Argentina tak Berkutik! Spanyol Raih Juara Piala Dunia Kedua Kalinya, Torres: Saya Masih tak Percaya!

JAYAKARTA NEWS— Akhirnya perjuangan mati-matian selama 120 menit lebih membuahkan hasil membahagiakan, Spanyol berhasil memenangkan gelar Piala Dunia kedua kalinya, lewat sepakan Ferran Torres yang bersarang akurat di gawang Emiliano Martinez di menit ke 106. Kemenangan 1-0 atas Argentina di Stadion New York New Jersey, berhasil dipertahankan hingga pluit panjang berbunyi, sekaligus memusnahkan mimpi Argentina meraih gelar Piala Dunia keempat kalinya.

Mencapai sukses ini, Spanyol membutuhkan 20 tembakan, bahkan perpanjangan waktu di babak kedua. Tapi sejujurnya, dalam babak final ini Argentina tidak tampil hebat seperti biasanya. Harapan bahwa di babak kedua La Albiceleste bakal ‘ngamuk’ seperti sebelumnya, ternyata tidak terjadi. Sebaliknya mereka yang bermain dengan 10 pemain tampak frustasi. Kesulitan menciptakan peluang. Pun serangan Argentina di akhir pertandingan tidak menghasilkan gol.

Detik-detik menegangkan ketika Torres melesatkan tembakan ke gawang Argentina/Foto: Instagram FIFA

Ferran Torres mengatakan, dirinya masih tidak percaya dengan apa yang terjadi, dilansir Al Jazeera. Pencetak gol asal Spanyol itu mengatakan dia masih belum bisa mencerna kenyataan menjadi juara dunia.

Ferran Torres
Ferran Torres meraih penghargaan sebagai Pemain Terbaik Pertandingan versi @MichelobUltra/Foto: Instagram FIFA

Ditanya tentang momen saat dia menendang bola untuk mencetak gol, Torres berkata: “Jujur, saya tidak terlalu banyak berpikir. Saya hanya melihat bola datang ke arah saya, dan saya langsung menembak dengan kekuatan seluruh rakyat Spanyol,” ujar Torres dikutip dari Al Jazeera.

Dilansir Al Jazeera, Brian Lacey, yang datang dari Spanyol untuk pertandingan tersebut bersama keluarganya, mengatakan, “Tim terbaik telah menunjukkan jati dirinya.”

“Ini seperti mimpi yang menjadi kenyataan. Ya, ini awal dari sebuah generasi. Ini adalah perubahan generasi karena Messi sudah selesai, dan sekarang saatnya Lamine Yamal.”

Ia mengatakan kemungkinan akan ada pengulangan, di Euro dan, mudah-mudahan, pada tahun 2030.

“Kita membutuhkan ini sebagai sebuah negara karena Spanyol memiliki banyak hal yang perlu diselesaikan.

“Tetapi dalam olahraga, di puncak dunia adalah sepak bola. Spanyol berada di puncak dunia, jadi kami senang. Kita perlu merayakannya. Jangan melihat masa lalu, jangan melihat masa depan. Lihatlah bahwa kita adalah juara dunia.” (di/Sumber: Al Jazeera)

Final Piala Dunia Argentina Vs Spanyol Terancam Asap Kebakaran Hutan Kanada, Apakah Stadion akan Pindah?

JAYAKARTA NEWS— Dampak kebakaran hutan Kanada meninggalkan kabut di atas Kota New York. Hal ini cukup mencemaskan mengingat babak final Piala Dunia Argentina vs Spanyol bakal digelar Minggu (19/7/2026) sore atau Senin (20/7) pukul 02.00 WIB.

Permasalahan ini sudah dibahas FIFA dengan Gedung Putih. Namun sejauh ini FIFA belum berencana memindahkan laga final Piala Dunia yang bakal digelar di Stadion MetLife (New York/New Jersey, Amerika Serikat).

Dikutip dari Daily Mail, Kamis lalu kualitas udara di New Jersey, lokasi stadion, dinilai ‘tidak sehat untuk kelompok sensitif’ oleh beberapa platform pengukuran kualitas udara.

Menurut Bloomberg, FIFA dan Andrew Giuliani – kepala Gugus Tugas Piala Dunia Gedung Putih – telah terlibat dalam diskusi informal tentang kebakaran hutan. Namun, tidak ada pertemuan formal yang dijadwalkan untuk kemungkinan memindahkan final.

Awal pekan ini, beberapa penggemar sepak bola disarankan untuk menjual tiket mereka untuk pertandingan tersebut, sementara para petinggi Piala Dunia menghadapi seruan untuk memperkenalkan lebih banyak waktu istirahat minum pada hari Minggu untuk menjaga keselamatan pemain.

“Kualitas udaranya tidak hanya akan sangat buruk. Cuacanya panas, dan itu dapat menyebabkan tekanan yang sangat besar pada jantung [bagi para pemain],” kata Dr. Vin Gupta, seorang ahli paru dan anggota dewan direksi di American Lung Association.

“Itu adalah pukulan ganda yang sangat kuat dan berbahaya bagi tubuh manusia. Sangat penting untuk menjaga suhu inti tubuh serendah mungkin.” (di/Sumber: Daily Mail)

Selebrasi Argentina Usai Kalahkan Inggris Bawa ‘Bencana’: Inggris Desak FIFA Lalukan Penyelidikan

JAYAKARTA NEWS— Tim Argentina kini dalam masalah serius setelah aksi mereka yang tanpa pikir Panjang membawa spanduk bertuliskan “Las Malvinas son Argentinas”  (Kepulauan Falkland adalah milik Argentina) ke lapangan, setelah mengalahkan Inggris 2-1 di Semifinal Piala Dunia.

Kabarnya, para pemain Argentina mengambil spanduk dari penggemar mereka dan membawanya ke lapangan.

Aksi para pemain Argentina sontak menuai kecaman, apalagi FIFA sendiri dalam aturannya jelas melarang symbol politik di bawa ke lapangan.

Inggris sendiri langsung bereaksi keras atas tingkah para pemain Argentina ini. Mereka mendesak FIFA untuk menyelidiki Argentina atas spanduk Piala Dunia terkait Kepulauan Falkland, dikutip dari Al Jazeera.

Foto: tangkap layar X Sky News

Sebagaimana diketahui, Inggris dan Argentina pernah terlibat perang singkat memperebutkan wilayah seberang laut Inggris pada tahun 1982.

Seorang menteri Inggris menyerukan agar FIFA menyelidiki kasus tersebut. Kantor Downing Street Perdana Menteri Keir Starmer mendukung seruan Menteri Bisnis Peter Kyle pada hari Kamis, sehari setelah semifinal.

Kyle menyebut pengibaran bendera itu sebagai “pelanggaran berat” terhadap aturan FIFA, yang melarang simbol politik di lapangan permainan.

“Piala Dunia mungkin bukan milik kita, tetapi Kepulauan Falkland jelas milik kita,” tegas juru bicara Downing Street.

Argentina menginvasi wilayah seberang laut Inggris di Atlantik Selatan pada tahun 1982.

Namun Inggris merebut kembali kepulauan itu dalam perang singkat setelah Perdana Menteri saat itu, Margaret Thatcher, mengirimkan pasukan angkatan laut.

Kyle mendesak badan pengatur sepak bola global untuk menyelidiki secara “menyeluruh” insiden spanduk setelah pertandingan hari Rabu di Atlanta, negara bagian Georgia, AS.

“Politik harus dipisahkan dari sepak bola. Bahkan, Piala Dunia memiliki salah satu prinsip utamanya bahwa politik terpisah dari sepak bola,” katanya kepada televisi BBC.

“Itu sekarang menjadi urusan FIFA. … Kami berharap FIFA melakukan penyelidikan atas hal ini,” tambahnya.

FIFA belum berkomentar tentang insiden tersebut.

Foto: tangkap layar X Sky News

Inggris menduduki Kepulauan Falkland pada abad ke-19, tetapi Argentina mengklaim pulau-pulau tersebut adalah bagian dari wilayahnya.

Wakil Presiden Argentina Victoria Villarruel meningkatkan ketegangan sebelum pertandingan hari Rabu dengan menyebut Inggris sebagai “bajak laut yang merebut kekuasaan”.

Konflik tahun 1982 berakhir dengan kematian 649 warga Argentina dan 255 warga Inggris.

Menlu Argentina Protes Keras

Setelah kemenangan semifinal Piala Dunia mereka, menteri luar negeri Argentina mengatakan Buenos Aires telah mengajukan protes resmi atas kapal perang Inggris di dekat Kepulauan Falkland.

Pablo Quirno memposting di X untuk menyatakan “penolakan paling keras” terhadap pelayaran HMS Medway milik Inggris yang “tanpa konsultasi dan ilegal” melalui perairan teritorial Argentina, dengan alasan kurangnya pemberitahuan yang semestinya.

Quirno mengatakan Medway, yang berbasis di Kepulauan Falkland, dituduh melanggar perjanjian bilateral dalam nota protes diplomatik tertanggal Senin dan diserahkan ke kedutaan Inggris di Buenos Aires. (di/Sumber: Al Jazeera)

Hancurkan Inggris, Messi Dkk Tantang Spanyol di Final

JAYAKARTA NEWS— Inggris menangis! The Three Lions yang bermimpi tinggi lolos ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 1966, pupus sudah. Argentina yang sempat tertinggal 0-1, berhasil membalikkan keadaan lewat Enzo Fernandez di menit ke-85 dan Lautaro Martinez pada menit ke-92.

Kini rintangan La Albiceleste dalam mempertahankan gelar Juara Dunia tinggal selangkah lagi. Di final, anak asuh Lionel Scaloni sudah ditunggu Spanyol yang sebelumnya menggunduli Prancis 2-0.

Argentina sudah tiga kali berhasil menjuarai Piala Dunia, 1978, 1986 dan 2022 di Qatar, dan kini tengah memburu gelar ke empatnya. Jika berhasil ‘Tim Putih-Biru’ ini bukan hanya menyamai rekor Jerman dan Italia empat kali juara dunia, tapi juga memberi Messi senyum bahagia menutup kiprahnya di Piala Dunia.

Bintang Argentina itu memacu timnya untuk melakukan comeback luar biasa di babak kedua, memberikan assist untuk kedua gol timnya saat mereka mengamankan kemenangan 2-1 atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 pada hari Rabu waktu setempat.

Kapten Harry Kane mengatakan kekecewaan Inggris sangat besar. “Sangat kecewa untuk para pemain, sangat kecewa untuk semua orang — tim, staf, para penggemar,” kata Kane.

“Kami memainkan pertandingan yang bagus hampir sepanjang waktu. Ketika kami unggul 1-0, kami tampaknya mencoba untuk bertahan, yang di level ini tidak cukup.

“Jadi, sangat kecewa karena kami telah bekerja sangat keras untuk berada di sini dan para pemain telah memberikan setiap tetes tenaga, darah, keringat, dan air mata,” ucap Kane.

Inggris masih akan berkiprah di Piala Dunia dalam perebutan tempat ketiga melawan Prancis.(di/Sumber: Al Jazeera)

Kandaskan Prancis 2-0 Spanyol Melaju ke Final, Pedro Porro: Tak Terbayangkan dalam Mimpi Terliar Saya!

JAYAKARTA NEWS— Mimpi Prancis melaju ke final akhirnya kandas secara tragis. Di hadapan 70 ribu lebih penonton, Les Bleus tidak berkutik melawan Spanyol. Trio penyerang Kylian Mbappé, Michael Olise, dan Ousmane Dembélé, melempem.

Spanyol justru merajalela sejak peluit pertama dibunyikan. Dengan ganas La Roja mencekik Prancis dengan 2-0. Dua gol disarangkan oleh Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro menghantar Spanyol melaju ke final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2010.

“Ini mimpi yang menjadi kenyataan. Tidak pernah terbayangkan dalam mimpi terliar saya sekalipun. Saya sangat senang dengan sikap tim, dari awal hingga akhir. Kami memainkan pertandingan yang hebat,” ujar Pedro Porro, pencetak gol Spanyol kepada Television Española setelah pertandingan, dilansir Al Jazeera.

Mikel Oyarzabal membuka kemenangan pertama Spanyol atas Prancis/Foto: Instagram FIFA World Cup

“Kami melakukan semua yang kami tahu perlu kami lakukan hari ini untuk lolos. Kami tahu mereka adalah tim yang sangat sulit untuk dihadapi, mereka bermain sangat baik hingga saat ini.

“Ini semua berkat tim; saya tidak bisa mengambil pujian. Saya hanya mengucapkan selamat kepada semua orang, karena mereka memainkan pertandingan yang hebat.

“Kami tahu bahwa untuk mendekati final, kami perlu menguasai bola. Kami tahu bahwa untuk melawan kekuatan mereka adalah kuncinya. Dan kami melakukannya. Jadi kami sangat senang.”

Penampilan Prancis Mengecewakan

Les Bleus kali ini benar-benar menerima pil pahit. Setelah melaju di babak gugur tanpa kebobolan satu gol pun, Les Bleus memasuki semifinal ini dengan penuh percaya diri. Namun mereka sama sekali tidak tampil maksimal, dengan sejumlah pemain bintang mereka kesulitan untuk masuk ke dalam permainan.

Lucas Digne bermain buruk sebagai bek kiri dan melakukan pelanggaran yang berujung penalti yang membawa Spanyol lolos. Prancis sempat mencoba membangkitkan semangat mereka untuk melakukan tetapi tidak ada kebangkitan seperti di final Qatar 2022 kali ini.

Siapa lawan Spanyol di final, masih menunggu pertandingan Argentina vs Inggris yang digelar Rabu, di Atlanta. Pertandingan ini akan menampilkan beberapa nama besar di dunia sepak bola, dengan Lionel Messi, Jude Bellingham, dan Harry Kane siap terlibat. (di/Sumber: Al Jazeera)

2.436 Atlet Bersaing di Kejurnas Sepatu Roda Jatim Open 1

MALANG, JAYAKARTA NEWS— Tidak kurang dari 2.436 atlet dari 133 tim berbagai provinsi di Indonesia mengikuti Kejurnas Sepatu Roda Jatim Open 1 memperebutkan Piala Gubernur Jatim 2026.

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melepas start Kejuaraan tersebut di Lapangan Sepatu Roda Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (11/7).

Pelepasan itu ditandai dengan penembakan electronic starting gun oleh Khofifah didampingi Bupati Malang Sanusi dan Ketua Umum PB Perserosi, Velix Wanggai.

Gubernur Khofifah mengatakan, setiap medali yang diraih seorang atlet hari ini sesungguhnya merupakan hasil dari proses panjang yang dijalani dengan disiplin, kerja keras, konsistensi, serta semangat pantang menyerah.

“Prestasi tidak lahir di garis finish, tetapi dibangun melalui proses panjang yang penuh disiplin, kerja keras, dan semangat pantang menyerah,” katanya.

Menurutnya, kejuaraan olahraga bukan sekadar menentukan siapa yang menjadi juara, tetapi juga menjadi ruang membangun karakter, menguji sportivitas, mengukur hasil pembinaan, sekaligus melahirkan bibit-bibit atlet berprestasi.

Kompetisi seperti Jatim Open dinilainya sebagai bagian penting dalam rantai pembinaan karena memberi ruang bagi atlet muda untuk mengasah kemampuan sekaligus menjadi ajang talent scouting menuju level yang lebih tinggi.

“Melalui kompetisi seperti inilah kita dapat menemukan talenta baru, mengukur hasil pembinaan, sekaligus mempersiapkan atlet untuk meraih prestasi di tingkat nasional maupun internasional,” ucapnya.

Selain kompetisi, Pemprov Jatim kata Khofifah, terus berkomitmen memperkuat ekosistem olahraga prestasi melalui pembinaan, pelatihan yang berkelanjutan, serta penyediaan fasilitas.

Komitmen tersebut, lanjutnya, telah membuahkan hasil. Pada PON XXI Tahun 2024, atlet sepatu roda Jawa Timur berhasil mempersembahkan dua medali emas dan satu medali perak.

Menurutnya, keberhasilan tersebut harus terus dijaga agar Jatim tidak hanya menjadi daerah yang mampu meraih prestasi, tetapi juga menjadi pemasok atlet nasional di berbagai cabang olahraga.

“Dengan kompetisi dan pembinaan yang konsisten, saya optimistis Jawa Timur akan semakin kokoh sebagai lumbung atlet nasional yang mampu melahirkan juara-juara untuk Indonesia,” tegasnya.

Selain mencetak prestasi olahraga, ia menilai pembinaan atlet juga menjadi investasi dalam membangun karakter generasi muda.

“Bulan ini merupakan Bulan Peringatan Hari Anti Narkoba. Selama ini  alhamdulillah dalam Puslatda di Jawa Timur tidak menemukan kasus-kasus penyalahgunaan narkoba. Menurut Gubernur  Khofifah , olahraga mampu menggerakkan sportivitas, membangun energi positif seluruh anak bangsa, sekaligus membentuk kedisiplinan dan karakter generasi muda,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Umum PB Perserosi Velix Wanggai memberikan apresiasi kepada Pemprov Jatim dan Pemerintah Kabupaten Malang atas penyelenggaraan kejuaraan yang dinilainya menjadi salah satu event sepatu roda terbesar di Indonesia.

“Terima kasih kepada Ibu Gubernur Jawa Timur dan Bapak Bupati Malang. Kejuaraan ini menjadi momentum penting yang mempertemukan lebih dari 2.400 atlet dari berbagai provinsi sekaligus menjadi ajang mengukur kemampuan atlet dari seluruh Indonesia,” katanya

Menurutnya, tingginya antusiasme peserta dari berbagai provinsi, dukungan fasilitas olahraga, serta pembinaan yang berlangsung secara berkelanjutan menjadi modal penting dalam mencetak atlet-atlet berdaya saing.

“Jawa Timur memiliki semua modal untuk menjadi lumbung atlet nasional. Fasilitasnya memadai, pembinaannya berjalan baik, kompetisinya rutin, dan prestasinya terus konsisten. Kejuaraan seperti Jatim Open ini akan semakin memperkuat lahirnya atlet-atlet nasional dari Jawa Timur,” pungkasnya.

Adapun juara-juaranya sebagai berikut: Pada kategori putri, medali emas diraih Yasmin asal Jawa Timur, perak diraih Disna dari Jawa Tengah, dan perunggu diraih Dinda dari Jawa Barat.

Yasmin dipersiapkan menjadi salah satu atlet yang akan memperkuat kontingen Jawa Timur pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) mendatang.

Sementara pada kategori putra, medali emas diraih Ataya dari Jawa Tengah, perak diraih Vasa dari Jawa Timur, dan perunggu diraih Viara dari Jawa Tengah.***poedji

Bola, Bendera, dan Kuasa: Piala Dunia 2026 sebagai Cermin Geopolitik Amerika

Oleh Heri Mulyono

Piala Dunia 2026 bukan sekadar pesta sepak bola terbesar sepanjang sejarah. Di balik 48 tim dan 104 laga, Amerika Serikat justru menghadapi uji geopolitik: mampukah ia membuka pintu dunia, atau gerbangnya justru tertutup bagi mereka yang ingin masuk?

Ketika Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 dengan 48 tim – rekor terbanyak dalam 104 tahun sejarah – dunia tidak hanya datang untuk menyaksikan gol, tetapi juga untuk menguji sejauh mana Amerika masih layak disebut pemimpin global. Di tengah retaknya kepercayaan pada kepemimpinan Washington, turnamen ini justru menjadi panggung yang memantulkan kontradiksi negeri itu sendiri: ingin merangkul dunia, tetapi takut kehilangan kendali atas pintu masuknya.

Panggung Raksasa, Sorotan yang Menusuk

Format tiga negara bukanlah inovasi teknis, melainkan peta kekuasaan. AS mengambil 78 dari 104 pertandingan, termasuk seluruh babak gugur. Meksiko dan Kanada hanya menjadi pelengkap. “Ini bukan kemitraan setara, ini hegemoni yang dibungkus sportivitas,” ujar Dr. Simon Rofe, pakar diplomasi olahraga dari Universitas Leeds. Distribusi ini mengingatkan pada tuan rumah bersama Korea-Jepang 2002, yang menurut Prof. Lindsay Sarah Krasnoff (NYU) justru menyisakan “campuran getir” karena sejarah panjang ketegangan kedua negara.

Namun menjadi tuan rumah utama berarti menjadi sasaran utama. Kebijakan visa AS yang ketat mencoreng semangat universalisme Piala Dunia. Wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan – yang baru saja dinobatkan sebagai wasit pria terbaik Afrika 2025 – ditolak masuk dengan alasan “terkait terorisme”, tanpa bukti publik. Delegasi Iran hanya diizinkan masuk sehari sebelum laga dan harus segera pergi. Federasi Sepak Bola Iran menyebutnya “penghinaan terhadap sepak bola” dan mengajukan protes ke FIFA.

Soft Power yang Retak

Joseph Nye, pencetus konsep soft power, pernah mengatakan bahwa daya tarik budaya Amerika – Hollywood, universitas, olahraga – adalah senjata paling ampuh tanpa tembakan. Namun Dr. Hendrik W. Ohnesorge (Universitas Bonn) mengingatkan: “Soft power hanya bekerja jika kebijakan luar negeri sejalan dengan nilai yang diproyeksikan.” Piala Dunia 2026 justru memperlihatkan soft power paradox: AS memiliki stadion megah dan hak siar global, tetapi kebijakan imigrasinya menggerogoti daya pikat dari dalam.

Laporan Brand Finance 2026 mencatat penurunan tajam soft power AS dalam setahun terakhir – lebih dalam dari negara mana pun. “Piala Dunia tidak akan menyelamatkan citra AS jika dunia melihat bagaimana ia memperlakukan tamunya,” kata Dr. Alex Dukalskis, penulis Authoritarianism and the Global Game. “Yang terjadi bukan sportswashing ala Rusia atau Qatar, melainkan policywashing yang gagal – megahnya acara justru menyoroti kecilnya hati kebijakan.”

Diplomasi di Tengah Perang Dagang

Turnamen ini berlangsung ketika AS, Kanada, dan Meksiko sedang terlibat perang tarif paling sengit dalam dekade terakhir. Presiden AS bahkan menyatakan tarif akan membuat Piala Dunia “lebih menarik” karena “ketegangan itu baik”. Pernyataan ini dikritik luas. “Olahraga seharusnya menjadi ruang netral,” ujar Dr. Alexander Cooley (Council on Foreign Relations). “Tapi kini negara tuan rumah justru memanaskan atmosfer sebelum bola bergulir.”

Hubungan istimewa antara Presiden FIFA Gianni Infantino dan pemerintahan AS juga menuai sorotan. Infantino sempat menganugerahi “FIFA Peace Prize” kepada presiden AS – langkah yang disebut Prof. Simon Chadwick (SKEMA Business School) sebagai “penghinaan terhadap integritas olahraga”. Ketika presiden AS menelepon Infantino untuk meminta peninjauan kartu merah pemain AS, banyak pihak menuduh intervensi politik. “Jika ini terjadi di Rusia atau Qatar, dunia akan berteriak,” kata Chadwick. “Tapi ketika Amerika melakukannya, mereka menyebutnya diplomasi.”

Multipolaritas dan Harapan dari Bawah

Kehadiran 48 tim – termasuk debutan seperti Tanjung Verde, Uzbekistan, dan Curaçao – memperluas representasi global. “Ini adalah Piala Dunia paling demokratis secara geografis,” kata Dr. Said Shehata, pakar hubungan internasional dari Universitas Qatar. “Namun demokrasi di lapangan tidak otomatis berarti demokrasi di gerbang imigrasi.”

Di sisi lain, diplomasi publik tumbuh organik di antara suporter. Jutaan penggemar dari berbagai benua berbaur di jalanan kota tuan rumah, berbagi makanan, lagu, dan pelukan. “Inilah kekuatan sesungguhnya Piala Dunia,” ujar Prof. Jules Boykoff, penulis Power Games. “Ia bekerja dari bawah, tanpa perlu campur tangan kementerian luar negeri. Sementara pemerintah menutup pintu, rakyat justru membukanya.”

Pelajaran bagi Indonesia dan Dunia

Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 adalah cermin pahit. Ambisi menjadi tuan rumah U-20 yang batal beberapa tahun lalu mengajarkan bahwa infrastruktur saja tidak cukup. “Dunia menonton bukan hanya stadion, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan tamu,” kata Dr. Rofe. “Konsistensi nilai lebih penting daripada kemegahan fisik.”

Pertaruhan yang Belum Usai

Ketika trofi emas diangkat di MetLife Stadium pada 19 Juli, AS akan mencatat sukses besar secara komersial. Namun pertaruhan geopolitik baru akan terlihat setelah lampu stadion padam: apakah Piala Dunia mampu mencairkan kebekuan diplomasi, ataukah ia hanya menjadi tontonan mahal yang cepat dilupakan?

Yang pasti, seperti ditulis Prof. Nye dalam esai terbarunya: “Di era fragmentasi, sepak bola tetap menjadi bahasa universal. Tapi bahasa hanya berarti jika kita bersedia mendengarkan – dan membuka pintu – bukan hanya untuk bola, tetapi juga untuk orang yang menendangnya.” (*)

Kylian Mbappe, Messi dan Haaland Siapa yang Bakal Berhasil Raih ‘Sepatu Emas 2026’?

JAYAKARTA NEWS— Kylian Mbappe, Lionel Messi dan Erling Haaland — sementara ini— berada di puncak peraih Gol Terbanyak. Ketiganya masing-masing telah mengoleksi 7 gol. Hanya saja kelebihan Mbappe saat ini adalah selain 7 gol ada 2 asis. Sementara Messi dan Haaland ‘Nol’ asis.  Di luar ketiga pemain tersebut ada Harry Kane yang telah mengoleksi 6 gol dan 1 asis.

Siapa yang bakal meraih ‘Sepatu Emas’?

Dalam sejarah turnamen sebelumnya, Lionel Messi belum pernah memenangkan trofi Sepatu Emas (Golden Boot) Piala Dunia. Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia hampir meraihnya namun berada di posisi runner-up dengan 7 gol, kalah jumlah assist dari Kylian Mbappé yang keluar sebagai peraih Sepatu Emas.

Sementara Erling Haaland yang kini tengah berkibar di Piala Dunia banyak dijagoan untuk meraih gelar bergengsi itu. Harry Kane pernah merasakan kejayaan meraih Sepatu Emas pada Piala Dunia 2018 di Rusia.

Foto: Instagram Kylian Mbappe

Tapi Mbappe ‘juara bertahan’, ia Peraih Gol Terbaik Piala Dunia 2022. Penampilannya yang luar biasa bersama timnya Prancis, membuat banyak orang meyakini dia bakal berhasil memperhankan gelarnya.

Mungkin dia masih akan menambah golnya pada perempat final nanti melawan Maroko. Meningkatnya optimis Mbappe setelah ia berhasil menyamai rekor Messi, saat Prancis mengalahkan Paraguay 1-0 pada babak 16 besar, dan melaju ke perempat final melawan Maroko.

Dikutip dari Al Jazeera, Prancis membutuhkan penalti Kylian Mbappe di babak kedua untuk menaklukkan tim Paraguay yang gigih, memenangkan pertandingan babak 16 besar Piala Dunia yang ketat dengan skor 1-0 untuk melaju ke perempat final melawan Maroko.

Upaya Paraguay untuk mengganggu permainan para superstar Prancis berhasil selama tiga perempat pertandingan yang dimainkan di hadapan 68.324 penonton di Philadelphia dalam kondisi cuaca panas pada hari Sabtu.

Namun, kualitas permainan Prancis akhirnya terlihat, dengan Mbappe mencetak gol dari titik penalti pada menit ke-70 setelah Desire Doue dilanggar.

Ini bukanlah penampilan menyerang yang gemilang dari Prancis seperti yang mereka tunjukkan di pertandingan sebelumnya, tetapi Paraguay tidak membiarkan mereka bermain seperti itu.

Foto: Instagram k.mbappe

Pertandingan itu sangat timpang, dengan Les Bleus menguasai hampir seluruh bola dan Paraguay tidak berhasil melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran hingga menit ke-90.

Penampilan gemilang Mbappe di Piala Dunia secara pribadi berlanjut saat ia kembali menyamai Lionel Messi sebagai pencetak gol terbanyak bersama di turnamen ini dengan tujuh gol.

Striker Real Madrid itu kini memiliki total 19 gol di Piala Dunia – dari 19 penampilan – yang berarti ia hanya terpaut satu gol dari rekor Messi yang berjumlah 20 gol.

Tim Didier Deschamps kini akan kembali ke markas mereka di Boston untuk mempersiapkan pertandingan perempat final di Foxborough, Kamis depan melawan Maroko, yang sebelumnya mengalahkan Kanada 3-0. (di/Sumber: Al Jazeera)

Soal FIFA Batalkan Sanksi Kartu Merah Balogun, Trump: ‘Saya tak Menyuruhnya Lakukan Apa pun’

JAYAKARTA NEWS— Akhirnya Presiden AS Donald Trump buka suara soal kasus kartu merah Folarin Balogun yang ‘dibatalkan sanksinya’ oleh FIFA dan mengizinkan pemain Amerika itu bertarung di babak 16 besar melawan Belgia, Selasa (7/7/2026) yang bakal digelar 07.00 WIB.

Dikutip dari New York Post, Trump terus terang mengakui dirinya pada Senin lalu telah meminta Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meninjau kartu merah striker AS Folarin Balogun, yang akan membuatnya absen dari pertandingan penting melawan Belgia — mengakui bahwa “Saya tidak berpikir itu pelanggaran.”

“Saya tidak menyuruhnya melakukan apa pun,” kata presiden kepada wartawan di Ruang Oval.

“Saya tidak bisa menyuruhnya melakukan apa pun, tetapi — dan saya tidak percaya dia yang membuat keputusan. Saya pikir itu adalah komite yang membuat keputusan, dan mereka membuat keputusan yang tepat — karena pertama, itu bukan pelanggaran, dan Anda ingin melihat pertandingan dengan pemain terbaik Anda.”

Presiden AS Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino/Foto: Instagram Gianni_infantino

Sebagaimana diketahui, FIFA mengejutkan dunia pada hari Minggu dengan mengumumkan bahwa larangan satu pertandingan Balogun, yang biasanya merupakan konsekuensi otomatis dari kartu merah apa pun, akan ditangguhkan hingga satu tahun.

“Saya meminta peninjauan ulang karena saya tidak berpikir itu pelanggaran, dan Anda tahu, sekali lagi, saya ahli dalam hal ini,” kata Trump. “Saya tidak berpikir itu pelanggaran. Saya pikir itu adalah dua atlet hebat yang bertabrakan dan saling terjerat.”

Sosok Folarin Balogun

Balogun, yang lahir di Brooklyn dan bermain secara profesional untuk AS Monaco di liga Prancis, diusir oleh wasit asal Brasil, Raphael Claus, pada babak kedua kemenangan AS 2-0 atas Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar pada 1 Juli.

“Jika Anda mengeluarkannya, saya pikir itu akan benar-benar menodai pertandingan luar biasa ini,” tambah presiden. “Kita harus memiliki pemain terbaik kita, dan mereka memiliki—Belgia memiliki tim yang hebat, omong-omong. Kita memiliki pemain terbaik kita, dan mereka juga harus memiliki yang terbaik.”

Penjelasan Komite Disiplin FIFA

Dikutip dari Al Jazeera, Ketua Komite Disiplin FIFA menjelaskan panjang lebar tentang pembatalan hukuman skorsing Folarin Balogun saat melawan Belgia.

FIFA mengatakan “penangguhan pelaksanaan hukuman diputuskan dengan mempertimbangkan semua keadaan khusus seputar insiden tersebut dan bukti yang tersedia.”

Mereka juga mengatakan bahwa “peninjauan konsekuensi hukum kartu merah dalam sepak bola bukanlah hal baru dalam permainan modern.”

Sebagai tanggapan atas klaim UEFA bahwa FIFA telah “melanggar batas” atas insiden tersebut, pernyataan itu berbunyi: “di sebagian besar liga papan atas yang tergabung dalam asosiasi anggota afiliasi UEFA – pembatalan kartu merah adalah tindakan disiplin yang umum, namun hal ini tidak pernah menimbulkan kekhawatiran tentang melanggar “batas” apa pun.” (di/Sumber: New York Post, Al Jazeera)

Ada Apa dengan FIFA? Balogun Kena Kartu Merah Tetap Bisa Main 16 Besar Usai Telpon Trump

JAYAKARTA NEWS— Kegemparan telah diciptakan FIFA pada Piala Dunia kali ini. Pemain yang terkena kartu merah tetap diizinkan bermain, suatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Keberuntungan ini terjadi pada Timnas Amerika yang akan berhadapan dengan Belgia pada Babak 16 besar, Selasa (7/7/2026).

Banyak yang mempertanyakan keputusan kontroversial FIFA yang dianggap sangat tidak ‘fair’ dan membela ‘tuan rumah AS’. Keputusan ini keluar setelah Presiden AS Donald Trump menelpon Presiden FIFA Gianni Infantino meminta agar meninjau ulang kartu merah Folarin Balogun. Mesin gol AS ini menerima kartu merah dalam pertandingan babak 32 besar melawan Bosnia dan Herzegovina pada hari Rabu lalu, diizinkan bermain di babak 16 besar melawan Belgia.

Tak lama kemudian badan sepak bola dunia itu mengumumkan bahwa mereka telah menangguhkan kartu merah tersebut. Keputusan ini sontak menimbulkan kegemparan, mengundang kritik dari berbagai penjuru. Keputusan yang ‘berbahaya’, seru para kritikus.

Mereka berpendapat bahwa pembatalan hukuman kartu merah setelah intervensi politik langsung merusak integritas turnamen dan menciptakan preseden yang berbahaya.

Balogun Injak Pergelangan Kaki Tarik Muharemovic

Untuk diketahui, Balogun, yang bermain untuk klub Monaco di Prancis, telah mencetak tiga gol untuk AS di Piala Dunia ini, dan merupakan pencetak gol terbanyak tim di turnamen tersebut.

Folarin Balogun menerima kartu merah dalam pertandingan babak 32 besar melawan Bosnia dan Herzegovina pada hari Rabu lalu, diizinkan bermain di babak 16 besar melawan Belgia, Selasa (7/7/2026)/Foto: Instagram balogun

Dikutip dari Al Jazeera, Balogun menerima kartu merah karena menginjak pergelangan kaki kanan Tarik Muharemovic dari Bosnia-Herzegovina dengan tidak tepat dalam kemenangan 2-0 AS di babak 32 besar pada hari Rabu, yang memicu hukuman skorsing satu pertandingan otomatis.

Pemain berusia 25 tahun itu dikeluarkan setelah tinjauan Video Assistant Referee (VAR), dengan pelatih AS Mauricio Pochettino mengatakan itu bukanlah pelanggaran kartu merah.

Para penggemar dan komentator terpecah pendapatnya tentang kartu merah awal: Sementara beberapa merasa itu dibenarkan, yang lain berpendapat bahwa Balogun kehilangan keseimbangan dan melakukan kontak yang tidak disengaja daripada menginjak dengan sengaja. Pada hari Jumat, Balogun mengatakan dia pikir kartu kuning alih-alih kartu merah “akan lebih adil”.

Pada akhirnya, Trump turun tangan atas namanya dan skorsing kartu merahnya dicabut dalam keputusan yang sekarang memungkinkannya untuk bermain dalam pertandingan Piala Dunia melawan Belgia pada hari Senin.

Suporter Tim Amerika Serikat /Foto: Instagram balogun

FIFA mengandalkan Pasal 27 dari peraturan komite disiplin untuk membatalkan larangan tersebut.

“Badan peradilan dapat memutuskan untuk menangguhkan sepenuhnya atau sebagian pelaksanaan tindakan disiplin,” bunyi peraturan tersebut. “Dengan menangguhkan pelaksanaan sanksi, badan peradilan mengenakan masa percobaan satu hingga empat tahun kepada orang yang dikenai sanksi.”

Federasi Sepak Bola AS tidak memberikan kesempatan kepada Balogun untuk memberikan komentar pada hari Minggu, tetapi pemain tersebut memposting foto dirinya di depan penggemar AS dan diiringi musik dari single pop Michael Jackson “Bad”, di media sosial. (di/Sumber: Al Jazeera)