JAYAKARTA NEWS – Wali Kota Solo, Gibran Rakabuming Raka mendukung rencana gelaran turnamen sepak bola antarwartawan Indonesia yang berlangsung, 12-20 Februari 2022 mendatang.
Hal itu diungkapkan Gibran usai menerima kunjungan dan audiensi perwakilan Panitia Turnamen Sepakbola Antar Wartawan di ruang rapat Wali Kota Solo, Selasa (16/11/2021) siang.
“Pemkot Solo pasti mendukung penuh ini, karena kegiatan ini sejalan dengan program kami untuk menggenjot sport tourism di Solo,” kata Gibran.
Selain itu, putra sulung Presiden Joko Widodo tersebut juga antusias dengan peserta turnamen yang merupakan wartawan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Ajang itu rencananya diikuti delapan tim. Sejauh ini, sejumlah kontestan yang sudah menyatakan ikut berlaga adalah Solo, Jawa Tengah, DIY, Malang, Surabaya, DKI Jakarta, dan peserta lain yang dalam proses pendaftaran.
“Teman-teman wartawan yang hadir pasti akan mengekspose potensi dan kelebihan yang ada di Kota Solo. Ini event yang bagus sekali menurut saya. Kita dukung,” paparnya.
Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka saat menerima tim panitia Solo yang dipimpin Ketua Panitia Anas Syahirul. (ist)
Dalam kesempatan itu, Ketua Panitia, Anas Syahirul juga memaparkan kepada Walikota Solo mengenai rangkaian kegiatan turnamen ini.
Selain sepak bola antarwartawan, panitia juga mengajak Gibran Rakabuming untuk bermain sepakbola eksibisi dengan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo untuk meramaikan pembukaan turnamen tersebut. Dengan senang hati Gibran menyatakan siap bermain.
“Ya siap, bagus. Tapi gak usah lama-lama ya,” katanya.
Dalam kegiatan turnamen tersebut juga akan digelar Seminar Nasional yang mengangkat tema tentang pariwisata olahraga (sport tourism). Diharapkan Menparekraf dan Menpora bisa menyampaikan pokok-pokok pikiran dalam seminar tersebut.
Menurut Anas, seminar tentang sport tourism ini juga unuk mendukung program Walikota Solo Gibran Rakabuming yg menjadikan Kota Solo sebagai salah satu destinasi dan penyelenggaraan pariwisata olahraga di tanah air.
“Mas Wali sudah mencanangkan Solo jadi salah satu destinasi penting untuk pariwisata olahraga. Ini patut didukung semua pihak. Maka dalan trunamen ini kita juga menggelar seminar tentang pariwisata olahraga sebagai bentuk dukungan kepada program Mas Wali,” tambahnya.
Kegiatan ini tentu akan menguntungkan Kota Solo karena akan menjadi magnet liputan para wartawan dari berbagai daerah di tanah bair. Mulai soal kuliner, potensi solo, wisata olahraga dan lainnya.
Lebih jauh Gibran juga menyampaikan berbagai program pariwisata khususnya pariwisata olahraga di tahun depan. “Kita itu venue oke, fasilitas juga banyak, akses gampang. Maka saya juga akan menggandeng daerah sekitar Solo termasuk menggalang program bersama dengan Yogyakarta,” tambahnya. (pr)
JAYAKARTA NEWS— Pemerintah memperpanjang kembali Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) untuk wilayah Jawa – Bali hingga 29 November 2021. Hal ini tertuang dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri (InMendagri) No. 60 tahun 2021. Sedangkan untuk PPKM luar Jawa – Bali akan diperbaharui pada 23 November mendatang.
Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menjelaskan, salah satu yang diatur dalam InMendagri tersebut, ialah penyelenggaraan kompetisi Borobudur Marathon yang akan diselenggarakan di Kabupaten Magelang tanggal 27 – 28 Nov 2021. Kompetisi ini akan menerapkan sistem bubble to bubble .
“Dengan menggunakan sistem ini, maka seluruh partisipan seperti peserta, official, grup media dan staf pendukung hanya beraktivitas di hotel tempat latihan, dan lokasi kompetisi serta transportasi yang sudah dipersiapkan,” Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Selasa (15/11/2021). Demikian dikutip dari laman covid.go.id
Selain itu seluruh pihak yang berada di dalam bubble ini juga sudah dipastikan steril dari penularan. Yaitu bagi yang telah memperoleh vaksin dosis pertama, memiliki hasil negatif tes PCR H – 2 dan juga mematuhi protokol kesehatan dengan ketat.
Untuk partisipan seperti peserta, official, grup media dan staf pendukung juga akan menggunakan PeduliLindungi untuk skrining di lokasi kompetisi dan latihan. Bagi penonton, tidak diperbolehkan menonton secara langsung atau melakukan nonton bareng.
Disamping itu, Pemerintah juga mengatur ketentuan untuk persyaratan Pelaku Perjalanan Dalam Negeri (PPDN). Prasyarat ini mengikuti aturan yang dikeluarkan oleh Satgas Penanganan Covid-19 melalui Surat Edaran No. 21 tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Pada masa Pandemi. “Surat edaran ini berlaku untuk seluruh level PPKM,” pungkas Wiku.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Di luar agenda yang telah dijadwalkan, dalam kunjungan kerja ke Papua, Presiden Jokowi dan rombongan singgah di Pasar Noken Taman Imbi, Kota Jayapura, Sabtu (13/11/2021). Demikian dikutip dari laman setkab.go.id
Presiden dan rombongan, yang baru saja menyaksikan pertandingan Judo Peparnas ke-16 Papua di Gor Trikora Jayapura, diagendakan akan menuju GOR Cendrawasih untuk menyaksikan olahraga cabang bulu tangkis. Namun saat melintas di Pasar Noken Taman Imbi, Presiden dan rombongan menghentikan kendaraannya.
Di pasar tersebut, Presiden Jokowi dan rombongan membeli sejumlah noken dan beberapa kerajinan khas Papua. Para mama yang berjualan di pasar tersebut pun mengaku senang, Presiden Jokowi mampir dan berbelanja di sana. Apalagi rombongan Presiden termasuk anggota Paspampres juga ikut membeli tas khas Papua tersebut dan langsung memakainya.
Tampak mendampingi Presiden Jokowi antara lain Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali, dan Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. (bnt)
JAYAKARTA NEWS— Penyelenggaraan Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) yang merupakan ajang kompetisi bagi para atlet disabilitas menunjukkan bahwa kesulitan bukanlah halangan. Dengan konsistensi dan kerja keras segala kesulitan bisa diatasi, bahkan berbagai prestasi bisa diraih.
Hal tersebut disampaikan oleh Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat menutup gelaran Peparnas XVI Tahun 2021 di Papua, yang dihelat di Stadion Mandala, Kota Jayapura, Sabtu (13/11/2021) malam WIT. Demikian dikutip dari laman setkab.go.id
“Selamat kepada para atlet, utamanya sekali lagi atlet Papua yang telah menunjukkan prestasinya. Kesimpulannya, bukan hanya torang bisa tetapi torang hebat,” ujar Presiden.
Presiden menambahkan, penyelenggaraan PON dan Peparnas di Papua ini juga menunjukkan kebangkitan besar olahraga nasional. “Kita juga merayakan keberagaman, kita juga menghormati kesetaraan, dan bersama-sama kita meraih prestasi yang mengharumkan bangsa dan negara,” imbuhnya.
Menutup sambutannya, Kepala Negara menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang turut menyukseskan penyelenggaraan ajang Peparnas XVI Papua ini. “Terima kasih atas kerja keras semua pihak yang telah menyukseskan Peparnas XVI ini. Saya tegaskan sekali lagi, bukan hanya torang bisa, tetapi semua ini menunjukkan bahwa torang hebat. Sekali lagi, torang hebat!” Tandasnya. (bnt)
JAYAKARTA NEWS— Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menyebut Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua Tahun 2021 menjadi bukti pemberian akses kesetaraan kepada penyandang disabilitas dalam semua lini, termasuk dalam bidang olahraga.
“Prinsip konsep besarnya adalah memberikan akses kesetaraan kepada para difabel dalam semua lini, termasuk bidang olahraga,” kata Mendagri dalam keterangan persnya di Media Center Kominfo Peparnas Papua, Swiss-Belhotel Jayapura, Papua, Jumat (12/11/2021).
Menurutnya, selain di berbagai sektor, konsep kesetaraan itu juga perlu didukung kebijakan di semua level pemerintahan di daerah. Utamanya, untuk memberikan akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas agar dapat berkontibusi dalam pembangunan, sama halnya yang dilakukan nondifabel.
“Berkaitan dengan konsep besar memberikan akses dan kesempatan kepada saudara-saudara kita yang difabel untuk memberikan kontribusi dalam pembangunan masyarakat, bangsa dan negara ini, kita ingin ada konsep besar untuk mendorong kesetaraan tersebut,” tuturnya.
Terkait dengan kesetaraan dan pemberian akses ini, pada 11 Oktober 2021 lalu, Mendagri menerima kunjungan Staf Khusus Presiden Angkie Yudistia di Kantor Kemendagri. Dalam pertemuan itu, Mendagri menyampaikan komitmennya untuk siap mendorong pemerintah daerah dalam melakukan pembangunan yang berorientasi mendukung masyarakat penyandang disabilitas. Dalam kesempatan itu, ia juga meminta semua daerah baik di tingkat provinsi, kabupaten/kota, hingga desa/kelurahan dapat memperhatikan pentingnya penyediaan akses terhadap masyarakat penyandang disabilitas.
Mendagri menegaskan, penyandang disabilitas memiliki hak yang sama dengan warga negara lainnya yang dijamin oleh konstitusi. Hak itu seperti mendapat akses yang memudahkan mobilitas, maupun akses untuk semua bidang kehidupan lainnya.
“Kemendagri akan mendorong pada seluruh pemerintah daerah untuk membuat pembangunan yang juga memperhatikan masalah difabel, terutama mengenai masalah aksesibilitas,” tuturnya.
Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua 2021 adalah suatu ajang kompetisi Nasional bagi atlet penyandang disabilitas Indonesia. Perhelatan ini masih satu rangkaian dengan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2021 yang dilangsungkan beberapa waktu lalu. Peparnas Papua mempertandingkan 12 cabang olahraga di Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura. Kedua belas cabang yang dilombakan pada Peparnas 2021 itu meliputi angkat berat, atletik, boccia, bulu tangkis, catur, judo, menembak, panahan, renang, sepak bola cerebral palsy (CP), tenis lapangan kursi roda, dan tenis meja.
Hadirnya pesta olahraga terbesar nasional bagi penyandang disabilitas itu menjadi bukti bahwa negara menjamin kesetaraan dan memberikan akses bagi penyandang disabilitas untuk berprestasi dalam bidang olahraga, sama halnya dengan atlet nondisabilitas yang berlaga dalam ajang PON.***/ebn
JAYAKARTA NEWS – Ketua Persatuan Wanita Olahraga Indonesia (Perwosi) Jatim Arumi Bachsin Emil Elestianto Dardak memberikan penghargaan kepada atlet Shorinji Kempo Jatim, Marta Frily Adetya. Penghargaan tersebut diberikan kepada Marta Frily Adetya karena mampu menyumbangkan medali perak di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX/2021 Papua.
Penghargaan tersebut diberikan Arumi saat menghadiri silaturahmi dan tasyakuran Kontingen Persaudaraan Bela Diri Kempo Indonesia (PERKEMI) Pengurus Provinsi (Pengprov) Jatim di Hotel Shangri-La Surabaya, Sabtu (30/10).
Sebagai Ibu Asuh Perkemi Jatim, Arumi menyampaikan terima kasih dan mengapresiasi kepada Marta Frily Adetya yang sudah ikut menyumbangkan medali bagi kontingen Jatim.
“Saya tidak bisa berhenti berterima kasih kepada adikku sayang, Marta Frily. Tasyakuran dan penghargaan ini mungkin dianggap mewah bagi orang lain, tapi sebenarnya tidak. Karena sebelum mencapai hari ini, banyak pengorbanan, pelatihan, pengabdian waktu serta energi yang telah dilakukan,” ujar Arumi.
Istri Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak itu mengatakan, prestasi Marta merupakan sebuah kebanggaan untuk Jatim. Terutama mengingat perempuan kelahiran Malang, 5 Januari 1998 itu merupakan satu-satunya atlet di dalam tim yang berisi satu orang pelatih dan satu orang sparring partner.
“Saya salut karena meskipun SDM kempo tidak sebanyak cabang olahraga lain, tim Jatim bisa membawa pulang satu medali perak. Ini tentunya adalah bentuk dedikasi dan pengabdian besar untuk Jawa Timur. Meskipun atletnya cuma satu, tapi tetap mampu meraih gelar juara,” terangnya.
Lebih lanjut, Arumi mengakui bahwa kempo memang butuh lebih banyak fokus dan penjaringan SDM di masa depan. Sebab, cabor ini memiliki potensi besar seperti cabor lainnya.
“Cabor ini masih sedikit dan sudah jadi PR kita bersama untuk membesarkan kempo di Jatim. Memang harus ada penjaringan SDM yang lebih masif karena anak-anak generasi muda di luar sana yang akan meneruskan para atlet kita,” tuturnya.
Untuk itu, menurut Arumi, dibutuhkan rencana konkret dalam mewujudkan penjaringan tersebut yang melibatkan berbagai pihak. Langkah-langkah strategis harus segera dipersiapkan untuk pelaksanaan PON Aceh-Sumatera Utara pada 2024 mendatang.
“Langkah pertama yang bisa kita lakukan adalah membangun awareness masyarakat terhadap kempo agar mereka lebih tahu tentang cabor ini. Tujuannya untuk inklusivisme karena dalam membentuk bangsa berkualitas dibutuhkan kekuatan fisik, mentalitas dan sportivitas yang semuanya ada dalam olahraga,” lanjut Arumi yang juga menjabat sebagai Ketua TP PKK Prov. Jatim ini.
Selain itu, fasilitas dan koneksi atlet maupun calon atlet juga harus ditingkatkan. Di mana hal ini merupakan tanggungjawab semua pihak baik Pemerintah Provinsi Jatim, KONI, maupun Dinas Kepemudaan dan Olahraga.
“Seperti yang kita tahu, persiapan atlet untuk kejuaraan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Pasti memakan waktu bertahun-tahun sebelumnya. Maka dari itu, saya meminta kerjasama semua pihak untuk memfasilitasi dan mendukung aset daerah ini,” tambahnya.
Arumi berharap, kempo Jatim bisa lebih maju dengan tim yang berisi atlet-atlet hebat dan berprestasi. Di samping itu, ia juga menyampaikan kepada orang tua Marta, yakni Hariono dan Bawono Suci Sri Widati untuk terus mensupport kemajuan sang anak.
“Saya berharap agar kempo Jatim lebih maju dan akan lebih banyak lagi atlet yang mengharumkan nama daerah. Dan teruntuk orang tua Marta, dukungan bapak-ibu sangat berarti untuk karir atletnya jadi saya minta untuk terus dampingi Marta di kejuaraan-kejuaraan yang akan datang,” harapnya.
“Terima kasih. Tasyakuran ini harus dilakukan entah kita menang atau kalah. Karena baik atlet, pelatih ataupun sparring partner sudah berjuang dan mengorbankan banyak hal sejak lama sampai pada titik ini,” tutup Arumi.
Sementara itu, Marta mengekspresikan rasa terima kasihnya kepada Jatim yang telah mempercayakannya sebagai wakil daerah di PON XX Papua. Meski dirinya kalah dari perwakilan Papua Barat Hilda Christina Blandina pada randori putri 50 kg, Marta tetap merasa senang atas hasil yang dicapai.
“Terima kasih Jatim sudah memberikan kepercayaan kepada saya untuk mewakili provinsi di PON Papua. Menjadi satu-satunya atlet sebenarnya merupakan beban, tapi walaupun tim ini sedikit tapi tim ini tidak lemah. Jadi meskipun saya baru bisa menyumbang perak, ini kebanggaan untuk saya dan kebahagiaan untuk kempo Jatim,” katanya.
Dirinya merasa optimistis untuk bisa memenangkan kejuaraan kempo yang akan datang, terutama di PON Aceh-Sumatera Utara pada 2024.
“Ke depannya saya akan berusaha lebih keras. PON Papua ini membuat saya lebih termotivasi untuk memenangkan emas di PON yang akan datang. Apa yang telah saya lalui sebelumnya, akan saya jadikan pelajaran untuk ke depannya,” janjinya.
Turut hadir dalam acara tersebut Plt. Kadispora Prov. Jatim Supratomo, Wakil Ketua Umum II KONI Prov. Jatim M. Nabil, Ketua Umum PERKEMI Pengprov Jatim Iswachyu Dhaniarti, Coach Marta, Sparring Partner Zakarias Selentinus Gale Ora, serta para senpai, pelatih senior dan pengurus PERKEMI Pengprov Jatim. (poedji)
JAYAKARTA NEWS – Setelah melewati delapan putaran, Tim Pala Thomas Indonesia akhirnya berhasil melepaskan diri dari jerat “angka keramat”. Pada partai final yang berlangsung di Ceres Arena Aarhus Denmark, Anthony Sinisuka Ginting dan pasukannya berhasil meruntuhkan “Tembok China” dengan skor telak 3-0, sekaligus mengukuhkan diri sebagai juara yang ke -14 kalinya.
Tak pelak keberhasilan “Generasi Rally Point” ini langsung mendapat sambutan meriah para suporter Indonesia yang selama 3 jam lebih terus memompa semangat para pemain dengan teriakan: “Indonesia… brak-brak… brak-brak… brak!!! Indonesia… brak-brak… brak-brak… brak!!!”.
Memang tak mudah memboyong kembali lambang supremasi bulutangkis beregu putra itu ke pangkuan Ibu Pertiwi. PB PBSI sebagai induk organisasi, pelatih, para pakar dan klub-klub penunjang bulutangkis Indonesia, harus bekerja keras selama sepuluh tahun lebih guna membagun generasi baru, “Generasi Rally Point” yang kini mulai turun ke arena untuk menjaga prestasi butangkis Indonesia.
Bagi Indonesia, keberhasilan membawa kembali Piala Thomas tentu mempunyai arti tersendiri. Hal itu tak sekadar memperpanjang inskripsi yang terukir pada dinding piala berlapis emas setinggi 71 cm persembahan Sir George Alan Thomas.
Anthony Sinisuka Ginting, mengangkat trofi Thomas Cup. (foto: BWF)
Lebih dari itu. Keberhasilan memboyong kembali trofi yang tiap dua tahun sekali jadi rebutan berbagai negara di dunia itu juga makin menegaskan keberadaan Indonesia sebagai negara berprestasi. Layaklah kiranya bila prestasi itu disandingkan dengan negara-negara lain yang kampiun di cabang olahraga tertentu.
Karena itu tak berlebihan pula bila kita memberi acungan jempol pada PB PBSI, yang telah menunjukkan kemampuan dan konsistensinya melaksanakan pola pembinaan yang dikobarkan Wapres Try Sutrisno saat beliau didapuk sebagai Ketua Umum PB PBSI, tiga puluh tahun yang silam.
Hingga saat ini pola pembinaan berjenjang itu terbukti masih ampuh untuk menjaga prestasi cabang olah raga (cabor) bulutangkis di Indonesia. Meski kepengurusan secara berkala silih berganti, satu hal yang pasti sistem pembinaan yang tertuang dalam Pola Pembinaan Bulutangkis Nasional itu tetap berjalan on the right track.
Hasilnya, sejak cabor bulutangkis dipertandingkan di Olimpiade Barcelona 1992 hingga Olimpade 2021 di Tokyo, bulutangkis telah mempersembahkan 8 medali emas, 6 medali perak dan 7 medai Perunggu. Sedang dalam kejuaraan beregu, Indonesia membukukan 14 kali juara Piala Thomas, 3 juara Piala Uber dan sekali Piala Sudrman. Prestasi yang membanggakan.
Tim Thomas Cup 2002. (ist)
Indonesia terakhir kali memenangi perebutan piala Thomas pada th 2002 di Guangzhou, China. Kala itu skuad Merah Putih di sektor tunggal diperkuat oleh Hendrawan, Taufik Hidayat, dan Marleve Mainaki. Sedangkan di sektor ganda antara lain diperkuat pasangan Sigit Budiarto/Chandra Wijaya serta Trikus Heriyanto /Halim Haryanto. Melalui pertarungan sengit, Taufik Hidayat dan pasukannya berhasil melumpuhkan musuh bebuyutannya Malaysia 3-2. Ini merupakan rekor baru, dimana Indonesia berhasil menguasai Piaia Thomas lima kali berturut-turut.
Namun di balik kemenagan ini, muncul kekhawatiran di benak sang pelatih tunggal putra Agus Dwi Santoso. Menurut dia di balik kemenangan yang diraih dengan susah payah itu merupakan warning bagi para pemain Indonesia karena ke depan persaingan akan semakin berat.
Agus pun berharap agar semua lini di bawah PB PBSI harsu waspada. PB PBSI harus segera melakukan evaluasi menyeluruh mempersiapkan para pemain muda. Dan jajaran pelatih dan para pakar diharapkan bisa mengevaluasi pola latihan yang tepat agar para pemain bisa secepatnya beradaptasi dengan format skor yang ditetapkan WBF.
Kekhawatiran itu pun terbukti. Dua tahun kemudian, piala yang menjadi kebanggan bangsa Indonesia itu harus lepas dari genggaman. Kekalahan Tim Thomas Indonesia terasa sangat menyakitkan karena justru terjadi di hadapan riuhnya suporter yang memadati Istora Senayan. Apalagi Indonesia tersingkir sebelum mencapai partai puncak, setelah di semifinal dipecundangi Denmark dengan skor 2-3.
Peristiwa serupa juga terulang pada perebutan Piala Tomas 2012 di Wuhan, China. Tim Indonesia sudah terlempar dari arena di perempat final. Kali ini Tim Indonesia didepak Jepang dengan skor 2-3. Sementara itu China melanjutkan dominasinya setelah di final melumpuhkan Korsel 3-0.
Sejak tahun 2004 secara keseluruhan prestasi cabor bulutangkis Indonesia memang surut. Sekalipun secara individual pemain-pemain Indonesia masih disegani, tapi secara beregu belum bisa bangkit. Untung masih ada beberapa pemian andalan seperti Taufik Hidayat, Hendra Setiawan/Markis Kido, Liliyana Natsir/Tantowi Achmad yang masih mampu meraih medali emas di Oimpiade, sekaligus menjaga marwah cabor terpopuler di Indonesia itu.
Ketimpangan sektor tunggal dan ganda serta minimnya pemain muda yang kelak mampu menggantikan kedudukan seniornya seperti Taufik Hidayat, Hendrawan, Hendra/Markis Kido (alm) membuat kekuatan skuad tim Thomas Indonesia selalu pincang.
Susi Susanti – Alan Budikusuma mengawinkan emas pada Olimpiade Barcelona 1992. (foto: BWF)
Ada beberapa masalah yang ikut menggerogoti kedigdayaan perbulutangkisan Indonesia. Keberhasilan Indonesia menguasai dunia sepanjang dekade 1990-an yang ditandai dengan keberhasilan Susi Susanti dan Allan Budi Kusuma mendulang dua medali emas di Olimpiade Barcelona 1992, telah mengantarkan Indonesia menjadi negara pertama di Asia Tenggara yang berhasil merebut madali emas di Pesta Olahraga terakbar sejagad itu.
Memudian disambung lagi dengan keberhasilan Indonesia mengawinkan Piala Thomas dan Uber di Jakarta tahun 1994 serta mempertahankannya tahun 1996 di Hong Kong. Munculnya para pemain sekelas Ardy B Wiranata, Hermawan Susanto, Joko Supriyanto, Sarwendah, Mia Audina, Rexy/Ricky, Chanda/ Tonny Gunawant dan para pemain lain yang kualitasnya setara, mebuat bulutangkis Indonesia terus melambung.
Hal inilah yang barangkali membuat PB PBSI lengah. Regenarasi yang menjadi tulang punggung kekuatan Indonesia mulai terabaikan. Akibatnya kualitas para pemain muda yang dipasok ke Pelatnas tak sehebat ketika Kabid Pembinan PB PBSI MF Siregar menyiapkan para pemain muda yang diproyeksikan ke Oimpiade 1992, dimana bulutangkis akan dipertandingkan untuk pertama kalinya.
Selain itu perubahan format skor yang ditetapkan BWF sebagai induk organisasi bulutangkis dunia juga ikut menambah runyam para pemain dan pelatih. Menurut BWF durasi pertandingan yang cenderung lama, membuat permainan bulutagkis membosankan, monoton, kurang atraktif sehingga kehilangan greget.
BWF khawatir bila hal itu didiamkan maka bulatangkis akan kehilangan daya tariknya sehingga tak bisa berkembang dan tak memiliki daya jual. Apalagi komite Olimpiade sempat rasan-rasan akan mendegradasi bulutangkis dari cabang olahraga yang dipertandingkan di Olimpiade.
Karena itu BWF kemudian berupaya mencari format yang tepat agar permainan bulutangkis jadi lebih seru dan mampu menggerakkan para sponsor untuk mengucurkan dana. Salah satu terobosan BWF adalah mengubah format skor pertandingan dan meninggalkan klasik yang dianggap sudah puluhan tahun digunakan.
Setelah beberapa kali dilakukan ujicoba dan perubahan, akhirnya pada 20 Mei 2006 BWF menetapkan format yang digunakan dalam perebutan Paiala Thomas dan Uber adalah sistem rally point dengan skor 3 x 21.
Format ini tak mengenal pindah bola. Jika pemain mencapai angka 20 -20, maka akan terjadi duece. Pemain yang lebih dulu unggul dua angka dinyatakan memenangi game tersebut. Jika terjadi skor 1-1, maka dilakukan rubber set. Format ini berlaku sama, baik di nomor putra maupun putri dan di semua nomor.
Walhasil memang permainan mejadi lebih hidup dan menarik. Semua unsur yang ada dalam unsur bulutangkis terpenuhi. Selain masalah teknik, fisik dan strategi, unsur tontonan yang cukup atraktif juga tersaji dalam setiap pertandingan.
Namun sisi lain tak sedikit pula negara yang merasa dirugikan. Dampak dari perubahan sistem scoring tadi, banyak para pemain yang tak bisa serta merta beradaptasi dengan format rally point. Pola permainan rally point tentunya sangat berbeda format klasik yang sudah mendarah daging.
Dalam format ini, masalah mental, konsentrasi, kecermatan, fisik, teknik, strategi, kecepatan, keberanian berspekulasi masuk menjadi satu komponen yang harus mampu dikuasai dan diperagakan sepanjang pertandingan.
Tak heran bila pada periode transisi tersebut bayak pemain muda yang mati pucuk atau layu sebelum berkembang. Terutama bagi para pemain tunggal. Sementara itu untuk pemain ganda, mereka lebih cepat beradaptasi dengan tranformasi menuju format rally point. Mereka setidaknya sudah terbiasa dengan pola dasar permainan positif untuk meraih angka demi angka.
Setelah lebih sepuluh tahun berlalu, barulah Indonesia bisa mulai bangkit. Generasi rally point yang digodog di Pelatnas mulai bisa ikut bicara di event-event internasional. Munculnya nama Kevin Sanjaya/Markus Gideon, Fajar Alfian/Mohamad Riyan Ardiyanto, Jonathan Christie, Anthony Sinisuka Ginting, Caesar Hiren Rhustavito mulai menjadi pujaan sekaligus tumpuan harapan.
Meskipun pada perebutakan piala Thomas 2016 di Kunshan, China dan perebutan piala Thomas 2018 di Bangkok, skuad Merah Putih belum mampu membawa pulang Piala Thomas. Di kejuaraan-kejuaraan internasional prestasi para pemain Generasi Rally Point Indonesia mulai diperhitungkan dan sesekali sempat membuat kejutan.
Greysia Polii/Apriyani Rahayu
Peringkat para pemain pun setangga demi setangga terus merangkak naik. Prestasi Jonathan Christie meraih medali emas di Asian Games 2018, keberhasilan Greysia Polii/Apriyani Rahayu meraih medali emas dan Anthony Ginting meraih perunggu di Olimpiade Tokyo 2020, telah memicu asa “generasi rally point” untuk menjangkau prestasi lebih tinggi.
Di sisi lain keberhasilan para pemain ganda Kevin Sanjaya/Markus Gideon, Hendra/Aksan dan Fajar/Riyan menguasai ranking dunia dan keberhasilan Caesar Hiren Rhustavito menerobos peringkat 20 dunia tunggal putra, membuat asa para pelatih, official dan PB PBSI semakin optimistis.
Melihat masifnya peringkat dunia yang disandang para pemain Indonesia, maka BWF pun tak ragu menempatkan tim Thomas Indonesia sebagai unggulan pertama dalam perebutan Piala Thomas 2020 yang digelar di Aarhus Denmark yang berlangsung tanggal 9–17 October 2021.
Tantangan BWF itu dijawab dengan sempurna. Setelah melewati fase perebutan juara grup yang sangat melelahkan, di perempatfinal skuad Merah Putih mematahkan harapan Malaysia. Selanjutnya di semifinal Indonesia lolos dari hadangan tuan rumah Denmark dengan skor 3-1. Dan di final mematahkan dominasi China dengan skor telak 3-0. Sebuah perjuangan yang luar biasa.
Masih terbayang di mata, setelah bertarung selama 1 jam 22 menit, smash menyilang Jonathan Christie tak bisa dikembalikan secara sempurna oleh tunggal kedua China, Li Shi Feng. Seketika para pemain, pelatih dan ofisial Indonesia menghambur ke lapangan. Mereka berpelukan, berjingkrak-jingkrak meluapkan emosi kebahagiaan dan kegembiraan.
Piala Thomas berhasil kembali diboyong ke pangkuan Ibu Pertiwi. Ironisnya, pada saat para pejuang kita berderet di atas podium dengan sikap sempurna sambil menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, tak ada kibaran sang saka Merah Putih di Ceres Arena.
Larangan pengibaran bendera Merah Putih di event olahraga internasional itu menyusul sanksi yang diberikan WADA karena Indonesia dinilai tidak mematuhi program test doping plan (TDP). WADA (World Anti-Doping Agency) adalah Badan Antidoping Dunia, sebuah badan yang dibentuk atas prakarsa Komite Olimpiade Internasional pada 10 November 1999 di Lausanne, Swiss untuk memerangi penggunaan obat-obatan terlarang dalam olahraga.
Sementara itu seorang anak kecil dengan kepala berbalut pita merah terus memekikkan yel yel kemenangan. “Indonesia, Idonesia, Indonesia”. Mungkin ia tak begitu menghiraukan “kejanggalan” perayaan kemenangan besar tanpa kibaran merah putih.
Khusus soal pengibaran merah putih, saya jadi ingat sejarah 57 tahun silam. Saat itu, Presiden Sukarno pernah memberikan apresiasi yang sangat luar biasa pada keberhasilan Tim Thomas Indonesia.
Pada tanggal 23 Mei 1964, tepat sehari setelah Tim Thomas Indonesia mengalahkan Denmark (5-4) di laga final Thomas Cup Tokyo Jepang, Presiden Soekarno memerintahkan rakyat Indonesia mengibarkan bendera Merah Putih sehari penuh. Tim Thomas Indonesia 1964 terdiri atas Ferry Sonneville (playing captain), Tan Joe Hok, Eddy Jusuf, Ang Tjing Siang, Tan King Gwan, Unang, Tutang, Wok Pek Shen, dan Liem Tjeng Kiang.
Sungguh penghargaan yang luar biasa bagi dunia olahraga Indonesia. (*)
JAYAKARTA NEWS— Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI, Zainudin Amali mengatakan bahwa ke depan Indonesia mempunyai harapan untuk sepak bola. Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Tahun 2021 di Papua merupakan tempat untuk pemantauan bakat dan talenta semua tim yang tampil di PON, khususnya cabang olahraga sepak bola, baik putra, maupun putri.
“Kita bisa melihat talenta-talenta yang baru untuk kita bisa kita dorong ke tim nasional. Tadi Sekjend PSSI hadir, Kapolda, bahkan Asprov dari Jawa Timur, Aceh dan Papua sendiri sudah menyaksikan semua,” kata Zainudin di Jayapura, Kamis malam (14/10/2021).
Dia berharap agar kesuksesan PON XX benar-benar menjadi contoh dan pelajaran bagi kita untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan olahraga meski digelar di tengah situasi pandemi COVID-19.
“Besok (Jumat) untuk yang tutup langsung Bapak Wakil Presiden dan beliau sudah ada di Papua dan sudah lakukan kerja ke beberapa daerah. Persiapannya sudah sedang ada gladi lagi. Muda-mudahan ini semua bisa lancar seperti pembukaan yang sudah kita lalui,” katanya.
Dia mengaku kaget karena banyak atlet-atlet berprestasi dan memecahkan banyak rekor meski PON ini dihelat di tengah situasi pandemi covid-19.
“Kalau sukses prestasi banyak rekor yang terpecahkan, saya juga kaget saya pikir melaksanakan kegiatan di tengah-tengah pandemi tidak ada pemecahan rekor yang terpecahkan. Ternyata 57 rekor yang dipecahkan di PON XX di Papua dari masing-masing kontingen, atlet dan pelatihnya sangat luar biasa dengan 57 rekor yang terpecahkan selama PON,” katanya.Selain itu, kesuksesan PON Papua, ujarnya, adalah sukses ekonomi, terutama di klaster-klaster.
“Jadi sukses penyelenggaraan, sukses prestasi, ekonomi dan prokes yang dilakukan dengan disiplin bisa kita lakukan dengan baik. Ini sekalgus memupus kekhawatiran, ketakutan, bahkan orang ragu tentang apakah PON ini bisa terlaksana atau tidak. Kita buktikan apa yang sudah menjadi tagline dari PON Papua ‘Torang Bisa’. Masyarakat Papua mampu dan masyarakat Papua membuktikan PON ini sukses,” katanya.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Pelaksanaan olahraga yang aman Covid-19 menjadi tantangan tersendiri bagi penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua tahun 2021. Di tengah pandemi Covid-19 yang masih terjadi, PON XX dilaksanakan dengan cara yang berbeda dibandingan penyelenggaraan PON tahun – tahun sebelumnya. Perbedaan tersebut dengan adanya penerapan protokol kesehatan demi berlangsungnya PON dengan lancar dan menekan laju penyebaran Covid-19.
Penyelenggara PON XX Papua bersama Satuan Tugas Protokol Kesehatan (Satgas Prokes) PON telah melakukan upaya untuk mengurangi potensi penyebaran Covid-19 di seluruh venue pertandingan sejak sebelum di mulainya PON dengan memberikan tanda pembatas jarak antar penonton di dalam venue, menyiapkan tempat cuci tangan di berbagai titik dan pemasangan spanduk tentang edukasi pencegahan Covid-19.
Kemudian Satgas Prokes setiap hari menempatkan gerai di semua venue pertandingan dengan membagi-bagikan masker dan mengedukasi masyarakat akan pentingnya penerapan protokol Kesehatan.
Kasubsatgas Prokes PON Kab. Mimika memberikan masker sekaligus mengedukasi kepada official tim yang berlaga di venue bola tangan Timika, Kamis (14/10)
Hingga hari terakhir penyelenggaraan PON XX klaster Mimika yaitu Kamis (14/10), tingkat ketaatan penonton terhadap protokol kesehatan cukup tinggi, hal itu terlihat dengan tertibnya masyarakat untuk masuk ke dalam venue, sebelum masuk dicek terlebih dahulu suhu para penonton, kemudian selalu menggunakan masker saat di dalam dan di luar, serta duduk di dalam sesuai dengan tanda dan arahan dari panitia untuk menjaga jarak.
Hal itu senada dengan apa yang diungkapkan Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kab. Mimika Yosias Lossu.
“Penonton tetap menjaga jarak mengikuti tanda-tanda yang disediakan oleh panitia ketika berada di dalam stadion,” ungkap Yosias.
Menurutnya tingkat kesadaran penonton akan protokol kesehatan di venue terus meningkat setiap harinya.
“Tingkat kesadaran masyarakat meningkat akibat adanya PON, sejalan dengan edukasi yang dilakukan oleh Satgas Prokes,” tuturnya yang juga menjabat sebagai wakil ketua Subsatgas Prokes PON Kab. Mimika.
Pada kesempatan berbeda, Asep Supriatna selaku ketua Subsatgas Prokes PON Kab. Mimika menyatakan, sering meninjau langsung di lapangan dan berbincang dengan penonton, menurutnya penonton antusias dengan adanya Satgas Prokes.
“Hasil laporan dan pengamatan ke venue seperti saat ini, penonton sangat antusias untuk menerima masker, masyarakat merasa terbantu karena masker tidak boleh dipakai berulang-ulang, dengan pemberian masker setiap harinya mereka bisa berganti-ganti ketika memakai masker di luar rumah,” jelas Asep saat meninjau venue GOR Bola Tangan di Mimika, Kamis (14/10).
Lebih lanjut ia mengapresiasi panitia PON dan semua pihak yang berkontribusi di PON Kab. Mimika kali ini.
“Mungkin masih ada kekurangan, namun kami telah berikan upaya dan kerja yang terbaik sejak dari sebelum PON dimulai hingga hari terakhir penyelenggaraan PON untuk meningkatkan disiplin penonton yang hadir di venue,” kata Asep.
Sementara itu Jhon salah seorang penonton menuturkan, dirinya bersama rombongan pastinya membawa masker namun ketika masker itu basah, kami sering lupa membawa masker pengganti.
“Pemberian masker ini sangat membantu karena terkadang sering lupa membawa masker lainnya, dengan adanya bagi-bagi masker gratis kami senang sekali,” ujar Jhon.
Adapun di Kab. Mimika terdapat dua belas nomor cabang olahraga yang dipertandingan baik indoor maupun outdoor sejak 2 hingga 14 Oktober 2021, antara lain Aerosports mencakup Terjun Payung, Terbang Layang dan Aeromodelling, Atletik, Bola Basket 5×5 dan 3×3, Panjat Tebing, Biliar, Bola Tangan, Futsal, Judo dan Tarung Derajat.
Total masker yang telah didistribusikan Subsatgas Kab. Mimika sejumlah 485.000 masker, selain dibagikan pada venue juga dibagikan ke tempat-tempat ibadah, sekolah, TNI/Polri, lembaga/intansi setempat dan juga organisasi masyarakat yang berada di Mimika. (*/ctr)
JAYAKARTA NEWS— Semakin tak terkejar di puncak klasemen perolehan medali emas PON XX Papua, Tim Jawa Barat (Jabar) kembali menambah pundi medali emas di Cabor Atletik nomor 4×400 meter estafet putra dengan catatan waktu 3:13:58 detik, yang digelar di Mimika Sport Complex, Kamis (15/10/2021).
Sementara tim dari Jawa Timur meraih medali perak dengan catatan waktu 3:14:68 detik, dan medali perunggu diraih oleh kontingen Jawa Tengah dengan torehan waktu 4:15:01 detik. Demikian dikutip dari laman ponxx2021papua.com
Tim Jabar mengaku bahwa perjuangan mereka sangat panjang hingga akhirnya dapat bertanding di PON XX kali ini.
“Selama dua tahun tidak ada pertandingan, sekali bertanding langsung turun di PON ini. Sungguh luar biasa,” kata salah satu atlet dari tim Jabar usai pengalungan medali.
Terlalu banyak rintangan yang dihadapi tim Jabar, seperti, pandemi covid-19 dan cedera. Dengan persiapan selama dua tahun lebih, tim Jabar hanya mengandalkan latihan umum, tetapi tetap fokus latihan.
“Yang penting latihan kompak dan saling mengenal satu sama lain. Namanya tim itu kan yang dibutuhkan kekompakan, memotivasi satu sama lain untuk kita bisa juara,” ujar Sumatroleko, yang membawa kemenangan Jabar hingga bisa finish terdepan.