PASURUAN, JAYAKARTA NEWS– Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melepas ribuan peserta ajang International Trail Running MANTRA116 2026 di Kaliandra Eco Resort, Prigen, Kabupaten Pasuruan, Minggu (5/7/2026).
Pelepasan ini menjadi puncak penyelenggaraan event trail running bertaraf internasional yang digelar selama 3–5 Juli 2026 di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur, Pegunungan Arjuno-Welirang.
Pada hari terakhir penyelenggaraan, Gubernur Khofifah melepas sekitar 1.750 pelari yang mengikuti kategori 17 kilometer dan 10 kilometer. Secara keseluruhan, MANTRA116 2026 diikuti sebanyak 4.015 pelari dari 21 negara dan 29 provinsi, menegaskan semakin kuatnya posisi Jawa Timur sebagai destinasi sport tourism berkelas internasional.
Ajang yang memasuki penyelenggaraan ke-10 ini telah berkembang menjadi salah satu lomba lari gunung paling bergengsi di Indonesia. MANTRA116 juga telah memperoleh pengakuan dari International Trail Running Association (ITRA) serta UTMB Index, sehingga menjadi salah satu agenda yang dinantikan komunitas trail running dunia.
Gubernur Khofifah menyampaikan apresiasi kepada seluruh penyelenggara, komunitas Mantra (Malang Trail Run), relawan, aparat keamanan, tenaga medis, serta seluruh pihak yang berkolaborasi menyukseskan penyelenggaraan event internasional tersebut.
Khofifah menilai, MANTRA116 tidak sekadar menjadi ajang kompetisi olahraga, tetapi juga merupakan media promosi efektif untuk memperkenalkan kekayaan alam Jawa Timur kepada masyarakat nasional maupun dunia internasional.
“Bagaimana menikmati Indonesia dengan keindahan alam dan mudah-mudahan menjadi sport tourism yang akan menjadi energi positif bagi kita semua,” ungkapnya.
Khofifah mengatakan, kawasan Pegunungan Arjuno-Welirang memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi wisata alam dan olahraga petualangan. Keindahan bentang alam, kekayaan ekosistem hutan, serta jalur pegunungan yang menantang menjadi daya tarik tersendiri bagi para pelari maupun wisatawan.
“Hari ini kita bersama-sama explore keindahan Lereng Arjuno, Lereng Welirang dan Tahura Raden Suryo yang merupakan bagian dari Cagar Biosfer Bromo Tengger Semeru Arjuno yang telah ditetapkan oleh UNESCO. Diharapkan, pendakian Arjuno-Welirang dapat menjadi destinasi favorit bagi wisatawan mancanegara, semakin mengukuhkan posisinya sebagai permata tersembunyi di Indonesia. Makin inovatif dan kreatif jadi kita harapkan start happy, finish happy,” katanya.
Khofifah menambahkan, semakin banyaknya peserta dari berbagai negara menjadi bukti meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap penyelenggaraan event olahraga di Jawa Timur. Adapun peserta mancanegara yang ambil bagian, Australia, Austria, Brunei Darussalam, Kolombia, Mesir, Prancis, Hong Kong, India, Jepang, Malaysia, Belanda, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Swiss, Taiwan, Thailand, Inggris, Amerika Serikat, dan Vietnam.
Selain memberikan pengalaman olahraga yang menantang, penyelenggaraan MANTRA116 juga memberikan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat. Kehadiran ribuan peserta dan pendamping turut menggerakkan sektor perhotelan, transportasi, kuliner, jasa wisata, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar lokasi kegiatan.
Lebih jauh, Khofifah menegaskan bahwa penyelenggaraan MANTRA116 juga membawa pesan penting mengenai pelestarian lingkungan. Menurutnya, olahraga yang memanfaatkan kawasan alam harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian hutan dan ekosistem pegunungan.
“MANTRA berkomitmen terus berkontribusi bagi dunia trail running, sport tourism, dan ekonomi sirkular di Jawa Timur maupun Indonesia,” tegasnya.
Gubernur Khofifah berharap MANTRA116 terus berkembang menjadi ikon sport tourism Jawa Timur sekaligus memperkuat citra provinsi ini sebagai tuan rumah berbagai event olahraga internasional yang profesional, aman, dan berkelas.
Sementara itu, salah seorang peserta kategori 10 kilometer asal Ponorogo, Melinda, mengaku antusias mengikuti MANTRA116 edisi ke-10. Ia mengatakan telah mempersiapkan diri sejak jauh hari untuk dapat merasakan pengalaman berlari di lintasan Pegunungan Arjuno-Welirang.
“Event yang sangat saya tunggu-tunggu. Jalurnya menantang, pemandangannya luar biasa, dan atmosfernya sangat berbeda dibandingkan lomba lari lainnya,” ungkapnya.
Sekadar diketahui, MANTRA116 2026 mempertandingkan enam kategori lomba, yakni 116 kilometer, 68 kilometer, 38 kilometer, 34 kilometer, 17 kilometer, dan 10 kilometer. Seluruh lintasan melintasi kawasan Tahura Raden Soerjo dengan panorama alam khas Pegunungan Arjuno-Welirang yang menjadi daya tarik utama bagi para peserta dari dalam maupun luar negeri.***poedji
JAYAKARTA NEWS – Setelah padel dan pilates, muncul tren olahraga baru, hyrox.
Hyrox merupakan kompetisi fitness yang menggabungkan gerakan kardio dan strength dengan alat-alat berat.
Olahraga ini sangat menguras stamina dan energi karenanya perlu persiapan khusus.
Persiapan itu juga yang membuat peserta hyrox terdengar istimewa dan elit.
Olahraga kombinasi
Hyrox merupakan kompetisi olahraga yang dikembangkan atlet hoki, Moritz Fürsten dan Christian Toetzke di Hamburg, Jerman tahun 2017.
Ide olahraga ini muncul untuk menciptakan program yang cocok bagi pencinta fitness dan pengguna Starva.
Mereka mengkombinasikan aktivitas berlari dengan sejumlah gerakan yang mengunakan alat-alat di fitness center.
Tujuannya memotivasi penggiat fitness untuk meningkatkan level dan menghindari kebosanan menggunakan alat yang sama.
Awalnya kompetisi olahraga ini hanya diperuntukan bagi kelompok kecil dan dilakukan di lingkup fitness center.
Ternyata peserta kompetisi semakin banyak.
Dari kompetisi yang terbatas di Jerman meluas sampai ke seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Test level kebugaraan
Hyrox bertujuan untuk mengetes kekuatan, endurance dan level fitness secara keseluruhan.
Dalam satu kali sesi pertandingan terdiri dari delapan kilometer berlari dan delapan jenis workout station.
Antara satu workout station selalu diselingi lari satu kilometer.
Sementara jenis workout stationnya rowerg (mendayung), farmer carry (membopong kantong besar).
Kemudian sandbag lunges (lunges sambil membawa kantong), burpee broad jumps.
Sled pull (menarik lempengan besi), sled push (mendorong lempengan besi) dan wall ball (melempar bola ke dinding).
Kompetisi hyrox terbagi tiga jenis, yaitu open category bagi pemula, hyrox doubles yang dijalani dua orang secara bergantian.
Dan hyrox pro yang ditujukan bagi peserta yang levelnya seperti atlet profesional.
Pemenangnya yang mampu menyelesaikan semuanya dengan gerakan yang benar dan dalam waktu tercepat.
Bukan untuk amatiran
Siapa saja bisa mengikuti hyrox namun olahraga ini bukan jenis yang santai.
Diperlukan latihan yang serius dan konsisten untuk bisa menyelesaikan satu putaran kompetisi.
Peserta tidak hanya harus bisa berlari dalam waktu singkat tapi juga mampu menyelesaikan delapan jenis tantangan.
Karena itu butuh latihan yang serius. Porsi latihan awal meliputi lari sejauh 3 kilometer tanpa berhenti. Lalu mampu melakukan gerakan bodyweight standart seperti squat, lunges, dan push up. Peserta juga perlu punya pengalaman berlatih strength training, seperti menggunakan kettleballs, sleds, dan rower.***/me;
JAYAKARTA NEWS— Gelombang panas ekstrem diprediksi bakal menghantam sejumlah kota tuan rumah Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat dan Kanada. Suhu udara diperkirakan menembus 43°C di stadion, sementara trotoar di sekitar arena bisa mencapai 50°C.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius soal keselamatan penonton dan pemain, terutama di laga-laga babak gugur yang berlangsung pekan ini.
Otoritas kesehatan di Toronto, Kansas City, Miami, hingga Philadelphia sudah mengeluarkan peringatan panas ekstrem. Penyelenggara pun terpaksa menyesuaikan operasional Festival Penggemar, sementara para ahli meteorologi mengingatkan risiko perjalanan menuju stadion yang bisa lebih berbahaya dibandingkan pertandingan itu sendiri.
***
Di tengah gemerlap Piala Dunia ada hal yang ‘mengkhawatirkan’ yakni cuaca ekstrem di bulan Juli yang diprediksi akan melanda sejumlah kota tempat event akbar itu. Amerika Utara dan Kanada, setidaknya dua negara itu yang disebut bakal ‘diserang’ gelombang panas.
Suhu diperkirakan akan melebihi 43 derajat Celcius (110 derajat Fahrenheit) di beberapa kota tuan rumah. Para peramal cuaca memperingatkan tentang potensi masalah keselamatan akibat panas untuk beberapa pertandingan babak gugur minggu ini.
Kekhawatiran tentang panas ekstrem di bulan Juli dan Piala Dunia telah beberapa bulan terakhir menjadi sorotan. Sepertinya, kekhawatiran itu akan menjadi kenyataan lantaran turnamen tersebut bertepatan dengan salah satu minggu terpanas dalam setahun.
Foto: Instagram fifaworldcup
Pertandingan Piala Dunia mana yang akan terpengaruh?
Dikutip dari Al Jazeera, otoritas kesehatan Toronto mendesak para penggemar yang menuju Stadion Toronto untuk pertandingan babak 32 besar Portugal melawan Kroasia pada hari Kamis untuk tetap terhidrasi dan membatasi asupan alkohol mereka setelah Environment Canada mengeluarkan peringatan panas.
Petugas kesehatan kota, Michelle Murti, mengatakan suhu bisa terasa seperti 40°C (104°F) karena kelembapan.
Pertandingan hari Jumat antara Kolombia dan Ghana di Kansas City akan dimainkan di bawah peringatan panas ekstrem, dengan suhu “terasa seperti” hingga 43°C (110°F). Miami, tempat Argentina menghadapi Tanjung Verde pada hari Jumat, juga diperkirakan akan mengalami risiko panas sedang hingga parah akhir pekan ini.
Pertandingan hari Sabtu antara Paraguay dan Prancis di Philadelphia dapat menghadapi kondisi serupa, dengan suhu yang diperkirakan mencapai 39°C (102°F) dan indeks panas hingga 43°C (110°F). FIFA telah mempersingkat jam operasional Festival Penggemar di kota tersebut karena panas.
Stadion mana yang paling terpapar panas?
Tidak semua stadion diciptakan sama.
Stadion di Atlanta, Dallas, dan Houston memiliki atap yang dapat dibuka tutup dan pendingin udara, melindungi pemain dan penggemar begitu mereka berada di dalam.
Namun di Toronto, di mana kapasitas stadion diperluas untuk Piala Dunia dengan atap yang terbatas, sekitar 43.000 penggemar akan terpapar sinar matahari selama pertandingan hari Kamis antara Portugal dan Kroasia.
Hal yang sama berlaku di Philadelphia dan Kansas City, dengan kapasitas masing-masing sekitar 68.000 dan 69.000. Penonton akan hampir sepenuhnya bergantung pada naungan, stasiun penyemprotan, dan zona pendingin yang disediakan oleh penyelenggara, daripada kontrol iklim bawaan.
Stadion Philadelphia, Pennsylvania, AS/Foto: fifa.com
Mengapa penggemar diperingatkan tentang perjalanan menuju stadion?
Namun, bahkan ketika pertandingan berlangsung di dalam ruangan, perjalanan menuju stadion dapat menimbulkan risiko tersendiri.
Di Dallas, ahli meteorologi memperingatkan bahwa meskipun suhu udara mungkin sekitar 32°C (90°F), trotoar di luar stadion dapat mencapai 50°C (122°F). Itu berarti penggemar yang berjalan dari tempat parkir mobil, stasiun kereta api, dan zona penggemar bisa jauh lebih panas daripada yang diperkirakan.
“Beton sebenarnya dapat menyerap sebagian panas itu,” kata ahli meteorologi National Weather Service, Jennifer Dunn. “Itu akan menyerap dan memantulkan panas, dan itu dapat meningkatkan suhu lebih tinggi lagi pada permukaan tersebut.” (di/Sumber: Al Jazeera)
Dalam rentang kurang dari enam jam, dua raksasa sepak bola Eropa, Jerman dan Belanda, gugur dari Piala Dunia 2026 lewat drama adu penalti yang menyayat, meninggalkan Amerika Utara dengan kisah kejatuhan yang nyaris serupa.
Selasa dini hari waktu Indonesia menjadi hari yang akan lama dikenang, dan mungkin ingin dilupakan, oleh dua federasi sepak bola paling disegani di benua biru. Di Boston, langit New England yang cerah menyaksikan Jerman tersungkur oleh Paraguay. Beberapa ratus kilometer ke arah selatan, di Monterrey yang panas, Belanda harus mengakui keunggulan Maroko. Kedua laga itu berjalan hampir identik alurnya: pertandingan sengit selama 120 menit, gol yang saling membalas, dan akhir yang ditentukan oleh titik putih dua belas pas. Babak 32 besar Piala Dunia 2026 pun mencatatkan salah satu hari paling dramatis dalam sejarah turnamen, sekaligus mempertegas satu narasi besar yang belakangan santer dibicarakan para pengamat sepak bola dunia: tembok kekuatan tradisional Eropa mulai retak.
Rasa penasaran publik terhadap dua laga ini sebenarnya sudah terbangun sejak jadwal babak 32 besar diumumkan. Jerman dan Belanda sama-sama menutup fase grup dengan status juara grup, modal yang di atas kertas memberi mereka keuntungan psikologis menghadapi lawan yang secara peringkat FIFA berada jauh di bawah mereka. Paraguay bahkan baru kembali tampil di panggung Piala Dunia setelah absen panjang, sementara Maroko datang dengan modal sejarah semifinalis pada edisi 2022 yang membuat mereka tak lagi dipandang sebelah mata. Kombinasi antara favorit yang tertekan ekspektasi dan penantang yang tak punya beban psikologis itulah yang pada akhirnya melahirkan dua drama serupa dalam satu malam yang sama.
Di Gillette Stadium, Julian Nagelsmann menurunkan skuad terbaiknya yang menyandang status juara Grup E. Di atas kertas, laga melawan Paraguay seharusnya menjadi formalitas menuju babak 16 besar. Namun sepak bola kembali membuktikan bahwa gelar unggulan tidak menjamin apa pun. Paraguay, yang lolos dari Grup D hanya sebagai peringkat ketiga terbaik di bawah Amerika Serikat dan Australia, tampil jauh lebih berani dari perkiraan. Julio Enciso membuka keunggulan Paraguay lewat sundulan memanfaatkan umpan silang Matias Galarza, membuat Der Panzer tertinggal hingga turun minum.
Jerman baru menemukan jawaban sembilan menit setelah babak kedua bergulir. Umpan lambung Florian Wirtz disambut Kai Havertz dengan sundulan membelakangi gawang, gol yang sekaligus menegaskan betapa pentingnya peran penyerang Arsenal itu bagi timnya sepanjang turnamen. Skor 1-1 bertahan hingga peluit panjang babak normal dibunyikan, memaksa laga berlanjut ke babak tambahan waktu.
Momen paling kontroversial malam itu terjadi di menit ke-102. Jonathan Tah menyambut sepak pojok Nathaniel Brown dengan sundulan yang mengoyak jala gawang Paraguay. Sorak sorai suporter Jerman di tribune sempat pecah sebelum wasit Jalal Jayed memutuskan memeriksa tayangan ulang. Setelah beberapa menit yang mencekam, gol itu dianulir karena Waldemar Anton dinilai menghalangi pergerakan kiper Paraguay, Orlando Gill, saat bola mati. Keputusan tersebut langsung memantik perdebatan luas begitu laga usai.
Tanpa gol tambahan hingga peluit panjang extra time, nasib Jerman ditentukan lewat adu penalti, sebuah babak yang selama delapan dekade selalu berpihak kepada mereka. Namun malam itu sejarah berbalik. Havertz, penyelamat mereka di waktu normal, justru gagal di penendang pertama setelah tembakannya diblok Gill. Nick Woltemade dan Jonathan Tah menyusul gagal, sementara di kubu lawan hanya Antonio Sanabria dan Fabian Balbuena yang tak berhasil menuntaskan tugas. Eksekusi dingin Jose Canale pada penendang terakhir memastikan Paraguay menang 4-3, mengakhiri rekor sempurna Jerman dalam empat kali adu penalti sebelumnya di ajang Piala Dunia, yang terakhir kali menorehkan kegagalan serupa pada tahun 1982.
Kekalahan itu menyisakan luka yang lebih dalam dari sekadar hasil pertandingan. Ini merupakan eliminasi ketiga berturut-turut bagi Jerman di ajang Piala Dunia, setelah tersingkir di fase grup pada 2018 dan 2022. Nagelsmann, yang usai laga menemui awak media dengan raut wajah lelah, mengakui timnya kini bukan lagi bagian dari kelompok elite sepak bola dunia. Ia menyebut skuadnya terlalu lambat membongkar pertahanan rapat lawan dan kehilangan ketajaman di momen-momen krusial. Soal masa depannya sendiri, pelatih berusia 38 tahun itu tidak menyatakan mundur, namun menegaskan keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Federasi Sepak Bola Jerman.
Kai Havertz, yang menjadi salah satu eksekutor gagal, memilih sikap berbeda. Ia meminta rekan-rekan setimnya untuk introspeksi dan menolak menyalahkan kepercayaan taktik yang diberikan sang pelatih, sebuah pernyataan yang oleh sejumlah media Jerman dibaca sebagai upaya meredam gejolak internal skuad yang tengah dalam masa transisi generasi. Sementara itu, mantan pelatih Liverpool dan Dortmund, Juergen Klopp, justru menyoroti sisi lain dari laga tersebut. Dalam komentarnya di sebuah stasiun televisi Jerman, ia mempertanyakan konsistensi penerapan aturan baru FIFA soal gangguan terhadap kiper saat bola mati, seraya menyinggung insiden serupa yang menurutnya kerap terjadi di kompetisi domestik Inggris musim lalu tanpa sanksi setara.
Sementara Jerman masih terpekur di ruang ganti Gillette Stadium, drama serupa tengah memuncak di Estadio BBVA, Monterrey. Belanda, yang finis sebagai juara Grup F dengan modal percaya diri usai membukukan lima gol ke gawang Swedia di fase grup, berhadapan dengan Maroko, runner-up Grup C yang tampil sebagai kejutan sepanjang turnamen. Ronald Koeman mengambil keputusan taktik yang kelak menjadi sorotan tajam: menerapkan skema lima bek, formasi yang belum pernah digunakan De Oranje dalam tiga puluh dua pertandingan terakhir mereka.
Babak pertama berjalan tanpa gol, dengan penguasaan bola yang nyaris berimbang. Maroko sempat dua kali mengancam lewat sundulan Neil El Aynaoui dan sepakan keras kapten mereka, Achraf Hakimi, namun kiper Bart Verbruggen tampil gemilang menahan keduanya. Barulah di menit ke-72, Belanda memecah kebuntuan. Skema serangan cepat yang dimulai dari sundulan Wout Weghorst, dilanjutkan lari kencang Crysencio Summerville di sisi kanan, berujung pada assist untuk Cody Gakpo yang menuntaskannya dengan tenang ke gawang Maroko yang dikawal Yassine Bounou.
Keunggulan itu nyaris membawa Belanda melaju mulus, sebelum mimpi buruk datang di ujung waktu tambahan babak normal. Pada menit ke-90 plus satu, bek tengah Maroko, Issa Diop, yang maju membantu serangan lewat situasi bola mati, menyambut umpan silang Chemsdine Talbi dengan sundulan yang membungkam optimisme suporter Oranje. Skor 1-1 itu bertahan hingga dua babak extra time berakhir, memaksa laga kembali ditentukan lewat adu penalti, mimpi buruk yang sudah empat kali beruntun menghantui Belanda di turnamen-turnamen besar.
Drama titik putih di Monterrey berjalan dramatis. Teun Koopmeiners membuka dengan gol untuk Belanda, sementara penendang pertama Maroko, El Aynaoui, gagal setelah bola membentur mistar. Namun keunggulan itu tak bertahan lama. Tiga penendang Belanda berikutnya, Justin Kluivert, Quinten Timber, dan Crysencio Summerville, satu demi satu gagal menuntaskan tugas mereka, sementara Maroko hanya kehilangan satu kesempatan lagi lewat Hakimi yang juga membentur tiang. Penendang kelima Maroko, Ismael Saibari, yang sepanjang fase grup selalu mencetak gol, menjadi penentu kemenangan 3-2 usai berhasil mengecoh Verbruggen.
Kekalahan itu membuat Maroko mengukir sejarah sebagai wakil Afrika pertama yang melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 setelah menyingkirkan salah satu tim yang pernah menjadi finalis dunia. Bagi Belanda, hasil ini menjadi rentetan keempat kekalahan beruntun mereka lewat adu penalti di ajang-ajang besar, termasuk di tiga edisi Piala Dunia terakhir dan babak final UEFA Nations League.
Virgil van Dijk, kapten Belanda sekaligus pilar pertahanan Liverpool, tak menyembunyikan kekecewaannya usai laga. Ia mengakui rencana permainan timnya sempat berjalan sesuai harapan sebelum gol penyama kedudukan Maroko di injury time mengubah segalanya, dan menegaskan evaluasi tak lagi bisa mengubah hasil yang sudah terjadi. Namun sorotan tajam justru datang dari luar ruang ganti. Mantan striker timnas Belanda, Pierre van Hooijdonk, secara terbuka mengkritik cara para penendang penalti Oranje mengeksekusi tugas mereka, menilai variasi gaya tendangan yang rumit justru menjadi bumerang dibanding pendekatan sederhana yang konsisten. Kritik senada datang dari mantan gelandang timnas, Rafael van der Vaart, yang mempertanyakan keputusan Koeman mengubah total pendekatan taktik yang sebelumnya terbukti efektif sepanjang fase grup.
Di kubu lawan, suasana jauh berbeda. Selebrasi pemain Maroko di tengah lapangan Estadio BBVA disambut riuh diaspora Maroko yang memadati tribune penonton, mengingatkan pada atmosfer serupa saat Atlas Lions mengejutkan dunia empat tahun sebelumnya. Sejumlah komentator sepak bola Afrika Utara menyebut pencapaian ini sebagai bukti bahwa proyek pembinaan usia muda yang digagas federasi Maroko sejak pertengahan dekade lalu mulai menampakkan hasil nyata, bukan sekadar keberuntungan sesaat. Nama-nama seperti Ismael Saibari dan Bilal El Khannouss, yang tumbuh dari akademi klub-klub Eropa namun memilih membela negara leluhur mereka, disebut sebagai representasi generasi baru sepak bola Maroko yang lebih matang secara mental dibanding pendahulunya.
Gugurnya dua kekuatan tradisional Eropa dalam satu hari yang sama memantik perbincangan luas di kalangan pengamat sepak bola global. Beberapa analis menilai fenomena ini bukan kebetulan, melainkan cermin dari pergeseran keseimbangan kekuatan sepak bola dunia yang semakin merata. Format baru Piala Dunia dengan empat puluh delapan peserta dinilai turut memperbesar peluang tim-tim non-tradisional seperti Paraguay dan Maroko untuk tampil lebih percaya diri menghadapi nama-nama besar, sebab jalur menuju fase gugur kini melewati lebih banyak variasi lawan dan tekanan mental yang berbeda dari edisi-edisi sebelumnya.
Sejumlah pengamat juga menyoroti pola yang berulang pada kedua laga tersebut: keunggulan yang dibangun susah payah oleh tim Eropa, lalu dibuyarkan oleh gol telat lawan, sebelum akhirnya kalah dalam mentalitas adu penalti. Pola ini dibaca sebagian analis sebagai indikasi menurunnya ketahanan psikologis pemain-pemain besar Eropa di titik-titik krusial turnamen, sesuatu yang berbeda dari generasi-generasi sebelumnya yang justru dikenal tangguh dalam situasi tekanan tinggi seperti adu penalti.
Di sisi lain, ada pula pandangan yang lebih menyoroti faktor kepelatihan. Keputusan Koeman mengubah formasi dasar tanpa pernah mengujinya sebelumnya dianggap sebagai keputusan berisiko tinggi yang seharusnya dihindari pada laga sekritis babak gugur pertama. Sementara itu, pendekatan permainan Jerman yang dinilai terlalu dapat diprediksi lawan turut menjadi bahan evaluasi, mengingat pola serangan Der Panzer di turnamen ini disebut-sebut kurang variatif dibanding generasi juara dunia 2014.
Namun tidak sedikit pula suara yang mengingatkan agar publik tidak terburu-buru menjatuhkan vonis atas masa depan kedua tim. Sepak bola modern, kata sejumlah komentator, memang semakin sulit diprediksi, dan kekalahan lewat adu penalti pada dasarnya adalah persoalan tipis antara keberanian dan nasib, bukan semata cerminan kualitas sebuah generasi. Sejarah mencatat banyak tim besar yang bangkit dari kegagalan serupa untuk kembali berjaya pada edisi berikutnya, dan baik Jerman maupun Belanda dinilai masih memiliki fondasi pemain muda berbakat untuk melakukan regenerasi.
Perbincangan di ruang analisis televisi juga menyinggung sisi komersial dan psikologis dari format baru Piala Dunia dengan jadwal padat lintas zona waktu Amerika Utara. Sejumlah pengamat menilai perjalanan panjang antarkota, mulai dari New Jersey hingga Boston bagi Jerman, turut membebani kondisi fisik pemain menjelang laga-laga krusial. Faktor akumulasi kelelahan ini disebut sebagai variabel yang kerap luput dari sorotan, padahal berpengaruh signifikan terhadap ketajaman pengambilan keputusan pemain di menit-menit akhir extra time, tepat pada momen ketika dua gol penentu dari Paraguay dan Maroko lahir.
Menariknya, baik Paraguay maupun Maroko kini melangkah ke babak 16 besar dengan status yang jauh berbeda dari sebelumnya. Paraguay akan ditunggu pemenang laga Prancis melawan Swedia di Philadelphia, sementara Maroko dijadwalkan bertemu Kanada, salah satu tuan rumah turnamen, di Arlington. Bagi kedua tim penantang ini, keberhasilan menyingkirkan raksasa Eropa bukan lagi sekadar kejutan satu malam, melainkan modal kepercayaan diri untuk melangkah lebih jauh, sesuatu yang jarang dimiliki tim-tim non-unggulan pada edisi-edisi Piala Dunia sebelumnya.
Ketika matahari terbit di atas Boston dan Monterrey pagi itu, dua federasi besar Eropa pulang membawa pekerjaan rumah yang sama beratnya: mengevaluasi bukan hanya taktik di lapangan, tetapi juga mentalitas bertanding di titik-titik penentu. Jerman harus mencari jawaban atas pertanyaan yang kini menghantui setiap generasi mereka pascakejayaan 2014, sementara Belanda kembali dihadapkan pada bayang-bayang lama soal kutukan adu penalti yang belum juga terputus. Di tengah gegap gempita para pendatang baru yang melaju ke babak berikutnya, dua raksasa yang pernah berjaya di panggung dunia itu kini harus belajar dari kepahitan yang sama, pada hari yang sama, di benua yang sama pula. (*)
JAYAKARTA NEWS— Jerman kembali menangis! Ini yang ketiga kalinya mereka tersingkir lebih awal di Piala Dunia sejak 2018 lalu. Kala itu Jerman yang berstatus sebagai juara bertahan kandas di babak penyisihan grup. Empat tahun kemudian langkah mereka kembali terhenti secara tragis di fase yang sama.
Dan kini, 2026, mereka juga pulang ‘kampung’ lebih awal. Meski kali ini tidak seburuk dua Piala Dunia sebelumnya, tapi tetap saja gigit jari. Jauh dari target. Mereka memang lolos fase gugur, tapi terguling di babak 32 besar.
Tak heran Tim Panser ini sedih bukan kepalang. Kapten Tim Joshua Kimmich dan lainnya di antaranya Kai Havertz, dan Julian Nagelsmann, menjadi yang pertama merefleksikan kekalahan menyakitkan Die Mannschaft dari Paraguay di babak 32 besar.
Dikutip dari fifa.com, Kapten Jerman, Joshua Kimmich, bicara blak-blakan setelah timnya secara mengejutkan tersingkir dari Piala Dunia FIFA 2026 oleh Paraguay. Kekecewaan mendalam dari pemain Bayern Munchen tersebut terlihat jelas, namun ia tetap mampu memberikan analisis pascapertandingan yang melampaui sekadar kalimat klise.
“Ketika saya menonton tim nasional sewaktu kecil, mereka selalu mencapai semifinal, final, menjadi juara dunia. Tidak ada hal lain selain kesuksesan,” ujar Kimmich. “Menjadi pendukung setia tim nasional benar-benar membentuk diri Anda. Itulah yang ingin kami berikan kepada anak-anak dan masyarakat di rumah.
“Namun sekali lagi, kami gagal memantik kegembiraan apa pun, gagal menjadi tim di lapangan yang bisa dibanggakan oleh masyarakat, karena pada akhirnya, segalanya bermuara pada apakah Anda berhasil atau tidak.”
“Hal yang bisa saya lakukan hanyalah meminta maaf,” kata penyerang Arsenal tersebut, yang sebelumnya sempat menyamakan kedudukan menjadi 1-1 namun kemudian gagal mengeksekusi penalti pertama. “Kami—dan yang saya maksud khususnya adalah para pemain, di luar pelatih—harus benar-benar berkaca dan mengevaluasi diri kami sendiri,” ujarnya, dilansir fifa.com
Timnas Jerman usai dikalahkan Paraguay di babak 32 besar Piala Dunia/Foto: fifa.com
Siapa yang Salah?
Bagi Kimmich, persoalan tentang siapa yang harus disalahkan juga sudah jelas. “Tidak boleh ada seorang pun yang berpikir untuk menyalahkan wasit atas hasil ini, atau menyalahkan adu penalti hari ini,” kata kapten Jerman itu.
“Jika Anda tidak bisa menang selama 120 menit, Anda memang layak tersingkir. Anda tidak boleh bergantung pada keberuntungan melawan musuh seperti itu; Anda harus memiliki kualitas di dalam tim untuk mengalahkan mereka secara meyakinkan.”
Pelatih Nagelsmann Buka Suara
Sekali lagi, kualitas Jerman tidak terlihat di Stadion Boston. Menurut pelatih Julian Nagelsmann, permainan timnya terlalu mudah ditebak dan kurang tajam.
“Kami butuh waktu terlalu lama untuk mulai membongkar pertahanan lawan di lapangan,” ujar Nagelsmann secara terbuka kepada saluran TV Jerman, ZDF, seraya menyoroti kekurangan timnya.
“Kami seharusnya lebih sering mengalirkan bola ke dalam kotak penalti, dan kami semestinya bisa mengunci kemenangan lebih awal. Permainan kami hari ini terlalu lambat.”
Namun, Nagelsmann tampak lebih kesal dengan penampilan defensif timnya, mengingat Paraguay hanya membutuhkan satu gerakan bagus untuk menembus lini belakang Jerman.
“Sayangnya, dalam sepak bola, beberapa tim mampu menang menggunakan taktik yang cukup sederhana – dan Anda perlu mampu bertahan dengan baik melawan taktik seperti itu,” ujarnya.
Pada konferensi pers pasca pertandingan, Nagelsmann mengatakan dia tahu persis “bagaimana cara kerja sepak bola” dan mengakui bahwa pertanyaan tentang masa depannya adalah hal yang wajar. Kontraknya berlaku hingga 2028, dan para pemainnya berharap ini bukan turnamen terakhir bersamanya sebagai pelatih.
“Saya berharap ia terus percaya pada dirinya sendiri dan kemampuannya, karena tidak ada seorang pun di ruang ganti yang menyalahkan dirinya,” kata Kimmich, yang menilai bahwa para pemain sering kali cepat menyalahkan pelatih ketika segala sesuatunya berjalan buruk, seraya menegaskan kembali bahwa hal itu tidak terjadi di tim Jerman.
“Pada akhirnya, kamilah yang berada di atas lapangan, dan kami harus selalu menargetkan kemenangan atas Paraguay.”
Eliminasi ini menjadi pil yang sangat pahit untuk ditelan, khususnya bagi Kimmich secara pribadi. “Tersingkir sebagai kapten rasanya jauh lebih berat,” ujar bek kanan tersebut, yang sempat digeser ke posisi gelandang tengah sebelum babak perpanjangan waktu dimulai, sebuah keputusan yang sebenarnya telah diserukan oleh banyak penggemar di Jerman.
“Anda memikul tanggung jawab besar atas tim ini. Saya merasakan tanggung jawab itu dan kami semua yang berada di lapangan seharusnya merasakannya. Pada akhirnya, sayangnya kami mengacaukannya lagi.” (di/Sumber: fifa.com)
JAYAKARTA NEWS— Harapan Tim Iran FIFA akan membantu mereka untuk mendapat perlakuan adil di Piala Dunia, ternyata tidak terwujud. Kapten Tim Iran Mehdi Taremi dengan tegas menyatakan FIFA tidak melakukan apa-apa.
Padahal seusai pertandingan pertama Iran Vs Selandia Baru, Presiden FIFA Gianni Infantino dan jajarannya sempat mengunjungi Iran di ruang ganti dan berjanji akan menyelesaikan permasalahan. Tapi ternyata tidak.
“(Presiden FIFA Gianni) Infantino datang ke (ruang ganti kami) pada pertandingan pertama (melawan Selandia Baru) dan mengatakan kami akan menyelesaikan setiap masalah di sini, tetapi sebenarnya FIFA tidak melakukan apa pun,” ungkap Kapten Tim Iran Mehdi Taremi, dikutip dari Daily Mail.
Mehdi Taremi menuding penyelenggara Piala Dunia lebih memilih mereka tersingkir dari turnamen.
Presiden FIFA Gianni Infantino/Foto: tangkap layar akun X HOOLIGAN SOCCER
Harapan Iran untuk mencapai babak gugur untuk pertama kalinya dipertaruhkan setelah hasil imbang dramatis 1-1 dengan Mesir dalam ‘Pertandingan Kebanggaan’ yang kontroversial di Seattle. Tim Taremi melihat gol kemenangan di menit-menit terakhir dianulir.
Kampanye Piala Dunia tim tersebut telah dihantui oleh pembatasan perjalanan dan visa serta perseteruan selama berminggu-minggu antara pejabat Iran dan otoritas AS.
Sebelumnya, Taremi juga menyebut Piala Dunia sebagai ‘bencana’ dan ia mengulangi klaim tersebut pada hari Jumat sebelum mengecam FIFA karena ‘tidak berbuat apa-apa’ untuk membantu timnya.
‘Kami selalu mengeluh tentang hal-hal ini sejak awal, ini adalah Piala Dunia yang bencana. Sebuah bencana,’ katanya.
‘Sebagai pemain profesional dalam kompetisi profesional, ini tidak benar… ini tidak adil… jika itu adil bagi FIFA, oke, bagus untuk mereka. Tapi ini tidak adil. Siapa yang ingin membantu kami… tidak ada yang membantu. Tidak ada seorang pun.’
Ia menambahkan: ‘Siapa yang harus menyelesaikan masalah ini untuk kami? Siapa? FIFA? Saya tidak tahu. AS. Saya tidak tahu – sebutkan saja satu nama untuk saya.
Hampir Lolos ke Babak 32 Besar tapi Gol Iran Dianulir
Dikutip dari Al Jazeera, Iran yang memainkan tiga pertandingan babak penyisihan grup mereka di Piala Dunia 2026, kini harus menunggu untuk mengetahui apakah mereka akan mencapai babak 32 besar.
Emosi masih membara bagi para pemain Iran dan pelatih mereka lama setelah peluit akhir pertandingan imbang 1-1 melawan Mesir di laga terakhir babak penyisihan grup mereka di Stadion Seattle pada Jumat malam.
Berusaha untuk lolos dari babak penyisihan grup untuk pertama kalinya dalam sejarah Piala Dunia mereka, Iran harus menunggu hasil pertandingan hari Sabtu setelah finis di posisi ketiga di Grup G.
Tampaknya “The Melli” telah mengamankan tempat mereka di babak 32 besar dengan gol di waktu tambahan, hanya untuk kemudian gol Shojae Khalilzadeh dianulir oleh tinjauan VAR karena offside yang tipis.
Ini melanjutkan pengalaman Piala Dunia yang penuh gejolak bagi Iran, yang memindahkan basis kamp pelatihan mereka dari Tucson, Arizona, ke Tijuana, Meksiko karena perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Mereka juga menghadapi masalah logistik dalam perjalanan bolak-balik ke Amerika Serikat untuk tiga pertandingan grup mereka.
Iran berada dalam posisi yang kuat untuk mengklaim salah satu dari delapan tempat ketiga di babak 32 besar, tetapi pelatih Amir Ghalenoei mengatakan timnya telah diperlakukan “sangat tidak adil” sambil mendesak Presiden FIFA Gianni Infantino untuk “bertindak” terhadap tuan rumah bersama, Amerika Serikat.
“Tuan rumah yang tidak baik kepada kami,” kata Ghalenoei setelah pertandingan Jumat. “Saya mendesak FIFA untuk tidak membiarkan tuan rumah memperlakukan tim dan pemain dengan cara yang sama di masa depan. Saya berharap Bapak Infantino akan benar-benar bertindak terhadap perilaku seperti itu.”
Pertandingan hari Jumat berlangsung di tengah-tengah PrideFest tahunan Seattle, di mana panitia penyelenggara kota secara tidak resmi mendeklarasikan 26 Juni sebagai “Pertandingan Pride” sebelum undian bulan Desember mempertemukan Mesir melawan Iran.
‘Kita harus berjuang melawan segalanya di sini. Saya tidak tahu apakah orang-orang menginginkan (itu) atau tidak, tetapi seperti yang kita lihat dari perspektif kita, ya, saya pikir mereka seperti itu,’ kata Taremi, dilansir Daily Mail.
Grup G: Belgia dan Mesir Lolos 32 Besar, Iran Masih Belum Pasti
Hasil imbang 1-1 berarti Belgia dan Mesir lolos otomatis dari Grup G. Iran berpeluang besar untuk bergabung dengan mereka sebagai salah satu dari delapan tim peringkat ketiga teratas, tetapi mereka sekarang harus menunggu untuk melihat apakah hasil pertandingan lain menguntungkan mereka.
‘Saya merasa sedih tetapi kami masih punya harapan,’ kata Taremi, yang sekali lagi mengeluh bahwa para pemain Iran harus kembali ke Tijuana setelah pertandingan.
‘Kami selalu melakukan yang terbaik. Kami bermain untuk rakyat kami. Kami ingin mereka bahagia karena kami ingin membawa kebahagiaan,’ tambahnya.
‘Kami ingin mengirimkan pesan perdamaian untuk rakyat di Iran, di luar Iran, untuk FIFA, untuk semua orang. Tetapi bagi kami, tidak ada kedamaian tentang pihak lain.’
Para pemain Iran meninggalkan catatan di ruang ganti mereka setelah pertandingan, setelah sebelumnya melakukan hal yang sama setelah hasil imbang melawan Belgia.
Isinya berbunyi: ‘Kami berasal dari IRAN… dari tanah yang, selama ribuan tahun, telah mengutamakan kehormatan daripada kemenangan.
‘Bagi kami, sepak bola bukan hanya kompetisi untuk hasil, tetapi juga ujian karakter. Mungkin poin dapat dimenangkan dengan berbagai cara, tetapi rasa hormat tidak bisa.
‘Mungkin sebuah tim dapat melaju dari grup, tetapi hanya melalui keadilan dan kehormatanlah seseorang dapat berdiri tegak di hadapan sejarah. Permainan yang adil bukan hanya sekadar garis dalam aturan sepak bola,” tambahnya. (di/Sumber: Daily Mail, Al Jazeera)
JAYAKARTA NEWS— Erling Haaland kembali jadi sorotan dunia. Striker Manchester City ini tampil sensasional di Piala Dunia 2026, mencetak empat gol dalam dua laga awal yang membawa Norwegia lolos ke babak knockout untuk pertama kalinya sejak 1998.
Di laga pembuka melawan Irak, Haaland mencetak dua gol dalam kemenangan 4-1. Ia kembali mencetak dua gol saat Norwegia menundukkan Senegal 3-2. Catatan ini menempatkannya dalam persaingan ketat perebutan Sepatu Emas, bersama Lionel Messi (5 gol) dan Kylian Mbappé (4 gol). Cristiano Ronaldo juga ikut meramaikan dengan torehan 2 gol.
Usai laga, Haaland berkata: “Saya beruntung, tapi mencetak gol memang spesialisasi saya.” Ia juga menambahkan prediksi berani: “Saya rasa Prancis bisa memenangkan Piala Dunia 2026.”
Erling Haaland raih penghargaan Pemain Terbaik (Man of the Match) dalam pertandingan Piala Dunia 2026 bersama Timnas Norwegia (Foto: Instagram erling)
Dari Manchester ke Dunia
Prestasi Haaland di Piala Dunia bukanlah kejutan. Sejak bergabung dengan Manchester City pada 2022, ia langsung mencetak sejarah: 36 gol di Premier League musim debut, memecahkan rekor sepanjang masa. Ia juga membawa City meraih treble bersejarah (Premier League, FA Cup, Liga Champions) dan menjadi top scorer Liga Champions dengan 12 gol.
“Di City, Haaland sudah jadi mesin gol. Kini di Piala Dunia, ia membuktikan dirinya bukan hanya striker klub, tapi juga ikon nasional,” ujar seorang pengamat sepakbola Eropa.
Erling Braut Haaland dan ayahnya Alfie Haaland /Foto: tangkap layar Instagram alfiehaaland
Jejak Sang Ayah
Kisah Haaland tak bisa dilepaskan dari ayahnya, Alf-Inge Haaland, mantan pemain timnas Norwegia yang pernah merumput di Premier League bersama Leeds United dan Manchester City. Meski sang ayah tak pernah tampil di Piala Dunia, kiprahnya di level internasional memberi inspirasi besar bagi Erling.
“Melihat Haaland di panggung dunia adalah mimpi yang jadi nyata. Ia melanjutkan jejak ayahnya, tapi dengan pencapaian yang lebih besar,” tulis seorang netizen di Twitter/X.
Supporter: Dia Predator Gol!
Sejumlah supporter khususnya dari Norwegia mengaku bangga dengan kiprah Haarland di panggung dunia. “Kami bangga! Akhirnya Norwegia punya ikon besar yang bisa bersaing di panggung dunia.”
Fans Manchester City: “Apa pun seragamnya, Haaland tetap Haaland. Insting golnya tidak pernah hilang.”
Netizen: “Empat gol di dua laga? Haaland bukan manusia, dia predator gol!”
Komentar-komentar ini menunjukkan betapa Haaland kini bukan hanya milik Norwegia atau Manchester City, tapi milik sepakbola dunia.
Dari tabel ini jelas, Haaland lebih produktif daripada Ronaldo di edisi 2026, meski masih tertinggal dari Messi
Piala Dunia 2026 adalah panggung besar pertama bagi Haaland. Ia berharap bisa terus mencetak gol dan membawa Norwegia melangkah lebih jauh. Bagi dunia sepakbola, Haaland kini bukan hanya striker tajam, tapi juga wajah baru industri olahraga global: kontrak sponsor besar, pengaruh di media sosial, dan daya tarik komersial yang luar biasa.
“Jika Haaland terus seperti ini, ia akan jadi legenda baru. Messi dan Ronaldo punya penerus yang layak,” kata seorang analis sepakbola internasional. (di/Sumber: WION, NDTV Sports, YEN.com.gh, France 24, ESPN)
JAYAKARTA NEWS— Kabar menggembirakan datang dari keluarga Lionel Messi. Jorge Messi, ayah sekaligus sosok yang selama puluhan tahun menjadi pendamping terdekat sang megabintang Argentina, dilaporkan menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani perawatan di rumah sakit akibat masalah kesehatan yang belum diungkap secara rinci kepada publik.
Pekan lalu, keluarga Messi mengonfirmasi bahwa Jorge Messi tengah menghadapi sebuah “situasi kesehatan” yang membutuhkan perhatian medis. Pengumuman tersebut muncul tidak lama setelah Lionel Messi terlihat emosional usai membantu Argentina meraih kemenangan 3-0 atas Aljazair pada laga fase grup Piala Dunia 2026.
Momen ketika Messi menitikkan air mata di lapangan sempat memicu berbagai spekulasi. Banyak penggemar bertanya-tanya mengenai penyebab emosi yang diperlihatkan kapten Argentina tersebut. Tak lama kemudian, keluarga Messi memberikan penjelasan bahwa Jorge Messi sedang menjalani perawatan medis.
Kini, laporan terbaru dari Argentina menyebutkan bahwa kondisi pria berusia 68 tahun itu terus membaik. Media Argentina Paparazzi melaporkan Jorge menunjukkan respons positif terhadap pengobatan yang dijalaninya dan berharap dapat segera meninggalkan rumah sakit dalam waktu dekat apabila proses pemulihannya berjalan sesuai harapan.
Bagi Lionel Messi, kabar tersebut tentu menjadi angin segar di tengah kesibukannya memimpin Argentina dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia.
Lionel Messi dan ayahnya Jorge Messi/Sumber Foto: tangkap layar Instagram fersvaluto
Sosok yang Selalu Ada di Balik Kesuksesan Messi
Jorge Messi bukan hanya seorang ayah bagi Lionel Messi. Ia juga merupakan agen, penasihat, dan pengelola berbagai urusan bisnis yang mengiringi perjalanan karier salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa.
Sejak Messi masih berjuang menembus tim utama Barcelona pada awal 2000-an, Jorge telah menjadi figur sentral yang mengatur berbagai keputusan penting dalam kehidupan putranya. Dari negosiasi kontrak, kesepakatan sponsor, hingga berbagai aktivitas komersial bernilai jutaan dolar, Jorge selalu berada di garis depan untuk melindungi dan mendukung karier sang putra.
Hubungan keduanya dikenal sangat dekat. Dalam berbagai kesempatan, Messi kerap menyebut keluarganya sebagai fondasi utama yang membantunya melewati tekanan besar sebagai pesepak bola kelas dunia.
Karena itulah, kondisi kesehatan Jorge diyakini memberikan dampak emosional yang besar bagi sang kapten Argentina selama berlangsungnya turnamen.
Piala Dunia Terakhir Sang Legenda
Di tengah kekhawatiran mengenai kondisi ayahnya, Messi tetap menunjukkan performa yang mengesankan di Piala Dunia 2026.
Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini diyakini menjadi penampilan terakhir Messi di panggung Piala Dunia. Pada usia 38 tahun, sang legenda masih menjadi sosok sentral dalam skuad Argentina yang datang sebagai juara bertahan.
Foto: Instagram leomessi
Bahkan sebelum turnamen dimulai, Messi sudah lebih dulu mencetak sejarah. Ia menjadi pemain pertama yang tampil dalam enam edisi Piala Dunia, sebuah rekor yang belum pernah dicapai pemain mana pun sepanjang sejarah sepak bola.
Debutnya di ajang terbesar dunia terjadi pada Piala Dunia 2006 di Jerman. Dua dekade kemudian, ia masih mengenakan ban kapten Argentina dan tetap menjadi tumpuan utama tim nasional negaranya.
Terus Menambah Rekor
Messi juga terus memperkaya koleksi catatan bersejarahnya sepanjang turnamen.
Penampilannya saat melawan Aljazair menjadi salah satu yang paling berkesan. Selain membawa Argentina meraih kemenangan 3-0, laga tersebut semakin mengukuhkan statusnya sebagai pemain yang mampu tampil menentukan bahkan di usia yang tidak lagi muda untuk ukuran pesepak bola profesional.
Beberapa hari kemudian, Messi kembali menjadi pembeda saat Argentina mengalahkan Austria dengan skor 2-0. Hasil tersebut membuat Argentina semakin dekat dengan tiket menuju fase gugur dan mempertegas status mereka sebagai salah satu kandidat kuat juara.
Selain mengejar trofi dunia kedua dalam kariernya, Messi juga masih berpeluang memperlebar sejumlah rekor individu. Setiap menit yang ia mainkan di Piala Dunia 2026 berpotensi menambah catatan penampilan, kontribusi gol, maupun berbagai pencapaian yang selama ini identik dengan namanya.
Misi Menutup Karier dengan Sempurna
Bagi banyak penggemar sepak bola, Piala Dunia 2026 bukan sekadar turnamen biasa. Ini adalah kesempatan terakhir untuk menyaksikan Messi beraksi di panggung terbesar sepak bola dunia.
Setelah memenangkan hampir seluruh gelar bergengsi yang tersedia, termasuk Copa America, Liga Champions, Ballon d’Or, dan Piala Dunia 2022, Messi kini memiliki kesempatan untuk menutup perjalanan internasionalnya dengan cara yang nyaris sempurna.
Namun di balik sorotan stadion yang megah dan berbagai rekor yang terus bertambah, terdapat sisi manusiawi yang tengah dijalani sang legenda. Di saat jutaan pasang mata menyaksikannya mencetak sejarah, pikirannya juga tertuju kepada sosok yang telah mendampinginya sejak awal perjalanan karier: Jorge Messi.
Karena itu, kabar mengenai membaiknya kondisi Jorge Messi menjadi berita yang melegakan tidak hanya bagi keluarga mereka, tetapi juga bagi para pendukung Argentina di seluruh dunia. Di tengah perjuangan mengejar kejayaan terakhir bersama Albiceleste, Lionel Messi kini setidaknya dapat sedikit bernapas lega karena sang ayah dikabarkan berada di jalur pemulihan yang positif.
Dan selama Jorge terus berjuang untuk pulih, Messi pun tampaknya akan terus melakukan hal yang selama ini paling dikenalnya: menulis sejarah. (di/Sumber: euronews, KESQ,NBC New York, Daily Mail, The Times of India, Al Jazeera)
JAYAKARTA NEWS— Di tengah perang berkecamuk, rudal, drone berseliweran, Piala Dunia tetap memiliki tempat tersendiri. Menonton Piala Dunia sedikit membantu melupakan kesusahan dan kekhawatiran, tak terkecuali di Gaza yang tiada hari tanpa ketenangan. Piala Dunia menjadi ‘pelarian’ atau pelipur lara warga Gaza penggemar sepak bola.
Hanya saja ada sesuatu yang menarik kali ini. Saat warga Gaza nobar (nonton bareng) Spanyol Vs Arab Saudi, warga Gaza justru beramai-ramai mendukung Spanyol. Itu terjadi saat pertandingan Minggu (21/6/2026). Kemanangan Spanyol 4-0 atas Arab Saudi pun disambut gegap gempita. Ada apa?
Mengutip Al Jazeera, di sebuah kafe yang ramai di Kota Gaza, penggemar sepak bola berkumpul di sekitar layar kecil, yang diletakkan di dekat layar proyektor yang tidak terpakai, untuk menonton pertandingan penting Piala Dunia Grup H antara Spanyol dan Arab Saudi pada Minggu malam.
Kerumunan itu bersorak ketika Lamine Yamal yang berusia 18 tahun membuka skor untuk Spanyol pada menit kesepuluh. Tiga gol Spanyol lainnya menyusul dalam 35 menit berikutnya, mengamankan kemenangan nyaman bagi raksasa sepak bola Eropa itu, yang disambut gembira oleh para pengunjung kafe Gaza yang dadakan itu.
Arab Saudi mungkin memiliki hubungan dekat dengan Palestina, tetapi gairah untuk tim sepak bola Spanyol sudah lama ada di Gaza.
Namun, dukungan Palestina untuk Spanyol selama Piala Dunia tidak hanya didorong oleh kehebatan tim di lapangan. Hal ini juga dipandu oleh posisi politik dan kemanusiaan Spanyol selama perang genosida Israel di Gaza, yang telah menewaskan hampir 73.000 warga Palestina.
Sejak perang dimulai pada Oktober 2023, Spanyol telah menjadi salah satu pendukung terkuat rakyat Gaza di Eropa dan pengkritik Israel yang paling vokal.
Spanyol menggusur Arab Saudi 4-0 dalam pertandingan di Grup H/Foto: Instagram fifaworldcup
Mohammad Attallah, 43 tahun, seorang pengacara dari Kota Gaza, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia telah mengikuti sepak bola Spanyol selama bertahun-tahun. Tetapi ketika perang pecah dan Perdana Menteri Spanyol sayap kiri Pedro Sanchez memberikan dukungan negaranya kepada Gaza, kecintaannya pada La Roja, sebutan untuk tim nasional sepak bola Spanyol, memiliki makna yang berbeda.
“Kami adalah orang-orang yang mencintai kehidupan dan mencintai sepak bola. Banyak orang di sini telah mengikuti La Liga dan tim nasional Spanyol selama bertahun-tahun, tetapi sikap Spanyol selama perang membuat orang merasa jauh lebih dekat dengannya,” kata Attallah, dikutip dari Al Jazeera.
Beberapa posisi Spanyol mendapat sambutan luas di kalangan warga Palestina, katanya. Solidaritas bintang Barcelona, Lamine Yamal, terhadap Palestina, pengakuan Spanyol terhadap Negara Palestina pada tahun 2024, serta posisi resmi Spanyol mengenai perang – termasuk permohonan Raja Felipe VI kepada Israel untuk menghentikan “tindakan keji” di Gaza – semuanya telah diperhatikan di Kota Gaza, 3.500 km (2.175 mil) dari Madrid.
“Kami merasa bangga dengan semua orang yang berdiri di sisi rakyat Palestina selama keadaan ini. Itulah mengapa banyak orang di sini mendukung Spanyol, bukan hanya karena sepak bola, tetapi juga karena posisi kemanusiaan ini,” tambahnya.
“Kami berharap Spanyol menang, dan kami sangat mendukung mereka, tetapi pada akhirnya, kami juga menghormati tim nasional Saudi,” katanya sambil tersenyum.
Sikap Politik Spanyol
Di seluruh kafe, para penggemar berulang kali menyebutkan sikap politik Spanyol sebagai faktor pendukung tim nasional. Hani Abu Rizq, 32 tahun, memandang sorak-sorai untuk Spanyol di Kota Gaza sebagai cerminan tekad rakyat Palestina untuk bertahan hidup, meskipun terjadi perang.
Menonton sepak bola adalah salah satu dari sedikit cara untuk melepaskan diri dari tekanan kehidupan sehari-hari di Gaza, katanya, tetapi politik masih menemukan cara untuk meresap ke dalam permainan indah di Gaza.
“Kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa orang-orang Gaza mencintai kehidupan dan mencintai olahraga, terlepas dari semua kehancuran dan kesulitan yang mengelilingi mereka,” kata Abu Rizq.
“Tidak mungkin untuk mengabaikan dampak dari posisi yang mendukung Palestina, baik dari pemerintah Spanyol maupun dari para atlet.”
Ketika Yamal mengibarkan bendera Palestina selama perayaan kemenangan Barcelona di La Liga bulan lalu, warga Palestina memandang itu sebagai bentuk solidaritas untuk komunitas olahraga Gaza yang telah diserang sejak Oktober 2023.
“Banyak pemain sepak bola yang dulunya bintang di liga lokal terpaksa mengambil pekerjaan lain setelah stadion dihancurkan dan kegiatan olahraga terhenti,” katanya.
Meskipun demikian, warga Palestina di Gaza masih mempertahankan kecintaan mereka pada sepak bola. Pemadaman listrik dan internet yang sering terjadi telah melemahkan warga Palestina di Gaza, tetapi mereka masih menemukan waktu untuk berkumpul di kafe untuk menonton pertandingan sepak bola bersama. (Sumber: Al Jazeera)
JAYAKARTA NEWS— Presiden sepak bola Brasil yang sudah menikah diduga terlibat skandal perselingkuhan di tengah klaim bahwa ia menggunakan dana federasi untuk menerbangkan selingkuhannya ke New York sebelum Piala Dunia, dilansir Daily Mail.
Presiden asosiasi sepak bola Brasil diduga terlibat skandal perselingkuhan setelah dituduh menggunakan dana federasi untuk membiayai perjalanan internasional.
Samir Xaud, 42, yang terpilih sebagai presiden tanpa lawan tahun lalu, diduga menerbangkan selingkuhannya ke New York sebelum melakukan perjalanan ke Mexico City di mana ia bertemu istrinya untuk upacara pembukaan Piala Dunia pekan lalu, dikutip dari Daily Mail.
Presiden dilaporkan terlihat makan malam dan minum anggur dengan seorang pengusaha kebugaran di jantung Manhattan selama perjalanan ke Amerika Serikat beberapa hari sebelum Piala Dunia dimulai, menurut media Brasil Portal Leo Dias.
Camila Cristina Andrade, yang berasal dari negara bagian Roraima, dilaporkan menginap di Hyatt Regency Grand Central, hotel bintang empat di sebelah stasiun ikonik kota itu, selama delapan hari.
Terlebih lagi, reservasi yang konon menelan biaya $11.500 itu, menurut laporan tersebut, dipesan atas nama Xaud.
Dalam foto-foto yang diterbitkan oleh media tersebut, pasangan itu terlihat menikmati makan malam yang nyaman di Harry Cipriani – restoran terkenal di Manhattan yang terletak di hotel Sherry-Netherland di Fifth Avenue – pada tanggal 3 Juni.
Mereka dilaporkan terlihat keluar dari restoran mewah itu dan pergi dengan sebuah kendaraan, yang konon disewa oleh federasi selama perjalanan Xaud.
Xaud kemudian diduga meninggalkan Andrade di New York untuk kembali ke Fortaleza, Brasil, tempat tim wanita negara itu menghadapi AS dalam pertandingan persahabatan pada tanggal 8 Juni.
Samir Xaud, Presidem Federasi Sepak Bola Bransil/Foto: Instagram Samir Xaud
Dari pertandingan internasional di Fortaleza, Xaud dikatakan terbang ke Mexico City di mana ia bertemu kembali dengan istrinya Natalia untuk upacara pembukaan Piala Dunia.
Xaud dilaporkan telah menikah dengan istrinya, yang dengannya ia memiliki tiga anak, selama lebih dari 20 tahun.
Namun, klaim tersebut berubah menjadi lebih mengejutkan ketika media tersebut menuduh bahwa ini bukan pertama kalinya presiden menggunakan dana federasi untuk perjalanan pribadi ke luar negeri.
Dugaan Skandal
Portal Leo Dias juga mengklaim bahwa Xaud mengirim model dan influencer, Tamares Fernandes Barcellos, ke Qatar untuk pertandingan Piala Dunia Interkontinental FIFA pada Desember 2025 dengan biaya federasi.
Perjalanan itu, yang termasuk penerbangan kelas bisnis dengan Emirates dan menginap di Ritz-Carlton Doha selama empat hari, menelan biaya total $3.400 hanya untuk hotel saja, menurut dokumen yang diperoleh oleh Portal Leo Dias.
Namun, asosiasi sepak bola Brasil dengan cepat membantah tuduhan tersebut, menegaskan bahwa administrasinya berkomitmen pada integritas etika.
“Pengeluaran yang dikeluarkan oleh entitas tersebut secara eksklusif terkait dengan kegiatan kelembagaan CBF, dan pengeluaran pribadi para direkturnya ditanggung sendiri,” kata pernyataan yang diberikan kepada Radio Itatiaia.
“Administrasi CBF saat ini didasarkan pada pilar transparansi, tanggung jawab administratif, dan komitmen terhadap integritas.” CBF menegaskan kembali bahwa mereka tetap siap memberikan klarifikasi lebih lanjut.
Daily Mail juga telah menghubungi asosiasi sepak bola Brasil untuk meminta komentar lebih lanjut, tetapi belum menerima tanggapan segera.
Xaud dilaporkan membayar biaya hotel di New York pada hari Minggu tak lama setelah dihubungi oleh Portal Leo Dias, menurut laporan media tersebut.
CBF dilaporkan meminta waktu hingga pukul 1 siang waktu setempat pada hari Selasa, 16 Juni, untuk memberikan penjelasan lebih lanjut tentang pengeluaran yang masih dipertanyakan.
Kontroversi ini telah membayangi awal Brasil di Piala Dunia, yang membuka kampanye mereka dengan kemenangan keenam dengan hasil imbang 1-1 melawan Maroko di Grup C di Stadion MetLife di New Jersey.
Tim asuhan Carlo Ancelotti akhirnya memastikan kemenangan pertama mereka di turnamen ini dengan kemenangan telak 3-0 atas Haiti di Philadelphia pada hari Jumat. (Sumber: Daily Mail)