Jepara bersama segenap pasukan. Raja Demak telah menunggu di sana untuk melakukan penyerangan ke Pasuruan.

Pesan yang luar biasa dari seorang yang luar biasa, begitu yang ditangkap Mendes Pinto sebagai bagian dari orang-orang Portugis yang harus menghabiskan musim penghujan di Banten sampai tiba angin barat yang akan memulangkan mereka.

Tiba-tiba saja Mendes Pinto dari rombongan pelaut yang mencari lada harus berubah menjadi prajurit-prajurit manca yang menemani Raja Sunda memenuhi perintah penguasa seluruh pulau. Bersama dengan tiga puluh perahu jenis Kalalus dan sepuluh jenis Juripango, Mendes bersama empat puluh enam orang Portugis lainnya ikut bersama 7000 (tujuh ribu) orang pasukan menuju peperangan.

Bagi seorang pembawa misi Jesuit, Mendez Pinto melihat sosok Nyai Pembayun dengan keistimewaan yang luar biasa. Sebagai seorang Katolik yang dalam dirinya masih terbangun semangat perang Salib melawan Kesultanan Turki Usmani, munculnya seorang duta besar perempuan kerajaan Islam dari kepulauan paling timur dunia menjadi ciri pembeda perkembangan islam di kawasan ini.

Keistimewaan seorang perempuan senior, perbawa, kharisma dan kemampuan diplomasi yang bisa dipercaya ditulis oleh Mendez Pinto  sebagai karakter khas kepemimpinan perempuan di Asia Tenggara. Perempuan itu lah yang seperempat abad kemudian akan memegang kekuasaan bandar-bandar kerajaan Jepara setelah kegagalan Raja Demak dalam penyerbuan ke Pasuruan itu.

Di bawah kekuasaan dia lah perahu-perahu raksasa setinggi seribu kaki yang bernama Jung akan dicatat oleh para ahli sejarah Eropa sebagai bentuk kapal induk pertama yang pernah ada dalam sejarah dunia. Penyerbuan Malaka oleh Kerajaan Aceh yang didukung Ratu Jepara adalah momentumnya.

Ribuan prajurit bisa diangkut hingga kuda dan gajah-gajah pilihan. Sayang, kapal  induk teknologi Nusantara yang dibuat dari kayu Jati tanpa paku besi ini tidak tahan api.

Sejarah menulis pasukan Portugis di Malaka memang kalah jumlah tetapi menang teknologi. Jung-jung dari Jepara menjadi tak berdaya berhadapan dengan “Meriam Penyembur Api” atau  Greek Fire  alias Cetbang yang dulu pernah menggagalkan penyerangan Muawiyah ke Konstantinopel. ***indonesia.go.id/ebn

Sejarah menulis pasukan Portugis di Malaka memang kalah jumlah tetapi menang teknologi. Jung-jung dari Jepara menjadi tak berdaya berhadapan dengan “Meriam Penyembur Api” atau  Greek Fire  alias Cetbang yang dulu pernah menggagalkan penyerangan Muawiyah ke Konstantinopel. ***indonesia.go.id/ebn

Fadli Zon: Sejarah Indonesia Perlu Ditulis Ulang

Fadli Zon, Wakil Ketua DPR RI–foto dpr.go.id

JAYAKARTA NEWS— Indonesia tidak pernah dijajah selama 350 tahun. Sudah saatnya kita memikirkan kembali untuk menulis ulang sejarah Indonesia (rewriting history) yang selama ini dipengaruhi Belanda.

Hal tersebut diungkapkan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon saat menghadiri Bedah Buku, Indonesia Tidak Pernah Dijajah, karya Batara R Hutagalung di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta. Demikian  dikutip dari dpr.go.id 

Lewat buku ini, kata Fadli, Batara dengan berani ingin meluruskan sejarah dan fakta-fakta yang selama ini dipercayai oleh Bangsa Indonesia dan juga dunia bahwa Indonesia pernah dijajah Belanda selama 350 tahun. 

“Buku ‘Indonesia Tidak Pernah Dijajah’ sangat tepat diluncurkan setelah perayaan HUT RI ke-74. Sehingga dapat mengigatkan masyarakat pada sejarah, apakah benar Indonesia terjajah. Karena yang dijajah waktu itu adalah kesultanan-kesultanan, belum menjadi Indonesia. Kalaupun kita dijajah jangan-jangan sekarang kita dijajah,” jelasnya. 

Fadli mengaku, mengenal Batara sejak 20 tahun lalu. Batara punya fokus pada sejarah Indonesia dan terus memperjuangkan utang kehormatan Belanda sebagai Ketua Umum Komite Utang Kehormatan Belanda (KUB), karena Belanda memiliki banyak utang atas pelanggaran-pelanggaran  HAM yang dilakukan di masa lampau. Bahkan, sampai saat ini, Belanda tidak mengakui kemerdekaan Indonesia secara de jure, yakni 17 Agustus 1945. Belanda hanya mengakui secara de facto.

“Dan meski sudah puluhan tahun berlalu, hal ini menjadi PR untuk terus diperjuangkan,” imbuhnya. Fadli percaya bahwa buku ini lahir secara organik dari penelitian Batara, karena seorang sejarawan sejati tidak hanya membaca buku intelektual mainstream, tetapi juga harus mengasah pisaunya sendiri untuk benar-benar menguak sejarah.

“Pak Batara juga seorang sejarawan yang aktif. Bukan tipe yang berdiri di menara gading. Dia mengungkapkan bagaimana perjalanan bangsa menentukan positioning kita lewat sejarah,” ucap Fadli. Peluncuran itu pun dihadiri oleh sejarahwan senio Taufik Abdulah, Makarin Wibison, dan Guru Besar Universitas Hasanuddin Makassar Marthen Napang.***/dpr/ebn

Lukman Sardi Jadi Amir Hamzah

Lukman Sardi–foto istimewa

Aktor Lukman Sardi bakal memainkan tokoh penyair kondang, Amir Hamzah dalam pementasan ‘Nyanyi Sunyi Revolusi’. Pemilihan Lukman Sardi bukan tanpa alasan.

Happy Salma, selaku produser pementasan dari Titimangsa Foundation mengatakan lelaki 47 tahun itu punya wajah hampir mirip dengan Amir Hamzah.

“Lukman adalah aktor yang sangat cocok memerankan itu, secara look juga dia mendekati (Amir Hamzah),” ujar Happy Salma di Galeri Indonesia Kaya, Thamrin, Jakarta Pusat pada Sabtu (12/1/2019).

Tidak cuma itu, Happy Salma melihat Lukman Sardi termasuk lelaki yang konsisten dan gampang diajak belajar.

“Lukman itu orang yang konsisten, mau bekerja keras dan mau belajar dan keluar dari zona nyamannya dia. Orang kalau udah masuk dunia teater harus banyak mau, mau belajar, mau latihan dan man meluangkan waktu,” ujarnya.

Ditambah, Amir Hamzah dikenal sebagai pribadi yang baik hati juga romantis. Dia optimistis Lukman Sardi dapat memainkan tokoh tersebut dengan sempurna.

“Amir Hamzah itu laki-laki yang lembut, romantis dan penyayang. Dia itu nggak memikirkan dirinya, dia lebih banyak memikirkan orang-orang di sekitarnya. Padahal dia kan bangsawan, dia seorang pangeran. Ibaratanya laki-laki kaya gini nih yang patut kita cintai,” kata Happy Salma menuturkan.

Seperti diketahui, pementasan Nyanyi Sunyi Revolusi berkisah lika-liku perjalanan hidup seorang Amir Hamzah. Selain Lukman Sardi, pementasan ini juga dibintangi oleh Dessy Susanti, Prisia Nasution hingga Sri Qadariatin.

Rencananya, Nyanyi Sunyi Revolusi sendiri akan ditampilkan selama dua hari yaitu tanggal 2 dan 3 Februari 2019 di Gedung Kesenian Jakarta. (pik)

Jokowi Ajak Masyarakat Tonton Film ‘Sultan Agung:The Untold Love Story’

Salah satu adegan dalam film ‘Sultan Agung: The Untold Love Story’–istimewa

Presiden Joko Widodo mengajak masyarakat menonton film “Sultan Agung: The Untold Love Story” yang akan diluncurkan perdana pada 23 Agustus 2018. “Kami harapkan masyarakat bisa menonton film yang sangat kolosal ini,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Dusun Gamplong, Moyudan, Sleman, DIY, Minggu sore.

Menurut Jokowi, film yang dipersembahakan oleh Mooryati Soedibyo Cinema itu patut diapresiasi karena merupakan film kolosal terbesar pertama yang dibuat di Indonesia.

Pemain utama film sejarah yang disutradarai Hanung Bramantyo itu antara lain Ario Bayu sebagai Sultan Agung, Anindia Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015), Adinia Wirasti, Marthino Lio, serta Putri Marino. “Film ini bisa menjadi sebuah contoh kepemimpinan,” kata Presiden.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga meminta aktor Ario Bayu untuk maju ke panggung. Presiden meminta Ario untuk menjelaskan manfaat yang bisa didapatkan masyarakat jika menonton film itu.

“Saya sebagai anak muda yang sempat tinggal di luar negeri (melalui Film Sultan Agung) semacam dibawa kembali ke lorong waktu. Ternyata kita memiliki pemimpin-pemimpin yang patut kita hidupkan kembali keteladanannya,” kata Ario Bayu.***

Kisah Perjuangan Haji Agus Salim Diangkat Ke Layar Lebar

Adegan delegasi diplomasi Indonesia H Agus Salim,AR Baswedan dan kawan kawan berdiskusi di tradisional boat Sungai Nil –foto istimewa

Kemerdekaan Indonesia bukan hanya diperoleh dengan perjuangan bersenjata, namun lewat jalur diplomasi. Kisah heroisme dalam merebut kemerdekaan sudah banyak diangkat ke layar perak. Tidak demikian dengan halnya liku-liku diplomasi demi mempertahankan tanah air yang masih jarang difilmkan.

Untuk mengenang perjuangan diplomasi Indonesia, Yayasan Indovasi dan TVS Films merilis thrailer sejarah berjudul “Moonrise Over Egypt”. Film ini mengisahkan perjuangan diplomasi pertama Republik Indonesia yang dipimpin oleh Haji Agus Salim dengan delegasi yang terdiri dari Abdurrahman Baswedan, Mohammad Rasjidi serta Nazir Pamoentjak.

Film ini dibintangi oleh artis-artis senior dan bintang-bintang muda. Artis-artis yang terlibat antara lain Pritt Timothy, Mark Sungkar, Vikri Rahmat, Reza Smash, Ina Marika.

“Film ini diharapkan akan menginsipari masyarakat pada umumnya akan pentingnya kedaulatan suatu negara,” tutur Ibong Sjahroezah, salah satu cucu Haji Agus Salim. “Film ini inisiatif yang baik untuk memberikan alternatif tontonan bagi masyarakat,” tutur Anis Baswedan, cucu AR Baswedan.

Cerita film ini diwarnai oleh spionase, penghianatan sampai roman ini diharapkan produsernya, Adie Marzuki, dapat menjadi menjadi tontonan yang menghibur semua pecinta film. Sedangkan sutradara Pandu Adiputra mengatakan, film ini dipersembahkan bagi seluruh rakyat Indonesi yang bangga bagi bangsanya.***