Sarjana Pedalaman

Oleh: Joko Intarto

Jayakarta News – Undangan yang saya terima pagi ini sangat menarik. Pengirimnya Majelis Tabligh PP Muhammadiyah.

Pengurus meminta Lazismu hadir dalam acara focus group discussion alias FGD. Membahas rencana baru Majelis: Mengirimkan sarjana ke daerah pedalaman dan terpencil Menjadi penggerak masyarakat di pedesaan miskin.

Bukan baru sekali ini Majelis Tabligh mengirim utusan ke daerah terisolasi. Dua tahun lalu  saya pernah berjumpa dengan seorang ustadz Namanya Ahmad Asli Nusa Tenggara Timur Alumni SMA Muhammadiyah Yogyakarta.

Ia menjadi generasi pertama pengiriman dai pedalaman. Tahun 1969. Saat itu usia saya baru setahun!

Ustadz Ahmad kebetulan ditugaskan ke NTT. Tapi tidak di daerah awalnya. Ia ditugaskan ke daerah Amanuban Timur. Sekarang masuk wilayah Kabupaten Timor Tengah Selatan. Lima jam perjalanan darat dari So’e. Ibukota Kabupaten itu.

Dai adalah pekerjaan yang tidak mengenal pensiun. Dan tidak mengenal gaji.

Hingga usianya yang sudah mendekati 80 tahun, ustadz Ahmad masih terus bekerja. Mengurus masjid milik Muhammadiyah satu-satunya di Amanuban Timur.

Ustadz itu juga mengurus lahan seluas 7 hektar. Wakaf dari seorang jamaah. Mualaf. Hasilnya untuk mengelola sekolah.

Juga untuk menyekolahkan anak-anak yatim dan miskin setempat. Yang berprestasi. Beberapa di antaranya sudah sarjana. Ikut membantunya. Mengurus Muhammadiyah.

Sarjana. Jadi dai. Ditugaskan ke daerah peloso. Di lingkungan hutan. Di gunung-gunung. Di pulau terpencil. Pasti bukan impian anak-anak muda zaman now.

Tidak banyak sarjana yang seperti anak didik Ustadz Ahmad dari Amanuban Timur itu. Tapi harus ditemukan cara. Agar bisa mengirimkan sarjana ke desa-desa.

Harus sarjana? Ya. Itu tuntutan zaman. Tidak cukup lagi dai dengan pendidikan SMA. Karena standar pendidikan masyarakat sudah lebih tinggi.

Adakah yang mau? Ternyata ada. Puluhan jumlahnya. Mereka sekarang sudah siap masuk camp. Mengikuti pelatihan intensif selama 6 bulan. Mendalami kajian-kajian keislaman, kemuhammadiyahan dan sociopreneur.

Untuk mereka itulah saya akan datang sebagai peserta FGD. Mewakili Lazismu. Sebagai organisasi Muhammadiyah yang bertugas menghimpun dan menyalurkan zakat, infak dan sedekah masyarakat.

Dai sarjana pedalaman adalah salah satu program yang menarik. Di tengah semangat pemerintah untuk impor aneka produk. Bahkan sampai mau impor dosen dan rektor segala. (*)

Posko Al-Ma’un, Gerakan Sosial Lintas Batas

SEJAK Maret lalu, PP Muhammadiyah kedatangan ‘’tamu’’ yang tak diduga-duga. Jumlahnya juga cukup besar: 217 orang.  Mereka bukan tamu biasa. Mereka para penduduk desa Teluk Jambe, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, yang mengungsi karena kehilangan tanah dan rumah, akibat bersengketa hukum dengan PT Pertiwi Lestari.

Kedatangan mereka ke Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah itu sebenarnya hanya untuk ‘’mampir’’ saja. Tujuan utama mereka berdemonstrasi di depan Istana Negara, mengadukan nasibnya kepada Presiden. Pagi hingga petang mereka menggelar demonstrasi. Malamnya, mereka berniat menginap di depan istana.

Karena tidak mendapat izin, mereka kemudian mencari tempat singgah. Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah akhirnya menjadi pilihan. Kebetulan lokasinya tak jauh dari kompleks istana. Hanya beberapa ratus meter saja. Sebagai tuan rumah, PP Muhammadiyah tidak bisa menolak kedatangan mereka. Apalagi, kondisi sudah menjelang malam dan ada puluhan di antara mereka yang masih berusia remaja dan balita.

PP Muhammadiyah kemudian memerintahkan semua majelis dan lembaga untuk bahu-membahu melayani para pengungsi. Bergotong royonglah Pemuda Muhammadiyah, Lazismu, Nasyiatul Aisyiyah, MPS, MPKU, MDMC dan Kokam membentuk Posko Al-Ma’un.

Gayung bersambut. Sejumlah lembaga lain ikut bergabung. Jadilah Posko Al-Ma’un sebagai Gerakan Lintas Jaringan Kemanusiaan yang terdiri dari Muhammadiyah, Lembaga Daya Dharma-KWI, Persatuan Gereja Indonesia, LPBI Nahdlatul Ulama, Lazismu, Yayasan Kanisius, Dompet Dhuafa, PKPU, LBH Jakarta, LBH Bandung, Nasyiatul Aisyiyah, Kementerian Sosial, Wahana Visi Indonesia, Rumah Zakat, Berkah Mirza Insani dan Serikat Tani Teluk Jambe.

Setelah tiga hari ditampung di kompleks masjid At-Taqwa, pada hari keempat mereka direlokasi ke Gedung Serba Guna milik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, di Jalan KH Mas Mansyur, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Hari berganti minggu. Tak terasa, sudah hampir sebulan mereka dalam pelayanan sosial Pos Al-Ma’un. Mediasi dengan Pemerintah Kabupaten Tangerang dan PT Pertiwi Lestari terus dilakukan, namun belum juga diperoleh titik terang.

Dalam penantian itulah, terbersit keinginan menempatkan para pengungsi ke sebuah gedung bekas sekolah Muhammadiyah di Jalan Petojo Sabangan VI, Gambir, Jakarta Pusat. Gedung berukuran 256 meter persegi itu statusnya sudah lama kosong.  Survey dilakukan. Hasilnya, gedung bisa digunakan dengan sejumlah perbaikan. Semua rangka atap harus diganti karena telah lapuk. Namun temboknya masih cukup kokoh.

Rencana renovasi atap pun dilakukan. Pekerjaan akan dilakukan selama sepekan, dimulai Sabtu (8/4). Nama baru sudah disiapkan, yakni ‘’Rumah Al-Ma’un’’. Mendadak, rencana renovasi Rumah Al-Ma’un harus dibatalkan. Sebab, pada hari Senin (3/4), bangunan sekolah itu ambruk diterjang hujan deras dan angin kencang. Tidak ada bagian bangunan yang bisa diselamatkan. Rumah Al-Ma’un harus dibangun dari awal. ***