Tiga Fragmen Drama di Satu Panggung Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Tiga fragmen drama menutup rangkaian ulang tahun ke-50 Teater Alam, Yogyakarta. Panggung Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (17/11) malam menampilkan fragmen “Pusaran” (Streetcar Named Desire) karya Tennessee Williams, Oedipus (Sophocles), dan Montserrat (Emmanuel Robles).

Di luar tiga fragmen tersebut, panggung TBY juga menjadi ajang praktik pentas peserta Workshop Teater. Mereka menampilkan karya “Bondol”.

Disaksikan Yani Saptohudoyo, pematung Yusman, seniman, budayawan Yogyakarta dan masyarakat umum lainnya, sajian tiga fragmen tadi mendapat applaus meriah hadirin.

Fragmen Pusaran menampilkan permainan apik dari Ninit, Alexa, dan Vikii dengan penata busana Erlina Panca. Sutradara Prof Dr Yudiaryani, MA menggarapnya dengan segar. Drama semi-musikal ini pernah dimainkan Teater Alam berkolaborasi dengagn ISI Yogyakarta di Concert Hall Gedung Taman Budaya, Senin – Selasa, 22 – 23 Juli 2019.

Lalu Oedipus. Malam itu, tokoh Oedipus diperankan Eko Pamulihono. Nomor ini terbilang “lekat” dengan Teater Alam. Lakon ini sudah beberapa kali dimainkan.

Di tahun 1981, dipentaskan di Gedung Grha Dirgantara Yogyakarta dalam acara Syawalan PWI-SPS Yogyakarta, 24 Agustus. Tahun yang sama diusung ke Pasar Seni Jaya Ancol, pada 27-28 Agustus, dan pada 15 September dimainkan di Gedung Purnabudaya. Sutradara dari pertunjukan tersebut adalah Tertib Suratmo.

Lantas pada tahun 1986, lakon ini dipentaskan di beberapa kota dalam muhibah ke Malaysia, dengan sutradara Azwar AN. Tahun 1991, Oedipus juga dimainkan di Lampung.

Pada tahun 1999, Teater Alam secara mengejutkan mementaskan trilogi Oedipus dalam satu malam, yang berdurasi 10,5 jam di Purnabudaya, dengan sutradara Azwar AN. Pementasan terakhir Sabtu, 18 Januari 2020 di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Ronny AN dan Meritz Hindra dalam fragmen “Montserrat”. (foto: rakhmat s)

Meritz Jadi Azwar

Fragmen ketiga, Montserrat, digarap apik oleh sutradara Meritz Hindra. Dibuka dengan penampilan Meritz yang uring-uringan karena para cantrik Teater Alam belum juga datang latihan. Datang Azis yang langsung disuruh menyapu tempat latihan. Muncul Dinar Saka, Jamilan, Ronny AN.

Menirukan gaya mendiang Azwar AN, aktor kawakan Meritz menyuruh para cantriknya untuk latihan Montserrat. Saat Ronny sudah duduk di kursi sebagai Montserrat, Dinar menyerukan “camera on” sambil berlari meninggalkan stage. Panggung black-out, lalu lighting menyala.

Meritz sebagai Kolonel Isquierdo. Berdialog dengan Kapten Zuazola (Jamilan) dan Kapten Antonanzas (Azis). Saat Isquerdo (Meritz) membujuk Montserrat (Ronny) untuk membuka rahasia persembunyian  Simon Bolivar, tiba-tiba saja Ronny lupa dialog dan minta bantuan Dinar Saka (astrada) untuk melihat contekan dialog dalam naskah. Fragmen Montserrat menjadi “gerr” dengan garapan ala latihan.

Fragmen “Pusaran”. (foto: rakhmat s)

Pak Bondol

Sajian terakhir adalah pentas teater hasil wokrshop tanggal 9 Oktober 2022. Tiga senior Teater Alam menjadi mentor pada workshop tersebut. Meritz Hindra memberi materi keaktoran, Puntung CM Pudjadi memberi materi penyutradaraan, dan Wahyana Giri MC memberi materi penulisan naskah teater.

Para peserta terdiri atas siswa-siswa dari sekolah-sekolah yang ada di kota Yogyakarta. Malam itu, mereka menampilkan drama pendek berjudul “Bondol”.

Dikisahkan, Pak Bondol, adalah seorang tukang tambal ban yang sedang bersantai di teras rumah. Mendadak ia disuruh istrinya ke pasar untuk membeli beras. Pak Bondol pun pergi ke pasar naik sepeda. Ia bersepeda dengan ugal-ugalan, sehingga mengganggu emak-emak di pinggir jalan, dan puncaknya menabrak seorang pedagang sayur dan membuat sayur sayur itu jatuh berceceran. Konflik pun terbangun antara penjual sayur dan Pak Bondol. Sebuah kisah komik yang menarik.

Sajian menarik ketiga fragmen dan satu lakon drama pendek tadi, menjadi lebih apik dengan penataan musik oleh Dr Memet Chairul Slamet. Pentolan kelompok musik etnik-kontemporer Gangsadewa ini pula yang selama ini menata musik pada tiga pementasan Teater Alam terakhir: Montserrat, Pusaran, dan Oedipus.

Selain itu, Bambang Nursinggih senior Teater Alam yang lain, setia menggawangi urusan kostum dan make up pemain. Pesannya selalu kepada para aktor-aktris adalah, “Setelah make up, dilarang merokok!”

Azwar AN Award

Pada malam puncak peringatan HUT ke-50 Teater Alam, juga dilangsungkan penganugerahan “Azwar AN Award” kepada empat tokoh Teater Alam yang memiliki loyalitas serta dedikasi dan jasa besar bagi kelangsungan hidup Teater Alam.

Award pertama, diberikan kepada Bambang Darto. Ia adalah Anggota teater Alam yang telah menunjukkan loyalitas dedikasi dan kerja keras mengembangkan Teater Alam hinggga akhir hayatnya.

Award kedua diberikan kepada Yono Gandem. Dia adalah anggota Teater Alam yang menunjukkan loyalitas tanpa batas. Di samping jasanya menjadi Ketua Teater Alam selama 25 tahun tanpa cela. Jejaknya bahkan diikuti oleh beberapa putranya yang menjadi anggota Teater Alam, mengikuti jejak sang ayah.

Award ketiga diberikan kepada Tertib Suratmo. Ia adalah salah satu pelatih, sutradara, sekaligus artistic Teater Alam yang memiliki loyalitas sangat besar. Bukan saya loyalitas persahabatan dengan Azwar AN, tetapi juga Teater Alam sebagai sebuah lembaga.

Dan award keempat, diberikan kepada Prof. Drs .H. Amri Yahya. Tokoh Lukis batik yang merupakan sahahabat Azwar AN sekaligus sahahabat Teater Alam. Amri Yahya merupakan salah satu Pembina dan Pengarah Teater Alam semasa hidupnya. Penghargaan diterimakan oleh Adwi Prasetyo putra Amri Yahya.

Azwar Tersenyum

Ketua Panitia Pelaksana HUT Teater Alam ke-50, Prof Dr Yudiaryani, MA dalam pidato di awal menyampaikan terima kasihnya kepada Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Paniradya Kaistimewan Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Taman Budaya Yogyakarta, dan para pihak yang telah memungkinkan acara berlangsung dengan baik.

“Arwah bang Azwar AN di atas sana, tersenyum melihat kiprah dan tekad kita melanjutkan semangatnya dalam melestarikan teater,” ujar Guru Besar Teater ISI Yogyakarta, itu.

Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Alam, Erna Azmita, AN juga menyampaikan terima kasih yang sama. Sebelum menutup secara resmi rangkaian acara Ulang Tahun Emas Teater Alam, Nana –panggilan akrabnya—mengajak semua anggota Teater Alam tetap menunjung tinggi pesan mendiang papah Azwar, “Hidup-hidupilah teater, jangan mencari hidup dari teater.” (rr)

“Ritus Patembayan”, Catatan Sang Kurator

Dr. Hadjar Pamadhi, M.A., Hons

Patembayan (gesselchaft) adalah ikatan lahir sekelompok orang dengan kesamaan pikir, rasa perilaku yang bersifat kerukunan dan berjangka waktu yang pendek. Ritus Patembayan adalah kerukunan para seniman, budayawan sepaham berpameran mengusung momentum peringatan setahun meninggalnya Azwar AN.

Ritus Patembayan sebagai tajuk pameran memeringati satu tahun meninggalnya seniman sekaligus budayawan Azwar AN. Ritus adalah upacara peribadatan yang biasanya dilakukan dengan kontemplasi menurunkan ‘arwah’ melalui prosesi. Dalam beberapa kerukunan tradisi seperti ancestor resurrection dimana terjadi proses imajinasi dengan menghasilkan kinase atau fosfotransferase. Pundi-pundi dan doa dilantunkan secara khidmat seperti orang Jawa menyairkan dalam asmaradana.

lngsun amiwiti muji,
anebut namaning Sukma,
kang murah ing donya mangke,
ingkang asih ing akherat,
kang pinuji datan pegat,
angganjar kawelas ayun,|
|angapura wong kang dosa.

Doa dan persembahan untuk Azwar AN direposisi menjadi pameran bersama; dimana karya dipersembahkan sebagai deretan pengucapan doa. Permohonan, pencandraan, pengenangan kepada almarhum dalam bentuk pameran. Pundi-pundi, salawat, doa atau pun cengkerama batin terlahirkan dalam bentuk pameran.

Maka, pameran seni rupa yang dilakukan oleh para seniman, komunitas serta budayawan berhimpun untuk mengenang jasa. Ritus dengan doa dan persembahan direpresentasikan melalui simbol-simbol rupa. Para seniman mencoba mengekspresikan symbol ritualnya berupa karya seni rupa: patung, puisi dan karya lukis. ‘Azwar AN’ dibaca sebagai objek material maupun formal dengan simpulan hasil symbol visual.

Sesuai dengan gayanya masing-masing seniman berusaha merepresentasikan dengan gaya dan teknik yang khas. Sosok Azwar dibaca melalui pengembaraan batin sehingga menghadirkan imaji yang bervariasi. Tujuan utamanya adalah yang mengekspresikan hubungan antara manusia dengan Tuhan bentuk permohonan suci, syukur pujian agar ‘arwah’ Azwar AN diterima Allah dan semangatnya ditularkan kepada generasi berikutnya. Tindakan sakral yang disimbolkan dengan bentuk dan warna ini mampu memberi kekuatan kepada generasi penerusnya.

Karya emas adalah sesuatu yang paling berharga layaknya harga suatu karya seni yang mempunyai nilai intrinksik (estetika) penuh makna. John Cusack menjelaskan bahwa sesungguhnya Art is Spiritual karena proses rahasia seorang seniman dengan kontemplasi mencari sesuatu yang ‘aneh’. Seniman adalah satu dari patembayan rasa seni dari sekumpulan kerukunan sosial (associational society), sebuah kolegialitas yang kuat. Mereka membaca bersama sosok Azwar AN sebagai objek patemabayan dengan rerasan kuat atas karya, dan dedikasinya. Objektivikasi mereka terhadap Azwar karena dianggap masih hidup, seperti kata bijak menyebutkan Ars vita Longa yang berarti Seni itu masih hidup walau penciptanya sudah tiada. Pameran Ritus Patembayan Seni ini termotivasi oleh profil Azwar AN, sebagai karya representasional, maupun nonrepresentasional.

Para patembayan ini mengobjektivikasi pikiran, rasa serta karya drama, puisi Azwar AN sebagai objek material maupun formalnya. Di situlah hadir karya yang variatif mulai dari gerakan membaca batin Azwar AN bentuk serta merasakan dampak kehidupan bagi para seniman yang sedang berpameran ini memberi suasana yang lain. Patembayan seniman merupakan kerja keras dari sahabat, murid dengan ber-gendu rasa.

Seratus perupa/seniman ini hampir bercirikan khas sebagai karya patembayan dengan menyajikan arwah Azwar sebagai ritual the ancestor resurrection. Para seniman menggabungkan gagasan objektivikasi terhadap Azwar dan menguatkan ide gagasannya munculkan symbol-symbol visual yang aneh. Itulah Marc Chagall mengatakan: If I create from the heart, nearly everything works; if from the head, almost nothing.

Merujuk kepada kolegialitas, penyatuan pikir, kebersamaan para seniman menyatakan Azwar AN sebagai tokoh sentral ide penciptaan karya seni. Serangkaian karya yang mewujud dalam representasi karya seni ini menatap Azwar AN divisualkan dalam kegiatan, pertunjukan, pameran.

Patembayan tersebut sebagai tampilan karya seni pertunjukan, sederetan seniman senior diundang sebagai tanggapan atas Azwar AN sebagai sosok, Mami Kartika, Soenarto PR, Soeharto PR, Amri Yahya, Widayat, Saeful Adnan seangkatan dan segerombol kolega yang hidup bersama dan membersamai. Mereka dipajang sebagai dukungan moral serta loyalitasnya memahami kehidupan dan hidupnya Azwar. Patembayan rasa (Gemeinschaft of mind) ini didukung seratus lebih para perupa Yogyakarta dan berbagai kota lain.

Karya-karyanya dapat dikelompokkan menjadi 5 bagian penting: (1) mengobjektivikasikan pikiran Azwar ke dalam karya realis, (2) menjadikan karya realis – sosial, (3) kontemplasi kehidupan seni Azwar, (4) memvisualisasikan kehidupan tokoh karya drama/teater Azwar, (5) mengimajinasikan Azwar dalam berbagai corak serta gayanya. Konstelasi doa – pikiran – pengembaraan batin – imajinasi kontemplasi- dan ekspresi mewujud dalam pameran Ritus Patembayan.

  • 1. Mengobjektivikasikan pikiran Azwar ke dalam karya realis, DN Koestolo, Picuk Asmara, Eddy Subroto, Irma PR, Momi Budut, TM art, Raden Raharjo, R.Kirman, Ida Fitrijah (alm.), Nanang Wijaya, Edi Dwiyantoro, Cholidun, Soegian Noor, Liek Suyanto, Djoko Sardjono, Ikhman mr, Evrie Irmasari, Lian M Margareta, Joan Miroe, Tarman, Joko Sud, Suzan, Didit Slenthem, Agus Purwanto (klowor),
  • 2. Menjadikan karya realis – sosial: Alie, : Ninik Purwanti, Rosalia Ratih, Kawit Tristanto, Adhik Kristiantoro, Yosi Ch., Ifat Futuh, Sumiyati Herman, Heru Purwanto, Beda Sudiman, Achmad Dardiri, Eko Bendhol, Siswanti, Raka Wanena, Ikhwan Sugianto, Awaludin, Budiyonaf, Lully Tutus, Eni Setyaningsih, Takdir Pengarep, Muji Harjo, Alberta Fitri, Barlin Srikaton, Pauluswid, Sulardi Wiyana, Yosef Banyu, Nur Fuad, Yaya Maria.
  • 3. Kontemplasi kehidupan seni Azwar: Otok Bima, Wuri Hantoro, Heru “Londo” Uthantoro, Tales Ireng, Sukri Budi Dharma a.k.
  • 4. Memvisualisasikan kehidupan tokoh karya drama/teater Azwar AN: Jedink Alexander, Didiet njedit, Seplawan, Sigit Handari, Rakhmat S.
  • 5. Mengimajinasikan Azwar AN dalam berbagai corak serta gayanya: Abdul Khalid, Catur Hengki Koesworo, Susyanto Mulyo, Ashari, Adam Aliamin, Adam Aliamin, Achmad Masih, Liek Sugi, Slamet Jumiarto, Ki Mujar Sangkerta, Sentot T Raharjo, I Gedhe Putra Udiyana, Sentot Widodo, Sri Pramono, Trie Gombloh, Muji Chino, R Hendrawan, Sukoco Hayat, Ampun Sutrisno, S.Hikmah, Irwan Sukendra, Watie Respati, Suhardi, Niluh Sudarti, Berlianingtyas A.D., Daliya.

Beberapa karya patung hadir dengan ujud yang variatif, seperti ornamentik, deformasi tubuh, imajinasi ritual maupun gubahan realisme diimajinasikan oleh Yamiek S, sedangkan Lutse Lambert Daniel Morin mengangkat objek formal ‘logika’ manusia. Freddie S Widodo mendistorsi tubuh manusia melalui ringkasa wajah dan kaki secara realis. Nugroho Hoho mengangkat dimensi ruang alternatif, Arifin Lancor mengangkat deformasi tubuh manusia, B’Djo Ludiro mengangkat realisme sosial.

Suatu perhelatan besar Ritus Patembayan ini memberi konotasi sempurna, bahwa karya seni adalah hasil kontemplasi melalui pengembaraan batin seorang seniman. Tatkala pikiran dan perasaan digunakan untuk menerawang objek yang sama menghasilkan karya seni yang bervariasi. Seni menjadi semacam perluasan pikiran dan perasaan yang berisikan ritus-ritus seni yang tersusun dari kinase-kinase keindahan. Selamat berpameran, sukses menggapai ‘arwah seni’ Azwar AN. (*)

Sleman, 1 November 2022

Dr. Hadjar Pamadhi, M.A., Hons

Kurator

“Ritus Patembayan” Dulu, Kuliner Kemudian

50 Tahun Teater Alam

JAYAKARTA NEWS –  Mungkin bukan yang terbesar, tetapi Pameran Seni Rupa “Ritus Patembayan” jelas bukan sembarang event. Tak kurang dari 125 pelukis dari Yogyakarta dan kota-kota lain di Indonesia turut serta ambil bagian. Tak hanya itu, lima palukis maestro juga memajang karyanya.

“Fine Art Exhibition” ini berlangsung 14 – 18 November 2022 di Taman Budaya Yogyakarta. “Tema Ritus Patembayan juga memiliki filosofi luhur. Sesuai dengan pemangku hajat, yaitu komunitas Teater Alam yang tengah memperingati ulang tahun yang ke-50. Ulang tahun emas,” ujar Chamit Arang, koordinator event, kepada pers hari ini (13/11).

Ritus Patembayan adalah sebuah upacara yang menyelaraskan suatu kebersamaan dan kegembiraan dalam bentuk wujud syukur kepada Yang Maha Kuasa. “Tidak banyak komunitas teater yang mampu melewati usia setengah abad. Karena itu, kami mensyukurinya dengan multi karya. Pameran ini adalah salah satunya,” tambah Chamit.

Pameran menampilkan karya perupa dari wilayah Yogyakarta dan beberapa kota lain, antara lain dari Solo, Rembang, Pekalongan, Klaten, Magelang, Purworejo, Temanggung, Banten, Kediri, Madiun, Tulungagung, Surabaya, Banyuwangi, dan Bali.

Selain itu, panitia juga mengundang pelukis-pelukis senior untuk menyemarakkan 50 tahun Teater Alam, seperti : Kartika Affandi, Amri Yahya (alm.), Widayat (alm.), Soenarto PR (alm.), Soeharto PR (alm.) dan pelukis senior lainnya.

Fashion dan Kuliner

Di tempat terpisah, Penanggung-jawab Program Pameran-Fashion-Kuliner, Panitia HUT ke-50 Teater Alam, Elizabeth Naning Kartaatmaja mengatakan, selain pameran seni-rupa, juga akan dibarengi sejumlah kegiatan lain yang tak kalah menarik. Di antaranya fashion show dan festival kuliner “Sedut” (Sedulur Teater).

Untuk fashion, selain lomba peragaan busana motif shibori untuk anak, remaja, dan dewasa, juga ada peragaan busana tokoh-tokoh dalam sejumlah lakon teater yang pernah dimainkan Teater Alam. Di antaranya lakon Oedipus, Montserrat, Pusaran (A Streetcar Named Desire), dll.

“Dijamin meriah. Mulai 14 sampai 18 November kami juga mengadakan sejumlah workshop industri kreatif, seperti membatik kaos, melukis batu, shibori, dan lain-lain. Area TBY akan dipenuhi aneka stand kuliner yang sudah kami kurasi untuk kepentingan keberagaman menu dan cita-rasa,” ujar Naning yang dibantu anggota timnya: Rere dan Syam Chandra. (rr)

“Ketidakpastian” Kata Kunci Seni Pertunjukan

Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” HUT ke-50 Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Dunia seni pertunjukan menghadapi kenyataan tentang “ketidakpastian”. Itulah tantangan terkini dunia seni pertunjukan. “Tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia,” ujar Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid, Ph.D saat tampil sebagagi keynote speaker Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi”, di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Selasa (25/10).

Hilmar menyambut baik tema seminar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Teater Alam ke-50 itu. Sekalipun, bagi Hilmar, tema “disrupsi” bukan tema baru. Akan tetapi, faktanya, semua elemen kehidupan memang mengalami persoalan disrupsi. Mengalami dampak disrupsi, baik sosial maupun ekonomi.

Dirjen Kebudayaan yang sejarawan itu mengajak peserta seminar untuk sebelumnya memahami terlebih dulu apa itu disrupsi dan apa yang menyebabkan disrupsi. Selama ini, kita cenderung hanya fokus pada urusan teknologi, padahal teknologi adalah salah satu bagian dari disrupsi yang bersifat multidimensional.

Saat ini, disrupsi yang terjdi jauh lebih besar dampaknya terhadap dunia kesenian kita. Bukan hanya teknologi tapi bagaimana lansekap produksi bergeser dan berubah drastis. “Jadi di sini bukan tentang panggung pertunjukan, tapi disrupsi yang terjadi pada panggung pertunjukan,” ujar pria kelahrian Bonn, Jerman itu.

Tiga Elemen

Dirjen Kebudayaan menyitir terbitnya sebuah publikasi PBB yang memotret sebuah kondisi yang begitu kompleks yang disebut “ketidakpastian baru”. Jadi kata kuncinya “ketidakpastian”. Ada tiga elemen yang menjadi sumber ketidakpastian.

Pertama, perubahan pada bumi kita, lingkungan kita, iklim kita. Alhasil, kita merasakan adanya cuaca ekstrem, banjir bandang, kekeringan yang berakibat pada gagal panen, gagal menangkap ikan, dan dampak buruk yang lain.

Kedua, transformasi sosial yang cepat dan mendasar. Sebuah perubahan yang signifikan. Ketiga, polarisasi sosial. “Nah, siapa yang harus bertanggung jawabatas ketidakpastian itu? Kita semua. Ingat, krisis serupa tidak saja terjadi di Indonesia bahkan di Eropa dan belauhan dunia yang lain,” tegas Hilmar.

Ia berharap seminar mengarahkan konteks kea rah sana. Ke arah tiga elemen ketidakpastian yang secara nyata kita hadapi. Sebab, itu semua akan berhubungan langsung dengan dunia seni pertunjukan.

Reposisi di era disrupsi, menurut Hilmar Farid, adalah bagaimana kita merespon keadaan. Merespon perubahan-perubahan yang sangat cepat. Misalnya dimulai dari respon terkait konten, kreasi, konsep, baik di tingkat teks yang ingin disampaikan. Narasi apa yang hendak diangkat untuk menyampaikan isi. Terakhir, memikirkan bentuk virtual, skema distribusi, dan lain-lain. “Kita tempatkan reposisi seni pertunjukan dengan mempertimbangan konteks tadi,” tegasnya.

Seni pertunjukan juga diharap tidak tenggelam dalam platform digital, termasuk media sosial. Lebih dari itu, sebuah karya seni pertunjukan harus bisa ikut memaknai dan mempengaruhi keramaian media sosial yang ada dalam platform digital.  “Perlu kerja cerdas, kreatif, dan kekinian,” ujarnya. (rr)

“Memindah” Uluwatu ke Yogyakarta

JAYAKARTA NEWS – Di Uluwatu, Bali terdapat sebuah seni pertunjukan berupa tari kecak yang sangat fenomenal. Dalam satu hari, dilangsungkan dua kali pertunjukan. Setiap pertunjukan, dihadiri tak kurang dari 1.000 penonton. Per penonton, membayar tiket Rp 150.000.

Itu artinya, dalam satu hari pertunjukan, Tari Kecak Uluwatu bisa meraup pendapatan Rp 300 juta. “Pertanyaannya, bisakah kita menghadirkan seni pertunjukan sejenis yang ada di Uluwatu ke Yogyakarta? Bapak-ibu semua yang bisa menjawab,” ujar Aris Eko Nugroho, SP, M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aris mengemukakan hal itu saat menyampaikan pidato pembukaan Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” yang berlangsung di Auditorium 2, Museum Sonobudoyo, Yogyakarta, Selasa (25/10). Seminar dalam rangka memperingati ulang tahun Teater Alam ke-50 itu didukung oleh Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dana Keistimewaan, Museum Sonobudoyo, dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.

Aris Eko Nugroho, SP, M.Si., Paniradya Pati Kaistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (kedua dari kiri), bersama para narasumber seminar: Puntung CM Pudjadi (paling kiri), Prof Hj Yudiaryani, MA (kedua dari kanan), dan Dr Seno Gumira Ajidarma (kanan). (foto: nana)

Serba Kebetulan

Sebelumnya, Aris mengemukakan beberapa hal yang disebutnya sebagagi “serba kebetulan”. Ulang tahun Teater Alam ke-50 dirayakan, bertepatan dengan momentum pengukuhan Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X) sebagai Gubernur Provinsi DI Yogyakarta. Pengukuhan pun dilakukan tanggal 10, bualn 10, jam 10 lebih 10 menit.

“Bertepatan momentum dasawarsa jumenengan Ngarso Dalem, ada 373 event kami gelar dari tanggal 10 Agustus sampai dengan 10 September, baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga ke lapis masyarakat terbawah,” tambah Aris seraya menambahkan, “dan itu semua menggunakan Dana Keistimewaan.”

Berkat itu pula, Provinsi DIY menempati ranking tertinggi indeks kebudayaan di Tanah Air tiga tahun berturut-turut. Ini sebuah kebanggan. “Kami berharap bisa dipertahankan melalui pelestarian dan pengembangan seni budaya, salah satunya melalui seminar yang kita selenggarakan pagi hari ini. Bagaimana menyinergikan akademisi dan praktisi,” katanya.

Pembinaan seni dan budaya dilakukan secara sistematis. Aris menyebutkan, tahun 2019 misalnya, dilakukan pembinaan yang massif untuk dunia pewayangan. Tahun 2020 pembinaan terkait keris. Kemudian tari, dan teater pun ada. “Tantangan kita ke depan adalah bagaimana menjaga kekompakan. Kami yakin, acara ini dihadiri tokoh seniman yang luar biasa, semoga bisa melahirkan resolusi dan rekomendasi dalam memajukan kebudayaan di Yogyakarta,” harap Aris.

Adaptasi

Aris Eko Nugroho juga menyinggung ihwal sajian seni pertunjukan berbasis digital. Tentu perlu pembelajaran baru. Pihaknya bekerja keras bagaimana menampilkan seni pertunjukan berbasis digital yang selaras dengan disiplin pemeriksaan keuangan negara.

Ditambahkan, kemajuan teknologi harus dikuti oleh para pelaku seni pertunjukan. Termasuk dalam penyajian karya seni yang beradaptasi dengan keadaan. “Dulu seni pertunjukan identuk dengan panggung. Saat ini harus bisa beradaptasi dengan teknologi. Bagaimana menampilkan seni pertunjukan berbasis teknologi,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Aris berharap seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” bisa merumuskan langkah ke depan. Langkah dan strategi pelestarian budaya, terutama dalam adaptasi teknologi dan tatanan baru. “Kemajuan teknologi dan dampak yang terjadi, juga bisa menjadi dasar rumusan seminar ini,” harap Aris. (rr)

Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi, Diseminarkan

JAYAKARTA NEWS – Dunia seni pertunjukan termasuk dunia yang mengalami gonjang-ganjing dihantam bandai pandemi. Lebih dua tahun harus vakum tak berkegiatan. Sebagian survive karena kreativitasnya. Sebagian lagi mati suri. Tidak sedikit yang hilang tanpa jejak.

Sadar akan hal itu, Panitia Peringatan 50 Tahun Teater Alam menggelar seminar bertajuk “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi”. Seminar berlangsung Selasa, 25 Oktober 2022 di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta.

“Kegiatan ini didukung Dinas Kebudayaan Provinsi DIY, Dana Keistimewaan, Museum Sonobudoyo, dan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta,” ujar Silvia Purba, selaku panitia pelaksana seminar.

Seminar yang berlangsung mulai pukul 08.30 – 16.00 WIB itu dibuka oleh Paniradya Pati Kaistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho, SP, M.Si. Sebagai keynote speaker, Direktur Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Hilmar Farid, Ph.D.

Ada lima pembicara tampil dalam seminar tersebut. Mereka adalah, Prof. Dr. KH. Buya Syakur Yasin, M. A (Budayawan), Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn, M. Hum (Institut Kesenian Jakarta, Senior Teater Alam),  Prof. Dr. Hj. Yudiaryani, M.A. (Institut Seni Indonesia Yogyakarta), Puntung CM Pudjadi (Sutradara & Senior Teater Alam), serta Melati Suryodarmo (Artist & Pendiri Studio Plesungan).

Jalannya seminar dipandu oleh moderator Dr. Nur Iswantara, M.Hum dan Surya Farid Sathotho, S.Sn. M.A. “Karena keterbatasan tempat, kami menyediakan fasilitas live streaming melalui kanal youtube Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. Dengan begitu, peserta yang tidak bisa hadir di museum Sonobudoyo bisa mengikuti lewat live streaming,” tutur Silvia.

Abstraksi

Berikut adalah abstraksi materi seminar dari para penyaji.

1. Pergeseran Jejak Dramaturgi yang Diperluas”Oleh Prof. Dr. Yudiaryani, M.A

ABSTRAK

Artikel Dramaturgi Media Baru (Dramaturgi Yang  Diperluas Dan Peran Teknologi Digital) berusaha meneliti perluasan pemahaman tentang dialog dramaturgi dengan masa lalunya yang kaya dan bervariasi. Dramaturgi Media Baru (DMB) mengeksplorasi bagaimana sebuah pertunjukan mengkomunikasikan maknanya, dan bagaimana mempertimbangkan konteks sosial yang lebih luas. DMB adalah istilah yang diperkenalkan oleh Marianne Van Kerkhoven (2009) untuk menggambarkan hibriditas bentuk pertunjukan kontemporer setelah 1980-an dan untuk menjelaskan bagaimana DMB mengeksplorasi  titik-titik persoalan estetika dan politik melalui metode yang berbeda dengan teater modern. Istilah ‘baru’ dalam DMB menunjukkan adanya dramaturgi yang diperluas dalam kaitannya dengan konteks definisi dan praktik dramaturgi kontemporer. DMB memiliki nilai-nilai pendekatan dramaturgi  yang  memperhitungkan kondisi unik multimedia dan komunikasi interaktif. DMB berlangsung pada pertengahan tahun sembilan puluhan, dengan adanya prosedur penciptaan dengan prasyarat teknologi untuk penggunaan online dan offline interaktif. DMB  merujuk  pada berbagai bidang aplikasi seluas-luasnya, yaitu dari seni ke bisnis dan dari sains hingga hiburan. Berbagai pendekatan dramaturgi mencerminkan  diferensiasi  dan keragaman ini.  Hasil penelitian adalah kumpulan bahan yang mencerminkan kekayaan kreatif produksi interaktif.

Redefinisi dan perluasan dramaturgi  mengerucut ke dalam rumusan persoalan, yaitu bagaimana bentuk DMB adalah sebuah bentuk dramaturgi yang diperluas, dan bagaimana DMB menghasilkan konten multimedia dan komunikasi seacara nonlinear.

Tujuan penelitian adalah pertama, mengkaji dampak DMB secara internasional dan mengembangkan citarasa penonton; kedua, mengkaji dramaturgi yang ‘diperluas’ untuk mengamati keterkaitan antara kerja produksi teater dan disiplin ilmu lainnya, seperti sejarah seni, praktik multimedia.

Metode penelitian menggunakan metode penelitian deskripsi kualitatif. Metode kualitatif adalah mencari makna di balik data dengan teknik analisis interpretatif dan menyeluruh. Teknik pengumpulan data dengan obsevasi partisipan, wawancara mendalam, pengamatan dan catatan lapangan, serta penggunaan dokumen. Sifat data kualitatif adalah multidimensi dan kaya, sehingga berbagai disiplin ilmu secara paralel meneliti bagian-bagian penelitian, dan kemudian bagian-bagian dieksplanasi secara dekonstruktif agar interpretasi tidak kontradiktif. Hasil yang diperoleh adalah pengembangan fondasi teoritis untuk menjembatani aspek negatif komunikasi antarkultural dan jender dalam seni pertunjukan. Signifikansi teoritis terhadap nilai praktik penciptaan adalah pengembangan teori Dramaturgi Media Baru yang diterapkan dalam praktik penciptaan teater kontemporer.

Kata kunci : dramaturgi media baru, dramaturgi yang diperluas, dramaturgi interaktif,  , teater kontemporer

2. Dari dulu hingga kini, berteater itu berjuang. oleh Puntung CM Pudjadi

3. Reposisi Industri Pendidikan dan Penguatan Karakter Bangsa oleh Prof. Dr. KH Buya Syakur

 4. Teater dalam Dua Reposisi Oleh Dr. Seno Gumira Ajidarma, S.Sn., M.Hum

 Teater modern mengalami dua kali reposisi dalam sejarahnya; pertama, akibat munculnya film; kedua, akibat pandemi – kemiripan bahasa media dibedakan oleh realitas sosialnya.

5. Matinya Makna Menghidupkan Monster yang Mustahil Oleh Melati Suryodarmo

Pada abad ke 21 ini, disrupsi teknologi akan terus bersaing dengan kecepatan pengetahuan manusia tentang teknologi. Tingginya kecepatan produksi dan persaingan industri teknologi internet dalam era Industri 4.0 tidak terhentikan dan tidak bisa diperkirakan dampaknya dalam waktu pendek ini. Pandemi telah memberi ruang pada pemanfaatan yang ekstrem atas disrupsi teknologi. Pandemi telah nyata berdampak atas keberlangsungan produksi di bidang kesenian pada umumnya, dan khususnya bagi para pelaku seni yang wahananya adalah panggung. Para pelaku seni tertantang untuk mencari peluang untuk menanggapi kondisi tersebut dengan mencoba bersinggungan dengan pemanfaatan teknologi digital untuk menghadirkan karyanya, baik melalui proses alih wahana maupun interdisipliner. Berbagai pencanggihan pemanfaatan teknologi dilakukan para pencipta seni untuk mencapai metode dalam menyajikan karya bagi khalayak.

Sebagai seniman yang menggunakan tubuh sebagai medium utama dalam berkarya, para penari, aktor dan seniman performans menghadapi pertanyaan tajam dan eksistensial tentang fungsi kehadiran tubuhnya dalam karya di masa depan.  Saya akan berbagi cara pandang untuk melihat hubungan kehadiran tubuh, realitas, perspektif kebudayaan dan pengaruh disrupsi teknologi dalam praktik seni pertunjukan.

6. Bondres Clekontong Mas: Seni Pertunjukan yang Adaptif dan Fleksibel

Oleh: I Wayan Dana

Jurusan Tari Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Abstrak

Bondres adalah sebagai sebutan tokoh-tokoh rakyat jelata, yang karakternya mempresentsikan masyarakat pada umumnya. Pada mulanya tokoh ini hadir sebagai simbol kehidupan masyarakat dalam seni pertunjukan dramatari topeng di Bali. Pemainnya dilalukan oleh pemeran yang mampu mengekspresikan berbagai karakter melalui ungkapan tata rias-busana, gerak, tembang, humor, vokal-dialog sesama Bondres maupun berkomunikasi langsung dengan penonton serta para awak pemusik yang mengiringnya.

Dalam perjalanan waktu dramatari topeng di Bali, kini Bondres mampu menjadi genre seni pertunjukan yang mandiri, adaptif, fleksibel, seperti Bondres Clekontong Mas. Seni pertunjukan Bondres ini sebagai media pendidikan etis dan estetis dapat dikaji melalui pengungkapan sistem lambang seperti melalui kata-kata, nada bicara, mimik (ekspresi muka), gestur (aksi tubuh), gerak, make-up (rias muka), kostum, gaya rambut, properti, setting (latar pembangun suasana), lighting (tata cahaya), musik, dan efek suara, sehingga menarik serta kocak di atas panggung, yang juga memanfaatkan kehadiran teknologi. Kehadiran Bondres ini, mencipta homor dengan rias muka atau topeng berkarakter lucu, muka atau wajah manusia yang tidak lengkap, melalui ungkapan gerak ‘kejutan’ tak terduga, aneh dan tidak biasa serta menghadirkan sesuatu yang kontradiktif dengan kenyataan menjadi daya pikat dan energi sebuah sajian seni pertunjukan

Bondres Clekontong Mas terdiri dari I Komang Dedi Diana berperan sebagai Tompel, I Ketut Gede Rudita berperan sebagai Sokir, dan I Nyoman Ardika berperan sebagai Sengap. Trio Bondres ini memiliki ciri khasnya masing-masing, baik dari segi karakter maupun penampilannya. Tompel terinspirasi dari karakter topeng Bali yang diciptakan oleh leluhur terdahulu, Sokir terinspirasi maupun teredukasi dari tokoh-tokoh yang ada di dunia pewayangan, dan Sengap terinspirasi dari senior Bondres Bali seperti Lolak dan Dolar dalam pertunjukan Drama Gong Bali. Ketiganya berkolaborasi, berinovasi, kreatif dan proaktif mengahadapi perubahan dunia seni pertunjukan serta cepat menyesuaikan diri saling melengkapi dan mampu memancing gagasan-gagasan ke-kini-an.

Kata kunci: Bondres Clekontong Mas, Seni pertunjukan, Adaptif, dan fleksibel

7. SOLUSI TEPAT DALAM MEMPERSIAPKAN PERTUNJUKAN ANSAMBEL MUSIK GESEK

Oleh: Dr. R.M. Surtihadi, M.Sn.

ABSTRAK

Tujuan penulisan artikel ini memberikan solusi bagi pemain violin yang akan memainkan viola untuk melengkapi ketiadaan pemain viola dalam sebuah acara pertunjukan musik gesek. Jumlah pemain violin di Indonesia secara umum lebih banyak dibandingkan pemain viola. Instrumen gesek yang terdiri dari violin, viola, cello dan kontrabass merupakan sebuah kelompok string section dalam keluarga instrumen gesek. Bilamana dalam sebuah formasi ansambel gesek tidak lengkap, sudah barangtentu akan terjadi kejanggalan formasi yang akan disajikan. Salah satu cara untuk memecahkan masalah tersebut diambil inisatif beberapa pemain violin disarankan untuk ganti instrumen memainkan viola agar dapat mengisi kekosongan pemain viola. Namun hal ini tidak mudah, karena membutuhkan waktu dan kemampuan pemain violin berdaptasi memainkan viola, baik secara teknis memegang instrumennya maupun teknis membaca notasi viola. Metode yang digunakan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada pemain violin. Hasil penelitian ini dapat dilihat keberhasilan pemain viola yang diambilkan dari pemain violin telah mempelajari teknik membaca notasi viola dengan baik sehingga pertunjukan ansambel gesek dapat dilaksanakan dengan lancar. 

Kata kunci: Solusi, Pertunjukan, Ansambel Musik Gesek