IMI Siap Gelar Kejurnas Balap Motor Bebek Piala Presiden

JAYAKARTA NEWS – Ketua MPR RI sekaligus Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) Bambang Soesatyo bersama Sekjen IMI Ahmad Sahroni yang juga Wakil Ketua Komisi III DPR RI memaparkan beberapa aspek teknis penyelenggaraan Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Lomba Balap Motor Bebek 2021, memperebutkan Piala Presiden Republik Indonesia, hasil kerjasama IMI dengan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Kejuaraan diikuti 34 provinsi di Indonesia yang akan mengirimkan para pembalap muda andalannya dari mulai usia 10 tahun, yang akan bertanding di berbagai kelas. “Pemenang dari masing-masing kelas akan dikirim bertanding di ajang Asia Road Racing Championship 2022. Mereka akan menjadi perwakilan Indonesia di bawah bendera Indonesia Racing Team, asuhan Putra Rizky, pengusaha sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal IMI Pusat yang memiliki kepedulian terhadap pengembangan olahraga balap motor Indonesia,” ujar Bamsoet usai menerima perwakilan para pembalap muda yang akan bertanding dalam Kejuaraan Nasional Lomba Balap Motor Bebek memperebutkan Piala Presiden RI, di Jakarta, Senin (26/4/21).

Para pembalap muda yang hadir antara lain Nelson Cairoli (H. Putra Racing Team), Haikal Ramdhan (DRT 35), Shendy AP (DRT 35), Vicho Sakti (77 Racing Course), dan Davino Acil (77 Racing Course).

Turut hadir para pengurus IMI Pusat, antara lain Sekjen Ahmad Sahroni, Wakil Ketua Umum Olahraga Sepeda Motor Sadikin Aksa, Wakil Ketua Umum Internasional dan Event Judiarto, Direktur off the Road Olahraga Sepeda Motor Eddy Saputra, Komunikasi dan Media Sosial Dwi Nugroho serta Hasby Zamri.

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, kejuaraan akan diselenggarakan dalam lima putaran. Putaran pertama rencananya digelar di Sirkuit Mijen di Semarang, Jawa Tengah pada 6 Juni 2021. Dilanjutkan di Sirkuit Manggul Lahat/Sirkuit Sky Land Muba di Sumatera Selatan pada 11 Juli 2021. Kemudian pada 8 Agustus 2021 di Sirkuit Bukit Peusar di Tasikmalaya, Jawa Barat. Terakhir, sebanyak dua putaran, termasuk Grand Final, akan diselenggarakan di Sentul International Karting Circuit (SIKC) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Grand final rencananya akan diselenggarakan pada 28 Oktober 2021, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Direncanakan Presiden Joko Widodo akan hadir menyaksikan secara langsung, sekaligus memberikan hadiah Piala Presiden kepada pemenang kejuaraan,” jelas Bamsoet.

Ketua Umum Pengurus Besar Keluarga Olahraga Tarung Derajat (PB KODRAT) ini menerangkan, rencana penyelenggaraan kejuaraan tersebut juga sudah dilaporkan oleh dirinya dan para pengurus IMI Pusat lainnya kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Jakarta, Jumat (16/4/21). Selain memberikan dukungan dalam penyelenggaraan Kejuaraan Nasional Lomba Balap Motor Bebek 2021, Presiden Joko Widodo juga mendukung diselenggarakannya kejuaraan dari berbagai cabang olahraga lainnya.

“Sehingga bisa tetap memastikan pembinaan dan regenerasi serta pencarian bibit unggul atlet. Sekaligus memastikan perekonomian rakyat tetap menggeliat,” tandas Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan, Presiden Joko Widodo menggarisbawahi agar dalam setiap penyelenggaraan kejuaraan harus menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Antara lain wajib memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan melakukan swab test antigen sebelum memasuki area kejuaraan.

“Serta pembatasan penonton sebesar 25 persen dari total kapasitas penonton di sebuah arena kejuaraan. Penonton yang datang juga harus menunjukan sertifikat telah menerima dua kali suntikan vaksin COVID-19. Dengan demikian yang datang ke arena kejuaraan sudah dipastikan terbebas dari Covid-19. Sehingga pandemi Covid-19 bukan menjadi halangan dalam melakukan pembinaan dan regenerasi terhadap para atlet,” pungkas Bamsoet. (*/rr)

FC Utrecht Sasar Indonesia Pasar Jersey Bagus Kahfi

JAYAKARTA NEWS – Kabar Bagus Kahfi yang resmi berjersi FC Utrecht termasuk yang paling dinanti oleh pendukung Timnas Indonesia. Informasinya memang sangat terbatas, sehingga kanal Youtube yang membahas Bagus relative laris dikunjungi viewer.

Kabar teranyar dari  FC Utrecht mengenai Bagus Kahfi adalah, penjualan jersey pemain terbarunya tersebut.

Kaos edisi khusus yang ditandatangani Bagus tersebut, disediakan dalam jumlah terbatas.  “Kaos khusus ini hanya tersedia sementara. Kaos  tersebut dibuat dengan  teknologi Dri-FIT yang membuat Anda tetap hangat dan nyaman. Itu terbuat dari 100% polyester,” demikian tulis klub tersebut di akun resmi twitternya.  

Ditegaskan, untuk pengiriman ke Indonesia akan memakan waktu sekitar 2-3 minggu. “Anda hanya dapat membayar dengan kartu kredit, namun, kami sedang berupaya menambahkan PayPal segera,” demikian pemberitahuan dari klub itu. Kaos Bagus dibandrol dengan harga  € 50 yang didiskon dari harga pokok € 69,99.

Seorang netizen dengan akun @huseinhard218 berkomentar, apa yang dilakukan oleh FC Utrecht semata sebagai politik dagang seperti yang dilakukan oleh Liverpool setelah Minamino menandatanganai kontrak.

“Saya pikir langkah ini seperti liverpool menandatangani minamino, hanya untuk menjual jersey / kaos karena fans dari jepang banyak yang membeli jersey minamino, dan langkah ini fc utrecht berulang untuk menjual banyak jersey / kaos Bagus kahfi, dan bagus tidak bisa bermain reguler di fc utrecht saja beberapa menit seperti minamino,” tulis netizen tersebut.

Netizen lain @EdwinKBali menuliskan, “ja hoor, het uitmelken begint meteen al.” Saatnya mulai memerah ‘susu.’  

Terlepas dari kenyinyiran tersebut, apa yang dilakukan FC Utrecht adalah hal wajar dan sudah seharusnya. Itu pula yang dilakukan terhadap Ronaldo ketika hadir di Madrid dan Juventus.

Yang jelas kehadiran Bagus di Utrecht disambut baik oleh rekan-rekannya di Indonesia dan Belanda, seperti Marc Klok (Persija), Mark Van Der Maarel (FC Utrecht), Irfan Bachdim (PS Sleman), Tommy ST. Jago (FC Utrecht). Semoga kahadiran Bagus di Utrecht membawa kemajuan bagi skill profesionalnya sehingga banyak dimainkan oleh menejernya, juga sumbangan bagi Timnas Indonesia. (sm)

Newcastle Jets Australia Resmi Kontrak Abimanyu

JAYAKARTA NEWS – Klub A-League Australia Newcastle Jets resmi mengumumkan  penandatangan kontrak dengan pesepakbola Indonesia, Syahrian Abimanyu untuk sisa musim 2020/21.

Abimanyu bergabung dengan Jets setelah dipinjamkan oleh klub Liga Utama Malaysia Johor Darul Ta’zim II FC. Jets sendiri kini masih berada di juru kunci klasemen sementara A-League yang diikuti oleh 12 kesebelasan dengan meraih empat poin dari enam laga yang dijalaninya dengan memetik kemenangan sekali dan hasil imbang sekali.

Seperti dirilis dalam laman resmi klub, manajer  Jets Joel Griffiths mengatakan,  “Abi adalah pemain yang sangat terampil yang bisa melihat umpan. Dia masih muda tetapi memiliki banyak keterampilan yang Anda cari sebagai pemain menyerang.”

“Anda tidak bisa mengajarkan bakat bermain  dan bakat dalam  sepak bolanya luar biasa.

Pada bagian lain Griffiths melihat, sosok Abimanyu sebagai gelandang tengah  yang tidak egois, tidak mementingkan diri sendiri.  “Dengan mentalitas tim seperti itu,  memberi saya keyakinan bahwa dia akan langsung masuk ke tim kami.”

Pemain berusia 21 tahun itu telah  menghabiskan karir mudanya di La Liga, sebelum melakukan debut profesionalnya pada 2018. Karir profesionalnya diawali saat membela  Sriwijaya FC  di Liga 1 Indonesia, di mana dia membuat 8 penampilan di musim tersebut. 

Tahun berikutnya, pemain yang akrab disapa sebagai Abi itu dipinang  Klub Liga 1, Madura United.  Abi menghabiskan dua musim bersama klub kebanggan masyarakat Madura tersebut. Di klub tersebut Abi tampil 20 kali, sebelum kemudian bergabung dengan klub Malaysia.  

Abi tercatat sebagai salah satu anggota Timnas  Olimpiade Indonesia yang masing-masing bermain di timnas U-23,  19 dan 16. Pemain kelahiran  Banjarnegara, Jawa Tengah tersebut  baru bisa dimainkan Jets tatkala  jendela transfer A-League dibuka pada 16 Februari.

Untuk sementara Abi masih menjalani  karantina di Sydney. (sm)

Hidden Valley Track Baja Otomotif Superblok

JAYAKARTA NEWS – Ketua MPR RI Bambang Soesatyo yang juga Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) mendukung digunakannya Hidden Valley Track Baja Otomotif Superblok (BOS) yang terletak di kawasan Pulogadung sebagai salah satu arena balap offroad bagi olahraga otomotif di Indonesia. Dengan makin banyak tersedianya arena balap, diharapkan mampu melahirkan atlit-atlit nasional yang akan menjuarai laga internasional.

“Hidden Valley Track BOS dengan luas lahan 5 hektar dapat digunakan untuk area motocross, flat track, grass track, supermoto, gravel bike, mountain bike dan SUV car. Lokasinya yang berada di kawasan industri Pulogadung, Jakarta Timur, menjadikannya mudah dijangkau para pecinta otomotif dari Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang serta daerah lainnya,” ujar Bamsoet selaku Ketua Umum PP IMI didampingi Prasetyo Edi Marsudi, Pembina IMI serta Ketua DPRD Jakarta dan Djoko Iman Santoso, pengelola (BOS), usai melihat kawasan Hidden Valley Track BOS di Jakarta, Senin (1/2/21).

Ketua DPR RI ke-20 ini berharap kawasan Hidden Valley Track BOS dapat menjadi salah satu destinasi sport automotive tourism. Tak hanya menjadi tempat sarana olahraga otomotif, Hidden Valley Track BOS bisa menjadi tempat berkumpul serta pengembangan usaha UMKM.

“Konsep sport automotive tourism sangat cocok dikembangkan disini. Hidden Valley Track BOS harus mampu menjadi tempat multifungsi bagi masyarakat. Terutama untuk pecinta otomotif, urban culture, penyediaan event space dan tempat berkumpul yang berlokasi strategis di ibu kota Jakarta. Termasuk di dalamnya membangun pusat belanja berbagai kebutuhan otomotif,” kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia ini menambahkan, beberapa hanggar dan kontainer yang ada di area Hidden Valley Track BOS bisa dijadikan tempat bagi pengusaha UMKM untuk memasarkan produknya. Selain bisa digunakan untuk dijadikan showroom, bengkel modifikasi ataupun tempat menjual part after market produk otomotif.

“Disaat pandemi seperti ini kita harus pintar melihat peluang. Masyarakat juga butuh sarana untuk menyalurkan hobinya. Saya harap Hidden Valley Track BOS bisa segera berfungsi dan menggelar event olahraga otomotif, tentunya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” pungkas Bamsoet.

Areal seluas 5 hektar yang berada di lahan tak terpakai selama 45 tahun milik PT Jakarta Kyoei Steel Works (JKSW)  telah dirintis sejak tahun lalu oleh Djoko Iman Santoso dan rekannya untuk dibuat sebagai salah satu pusat aktivitas motorsport serta industri pendukungnya. Sampai kemudian yang sudah terwujud adalah sirkuit yang disebutnya Hidden Valley Track seluas 2 hektar dan sudah bisa digunakan untuk kegiatan seperti motocross, grasstrack dan flat track.

Kehadiran Bambang Soesatyo serta Prasetyo Edi Marsudi yang meninjau langsung area Baja Otomotif Superblock adalah salah satu bukti bahwa lokasi ini mempunyai sebuah potensi dalam kaitannya dengan dunia otomotif.

“Konsep tempatnya menarik, tinggal dikembangkan lagi fasilitas pendukung lainnya agar tempat ini bisa menjadi salah satu pusat kegiatan otomotif dan IMI terbuka untuk bekerjasama,” tambah Bamsoet.

Di akhir kunjungan Bamsoet dan Prasetyo menjajal sirkuit Hidden Valley Track BOS dengan menggunakan Can Am Maverick 1000 kemudian menyaksikan para kroser beraksi. Pada acara kunjungan keduanya, beberapa pihak yang menjadi mitra BOS ikut berpartisipasi dan menjelaskan program dan produk mereka seperti Dyandra Promosindo, AHRS serta Pirelli termasuk Indoclub Championship. (*/rr)

Singgah di Kampung Sepakbola Tulehu

Tidak salah jika Tulehu dijuluki sebagai Kampung Sepakbola. Di sini, di desa yang terletak sekitar 46 kilometer dari pusat kota Ambon ini, bercokol banyak pemain sepakbola nasional.

Seperti apa wajah Kampung Sepakbola Tulehu, saksikan video ini.

Jendela Transfer Januari, Koeman Kantongi Daftar Belanja Pemain

JAYAKARTA NEWS –  Pelatih Barcelona Ronald Koeman mengungkapkan dirinya telah membuat daftar pemain yang ingin ia tambahkan dan lepaskan pada jendela transfer Januari, namun dia juga memahami situasi keuangan klub yang lemah mungkin tidak memungkinkan manajer asal Belanda itu untuk mendapatkan semua personel yang diinginkannya. 

Sementara itu pelatih Real Madrid Zinedine Zidane, kembali menegaskan bahwa skuad yang dimilikinya saat ini adalah yang terbaik dan tidak memerlukan tambahan atau pengurangan.

Koeman mengatakan bahwa dia ingin mendatangkan beberapa pemain baru untuk membantu timnya pulih dari start terburuk mereka di gelaran  La Liga sejak 1987-88.

“Setiap pelatih selalu melihat bulan Januari sebagai kesempatan untuk meningkatkan skuad mereka dan saya juga sama,” katanya pada konferensi pers menjelang pertandingan mereka di Athletic Bilbao, Selasa (5/1/2021) di markas Barca.

“Yang saya lakukan adalah membuat rencana pemain yang bisa pergi dan daftar pemain yang akan menarik untuk dibawa masuk. Tapi itu tergantung pada klub,” kata Koeman menambahkan.

Barca tidak mungkin memberikan pelatih asal Belanda itu semua yang diinginkannya. Pasalnya, semenjak  pandemi virus korona, pendapatan klub menurun, bahkan  barca  baru-baru ini mengumumkan dipaksa untuk menunda pembayaran Januari kepada para pemain.

Carles Alena tampaknya menjadi pemain pertama yang keluar dari Camp Nou, setelah Koeman menyetakan  bahwa gelandang itu telah diberi izin untuk mencari  klub baru dengan status pinjaman. Media Spanyol mengatakan dia setuju untuk bergabung dengan Getafe.

Barca, yang berada di urutan kelima La Liga dengan 28 poin dari 16 pertandingan dan tertinggal 10 poin dari pemimpin klasemen Atletico Madrid, setelah mereka memainkan satu pertandingan lebih banyak, telah kalah 1-0 dalam dua laga tandang terakhir mereka ke Athletic di semua kompetisi dan terakhir mencetak gol di sana dalam kemenangan 2-0 di 2017. (rtr/sm)

Kejanggalan Mukernas Pertina Dilaporkan ke KONI Pusat

JAYAKARTA NEWS – Tidak puas dengan hasil Mukernas Pertina, 17 pengurus provinsi Pertina membuat laporan evaluasi dan mengirimkannya ke Ketua Umum KONI Pusat, Marciano Norman. Sedikitnya ada tujuh catatan penting yang menjadi laporan.

Pertama, pelaksanaan Mukernas diselenggarakan secara virtual (zoom), Kamis (12/11/2020). Kedua, admin (host) zoom meeting dalam kegiatan Mukernas, dikendalikan sepenuhnya oleh PP Pertina.

Point ketiga menyebutkan, jalannya Mukernas via zoom tidak netral dalam memberikan kesempatan berbicara kepada para peserta. Dilanjutkan point keempat, bahwa dalam menampung aspirasi dari tiap-tiap daerah, berlangsung tidak demokratis. Pengusus Pengprov Pertina daerah yang dianggap sebagai kubu yang berseberangan dengan calon ketua umum petahana, dalam hal ini Johny Asadoma, tidak diberi kesempatan berbicara secara leluasa.

Yang kelima, dalam perjalanan musyawarah untuk mengambil keputusan tidak dapat ditempuh dengan musyawarah untuk mufakat, sehingga untuk mengambil keputusan dilaksanakan dengan cara voting. Yang keenam, dan ini tak kalah krusial, bahwa dalam pelaksanaan voting, ada beberapa hal yang dianggap sangat janggal dan tidak adil.

Di antaranya, Lampung yang terang-terangan tidak menentukan/menetapkan abstain, tetapi dimasukkan untuk mendukung Johny Asadoma. Maluku datang dengan dua peserta yang masing-masing menyatakan ada surat mandat, tetapi pihak Johny Asadoma hanya mengakomodir peserta yang mendukung Johny Asadoma. Patut diduga, surat mandat yang dibawa Yance menggunakan tanda tangan palsu.

Point berikutnya, pada saat perbandingan suara 17 : 16, di mana pihak Johny Asadoma hanya didukung 16 suara, Johny Asadoma atas nama PP Pertina mengatakan bahwa suara PP Pertina diberikan kepada dirinya, sehingga suara menjadi 17 : 17.

Saat posisi 17 : 17, untuk mendapatkan keputusan pelaksanaan waktu dan tempat Munas ditetapkan sendiri oleh Johny Asadoma secara sepihak, yaiktu Munas ditetapkan setelah Pilkada serentak serta tempat pelaksanaannya di Labuan Bajo (NTT). Sedangkan pihak yang lain berkeinginan Munas digelar sebelum Pilkada serentak, dengan pertimbangan bahwa pasca Pilkada serentak dimungkinkan situasi politik tidak kondusif. Selain itu, pelaksanaan Munas pasca Pilkada juga dinilai sangat mengganggu anggota yang beragama Nasrani melaksanakan perayaan Natal. Sedangkan, tempat pelaksanaan di Labuan Bajo, secara ekonomis membabani peserta, dibandingkan jika Munas digelar di salah satu tempat di Jabodetabek.

Butir ketujuh melaporkan, mengacu kepada poin-poin tersebut di atas, para pengurus Pengprov Pertina Daerah berharap Ketua Umum KONI Pusat pada saat pelaksanaan Munas nanti KONI Pusat dapat memantau dan mengawasi jalannya Munas, sehingga hasil yang dicapai betul-betul sesuai dengan kenyataan yang dihadapi.

Demikian surat yang disampaikan kepada KONI Pusat terkait Mukernas PP Pertina yang berlangsung tidak sebagaimana mestinya. Surat ini dikirim atas nama 17 Pengprov Pertina. Masing-masing Pengprov Pertina Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Banten, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat,             Bali, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan,    Sulawesi Selatan, Gorontalo, dan Maluku Utara. Surat ditandatangani Syarkawi, Abi Raihan, dan I Made Subagiadnya. (mon)

Mukernas Pertina Amburadul, Sosok Komaruddin Simanjuntak Menguat

JAYAKARTA NEWS – Demi mendapat sorotan tajam berbagai pihak, serta otokritik dari tubuh Pertina sendiri, maka Kamis (12/11/2020) PP Pertina menggelar Mukernas (Musyawarah Kerja Nasional). Mukernas digelar secara virtual.

Apa lacur, ketidaksiapan panitia menggelar Mukernas, berakibat makin deras kritikan dan sorotan terhadap kinerja PP Pertina 2016 – 2020. “Acara molor hingga dua jam menunjukkan ketidaksiapan panitia. Ditambah, kepemimpinan sidang yang terkesan diktatoris dan tidak demokratis, karena mikropon peserta dimatikan, sehingga tidak memungkinkan peserta Mukernas menyampaikan pendapat,” ujar Syarkawi Yuzan, Sekretaris Pengprov Pertina Aceh, kepada Jayakarta News.

Kesan senada tidak hanya datang dari Sarkawi, tetapi dari para pengurus Pengprov Pertina lain. Mereka di antaranya Adam Taka Simanjuntak (Sekretaris Pengprov Pertina Sulawesi Selatan), Ramli Ramlan (Sekretaris Pengprov Pertina Kalimantan Barat), dan banyak pengurus daerah lain yang merasa kecewa dengan Mukernas kemarin.

Semula, peserta Mukernas masih berharap ada dialog konstruktif antara pengurus daerah dengan PP Pertina. Terlebih, persoalan organisasi dinilai semakin carut-marut. Jika kondisi ini tidak segera diatasi, dikhawatirkan pengurus KONI Pusat akan mengambil alih PP Pertina. “Kalau itu terjadi, sangat memalukan,” tambah Syarkawi Yuzan. Apa daya, yang terjadi pada Mukernas justru jauh panggang dari api harapan peserta.

Tanda-tanda ketidakprofesionalan pengurus pusat Pertina dalam mengelola dan menjalankan roda organisasi tampak dari banyak aspek. Pertama, tidak adanya harmonisasi program antara PP dengan Pengprov. Ini dinilai aneh, mengingat Pertina berkewajiban membina pengurus-pengurus daerah. “Tapi praktiknya, mereka menjalankan semau sendiri,” tambah Ramli Ramlan, dari Kalimantan Barat.

Yang kedua, tidak adanya prestasi menonjol. Bahkan dalam ajang Asian Games 2018, di mana Indonesia bertindak sebagai tuan rumah, target satu emas pun tidak tercapai. “Banyak potensi petinju amatir di daerah dipandang sebelah mata oleh PP Pertina. Mereka menentukan atlet yang dimajukan atas dasar kedekatan. Jadilah, petinju yang berlaga hanya itu-itu saja,” tambahnya.

Ketiga, pelanggaran berbagai ketentuan baku organisasi yang sudah diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga. “Salah satu contoh ya Munas yang molor. Dalam Mukernas di Cisarua, Bogor Desember 2019 ditetapkan Munas diselenggarakan bulan Agustus 2020 di satu daerah di Jabotabek. Tapi nyatanya hingga hari ini belum juga diselenggarakan,” tambahnya.

Para peserta Mukernas yang kecewa dengan kepemimpinan Ketua Umum PP Pertina Johny Asadoma, mendesak PP Pertina segera menggelar Munas, demi kebaikan organisasi ke depan. Bukan hanya itu, mereka juga mempertanyakan sikap Johny Asadoma.

Semula, sempat diapresiasi sejumlah pengurus, saat dirinya menyatakan tidak akan mencalonkan diri lagi di Munas 2020, yang salah satu agendanya memilih Ketua Umum PP Pertina periode 2020 – 2024. Tetapi, belakangan dikabarkan Johny akan berusaha mempertahankan jabatannya.

“Akan lebih elegan kalau beliau mundur. Tugas di Mabes Polri tentu akan menjadi kendala untuk bisa aktif dan fokus membenahi organisasi. Sementara, tantangan ke depan sangat besar. Jika beliau merelakan estafet kepemimpinan kepada tokoh lain yang lebih mampu mendongkrak prestasi dan mengelola organisasi, harusnya beliau legowo. Dengan begitu, image-nya akan positif,” tambah Syarkawi.

Komaruddin Simanjuntak, calon kuat Ketua Umum PP Pertina 2020-2024.

“Bersatu Hati” Dukung Komaruddin

Meski begitu, kalau toh Johny Asadoma tetap ngotot maju dalam Munas, para pengurus Pengprov Pertina memprediksi tidak akan berhasil. Sebab, kepercayaan pemegang hak suara sudah luntur kepadanya. Bahkan, saat ini tak kurang dari 23 Pengurus Pengprov Pertina se-Indonesia, sudah menyatukan kebulatan tekad untuk mengusung sosok Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak sebagai Ketua Umum PP Pertina 2020 – 2024.

Ke-23 suara sudah bulat mengarah ke Komaruddin Simanjuntak. Kekompakan mereka bahkan diikat dalam satu slogan kebersamaan bertagar “Pengprov Pertina Bersatu Hati”.

“Benar, kami sudah bersatu hati mengusung Komaruddin Simanjuntak menjadi Ketua Umum PP Pertina. Kami juga sudah sering bersilaturahmi dengan beliau. Sosoknya luar biasa. Bukan saja matang, tetapi juga smart dan akomodatif terhadap masukan orang lain. Tipe pemimpin seperti ini yang dibutuhkan Pertina. Beliau juga sangat nasionalis. Dalam banyak kesempatan, selalu mengetengahkan keinginan yang kuat melihat bendera merah putih berkibar di pucuk bendera kejuaraan. Lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang dalam berbagai kejuaraan. Tidak saja di tingkat ASEAN, tetapi Asia bahkan dunia. Beliau punya keyakinan kuat, karena Indonesia pernah berjaya di ajang tinju amatir,” papar Syarkawi. (mon)

Pertina, Menimang Johny dan Komar

Catatan Bambang Dwi, Wartawan Olahraga

Bambang Dwi

Tahun 2020 mestinya menjadi tahun penentuan bagi Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia (PB Pertina). Sebab, tahun ini pula, di bulan Mei 2020, kepengurusan periode 2016 – 2020 berakhir. Celakanya, hingga hari ini, Munas PP Pertina belum juga tergelar.

Rencana Munas yang diundur menjadi bulan Agustus, atas “restu” KONI Pusat, nyatanya tak juga terwujud, dengan dalih pandemi Covid-19. Dalam konsultasi lanjutan, PP Pertina di bawah pimpinan Ketua Umum Irjen Pol Johanis “Johny” Asadoma sempat meminta “tambahan masa kepengurusan”, tetapi oleh KONI ditolak, dan diminta segera menggelar Munas.

Dalam kalimat yang lebih spesifik, Ketua Umum KONI Pusat Marciano Norman meminta PP Pertina melangsungkan Munas sebelum Pilkada Serentak Desember 2020. Per tulisan ini dibuat, belum ada rilis resmi dari PP Pertina ihwal hajat besar empat tahunan tersebut.

Esensi Musyawarah Nasional bagi sebuah organisasi cabang olahraga, hakikatnya tidak melulu pada persoalan suksesi ketua umum. Ajang Munas harus bisa menjadi ajang koordinasi sekaligus konsolidasi organisasi. Saat menuju pemilihan ketua umum, akan tersaring calon-calon yang kapabel sekaligus kredibel.

Kapabel dalam pengertian memiliki skills atau kecakapan sebagai pemimpin organisasi cabang olahraga tinju amatir. Kredibel, dalam arti memiliki rekam jejak yang baik.

Yang terekam di media massa hingga hari ini adalah, persoalan Munas yang tak kunjung ada titik terang. Jika ini berlarut-larut, ada dua kemungkinan yang bakal menimpa PP Pertina. Pertama, KONI meminta PP Pertina menggelar Munas Luar Biasa (Munaslub), atau mengambil-alih kepengurusan 2020-2024.

Dua opsi itu sama-sama memiliki implikasi negatif. Setidaknya, itu menandakan ada yang “macet” dalam organisasi tersebut. Ada yang “tidak beres” dalam organisasi tersebut. Jika itu terjadi, maka ini akan menjadi preseden bagi PP Pertina.

Minim Prestasi

Dari tahun ke tahun, tinju amatir makin tenggelam, jika tak mau disebut terpuruk. Nyaris tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan. Bukan untuk dibanggakan oleh pengurus, tetapi membuat bangga bangsa Indonesia. Hal itu mengingat, tinju amatir Indonesia pernah memiliki prestasi gemilang pada periode lalu.

Sekadar membuka catatan lama, kita pernah memiliki sederet nama besar di ring tinju amatir. Dekade 80-90-an kita memiliki Amstrong MS. Era yang sama pula lahir nama-nama Adrianus Taroreh dan Nico Thomas.

Syamsul Anwar

Mundur ke tahun 70-an, kita punya nama besar Syamsul Anwar. Meski tidak pernah menyabet gelar juara Asia, tetapi kemenangannya atas petunju Amerika Serikat Thomas Hearns tahn 1976 di Kejuaraan Piala Presiden di Jakarta, adalah sebuah prestasi besar. Di kemudian hari, Thomas Hearns menjadi salah satu petinju legendaris dunia.

Kita juga tidak boleh melupakan nama Wiem Gommies. Petinju kelahiran Ambon 31 Desember 1945 itu, banyak mendulang medali di ajang multievent. Misal, meraih edali emas tinju kelas menengah Asian Games VI Bangkok tahun 1970.

Disusul kemudian meraih medali emas kelas menengah di Kejuaraan Tinju Asia di Teheran tahun 1971. Lalu prestasi yang sama, meraih medali emas kelas menengah pada Turnamen Internasional Tinju Piala Presiden tahun 1976. Dua tahun berikutnya, ia masih berkibar. Masing-masing menyabet medali emas kelas menengah Sea Games IX Kuala Lumpur tahun 1977 dan medali emas kelas menengah Asian Games VIII Bangkok tahun 1978.

Sekilas ke belakang, kita juga pernah memiliki legenda tinju amatir lain seperti Frans van Bronkhorst atau lebih dikenal Frans VB. Ia adalah juara tinju asia tahun tahun 70-an (amatir), dan salah satu petinju yang tembus ajang Olimpiade Montreal tahun 1976. Saat itu, sejumlah petinju yang kemudian menjadi legenda dunia, turut serta. Mereka antara lain Sugar Ray Leonard (medali emas kelas welter ringan), Michael Spinks (medali emas kelas menengah), Leon Spinks (medali emas kelas berat ringan), dan lain-lain.

Nama yang tak asing lainnya adalah Pino Bahari, peraih medali emas kelas menengah Asian Games 1990 di Beijing, dan Ferry Moniaga, juara Asia 1980 dan peringkat 5 Olimpiade Munich 1972.

Lantas, jika kita menyebut nama Ellyas Pical, Chris John, dan Daud Jordan, mereka semua berangkat dari ring amatir. Seperti pernah diungkapkan Syamsul Anwar, petinju terbaik dilahirkan dari ring tinju amatir. Syamsul berdalih, kalau ada kesalahan sekecil apa pun seperti teknik memukul tidak benar, pasti diperingatkan wasit, atau pertandingan dihentikan. Contohnya memukul dengan teknik pukul seperti menampar, pasti diperingatkan, karena teknik pukulan harus benar, yakni dengan buku-buku jari.

Sudah cukup lama tinju amatir Indonesia terpuruk. Jika harus ada yang bertanggung jawab, maka yang bertanggung jawab adalah pengurus. Sementara, kendali kepengurusan organisasi tinju amatir yang bisa membuat maju-mundurnya prestasi, ada di tangan ketua umum.

Catatan digital masih terekam dengan sangat baik. Saat Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018, adalah momentum terbaik untuk unjuk prestasi. Sayang, saat itu, Ketua Umum Johny Asadoma hanya menargetkan “satu medali emas”.

Sunan Agung Amoragam

Waktu itu, petinju Sunan Agung Amoragam mendapat kerpercayaan pengurus bersama sembilan petinju lain (total 10 petinju), untuk membela panji merah-putih. Toh, dari sepuluh petinju yang diturunkan dengan target “hanya” satu medali emas, gagal pula dipenuhi.

Petinju andalan Sunan Agung Amoragam, kalah di babak semifinal sehingga hanya mendapat medali perunggu kelas bantam. Dalam pertandingan semifinal di Hall C, JIexpo Kemayoran, Jakarta, Jumat, 31 Agustus 2018, Sunan dikalahkan petinju Uzbekistan, Mirzazizbek Mirzakhalilov dengan skor telak 5-0.

Perlu Pemimpin Tangguh

Suka-tidak-suka, mau-tidak-mau, PP Pertina harus berbenah. Jika melihat kegagalan demi kegagalan, itu artinya perlu ada koreksi total. Mulai dari manajemen yang transparan, penyediaan sarana dan prasarana, pembinaan usia dini, dan sport science.

Empat pilar itu mutlak harus dibenahi. Sebab, itulah tools yang harus dijalankan oleh siapa pun Ketua Umum PP Pertina mendatang. Tanpa manajemen yang transparan, yang terjadi seperti sekarang. Banyak pengurus provinsi (Pengprov) Pertina yang sudah terang-terangan menyatakan kekecewaannya dengan kepemimpinan Johny Asadoma, yang antara lain, dinilai tidak pernah turun ke bawah dan kurang mengakomodir suara pengprov.

Yang lebih ironis, terbeber di media, statemen dari pengurus daerah yang menyoal ketidakprofesionalan Pertina dalam menyeleksi petinju dari bawah hingga ke jenjang pelatnas. Hingga akhirnya, terseleksilah petinju yang itu-itu saja. Sekalipun, sudah terbukti tidak pernah mendulang prestasi.

Menjadi lebih ironis, manakala gagal di semifinal, petinju Sunan Agung Amoragam berdalih, “Mau gimana lagi karena kurangnya jam terbang,” kata Sunan seperti dilansir www.tempo.co.id.

Jika benar alasan Sunan Agung, pertanyaannya menjadi, “kemana aja selama ini?” Sebuah alasan yang langsung-tak-langsung sebenarnya justru mengkritik Pertina itu sendiri. Mengkritik Pertina yang tidak memberi kesempatan bertanding kepada para petinjunya. Itu, jika dalih Sunan Agung benar.

Bisa dipastikan, jika tidak ditangani secara sungguh-sungguh, tinju amatir bisa KO. Benar, knock out oleh kemajuan tinju amatir negara-negara lain.

Nah, melihat perkembangan PP Pertina di pengujung periode kepemimpinannya, muncul dua sosok calon ketua umum. Setidaknya, itu yang terekam di internal Pertina, baik di pengurus pusat maupun di pengurus provinsi. Kedua calon itu masing-masing calon incumbent, Irjen Pol Johny Asadoma dan Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak.

Awalnya, terbersit kabar Johny Asadoma enggan dicalonkan kembali. Tetapi belakangan muncul niat untuk dipilih kembali menjadi Ketua Umum PP Pertina 2020 – 2024. Sosok Johny Asadoma, harus diakui sebagai salah satu tokoh yang peduli terhadap cabang tinju amatir.

Persoalannya, syarat “peduli” saja tidak cukup. Sebab, dibutuhkan kerja total. PP Pertina bukan organisasi yang sudah bisa dibilang running well. Rendahnya prestasi tinju amatir, adalah persoalan besar bagi siapa pun yang mengemban jabatan ketua umum. Persoalan besar tidak bisa diselesaikan dengan langkah kecil, apalagi dengan kerja “part time”.

Dikatakan part time, karena sebagai pejabat Polri, tentu saja Johny Asadoma memiliki tugas pokok dan fungsi utama sebagai bhayangkara negara. Itu artinya, dia harus membagi pikiran dan tenaga, antara tugas utama di Polri dan tugas yang juga sentral di PP Pertina. Sanggupkah? Jika sanggup, pertanyaan selanjutnya, mampukah?

Parameter kesanggupan bisa diukur dari dedikasi dan komitmen selama empat tahun memimpin PP Pertina 2016 – 2020. Dari hati terdalam, para pengurus pusat maupun pengurus provinsi Pertina tentu memiliki penilaian atas dedikasi dan komitmennya selama ini.

Ihwal kemampuan? Parameternya juga sederhana: administratif dan prestasi. Secara administratif, bisa merangkul semua kekuatan Pengprov dan mensinergikan menjadi satu kekuatan besar mencetak petinju berprestasi. Sudahkah dilakukan? Jawabnya terpulang kepada para pemilik hak suara atas hitam-putih, dan maju-mundurnya organisasi.

Sedangkan di bidang prestasi, parameternya juga tidak terlalu rumit, yakni prestasi. Apa saja prestasi tinju amatir di kancah ASEAN, Asia, dan internasional selama empat tahun terakhir? Jika benar jawabnya adalah “tidak ada”, maka secara sederhana bisa disimpulkan Johny Asadoma tidak memiliki kemampuan mendongkrak prestasi tinju amatir nasional.

Tentu Johny punya argumen dan pertanggungjawaban atas kinerja administratif dan prestasi pada forum Munas nanti. Diterima atau tidaknya pertanggungjawaban Johny, lazimnya akan berbuah pada hasil perolehan suara (mandat) Pengprov saat dilakukan agenda pemilihan Ketua Umum PP Pertina 2020 – 2024. Dengan catatan, rivalitas menuju kursi Ketua Umum, dilaksanakan secara jujur, terbuka, jauh dari aksi-aksi tak terpuji seperti “jual-beli” suara. Sebab, praktik jual-beli suara adalah praktik yang tidak ksatria. Bertentangan dengan filosofi olahraga tinju itu sendiri.

Komaruddin Simanjuntak saal bersilaturahmi dengan para pengurus Pengprov Pertina.

Sosok kedua adalah Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Dalam kontestasi “melawan” petahana, ia tentu saja nothing to lose. Setidaknya, ia tidak terbebani penilaian kinerja selama empat tahun terakhir. Komaruddin menjadi sosok yang bisa hadir membawa solusi bagi PP Pertina.

Itu artinya, jika solusi atas berbagai persoalan Pertina bisa ia tawarkan dan diterima, maka jalan menuju kursi Ketua Umum PP Pertina, relatif mulus.

Komaruddin bukanlah seorang (mantan) petinju, tetapi ia dikenal menaruh perhatian besar terhadap cabang olahraga yang pernah menjadi cabor favorit negeri ini. Jika disoal kapasitas pribadi terkait tugas administratif, harusnya ia orang yang cakap. Jabatan sebagai Panglima Kodam Udayana yang pernah disandang, adalah jabatan kompleks yang menuntut kecakapan tinggi di bidang tata laksana organisasi.

Lebih dari segalanya, Komaruddin Simanjutak adalah sosok yang haus prestasi. Karenanya, dalam salah satu media, ia menyebutkan prestasi sebagai target utama jika diberi mandat memimpin PP Pertina. Ia rindu melihat merah putih berkibar, rindu mendengar kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya di ajang olahraga multievent, baik tingkat ASEAN, Asia, maupun dunia.

Itu artinya, semua prasyarat yang dibutuhkan demi lahirnya prestasi, akan ia penuhi. Lahirnya prestasi bukan hanya semata pemenuhan sarana dan prasarana, lebih dari itu adalah jalinan kerja sama yang erat dengan para pengurus daerah. Dia menyadari, bahwa prestasi tidak tercetak secara instan, melainkan melalui sebuah proses.

Meski begitu, Komaruddin memaknai kalimat di atas dengan interpretasi yang benar. Bahwa pada dasarnya tidak ada yang instan di dunia tinju amatir. Sebab, seorang atlet yang menggeluti cabang yang satu ini, tentunya sudah melakukan latihan rutin di sasana masing-masing daerah. Karenanya, yang dibutuhkan adalah meningkatkan frekuensi latih tanding dalam grafik yang meningkat drastis.

Kesempatan bertanding di luar kandang, harus dibuka selebar-lebarnya, dalam frekuensi yang sesering mungkin. Tekad Komaruddin ini paralel dengan prasyarat mencetak juara di cabang tinju amatir.

Tahun 80-an, misalnya, tercatat ada kurang lebih 25 turnamen tinju amatir di provinsi maupun nasional. Katakanlah, setiap petinju diikutkan dalam 15 turnamen saja, sama artinya dengan setiap bulan bertanding. Jika ia mencapai babak final, itu artinya sudah melakukan sedikitnya 30 kali pertandingan. Itu sangat bagus untuk mengasah naluri bertinju.

Untuk bisa menembus ajang olimpiade, dibutuhkan sedikitnya 200 kali pertandingan. Sebaliknya, jika setiap tahun hanya mengikuti satu-dua turnamen, bagaimana mungkin petinju amatir Indonesia akan maju?

Pada titik ini, Komaruddin Simanjuntak adalah sosok yang tepat. Itu dengan catatan, stakeholder olahraga nasional, khususnya cabang tinju amatir, menghendaki cabang tinju amatir Indonesia kembali berjaya seperti era 70-80-an. (*)

PP Pertina Limbung, Komaruddin Simanjuntak Tempat Bergantung

Jayakarta News – Nasib tinju amatir nasional limbung. Organisasi PP Pertina (Pengurus Pusat Persatuan Tinju Amatir Indonesia) seperti tanpa arah. Kepengurusan periode 2016 – 2020, yang semestinya berakhir Mei 2020, hingga hari ini belum menggelar Munas.

“Kami, Pengurus Provinsi (Pengprov) Pertina berbagai provinsi prihatin sekaligus gusar akan masa depan tinju amatir nasional,” ujar Drs Ramli Ramlan, Sekretaris Pengprov Pertina Kalimantan Barat (Kalbar).

Kepada Jayakarta News, Ramli menilai Ketua Umum PP Pertina saat ini, Irjen Pol Brigjen Pol Joahannis “Jhony” Asadoma sudah kehilangan legitimasinya di mata sebagian besar pengurus Pengprov Pertina. Bukan hanya faktor ketidakmampuan menjalankan roda organisasi secara profesional, tetapi juga dinilai gagal menunjukkan prestasi.

“Selama empat tahun terakhir, prestasi tinju amatir Indonesia menurun. Boleh dikata, tidak ada prestasi di tingkat ASEAN, Asia, apalagi internasional. Fakta bicara begitu,” tambahnya.

Tokoh olahraga Kalbar itu menambahkan, syarat suksesnya kepemimpinan organisasi olahraga sebenarnya tidak terlalu sulit. Yang utama, adalah kepemimpinan yang mengayomi pengurus daerah. Dalam hal ini, agar Pertina maju, pengurus PP Pertina harusnya mengayomi Pengprov Pertina se-Indonesia. Tidak pilih-pilih, tidak pilah-pilah. Semua harus diakomodir,” tandasnya.

Keluhan tidak saja datang dari Pengprov Pertina Kalbar. Ramli bahkan mendengar keluhan senada dari banyak pengurus daerah yang lain. Selama empat tahun memimpin PP Pertina, Jhony Asadoma yang sehari-hari menjabat Kadiv Hubungan Internasional Polri itu dinilai sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah turun ke daerah. “Bagaimana mau mengetahui potensi petinju amatir daerah kalau beliau tidak pernah berkunjung ke daerah-daerah,” kata Ramli.

Akibat lebih lanjut, keputusan menentukan alet yang dipersiapkan masuk Pelatnas, bukan berdasar pantauan prestasi dari bawah, tetapi pendekatannya karena faktor kesukaan dan kedekatan. “Makanya prestasi tidak berkembang. Prestasi datang dari proses, mulai dari pembinaan sasana, cabang, Pengprov, baru diangkat ke tingkat nasional,” ujar Ramli seraya menambahkan, “mohon maaf sekali harus saya katakan, bahwa yang dikirim atletnya ya itu-itu saja.”

Ramli menyayangkan, Ketum PP Pertina Jhony Asadoma tidak tahu, atau menutup mata terhadap prestasi atlet-atlet tinju amatir di Batam, Kepulauan Riau. Di sana, ujar Ramli, ada sasana yang secara rutin membangun kerjasama sparring partner dengan petinju negara-negara tetangga seperti Singapura, Vietnam, Thailand, dan lain-lain. “Tapi karena tidak ada kedekatan, ada unsur tidak suka, jadinya tidak dilihat,” sesal Ramli.

Munas Tidak Jelas

Drs Ramli Ramlan (Pengprov Pertina Kalbar) juga mengupas persoalan Munas yang dinilai tidak jelas. Bukti ketidakprofesionalan pengurus pusat adalah pada tindakan mengabaikan Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Pertina 19 Desember 2019 di Hotel Seruni, Puncak, Bogor – Jawa Barat. Salah satu keputusan Mukernas adalah penetapan Munas PP Pertina dilangsungkan tanggal 2 – 3 Mei 2020 di salah satu daerah di Jabodetabek. Selain menetapkan tanggal Munas, Mukernas juga melahirkan sejumlah keputusan penting terkait Kejurnas, Piala Presiden, dan lain-lain.

Akan tetapi dengan berbagai dalih, pengurus pusat melobi KONI Pusat sehingga berhasil mendapatkan surat perpanjangan masa jabatan sampai Desember 2020. Oleh pengurus pusat, tanpa mekanisme Rapat PB Pertina, secara sepihak Ketua Umum Jhony Asadoma mengubah tanggal Munas menjadi tanggal 5 – 6 Agustus 2020. “Sudah begitu, toh pada tanggal yang dia tetapkan sepihak, ternyata Munas tidak juga terselenggara,” ujar Ramli.

Lagi-lagi, PP Pertina 2016-2020 menghadap Ketua Umum KONI Pusat Letjen TNI (Purn) Marciano Norman, meminta perpanjangan masa jabatan (lagi). Ketua Umum KONI Pusat tidak meladeni permintaan itu, tetapi justru meminta PB Pertina segera menggelar Munas sebelum pelaksanaan Pilkada serentak Desember 2020.

PP Pertina sempat mengajukan dalih pandemi Covid-19. Ini menjadi ironis, karena sebelumnya mereka sendiri sudah menetapkan bulan Agustus 2020. Bukan hanya itu. PP Pertina ternyata menyelenggarakan kegiatan penyegaran wasit dan hakim bersama Kemenpora. Seperti lupa akan dalih pandemi, PP Pertina justru menggelar acara itu secara tatap muka.

“Bahkan hari ini, 9 November 2020, PP Pertina mengundang pengurus untuk membahas tempat Munas. Padahal, hasil Mukernas sudah jelas, tanggal dan tempat Munas di Jabodetabek. Sungguh, sudah terlalu banyak peraturan organisasi yang dilanggar. AD-ART diacak-acak,” kata Ramli.

Toh, Ramli atas nama Pengprov Pertina Kalimantan Barat mentolerir pengurus dalam arti untuk tujuan penyelenggaraan Munas 2020. “Takutnya, kalau Munas gagal dilaksanakan tahun 2020, secara otomatis, dengan berakhirnya masa kepengurusan periode 2016 – 2020, KONI yang akan mengambil alih. Kalau ini sampai terjadi, benar-benar memalukan. Belum pernah dalam sejarah PP Pertina gagal menggelar Munas hingga kepengurusan diambil-alih KONI,” katanya pula.

Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak

Calon Ketum Ideal

Berbicara sosok Ketum yang sekarang, Ramli Ramlan sepertinya sudah patah arang. Ia dan sebagian besar Pengprov Pertina di seluruh Indonesia hanya menginginkan perubahan di tubuh PP Pertina. Untuk itu diperlukan pemimpin baru yang bisa mengembalikan kejayaan tinju amatir nasional. “Yang bisa mengibarkan merah putih, yang bisa mengumandangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya di ajang-ajang kejuaraan baik ASEAN, Asia, maupun dunia,” tegasnya.

Saat disinggung calon yang ia gadang-gadang bisa menggantikan Ketua Umum yang sekarang, tanpa ragu ia menggantungkan pada nama Mayjen TNI (Purn) Komaruddin Simanjuntak. Mantan Pangdam Udayana itu bukan mantan petinju, tetapi mengerti sekaligus mencintai olahraga tinju. Di luar unsur itu, Komaruddin Simanjuntak adalah sosok yang dinilai kapabel sebagai organisastoris dan administratur yang teruji.

Ramli mengaku sudah pernah berbicara intensif dengan Komaruddin. Di mata Ramli, ia sosok yang simpel, to the point, dan pragmatis. Acuannya hanya satu, yakni prestasi. Apa pun yang diperlukan pengurus daerah untuk melahirkan petinju-petinju berprestrasi, akan ia dukung.

“Semua yang diperlukan untuk tujuan prestasi, akan disiapkan. Concern beliau sama seperti kebanyakan kami pengurus daerah, yakni merah putih berkibar, Indonesia Raya berkumandang di berbagai ajang kejuaraan,” tambahnya.

Ramli mengaku bukan latah dan ikut-ikutan jika ia melirik kandidat Ketum PP Pertina Komaruddin Simanjuntak. Terlebih, sudah ada sedikitnya 23 Pengprov Pertina se-Indonesia yang mewacanakan nama yang sama.

“Bukan ikut-ikutan, tapi kami sudah berdialog intensif. Kami ini orang-orang tinju dan orang-orang organisasi. Kami punya feel yang sama. Jadi tidak heran jika kemudian banyak yang berpendapat sama, mendukung Komaruddin Simanjuntak untuk menakhodai PP Pertina 2020 – 2024,” tandas Ramli Ramlan. (bd)