Diaspora dan Gemas Bagi-bagi Sembako dan Masker

JAYAKARTA NEWS— Komunitas Diaspora Indonesia di  Singapura dan Perancis dan Gerakan Memakai Masker (Gemas) memberikan bantuan sembako dan masker kepada pekerja informal dan warga miskin di Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi). Sylvia Ratna Yudowati Jenkis dari Komunitas Diaspora Indonesia di Inggris, Singapura, Perancis, Abu Dhabi dan Indonesia mengaku prihatin dengan dampak wabah Covid-19 yang menimpa masyarakat marjinal dan pekerja harian di tanah air.

“Saya keluarga di Inggris mengajak teman-teman diaspora di Inggris, Singapura, Perancis, Abu Dhabi dan Indonesia untuk bergabung dengan om Bens Leo untuk mencoba sedikit meringankan beban saudara-saudara kita dengan berbagi kebutuhan pokok,” ujar Sylvia Ratna Yudowati Jenkins.

Foto dudut suhendra

“Memang tak seberapa jumlahnya, tapi semoga bermanfaat. Ini bukti cinta kami yang jauh dari Indonesia. Saya berjanji akan terus berjuang untuk Indonesia,” ungkap Sylvia.

Di dalam sembako juga ada kopi produksi Griya Boga Mandiri yang diwakili oleh Djelantik R Hartami dan Darmono yang berharap di masa pandemi ini, bisnis kopinya tetap jalan.

Neisya dari Gemas memaparkan mereka yang diberikan bantuan tak mungkin di rumah saja. “Kami juga memberikan masker dari kain yang bisa dipakai ber-kali-kali  dan bisa dicuci lalu dipakai lagi,” kata Neisya.

Pengamat musik Bens Leo yang mengerahkan wartawan dari XPose Indonesia.com berharap dengan cara bersatu dan disiplin gunakan masker, kita pasti bisa melalui cobaan besar yang melanda Indonesia dan seluruh dunia.

“Semoga dengan cara ini bisa memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19,” timpal Bens Leo yang sedang membagikan masker dan sembako kepada pengemudi ojol, petugas sampah, penjual krupuk, penyandang tuna netra, ibu-ibu sepuh tanpa  keluarga dan seorang bapak yang kakinya diamputasi dll di sekitar kawasan Cirendeu, Jaksel. (pik)

Presiden Minta PSBB Dievaluasi Total

JAYAKARTA NEWS— Presiden Joko Widodo meminta evaluasi total terhadap upaya yang telah dilakukan dalam penanganan Covid-19, terutama mengenai pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Evaluasi tersebut dibutuhkan untuk penyempurnaan program-program dan kebijakan selanjutnya.

“Hari ini saya ingin ada evaluasi total dari apa yang telah kita kerjakan dalam penanganan Covid-19 ini terutama evaluasi mengenai PSBB secara lebih detail, kekurangannya apa, dan plus-minusnya apa sehingga bisa kita perbaiki,” ujar Presiden saat memimpin rapat terbatas melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, pada Senin, 20 April 2020. Demikian keterangan pers yang disampaikan Biro, Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.

Berkaitan dengan hal tersebut, Kepala Negara kembali menekankan kepada jajarannya di daerah mengenai pentingnya pengujian sampel uji secara masif yang diikuti dengan pelacakan agresif terhadap orang-orang yang memiliki riwayat kontak langsung dengan pasien Covid-19 dan melakukan isolasi terhadap orang-orang yang diduga terpapar secara ketat.

“Tiga hal ini yang harusnya sering, terus-menerus, ditekankan kepada seluruh daerah. Sekali lagi, pengujian sampel yang masif, pelacakan yang agresif, dan isolasi yang ketat,” ucapnya.

Sebelumnya, pemerintah juga telah mengadakan sejumlah alat pemeriksaan sampel melalui tes PCR (polymerase chain reaction). Dengan pengadaan tersebut, Presiden berharap agar paling tidak dalam satu hari dapat dilakukan pemeriksaan dengan jumlah di atas 10.000 tes.

Sementara itu, Presiden juga meminta evaluasi dan perbaikan terhadap sistem rujukan dan manajemen penanganan di rumah sakit. Hal tersebut untuk mengantisipasi adanya kelebihan kapasitas di rumah-rumah sakit rujukan Covid-19.

“Ini betul-betul manajemennya harus diatur betul. Mana yang sedang dan ringan serta mana yang berat dan memerlukan penanganan yang lebih intensif di rumah sakit,” kata Presiden.

“Saya juga sangat mengapresiasi cara-cara konsultasi medis dengan menggunakan teknologi. Ini saya kira harus lebih dikembangkan lagi sehingga kontak antara pasien dengan dokter itu bisa dikurangi,” imbuhnya.

Lebih jauh, Presiden kembali menegaskan soal pentingnya distribusi logistik untuk tetap terlaksana di tengah pandemi ini. Apalagi dalam waktu beberapa hari ke depan masyarakat akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan yang tentunya membutuhkan kecukupan logistik dan stok pangan di tengah masyarakat.

“Pastikan bahwa distribusi logistik dan kelancaran produksi itu betul-betul tidak ada hambatan di lapangan. Stok pangan cukup, pastikan agar kita memasuki bulan Ramadan ini betul-betul memiliki sebuah kepastian mengenai stok pangan,” ucapnya.

Terakhir, Presiden Joko Widodo menginstruksikan agar bantuan sosial bagi warga kurang mampu yang terdampak Covid-19 dapat segera dimulai dengan cepat dan tepat sasaran. Untuk tahap awal pada pagi tadi dari gerbang Istana Merdeka, Jakarta, bantuan sosial mulai disalurkan kepada 1,2 juta keluarga penerima manfaat di wilayah DKI Jakarta untuk selanjutnya turut disalurkan kepada keluarga penerima manfaat lainnya di wilayah Bodetabek.

“Saya ingin agar bantuan sosial kepada yang kurang mampu ini betul-betul tepat sasaran. Ada kontrol pengawasan dan cek lapangan sehingga barang-barangnya itu bisa diterima oleh penerima dengan baik dan sekali lagi bisa benar tepat sasaran,” tandasnya.***/non

Kabar Gembira! Jumlah Kasus Positif Covid-19 Turun

JAYAKARTA NEWS— Kabar gembira. Jumlah kasus positif Covid 19 menurun. Sementara jumlah pasien yang sembuh dari Covid semakin bertambah menjadi 747, sedang penambahan kasus sebanyak 61 orang. Jumlah tersebut semakin melampaui angka kematian pasien per hari ini Senin (20/4) sebanyak 590 setelah ada penambahan sembilan orang.

Mengutip siaran pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, adanya peningkatan kasus sembuh yang siginifikan tersebut sekaligus menjadi gambaran bahwa Covid 19 bisa dilawan dan dicegah. Untuk itu Pemerintah mendorong masyarakat agar upaya pemutusan rantai penularan virus SARS-CoV-2 penyebab Covid 19 dapat terus dilakukan dengan baik.

“Mari kita berpartisipasi secara aktif. Dengan memutuskan penularan Covid 19. Pastikan kita tidak tertular dan tidak menulari. Oleh karena itu tetap tinggal di rumah. Mari kita sebarluaskan dan laksanakan penggunaan masker. Maskerku melindungi kamu, maskermu melindungi aku,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid 19  Achmad Yurianto di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, Senin (20/4).

Adapun Provinsi DKI Jakarta masih menjadi wilayah dengan sebaran pasien sembuh terbanyak yakni 230, disusul Jawa Timur sebanyak 98, Sulawesi Selatan 63, Jawa Barat 56, Jawa Tengah 51, Bali 42 dan wilayah lain di Indonesia sehingga total mencapai 747 pasien.

Kriteria pasien sembuh yang diakumulasikan tersebut adalah berdasarkan hasil uji laboratorium selama dua kali dan ketika pasien tidak ada lagi keluhan klinis.

“Jika dilihat sebaran pasien sembuh paling banyak di DKI Jakarta 230 orang, Jawa Timur 98 orang, Sulawesi Selatan 63 orang, Jawa Barat 56 orang, Jawa Tengah 51 orang. Jika ditotal dengan 29 provinsi lainnya adalah 747 pasien,” jelas Yuri.

Dari total kasus sembuh dan meninggal tersebut, ada pula penambahan untuk kasus positif sebanyak 185 orang hingga total menjadi 6.760. Angka penambahan kasus tersebut cenderung mengalami penurunan apabila dibanding dengan data sebelumnya per hari Sabtu (19/4) yakni 327.

Data yang dicatat tersebut diambil dari hasil uji spesimen sebanyak 49.767 yang dilakukan menggunakan metode Polymerase Chain Reaction (PCR) di 36 laboratorium. Sebanyak 43.749 kasus spesimen yang diperiksa didapatkan data 6.760 positif dan 36.989 negatif.

Kemudian untuk jumlah orang dalam pemantauan (ODP) menjadi 181.770 orang dan pasien dalam pengawasan (PDP) menjadi 16.343 orang. Data tersebut diambil dari 34 provinsi dan 250 kabupaten/kota di Tanah Air.

Selanjutnya Gugus Tugas merincikan data positif COVID-19 di Indonesia yaitu di Provinsi Aceh tujuh kasus, Bali 140 kasus, Banten 341 kasus, Bangka Belitung tujuh kasus, Bengkulu empat kasus, Yogyakarta 69 kasus, DKI Jakarta 3.097 kasus.

Selanjutnya di Jambi delapan kasus, Jawa Barat 747 kasus, Jawa Tengah 351 kasus, Jawa Timur 590 kasus, Kalimantan Barat 21 kasus, Kalimantan Timur 63 kasus, Kalimantan Tengah 60 kasus, Kalimantan Selatan 96 kasus, dan Kalimantan Utara 74 kasus.

Kemudian di Kepulauan Riau 79 kasus, Nusa Tenggara Barat 72 kasus, Sumatera Selatan 89 kasus, Sumatera Barat 74 kasus, Sulawesi Utara 20 kasus, Sumatera Utara 83 kasus, dan Sulawesi Tenggara 37 kasus.

Adapun di Sulawesi Selatan 370 kasus, Sulawesi Tengah 27 kasus, Lampung 26 kasus, Riau 34 kasus, Maluku Utara empat kasus, Maluku 17 kasus, Papua Barat tujuh kasus, Papua 107 kasus, Sulawesi Barat tujuh kasus, Nusa Tenggara Timur satu kasus, Gorontalo empat kasus dan dalam proses verifikasi lapangan 27 kasus. ***/non

Unhan Peduli, Bagikan Makanan Siap Saji untuk Masyarakat Terdampak Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Dampak pencegahan penyebaran Covid-19 sangat berat dirasakan mereka yang bekerja informal dan sektor lainnya. Penutupan usaha hingga berbuntut PHK sudah banyak dilakukan perusahaan swasta. Sementara usaha informal seperti pedagang kaki lima, Warteg mengeluh omzetnya menurun drastis semenjak Covid-19.

Menyadari hal itu banyak pihak yang tergerak untuk membantu mereka yang terdampak Covid-19. Salah satu seperti yang ditunjukkan Universitas Pertahanan yang telah melakukan aksi kemanusiaannya.

Rektor Universitas Pertahanan (Unhan) Laksamana Muda TNI Dr. Amarulla Octavian, bersama segenap Civitas Akademika Unhan melaksanakan Bhakti Sosial dengan membantu masyarakat terdampak pandemi wabah Virus Covid-19 dalam bentuk pemberian makanan siap saji di beberapa tempat, mulai wilayah Kabupaten Bogor, Depok, Jakarta Utara, Jakarta Timur, Jakarta Selatan hingga Jakarta Barat.

Bantuan yang diberikan  oleh Rektor Unhan bersama Civitas Akademika Unhan berupa makanan siap saji atau nasi box untuk 10 titik yang berada Kelurahan Duri Kosambi, Jakarta Barat, Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara, Kelurahan Kampung Melayu dan Kramat Jati Jakarta Timur, Kelurahan Cilandak, Jakarta Selatan, Kelurahan Meruyung, Kec Limo Depok, Kelurahan Sukatani, Kelurahan Hambalang, Kelurahan Tangkil dan Kelurahan Gunung Putri Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Setiap Kelurahan memperoleh 500 box makanan siap saji atau nasi box dengan menu sehat dan bergizi.  Aksi Unhan Peduli setiap harinya menyiapkan 5000 box nasi untuk 10 titik, dimulai hari ini hingga selama bulan Ramadhan atau menjelang Hari Raya Idul Fitri.

foto humas Unhan

Pada kesempatan ini Rektor Unhan didampingi Karoum Unhan Brigjen TNI Susilo Adi Purwantoro, berkesempatan menghadiri penyerahan makanan siap saji di Kelurahan Cilandak Barat, Jakarta Selatan.

Menurut Rektor Unhan, kegiatan Unhan Peduli sebagai salah satu bentuk kepedulian Civitas Akademika Unhan kepada masyarakat terdampak Pandemi Virus Covid-19. Melalui giat Unhan Peduli,  diharapkan dapat turut meringankan beban bagi masyarakat yang terdampak virus Covid-19 dan terlebih pada bulan Ramadhan ini untuk memenuhi kebutuhan untuk berbuka puasa.

Kegiatan ini juga sekaligus untuk turut menghidupkan beberapa warung makan seperti Warteg atau warung makan lainnya yang berada di sekitar Jakarta, Depok dan Bogor  agar tetap dapat bertahan selama pandemi virus Covid-19 ini berlangsung.

 Pembagian atau distribusi nasi box kepada masyarakat dibantu oleh Lurah, RW, RT setempat, Bintara Pembina Desa (Babinsa), Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Babinkamtibmas) serta aparat terkait, dilaksanakan sesuai protokol kesehatan dengan menerapkan physical distancing (pembatasan fisik) dan social distancing (pembatasan sosial), agar dalam pelaksanaannya dapat berjalan dengan aman dan lancar. (An)

Dwiki dan Ita Gelar# KonserdiRumahaja

JAYAKARTA NEWS— Pasangan artis Dwiki Dharmawan dan Ita Purnamasari menggelar #KonserdiRumahaja selama 1 jam. Ita melantunkan 7 lagu pop dan daerah diiringi petikan keyboard dari Dwiki. 

Ke 7 lagu tersebut adalah ‘Indonesia Pusaka’, ‘Sanggupkah Aku’, ‘Bubuy Bulan’ (dari Sunda), ‘Ilir Ilir’ (dari Jawa), ‘Sekitar Kita’, ‘The Messenger’ dan ‘Rumah Kita’. Mengusung tema ‘Seamangat untuk Indonesia’, Ita begitu menghayati lirik demi lirik pada tiap lagu.

Ketika membawakan ‘Indonesia Pusaka’ yang agung dan syahdu, Ita seakan larut ke dalam pesan dan maknanya. Dan saat mengakhiri nomor ‘Rumah Kita’ yang acap disenandungkan oleh Ahmad Albar dan God Bless,   Ita mengajak agar pendengar dan masyarakat bekerja dan berkarya di rumah saja.

Dwiki Dharmawan dan Ita Purnamasari gelar # KonserdiRumahaja –foto instagram itapurnamasari

 “Lebih baik di sini/rumah kita sendiri/segala nikmat dan anugerah yang Kuasa/semuanya ada di sini/rumah kita..”   Demikian penggalan refrein ‘Rumah Kita’ yang liriknya ditulis oleh wartawan Theodore KS.

“Acara ini dihelat AMI Awards bekerjasama dengan Act for Humanity dalam rangka menggalang dana untuk membantu para dokter, petugas medis serta masyarakat terdampak Corona. Kita para artis musik berkontribusi penuh untuk acara ini,” ujar Dwiki yang menggelar acara ini secara live lewat Instagram.

Ihwal kartu prakerja yang dilaksanakan oleh pemerintah melalui Menparekraf dan Mensos, Dwiki mendukung penuh. “Kaum seniman adalah yang terdampak Corona. Mereka banyak yang menganggur, atau kehilangan job. Seluruh pekerja seni harus dibantu. Karena mereka telah mengkontribusikan talentanya kepada bangsa dan negara. Ditunggu realisasi pemerintah,” ucap Dwiki mengakhiri bincang-bincang ini. (pik)

Dewan Pers Kritik Keras Komisi III DPR dan Menkumham Yasonna Laoly

JAYAKARTA NEWS-–Dewan Pers mengkritik tindakan  Komisi III DPR RI dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly  yang memutuskan melanjutkan pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) di tengah pandemi Covid 19 yang melanda Indonesia.

Seharusnya, papar Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh, situasi pandemi seperti ini perhatian semua pihak termasuk DPR RI dicurahkan kepada upaya kolektif menangani pandemi dan dampak-dampaknya pada seluruh sektor dan aspek kehidupan masyarakat.

“Pemerintah dan DPR harus dapat menjadi tauladan bagi publik dalam hal upaya pencegahan penyebaran Covid-19 dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang mengakibatkan gejolak di masyarakat,” tegas Mohammad Nuh dalam rilisnya.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Covid-19 sebagai pandemi global pada Rabu, 11 Maret 2020. Hingga 15 April 2020 WHO mencatat 213 negara atau area atau wilayah yang terkonfirmasi memiliki kasus ini. Pemerintah Indonesia mengkonfirmasi kasus positif Covid-19 pertama kali pada Senin, 2 Maret 2020 dan mencapai 5136 kasus positif pada 15 April 2020.

“Di tengah kondisi pandemi global yang juga melanda Indonesia saat ini, Komisi III DPR RI dan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly memutuskan untuk melanjutkan pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) dalam rapat kerja Rabu, 4 April 2020. Tidak hanya itu, pemerintah juga telah mengirimkan draft Rancangan Undang-Undang Cipta Kerja ke DPR RI,” jelasnya.

Nuh juga menyampaikan, Dewan Pers menolak pembahasan RUU KUHP terkait dengan pasal-pasal yang dapat mempengaruhi kemerdekaan pers antara lain Pasal 217-220 (Tindak Pidana Terhadap Martabat Presiden dan Wakil Presiden), Pasal 240 dan 241 (penghinaan terhadap Pemerintah), Pasal 262 dan 263 (penyiaran berita bohong), Pasal 281 (gangguan dan penyesatan proses peradilan), Pasal 304-306 (tindak pidana terhadap agama), Pasal 353-354 (Penghinaan terhadap Kekuasaan Umum dan Lembaga Negara), Pasal 440 (pencemaran nama baik), dan Pasal 446 (pencemaran terhadao orang mati) serta pasal-pasal lainnya (draft RUU KUHP 15 September 2019).

Juga, menolak pembahasan RUU Cipta Kerja,  khususnya adanya upaya perubahan terhadap Pasal 11 dan Pasal 18 UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Dewan Pers mendesak  DPR dan Pemerintah untuk menunda pembahasan berbagai rancangan perundangan, termasuk RUU KUHP dan RUU Cipta Kerja tersebut, sampai dengan kondisi yang lebih kondusif, sehingga pelaksanaan proses legislasi dapat berjalan secara layak, memadai dan memperoleh legitimasi, saran, dan masukan yang baik dari masyarakat sipil maupun komunitas pers secara maksimal.***ks

Ramadan di Rumah tak Mengurangi Kualitas Ibadah

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19  mengimbau agar seluruh umat Islam melaksanakan ibadah di rumah selama Bulan Suci Ramadan, sekaligus mengurangi risiko penularan virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19.

Hal tersebut sebagaimana yang disebutkan dalam hadis Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bahwa “Kita tidak boleh mencari atau menjemput bahaya, dan juga tidak boleh menularkan bahaya itu kepada orang lain”.

“Jangan sampai kita menjemput bahaya, kita berkerumun di suatu tempat, termasuk di tempat-tempat ibadah. Itu sangat berpotensi untuk kita membahayakan diri kita dan juga orang lain,” kata Dirjen Bimbingan Masyarakat Islam-Kementerian Agama RI Kamaruddin Amin dalam keterangan resminya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta. Demikian dikutip dari laman bnpb.go.id

Amin menjelaskan, bahwa meskipun sebagai umat Muslim memahami dan menyadari, betapa pentingnya dan betapa mulianya berada atau beribadah di masjid, akan tetapi dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, wajib hukumnya untuk tetap berada dan beribadah di rumah.

Menurut Amin, kualitas ibadah umat Islam tidak akan berkurang dengan berada di rumah dan beribadah di rumah, melainkan keikhlasan, kekhusyuan dan kesucian jiwa. Oleh karena itu, meskipun beribadah di rumah, Insya Allah kualitas ibadah tidak berkurang.

“Kualitas ibadah kita tidak hanya ditentukan oleh lokasi di mana kita beribadah, tapi yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas ibadah kita ditentukan oleh keikhlasan kita, ditentukan oleh kekhusyuan kita, ditentukan oleh kesucian jiwa kita,” kata Amin.

Selain itu, Amin juga menganjurkan agar umat Islam tidak melaksanakan buka puasa bersama, seperti yang sering dilaksanakan di kantor-kantor maupun di perjamuan keluarga.

Kemudian, ibadah Salat Tawarih juga dianjurkan agar dilakukan di rumah saja bersama keluarga.

“Kita tidak melaksanakan tarawih bersama, kita melaksanakan di rumah saja, karena sangat berpotensi untuk kita menularkan atau ditularkan ketika kita berkumpul bersama di masjid,” kata Amin.

Dengan menjalankan perintah agama dan mengikuti anjuran pemerintah, maka Amin juga mengajak agar semua umat Muslim bersatu untuk berdoa, bermunajat dan bertafakur agar pandemi Covid 19 segera berlalu.

“Sebagai umat beragama di samping kita mengikuti anjuran pemerintah dengan pendekatan saintifik, akademik, dan empiris. Kita harus terus juga melakukan berdoa, bermunajat, bertafakur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, semoga coronavirus ini segera berlalu, bulan Ramadan tiba dan coronavirus berlalu, Insya Allah,” pungkas Amin.

Sebelumnya, pada 6 April 2020, Menteri Agama Fachrul Razi mengeluarkan surat edaran mengenai Panduan Ibadah Ramadhan dan Idul Fitri 1 Syawal 1441 H di Tengah Pandemi Covid 19.

Dalam surat edaran tersebut diatur sejumlah ketentuan yang memusatkan pada kegiatan ibadah tidak dilakukan secara berjamaah di masjid seperti biasa, melainkan di rumah bersama keluarga inti.

“Pelaksanaan shalat Idul Fitri yang lazimnya dilaksanakan secara berjamaah, baik di masjid atau di lapangan, ditiadakan. Untuk itu diharapkan terbitnya Fatwa MUI menjelang waktunya,” mengutip salah satu poin panduan dalam surat edaran.***/ebn



Waspada Penipuan Modus Donasi Covid 19 Atasnamakan Sestama BNPB

JAYAKARTA NEWS— Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberitahukan bahwa terjadi percobaan penipuan yang mengatasnamakan Sekretaris Utama (Sestama) BNPB, Harmensyah. Penipuan tersebut diduga dilakukan oleh oknum tertentu dengan modus permintaan bantuan donasi terkait Covid-19.

Dugaan penipuan tersebut diketahui setelah BNPB menerima laporan dari salah satu staf Hubungan Masyarakat, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) bahwa ada yang meminta permohonan donasi untuk COVID-19 dari pesan singkat dengan nomor +62 815-6395-3966, +62 813-8522-8818 dan +62 815-6395-3966 mengatasnamakan Sestama BNPB. Demikian disampaikan Agus Wibowo, Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB,  (17/4/2020). Dalam hal ini Sekretaris Utama BNPB telah memberikan pernyataan bahwa itu bukan dirinya. “Harus dilacak dan lapor ke cyber Bu, itu penipuan,” tegas Sekretaris Utama Harmensyah melalui pesan singkat.

Kasus tersebut saat ini telah dilaporkan dan diterima oleh Humas Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia.

Perlu diketahui bahwa BNPB sebagai Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 hanya menerima jenis bantuan dana hibah bantuan kemanusiaan luar negeri dan dalam negeri untuk penanganan bencana nonalam Covid-19. Bantuan berupa uang dapat disalurkan melalui transfer bank dari dalam dan luar negeri.

Transfer dana dari luar negeri dapat dilakukan melalui nomor rekening Bank BNI, 2019191251, swift code BNINIDJA, dengan nama rekening RPL 175 PDHL BNPB COVID -19 LN.

Sedangkan transfer dalam negeri, Gugus Tugas membuka nomor rekening Bank BRI 0329 – 01 – 004314 – 30 – 6 dengan nama RPL 175 PDHL BNPB COVID – 19 DN.

Terkait dengan transparasi dan akuntabilitas, BNPB akan mengumumkan dan menyebarluaskan informasi rekening ini kepada kementerian negara/Lembaga dan pemerintah daerah serta masyarakat.

Pengelolaan rekening dan pelaporan pertanggungjawaban dilakukan sesuai dengan ketentuan yang mengatur pengelolaan rekening milik satuan kerja lingkup kementerian negara dan lembaga serta administrasi pengelolaan hibah langsung dalam bentuk uang.

Oleh sebab itu masyarakat diminta agar lebih waspada terhadap berbagai jenis penipuan dengan modus meminta bantuan yang mengatasnamakan BNPB atau Gugus Tugas.***/ebn


Relawan Perempuan Satu-Satunya Jadi Supir Ambulans

JAYAKARTA NEWS— Ika Dewi Maharani, menjadi  satu-satunya sukarelawan medis perempuan di bawah naungan Relawan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, yang bertugas sebagai supir ambulans.

Angka kasus COVID-19 di Jakarta yang semakin meningkat, ditambah dengan jumlah petugas ambulans yang kurang memadai, membuat membulatkan tekat Ika menjadi supir ambulans.

 “Dengan keahlian yang saya miliki, saya bisa menyetir, saya basic perawat, jadi pas saya sesuai dengan panggilan hati, dengan kemampuan yang saya punya, saya harus melayani,” ujar Ika dalam konferensi pers secara daring di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (16/4), sebagaimana dikutip dari laman bnpb.go.id

Tergabung dalam sebuah asosiasi profesi perawat Himpunan Perawat Gawat Darurat dan Bencana Indonesia (HIPGABI), Ika berasal dari Maluku Utara, namun berkuliah di Surabaya, saat ini menjalani hidup di mess yang disediakan BNPB, dan bertugas di rumah sakit Universitas Indonesia.

Menangani pasien di rumah sakit menjadi hal biasa bagi Ika, namun mengantarkan pasien ke rumah sakit menjadi persoalan lain. Dia mengaku menjadi supir ambulans merupakan pengalaman pertama dalam hidupnya.

“Untuk ambulans baru pertama kali di dalam hidup saya, tapi ya gitu, ternyata di ambulans tidak semudah yang kita bayangin,” kata Ika.

“Sudah bunyikan sirine, tapi kadang orang-orang di sekitar kita tidak peka untuk memberikan jalan buat kita karena kita mengangkut pasien, ya untung ada orang dengan kesadaran memberikan jalan, jadi kita tetap dengan cepat membawa pasien ke tempat yang dirujuk,” dia melanjutkan.

Mengemban tugas untuk mengantarkan pasien dalam pengawasan (PDP) atau pun pasien positif COVID-19 membuat Ika berisiko besar terinfeksi virus corona.

Dalam menjalankan tugasnya itu, dia mengatakan “safety” adalah kunci utama. Menggunakan alat perlindungan diri (APD) menjadi wajib bagi Ika sebelum berangkat bertugas. Tidak hanya agar dirinya aman, tetap juga agar para pasien tetap aman.

Meski telah mengenakan APD, sebagai manusia biasa, Ika mengaku perasaan takut ada dalam dirinya, namun semangat kemanusiaan yang dia rasakan jauh lebih tinggi.

“Rasa takut ada pasti, cuma ini harus kita lihat lagi, ini adalah tugas bagi kita sebagai relawan medis, kita harus menangani pasien dari awal sampai akhir pasien itu kita harus tangani,” ujar dia.

Untuk menjaga imunitas tubuh sebagai cara untuk melawan virus corona, di tengah shift 12 jam yang dia jalani, Ika selalu menyempatkan diri untuk makan teratur dan istirahat yang cukup.

“Shift pagi dari jam 7 sampai jam 7 malam, itu pertama harus makan dulu. Selesai absen kita makan, ada panggilan untuk kita rujuk, setelah itu selesai, baru kita makan, yang penting makan harus sehari tiga kali, multivitamin, dan susu,” kata dia.

Dengan usaha terbaiknya mengabdikan dirinya sebagai sukarewalan COVID-19, Ika berharap pandemi tersebut dapat segera berakhir.

“Dengan kita mengabdikan diri sebagai relawan kita harap penanggulangannya ini semakin cepat, jadi bencana ini cepat akan berakhir,” ujar Ika.***/ebn

Presiden: Jangan Semuanya Diekspor

JAYAKARTA NEWS— Kebutuhan terhadap alat-alat kesehatan selama penanganan pandemi Covid-19 meningkat pesat. Di saat bersamaan, Indonesia dan hampir seluruh negara dihadapkan pada keterbatasan terhadap pasokan alat-alat tersebut. Maka itu, Presiden Joko Widodo meminta jajarannya untuk melihat potensi dari dalam negeri dan menggerakkan industri-industri yang berkaitan dengan hal tersebut sesegera mungkin.

Instruksi tersebut disampaikan oleh Presiden dalam rapat terbatas melalui telekonferensi dari Istana Merdeka, Jakarta, yang membahas optimalisasi industri dalam negeri untuk penanganan Covid-19 pada Rabu, 15 April 2020. Demikian dikutip dari rilis Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden.

“Sekarang ini ada 213 negara yang terkena pandemi. Semuanya memperebutkan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan dalam penanganan Covid-19. Untuk itu kita harus melihat kembali seluruh potensi sumber daya yang kita miliki di negara kita, utamanya yang memproduksi alat-alat kesehatan yang dibutuhkan,” ujarnya.

Presiden menyampaikan bahwa di tengah situasi yang tak menentu ini dibutuhkan manajemen industri yang berkaitan dengan kebutuhan alat-alat medis seperti masker, ventilator, bahan baku, obat, dan lain sebagainya untuk dapat memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pasokan di dalam negeri.

Menurutnya, sejumlah industri di dalam negeri telah mampu memproduksi alat pelindung diri dalam jumlah besar yang harus diatur lebih lanjut agar kebutuhan para dokter dan tenaga medis di lapangan dapat segera terpenuhi.

“Jangan sampai semuanya diekspor, di dalam negeri malah kita tidak dapat. Diatur ini manajemennya sebaik-baiknya,” kata Presiden.

JANGAN PERSULIT IZIN

Selain itu, Kepala Negara meminta agar jajarannya dapat mempercepat proses pemberian izin produksi atau edar kepada perusahaan yang ingin memproduksi alat-alat kesehatan seperti masker dan alat pelindung diri lainnya di tengah penyebaran Covid-19.

Presiden menegaskan bahwa sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk menjaga dan membantu agar perusahaan maupun kelompok usaha dapat memenuhi standar persyaratan medis yang diperlukan untuk berproduksi. Namun, hendaknya hal tersebut tidak dijadikan alasan untuk mempersulit proses perizinan yang ada.

Kemudahan yang sama juga diharapkan oleh Presiden dapat dilakukan dalam proses perizinan impor bahan baku yang cepat dan terintegrasi. Semakin cepat bahan baku yang dibutuhkan industri medis terpenuhi, akan semakin cepat pula proses produksi untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri yang nantinya akan membantu penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Menjadi kewajiban kita untuk memperbaiki agar standar tersebut terpenuhi, tapi jangan mempersulit. Tolong ini betul-betul didengarkan keluhan-keluhan yang ada di bawah. Tidak ada lagi yang namanya perizinan ini menghambat proses produksi,” tuturnya.

Lebih jauh, Presiden Joko Widodo juga memandang diperlukannya pemberian insentif fiskal bagi industri-industri yang memproduksi kebutuhan alat-alat kesehatan selama penanganan pandemi Covid-19 ini berlangsung.

“Insentif fiskal tolong diarahkan ke industri-industri UMKM kita yang memproduksi barang-barang ini,” tandasnya.***/ebn