Pemanfaatan Tol Fungsional Jateng dan DIY Jelang Lebaran 2026

Oleh Djoko Setijowarno              

Tantangan transportasi pada masa angkutan Lebaran selalu bertumpu pada kepadatan di jalur arteri dan titik pertemuan arus (bottleneck). Sebagai respons atas hal itu, pengoperasian jalur bebas hambatan baru menjadi krusial. Menjelang Lebaran 2026, pembukaan dua ruas tol fungsional di Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi DI Yogyakarta yang dikelola PT Jasa Marga diprediksi menjadi solusi untuk mengurai titik-titik kemacetan.

Ruas Tol Yogyakarta–Bawen: Seksi 6 (Bawen – Ambarawa)

Ruas jalan tol sepanjang 4,98 km ini dijadwalkan beroperasi secara fungsional mulai H-10 Lebaran 2026. Secara operasional, akan diterapkan sistem satu arah ( one way ) situasional bagi kendaraan Golongan I non-bus. Kehadiran jalur ini memungkinkan pemudik tujuan Magelang, Temanggung, dan Wonosobo untuk menghindari bottleneck di Exit Tol Bawen, sehingga distribusi arus lalu lintas menjadi lebih efisien.

Kehadiran ruas ini memberikan manfaat strategis dalam mengurai kepadatan di Simpang Bawen, yang selama ini menjadi titik temu utama arus kendaraan dari Semarang, Solo, dan Magelang. Dengan adanya akses keluar langsung melalui Gerbang Tol Ambarawa, pengendara dapat memangkas waktu tempuh secara signifikan karena terhindar dari hambatan samping di jalur arteri, seperti aktivitas Pasar Projo dan Terminal Bawen.

Selain demi kenyamanan berkendara, penataan ini bertujuan mencegah terulangnya kecelakaan fatal akibat truk ODOL (Over Dimension Overload)  yang sering mengalami rem blong atau hilang kendali di persimpangan lampu merah Bawen

Selain itu, kehadiran infrastruktur tol ini diproyeksikan dapat meningkatkan konektivitas menuju berbagai destinasi wisata unggulan di wilayah Ambarawa. Hal ini mencakup aksesibilitas yang lebih baik ke situs bersejarah seperti Museum Stasiun Ambarawa, Benteng Willem I, serta Monumen Palagan Ambarawa.

Ruas Tol Solo–Yogyakarta: Segmen Prambanan – Purwomartani

Segmen sepanjang 11,23 km ini dijadwalkan beroperasi secara fungsional mulai pertengahan Maret 2026. Fokus operasionalnya diarahkan untuk melayani arus mudik dan balik dari Solo, Jakarta, dan Surabaya menuju Yogyakarta maupun sebliknya.

Pembukaan ruas ini membawa dampak positif bagi kenyamanan berkendara, terutama dalam mengurangi beban jalan nasional secara signifikan. Dengan terpecahnya volume kendaraan di koridor Solo–Yogyakarta, titik-titik rawan kemacetan seperti di area Kalasan dan Prambanan kini dapat terurai dengan lebih efektif

Selain itu, optimalisasi konektivitas ke Tol Trans-Jawa akan mempercepat akses bagi warga Yogyakarta menuju jaringan tol utama tanpa harus melewati hambatan lampu lalu lintas di jalur arteri yang padat.

Meskipun magnet wisata dan kuliner Yogyakarta selalu menjadi daya tarik utama, potensi wisata di Kabupaten Klaten tidak boleh dilewatkan. Klaten menawarkan kombinasi unik antara kejernihan mata air alami (umbul), kekayaan seni, hingga keasrian budaya pedesaan. Wisatawan dapat mengeksplorasi destinasi ikonik seperti Umbul Ponggok, Desa Wisata Janti, hingga wisata sejarah di Desa Bugisan (Candi Plaosan). Bagi pecinta alam dan budaya, Desa Balerante di lereng Merapi serta edukasi tradisional di Desa Ngerangan (Kampung Dolanan) menjadi pelengkap perjalanan yang sempurna

Tak hanya kaya  wisata air, Kabupaten Klaten juga merupakan surga kuliner yang menawarkan perpaduan cita rasa legendaris dan konsep tempat makan unik. Wisatawan wajib mencicipi hidangan ikonik, seperti Sop Ayam Pak Min yang melegenda, gurihnya Nasi Tumpang Lethok, hingga Ayam Panggang Mbah Dinem dan Soto Bebek yang khas. Bagi yang mencari suasana modern, Klaten memiliki deretan tempat makan popular, seperti Ketjeh Resto dengan sensasi makan di atas air, Warung Apung Rowo Jombor yang syahdu, hingga Koito Resto yang kekinian.

Yang perlu Diperhatikan Melintasi Tol Fungsional

Menggunakan jalan tol yang berstatus fungsional memerlukan kewaspadaan ekstra karena kondisinya belum 100 persen sempurna, seperti tol operasional penuh. Tol fungsional hanya dibuka pada jam-jam tertentu (misalnya pukul 06.00 hingga 18.00 WIB) sesuai kebijakan diskresi kepolisian dan pengelola jalan tol demi alasan keamanan.

Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi pengendara. Pertama, kesiapan infrastruktur yang terbatas . Sebagian ruas mungkin masih berupa beton dasar ( lean concrete ) yang lebih berdebu atau belum dilapisi aspal halus. Hindari pengereman mendadak karena traksi ban mungkin tidak seoptimal di jalan tol biasa. Tol fungsional seringkali belum memiliki lampu penerangan jalan yang memadai. Sangat disarankan untuk melintas pada siang hari atau sebelum matahari terbenam.

Kedua, batas kecepatan maksimal. Disiplin kecepatan dengan mematuhi batas kecepatan yang ditentukan (maksimal 40 – 60 km/jam). Karena jalur yang sempit atau adanya penyempitan lajur di titik tertentu, memacu kendaraan terlalu kencang sangat berbahaya.

Ketiga, fasilitas pendukung belum lengkap . Rest area sementara, fasilitas seperti toilet dan tempat istirahat biasanya bersifat darurat/portabel dengan kapasitas terbatas. Belum tentu ada SPBU permanen, sehingga perlu memastikan bahan bakar terisi penuh sebelum memasuki jalur fungsional untuk menghindari mogok di tengah jalur yang minim akses keluar.

Keempat, ketersediaan rambu dan pembatas jalan. Memperhatikan rambu petunjuk dan pembatas jalan (seperti cone atau water barrier ). Karena pagar pengaman (guardrail) mungkin belum terpasang di seluruh sisi, tetaplah fokus pada lajur, terutama di area tikungan atau tepi jembatan.

Kelima, kondisi fisik pengendara dan kendaraan. Kesiapan kendaraan dengan memastikan ban, rem, dan mesin dalam kondisi prima. Karena akses bantuan (seperti mobil derek atau ambulans) mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai titik lokasi di jalur fungsional yang aksesnya masih terbatas.

Penutup

Keberadaan tol fungsional segmen Bawen–Ambarawa dan segmen Prambanan – Purwomartani, bukan sekadar soal memangkas waktu tempuh, melainkan upaya kolektif untuk menciptakan perjalanan yang lebih aman dan manusiawi. Kelancaran arus mudik Lebaran 2026 akan sangat bergantung pada sinergi antara kesiapan infrastruktur dan kedisiplinan para pengendara di lapangan.

Mari jadikan perjalanan pulang kampung tahun ini sebagai momentum untuk berkendara dengan selamat dan menikmati kekayaan potensi daerah yang kita lalui. ***

Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Sejarah Peradaban Persia dan Evolusinya: Dari Kejayaan Kuno hingga Krisis Geopolitik Saat Ini

Oleh : Heri Mulyono

Peradaban Persia, salah satu yang tertua di dunia, telah mengalami jatuh bangun kekaisaran, transisi agama, dan dinamika geopolitik hingga menjadi Iran modern saat ini, dengan situasi terkini semakin memanas setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Jejak Peradaban Masa Lalu

Iran merupakan rumah bagi peradaban yang berlanjut sejak milenium ke-5 SM, dengan pemukiman perkotaan di lembah sungai Karun dan dataran tinggi Iran. Bangsa Elam, Kassit, Gutian, dan Urartu merupakan beberapa kelompok awal yang membentuk fondasi peradaban di wilayah ini, dengan Elam menjadi salah satu kekuatan utama yang bersaing dengan Mesopotamia kuno.

Pada Abad Besi, kerajaan Media menyatukan wilayah Iran pada abad ke-7 SM, menjadi cikal bakal kesatuan politik Persia. Penelitian dalam Ancient Iranian Studies menunjukkan bahwa periode ini menyaksikan perkembangan sistem pemerintahan terpusat, teknologi pertanian, dan jaringan perdagangan yang menghubungkan wilayah Barat dan Timur.

Kebesaran Kekaisaran Persia

Kekaisaran Achaemenid, yang didirikan oleh Cyrus Agung pada tahun 550 SM, menjadi salah satu kekaisaran terluas dalam sejarah kuno, membentang dari Laut Tengah hingga Sungai Indus. Cyrus Agung dikenal dengan kebijakan toleransi agama dan pembebasan budak Yahudi dari Babilonia, yang tertuang dalam Cyrus Cylinder—dikenal sebagai salah satu dokumen awal tentang hak asasi manusia.

Pada masa pemerintahan Darius I (522–486 SM), kekaisaran mencapai puncak kejayaannya. Ia membangun sistem administrasi yang efisien, jaringan jalan raya seperti Royal Road, dan kota ibukota yang megah seperti Persepolis. Para sarjana seperti Dr. Lloyd Llewellyn-Jones dalam King and Court in Ancient Persia 559–331 BCE menjelaskan bahwa istana Achaemenid menjadi pusat budaya dan politik yang menghubungkan berbagai etnis dan budaya.

Kekaisaran Parthia (247 SM–224 M) dan Sasania (226–651 M) kemudian melanjutkan warisan Persia. Kekaisaran Sasania bersaing dengan Kekaisaran Romawi selama berabad-abad, dan menjadi pelopor dalam bidang ilmu pengetahuan, kedokteran, dan sastra. Pada masa ini, agama Zoroastrianisme menjadi agama resmi dan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat.

Jatuh Bangunnya Persia

Kekaisaran Achaemenid tumbang setelah ditaklukkan oleh Alexander Agung pada tahun 330 SM, yang membawa pengaruh budaya Yunani ke wilayah Persia. Setelah kematian Alexander, wilayah ini diperintah oleh Dinasti Seleukid sebelum munculnya kekaisaran Parthia.

Kekaisaran Sasania akhirnya tumbang pada abad ke-7 M akibat serangan Kekhalifahan Rashidun. Penaklukan Islam membawa perubahan besar dalam struktur politik dan budaya Persia, meskipun banyak elemen budaya lokal tetap bertahan. Selama abad pertengahan, Persia diperintah oleh berbagai dinasti seperti Samanid, Seljuk, dan Mongol, yang masing-masing memberikan kontribusi pada perkembangan peradaban Persia.

Pada abad ke-18 dan ke-19, Persia menghadapi tekanan dari Kekaisaran Rusia dan Inggris, yang berperang untuk menguasai wilayah ini. Dinasti Qajar (1781–1925) berusaha melakukan reformasi, namun seringkali terpengaruh oleh kepentingan luar negeri. Pada tahun 1925, Dinasti Pahlavi mengambil alih kekuasaan dan memulai proses modernisasi yang cepat.

Era Islam dan Transisi ke Iran Modern

Penaklukan Islam pada abad ke-7 M membawa perubahan agama yang mendalam, meskipun Persia tetap mempertahankan identitas budayanya yang khas. Selama masa Kekhalifahan Abbasiyah, Persia menjadi pusat pembangunan ilmu pengetahuan dan budaya Islam, dengan sarjana seperti al-Tabari dan Ibn Sina yang memberikan kontribusi besar pada sejarah, kedokteran, dan filsafat.

Pada abad ke-16, Dinasti Safawi (1501–1722) mengambil alih kekuasaan dan menetapkan Syiah sebagai agama resmi negara. Hal ini mengubah lanskap agama Iran secara permanen, dan menjadikan Iran sebagai pusat utama komunitas Syiah di dunia. Penelitian dalam artikel From Sunni to Shīʿah: Iran’s Sectarian Legacy menjelaskan bahwa proses ini melibatkan upaya untuk menyebarkan ajaran Syiah melalui pendidikan agama dan dukungan politik.

Pada abad ke-20, Iran mengalami perubahan besar dengan kedatangan Dinasti Pahlavi. Raja Reza Shah Pahlavi melakukan reformasi yang luas, termasuk modernisasi ekonomi, pendidikan, dan militer, serta penekanan pada identitas nasional Persia. Namun, kebijakannya yang otoriter dan pengaruh Amerika Serikat serta Inggris menyebabkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat. Pada tahun 1979, Revolusi Islam menggulingkan Dinasti Pahlavi dan membentuk Republik Islam Iran yang sekarang kita kenal.

Sejarah Syiah di Iran

Sebelum Dinasti Safawi, sebagian besar penduduk Iran menganut Sunni. Dinasti Safawi, yang berasal dari sebuah ordo Sufi Syiah, menetapkan Syiah sebagai agama resmi negara pada tahun 1501. Mereka mendirikan sekolah agama, mendukung ulama Syiah, dan melakukan kebijakan untuk mengubah keyakinan masyarakat.

Selama abad berikutnya, Syiah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas Iran. Ulama Syiah memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat, baik sebagai pemimpin agama maupun sebagai penasihat politik. Pada masa modern, peran ulama semakin meningkat, terutama setelah Revolusi Islam tahun 1979, yang membawa ulama seperti Ayatollah Khomeini menjadi pemimpin negara.

Pendapat Pakar tentang Persia hingga Iran Modern

Bernard Hourcade dalam artikel Iran, une puissance régionale sans expérience menyatakan bahwa Iran telah mengalami transformasi besar dari negara lemah pada awal abad ke-20 menjadi kekuatan regional yang diperhitungkan. Menurutnya, identitas Iran modern adalah hasil dari keseimbangan antara agama Islam, budaya Persia, dan pengaruh internasional.

Dr. Lloyd Llewellyn-Jones menekankan pentingnya memahami sejarah kuno Persia untuk memahami Iran saat ini. Ia berpendapat bahwa citra Persia kuno sebagai kekaisaran besar masih memengaruhi pandangan diri bangsa Iran dan hubungan mereka dengan negara lain.

Dalam analisis From Imperial Containment to Catastrophe: Why the US-Israeli Strategy Against Iran Collapsed, para penulis Bamo Nouri dan Inderjeet Parmar menyatakan bahwa strategi Amerika Serikat dan Israel untuk mengisolasi Iran dan menggulingkan rezimnya telah gagal. Sebaliknya, strategi ini telah memperkuat ketahanan Iran dan memperkuat posisinya di kawasan.

Dampak Konfrontasi Saat Ini dengan Amerika-Israel

Konfrontasi antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah berlangsung selama beberapa dekade, terutama sejak Revolusi Islam tahun 1979. Masalah utama termasuk program nuklir Iran, dukungan Iran terhadap kelompok yang dianggap sebagai teroris oleh Amerika Serikat dan Israel, serta perselisihan wilayah di kawasan Timur Tengah.

Pada 28 Februari 2026, Israel melakukan serangan terhadap instalasi nuklir Iran, diikuti oleh serangan militer langsung pertama dari Amerika Serikat terhadap wilayah Iran. Serangan ini menyebabkan kenaikan ketegangan geopolitik global dan menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan dunia. Menurut laporan dari Portal Tela, serangan ini juga mengakibatkan penarikan Iran dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan menimbulkan pertanyaan tentang kredibilitas perjanjian internasional.

Kondisi di Iran Pasca-Serangan

Ayatollah Ali Khamenei dinyatakan tewas dalam serangan tersebut, yang melumpuhkan jantung pemerintahan Iran. Serangan juga menargetkan infrastruktur energi seperti kilang minyak, menyebabkan kekurangan BBM dan antrean panjang di pom bensin di berbagai wilayah, termasuk Shahran. Hujan abu beracun akibat serangan juga menjadi masalah bagi masyarakat.

Iran segera melancarkan serangan balasan dengan rudal, menargetkan aset militer AS dan infrastruktur vital di negara-negara kawasan seperti Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, dan Bahrain. Selain itu, Iran menutup Selat Hormuz, jalur yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Dampak Regional

Negara dalam Status Siaga Tinggi:

  • Irak: Serangan di sekitar bandara Erbil meningkatkan kekhawatiran akan serangan milisi pro-Iran terhadap pasukan koalisi pimpinan AS, dengan risiko meningkatnya instabilitas domestik dan konflik sektarian.
  • Lebanon: Kelompok Hezbollah menghadapi dilema strategis apakah akan membalas atau menahan diri, menjadikan Lebanon sangat rentan.
  • Turki: Mewaspadai arus pengungsi dari Iran, potensi bangkitnya kelompok separatis Kurdi, serta krisis energi akibat gangguan suplai gas.
  • Negara yang Terdampak Serangan Langsung:
  • UEA: Beberapa titik strategis seperti bandara internasional Zayed (Abu Dhabi), bandara Dubai, pelabuhan Jebel Ali, dan kawasan Palm Jumeirah dilaporkan terdampak.
  • Qatar: Pangkalan udara al Udeid, basis militer terbesar AS di kawasan, menjadi sasaran rudal.
  • Bahrain: Sebagai lokasi Armada Kelima Angkatan Laut AS, memperketat keamanan dan menutup sejumlah fasilitas diplomatik.

Investasi bagi Gen Z: Emas, Saham atau Crypto?

JAYAKARTA NEWS – Investasi adalah penanaman modal atau uang dalam jangka panjang pada aset tertentu (saham, obligasi, emas, properti) untuk mendapatkan keuntungan di masa depan dan melawan inflasi.

Ini melibatkan risiko untuk memperoleh capital gain atau dividen, serta berbeda dengan menabung yang hanya menyimpan uang tanpa risiko.

Investasi saat ini sedang ramai dibicarakan oleh Generasi Z (Gen Z), berbagai macam jenis investasi mulai dipelajari dari reksadana, obligasi/surat berharga, deposito, saham, aset kripto (Cryptocurrency) hingga aset fisik seperti emas.

Dalam berinvestasi terdapat berbagai macam profil risiko yang harus dipahami, secara umum profil risiko terbagi menjadi tiga kategori yaitu profil risiko konservatif, moderat dan agresif.

Profil risiko konservatif preferensi investasi di mana seseorang lebih memilih keamanan modal dan stabilitas penghasilan dibandingkan dengan potensi pengembalian yang lebih tinggi, profil risiko ini cocok untuk investasi emas.

Profil risiko moderat sesua untuk investor yang memiliki toleransi terhadap risiko penurunan nilai investasi namun tetap mengharapkan keuntungan yang memadai seperti obligasi/surat berharga negara.

Profil risiko agresif preferensi investasi di mana seseorang siap mengambil risiko tinggi untuk mendapatkan potensi pengembalian yang lebih besar, profil risiko ini cocok untuk investasi saham dan aset kripto.

Saat ini bagi Gen Z investasi emas, saham serta crypto menjadi primadona dikarenakan memberikan hasil timbal balik yang menguntungkan, seperti emas sang logam mulia yang dapat dikategorikan investasi yang paling aman karena pergolakan harganya yang dapat dikatakan stabil.

Dengan harga Rp10.000 (Sepuluh Ribu Rupiah), para Gen Z ini sudah dapat memiliki emas dalam bentuk emas digital. Emas digital sangat praktis karena tidak perlu biaya titip fisik (brankas), namun pilihlah platform yang sudah berizin BAPPEBTI.

Namun bagi beberapa Gen Z, bermimpi memiliki bagian dalam perusahaan impian mereka. Mereka dapat memiliki bagian dalam perusahaan dengan cara “membeli” saham dari perusahaan tersebut.

Sebagai contoh jika seorang Gen Z ingin memiliki bagian dalam Bank BRI, dia dapat “membeli” saham Bank BRI dengan harga terbaru per hari Jumat tanggal 06 Maret 2026 di Rp3670 (Tiga Ribu Enam Ratus Tujuh Puluh Rupiah)/per lembar saham atau Rp367.000 (Tiga Ratus Enam Puluh Tujuh Ribu Rupiah)/ per 100 lembar saham. Dengan membeli saham tersebut maka kita akan mendapatkan hasil timbal balik berupa dividen yang akan diterima.

Tetapi ada juga generasi z ini yang memilih investasi dengan risiko tinggi, dimana pergerakan harga bisa terjadi sangat cepat. Invetasi dengan slogan “High Risk, High Return” ini digemari oleh beberapa generasi z yang ingin mendapatkan potensi keuntungan yang sangat besar dalam waktu singkat dimana pasar jual beli crypto ini selalu aktif selama 24 jam. Investasi dengan teknologi Blockchain ini serta kemudahan akses informasi global menjadi pemicu utama crypto sangat digemari.

Pemilihan investasi ini bergantung dengan profil risiko yang akan dijalankan.  Gen Z yang konservatif biasanya akan mengalokasikan lebih banyak ke emas, sementara mereka yang agresif dan mengejar kebebasan finansial lebih cepat cenderung berinvestasi di saham atau crypto. Jika ingin memilih ketiga instrument ini, lakukanlah diversifikasi investasi. Ingat jangan menaruh semua uang dalam satu instrument investasi saja.***

Penulis :
Resinalsal Hamonangan G
Mahasiswa Magister Akuntansi
Universitas Pamulang

Kalender “Sultan Agungan” dan Penentuan Hari Raya

Oleh Supriyadi S.Fil

Di tengah gema tasbih, tahmid, takbir, tahlil yang mulai menderu di surau-surau di masid-masjid, umat Islam di seluruh penjuru Nusantara kini tengah memasuki fase pertengahan ibadah puasa Ramadan. Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, sebuah pertanyaan klasik kembali menyeruak di ruang publik: “Kapan tepatnya Idul Fitri akan dirayakan?”

Perbedaan penetapan awal puasa (1 Ramadan) dan hari raya (1 Syawal) seolah menjadi dialektika tahunan. Di satu sisi, pemerintah menggunakan metode Imkanur Rukyat, sementara organisasi keagamaan lain menggunakan Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Namun, di tengah diskursus modern ini, terdapat sebuah sistem perhitungan kuno yang masih kokoh berdiri, sebuah mahakarya intelektual dari tanah Jawa: Kalender Sultan Agungan.

Sultan Agung: Sang Arsitek Harmoni

Sejarah mencatat bahwa perbedaan bukanlah hal baru. Pada era Kesultanan Mataram, Sultan Agung Hanyokrokusumo menyadari bahwa ketimpangan antara penanggalan Saka (Hindu-Jawa yang berbasis matahari) dan penanggalan Hijriah (Islam yang berbasis bulan) kerap menimbulkan kebingungan dalam ritual keagamaan dan administrasi negara.

Pada tahun 1633 Masehi (1555 Saka), Sultan Agung mengambil langkah revolusioner. Ia tidak menghapus penanggalan Saka, melainkan menyelaraskannya dengan sistem Lunar (Qamariyah) namun tetap mempertahankan elemen-elemen Solar (Syamsiyah) serta struktur sosial Jawa yang sudah ada. Inilah yang kita kenal sebagai Kalender Jawa. Sebuah jembatan yang menghubungkan syariat Islam dengan tradisi luhur lokal.

Kosmologi Jawa: Antara Sakala dan Niskala

Bagi masyarakat Jawa, waktu bukanlah sekadar deretan angka di atas kertas. Penentuan 1 Syawal adalah perjalanan spiritual untuk menyelaraskan diri dengan alam semesta. Dalam kosmologi Jawa, waktu terbagi menjadi dua dimensi : Sakala (temporal/duniawi) dan Niskala (non-temporal/spiritual).

Leluhur Jawa menjelaskan bahwa segala sesuatu yang bersifat sakala harus selalu berorientasi pada yang niskala. Waktu di dunia hanyalah persinggahan sementara, sedangkan keabadian berada di ranah niskala. Itulah sebabnya, doa-doa orang Jawa sering ditutup dengan kalimat “Hong Bhawana Langgeng”, sebuah harapan agar keselarasan alam semesta tetap abadi. Menentukan hari raya berarti menentukan titik temu antara usaha manusia (hitung-hitungan) dengan ketetapan Tuhan.

Rumus Matematika Langit: Kurup, Windu

Bagaimana orang Jawa menentukan waktu secara presisi tanpa alat canggih? Jawabannya terletak pada sistem matematika yang disebut Kurup. Kalender Jawa mengenal siklus Windu (delapan tahun). Setiap tahun dalam satu Windu memiliki nama huruf tertentu: Alip, Ehe, Jimawal, Je, Dal, Be, Wawu, dan Jimakir. Masing-masing tahun memiliki karakteristik jumlah hari yang berbeda (354 atau 355 hari).

Untuk menentukan awal bulan atau tahun baru, orang Jawa menggunakan rumus  Asapon (Alip-Selasa-Pon) tergantung pada pergeseran siklus 120 tahun sekali yang disebut Khamsiah. Dalam menentukan 1 Syawal, para tetua adat atau abdi dalem juru kunci akan menghitung berdasarkan Neptu (nilai angka) hari dan pasaran (Legi, Paing, Pon, Wage, Kliwon). Kombinasi antara siklus mingguan (7 hari) dan siklus pancawara (5 hari) menghasilkan siklus 35 hari yang disebut Selapan. Ketelitian ini memastikan bahwa perayaan besar tidak hanya tepat secara astronomis, tetapi juga selaras secara energi alam menurut kepercayaan setempat.

Adapun cara menentukan awal tahun dan 1 Sawal tahun 1959 J Adalah sebagai berikut:

Berdasarkan Kalender Aboge maka 1 Sawal jatuh pada Sabtu Pahing, 21 Maret 2026, sementara berdasarkan Kalender Asapon jatuh pada Jum’at Legi tanggal 20 Maret 2026. (Cara sederhananya : Hari awal tahun baru, sama dengan hari 1 sawal, sedang pasaranya jika pasaran tahun barunya Pon, maka pasaran 1 sawalnya Adalah wage).

Manfaat dan Relevansi di Dunia Modern

Mungkin muncul pertanyaan: di era GPS dan aplikasi astronomi, apa gunanya metode kuno ini? Metode ini adalah bukti bahwa Nusantara memiliki peradaban sains yang maju jauh sebelum intervensi teknologi Barat. Menggunakan kalender Jawa adalah bentuk penghormatan terhadap jati diri atau wujud dari ketahanan budaya dan identitas.

Meskipun berbasis bulan untuk ritual, kalender Jawa tetap menyimpan memori Pranata Mangsa (ketentuan musim). Ini membantu petani memahami kapan tanah harus diistirahatkan dan kapan benih harus disemai, sebuah kearifan yang sangat dibutuhkan di tengah isu perubahan iklim.

Perbedaan penetapan hari raya yang dihitung dengan metode Jawa biasanya diterima dengan sikap tepa selira. Bagi mereka, perbedaan adalah sunnatullah. Jika perhitungan internal menghasilkan hari yang berbeda dengan pemerintah, mereka tetap melaksanakannya dengan khidmat tanpa harus menciptakan konflik horizontal.

Implementasi Modern: Lebih dari Sekadar Ramalan

Di dunia modern yang serba cepat, implementasi kalender Jawa merambah ke aspek psikologi dan manajemen risiko. Banyak pengusaha atau keluarga di Jawa masih menggunakan Primbon (berbasis penanggalan Sultan Agungan) untuk menentukan waktu terbaik memulai usaha atau membangun rumah. Bukan sebagai klenik, melainkan sebagai bentuk manajemen waktu preventif dan upaya mencari momentum psikologis yang tepat (ngupaya hayuning bawana).

Secara teknis, digitalisasi kalender Jawa kini telah hadir dalam bentuk aplikasi, memudahkan generasi Z untuk tetap terhubung dengan akar budayanya. Penentuan Idul Fitri pun menjadi momen edukasi, di mana anak muda diajak melihat kembali bagaimana kakek-nenek mereka menghitung bulan dengan melihat bayangan matahari atau posisi bintang.

Menuju Idul Fitri yang Fitrah

Sesaat lagi, gema takbir akan berkumandang. Baik mereka yang mengikuti rukyatul hilal, hisab, maupun perhitungan kalender Sultan Agungan, semuanya bermuara pada satu titik: kemenangan melawan hawa nafsu.

Bagi orang Jawa, Idul Fitri adalah momen untuk kembali ke titik nol, kembali ke niskala. Dengan memahami waktu, kita memahami bahwa hidup adalah perputaran. Perbedaan hari raya tidaklah mereduksi nilai ibadah, justru ia memperkaya khazanah intelektual bangsa. Sebab, pada akhirnya, yang abadi bukanlah kapan kita merayakannya, melainkan seberapa dalam makna kesucian yang kita bawa kembali ke dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Menyelam Kedalaman “Hong Wilaheng”

Eko Hand

Hooooong …..

Satu kata diucap panjang dan biasanya diulang 3 x memiliki pemaknaan membawa pada kondisi meditatif yang mendalam. Hong tidak memiliki terjemahan baik dalam bahasa sekarang atau dalam bahasa kawi sekalipun. Hanya bagi para pejalan sunyi dan pelaku keheningan yang telah memiliki kepekaan batinlah yang bisa merasakan daya guna Hong. Dengan konsentrasi kesungguhan rasa, mendengungkannya.

Hong pertama adalah memberikan vibrasi keselarasan yang akan menghentikan hiruk pikuk alam kasunyatan (arcapada), menata kekacauan pikiran, kekacauan diri dan meredam kekacauan seluruh unsur alam kasunyatan menuju keselarasan.

Jika di suatu tempat baru yang sudah sangat lama tidak dikumandangkan Hong, tentu akan menimbulkan reaksi nyata, biasanya berupa tiba-tiba angin berdesir secara acak atau bisa juga berupa sesaat terjadi reaksi binatang merespon saling menyahut, tokek hutan, ayam, burung dan binatang-binatang lainnya merespon riuh sesaat kemudian diam dan hening. Dalam keheningan itulah gerbang jagat samar (dimensi gaib) terbuka.

Hong kedua berdaya guna untuk menata batin, Jagat Samar / alam gaib (Madyapada) untuk selaras pikiran, batin, Sukma, leluhur dan entitas samar (gaib) di seluruh alam raya. Bagi para pejalan sunyi yang terasah kepekaannya akan memahami konstelasi keselarasan pada jagat samar (gaib) ini begitu indah tertata.

Hong ketiga berdaya guna untuk keselarasan tiga jagat, jagat nyata (arcapada), jagat samar (madyapada) dan jagat maha samar (mayapada). Ketiga jagat saling terhubung dalam keselarasan. Sehingga seluruh alam raya pun terhubung dengan prosesi upacara (ritual) yang sedang berlangsung.

Wilaheng berakar pada makna fokus menggerakkan atau mendaya gunakan kekuatan alam semesta untuk kondisi selaras, tenang, hening, tertata, terukur dan tepat sasaran.

Awignam memiliki arti seluruh upacara (ritual) berjalan lancar dijauhkan dari halangan dan rintangan sekecil apa pun.

Astu bermakna segala permohonan akan terwujud, keinginan menjadi kasunyatan.

Namo (sembah/hormat)

Siddham (berhasil/tercapai).

Secara keseluruhan dapat dimaknai :

“Menata diri dan menyelaraskan diri memasuki ruang hening meditatif agar bisa terhubung dengan segenap ruang arcapada, ruang madyapada dan mayapada, “Diam yang membuka diri terhadap keterhubungan dengan alam raya dan seluruh unsur-unsur di dalamnya.”

Rahayu.

Makanan dan Minuman Rasulullah ﷺ Saat Berbuka dan Sahur

Oleh : Heri Mulyono

Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, meneladani pola makan Rasulullah bukan sekadar mengikuti sunnah, melainkan menemukan kearifan ilmiah yang terbukti menjaga kesehatan dan keberkahan hidup umat Islam.

Setiap muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadan pasti berhadapan dengan dua momen penting: berbuka dan sahur. Namun, tahukah kita bahwa Rasulullah ﷺ telah mewariskan panduan lengkap tentang apa yang seharusnya dikonsumsi pada kedua waktu itu? Bukan hanya tuntunan spiritual, tetapi juga panduan gizi yang kini diakui ilmu kedokteran modern.

Dari lembaran-lembaran hadis shahih, tergambar sosok Nabi Muhammad ﷺ sebagai pribadi yang hidup sederhana namun penuh keberkahan dalam urusan makan dan minum. Beliau tidak berlebihan, tidak memilih-milih, namun selalu memilih yang terbaik dan terberkahi. Inilah warisan kuliner spiritual yang tak ternilai.

✦ ✦ ✦

HIDANGAN BERBUKA: SUNNAH YANG MENYEHATKAN

1. Kurma: Buka Puasa Paling Utama

Kurma adalah makanan pertama yang dianjurkan Rasulullah ﷺ saat berbuka puasa. Anjuran ini bukan sekadar kebiasaan budaya Arab, melainkan didukung oleh nilai gizi yang luar biasa tinggi.

إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ صَائِمًا فَلْيُفْطِرْ عَلَى التَّمْرِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَعَلَى الْمَاءِ فَإِنَّهُ طَهُورٌ

Idzā kāna aḥadukum shā’iman falyufṭir ‘alā al-tamri, fa’in lam yajid fa’alā al-mā’i fa’innahu ṭahūr.

“Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka berbukalah dengan kurma. Jika tidak menemukan kurma, maka berbukalah dengan air, karena air itu menyucikan.”

— HR. Abu Dawud No. 2355, At-Tirmidzi No. 694 — Shahih

Kurma mengandung glukosa dan fruktosa alami yang langsung diserap tubuh, memulihkan energi secara cepat setelah belasan jam berpuasa. Penelitian modern membuktikan kurma juga kaya serat, kalium, magnesium, dan antioksidan flavonoid yang melindungi sel dari kerusakan.

Rasulullah ﷺ biasanya memakan kurma dalam jumlah ganjil: satu, tiga, atau tujuh butir. Tradisi bilangan ganjil ini mengandung hikmah yang dalam, karena mengajarkan kesederhanaan dan tidak berlebihan dalam makan.

2. Air Putih: Minuman Pembuka yang Suci

Jika kurma tidak tersedia, Rasulullah ﷺ memerintahkan umatnya untuk berbuka dengan air putih. Air adalah pemulih terbaik setelah tubuh mengalami dehidrasi ringan sepanjang hari berpuasa.

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ kadang berbuka dengan seteguk air sebelum shalat Maghrib, lalu setelah shalat barulah menyantap makanan. Pola ini memberikan jeda bagi organ pencernaan untuk mempersiapkan diri menerima makanan.

3. Ruthab: Kurma Muda yang Menyegarkan

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ

Kāna Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama yufṭiru ‘alā ruṭabātin qabla an yuṣalliya.

“Rasulullah ﷺ biasa berbuka puasa dengan ruthab (kurma muda) sebelum shalat. Jika tidak ada ruthab, maka dengan tamr (kurma kering). Jika tidak ada tamr, maka beberapa teguk air.”

— HR. Abu Dawud No. 2356 — Hasan

Ruthab adalah kurma yang belum sepenuhnya matang dan masih lunak. Kandungan airnya lebih tinggi dibanding kurma kering (tamr), sehingga sangat baik untuk mengatasi dehidrasi. Rasulullah ﷺ menunjukkan hierarki yang bijak: ruthab, lalu tamr, lalu air — sebuah panduan nutrisi yang sempurna.

4. Susu: Minuman Berbuka yang Disukai Rasulullah

Susu kambing dan susu unta adalah minuman yang disukai Rasulullah ﷺ. Beliau pernah menyebut susu sebagai salah satu minuman terbaik karena menggabungkan manfaat makanan dan minuman sekaligus.

مَا أَشْبَعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّبَنِ

Mā asyba’a Rasūlullāhi ṣallallāhu ‘alaihi wa sallama mina al-labani.

“Tidak pernah kenyang Rasulullah ﷺ dari minum susu — yakni beliau selalu menikmati susu dengan penuh syukur.”

— HR. Ibnu Majah — dari berbagai riwayat tentang minuman Nabi

✦ ✦ ✦

HIDANGAN SAHUR: ENERGI UNTUK BERIBADAH

1. Anjuran Sahur dan Keberkahannya

تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السَّحُورِ بَرَكَةً

Tasaḥḥarū fa’inna fī al-saḥūri barakatan.

“Makan sahurlah kalian, karena sesungguhnya dalam sahur itu terdapat keberkahan.”

— HR. Bukhari No. 1923, Muslim No. 1095 — Shahih

Hadis ini menegaskan bahwa sahur bukan sekadar urusan perut, melainkan ibadah yang mengandung keberkahan. Para ulama menjelaskan bahwa keberkahan sahur mencakup: kekuatan untuk beribadah sepanjang hari, kesehatan jasmani, dan mendapat shalawat dari Allah dan malaikat pada waktu sahur.

2. Kurma: Menu Sahur Terbaik

نِعْمَ سَحُورُ الْمُؤْمِنِ التَّمْرُ

Ni’ma saḥūru al-mu’mini al-tamru.

“Sebaik-baik sahur bagi orang mukmin adalah kurma.”

— HR. Abu Dawud No. 2345, Ibnu Hibban — Shahih

Kurma kembali menjadi pilihan utama, kali ini untuk sahur. Secara ilmiah, kurma memiliki indeks glikemik yang moderat — artinya gula darah naik perlahan dan stabil, memberikan energi tahan lama sepanjang hari puasa. Ini jauh lebih unggul dibanding makanan bergula tinggi yang menyebabkan lonjakan lalu kejatuhan energi secara drastis.

3. Talbinah: Bubur Gandum Rasulullah

Talbinah adalah salah satu makanan sahur yang paling dianjurkan dalam hadis dan memiliki nilai gizi yang kini dibuktikan sains modern. Kata ‘talbinah’ berasal dari ‘laban’ (susu), karena teksturnya yang lembut dan warnanya yang putih menyerupai susu.

عَلَيْكُمْ بِالتَّلْبِينَةِ فَإِنَّهَا مُجِمَّةٌ لِفُؤَادِ الْمَرِيضِ، تُذْهِبُ بَعْضَ الْحُزْنِ

‘Alaykum bi al-talbinati fa’innahā mujimmatan li fu’ādi al-marīḍi, tudzhibu ba’ḍa al-ḥuzni.

“Hendaklah kalian mengonsumsi talbinah, karena ia menyegarkan hati orang yang sakit dan menghilangkan sebagian kesedihan.”

— HR. Bukhari No. 5417, Muslim No. 2216 — Shahih


🌾 CARA MEMBUAT TALBINAH (Bubur Gandum Rasulullah ﷺ)
📋 Bahan-bahan:
   • 3 sendok makan tepung gandum utuh (whole wheat flour)
   • 250 ml susu murni (sapi atau kambing)
   • 250 ml air
   • 1 sendok makan madu asli
   • Kurma secukupnya untuk pelengkap
 
🍳 Cara Membuat:
   1. Campurkan tepung gandum dengan air dingin, aduk rata hingga tidak bergerindil.
   2. Masak di atas api sedang sambil terus diaduk agar tidak menggumpal.
   3. Setelah mulai mengental, tuangkan susu murni perlahan sambil terus diaduk.
   4. Masak selama 10-15 menit dengan api kecil hingga menjadi bubur lembut.
   5. Angkat dari api, biarkan sedikit dingin, lalu teteskan madu asli.
   6. Sajikan hangat dengan potongan kurma di atasnya.
 
💡 Khasiat Modern: Talbinah kaya beta-glucan yang menurunkan kolesterol,
   serat larut yang menstabilkan gula darah, dan tryptophan yang
   meningkatkan serotonin (hormon kebahagiaan).

4. Habbatus Sauda (Jintan Hitam): Obat Segala Penyakit

إِنَّ هَذِهِ الْحَبَّةَ السَّوْدَاءَ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلَّا السَّامَ

Inna hādzihi al-ḥabbata al-sawdā’a syifā’un min kulli dā’in illā al-sāma.

“Sesungguhnya habbatus sauda ini adalah obat dari segala penyakit, kecuali kematian.”

— HR. Bukhari No. 5688, Muslim No. 2215 — Shahih

Habbatus sauda atau jintan hitam (Nigella sativa) kini telah diteliti secara ekstensif oleh para ilmuwan. Kandungan thymoquinone-nya terbukti memiliki efek antiinflamasi, antikanker, dan imunomodulator. Mengonsumsinya saat sahur — dicampur madu atau ditelan langsung — memberikan perlindungan imun sepanjang hari.

🖤 CARA MENGONSUMSI HABBATUS SAUDA SAAT SAHUR
Cara 1 (Paling Mudah):
   • Telan 7 biji jintan hitam dengan segelas air hangat
   • Lakukan sebelum makan sahur lainnya
 
Cara 2 (Campuran Madu):
   • 1 sendok teh biji jintan hitam yang telah ditumbuk halus
   • 1 sendok makan madu asli
   • Aduk rata, konsumsi langsung
 
Cara 3 (Minyak Jintan Hitam):
   • 1/2 sendok teh minyak habbatus sauda
   • Campur dalam segelas susu hangat
   • Minum sebelum atau sesudah sahur

5. Madu: Minuman Kesehatan dari Surga

وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ… يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ

Wa awḥā rabbuka ilā al-naḥli… yakhruju min buṭūnihā syarābun mukhtalifun alwānuhu fīhi syifā’un li al-nāsi.

“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah… keluarlah dari perutnya minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.”

— QS. An-Nahl: 68-69

Rasulullah ﷺ sangat menyukai madu dan menganjurkannya sebagai minuman sahur maupun berbuka. Beliau biasa meminum air madu (madu dicampur air) sebagai minuman pagi hari. Madu mengandung lebih dari 200 senyawa aktif termasuk enzim, asam amino, mineral, dan antioksidan polyphenol.

🍯 MINUMAN MADU RASULULLAH (Air Madu Murni)
Bahan:
   • 1-2 sendok makan madu asli (lebih baik madu Sidr atau Tualang)
   • 200 ml air hangat (bukan air mendidih — suhu max 40°C)
   • Opsional: perasan setengah lemon
 
Cara Membuat:
   1. Pastikan air hangat, bukan panas (air mendidih merusak enzim madu).
   2. Larutkan madu dalam air hangat, aduk perlahan.
   3. Tambahkan perasan lemon jika diinginkan.
   4. Minum saat sahur, diutamakan sebelum makan.
 
⚠️  Jangan gunakan air mendidih — akan merusak kandungan enzim dan antioksidan madu.

✦ ✦ ✦

HIKMAH DAN PELAJARAN

Menelaah makanan dan minuman Rasulullah ﷺ saat berbuka dan sahur mengajarkan kita tiga prinsip agung yang saling melengkapi.

Pertama, kesederhanaan adalah kunci. Rasulullah ﷺ tidak pernah memerintahkan hidangan mewah atau berlebihan. Kurma, air, susu, bubur gandum — semuanya adalah makanan rakyat biasa yang mudah didapat dan terjangkau. Ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak terletak pada kemewahan, tetapi pada keikhlasan dan keteladanan.

Kedua, kesehatan adalah ibadah. Setiap makanan yang dianjurkan Rasulullah ﷺ kini terbukti secara ilmiah memiliki nilai gizi tinggi. Ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang memuliakan tubuh manusia. Menjaga kesehatan dengan meneladani pola makan Nabi adalah bentuk syukur atas nikmat jasmani yang Allah berikan.

Ketiga, niat adalah ruh dari setiap suapan. Ketika seorang Muslim memakan kurma saat berbuka dengan niat mengikuti sunnah, maka ia mendapat pahala ibadah. Inilah keindahan Islam — bahkan kegiatan makan pun bisa menjadi ladang pahala yang tak terbatas jika diniatkan karena Allah dan diteladankan dari Rasul-Nya ﷺ.

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

Kullu ‘amali ibni Ādama lahu illā al-ṣiyāma fa’innahu lī wa anā ajzī bihi.

“Setiap amal perbuatan anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa — sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

— HR. Bukhari No. 1904, Muslim No. 1151 — Shahih (Hadis Qudsi)

Semoga kita dapat meneladani Rasulullah ﷺ dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam apa yang kita santap saat berbuka dan sahur. Karena dalam setiap sunnah yang kita ikuti, tersimpan keberkahan yang tak ternilai dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

● Referensi: HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban | QS. An-Nahl: 68-69 ●

Kupas Ketupat Lontong

Gde Mahesa

Sebenarnya tidak perlu nunggu Lebaran atau momentum Idul Fitri, yang namanya kupat atau ketupat lontong bisa kita temukan dalam kuliner keseharian. Akan tetapi, dengan momen lebaran, kedua jenis makanan tersebut jadi tambah populer.

Ihwal arti kupat tentu Jayakarters sudah tahu. Namun sejenak kita kulik asal muasalnya kok bisa menjadi branding lebaran, khususnya di Indonesia.

Ketupat dan lontong bukan sekadar makanan pendamping opor saat Lebaran, namun telah menjadi simbol budaya yang sarat akan nilai spiritual, sejarah, dan filosofi mendalam, khususnya di tanah Jawa. Keduanya memiliki “misteri” atau makna tersembunyi dalam anyaman dan pembungkusnya.

Dalam budaya Jawa, ketupat atau kupat merupakan kependekan dari Ngaku Lepat dan Laku Papat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan.

Sedangkan nama “lontong” kerap diartikan sebagai singkatan dari “olone dadi kothong”, yang bermakna “kejelekannya telah hilang”.

Kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan semangat bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri, di mana umat muslim saling bermaafan.

Lontong dan ketupat, dua jenis makanan khas Indonesia, memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan penyebaran Islam di Jawa. Dalam catatan sejarah, Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo, dianggap sebagai orang pertama yang memperkenalkan ketupat dan lontong kepada masyarakat Jawa sebagai bagian dari dakwahnya.

Sunan Kalijaga membaurkan budaya Jawa/Hindu-Buddha (yang sebelumnya menganggap ketupat sebagai hal yang sakral) dengan nilai-nilai Islam.

Konon ketupat atau kupat merupakan simbol perayaan hari raya Islam pada masa pemerintahan Kesultanan Demak pimpinan Raden Fatah awal abad ke-15. Bentuknya yang persegi empat bermakna “kiblat papat lima pancer,” sebagai keseimbangan alam yakni 4 arah mata angin yang bertumpu pada satu pusat.

Dikutip dari buku Makna Ketupat dalam Upacara Telung Bulan di Denpasar karya Ni Made Yuliani dan I Ketut Wardana Yasa (2020), ketupat telah diperkenalkan sejak jaman Hindu-Buddha.

Penyebutan kupat, akupat, dan kupat-kupatan tercantum dalam Kakawin Kresnayana, Kakawin Subadra Wiwaha, dan Kidung Sri Tanjung. Sebagai negeri agraris pada jaman Hindu-Buddha, ketupat merupakan bagian dari bentuk pemujaan terhadap Dewi Sri, yang merupakan dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat agraris salah satunya di Nusantara.

Dalam perjalanan waktu, terjadilah desakralisasi dan demitologisasi yang mana Dewi Sri tidak lagi dipuja sebagai dewi kesuburan dan pertanian tetapi hanya sebagai lambang dengan dipresentasikan dalam bentuk ketupat. Hingga akhirnya ketupat merupakan perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Pada era selanjutnya yakni era Kerajaan Demak ‘Kupat’ memiliki definisi arti dalam bahasa Jawa, yaitu ngaku lepat yang berarti ‘mengakui kesalahan’ atau laku papat (4 perilaku) yang juga melambangkan 4 sisi dari kupat, yaitu lebaran (pintu maaf), luberan (berlimpah), leburan (saling memaafkan), dan laburan (dari kata Labur; putih, yang berarti ‘bersih dari dosa-dosa’).

Lalu, mengapa kemudian ada lontong?

Menyadari bahwa tak semua daerah bisa dengan mudah memperoleh bahan baku ketupat. Dalam hal ini daun kelapa muda atau janur yang hanya tumbuh di wilayah pesisir. Akhirnya, sang pendakwah yang bernama asli Raden Mas Syahid itu pun mengkreasikan ketupat dengan pembungkus yang lebih mudah ditemukan di manapun.

Ketupat dalam sesaji, khususnya tradisi Jawa, di mana anyaman rumit janur melambangkan kompleksitas dosa manusia, sementara nasi putih di dalamnya melambangkan kesucian hati.
Ketupat juga menjadi simbol penolak bala, harapan kemakmuran, dan penghormatan kepada leluhur. 

Sedangkan lontong dalam sesaji Jawa maupun tradisi kuliner Nusantara memiliki makna simbolis yang mendalam, tidak sekadar sebagai makanan pendamping. Secara umum, lontong melambangkan kesederhanaan, keharmonisan, dan doa kepada Tuhan. 

Bullllll….. bullllll…. klepussss…..

Rencana Penanganan 135 Perlintasan Sebidang di Jawa dan Sumatera

Oleh Djoko Setijowarno

Penanganan perlintasan sebidang bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan investasi untuk menghentikan kematian sia-sia di jalan raya dan menjaga aset negara agar tidak cepat rusak akibat beban ekstrem.

Berdasarkan dokumen Rencana Umum Penanganan Perlintasan Sebidang Jalur Kereta Api dengan Jalan Nasional tahun 2023, tercatat sebanyak 184 titik persimpangan sebidang yang menjadi perhatian serius pemerintah. Hingga akhir tahun 2023, upaya penanganan telah berhasil diselesaikan pada 48 titik, sehingga menyisakan tantangan berupa 136 titik yang harus segera ditindaklanjuti.

Dari jumlah sisa tersebut, 135 titik dikategorikan belum tertangani dengan sebaran 51 titik di Pulau Sumatera dan 84 titik di Pulau Jawa. Sementara itu, satu titik krusial telah ditangani pada tahun 2025 melalui pembangunan flyover di Jalan Jenderal Sudirman, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Dalam kurun waktu empat belas tahun ke depan, tepatnya pada periode 2025 hingga 2039, Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum telah menetapkan target ambisius untuk menangani 135 titik Jalur Perlintasan Langsung (JPL) yang tersebar di wilayah Sumatera dan Jawa.

Penanganan di Pulau Sumatera akan difokuskan pada tiga provinsi utama, yakni Prov. Sumatera Utara dengan 27 titik, Prov. Sumatera Selatan sebanyak 17 titik, serta 7 titik di Prov. Sumatera Barat. Sementara itu, percepatan pembangunan di Pulau Jawa mencakup sebaran yang cukup luas, mulai dari 8 titik di Provinsi Banten, 13 titik di Jawa Barat, 16 titik di Jawa Tengah, hingga porsi terbesar yang mencapai 47 titik di wilayah Jawa Timur.

Merujuk pada Rencana Umum Penanganan Perlintasan Sebidang Jalur Kereta Api dengan Jalan Nasional tahun 2023, pemerintah telah memproyeksikan penanganan 39 titik JPL untuk periode lima tahun pertama (2025–2029). Target tersebut didukung oleh alokasi anggaran yang signifikan di berbagai wilayah.

Provinsi Banten menerima alokasi sebesar Rp 1.275,8 miliar untuk penanganan 6 titik, disusul Provinsi Jawa Timur dengan 10 titik senilai Rp 892,4 miliar, dan  Jawa Barat sebesar Rp 852,3 miliar untuk 9 titik. Sementara itu, untuk wilayah Provinsi Jawa Tengah telah disiapkan dana Rp 708 miliar bagi 6 titik, diikuti oleh sebaran di Pulau Sumatera yang mencakup 4 titik di Provinsi Sumatera Utara senilai Rp 452,7 miliar, 1 titik di Sumatera Barat sebesar Rp 445 miliar, serta 3 titik di Sumatera Selatan dengan total anggaran Rp376,2 miliar.

Dalam Rencana Strategis 2025 -2029 direncanakan 30 JPL, ada gap 9 JPL belum ditangani. Di Prov. Sumatera Utara 3 JPL, Sumatera Barat 1 JPL, Sumatera Selatan 3 JPL, Prov. Banten 5 JPL, Jawa Barat 5 JPL, Jawa Tengah 5 JPL dan  Jawa Timur 7 JPL. Dimulai tahun 2025,  1 kegiatan di Prov. Sumatera Selatan, tahun 2027 dua kegiatan di  Sumatera Selatan, tahun 2027 ada 8 kegiatan di Prov. Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur dan  Sumatera Barat. Selanjutnya tahun 2028 19 kegiatan di Prov. Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Sumatera Barat.

Meskipun target dalam Rencana Umum cukup ambisius, dokumen Rencana Strategis 2025–2029 saat ini baru memproyeksikan penanganan untuk 30 titik JPL, sehingga masih terdapat celah atau gap sebanyak 9 titik yang belum terakomodasi. Sebaran penanganan dalam rencana strategis ini meliputi 7 titik di Provinsi Jawa Timur, masing-masing 5 titik di Provinsi Banten,  Jawa Barat, dan Jawa Tengah, serta wilayah Sumatera yang mencakup  Sumatera Utara dan Sumatera Selatan masing-masing 3 titik, ditambah 1 titik di Provinsi Sumatera Barat.

Tahapan pelaksanaannya  dimulai secara bertahap, diawali dengan satu kegiatan di Sumatera Selatan pada tahun 2025. Memasuki tahun 2027, intensitas pengerjaan meningkat dengan 10 kegiatan yang terbagi atas 2 titik di Provinsi Sumatera Selatan serta 8 titik lainnya yang tersebar di Provinsi Banten,  Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Provinsi Sumatera Barat. Puncak pengerjaan direncanakan terjadi pada tahun 2028, dengan total 19 kegiatan yang mencakup wilayah Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur, hingga  Sumatera Barat.

Manfaat yang Didapat

Menangani perlintasan sebidang (seperti membangun flyover, underpass, atau penutupan jalan) akan memberikan manfaat yang sangat signifikan. Manfaat itu dapat ditinjau dari tiga aspek utama, yaitu keselamatan, efisiensi operasional, dan ketahanan infrastruktur .

Pertama, peningkatan keselamatan adalah manfaat yang paling krusial . Dengan menghilangkan persinggungan langsung antara kendaraan dan kereta api. Menghapus risiko tamperan, menghilangkan potensi kecelakaan yang menurut data Diraktorat Jenderal Perkeretaapian (2026) telah merenggut banyak nyawa (62 persen korban fatal). Mengeliminasi faktor kelalaian, tidak ada lagi celah bagi perilaku menerobos palang pintu atau risiko kendaraan mogok di tengah rel yang sering menjadi pemicu utama kecelakaan.

Kedua, kelancaran mobilitas dan ekonomi . Jalan nasional adalah urat nadi logistik. Penanganan perlintasan sebidang berdampak pada menghilangkan kemacetan (bottleneck). Kendaraan tidak perlu lagi berhenti menunggu kereta lewat, sehingga arus lalu lintas di jalan nasional menjadi lebih lancar dan waktu tempuh lebih singkat. Kemudian, efisiensi logistik, truk barang dan angkutan industri dapat bergerak lebih konsisten tanpa gangguan jadwal kereta api, yang pada akhirnya menurunkan biaya operasional transportasi.

Ketiga, perlindungan infrastruktur perkeretaapian. Mencegah kerusakan rel, tanpa adanya truk berat (seperti truk lowdeck atau muatan 30 ton) yang menghantam rel di perlintasan, risiko rel patah, baut kendur, atau fondasi ambles dapat dihindari. Selanjutnya, keandalan perjalanan kereta api dapat melintas dengan kecepatan maksimal secara stabil tanpa harus khawatir terjadi lendutan atau penurunan geometri rel di titik persimpangan.

Keempat, integrasi Kawasan Keselamatan Perkeretaapian (Kaliska) . Penanganan ini mewujudkan konsep kawasan keselamatan yang terintegrasi. Sinergi regulasi dengan menyatukan aturan lalu lintas jalan raya (LLAJ) dengan standar keselamatan perkeretaapian. Juga ada kepastian hukum dan operasional dengan memberikan rasa aman bagi masinis dalam mengoperasikan kereta dan kenyamanan bagi pengemudi kendaraan di jalan nasional. **

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegjapranata dan Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Konsep Perang dalam Manuskrip Jawa

Oleh Supriyadi, S.Fil.

Dunia saat ini sedang menahan napas. Jika kita membaca tanda-tanda zaman melalui kacamata kearifan lokal, khususnya Jangka Jayabhaya, kita akan menyadari bahwa kegelisahan global ini bukanlah kebetulan. Kita sedang berada di titik nadir siklus Trikali. Kita berada di ambang Perang Dunia Ketiga.

Senjakala Trikali: Menanti Tangan Syiwa

Dalam kosmologi Jawa, sejarah manusia berputar dalam siklus besar. Kita telah melewati Kali Suwara (zaman suara/isu) dan Kali Yoga hingga kini tiba di ujung Kali Sangara (zaman banjir/bencana). Ini adalah fase di mana moralitas merosot dan alam mulai “lelah” menanggung beban ambisi manusia yang carut-marut.

Di sinilah Syiwa mulai berperan. Syiwa adalah Sang Pengurai. Dia hadir untuk melakukan Pralina—sebuah proses daur ulang kosmis. Alam yang sudah tidak seimbang harus dihancurkan agar bisa ditata ulang (restorasi).

Dalam perspektif spiritual, perang bukanlah sekadar benturan senjata, melainkan manifestasi dari ketidakseimbangan antara Jagad Gedhe (Alam Semesta) dan Jagad Cilik (Diri Manusia).

Ketika keserakahan di dalam diri manusia (Jagad Cilik) sudah meluap, alam semesta (Jagad Gedhe) akan merespons dengan peristiwa besar untuk menguras energi negatif tersebut.

Setiap zaman memiliki “penanda” (pratandha) sebelum kehancurannya. Jika dahulu penandanya adalah letusan gunung berapi yang menumbangkan kerajaan, kini penandanya adalah perubahan cara berpikir. Manusia modern cenderung mendewakan logika materialistik dan meninggalkan etika luhur (tata krama). Perang hari ini adalah akumulasi dari krisis identitas dan hilangnya rasa kemanusiaan.

Bagi masyarakat Jawa, perang paling dahsyat bukanlah Perang Dunia atau konfrontasi nuklir. Perang yang paling esensial dan melelahkan adalah melawan diri sendiri.

Dalam konsep Ngaji Rasa, musuh sebenarnya bukanlah bangsa lain, melainkan sifat angkara murka (loba, sombong, dan kejam) yang bersemayam dalam diri. Inilah perang yang paling sunyi namun paling menentukan nasib alam semesta. Jika manusia gagal memenangkan perang di dalam dirinya, maka alam akan mengambil alih melalui Pralina fisik (perang antar bangsa atau bencana) untuk menciptakan kesetimbangan paksa.

Perang Dalam Beberapa Manuskrip Jawa

Ada kutipan dari Kakawin Bharatayudha, yang ditulis oleh Empu Sedah dan Empu Panuluh pada masa Kerajaan Kadiri.

“Sang Sura mrih gelaring sasangka, nanging sang natha mrih gelaring prang.”
(Artinya: Sang pahlawan mengharapkan ketenangan bulan, namun sang raja justru menginginkan gelar peperangan.)

Perang dipandang sebagai takdir yang tak terelakkan demi tegaknya Dharma (kebenaran). Kutipan ini menggambarkan pergulatan antara keinginan pribadi untuk damai dengan tuntutan tugas negara yang mengharuskan peperangan demi pembersihan dunia dari angkara murka.
Bhagavad Gita adalah rujukan utama spiritualitas perang yang sangat memengaruhi pemikiran Jawa. Terjadi di padang Kurukshetra, saat Arjuna ragu untuk berperang melawan saudara sendiri.

Kutipan (Bab 2, Sloka 38):
“Sukha-duhkhe same krtva labhalabhau jayajayau, tato yuddhaya yujyasva naivam papam avapsyasi.” (Berperanglah demi kewajiban tanpa mempedulikan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah; dengan cara demikian engkau tidak akan memikul dosa).

Perang adalah bentuk pengabdian tertinggi jika dilakukan tanpa keterikatan ego. Inilah esensi dari peran Syiwa dalam Pralina: menghancurkan bukan karena benci, melainkan demi keseimbangan alam semesta.

Serat Wicara Keras karya R.Ng. Yasadipura II. Naskah ini merupakan kritik sosial yang tajam pada masanya, menggambarkan bagaimana peperangan dan kekacauan muncul akibat hilangnya kewibawaan pemimpin.

“Yen wis rusak tatananing nagari, dudu perang kang dadi pungkasan, nanging perang kang dadi pambukaning jaman anyar.”
(Artinya: Jika tatanan negara sudah rusak, bukan perang yang menjadi akhir, melainkan peranglah yang menjadi pembuka zaman baru.)

Dalam literatur esoteris Jawa, khususnya Jangka Jayabhaya dan naskah-naskah gubahan Raden Ngabehi Ranggawarsita, terjadinya kondisi carut-marut menandai kedatangan Ratu Adil.

Munculnya sosok ini merupakan titik balik dari siklus Pralina (penghancuran) menuju Kertayuga (zaman keemasan). Berikut adalah tanda-tanda yang digambarkan secara simbolis dan fenomenologis:

Pertama, Fenomena Alam dan Kekacauan Kosmis (Goro-Goro)
• “Udan salah mangsa” (hujan di musim yang salah). Alam tidak lagi mengikuti ritme yang teratur, menandakan keseimbangan yang telah hilang.
• Gunung-gunung meletus, bumi berguncang, dan air laut meluap. Ini adalah cara alam “mencuci diri” dari beban energi negatif manusia.
• Munculnya penyakit yang sulit dicari obatnya, yang dalam narasi Trikali dipandang sebagai cara Syiwa menyeleksi populasi dunia.


Kedua, Kerusakan Tatanan Sosial (Zaman Edan)
Tanda yang paling sering dikutip adalah degradasi moral manusia yang mencapai titik nadir:
• Kehilangan Malu: “Wong wadon nganggo penganggo lanang, wong lanang ilang kaprawirane” (Wanita kehilangan sifat kewanitaannya, pria kehilangan sifat kepahlawanannya).
• Keserakahan Terang-terangan: “Sing bener ketenger, sing salah malah bungah” (Yang benar terpinggirkan, yang salah justru bersukacita).
• Pasar Ilang Kumandange: Secara metaforis berarti pusat ekonomi kehilangan kejujuran; transaksi terjadi tanpa ada rasa kemanusiaan, hanya murni angka dan eksploitasi.


Ketiga, Penanda Spesifik Kedatangan Ratu Adil
Dalam naskah Musarar dan Sabdo Palon, terdapat petunjuk yang lebih spesifik mengenai transisi menuju kemunculan Sang Juru Selamat:
• Puncak Penderitaan: Ratu Adil muncul saat rakyat sudah berada di titik “Kinasihan Gusti” (sangat menderita hingga hanya bisa berserah pada Tuhan).
• Kekacauan Politik: Munculnya banyak pemimpin yang “dudu samesthine” (bukan semestinya), hingga negara terasa seperti tanpa nakhoda.
• Kembalinya “Sabdo Palon”: Secara spiritual, ditandai dengan kembalinya kesadaran akan jati diri jati (kearifan lokal) setelah ratusan tahun terkubur oleh budaya asing.

Akhir Trikali adalah Pembersihan

Ratu Adil adalah instrumen Syiwa untuk melakukan penyetimbangan. Setelah kehancuran (Pralina) selesai, beliau hadir untuk menata kembali dunia yang carut-marut. Perang besar yang terjadi sebelumnya dianggap sebagai “pencucian dosa kolektif” agar manusia yang tersisa memiliki kesadaran baru (Cara Berpikir Baru). Cara berpikir baru ini bukan lagi soal “siapa yang paling kuat”, melainkan bagaimana manusia hidup selaras dengan alam (Memayu Hayuning Bawana).

Perang dalam siklus Trikali adalah katalisator. Tanpa perang, manusia tidak akan sadar akan kesalahannya. Tanpa Pralina, alam tidak punya ruang untuk tumbuh kembali. Ratu Adil adalah sosok yang bertugas menjahit kembali robekan-robekan peradaban tersebut.

Hikmah terbesarnya adalah: Kesetimbangan hanya bisa dicapai setelah ada pengorbanan. Ratu Adil bukan sekadar orang, melainkan sebuah Era Kesadaran Baru di mana manusia tidak lagi merasa sebagai penguasa alam, melainkan bagian dari alam itu sendiri. (*)

Jejak Sejarah Cap Go Meh di Nusantara

Oleh : Heri Mulyono

Cap Go Meh menutup rangkaian Imlek dengan makna filosofis mendalam. Di Indonesia, tradisi ini berakulturasi harmonis. Sejarah panjangnya kini mewarnai keberagaman Nusantara.

Malam itu, bulan purnama pertama dalam kalender lunisolar bersinar terang menerangi bumi. Ribuan lentera dinyalakan, bukan sekadar sebagai hiasan, melainkan sebagai simbol harapan yang diterbangkan ke langit. Ini adalah Cap Go Meh, puncak dari perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama. Namun, di balik kemeriahan barongsai dan kelap-kelip lampu, tersimpan lapisan sejarah dan filosofi yang kerap luput dari perhatian.

Di Indonesia, perayaan ini tidak hanya menjadi milik komunitas Tionghoa. Ia telah bertransformasi menjadi festival budaya nasional yang menunjukkan betapa dalamnya akar akulturasi antara tradisi Tiongkok dan kearifan lokal Nusantara. Untuk memahami relevansinya hari ini, kita perlu menelusuri jejak masa lalu dan menyelami makna spiritual yang dibawanya.

Akar Sejarah: Dari Dinasti Han hingga Nusantara

Sejarah Cap Go Meh dapat ditelusuri hingga lebih dari 2.000 tahun lalu, tepatnya pada masa Dinasti Han (206 SM – 220 M). Terdapat beberapa versi mengenai asal-usulnya, namun yang paling dominan berkaitan dengan Kaisar Han Wen Di. Setelah kematian Kaisar Han Gao Zu, kekuasaan sempat dipegang oleh Keluarga Lu yang tiran. Setelah Keluarga Lu berhasil ditumbangkan, Han Wen Di naik takhta dan menetapkan hari ke-15 bulan pertama sebagai hari perayaan kebebasan dan perdamaian.

Versi lain mengaitkan perayaan ini dengan agama Buddha. Kaisar Han Ming Di, seorang penganut Buddha, memerintahkan agar lampu dinyalakan di istana dan kuil pada malam ke-15 bulan pertama untuk menghormati Buddha. Tradisi menyalakan lampu ini kemudian menyebar ke rakyat biasa dan berkembang menjadi festival lentera.

Dalam perspektif Taoisme, hari ini dikenal sebagai Yuan Xiao Jie, hari ulang tahun Dewa Tai Yi, dewa langit tertinggi dalam kepercayaan Tao kuno. Ritual penyembahan dilakukan untuk meminta cuaca yang baik dan panen yang melimpah. Sementara dalam Confucianisme, hari ini menekankan pada reunifikasi keluarga dan penghormatan terhadap leluhur.

Ketika para perantau Tiongkok, mayoritas dari suku Hokkien, tiba di Nusantara pada abad ke-17 hingga ke-19, mereka membawa tradisi ini. Istilah “Cap Go Meh” sendiri berasal dari bahasa Hokkien. Cap berarti sepuluh, Go berarti lima, dan Meh berarti malam. Jadi, Cap Go Meh secara harfiah berarti “Malam Kelima Belas”. Ini adalah penanda waktu yang presisi dalam kalender lunisolar, momen ketika bulan berada dalam fase paling penuh.

Filosofi Kehidupan: Kesempurnaan dan Harapan

Secara filosofis, Cap Go Meh memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupan manusia. Posisi bulan purnama pada malam itu melambangkan kesempurnaan (completeness). Dalam budaya Timur, bentuk bulat melambangkan keutuhan tanpa cacat. Oleh karena itu, makanan wajib dalam perayaan ini di Tiongkok adalah Tangyuan, bola-bola ketan manis yang berbentuk bulat.

Bulatnya Tangyuan menyimbolkan tuan yuan atau reunifikasi. Ini adalah doa agar keluarga berkumpul lengkap, tidak terpecaah, dan hubungan antaranggota keluarga tetap harmonis. Memakan Tangyuan bersama-sama adalah ritual afirmasi bahwa meskipun hidup penuh tantangan, keluarga tetap menjadi pusat gravitasi yang menyatukan.

Selain itu, Cap Go Meh menandai berakhirnya masa perayaan Tahun Baru. Secara psikologis, ini adalah momen transisi. Setelah dua minggu berlibur dan bersilaturahmi, masyarakat bersiap kembali ke rutinitas kerja dan pertanian. Lentera yang dinyalakan adalah simbol menerangi jalan ke depan. Cahaya itu mengusir kegelapan musim dingin yang mulai berlalu, memberikan harapan akan musim semi yang subur dan kehidupan yang lebih baik.

Dalam dimensi spiritual, malam ini dianggap sebagai waktu yang tepat untuk memanjatkan doa. Energi alam dianggap sedang dalam kondisi puncak karena posisi bulan dan bumi. Doa-doa yang dipanjatkan dipercaya memiliki kekuatan lebih untuk menembus langit, memohon keberuntungan, kesehatan, dan perlindungan dari bala bencana.

Wajah Akulturasi di Indonesia

Ketika filosofi ini mendarat di Indonesia, ia tidak bertahan dalam bentuk asli. Tanah Nusantara yang kaya akan budaya lokal menyerap tradisi ini dan memberinya napas baru. Akulturasi yang terjadi bukan sekadar tempelan, melainkan penyatuan substansi.

Bukti paling nyata adalah kuliner. Di Semarang dan wilayah Peranakan Jawa, Tangyuan tidak menjadi primadona. Digantikan oleh Lontong Cap Go Meh. Ini adalah manifestasi filosofis dari integrasi. Lontong, yang dibungkus janur kelapa (produk lokal), dimasak dengan santan dan rempah-rempah Nusantara, disajikan bersama opor ayam dan telur pindang yang dipengaruhi budaya Jawa.

Filosofi “kebulatan” dan “kesempurnaan” dari Tangyuan diterjemahkan menjadi “kebulatan” tekad untuk hidup berdampingan. Lontong Cap Go Meh adalah simbol bahwa identitas Tionghoa dan Jawa tidak saling meniadakan. Mereka menyatu dalam satu piring, menciptakan rasa baru yang lebih kaya. Ini adalah pesan damai bahwa menjadi Tionghoa di Indonesia berarti juga menjadi bagian dari rasa Nusantara.

Di Singkawang, Kalimantan Barat, akulturasi terjadi pada level spiritual yang lebih intens. Perayaan Cap Go Meh di sana dikenal dengan atraksi Tatung. Para Tatung dianggap kerasukan roh leluhur atau dewa untuk menolak bala. Tradisi ini menunjukkan sinkretisme antara kepercayaan Tao-Konghucu dengan tradisi spiritual lokal Kalimantan. Masyarakat Dayak dan Melayu setempat terlibat aktif dalam pengamanan dan penyelenggaraan. Di sini, filosofi “perlindungan dari bala” diterjemahkan melalui kearifan lokal yang menghormati roh leluhur dan alam.

Pengaruh Tradisi Lokal Nusantara

Sejauh mana pengaruh tradisi lokal? Sangat signifikan, hingga mengubah struktur sosial perayaan. Di Tiongkok, Cap Go Meh lebih bersifat familial atau komunal dalam klenteng. Di Indonesia, ia menjadi bersifat sosial-kemasyarakatan yang luas.

Konsep “Open House” atau rumah terbuka adalah adaptasi dari budaya silaturahmi Indonesia. Saat Cap Go Meh, rumah-rumah warga Tionghoa tidak hanya terbuka untuk keluarga, tetapi juga tetangga lintas etnis dan agama. Ini mencerminkan budaya gotong royong. Tradisi saling mengunjungi, bersalaman, dan berbagi makanan adalah ciri khas sosial Indonesia yang melekat kuat pada perayaan ini.

Di Jakarta, khususnya Pecinan Glodok, perayaan Cap Go Meh sering kali dimeriahkan dengan kesenian Betawi seperti Tanjidor atau Ondel-ondel di beberapa titik perayaan budaya. Kolaborasi seni ini menunjukkan bahwa batas budaya semakin cair. Pengaruh lokal juga terlihat pada busana. Banyak peserta perayaan yang mengenakan perpaduan baju khas Tionghoa dengan kain batik Nusantara, menegaskan identitas ganda yang bangga.

Bahasa yang digunakan dalam doa-doa di kelenteng pun sering kali menggunakan bahasa Indonesia atau dialek lokal selain bahasa Mandarin atau Hokkien. Ini memudahkan generasi muda dan masyarakat sekitar untuk memahami makna doa, sehingga esensi spiritualnya lebih mudah diterima secara luas.

Relevansi di Era Modern

Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, filosofi Cap Go Meh tentang kesempurnaan dalam keberagaman menjadi sangat relevan. Indonesia adalah mikrokosmos dari filosofi ini. Berbagai suku, agama, dan budaya hidup dalam satu wadah negara.

Perayaan Cap Go Meh di Indonesia mengajarkan bahwa tradisi tidak harus kaku. Ia bisa beradaptasi tanpa kehilangan rohnya. Roh Cap Go Meh adalah harapan, kebersamaan, dan cahaya. Apakah itu dirayakan dengan Tangyuan di Beijing atau Lontong di Semarang, esensinya tetap sama: mengharap kehidupan yang lebih baik bersama orang-orang tercinta.

Pemerintah dan masyarakat kini mulai menyadari potensi ini. Cap Go Meh ditetapkan sebagai bagian dari kalender wisata budaya. Ini bukan sekadar strategi ekonomi, melainkan upaya pelestarian memori kolektif bangsa. Dengan merayakan Cap Go Meh secara nasional, Indonesia mengirimkan pesan kepada dunia bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Penutup

Sejarah Cap Go Meh adalah perjalanan panjang dari istana Dinasti Han hingga gang-gang sempit di Pecinan Indonesia. Filosofinya tentang cahaya dan keutuhan keluarga telah diterjemahkan menjadi praktik toleransi dan akulturasi yang nyata.

Di Indonesia, Cap Go Meh bukan lagi sekadar ritual impor. Ia adalah tradisi yang telah diindonesiakan. Pengaruh lokal Nusantara telah meresap hingga ke tulang-tulangnya, menciptakan bentuk perayaan yang unik dan sarat makna. Ketika lentera-lentera dinyalakan pada malam Cap Go Meh, itu bukan hanya cahaya dari kertas dan bambu. Itu adalah cahaya harapan dari sebuah bangsa yang berhasil merajut perbedaan menjadi harmoni.

Sejarah telah mencatat, dan budaya terus berjalan. Cap Go Meh di Indonesia berdiri sebagai monumen hidup bahwa akulturasi adalah jalan terbaik untuk menjaga perdamaian. Ia mengingatkan kita bahwa seperti bulan purnama yang bulat sempurna, Indonesia pun harus tetap utuh dalam keberagamannya. (*)