PWI: Wartawan Jangan Meliput Tanpa Protokol Kesehatan

JAYAKARTA NEWS—  Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) meminta agar para wartawan tidak melakukan peliputan selama belum memenuhi protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19 yang terjadi di Indonesia.

“Saya bangga sekali wartawan sekarang ini bisa menjadi garda terdepan dalam menyampaikan informasi Covid-19 tapi saya mengingatkan harus mengutamakan kesehatan, mengutamakan kondisinya. Jangan sampai protokol kesehatan diabaikan,” ujar Ketua Umum PWI Atal S Depari dalam keterangan resminya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Jumat (10/4).

Di samping itu, seluruh organisasi pers termasuk PWI terus mengingatkan, mengimbau, dan menyampaikan kepada seluruh anggotanya agar prosedur yang benar saat peliputan selama pandemi Covid-19 tetap dijalankan.

Ketua BNPB Doni Monardo bertemu dengan Ketua Umum PWI Pusat Atal S Depari dan jajaran pengurus PWI Pusat lainnya–foto humas BNPB

Hingga sekarang ini kegiatan peliputan sudah mulai dibatasi, dalam artian tidak lagi menimbulkan kerumunan yang sejalan dengan prinsip “physical distancing”. Oleh karena itu diharapkan kegiatan peliputan yang sebelumnya masih mengundang banyak wartawan sehingga menimbulkan kerumunan untuk dihindari selama pandemi Covid-19.

“Beberapa waktu lalu, karena diundang atau apa, temen-temen wartawan masih bergerombol. Ketika kita kampanye ‘social distancing’ masih berkumpul, begitu juga di beberapa daerah,” katanya.

Dalam hal ini banyak metode peliputan yang bisa dilakukan tanpa harus mengambil risiko dengan berkerumun di lapangan, misalnya melalui televisi pool, televisi streaming, telepon seluler, dan sebagainya.

Hal itu sebagaimana yang telah dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 selama memberikan keterangan resmi mengenai Covid-19 dari Kantor Graha BNPB melalui sistem TV Pool, Radio Pool dan rilis pers kepada para awak media melalui grup jejaring sosial yang dikelola oleh Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

“Kami meminta temen-temen wartawan lebih mengutamakan kesehatannya. Protokol kesehatan itu intinya. Sebenarnya, banyak sekali cara meliput sekarang ini, seperti TV pool, ini sudah bagus,” katanya.

Selain itu, menurut informasi perwakilan media-media asing di Indonesia pun sudah tidak menerjunkan lagi wartawannya di lapangan selama pandemi corona demi mendukung upaya Pemerintah dalam rangka memutus penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19.

“Saya dengar beberapa perwakilan media di luar, misalnya AS, Inggris, perwakilannya di sini ga ada yang di lapangan. Apalagi, sampai mengejar pasien sampai rumah sakit (RS),” tutup Atal.***/ks

Baksos Operasi Katarak Gratis HPN 2020 di Nganjuk

Jayakarta News – Puluhan warga di Kabupaten Nganjuk mengikuti kegiatan bakti sosial operasi katarak gratis dalam rangka memperingati Hari Pers Nasional 2020 dan HUT ke-74 Persatuan Wartawan Indonesia (PWI).

Dalam kegiatan yang digelar Sabtu (29/2) itu PWI Jawa Timur bekerja sama dengan Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih SCTV-Indosiar, Perdami (Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia), Pemkab, dan RSUD Nganjuk yang menjadi lokasi pelaksanaan bakti baksos.

Bupati Nganjuk Novi Rahman Hidayat memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan operasi katarak ini dan menyempatkan hadir langsung ke RSUD Nganjuk untuk meninjau kegiatan bakti sosial tersebut.

“Ini pertama kali dilaksanakan bakti sosial operasi katarak, sebelumnya bakti sosial lebih fokus pengobatan umum. Secara umum semuanya berlangsung lancar,” kata PWI Jatim Ainur Rohim didampingi Ketua PWI Nganjuk Andik Sukaca di sela menyambut kehadiran Bupati Novi Rahman di RSUD Nganjuk.

Ainur Rohim mengaku senang dengan antusiasme warga yang mengikuti bakti sosial operasi katarak ini dan berharap kegiatan kali ini memberikan manfaat bagi mereka.

“Mudah-mudahan setelah matanya dioperasi, penglihatan bapak ibu sekalian menjadi lebih jelas sehingga bisa melakukan aktivitas keseharian dengan lebih baik,” ujarnya di hadapan peserta operasi katarak.

Rencana awal, kegiatan operasi katarak ini menyasar lebih kurang 50 peserta yang semuanya warga Kabupaten Nganjuk. Sebelum menjalani operasi, mereka diwajibkan mengikuti serangkaian tahapan pemeriksaan medis untuk memastikan kondisi kesehatannya.

“Dari hasil skrining yang dilakukan sejak Senin (24/2) hingga Jumat (28/2), baik oleh tim medis RSUD Nganjuk dan Perdami, ada sekitar 28 orang yang dinyatakan lolos dan bisa menjalani operasi katarak hari ini,” ujar Direktur RSUD Nganjuk dr FX Teguh Prartono SpPD.

Suasana baksos operasi katarak di Kabupaten Nganjuk.(foto: poedji)

Didampingi Wakil Direktur Pelayanan RSUD Nganjuk dr Tien Farida Yani, ia menjelaskan bahwa calon pasien yang tidak lolos skrining untuk melanjutkan ke tahap operasi disebabkan sejumlah kendala, seperti tekanan darah tinggi, gula darah sedang naik, dan kondisinya sedang tidak sehat.

“Untuk kegiatan operasi katarak ini, ada empat dokter spesialis mata dari Perdami yang terlibat, dibantu tim medis RSUD Nganjuk,” tambahnya.

Salah satu peserta operasi katarak, Saiful (54), warga Desa Batembat, Kecamatan Pace, Nganjuk, mengaku sangat senang dan terbantu dengan adanya kegiatan bakti sosial operasi katarak ini.

“Sudah lumayan lama mata sebelah kiri saya ini burek kalau untuk melihat, mudah-mudahan setelah dioperasi bisa jadi terang lagi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia HPN 2020 tingkat Jatim Teguh LR mengemukakan bahwa bakti sosial operasi katarak merupakan salah satu dari sejumlah rangkaian kegiatan yang digelar PWI Jatim untuk memperingati HPN 2020 dan HUT ke-74 PWI.

“Selain operasi katarak, kami juga mengadakan bakti sosial donor darah, silaturahim ke sejumlah wartawan senior, dan lomba PWI Jatim Idol,” katanya. (poedji)

Menpora Minta Dukungan Publikasi Agenda Besar Olahraga Indonesia

JAYAKARTA NEWS—Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) se-Indonesia 2020 di Mahakam Convention Room, Banjarmasin, Jumat (7/2). Pembukaan acara tersebut ditandai dengan pemukulan gong oleh Menpora yang  didampingi Ketua Siwo Pusat Agwa Ariwangsa dan Kepala Dispora Provinsi Kalsel, Hermansyah.

“Saya mengucapkan selamat Hari Pers Nasional 2020 kepada teman-teman wartawan khususnya yang tergabung didalam SIWO PWI,” ujarnya. 

Menurutnya, antara olahraga dan wartawan tidak bisa dipisahkan. Tanpa dukungan dari SIWO maka olahraga di tanah air tidak akan berkembang. Informasi pemberitaan perkembangan olahraga di daerah kalau tidak diinformasikan kapada masyarakat, pasti masyarakat tidak akan tahu tentang perkembangan dan prestasi olahraga tanah air. 

Karenanya, pihaknya memohon dukungan untuk bersama-sama membangun olahraga. Tahun ini, katanya, akan ada sejumlah kegiatan di antaranya PON di Papua, juga Olimpiade 2020 di Tokyo di mana Indonesia juga akan turut serta. Selain itu, Indonesia juga menjadi tuan rumah MotoGP di Mandalika NTB.

“Ini merupakan berbagai kegiatan olahraga nasional dan internasional yang ada di agenda pemerintah federasi-federasi. Karenanya kami mohon dukungan dari teman-teman SIWO untuk memberitakan kegiatan-kegiatan olahraga ini,” ujarnya.

Rakernas diikuti 35 pengurus cabang SIWO PWI yang terdapat diseluruh propinsi di tanah air plus Solo, tempat dimana menjadi kota kelahiran SIWO PWI. Turut hadir Ketua PWI Pusat Atal S Depari, Sekjen KONI Pusat TB Ade Lukman. Hadir dalam acara tersebut  Staf Khusus Menpora Bidang Pengembangan dan Prestasi Olahraga H. Mahfudin Nigara. ***/ebn

Catatan Akhir Tahun 2019 PWI: Tegakkan Independensi dan Profesionalisme Pers

JAYAKARTA NEWS— Dengan beberapa catatan tentang kelemahan yang perlu diperbaiki, Pemilu 2019 telah berjalan lancar. Meski terjadi beberapa hambatan di sejumlah tempat, secara umum penyelenggaraan Pemilu Presiden (Pilpres) dan Pemilu Legislatif (Pileg) yang untuk pertama kali berlangsung secara serentak, berjalan sesuai jadwal. Kalangan dunia internasional pun mengakui keberhasilan Indonesia dalam melaksanakan Pemilu secara serentak hanya dalam satu hari itu.

Angka partisipasi pemilih pada Pemilu 2019 mencapai 81 persen atau sekitar 3,5 persen di atas target yang ditetapkan, yakni 77,5 persen.  Ini di atas partisipasi Pemilu sebelumnya pada 2014, tingkat partisipasi pemilih 70 persen untuk Pilpres dan 75 persen untuk Pileg. Tingginya tingkat partisipasi pemilih merupakan salah satu indikator Pemilu berjalan sukses dan proses demokrasi berjalan lancer.  

Foto istimewa

Dalam pandangan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), keberhasilan dan kelancaran penyelenggaraan Pemilu 2019 tak terlepas dari peran pers nasional.  Pers indonesia secara umum mampu menetralisir epidemi hoaks politik yang melanda masyarakat. Bahkan sejumlah media arus utama online menyediakan rubrik khusus untuk mengecek apakah sebuah informasi itu hoaks atau sesuai fakta. Selain itu, pers lebih fokus ke pemberitaan tentang visi misi dan program para kandidat, baik pasangan calon presiden dan calon wakil presiden maupun calon anggota legislatif.

Meski demikian, harus diakui pesta demokrasi lima tahunan itu juga meninggalkan sejumlah pekerjaan rumah. Keterbelahan sebagian pemilih karena hanya dua pasang calon, sedikit banyak berdampak pada dunia pers. Independensi media banyak dipersoalkan publik.

Ilustrasi–foto istimewa

Beberapa media cenderung berpihak pada salah satu kandidat. Berita-berita atau informasi yang disuguhkan cenderung membangun citra positif kandidat tertentu dan cenderung merugikan atau membangun citra negatif candidat lainnya.

Di samping itu, profesionalisme pers juga mendapat perhatian serius. Beberapa media kurang hati-hati pada informasi yang berbau hoaks. Bukannya menghindar, alih alih justru turut menyebarluaskannya. Termasuk media arus utama sering kali tidak melakukan tiga prinsip utama jurnalistik, klarifikasi, konfirmasi, dan verifikasi. Informasi yang bernada hoaks langsung disiarkan di media berbasis jurnalistik secara ramai-ramai. Contohnya kasus Ratna Sarumpaet, belakangan diketahui adalah hoaks.

Tahun 2020 adalah juga tahun politik. Akan diselenggarakan 270 pilkada di seluruh Indonesia. Diharapkan kelemahan-kelemahan sebagaimana disebutkan di atas tidak terulang. Media tidak boleh partisan. Media jangan ikut menyebarkan hoaks. Media harus kembali kepada jatidirinya dan tetap menjaga independensi news room dan bekerja secara profesional  dengan melakukan uji informasi melalui konfirmasi, klarifikasi, dan verifikasi.

Wartawan juga jangan sampai ikut-ikutan menjadi tim sukses dalam pilkada atau bahkan terjun dalam politik praktis. Hal ini akan sangat mengganggu independensi media dan kepercayaan publik. Pers lokal harus bisa menjaga indepedensi dan profesionalismenya dalam pilkada tahun 2020.

Kekerasan Terhadap Wartawan

Terkait kekerasan terhadap wartawan, baik yang dilakukan oleh aparat negara, organisasi massa, maupun warga masyarakat, juga masih saja terjadi. Kekerasan tersebut tidak hanya berupa fisik seperti penganiayaan atau pemukulan, tetapi juga teror. Sekadar contoh, seorang wartawan di Aceh rumahnya dibakar orang tak dikenal, sebagian Kantor PWI Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, juga sempat dibakar, dan kantor redaksi sebuah harian di Bogor, Jawa Barat, diserbu simpatisan partai politik tertentu.

Penegakan hukum terkait kasus yang melibatkan wartawan juga belum sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 40 tahun 1999 tentang Pers dan MoU antara Kapolri dan Ketua Dewan Pers nomor 2/DP/MOU/2/2017-II-2017 yang ditandatangani pada 9 Februari 2017.

Dalam Pasal 15 ayat 2 huruf C UU Pers disebutkan Dewan Pers melaksanakan fungsi memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasus-kasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers. Pertimbangan atas pengaduan  masyarakat sebagaimana dimaksud dalam ayat 2 huruf C adalah yang berkaitan dengan hak jawab, hak koreksi, dan dengan pelanggaran terhadap kode etik.

Dalam MoU Kapolri dan Ketua Dewan Pers di antaranya disebutkan,  apabila ada dugaan terjadi tindak pidana yang berkaitan dengan pemberitaan Pers maka penyelesaiannya mendahulukan UU No 40 tahun 1999 tentang Pers sebelum menerapkan peraturan perundang-undangan lain. Di samping itu, apabila Polri  menerima laporan dan atau pengaduan masyarakat yang berkaitan dengan pemberitaan Pers dalam proses penyelidikan dan penyidik berkonsultasi dengan Dewan Pers

Dalam prakteknya, penyelesaian sengketa pers tidak semuanya diproses sesuai UU Pers dan MoU tersebut. Di sejumlah daerah, polisi  sebagai penerima pengaduan  masyarakat atas pemberitaan, langsung memproses menggunakan UU non Pers, misalnya UU No 19 tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan KUHP.

Sekadar contoh adalah kasus yang terjadi pada Januari 2019. Koran Jawa Post dilaporkan pimpinan klub sepak bola di Surabaya atas dugaan fitnah dan pecemaran nama baik sebagaimana diatur pasal 310, 311 KUHP dan Pasal 27 ayat 3 UU ITE karena membuat berita yang dianggap merugikannya.

Selain itu, PWI mengimbau agar perusahaan pers tetap memperhatikan kesejahteraan wartawan. Meskipun secara bisnis hampir sebagian besar revenue industri pers dalam posisi menurun drastis, hak-hak karyawan (wartawan) sebagai pekerja secara normatif harus tetap dipenuhi.

PWI akan terus meningkatkan profesionalisme wartawan anggotanya dengan pelatihan dan meningkatkan kepatuhan terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan peraturan perundang-undangan yang terkait, serta pelatihan kompetensi teknis wartawan pada era konvergensi media.  

Selamat tahun baru dan semoga 2020 akan lebih baik.***/ks

PWI Peduli dan Foodbank Siap Salurkan Pangan

Ketua Umum IKWI Pusat  Indah Kirana memberikan plakat kenang-kenangan kepada Ketua  Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina. (ist)

Jayakarta News  –  PWI Peduli siap bersinergi dengan Yayasan Lumbung Pangan Indonesia atau Foodbank of Indonesia. Kerjasama PWI Pusat  dan daerah dengan Lumbung Pangan  di bidang sosial ini bertujuan untuk membantu pemerataan  akses pangan  dan mengurangi  makanan yang terbuang di Indonesia.

Demikian diungkapkan M. Nasir, Ketua PWI Peduli saat berbincang tentang kegiatan sosial di bidang pangan bersama Wida Septarina, Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia, di Kantor PWI, Gedung Dewan Pers Lantai 4, Kebon Siri, Jakarta Pusat, Senin (9/9).

Hadir pada acara itu antara lain  para pengurus PWI Peduli dan Ketua Umum Ikatan Keluarga Wartawan Indonesia (IKWI) Pusat Indah Kirana.

Wida Septarina menuturkan, berdasarkan Penelitian yang dilakukan FAO (Food and Agriculture Organization) menyebutkan,  makanan yang terbuang mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Dan seperempat dari makanan yang terbuang itu cukup untuk memberi makan 870 juta orang kelaparan di dunia. Ini fakta mengejutkan terkait limbah sampah yang dihasilkan di seluruh dunia.

Di Indonesia, makanan yang terbuang  merupakan permasalahan besar. Misalnya, produksi sampah di Provinsi DKI Jakarta. Menurut Dinas Kebersihan Provinsi DKI Jakarta, setiap hari terdapat  7.500 ton sampah yang diangkut, dan sekitar 54 persen dari sampah itu adalah sampah makanan yang sudah dikonsumsi maupun  diproduksi.

Disebutkan pula,  Indonesia  menempati urutan kedua di dunia setelah Arab Saudi yang tercatat paling besar membuang makanan, padahal masih banyak yang kelaparan.

Terkait aksi sosial ini, Wida Septarina siap berkolaborasi dengan  PWI Peduli untuk merencanakan  program-program kegiatan sosial lainnya. (ks)

Ketua Umum PWI Pusat Atal S. Depari foto bersama Pengurus PWI Peduli, IKWI dan Ketua Yayasan Lumbung Pangan Indonesia Wida Septarina. (ist)

Gerakan Restorasi PWI DKI Jakarta Dideklarasikan

Logo PWI

JAYAKARTA NEWS—“Saatnya pengurus PWI DKI Jakarta untuk direstorasi,” tegas Nauli Silitonga, Tim Sukses Toto Irianto  (Toir) menjadi Ketua PWI DKI Jakarta, “Proses konferprov yang disusun dan akan diselenggarakan pengurus PWI DKI Jakarta  bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.” Demikian rilis yang diterima redaksi.

Konferensi tingkat provinsi (konferprov) adalah amanat peraturan dasar peraturan rumah tangga (PDPRT) organisasi antara lain  tentang penyelenggaraan pemilihan kepengurusan untuk periode 5 tahun ke depan, tetapi tahapan pelaksanaannya terindikasi hanya untuk memenangkan calon tertentu.  Person kepanitiaan didominasi pendukung calon tertentu.

Toto Irianto, Calon Ketua PWI Jaya, bersama Timsesnya—foto istimewa

“Tidak akan bisa netral. Harus dibatalkan dan dibuat kepanitiaan konferprov yang kredibel ,” tegas Nauli. “Semua anggota yang berhak memilih sampai sekarang tidak diumumkan dan diberi tahu langsung kepada yang bersangkutan. Namun sejumlah oknum panitia pemilihan bergerilya menggalang dukungan guna memenangkan calon pengurus dari kelompoknya.”

Indikasi tersebut merusak tujuan organisasi. Padahal menjadi pengurus organisasi profesi itu adalah pengabdian. Berorentasi pada perwujudan nilai-nilai mulia atau hope, bukan sebagai job atau pekerjaan.

Menurut Nauli, langkah Gerakan Perubahan atau Restorasi yaitu mengawal konferprov berlangsung sesuai dengan prinsip demokrasi. Menjamin kesamaan hak anggota untuk dipilih dan atau memilih sebagaimana tertuang dalam PDPRT. “Kapan lagi kalau bukan sekarang kita merestorasi organisasi,” katanya.  “Ini juga penting agar PWI DKI Jakarta ke depan kembali diminati banyak wartawan muda menjadi anggota.”

Jemes Tobing, Ketua Dewan Kehormatan Provinsi (DKP) PWI DKI Jakarta, menjelaskan, pihaknya sangat prihatin mencermati perkembangan agenda konferprov. Surat penegasan sikap DKP tanggal 11 April 2019 berisi pesan kepanitiaan  yang dibentuk Ketua PWI DKI Jakarta, Hj. Endang Werdiningsih agar dibatalkan, tembusan Ketua Umum PWI Pusat dan Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat, tidak mendapat respons dari yang bersangkutan.

“Sangat luar biasa. Kami tidak akan diam,” katanya.  Satu person pengurus PWI DKI Jakarta sudah resmi mendaftarkan diri sebagai calon ketua. Padahal yang bersangkutan juga bertindak sebagai unsur kepanitiaan di konferprov. ***/ebn

Foto Kompas dan Karikatur Jawa Pos Raih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018

Foto yang diterbitkan Harian Kompas 24 September 2018 bertajuk “Kampanye Damai Jadi Pendidikan Politik” karya Dimitrius Wisnu Widiantoro dan Karikatur yang diterbitkan Harian Jawa Pos 25 Oktober 2018 bertajuk ‘’Hantu Pilpres 2019’’ karya Wahyu Kokkang berhasil meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018.

Demikian keputusan juri Kategori Jurnalistik Foto dan Kategori Jurnalistik Karikatur setelah  melalui debat yang panjang dan  alot dalam menetapkan pemenang pada Rabu, 9 Januari 2019 di Kantor PWI Pusat, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Sebagaimana diketahui, setiap tahun, dalam rangka menyambut Hari Pers Nasional (HPN), Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) memberikan Anugerah Jurnalistik Adinegoro untuk mengapresiasi karya jurnalistik kategori berita dalam foto dan karikatur, liputan berkedalaman (indepth reporting) di media cetak, serta features di radio, televisi, dan siber.

Rabu,  9 Januari 2019 kemarin, dua dari enam kategori Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018 tersebut telah ditetapkan pemenangnya, Kategori Jurnalistik Foto dan Kategori Jurnalistik Karikatur. Tiap kategori hanya memunculkan satu (1) pemenang dengan hadiah sebesar Rp50 juta, trofi, dan piagam. Hadiah akan diserahkan pada acara puncak Hari Pers Nasional 2019, tanggal 9 Februari 2019 di Surabaya, Jawa Timur.

Pemenang Kategori Jurnalistik Foto  

Sesuai  tema “Masyarakat Pers Mengawal Pemilu yang Demokrat dan Bermartabat”, foto jurnalistik berjudul “Kampanye Damai Jadi Pendidikan Politik” karya Dimitrius Wisnu Widiantoro di Harian Kompas pada 24 September 2018 menggambarkan dua kandidat presiden sedang menerbangkan merpati.

Para juri yang terdiri dari Enny Nuraheni (Ketua Dewan Juri), Tagor Siagian, dan Melly Riana Sari sepakat bahwa foto-foto peserta Anugerah Jurnalistik Adinegoro kali ini lebih berkualitas dalam teknik, human interest, objektif, dan tepat sasaran.

Khususnya sang pemenang, “Dengan tema yang bisa jadi mengungkung kreativitas berkarya, tetap mampu menghadirkan tema yang objektif, dengan sentuhan human interest-nya, mengompilasi lingkungan objek yang bergerak dan situasi ketika pemotretan di mana dua kandidat hadir hingga pesannya sampai terbaca,” jelas  Enny Nuraheni, yang pernah menjadi pewarta foto di istana kepresidenan.

Senada dengan Enny, menurut Tagor Siagian, foto karya Wisnu Widi tersebut berhasil membawa semua pihak yang melihatnya serasa hadir di sana. “Saya percaya dia tahu persis agenda dan kelengkapan  acaranya, sehingga sudut pengambilan foto dari dia berdiri itu, posisinya benar dan mengcover semuanya. Ini profesional yang lengkap. Netral, objektif, dan mampu menghadirkan komposisi ‘damai’ itu dengan  sasaran bidik kamera yang tepat sehingga menghasilkan foto yang bagus berkualitas,” ujar Tagor, pewarta foto senior yang banyak memotret dunia olahraga, khususnya paralayang ini.

Melly Riana Sari, fotografer dan dosen fotografi, memaparkan  secara teknis memotret, pemenang Kategori Jurnalistik Foto bertajuk  “Kampanye Damai Jadi Pendidikan Politik” ini, terlihat sekali mampu menangkap ‘’Burung Merpati’’ lambang damai itu dengan lensa kamera. “Persisnya secara teknis, si pemotret dari Kompas ini tahu semua hal yang akan  dipublikasikannya sebagai karya teknik foto berkonsep dan bertematik. Jelasnya, si pemotret tahu lapangan, berkonsep dan tahu persis agenda yang digelar sesuai tema yang diusung kegiatan itu dan dia bidik dengan tepat visualisasinya secara teknik dengan tepat,” papar Melly Riana Sari.

Pemenang Kategori Jurnalistik Karikatur

Tentang karya  Wahyu Kokkang di Harian Jawa Pos 25 Oktober 2018 bertajuk ‘’Hantu Pilpres 2019’’ yang berhasil meraih Anugerah Jurnalistik Adinegoro 2018, inilah komentar  para juri Kategori Jurnalistik Karikatur,  Dolorosa Sinaga (Ketua Dewan Juri), Agus Dermawan T, dan Gatot Eko Cahyono.

Menurut Dolorosa Sinaga, Dosen Institut Kesenian Jakarta dan Ketua Juri Anugerah Jurnalistik Adinegoro Kategori Jurnalistik Karikatur ini, karya Wahyu Kokkang merupakan sajian karikatur bertema dan mampu mengekspresikan kekinian yang terjadi di republik ini, yakni ancaman ‘hoaks’. Menyentuh tema, mengingatkan, mengedukasi masyarakat tentang situasi dan kondisi yang sudah meresahkan.

“Menghantui, mengancam dan mencerdaskan khalayak bahwa ancaman ‘hoaks’ tidak main-main. Perlu diwaspadai, bukan diabaikan, karena ada kondisi ini yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,’’ujar Dolorosa penuh semangat.

Sementara Agus Darmawan T mengaku bangga dengan semua karya yang masuk karena  sangat ekpresif kondisi sikon bangsa ini.

‘’Inilah Editorial Karikatur yang potensial sejak tahun 1950 di era Soekarno  dan harus dilegitimasi. Selain itu secara terus-menerus disosialisasikan dengan profesional yang didasari akar kebudayaan yang kuat di negeri ini. Hasil karya para kartunis hebat, kuat, dan mengawal sekali agenda demokrasi kita ke depan. Kompetisi ini berhasil karena konten yang diungkap para kartunis aktual, bertematik, edukasinya kental dan sekaligus menjadi media pengingat ancaman ‘hoaks’ yang bisa memicu bahaya ke depan,’’ urai Agus Dermawan yang mengusulkan adanya pendirian Lembaga Karikatur Indonesia yang bisa dipikirkan dan direalisasikan  PWI ke depan.

Gatot Eko Cahyono, juri lain yang juga kartunis,  mengaminkan usulan Agus Dermawan tersebut dan berharap lembaga atau institusi karikatur itu bisa jadi di bawah bidang Pendidikan kepengurusan PWI demi melegitimasi pelatihan-pelatihan editorial karikatur yang juga tergerus kemajuan teknologi hingga terpinggirkan tampilannya di media. ***ks

Kejar Kemenangan Agung, Kalah pun Terhormat

Pesilat peraih medali emas Asian Games ke-18, Hanifan Yudani Kusumah usah memeluk dua Joko Widodo dan Prabowo Subianto, dua kandidat presiden pada Pilres 2019. (foto: Biro Pers Sekretariat Kepresidenan RI).

Aksi pesilat Hanifan Yudani Kusumah memeluk Joko Widodo dan Prabowo Subianto mengundang tawa riuh penonton. Saat itu ia merayakan kemenangannya meraih medali emas di Asian Games Jakarta ke-18, tanggal 18 Agustus-2 September 2018. Dalam event itu sendiri, Indonesia sukses besar, baik dari sisi prestasi maupun sebagai tuan rumah.

Kembali ke aksi Hanifan. Ia berlari menuju tribun VVIP sambil melingkarkan bendera merah putih di punggungnya. Di podium kehormatan, Hanifan memeluk berbarengan Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Keduanya, juga kandidat presiden pada pilpres 2019 nanti.

Tak pelak, adegan guyub itu viral seketika. Dramatisasi di tribun VVIP Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII) itu cukup menghibur. Betapa tidak, hari-hari itu, bahkan sebelum batas pengumuman capres dan cawapres, 10 Agustus 2018, suasana kontestasi  sudah memanas. Saling sindir dan ejek, terlebih di jagat maya, sosial media (sosmed), laksana genderang perang telah ditabuh.

Pemandangan yang sangat menyentuh nurani bangsa, ketika Hanifan berlari ke tribun VVIP usai meraih medali emas, dan memeluk dua kandidat presiden Pilpres 2019, Joko Widodo dan Prabowo Subianto (Foto: Biro Pers Sekretariat Kepresidenan RI).

Jokowi sebagai petahana akan berhadapan lagi dengan Prabowo pada pilpres 17 April  2019 yang juga bersamaan dengan pemilu legislatif (pileg). Karenanya adegan di venue pencak silat Asian Games itu tak hanya bermakna simbolik, melainkan harapan nyata anak muda, bagaimana semestinya kontestasi politik berkeadaban digelar. Sebuah pesta demokrasi yang dihelat dalam semangat persaudaraan dan persatuan di bumi Indonesia yang plural.

Kepada pers yang mengerubutinya, Hanifan mengungkap perasaannya. Pelukannya adalah manifestasi harapan atas kegalauannya menyaksikan realitas di sosmed yang tak enak dibaca dan dilihat. Padahal menurutnya, Indonesia itu damai dan tenteram. Para pendukung diharapkan menjaga persaudaraan.

Simbolisme itu sangat bermakna karena hasrat menebarkan perdamaian disuguhkan pemuda. Tidak sekadar pemuda, tetapi putra terbaik bangsa yang mengukir prestasi tingkat Asia. Aksi Hanifan pun menjadi semacam reaksi atas gempuran hoax yang masif di sosmed, terlebih di tahun politik 2018 ini.

Hendri Satrio

Pengamat politik dari Universitas Paramadina Jakarta, Hendri Satrio mengatakan, eskalasi politik yang memanas tak lepas dari komoditasi di sosial media. Residu-residu pemilu 2014 dan 2017 (Pilgub DKI Jakarta yang diwarnai isu SARA) belum selesai, ditambah isu remeh-temeh yang di-blow up. “Mulai (sebutan politisi) sontoloyo, genderuwo hingga tampang Boyolali,“ papar Hendri, pengajar ilmu komunikasi politik ini.

Menurut teori, negara atau pemerintahan akan langgeng jika memenuhi tiga hal. Yakni, kesetaraan dalam hukum, pemerataan ekonomi, dan kedaulatan berpolitik. Sekarang pemerintah sedang diuji. Dari sisi hukum, isu tebang pilih masih kencang. Hendri menyebut kasus Baiq Nuril dan Novel Baswedan yang begitu susah mencari keadilan.

Sementara dari segi ekonomi, masalah kebutuhan fundamental seperti sembako, tarif listrik masih membebani masyarakat kecil. Situasi ini diperparah sosmed, dimana “tarian-jempol” di keypad HP lebih cepat ketimbang otak/pikiran, sehingga hoax pun bertebaran. Ditambah fenomena yang mengkhawatirkan berupa intoleransi atau politik SARA, khususnya agama. “Kalau residu-residu dan isu tersebut dibawa ke (pemilu) 2019, berbahaya,” ucap Hendri.

Beberapa institusi terkait bidang informasi menyebutkan hal senada, hoax begitu masif. Data Dirjen Informatika dan Komunikasi Publik Kementerian Kominfo menyebutkan angka penyebaran hoax tinggi, mencapai 800 ribuan per tahun. Biro Multimedia Divisi Polri juga mencatat peningkatan hoax pada Pilkada, dan diperkirakan bertambah pada pemilu 2019. Data Badan Intelijen Negara (BIN) pun tak beda bahwa konten di sosmed didominasi informasi atau isu hoax, sekitar 60 persen.

Presidium Masyarakat Anti Fitnah (Mafindo), Anita Wahid, dalam diskusii Negara Darurat Hoax, 16 Oktober lalu di Jakarta menyebutkan, penyebaran hoax berkonten politik dominan dan meningkat  ketika ada kontestasi politik. Sepanjang  Juli-September 2018, Mafindo menemukan 230 postingan hoax, 58,7 persen di antaranya bermuatan politik, 7,39 persen agama, 7,39 penipuan, 6,69 persen lalu lintas, dan 5,2 persen kesehatan.

Hoax harus diperangi bersama karena dapat memicu konflik sosial yang mengarah kepada disintegrasi bangsa. Banyak pihak mengatakan, kebohongan yang diulang-ulang dan masif  akan dianggap sebagai kebenaran. Terlebih yang bermuatan isu SARA akan lebih memantik dan mengaduk emosi di tengah eskalasi politik yang terus memanas.

Data pengguna media sosial di seluruh dunia. (ilustrasi jayakartanews, diolah dari sumber: techcrunch.com)

Keniscayaan Kontestasi

Atmosfer perpolitikan memanas adalah keniscayaan kontestasi. Ada persaingan, ada emosi! Namun harus tetap pada alur yang digariskan. Kejujuran adalah landasan utama. Ini pegangan kesatria zaman kapan pun. Maka wanti-wanti alim ulama, pidato dan ujaran yang disampaikan jangan sampai menjatuhkan martabat orang lain.

Ada suatu pendapat, bila budaya dan agama bertumbukan, maka di situlah ada “sivilisasi”. Sekarang, menurut Hendri Satrio, itu yang terjadi di Indonesia. Mereka berkata, kita ini bangsa yang beragam. Bhinneka. Terdiri bermacam suku bangsa, ras, antargolongan dan agama. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika itu mereka hafal.

“Tapi mereka tidak paham bahwa inti dari kebhinekaan itu tunggal ika-nya. Ketunggal-ika-an itulah yang harus terus dipererat. Karena, seperti yang sering diingatkan Presiden Joko Widodo, bahwa persatuan adalah potensi terbesar bangsa Indonesia,” urainya.

Rambu-rambu kontestasi pun digelorakan dengan digelarnya Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2019 oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) di awal masa kampanye, Minggu (23/9) 2018 di Monas, Jakarta. Hadir pasangan capres dan cawaprs no urut 1 Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Juga para pimpinan partai pengusungnya:  PDIP, Golkar, Partai Nasdem, PKB, PPP, Hanura, Perindo, PKPI, dan PSI. Begitupun Capres-cawapres no. Urut 2 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dan pimpinan partai pengusung dari Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat.

Isi deklarasi: 1. Akan mewujudkan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil, 2. Melaksanakan pemilu yang aman, tertib, berintegritas, tanpa hoax, tanpa politik SARA, dan tanpa politik uang. 3. Melaksanakan pemilu berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Lalu, belasan burung merpati pun dilepasi sebagai lambang perdamaian.

Naskah Deklarasi Kampanye Damai Pemilu 2019. sumber: kpu.go.id

Cukup sempurna konten deklarasi. Permulaan yang menggembirakan. Para capres dan cawapres, serta segenap pimpinan partai dalam kesempatan itu mengenakan busana-busana daerah. Cermin kebhinekaan hadir dalam semangat persaudaraan.

Menurut pengamat, andai deklarasi benar-benar dipatuhi, hingga pencoblosan dan penghitungan suara, hal itu dapat dicatat sebagai berintegritas. Kesatria, utamanya dalam mengemban nilai-nilai kejujuran, yang berarti menjauhi kebohongan/ hoax maupun politik uang. Ini tidak hanya dilakukan oleh yang berkontestasi melainkan harus serentak bersama tim pekerjanya (tim pemenangan).

Sudjiwo Tejo

Ki dalang Sudjiwo Tedjo dalam ILC di TV One edisi 6 November mengungkap keprihatinannya atas sikap dua kubu capres yang berkontestasi di pilpres. Kubu Jokowi dan Prabowo ini saling serang dan tidak adil atas kekurangan diri dan kelebihan lawan. Mencuatnya kelemahan isu di pihak seberang, “digoreng-goreng”, begitu istilahnya. Apa tidak bisa, misalnya, yang berkontestasi itu saling menguatkan? Bisa seharusnya, ucap sang dalang.

Sudjiwo Tejo lantas mencontohkan kisah pelari marathon yang  viral karena menolong lawannya yang terjatuh jelang garis finish. Yang dimaksud adalah Ariana Luterman. Ia tidak berusaha menyalip, sebaliknya justru menolong Chandler Self, lawan tandingnya yang jatuh karena kelelahan dalam  BMW Dallas Marathon 2017. Lalu mereka bergandengan hingga finish. Trenyuh! Sukma pun tergetar.

Ariana Luterman menolong rivalnya, Chandler Self yang jatuh jelang finish dalam BMW Dallas Marathon 2017. (sumber: you tube)

Itulah yang tentunya dapat kita nilai sebagai kemenangan agung. Dan jika dengan sikap kesatria ini akhirnya kalah, maka kekalahannya terhormat. Tercatat sejarah karena elegansinya.

Kekalahan memang menyakitkan, tapi mewariskan cara-cara meraih kemenangan agung, berarti andil besar menanamkan nilai-nilai solidaritas, empati pada generasi kini dan nanti. Maka, tak elok jika berpikir pragmatisnya saja. Asal menang.  “Proses itulah yang menentukan kualitas berdemokrasi,“ kata Hendri, dosen Komunikasi Politik dan Opini Publik, Universitas Paramadina.

Sekali lagi, jika itu dapat terjadi pada Pemilu serentak 2019, maka bila menang, itulah kemenangan agung, dan jika kalah, tetap pada maqam kalah terhormat. Bukankah dua kandidat capres itu tampak biasa saja jika sedang bersama? Istilah pengamat, “Mereka berkawan kok. Mereka bisa mesra kok.” Walau kemesraan ketika di TMII itu ada pula yang memaknai sebagai membangun image atau sekadar lips service.

Politik memang begitu. Jadi jangan dibawa ke hati! (Sri Iswati)

***

Link petikan wawancara dengan Hendri Satrio:

https://youtu.be/vjc3JgUacN0

 

Anugerah Jurnalistik Adinegoro Berhadiah Rp 50 Juta

Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) kembali menyelenggarakan Anugerah Jurnalistik Adinegoro, sebuah penghargaan tertinggi untuk karya jurnalistik di Indonesia. Adinegoro adalah wartawan yang bukan saja pelopor, melainkan juga pengedukasi masyarakat dengan benar dan baik.

Anugerah Adinegoro terbuka untuk wartawan seluruh Indonesia. Panitia mengharapkan Pernimpin Redaksi media cetak, televisi, radio, dan media siber mengirimkan karya-karya terbaik wartawannya untuk turut berpartisipasi sebagai peserta Anugerah Adinegoro 2017.

Terdapat enarn (6) kategori Anugerah Adinegoro 2017, In depth reporting untuk media cetak, Foto berita untuk media cetak, Karikatur opini untuk media cetak, News Features untuk televise, News Features untuk radio, dan News Features untuk media siber. Adapun tema tulisan bebas, namun diharapkan bemuansa “Merekat Kembali Perasaan Jati Diri NKRI’ ‘.

Lomba karya jurnalistik ini terbuka bagi semua wartawan yang bekerja secara aktif dan diakui (bukan wartawan lepas) pada satu perusahaan media massa cetak, televisi, radio, atau media siber. Masing-masing kategori  dalam Anugerah Adinegoro 2017 akan menentukan satu pemenang, Masing-masing pernenang akan menerima uang Rp50.000.000 (potong pajak 10 persen), trofi Anugerah Adinegoro, serta piagam penghargaan dari PWI/Panitia HPN 2018.

Pemenang Anugerah Adinegoro akan menerima penghargaan dalam acara puncak HPN 2018 di Padang, Sumaetra Barat, pada 9  Februari 2018. Adapun kriteria karya adalah, Indepth Reporting: karya yang telah disiarkan antara tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2017. Karikatur opini: karikatur tunggal yang telah disiarkan antara 1 Januari hingga 31 Desember 2017. Foto berita: foto berita yang telah disiarkan di media, antara tanggal 1 Januari hingga 31 Desember2017. News Feature televisi dengan durasi siar maksimal 30 menit, ditayangkan antara tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2017. News Feature radio dengan durasi siar maksimal 30 menit, disiarkan antara tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2017. News feature media siber merupakan karya tunggal yang disiarkan satu kali (bukan seri) antara tanggal 1 Januari hingga 31 Desember 2017.

Tiap peserta secara perorangan atau perusahaan dapat mengirimkan satu jenis karya maksimal 10 karya. Untuk karya tulis cetak dan karikatur disertakan salinan (fotokopl) karya yang disertakan, dalam lirna salinan. Untuk karya foto wajib mengirimkan dalam bentuk tercetak ukuran 10R disertai caption yang ditempel di bagian belakang, serta mengirimkan soft copy melalui email atau dalam bentuk cd/dvd. Untuk karya radio/televisi wajib menyertakan rekaman cd/dvd sebanyak lima rangkap disertai label judul karya.

Untuk karya siber wajib mengirimkan naskah tercetak disertai alamat halaman berita dimaksud, rangkap lima. Seluruh karya disertai cerita singkat mengenai proses pembuatan karya (2-3 paragraf). Tiap peserta menyertakan salinan identitas diri (kartu karyawan)  dan surat pengantar dari redaksi. Tiap karya dikirim dalam sampul tertutup, ditujukan kepada Panitia Anugerah Adinegoro 2017, d.a. PWI Pusat, Gedung Dewan Pers lantai IV, Jalan Kebon Sirih No. 34, Jakarta Pusat 10110. Pada bagian kiri atas sampul dicantumkan kode karya peserta, yaitu: Indepth Reporting Media Cetak, Foto Berita Media Cetak, Karikatur Media Cetak, News Feature Televisi, News Feature Radio, News Feature Media Siber.

Seluruh karya peserta sudah bisa dikirim mulai November 2017 dan batas akhir pengiriman menurut stempel pos pada 2 Januari 2018. Juri terdiri atas  tokoh pers, akademisi yang menguasai bidang jurnalistik sesuai kriteria penilaian dan bekerja secara profesional. Penjurian akan dilakuk:an pada pertengahan pekan kedua dan ketiga Januari 2018. Pemberitahuan pemenang segera setelah para juri menetapkan pemenang.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi: Email: anugerah.adinegoro@yahoo.com

Rita Sri Hasruti (WA; 0812 8970 7333), Ketty Saukoly (WA: 0812 8699 3551), Widya (WA; 0838 1672 5961 atau 021-3453131)