Antara Lazismu dan Garuda Indonesia

Jayakarta News – Lazismu dan Garuda Indonesia tidak ada hubungan bisnisnya. Tapi dua-duanya wajib membuat laporan keuangan tahunan dan sama-sama bikin heboh.

Laporan keuangan tahunan Lazismu menghebohkan, karena berhasil menyabet penghargaan Baznas Award 2019. Untuk kategori laporan keuangan tahunan terbaik, di antara semua lembaga amil zakat nasional yang mengikuti penilaian. Penghargaan itu diterima Lazismu pada hari Senin (26/8).

Laporan keuangan tahunan Garuda Indonesia juga menghebohkan. Laporan itu telah menyebabkan para petinggi perusahaan pelat merah itu harus membayar denda dari otoritas keuangan: gara-gara memasukkan potensi pendapatan iklan jangka panjang sebagai pendapatan tahun buku 2018. Akibat pencatatan tersebut, Garuda Indonesia yang semua rugi besar tiba-tiba untung kecil. Sekitar Rp 70 miliar. Walau kecil, tetapi untung.

Laporan keuangan sejatinya merupakan rapor tahunan bagi semua perusahaan dan koperasi, yang mengelola dana publik. Perusahaan pelat merah wajib karena mengelola dana negara (rakyat). BUMN dan perusahaan swasta yang sudah go public juga wajib karena mengelola dana masyarakat. Koperasi pun kena kewajiban yang sama karena modal koperasi berasal dari anggota.

Lembaga bisnis yang belum masuk pasar bursa pun perlu membuat laporan keuangan tahunan. Laporan itu digunakan untuk menghitung pajak yang harus disetor ke negara. Juga untuk pemberitahuan kepada para pemegang saham apakah akan membagi deviden dan tantiem.

Keberhasilan Lazismu dalam memperoleh penghargaan Baznas Award 2019 ini boleh dibilang sebuah kemajuan. Tahun 2018, laporan keuangan Lazismu hanya mendapat predikat wajar tanpa pengecualian alias WTP. Prestasi tertinggi dalam audit laporan keuangan.

Tahun ini, laporan keuangan itu mendapat dua nilai plus. Pertama, WTP. Sama seperti tahun sebelumnya. Kedua, mendapat penghargaan dari Baznas.

Saya tahu persis, tidak mudah bagi Lazismu untuk menyusun laporan keuangan tahunan itu karena belum selesainya system integrasi laporan keuangannya. Jauh lebih mudah bagi manajemen Garuda Indonesia. Yang semua sistem pelaporannya sudah terintegrasi dalam software akuntansi.

Melihat hasilnya, saya harus memberi apresiasi yang tinggi kepada seluruh jajaran Lazismu. Dari kantor pusat hingga kantor layanan. Yang jumlahnya 700 kantor.

Penghargaan itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah perjuangan panjang para pejuang zakat. Teruslah berkarya membangun kebesaran panji Muhammadiyah, kawan! (jto)

Sarjana Pedalaman

Oleh: Joko Intarto

Jayakarta News – Undangan yang saya terima pagi ini sangat menarik. Pengirimnya Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Pengurus meminta Lazismu hadir dalam acara focus group discussion alias FGD. Membahas rencana baru Majelis: Mengirimkan sarjana ke daerah pedalaman dan terpencil Menjadi penggerak masyarakat di pedesaan miskin.

Bukan baru sekali ini Majelis Tabligh mengirim utusan ke daerah terisolasi. Dua tahun lalu  saya pernah berjumpa dengan seorang ustadz Namanya Ahmad Asli Nusa Tenggara Timur Alumni SMA Muhammadiyah Yogyakarta.

Ia menjadi generasi pertama pengiriman dai pedalaman. Tahun 1969. Saat itu usia saya baru setahun!

Ustadz Ahmad kebetulan ditugaskan ke NTT. Tapi tidak di daerah awalnya. Ia ditugaskan ke daerah Amanuban Timur. Sekarang masuk wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lima jam perjalanan darat dari So’e. Ibukota Kabupaten itu.

Dai adalah pekerjaan yang tidak mengenal pensiun. Dan tidak mengenal gaji.

Hingga usianya yang sudah mendekati 80 tahun, ustadz Ahmad masih terus bekerja. Mengurus masjid milik Muhammadiyah satu-satunya di Amanuban Timur.

Ustadz itu juga mengurus lahan seluas 7 hektar. Wakaf dari seorang jamaah. Mualaf. Hasilnya untuk mengelola sekolah.

Juga untuk menyekolahkan anak-anak yatim dan miskin setempat. Yang berprestasi. Beberapa di antaranya sudah sarjana. Ikut membantunya. Mengurus Muhammadiyah.

Sarjana. Jadi dai. Ditugaskan ke daerah peloso. Di lingkungan hutan. Di gunung-gunung. Di pulau terpencil. Pasti bukan impian anak-anak muda zaman now.

Tidak banyak sarjana yang seperti anak didik Ustadz Ahmad dari Amanuban Timur itu. Tapi harus ditemukan cara. Agar bisa mengirimkan sarjana ke desa-desa.

Harus sarjana? Ya. Itu tuntutan zaman. Tidak cukup lagi dai dengan pendidikan SMA. Karena standar pendidikan masyarakat sudah lebih tinggi.

Adakah yang mau? Ternyata ada. Puluhan jumlahnya. Mereka sekarang sudah siap masuk camp. Mengikuti pelatihan intensif selama 6 bulan. Mendalami kajian-kajian keislaman, kemuhammadiyahan dan sociopreneur.

Untuk mereka itulah saya akan datang sebagai peserta FGD. Mewakili Lazismu. Sebagai organisasi Muhammadiyah yang bertugas menghimpun dan menyalurkan zakat, infak dan sedekah masyarakat.

Dai sarjana pedalaman adalah salah satu program yang menarik. Di tengah semangat pemerintah untuk impor aneka produk. Bahkan sampai mau impor dosen dan rektor segala. (*)

Ada Infak Anda di Rojolele Ini

Joko Intarto dan rojolele Klaten produk Lazismu–foto istimewa

Oleh: Joko Intarto

Ini salah satu hasil nyata zakat, infak dan sedekah untuk produktivitas. Dari zakat, infak dan sedekah Anda, jadilah beras Rojolele organik.

Beras ini bukan sembarang beras. Tetapi beras Rojolele yang ditanam di habitat aslinya: Klaten, Jawa Tengah.

Rojolele Klaten itu karakternya mirip dengan Pandan Wangi Cianjur. Hanya bisa menghasilkan beras dengan citarasa khas di habitat aslinya.

Sifat asli Rojolele itu unik. Tingginya bisa mencapai 160 Cm – 2 meter. Usia panennya 180 hari alias 6 bulan.

Kualitas berasnya memang jos. Tidak ada yang meragukan lagi. Tapi budidayanya sulit. Usia panennya yang 6 bulan merupakan kesulitan tersendiri bagi petani. Dari mana airnya untuk dua bulan tersisa?

Tingginya yang hampir 2 meter juga menjadi masalah. Apalagi produksi gabahnya tergolong tinggi. Batang padi Rojolele yang sudah mulai berisi pasti patah atau rebah kalau tertiup angin kencang. Mati. Gagal panen.

Para petani Klaten kemudian bekerjasama dengan BATAN. Untuk melakukan perbaikan bibit Rojolele. Agar batangnya bisa lebih pendek. Usia panennya juga lebih cepat.

Setelah berlangsung 12 tahun, program perbaikan genetika Rojolele dinyatakan berhasil. Rojolele baru menghasilkan padi dengan tinggi 120 Cm dan usia panen 120 hari. Sama dengan padi pada umumnya.

Citarasa berasnya tidak berubah. Tetap sama seperti aslinya. Pun produktivitasnya tidak menurun.

Keberhasilan ini tentu membahagiakan para petani Klaten. Mereka sekarang mulai menanam Rojolele lagi. Bahkan, Rojolele dianggap sebagai produk beras unggulan asli Klaten untuk pasar beras premium  nasional. Karena hanya di Klaten lah Rojolele bisa tumbuh dan menghasilkan beras yang empuk, pulen dan wangi.

Semangat para petanu itu ditangkap Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Majelis kemudian mengajak Lazismu untuk menggalang zakat, infak dan sedekah untuk program pengembangan Rojolele organik bagi para petani dhuafa di Klaten. Penanaman perdana dilakukan pada tahun 2018 yang lalu.

Sekarang program itu telah menghasilkan panen. Totalnya sudah lebih dari 100 ton beras. Beras sudah dikemas dalam plastik kedap udara dengan berat 1 Kg per bungkus.

Berapa harganya? Harga jual di tingkat petani Klaten Rp 20.000 per Kg. Harga di Jakarta naik karena ada ongkos kirim dari Klaten Rp 2.000 per Kg ditambah infak Rp 3.000 per Kg. Jadinya Rp 25.000 per Kg.

“Lazismu ini bukan lembaga bisnis. Kelebihan atas harga akan dicatat sebagai infak. Bukan keuntungan,” kata Eny Wijayanti, ketua badan pengurus Lazismu yang menjadi project manager Rojolele Klaten itu.

Program Rojolele van Klaten itu rupanya menarik perhatian banyak pihak. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, misalnya, langsung berlangganan 10 ton per bulan. Khusus untuk memenuhi kebutuhan dosen dan karyawan UMY.

Rumah Sakit Islam Pondok Kopi Jakarta Timur juga langsung menyatakan minatnya untuk jatah konsumsi karyawan dan pasien. “Gudang kebencanaan Lazismu Manggarai Jakarta Selatan juga mendapat order dari donatur sebanyak 1 ton Rojolele Klaten,” kata Lambang Saribuana.

Tidak semuanya pembeli besar. Ada juga pembeli kecil. Misalnya, saya. Hanya membeli 5 Kg untuk kebutuhan konsumsi di rumah sendiri.

Nah, kalau Anda juga mau, bolehlah nitip beli lewat saya….***

Lazismu Buka Kantor di Empat Negara

SEBUAH keputusan penting ditetapkan dalam rapat pleno Lazismu di Jogja, malam ini. Lazismu memastikan segera meresmikan empat kantor layanan di luar negeri, masing-masing Malaysia, Korea Selatan, Taiwan dan Mesir.

Bila dimungkinkan, target akan ditambah dengan Singapura dan Australia. Khusus untuk dua negara tersebut, Lazismu akan mendiskusikan lebih lanjut.

Dalam rapat pleno yang dihadiri mayoritas Badan Pengurus dan Eksekutif Lazismu tersebut, Hilman Latief selaku Ketua menyampaikan bahwa rencana pembukaan kantor baru di empat negara tersebut sebagai respon atas permintaan warga Muhammadiyah di negara-negara tersebut.

Untuk Taiwan dan Mesir, lanjut Hilman, kesiapan eksekutifnya sudah 100 persen. Bahkan, kantornya sudah ada. Eksekutifnya juga sudah bekerja dan secara rutin membuat laporan penghimpunan.

Direncanakan, Badan Pengurus dan Eksekutif Lazismu akan segera mengunjungi keempat negara tersebut pada bulan Mei. Hilman mengingatkan bahwa para eksekutif manca negara meminta peresmian kantor dilakukan sebelum Ramadan agar pada bulan suci tersebut, semua kantor Lazismu di luar negeri sudah bisa memberi pelayanan secara penuh sesuai regulasi di masing-masing negara. ***

Posko Al-Ma’un, Gerakan Sosial Lintas Batas

SEJAK Maret lalu, PP Muhammadiyah kedatangan ‘’tamu’’ yang tak diduga-duga. Jumlahnya juga cukup besar: 217 orang.  Mereka bukan tamu biasa. Mereka para penduduk desa Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang mengungsi karena kehilangan tanah dan rumah, akibat bersengketa hukum dengan PT Pertiwi Lestari.

Kedatangan mereka ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah itu sebenarnya hanya untuk ‘’mampir’’ saja. Tujuan utama mereka berdemonstrasi di depan Istana Negara, mengadukan nasibnya kepada Presiden. Pagi hingga petang mereka menggelar demonstrasi. Malamnya, mereka berniat menginap di depan istana.

Karena tidak mendapat izin, mereka kemudian mencari tempat singgah. Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah akhirnya menjadi pilihan. Kebetulan lokasinya tak jauh dari kompleks istana. Hanya beberapa ratus meter saja. Sebagai tuan rumah, PP Muhammadiyah tidak bisa menolak kedatangan mereka. Apalagi, kondisi sudah menjelang malam dan ada puluhan di antara mereka yang masih berusia remaja dan balita.

PP Muhammadiyah kemudian memerintahkan semua majelis dan lembaga untuk bahu-membahu melayani para pengungsi. Bergotong royonglah Pemuda Muhammadiyah, Lazismu, Nasyiatul Aisyiyah, MPS, MPKU, MDMC dan Kokam membentuk Posko Al-Ma’un.

Gayung bersambut. Sejumlah lembaga lain ikut bergabung. Jadilah Posko Al-Ma’un sebagai Gerakan Lintas Jaringan Kemanusiaan yang terdiri dari Muhammadiyah, Lembaga Daya Dharma-KWI, Persatuan Gereja Indonesia, LPBI Nahdlatul Ulama, Lazismu, Yayasan Kanisius, Dompet Dhuafa, PKPU, LBH Jakarta, LBH Bandung, Nasyiatul Aisyiyah, Kementerian Sosial, Wahana Visi Indonesia, Rumah Zakat, Berkah Mirza Insani dan Serikat Tani Teluk Jambe.

Setelah tiga hari ditampung di kompleks masjid At-Taqwa, pada hari keempat mereka direlokasi ke Gedung Serba Guna milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Hari berganti minggu. Tak terasa, sudah hampir sebulan mereka dalam pelayanan sosial Pos Al-Ma’un. Mediasi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang dan PT Pertiwi Lestari terus dilakukan, namun belum juga diperoleh titik terang.

Dalam penantian itulah, terbersit keinginan menempatkan para pengungsi ke sebuah gedung bekas sekolah Muhammadiyah di Jalan Petojo Sabangan VI, Gambir, Jakarta Pusat. Gedung berukuran 256 meter persegi itu statusnya sudah lama kosong.  Survey dilakukan. Hasilnya, gedung bisa digunakan dengan sejumlah perbaikan. Semua rangka atap harus diganti karena telah lapuk. Namun temboknya masih cukup kokoh.

Rencana renovasi atap pun dilakukan. Pekerjaan akan dilakukan selama sepekan, dimulai Sabtu (8/4). Nama baru sudah disiapkan, yakni ‘’Rumah Al-Ma’un’’. Mendadak, rencana renovasi Rumah Al-Ma’un harus dibatalkan. Sebab, pada hari Senin (3/4), bangunan sekolah itu ambruk diterjang hujan deras dan angin kencang. Tidak ada bagian bangunan yang bisa diselamatkan. Rumah Al-Ma’un harus dibangun dari awal. ***