Zona Hijau Bukan Berarti Bebas Covid 19, Waspadalah!

JAYAKARTA NEWS— Meski wilayah tempat tinggal anda berada di zona hijau, ataupun anda tengah berada di zona hijau, namun bukan berarti bebas Covid 19. Setiap orang tetap lah harus waspada meski tengah berada di zona hijau. Cara praktis untuk selalu waspada adalah memakai masker, rajin cuci tangan dan jaga jarak (social distancing).

Penegasan pentingnya selalu waspada disampaukan  Ahli Epidemiologi Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Dewi Nur Aisyah. “Walaupun suatu wilayah dikategorikan sebagai zona hijau, belum tentu wilayah tersebut aman dari penularan Covid 19,” tegas Dewi Nur Aisyah dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta (8/7).

Sebagaimana diketahui, Gugus Tugas Nasional melakukan pemutakhiran data zonasi risiko daerah per 5 Juli 2020 yang menampilkan 104 kabupaten dan kota yang terdaftar dalam zona hijau atau wilayah tidak terdampak Covid 19.

“Warna hijau belum tentu aman. Jadi jangan pernah mengatakan ada wilayah yang aman karena masing-masing wilayah punya risiko,” tambahnya.

Menurutnya, kabupaten/kota yang berada di zona hijau bukan berarti menjadi wilayah yang mutlak aman Covid 19. Gugus Tugas Nasional membuat zonasi wilayah untuk mengukur risiko di sebuah wilayah, seberapa rendah, sedang, atau tinggi berdasarkan 15 indikator kesehatan masyarakat.

Kabupaten/kota yang berada di zona hijau diartikan bahwa wilayah tersebut memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan dengan zona yang berwarna kuning atau orange dan merah.

Selanjutnya, Dewi juga menjelaskan bahwa pada masa adaptasi kebiasaan baru, pemerintah dengan hati-hati menentukan sektor mana saja yang dapat beroperasi terlebih dahulu. Untuk sektor pariwisata baru hanya dibuka untuk kawasan wisata alam serta konservasi dan baru akan dibuka untuk zona hijau dan kuning.

Pembukaan sektor dan aktivitas di setiap zona juga dilakukan secara bertahap, terlebih dengan adanya peningkatan kasus positif Covid-19 yang masih terus meningkat. Dewi mengimbau kepada masyarakat yang ada di zona hijau atau ingin berpergian ke zona hijau untuk tetap waspada dan tidak menganggap bahwa zona hijau berarti tidak ada potensi penularan Covid-19.

“Jangan menganggap karena zona hijau, kita bisa kesana atau liburan kesana saja. Justru kalau tidak hati-hati nanti jadi sumber penularan dan bisa jadi imported case karena dari luar masuk ke zona hijau. Jadi tidak bisa dengan cepat melihat kalau hijau berarti aman. Intinya kita masih dalam masa-masa yang harus tetap waspada,” ujarnya.

Evaluasi Kinerja Daerah Dalam Menangani Covid 19

Dinamika perubahan zonasi yang terjadi dapat menjadi evaluasi bagi pemerintah daerah dalam upaya penanganan Covid 19 di daerah masing-masing. Dewi menambahkan bahwa Gugus Tugas Nasional memberikan tenggat waktu dua minggu untuk pemerintah daerah mengevaluasi kinerjanya jika terjadi perubahan zonasi wilayahnya ke arah yang lebih besar risiko terpapar Covid 19 maka sektor tersebut (selain sektor esensial) harus ditutup. 

“Jika suatu daerah yang hijau atau kuning berubah jadi orange, tidak serta merta langsung ditutup (sektor wisata yang sudah diizinkan beroperasi). Kita beri waktu dua minggu apakah daerah tersebut bisa kembali menjadi zona hijau atau kuning.”

“Dengan begitu pemerintah daerah dapat berusaha dan tahu apa yang harus diperbaiki. Faktor penyebabnya apakah ada angka kematian meningkat atau orang yang dirawat sangat tinggi. Jika dalam dua minggu masa evaluasi tetap di zona orange maka daerah tersebut harus dilakukan pengetatan dan menghentikan kegiatan-kegiatan yang berpotensi untuk menularkan Covid 19,” jelas Dewi.

Lebih lanjut, Dewi menjelaskan jumlah pengetesan di tiap kabupaten/kota berbeda-beda. Hal ini juga dapat tergambar dariangka positivity rate atau tingkat kepositifan dari hasil uji spesimen dengan total jumlah orang yang diperiksa pada setiap wilayah. Hal ini juga digunakan sebagai dasar evaluasi penentuan wilayah mana saja yang jumlah pemeriksaan laboratoriumnya harus ditingkatkan.

Ada pun pengukuran zona dilakukan secara kumulatif mingguan sehingga kurva epidemiologi yang didapatkan bisa lebih menggambarkan kondisi yang terjadi pada wilayah tersebut.***/ebn

Terapi Plasma Convalescent untuk Pasien Covid 19, Ini Penjelasannya

JAYAKARTA NEWS Berbagai pendekatan medis diinisiatif banyak pihak untuk membantu penanganan pasien positif Covid 19.  Salah satunya terapi plasma convalescent yang dipraktekkan di sejumlah negara dengan tingkat keberhasilan berbeda.

Mengutip info dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional, terapi ini menggunakan plasma pasien yang sudah sembuh. Menurut Direktur Lembaga Molekuler Eijkman Prof Amin Soebandrio, tubuh manusia akan terbentuk antibodi ketika terinfeksi jamur, bakteri atau virus. Terapi plasma merupakan pendekatan dengan mekanisme itu.

“Nah, antibodi itu ketika pasiennya sudah sembuh berarti pasiennya sudah bisa mengatasi infeksinya itu bisa dipakai untuk membantu orang lain yang masih sedang sakit. Jadi prinsipnya seperti zona,” jelas Amin dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Nasional, Jakarta, pada Jumat (26/6).

Ia mengungkapkan, pengambilan plasma melalui tahapan yang dipastikan aman dan cocok untuk pasien. Plasma itu selanjutnya diberikan kepada pasien yang masih dirawat atau yang dalam keadaan sakit berat. 

“Karena plasma ini bisa mengeliminasi atau mengimobilisasi virusnya, maka diharapkan lingkaran infeksi itu akan terputuskan sehingga pasien bisa terhindar dari serangan virus itu kemudian bisa memperbaiki jaringannya yang sudah rusak kemudian dan bergiliran akan memperbaiki sistem imunnya, begitu seterusnya,” jelas Amin mengenai prinsip terapi.

Pengambilan plasma, jelas Amin, dilakukan pada pendonor yang sehat dan berjenis kelamin laki-laki meskipun perempuan berpeluang. Pemilihan jenis kelamin karena laki-laki tidak memiliki antigen HLA. 

“Itu mungkin yang akan bisa membuat masalah di resipiennya. Kalau perempuan boleh, bersyaratnya tidak boleh sedang hamil atau bisa dipastikan bisa diperiksa. Kemudian kita mesti memastikan kondisi kesehatan yang lainnya, laboratorium harus baik, Covidnya harus negatif, dan persyaratan donor darah harus terpenuhi. Misalnya dia tidak boleh mengandung malaria, virus HIV, hepatitis dan sebagainya. Itu harus negative,” paparnya.

Sebelum mendonorkan plasmanya, pendonor juga harus memenuhi melengkapi berkas administrasi, seperti surat kesediaan. 

Terapi yang berlangsung baik memperhatikan tiga komponen, yaitu pendonor yang sehat, produk yang baik, dan penerima plasma. Terkait dengan produk, Amin menjelaskan bahwa produk tersebut memiliki antibodi dalam kadar yang cukup. 

“Kemudian yang ketiga penerimanya harus tidak boleh ada ketidakcocokan golongan darah walaupun lebih ringan dari persyaratan golongan darah karena ini hanya plasma ya,” lanjutnya.

Di samping itu, Amin menambahkan bahwa terapi plasma convalescent ini tidak boleh untuk pencegahan. Terapi diberikan kepada pasien yang kondisinya menengah hingga berat. Sekali lagi Amin menekankan bahwa pendekatan plasma ini adalah terapi dan bukan pencegahan. “Jadi dia tidak menggantikan vaksin,” tegasnya.

Jadi plasma convalescent ini adalah imunisasi pasif. Artinya antibodi sudah ada di luar dan sudah terbentuk. Itu yang diberikan kepada pasien. 

“Kalau imunisasi aktif itu yang vaksinasi. Yang menggunakan vaksin, kemudian kita memasang antibodi dalam tubuh manusianya. Jadi berbeda. Jadi kita tidak perlu menunggu sampai ada vaksin kemudian ini dihentikan. Sebenarnya ini bisa jalan terus, ada atau tidak ada vaksin, pendekatan ini masih bisa terus dijalankan kalau ada pasiennya,” lanjutnya.***/ebn

Kampanye Lagu ‘Panggilan untuk Indonesia’ di Tengah Pandemi

JAYAKARTA NEWS— Spesialis neurologi, dr Edi Prasetyo menggandeng Gerakan Seribu Untuk Indonesia (GSUI) untuk mengampanyekan lagu ciptaannya bertajuk ‘Panggilan untuk Indonesia’. Lagu tersebut  didedikasikan untuk tenaga non medis di garda depan di tengah pandemi wabah C19.

“Ajakan ini buat kita semua untuk memerangi wabah Corona. Sama-sama menjaga kesehatan buat diri sendiri, buat keluarga maupun buat kesehatan bangsa Indonesia,” kata dr Edi Prasetyo yang mengajak komposer Tya Subiakto dan Agyl Shahriar untuk mengaransemen lagu tersebut.

Pembagian sembako dan masker di kantor GSUI —foto Humas GSUI

Lagu tersebut adalah pengalaman pribadi dirinya, betapa sulitnya menghadapi pandemi wabah C19. Vaksin penyembuh belum ditemukan. Sedangkan dr Lili dari RSCM meminta agar warga mengikuti prosedur protokol kesehatan oleh pemerintah.

“Perbanyak makan sayuran dan buah-buahan yang bisa menekan stress akibat pandemi panjang ini,” ujar dr Lili.

Sementara Ketua GSUI, Muhanto Hatta akan membagikan sebanyak 10.000 masker di 10 kota di seluruh Indonesia yang terkena zona merah. “Kami berterima kasih kepada para donatur seperti Yusoff Family dari Singapura, Rotary Club, Yayasan Cahaya Peduli dan saudara-saudara kita dari Pontianak,” tandas Muhanto Hatta. (pik)

GSUI Bagikan Donasi kepada Seniman Musik

JAYAKARTA NEWS— DI masa pandemi Corona, banyak seniman musik yang dulu bekerja di hotel, kafe dan resto, kini menganggur. Mujib Hermani selaku Ketua Federasi Pekerja Seni mencatat, ada sekitar 250 seniman musik yang kini tak bekerja lagi. Mereka banyak yang bertanya dimana tempat peminjaman beras.

Mujib bahkan mendirikan dapur umum di sejumlah titik di kampung Makassar, Pisangan dan Bojong Kulur di Bogor. “Kami berterima kasih kepada Gerakan Seribu Rupiah Untuk Indonesia (GSUI) yang membagikan 1000 paket sembako untuk pekerja seni. Semoga pembagian donasi ini bisa memutus mata rantai penyebaran Corona,” kata Mujib.

“Makin ke sini donatur makin banyak datang. Hampir tiap hari mereka datang,” ujar Harry ‘Koko’ Santoso, salah seorang penggagas GSUI. Semoga energi positif ini bisa menyebar ke musisi lain dengan harapan agar ikut ambil bagian demi meringankan beban masyarakat khususnya seniman musik.

Sementara Sekjen GSUI, Carla Ideas mengemukakan, pembagian sembako menyasar di sekitar Jakarta, Bogor dan Bekasi. Pada hari itu juga donasi diberikan kepada Robbie M mewakili seniman Depok, Octa Q mewakili Bekasi dan Benny Benke mewakili Komunitas Pewarta Hiburan (Kophi).

Kali ini, GSUI menggandeng dan mendapat bantuan dari Hendardi (Setara Institut), Fariz RM Management, Bingky Carburator  Springs Bintaro, Muliano dari Singapura dan Kominitas pribadi Baja dan Karyanta.

Permata Belladonna dari Management Fariz RM menegaskan awalnya donasi ini diperuntukkan untuk para janda, panti jompo, yatim piatu dll. Karena ada pandemi Corona   dialihkan kepada seniman musik.

“Sumbangan ini datang dari kantung pribadi kami,” timpal Permata Belladonna yang menambahkan, hingga saat ini pihaknya sudah menyumbangkan 1900 paket sembako dari sebanyak 3000 paket. (pik)

10.000 Sukarelawan Covid 19 Dapat Dukungan Asuransi Bank Danamon

JAYAKARTA NEWS— Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid  19 mendapatkan dukungan donasi asuransi Bank Danamon yang diperuntukkan bagi 10.000 sukarelawan. Ketua Gugus Tugas Nasional Doni Monardo menerima bantuan yang secara simbolis berlangsung di Graha BNPB, Jakarta, Jumat (8/5).

Bantuan asuransi ini merupakan bentuk perlindungan yang diberikan kepada para (suka)relawan Covid 19. Donasi Bank Danamon yang berbentuk premi asuransi jiwa dan jaminan kecelakaan kerja akan dikelola oleh BPJamsostek, di bawah koordinasi BNPB.

Dalam keterangan pers pihak Bank Danamon, perlindungan ini diharapkan dapat memberikan dukungan dan ketenangan pikiran kepada para relawan. Mereka juga pejuang garda terdepan dalam memutus rantai penyebaran Covid 19. 

Doni Monardo yang sekaligus Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas dukungan Bank Danamon untuk penanganan Covid 19 ini. Saat bertemu dengan perwakilan dari Bank Danamon, ia menjelaskan bahwa bantuan dari Bank Danamon sangat mulia dengan memberikan bantuan bagi para relawan yang bekerja untuk membantu penanganan Covid  19 di tanah air. 

“Kami dari awal membuat metode dalam penanganan bencana nonalam ini secara paralel dari lima komponen yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas dan media massa, pentaheliks sebagai ujung tombak. Apa yang dilakukan Bank Danamon sekaligus menjadi bagian dari komponen tersebut. Sekali lagi terima kasih,” ujar Doni pada Jumat (8/5).

Sementara itu, Direktur Utama Bank Danamon Yasushi Itagaki mengatakan bahwa pihaknya menyampaikan terima kasih atas kerja keras dan pengabdian para relawan dalam membantu negara dan masyarakat menanggulangi Covid  19. Ia juga menyampaikan bahwa mereka menghadapi risiko baik terhadap kesehatan maupun keselamatannya. 

“Kami berkomitmen untuk memberikan perlindungan asuransi kepada 10.000 relawan medis dan nonmedis di bawah koordinasi BNPB. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada BNPB dan BPJamsostek yang bekerja sama dengan kami dalam penyaluran bantuan perlindungan ini,” ujar Yasushi.

Hingga 6 Mei 2020, total relawan yang telah mendaftar kepada Gugus Tugas Nasional berjumlah 29.616 orang. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 6,767 orang sebagai relawan medis dan tenaga medis lainnya, sedangkan sisanya sebagai relawan nonmedis.***/non

Pemkab Bantul Khawatir, Jumlah Positif Covid 19 Melonjak

JAYAKARTA NEWS— Info mengkhwatirkan dibagi Pemerintah Kabupaten Bantul, Yogyakarta, lewat akun twitternya. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir jumlah warga yang terinfeksi Covid 19 mengalami lonjakan mengkhawatirkan.

“Sampai dengan saat ini tanggal 7 Mei 2020 sudah 32 orang positif serta sebagian yang lain menunggu proses uji lab,” demikian info yang dishare Pemkab Bantul.

Dari hasil penelusuran terhadap kasus yang  positif ditemukan adanya transmisi/penularan lokal yang ditandai  dengan penularan terhadap orang lain tanpa harus bepergian keluar wilayah atau bertemu dengan orang asing dari luar wilayah.

Kasus transmisi lokal di antaranya terjadi di wilayah Kecamatan Sewon, Kasihan, Piyungan dan Kecamatan Banguntapan yang telah dilakukan uji test dengan hasil positif terinfeksi  Covid 19.

Masyarakat Bantul menunggu giliran rapid test–foto bantulkab.go.id

Pemkab Bantul berharap ada  kesadaran semua pihak agar penyebaran bisa diputus dengan tetap menjalankan aturan pemerintah. Yakni; jaga jarak dengan siapapun, hindari kerumunan, tidak keluar rumah kecuali hal sangat penting, rajin cuci tangan, penerapan PHBS, wajib pakai masker dan Isolasi Mandiri selama 14 hari bagi yang baru bepergian luar daerah.

Terkait rapid test, Pemkab Bantul baru-baru ini melakukan rapid test terhadap warga yang rentan penularan Covid 19. Test tersebut dilakukan di Kantor Dinas Kesehatan Pemkab Bantul pada Selasa (5/5/2020). Test ini akan diadakan lagi pada 12 Mei 2020 mendatang.

“Kegiatan rapid test ini sekaligus upaya monitoring terhadap kondisi imunitas masyarakat,” kata Ketua Harian Gugus Tugas Covid-19 Kabupaten Bantul, Drs Helmi Jamharis, sebagaimana dikutip dari laman bantulkab.go.id

Menurutnya, kesempatan ini diperuntukkan bagi siapa saja khususnya warga yang rentan terhadap penularan Virus Covid-19. Di antaranya, pernah berkunjung di kota-kota yang termasuk zona merah dalam waktu 14 hari ke belakang dan pernah melakukan kontak langsung dengan pasien positif dalam waktu 14 hari ke belakang.

Untuk mengikuti rapid test ini caranya adalah warga mendaftar melalui aplikasi dengan alamat : deteksicorona.bantulkab.go.id/rapidtest. “Gugus tugas berharap mereka yang mendaftar mengisi data dengan jujur dan tunggu rekomendasi yang dikeluarkan oleh aplikasi tersebut,” tambah Helmi.***/ebn

Ahli Gizi: Ikan Kembung Kaya Omega 3

JAYAKARTA NEWS— Ada banyak makanan yang mengandung protein, salah satunya adalah ikan kembung. Ikan ini bukan hanya bisa memenuhi asupan protein sehari-hari tapi juga kaya akan Omega-3. Dengan begitu masyarakat tidak harus memburu ikan-ikan mahal, cukup dengan ikan kembung yang harganya terjangkau dan mudah didapat.

“Omega-3 bukan hanya di ikan salmon ya ternyata di ikan kembung pun itu tinggi Omega-3-nya sehingga tidak usah mahal-mahal kita buru ikan yang mahal tapi bisa ikan seperti ikan kembung yang harganya murah dan terjangkau dan kualitas proteinnya sama dengan protein hewani yang lain,” kata Triyani Kresnawan , Pengurus Dewan Pusat Perwakilan Persatuan Ahli Gizi (DPP Persagi) dalam konferensi video di Kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (7/5).

Asam lemak Omega-3 memiliki banyak manfaat kesehatan seperti membantu relaksasi otot, pencernaan dan pembekuan darah. Selain itu, masyarakat di rumah juga bisa mencukupi kebutuhan protein dengan bahan pangan yang mudah terjangkau dan bervariasi seperti tahu, tempe dan telur, sehingga tidak selalu harus makan daging dan ikan.

Dia menuturkan harus memperhatikan gizi seimbang seperti asupan protein, karbohidrat, sayur dan buah. Memang pada daging, terdapat kandungan asam amino yang lebih banyak dibandingkan tahu dan tempe. Kacang hijau juga merupakan sumber protein yang tinggi dan bisa dijadikan sebagai “snack” di rumah.

Masyarakat di rumah juga dapat berkreasi dengan masakan sehingga meski dengan bahan yang sama berkali-kali tapi menu makanan tetap menarik dan nikmat.***/non

Inilah Makanan untuk Maksimalkan Imunitas Tubuh

JAYAKARTA NEWS— Salah satu manfaat mengkonsumsi protein adalah untuk meningkatkan atau mengoptimalkan imunitas dari tubuh, mengganti jaringan jaringan yang rusak, dan menguatkan otot-otot supaya tidak terjadi malnutrisi. Itu sebabnya pada pasien dalam pengawasan (PDP) Covid 19 yang dirawat di rumah sakit selain diberi makanan berkalori tinggi juga mengandung protein yang tinggi selama proses perawatan.

“Protein untuk pasien-pasien yang terinfeksi itu memang lebih tinggi dari daripada kebutuhan orang normal karena protein ini salah satunya berguna untuk meningkatkan atau mengoptimalkan imunitas dari tubuh, mengganti jaringan jaringan yang rusak, dan menguatkan otot-otot supaya tidak terjadi malnutrisi.”

“Selain protein, pasien-pasien tersebut juga membutuhkan energi atau kalori yang lebih tinggi dari kebutuhan normal,” jelas Triyani Kresnawan, Pengurus Dewan Pusat Perwakilan Persatuan Ahli Gizi (DPP Persagi), dalam konferensi video “Protein Sebagai Penambah Stamina” di Kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Kamis (7/5).

Jika pasien mengalami panas atau demam dengan kenaikan suhu satu derajat di atas 37 derajat Celcius, maka pasien membutuhkan tambahan energi 13 persen.”Biasanya kita memberikan diet untuk pasien-pasien yang dirawat di Wisma Atlet atau di rumah-rumah sakit Covid-19 yaitu energi tinggi dan protein tinggi untuk pasien yang masih sadar penuh jadi makan per orang,” tuturnya.

Untuk pasien yang tidak sadar atau dalam keadaan kritis, rekomendasi asupan gizinya berbeda.

Masyarakat umum, orang sehat, atau orang dalam pemantauan (ODP) yang tidak terinfeksi Covid-19 yang berada di rumah juga harus tetap mengkonsumsi menu gizi seimbang. Mereka tetap butuh zat gizi makro seperti protein, karbohidrat, lemak, serta sayur dan buah.

Konsumsi makanan bergizi sangat penting dalam membentuk sistem kekebalan tubuh yang kuat. Sumber karbohidrat antara lain nasi dan jagung. Sumber protein antara lain daging, ayam, telur, tahu, tempe dan kacang hijau.  Contoh menu sarapan pagi adalah nasi putih, telur mata sapi, dan sup wortel.

Triyani mengimbau masyarakat Indonesia untuk memberikan perhatian khusus untuk mengkonsumsi sayur dan buah untuk gizi seimbang. “Kita anjurkan sayur buah tolong diperhatikan,” tuturnya.

Terkait penambahan energi dan protein, perlakuanya seperti biasanya menu terdiri dari nasi, sayur, buah dan ikan 50 gram, maka konsumsi ikan ditambah menjadi 100 gram agar asupan protein bertambah.

Kemudian, energi yang ditambah 13 persen bisa diperoleh dari tambahan porsi dari kebutuhan sumber energi seperti nasi atau sumber karbohidrat lain.***/non

Lions Clubs Distrik 307A-1 Beri Bantuan pada RS Atma Jaya

JAYAKARTA NEWS— Lions Clubs Distrik 307A-1 memberikan sumbangsihnya kepada RS Atma Jaya di Jakarta sebagai wujud keseriusan melawan pandemi covid-19 di Indonesia. Bantuan yang diberikan berupa Hazmat Suits sebanyak 125 pieces, Surgical Masks 40 box, Surgical Gloves 20 box, Face Shield 150 pieces, Safety boots 100 pairs, Thermometer gun 3 pieces dan Hand Sanitizer 2 x 5 L.

Bantuan ini adalah bagian dari serangkaian kegiatan yang telah dilakukan oleh LCIF  (Lions Club International Foundation)  termasuk pemberian bantuan serupa kepada  RS lainnya dan penyediaan hand washing stations di berbagai lokasi di DKI Jakarta.

Anggota Lions Clubs District 307A1 pun telah dan terus melakukan berbagai kegiatan termasuk pemberian bantuan ke RS dari Sabang sampai Merauke, pemberian hand washing stations di teman-teman padat kegiatan di berbagai lokasi di Jakarta dan luar Jakarta, pemberian masker dan hand sanitizera untuk warga, pemberian bantuan pangan untuk warga yang membutuhkan, dan bekerja sama untuk pemberdayaan warung setempat  membuka warung Rp5.000 di berbagai kawasan di DKI Jakarta dan Lampung.

Sementara Gubernur Lions Club Distrik 307-A1 Anwar Budiman yang datang bersama tim termasuk mantan gubernur distrik PDG Dewi Sri menyebutkan, khusus penanggulangan Covid-19, Lions Club District 307A1 akan terus menyalurkan berbagai bantuan baik kepada Rumah Sakit yang membutuhkan maupun bantuan langsung kepada masyarakat yang terkena akibat dari Covid 19 ini. Anwar Budiman mengharapkan, kegiatan program aksi ini akan terus berjalan seiring berakhirnya virus corona d berbagai daerah di Indonesia.

Berdasarkan pengamatan, DG Anwar tidak sendiri sebab dirinya didampingi PDG Dewi Sri GST District Coordinator, Vice District Governor 2 Jessie Budiman, LCIF District Coordinator Budi Hidayat, Ketua Diabetes Henie Soesanto dan Ketua Alert Tjhin Ko Ku beserta team Alert Lion Konong dan Lion Sukirman.***/mel

Mendagri: Wabah Covid 19 Merupakan Ujian Kepemimpinan

JAYAKARTA NEWS—  Krisis dan wabah Covid 19 yang melanda dunia global,  merupakan ujian kepemimpinan. Di mana, setiap pemimpin, tak terkecuali pimpinan kepala daerah diuji untuk mampu mengatasi dan menangani Covid-19 ini.

Hal itu dikatakan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian saat melakukan kunjungan kerja ke Depok, Jawa Barat, dalam rangka koordinasi, monitoring, evaluasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di kota tersebut pada Senin (04/05/2020)

“Inilah ujian kepemimpinan, di masa krisis memerlukan terobosan kreatif, memerlukan kemampuan inovatif. Silakan keluarkan semua yang ada sepanjang dalam koridor hukum sehingga bagaimana caranya kesehatan publik, penanganan Covid ini bisa ditekan, ekonomi bisa hidup dan kemudian permasalahan cepat selesai,” kata Mendagri sebagaimana dikutip dari siaran pers Puspen Kemendagri.

Untuk itu, ditambahkannya, setiap pemimpin memerlukan aksi dan langkah yang bersifat inovatif untuk menekan penyebaran Covid-19 di wilayahnya masing-masing dengan bergerak dan mengikuti protokol kesehatan dan keselamatan bagi masyarakat, salah satunya dengan memutus mata rantai penyebaran.

Foto puspen kemendagri

“Mencegah penyebaran penularan, memutus mata rantai, mencegah agar jangan sampai kita tertular, harus diputus mata rantai, ini memerlukan pemahaman tetang penularan, kekuatan dari sisi dan kelemahannya. Kita semua, hampir semua kepala daerah sudah menyampaikan terminologi bahwa kita ini sedang berperang. Nah, dalam perang Covid ini lawannya tidak kelihatan, dia menyerang siapa saja, tdak hanya combatan. Untuk itu kenali musuhmu, kenali dirimu, dan nanti akan menang dalam 1000 pertempuran. Kita harus mengenali virus ini dengan seluruh karakteristiknya,” jelasnya.

Tak hanya itu, Mendagri  juga meminta kepala daerah gancar mengkampanyekan diri untuk melakukan pola hidup bersih dan sehat, dengan rutin mencuci tangan, menggunakan masker sebagaimana anjuran pemerintah, serta menjaga jarak fisik atau physical distancing.

“Upaya pembatasan penyebaran ini tolong betul dikampanyekan, bantu masyarakat bergotong-royong. Nomor satu masker, mohon disosialisasikan. Yang kedua cuci tangan, makin sering makin baik. Kemudian jaga jarak dengan jaga kerumunan, minimal 2 meter, semua pakai masker, jaga jarak satu sama lain,” imbuhnya.

Tak kalah penting, pemimpin dalam hal ini kepala daerah juga perlu membuat kebijakan terkait dengan pelaku usaha atau ekonomi. Pemerintah daerah diharapkan dapat membuat kebijakan dan membantu pelaku usaha agar tetap bertahan di tengah situasi pandemi.

“Nah kemudian yang berikutnya yang  saya sampaikan berkaitan dengan masalah ekonomi tadi, bagaimana agar masyarakat yang terdampak mereka bisa dibantu, mereka tetap bisa survive, bisa melalui kebijakan, tapi jangan sampai menyampingkan protokol kesehatan tadi. Nomor satu tetap mengutamakan kesehatan masyarakat,” katanya.

Dilanjutkannya, bantuan sosial berupa jaring pengaman sosial juga perlu dipersiapkan pemerintah daerah, mengingat dampak Covid-19 tidak hanya menyentuh aspek kesehatan, tapi juga sosial dan ekonomi.

“Berikutnya social safety net, bantuan sosial bagi masyarakat yang sulit, kita tidak ingin krisis kesehatan yang sedang berimbas ke krisis ekonomi dan ke krisis keuangan yang dirasakan oleh rekan-rekan di daerah juga jangan sampai beralih ke krisis sosial apalagi ke krisis keamanan. Karena krisis keamanan akan membuat warga menjadi tidak tenang hidupnya,” tegasnya. ***/ebn