Atlet yang Gagal Dapat Medali Kecipratan Bonus Rp20 Juta

Presiden Jokowi berfoto bersama Peraih Medali Asian Games 2018, di Istana Negara, Jakarta, Minggu (2/9–foto humas setkab

Ada yang berbeda dari biasanya dalam hal pembagian bonus bagi atlet. Kalau biasanya hanya yang meraih medali saja yang akan menerima bonus. Maka dalam perhalatan Asian Games kali ini, pemerintah juga memberi bonus pada atlet-atlet yang gagal meraih medali. Besarannya adalah Rp20 juta.  Hal tersebut disampaikan  Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi di Istana Negara Jakarta, Minggu(2/9), seusai menghadiri acara silaturahim Presiden Joko Widodo dengan para atlet dan pelatih nasional peraih medali pada Asian Games XVIII Tahun 2018 sekaligus penyerahan bonus secara simbolis kepada para atlet dan pelatih yang meraih medali.

Sebagaimana diketahui pemerintah mempercepat penyerahan pemberian bonus bagi peraih medali Asian Games XVIII tahun 2018. Bukan menunggu hajatan Asian Para Games 2018 atau bahkan pekan depan, tapi sehari sebelum penutupan Asian Games VIII bonus tersebut diserahkan langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Negara, Minggu (2/9) pagi. Bonus diserahkan oleh Presiden Jokowi kepada 9 (sembilan) orang perwakilan atlet peraih medali, yaitu 3 (tiga) orang mewakili peraih medali emas masing-masing: Eko Yuli Irawan (angkat besi), Puspa Harum Sari (pencak silat) dan Aris Susanti Rahayu (panjat tebing).

” Untuk Asian Games ini disiapkan kira-kira Rp210 miliar, itu sudah termasuk untuk non-medali. Itu untuk Asian Games, Asian Paragames lain lagi, semua sama, penyetaraan dan sudah dilakukan sejak beberapa tahun yang lalu,” tambah Imam sebagaimana dikutip dari lamat asiangames2018.id. Bonus itu sudah langsung dicairkan hari Minggu kepada para atlet serta pelatih dan asisten pelatih.

Presiden serahkan bonus kepada atlet di Istana Negara, Minggu (2/9). (Foto: Humas/Jay)

Bonus bagi peraih medali emas adalah sebesar Rp1,5 miliar secara penuh tanpa dipotong pajak. Untuk pasangan atau ganda, mendapatkan Rp1 miliar per orang dan Rp750 juta per orang untuk beregu.

Bagi peraih medali perak untuk tunggal mendapatkan Rp500 juta, ganda Rp400 juta, dan beregu Rp300 juta per orang sedangkan perebut medali perunggu, dihadiahi Rp250 juta, ganda Rp200 juta dan beregu Rp150 juta per atlet.

Untuk pelatih yang anak didiknya meraih medali emas mendapatkan Rp450 juta, perak Rp150, perunggu Rp75 juta. Asisten pelatih perorangan/ganda mendapatkan Rp300 juta untuk emas, Rp100 juta untuk perak, dan Rp50 juta untuk perunggu. Pelatih dan asisten pelatih dapat, mestinya cair hari ini, semua penerima per hari ini bisa melihat angkanya di buku tabungan. Ini bersejarah juga. Baru kali ini sepanjang pemberian bonus adalah yang tercepat,” jelas Imam.

Kemenpora juga menawarkan bagi para atlet untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

“Kalau PNS boleh untuk semua peraih medali, tapi mereka mau ambil atau tidak silahkan, nanti sore pukul 16.00 WIB saya ‘declare’, tapi memang PNS butuh penyesuaian misalnya (proses) prajabatan,” ungkap Imam.

Pengangkatan atlet yang menjadi PNS pertama-tama dilakukan di Kemenpora namun bila setahun kemudian mereka ingin berpindah ke kementerian lain atau daerah asalnyam,  dipersilahkan. “Meskipun mereka  PNS, atlet ini kerjanya bukan di bangku atau di ruangan. Kerjanya di lapangan, di pelatnas, latihan terus sehingga pemerintah menjamin bulanannya, menjamin masa depan,” tambah Imam.

Sedangkan mengenai bonus rumah bagi peraih medali emas menurut Imam masih belum final dibicarakan.

“Terus- terang saya belum final menyampaikan ini, saya harus bertemu sekali lagi dengan Pak Menteri PU (Basuki Hadimuljono) untuk mendetailkan karena harus ada peraturan menterinya seperti halnya bonus rumusannya detail sekali sampai angka terkecil dan diputuskan oleh menteri memberi tanda tangan. Untuk rumah sejauh ini kami belum membuat semacam peraturan menteri PU maksudnya. Kita tunggu Menteri PU,” ungkap Imam.

Acara itu juga dihadiri Ibu Iriana Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Chef de Mission (CdM) kontingen Asian Games Indonesia Syafruddin, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani serta pejabat terkait lainnya.

Para atlet yang hadir antara lain peraih medali emas Defia Rosmaniar (taekwondo), Lindswell Kwok (wushu), Hanifan Yudani (pencak silat), peraih perak Sri Wahyuni (angkat besi), peraih perunggu Bunga Imas (skateboard) dan Bambang Hartono (bridge).

Namun pemberian bonus itu tidak dihadiri oleh kontingen bulu tangkis termasuk peraih medali emas dari tunggal putra Jonathan Christie (Jojo) dan ganda putra Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Markus Fernaldi Gideon.

“Oh ya Jojo sudah berangkat tadi malam ke Jepang terbuka, yang mulai malam ini. Jadi tadi malam sudah terbang semua atlet bulutangkis,” kata Imam.***

 

Presiden Jokowi: Terima Kasih Pencak Silat

Tim pencak silat Indonesia meraup 14 dari total 16 medali emas yang disediakan di Asian Games 2018–foto istimewa

Keberhasilan tim pencak silat Indonesia meraup 14 dari total 16 medali emas yang disediakan di Asian Games 2018 mendapatkan apresiasi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).  Perolehan medali emas ini sekaligus membuat kontingen Indonesia mencatatkan hasil terbaik sepanjang mengikuti pesta olahraga terbesar di benua Asia.

“Pertama saya hadir di sini untuk mengucapkan terima kasih. Yang kedua juga ingin memberikan semangat kepada teman baik saya, sahabat saya, Pak Prabowo Subianto yang mengomandani. Beliau adalah Ketua IPSI,” ujar Presiden kepada wartawan usai penyerahan medali pencak silat di Padepokan Pencak Silat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (29/8).

Seperti diketahui, pencak silat menjadi cabang olahraga penyumbang medali emas terbanyak bagi Indonesia di Asian Games 2018 ini. Dengan 14 medali emas, Indonesia kini mantap bertengger di posisi keempat perolehan medali sementara dengan 30 medali emas, 22 medali perak, dan 35 medali perunggu. “Saya kira ini semua untuk Indonesia, untuk negara, untuk rakyat semuanya,” papar Presiden Jokowi.

Ketua Umum Pengurus Besar IPSI Prabowo Subianto mengucapkan rasa syukurnya atas capaian atlet-atlet pencak silat Indonesia. Ia pun mengapresiasi kehadiran Presiden, Wakil Presiden Jusuf Kalla, serta Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri yang mendukung langsung para atlet pencak silat berlaga. “Bayangkan semua hadir di sini, di saat-saat kritis, ini membangkitakn semangat untuk masyarakat pencak silat. Kita bangga bisa berperan, berbuat yang terbaik untuk bangsa,” cetus Prbowo.

Atas capaian prestasi para atlet ini, pemerintah pun sudah menyiapkan bonus. Bahkan Presiden Jokowi ingin agar bonus segera diberikan kepada para atlet sesegera mungkin.”Ini kita siapkan segera. Saya akan perintahkan malam ini agar kalau bisa, karena ini ada prosedur, kalau bisa sebelum keringat mengering bonus sudah diberikan,” papar Kepala Negara.

Satukan Perbedaan

Saat pertandingan final pencak silat nomor tarung kelas C 55-60 kilogram putra, pesilat Indonesia Hanifan Yudani Kusumah menang atas wakil Vietnam, Nguyen Thai Linh. Hanifan yang berselimutkan bendera Merah Putih langsung menghampiri tribun VVIP di mana Presiden dan para pejabat menyaksikan pertandingan.

Ia kemudian memegang tangan Presiden, menyatukannya dengan tangan Prabowo, lantas memeluk keduanya. Momen ini pun disambut riuh tepukan penonton yang memadati venue pencak silat. “Tadi dipeluk sama Hanifan tadi saya dengan Pak Prabowo. Enggak tahu kok diajak barengan tapi yang jelas bau, baunya menyengat, tapi baunya harum karena menang. Bau apapun karena menang harum semuanya,” ucap Presiden diiringi tawa yang lainnya.

Tentang momen pelukan, Prabowo mengatakan bahwa ia pun merasa senang karena semua satu keluarga. “Kalau sudah untuk negara dan bangsa kita semua bersatu tidak ada perbedaan,” katanya. (gun)

 

 

Jojo Ulang Sukses Tan Joe Hok Raih Medai Emas

 

JONATAN Christie sukses mengulang seniornya Tan Joe Hok (Hendra Kartanegara) yang berhasil mempersembahkan medali emas untuk kali pertama bagi Indonesia di gelaran di Asian Games 1962.

Jojo, sapaan akrab pebulutangkis ini, menyumbang medali emas ke-23 bagi kontingen Indonesia pada Asian Games Jakarta-Palembang 2018 ini.

Jonatan berhasil menundukkan finalis dari Taiwan, Chou Tienchen, dalam final yang digelar Selasa (28/8/2018) di di Istora Senayan, lewat rubber game.

 

Pada game pertama, kedua pebulutaingkis ini saling kejar-mengehar poin. Tapi, Jojo lebih unggul dan menyudahi game pertama dengan skor 21-18.

Memasuki game kedua, duel sengit tersaji. Tienchen  mengungguli Jojo di awal game kedua.

Meski demikian, Jojo terus menjaga fokus. Poin demi poin dikumpulkannya. Namun Tienchen mengakhiri interval game kedua dengan skor 11-8.

Pertandingan kian sengit, dan Jojo makin tertinggal. Namun, Jojo menunjukkan semangat pantang menyerah, sehingga  sempat mengejar poin Tienchen. Jojo sempat mengejar setelah tertinggal 15-20 hingga  skro 20-20. Game kedua ini akhirnya disudahi dengan skor  20-22 untuk Tienchen.

 

 

Dengan hasil tersebut, pertandingan pun harus diselesaikan dengan rubber set.  Pada game ketiga ini, Jojo berupaya menguasai permainan. Sempat unggul,  Tienchen masih berupaya mengejar poin yang dicapai Jojo. Hingga jeda interval game ketiga, Jojo sukses mengungguli Tienchen 11-7.

Jojo pun tancap gas dan menjauhi poin yang diraih  Tienchen, sehingga permainan cantik Tienchen semakin sulit berkembang. Game ketiga ini ditutup dengan  skor 21-15.***

Begini Komentar Menpora Setelah Raihan Medali Emas Lampaui Target

 

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, mengungkapkan kebahagiaannya setelah  raihan medali emas kontingen Indonesia melebihi target Asian Games 2018.

Para atlet yang berlaga di Asian Games ke-18 pada mulanya  ditarget 16 emas. Pada kenyataannya, hingga Senin  (27/8/2018), selaku tuan rumah Indonesia mampu mengumpulkan 22 medali  emas.

Tentu saja hasil  tersebut disambut dengan sukacita oleh  Imam. “Hari ini adem sekali, karena kami diberi nikmat luar biasa berupa medali yang diraih dari atlet-atlet,” ujarnya.

“Prestasi ini adalah pencapaian luar biasa. Totalitas para atlet harus diapresiasi,” katanya.

Sebagaimana dimaklumi,  bagi peraih medali emas perorangan pemerintah akan memberi  bonus Rp 1,5 miliar. Untuk  atlet yang berlaga di nomor ganda, masing-masing diberi Rp 1 miliar, sedangkan tim Rp 800-900 juta per personel.

Pada Asian Games  1962 yang berlangsung di Jakarta, saat  Indonesia menjadi tuan rumah untuk kali pertamanya, para atlet  meraih 11 emas.

Beberapa cabor masih berpeluang memberi tambahan medali emas bagi Indonesia, seperti bulutangkis, pencak silat dan cabor lainnya. ***

Presiden Jokowi Optimistis Target Asian Games 2018 Tercapai

Presiden Joko Widodo memberi keterangan kepada wartawan di halaman RSPAD seusai jenguk BJ Habibie, senin (27/8/2018)–foto istimewa

Dengan sisa waktu sekitar sepekan lagi, Presiden Joko Widodo optimistis target medali emas bagi Indonesia di ajang Asian Games 2018 bisa tercapai. Keyakinan tersebut didasari oleh banyaknya peluang bagi kontingen Indonesia untuk memperebutkan emas di beberapa ajang olahraga yang akan dipertandingkan dalam kurun waktu tersebut.

“Menurut saya target 16 emas yang sudah kita tentukan itu insyaallah terlampui,” kata Presiden di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, Senin, 27 Agustus 2018.

Secara khusus, Kepala Negara berharap Indonesia mampu mendulang banyak emas dari cabang pencak silat yang akan bertanding hari ini. “Hari ini silat, silat ini banyak (medali) nanti. Pencak silat saya kira tambang emas kita ada di situ,” ucapnya.

Di samping pencak silat, Presiden Joko Widodo juga memandang kontingen Indonesia masih berpeluang mendulang medali di banyak cabang olahraga lainnya. Di antaranya ialah bulu tangkis, karate, dan panjat tebing.

“Saya kira kita masih banyak peluang di beberapa cabang olahraga, tidak hanya silat saja. Bulu tangkis, karate, jetski, panjat tebing, atau kano masih ada peluang,” ujarnya.

Untuk diketahui, hingga berita ini ditulis, Indonesia berhasil mengumpulkan medali dengan rincian 14 emas, 13 perak, dan 25 perunggu. Torehan emas sejumlah tersebut menjadikan Indonesia melampaui pencapaiannya saat menjadi tuan rumah di 1962. Saat itu Indonesia meraih 11 emas, 12 perak, dan 28 perunggu.( Leste )

Tya Ariestya Tempuh Program Bayi Tabung Kedua

 

SETELAH sukses menjanali program bayi tabung pada 2016  lalu, Tya Ariestya yang ingin  menambah momongan, mencoba menempuh metode yang sama.

Untuk metode  In Vitro Fertilization (IVF), Tya  menjalani segenap proses dari cek kesehatan sampai mengatur pola makan. Menurut Tya,  mulai Agustus, ia dan padangannya  siap untuk melakukan program tersebut  dari nol.

“Sebenarnya aku lagi ngecek aja. Kondisi aku gimana, karena kan memang untuk hormon aku harus terus dipantau terus.  Insya Allah kalau nggak ada halangan,  Agustus ini  mau start program,” ujar Tya Ariestya. Tya yang juga karateka ini melakukan proses bayi tabung di Klinik Morula IVF Jakarta.

Untuk saat ini Tya sedang benar-benar menjaga kondisi tubuhnya. Tya pun harus menjalani serangkaian cek kesehatan dan prosedur lainnya. Tya sudah tak ingin memikirkan hal lain, seperti jenis kelamin anak kedua atau mungkin jarak anak kedua dengan anak pertama. Hal ini  karena Tya mengingat usianya.

“Aku udah nggak mikirin jarak umur yang diinginkan lagi. Karena ngejar target usia, untuk program sendiri semakin muda peluangnya semakin tinggi. Sementara sekarang aku udah masuk 32 tahun jadi kualitasnya dibandingkan dengan program bayi tabung pertama lebih di bawah dengan waktu itu. Presentasinya juga pasti menurun tapi yang pasti tetap usaha,” ucap Tya Ariestya lagi.

Tak dipungkiri bahwa Tya ingin punya anak perempuan, namun ia tetap menyerahkan semuanya pada Tuhan. Ia hanya berharap bahwa program kehamilan anak keduanya ini berjalan dengan lancar dan bayinya nanti dalam keadaan sehat. (pik)

Jojo Raih Tiket Final

Tekuk Kenta Nishimoto, Jonatan Christie ke Partai Puncak

TUNGGAL putra Indonesia membuka peluang meraih emas Asian Games 2018 setelah pebulutangkis  Jonatan Christie merebut tiket final cabang olahraga tersebut.

Jonatan yang akrab disapa dengan nama Jojo ini, sukses mengkandaskan  andalan Jepang Kenta Nishimoto melalui pertarungan rubber game pada pertandingan semifinal yang dilangsungkan di Istora Senayan, Jakarta, Senin (27/8/2018).

 

https://twitter.com/ZaeSimpson/status/1033968432394330112

 

 

Pada game atau set pertama,  Jojo  tampil percaya diri ketika menghadapi unggulan kedelapan asal Jepang itu.  Jojo menang mudah 21-15.

Sayang, Jonatan tak bisa menjaga konsistensinya di set kedua. Peraih emas SEA Games 2017 Kuala Lumpur itu bahkan sempat tertinggal 1-3. Memang, Jojo  sempat menyamakan skor 5-5, namun ia  tak mampu mengimbangi permainan Kenta.

Jonatan sempat tertinggal 6-10, namun dia mampu  mengejar 10-15. Setelah itu, Kento Nishimoto tak terbendung, dan Jonatan hanya mampu memperpendek jarak 11-18, sebelum menyerah 15-21.

Pada set penentuan,  Jonatan kembali menemukan permainan terbaiknya. Pertarungan berlangsung menegangkan. Dari posisi  10-11, kemudian  terjadi kejar mengejar angka 12-11, 12-12, lalu, 13-12, 13-13, 15-14, 19-19. Jonantan akhirnya menyudahi dengan kemenangan 21-19.

Kemenangan ini membuat Jonatan unggul head-tohead dengan atlet Jepang tersebut dari delapan pertemuan, Jojo menang 5 kali dan kalah 3 kali.

Partai final akan mempertemukan  Jonatan dengan pemenang  antara  Anthony Sinisuka Ginting (Indonesia) yang  menghadapi unggulan keempat Chou Tien Chen (China).***

Indonesia Sementara Kokoh di Peringkat 5 Asian Games

TAMBAHAN dua medali emas yang diperoleh pada Minggu (26/8/2018) memantapkan posisi Indonesia di peringkat ke lima klasemen sementara  Asian Games ke-18 Jakarta-Palembang.

Dua medali emas disumbangkan oleh atlet  dari cabang olahraga karate di nomor karate kumite 60 kg putra lewat Rifki Ardiansyah Arrosyiid dan atlet jetski, Aqsa Sutan Aswar, nomor endurance runabout open Asian Games 2018.

Karateka Indonesia lainnya, meraih  dua medali perunggu lewat Jintar Simanjuntak dan Cokorda Istri Agung Sanistyarani.

Untuk nomor atletik, induk segala cabang olah raga ini,  kontingen Merah Putih mendapat dua tambahan medali. Atlet Emilia Nova meraih  medali dari lari gawang 100 meter putri.

Medali lainnya, perunggu diperoleh Sapwaturrahman melalui nomor atlet lompat jauh.

Sejauh ini China  masih memuncaki klasemen perolehan medali dengan mendulang  78 emas, 59 perak, dan 37 perunggu.

Peringkat kedua diraih Jepang  dengan perolehan medali Asian Games dengan 40 emas, 34 perak, dan 37 perunggu.

Indonesia hingga Minggu (26/8/2018) mengumpulkan 12 emas, 13 perak, dan 25 perunggu. Indonesia masih berpotensi menambah medali lainnya, mengingat masih banyak atlet Indonesia yang masih bertanding di Asian Games 2018.***

 

Bravo Garuda Muda, Saatnya Bikin Sejarah!

 

HEBAT. Sekalipun sudah mengantongi tiket ke-16 besar, Timnas U-23 tampil trengginas, untuk menggulung Hongkong 3-1 setelah tertinggal 1 gol.

Penampilan Timnas Hongkong di babak pertama, sempat mengejutkan pelatihi Tmnas U-23 Indonesia, Luis Milla.

Stratrgi pelatih Hongkon yang mengganti beberapa nama yang sudah dipantau olehnya, di antra yang mengejutkan pelatih asal negreri matador itu.

https://twitter.com/papua_satu/status/1031540167977234433?s=20

Setelah masuk ruang ganti dan dipompa semangat oleh Mila, Gruda Muda memang tampil seperti kesetanan, sangat trengginas untuk meraih pon penuh mengalahkan Hongkong di Stadion Patriot, Senin (20/8/2028).

 

https://twitter.com/papua_satu/status/1031549048572895232?s=20

Dengan semangat proklamasi ya v pantang menyerah, walau sempat tertinggal di babak pertama, mereka akhirnya menang 3-1 di akhir laga.

Dengan kemenangan itu, maka skuad Luis Milla melaju ke babak 16 besar dengan status sebagai juara Grup A.

Garuda Muda Indonesia mengemas sembilan poin dari tiga laga. Unggul satu angka dari Palestina yang berada di tempat kedua.

“Hongkong sangat bagus, mereka punya strategi yang tak bisa ditebak. Mereka mengganti lima pemain buat pertandingan ini yang sudah kami analisis,” kata Milla usai laga yang disesaki suporter nasional Indonesia itu.

Beruntung, Evan Dimas dkk daoat bangkit di babak kedua. Skema yang dia rancang sukses diperagakandengan dengan baik oleh Hansamu Yama cs di lapangan.

“Mereka banyak menutup titik serangan kami. Tapi gol penyeimbang membuat kami semangat. Kami bisa bikin mereka kelelahan dan kemudian menguasai pertandingan,” katanya.

Bravo Garuda Muda. Saatnya kita membuat sejarah di negeri sendiri!***

 

Sumbang Perak, Lifter Sri Wahyuni Minta Maaf

Lifter putri Indonesia, Sri Wahyuni (Foto: INASGOG)

MERAIH medali perak dalam sukan Asian Games 2018, tidaklah buruk. Tapi, lifter putri Indonesia Sri Wahyuni yang turun pada kelas 48 kg  tetap meminta maaf,  karena gagal  mempersembahkan medali emas.

“Saya minta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia dan saya akan mencoba pada kesempatan yang lain,” kata lifter asal Lamoung itu,  Senin sore (20/8/2018).

Sri mengaku penasaran atas capaian pada Asian Games kali ini, dan bertekat untuk  mencobanya kembali pada Asian Games empat tahun kedepan.

Menteri Puan Maharani berfoto bersama dengan peraih medali lifter putri nomor 48 kg, berturut-turut atlet Korea Utara Ri Song Gum (emas), Sri Wahyuni (perak) dan atlet lifter Thailand Sukcharoen Thunya. (Foto: Inasgog)

Pada gelaran Asian Game 2018 ini, Sri Wahyuni harys mengakui keunggulan lifter asal Korea Utara, Ri Song Gum yang sukses dengan total angkatan 199 kg, sementara atlet nasional kita itu meraih total angkatan   195 kg atau empat kg di bawah Ri.

Lifter Korea Utara Ri Song Gum itu pada jenis angkatan snatch, angkatan terbaiknya seberat 87 kilogram. Pada kesempatan pertama ia berhasil mengangkat barbel seberat 85 kg dan angkatan ke dua 87 kg, namun gagal pada kesempatan ke tiga dengan berat angkatan 90 kg Pada jenis angkatan clean and jerk,dari tiga kali kesempatan mengangkat hanya pada kesempatan pertama berhasil yakni seberat 112 kilogram, dan pada dua kali kesempatan dengan berat 117 kg, semuanya gagal.

Untukjenis angkatan snatch lifter Indonesia Sri Wahyuni berhasil mengangkat barbel terberatnya yakni 88 kilogram. Dia pada kesempatan pertama berhasil mengangkat barbel seberat 85 kilogram dan pada angkatan kedua seberat 88 kg gagal, namun berhasil diangkat pada kesempatan ke tiga. Medali perunggu diraih  lifter Thailand, Sukcharoen Thunya dengan total angkatan 189 kg dari snatch seberat 87 kg dan clean and jerk seberat 102 kg.

Lifter Thailand, Sukcharoen Thunya angkatan terberatnya di snatch yakni 87 kg. Pada angkatan pertama sebarat 82 kg dan 85 kg di kesempatan kedua, serta berhasil mengangkat barbel di kesempatan ke tiga seberat 87 kg. Namun pada clean and jerk angkatan terbaiknya seberat 102 kg.

Lifter Indonesia lainnya yang turun pada kelas tersebut yakni Putri Yolanda pada dua kali mengangkat barbel jenis angkatan snatch seberatl 72 kg gagal, namun berhasil pada kesempatan ke tiga yakni dengan berat yang sama yaitu 72 kg dan clean and jerk 90 sehingga total angkatannya hanya 162 kg.

Lifter Sri Lanka Gomas BDH tidak bisa melanjutkan pertandingan karena pada angkatan snatch dengan berat 67 kg, tiga kesempatan mengangkat semuanya gagal, sehingga tidak dilanjutkan untuk jenis clean and jerk.***