WP Sulit Menghindar

INDONESIA akan terus melakukan persiapan untuk bisa memenuhi berbagai peraturan-peraturan yang diharuskan untuk dipenuhi dari  pertukaran informasi sistem keuangan otomatis atau Automatic exchange of Information. “Dengan bergabungnya Indonesia bersama 101 negara yang mengikuti sistem ini, maka kecil kemungkinan wajib pajak bisa menghindari perpajakan di satu negara,” cetus Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

Seperti diketahui, sistem ini merupakan suatu kebijakan global yang disepakati lebih dari 101 negara untuk saling memberikan informasi, terutama informasi perpajakan. Agar kebijakan ini bisa berjalan seperti yang diharapkan, Menkeu masih mengkaji mekanisme tentang siapa dan lembaga apa yang terlibat dalam mengatur pertukaran informasi tersebut, apakah oleh lembaga jasa keuangan atau oleh Direktorat Jenderal Pajak.

Menurut Menkeu, yang mungkin menjadi sesuatu yang sangat pelik adalah bahwa undang-undang di perbankan, perbankan syariah maupun capital market, memang menyebutkan bahwa pasal kerahasiaan nasabah masih ada. Oleh karena itu, mungkin kita akan upayakan berbagai cara untuk memasukkan berbagai pasal di KUP (Ketentuan Umum Perpajakan) agar akses informasi untuk urusan perpajakan itu bisa diperkuat, sehingga pemerintah bisa memenuhi persyaratan dalam automatic exchange of information itu.

Mengenai pertanyaan apakah dengan diberlakukannnya automatic exchange of information, maka tidak ada lagi wajib pajak yang bermain dengan kewajiban pajaknya atau menaruh uangnya di luar negeri, Menkeu Sri Mulyani mengatakan, jika mereka mau menempatkan uangnya di negara mana pun, mereka telah menjadi subject automatic exchange of information. ***

Sensasi Menjadi Noni

DI ERA milenial ini, traveling sudah menjadi gaya hidup, bahkan kebutuhan primer bagi sebagian orang. Gejolak wisata tersebut diantisipasi masyarakat Bandung yang terkenal kreatif. Salah satunya Wisata Alam Farmhouse Susu Lembang (FSL) yang berlokasi, di Jl Raya Lembang, Lembang, Bandung.

Memasuki area wisata ala Mediterania Eropa ini akan terlihat jajaran pohon Pinus. Di sini ada udara segar, keindahan alam, dan minuman susu segar sekaligus. Bahkan terbuka bagi aneka kegiatan yang dibutuhkan. Beragam kafe lengkap dengan spot selfie ada di sini. Dari kafe bergaya oldies hingga mediteranian, dengan letak yang unik: Di kebun/outdoor, indoor, bahkan ada yang di atap/roof top dengan pemandangan menakjubkan.

Kafe bergaya Eropa.

Dapat dikatakan area FSL yang buka hingga pukul 21.00, adalah tempat wisata lengkap. Bagi keluarga yang membawa anak kecil tentu lebih tertarik untuk membawa mereka ke ‘Mini Zoo’ dan bisa berfoto dengan binatang lucu. Aneka burung, anak landak, sapi, biri-biri, iguana, kelinci….Tentu saja tersedia fasilitas beribadah dan toilet.

Tujuan paling diburu ketika ke FSL adalah mengenakan kostum noni Eropa. Para wisatawan menyebutnya kostum tradisional wanita Eropa, atau ada juga yang menyebut rok panjang noni Belanda. Pengunjung antre di sini. Apalagi di bagian depan ada sudut lukisan yang benar-benar disulap bagaikan sebuah jalan di pedesaan Eropa.

Tempat jualan aneka souvenir.

Tidak heran jika di area FSL banyak kita jumpai “noni Belanda” membawa payung dan keranjang bunga berjalan jalan sambil berfoto, meski. Kalau tidak memperhatikan hidung dan warna kulit, kita pasti menyangka mereka rombongan noni Eropa yang sebenarnya…. “Kami tertarik ke sini ingin memiliki foto dengan gaun tradisional Eropa”, ujar rombongan ibu-ibu dari Jakarta.

Petugas tata-rias di rumah sewa kostum itu mengatakan, hari biasa, pengunjung 100 orang lebih. Di hari libur, bisa 200 orang lebih. Mereka mengenakan tarif Rp 75.000 per dua jam. Ya, cukup murah untuk menjadi “noni Belanda” selama dua jam saja.

Lainnya tersedia tempat penjualan souvenir dan cemilan seperti croissant dan danish, juga selai buah strawberry homemade. Meski berbau Eropa, tersedia pula kedai bakso dan soto, kue-kue Jepang, dan tentu saja es krim.

Kaum muda bisa mengunjungi sudut gembok cinta, untuk mengikrarkan cinta mereka yang diharapkan berlangsung selamanya. Bagi yang ingin dilukis pun tersedia sudut sketsa dan penjualan lukisan bunga.

Pada sisi area yang lain, di antara rerimbunan pohon, dijumpai replika  rumah Hobbit yang dibuat mirip dengan aslinya. Pengunjungpun tidak perlu keluar biaya mahal ke New Zealand, kalau hanya ingin sekadar berpose.

Sebegitu antusiasnya pengunjung FSL, konon sempat terjadi di saat padat pengunjung, terpaksa ditutup sementara. Para wisatawan harus menunggu 1 – 2 jam sampai pengunjung yang di dalam keluar. ***

Kejahatan Pemilu (7)

PADA bagian ketujuh ini Ir. Andrari Grahitandaru, Kepala Program Sistem Pemilu Elektronik pada lembaga Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini mengungkapkan beberapa alternatif e-verifikasi Pemilu yang dirancangnya. Penerapannya sudah dilakukan di Pulau Sulawesi, Sumatera, Jawa, Bali. Hanya di Kalimantan Barat yang belum. Rencananya e-verifikasi akan diawali di Kabupaten Mempawah.

Jadi, yang di Kalimantan Barat ini belum sesuai dengan usulannya BPPT?

Belum. Jadi gini, usulan BPPT adalah, siapa pun pemilih yang datang ke TPS harus diverifikasi. Nggak cukup hanya dengan membawa selembar kertas form G-6. Bahwa diverifikasi itu ada beberapa alternatif. Alternatif pertama itu adalah yang paling akurat dan paling otentik. Yaitu dengan cara pakai aplikasi DPT. Gambarnya seperti ini. (sambil menunjukkan gambar). Jadi DPTnya dimasukkan ke laptop, kemudian laptopnya ini disambungkan ke alat baca KTP elektronik. Data dalam DPT yang diunggah ke laptop ini berisi NIK, nama, dan alamat. Selain laptop ada reader KTP-el. Reader seperti ini perlu diotentikasi menggunakan sidik jari.

Bagaimana cara kerjanya?

Cara kerjanya adalah pemilih datang membawa KTP, lalu KTPnya ditempel pada reader. Nah, ketika KTP ditempel, maka reader ini membaca data yang ada seperti NIK, sidik jarinya dibaca, yang dari KTP, kemudian foto dibaca. Setelah dibaca, kemudian ini nyala, minta ditempelkan sidik jari. Nah, kemudian, di sini ini ada aplikasi pemadanan, jadi sidik jarinya ini dipadankan dengan yang tadi dibaca dari KTPnya, dicocokkan. Kalau cocok, maka ini langsung keluar gambarnya.

Gambar apa?

KTP. Kalau cocok. Berarti yang punya KTP ini memang orang yang datang tersebut. Otentik jadinya. Kemudian, ketika cocok, NIKnya dikirim ke sini, ke laptop. Dicari, apakah NIK itu ada dalam DPT. Gitu kan? Nah, ketika ada, maka statusnya langsung berubah menjadi HADIR. Ini kan seperti mesin presensi.

Alternatif kedua bagaimana?

Alternatif kedua, alat bacanya ini hanya membaca NIK dan foto saja. Tidak ada sidik jari, jadi lebih cepat. Begitu KTP-el ditempel dan mesinnya bunyi ‘NUT’ gitu, berarti KTP itu betul, ada chipnya. Terus dia baca NIK dari chip KTP itu, dikirim ke laptop, kalau ada dalam DPT, maka statusnya HADIR. Sambil mengubah status HADIR, fotonya muncul di sini, di laptop. Yang pertama tadi juga muncul fotonya. Sama.

Alternatif ketiga?

Nah, yang ketiga, cukup laptop saja. Aplikasi DPT saja. Cara verifikasinya, dia ketikkan manual, dientri manual NIK nya. Ketika petugas mengetik dua angka, sudah keluar segini. Ketika dia mengetik tiga angka, makin berkurang, gitu. Kan biasa kayak searching gitu kan. Nah, sampai akhirnya dia keluar sedikit langsung bisa milih, sebetulnya NIKnya mana. Kan NIK itu ada banyak angka. Yang dimasukkan mulai angka ke tujuh aja. Karena identitasnya kan di situ. Tanggal lahir. Kemudian muncul. Kemudian dalam daftar itu dicocokkan di undangan kan? Oh ini namanya siapa, langsung di double klik, maka status langsung berubah HADIR.

Lalu, verifikasinya dari apa kalau seperti ini? Kan calon pemilih tidak menunjukkan KTP?

Jadi, kalau yang seperti ini, DPT nya sudah ditambahkan foto. Sebetulnya data di Dukcapil, setiap NIK itu ada nama dan ada foto. Nah, jadi DPTnya ini sudah ada fotonya. Kemudian ketika cocok, NIK itu ada, maka fotonya muncul. Munculnya tapi di bawah. Karena kami membedakan, kalau fotonya di atas itu berarti dari KTP, kalau foto dari DPT itu di bawah. Gambarannya seperti ini. (bersambung)

Starling ala Naning

JIKA Anda warga Jakarta, pasti sering melihat penjual kopi keliling. Mereka disebut “Starling”, kependekan dari “Starbucks Keliling”. Ada yang memang menekuni bisnis itu sebagai tiang nafkah, ada pula yang menjadikannya sebagai penghasilan tambahan. Salah satunya, Naning.

Meski namanya Naning, tapi dia seorang pria. Sehari-hari, Naning berjualan kopi keliling di depan Pendopo Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. “Semua serba mahal sekarang, jadi yaaa… biar sajalah, kerja jadi ‘Starling’, yang penting halal,” ujarnya.

Pagi sampai siang, ia menjadi tenaga honorer dis ebuah perusahaan. Sore sampai malam, jualan kopi di TMII. Orang mungkin anggap sebelah mata profesi pedagang “Starling”. Padahal menurut Naning, justru dari jualan kopi perekonomian keluarga bisa dibilang stabil.

Hanya bermodal dua termos air panas, pop mie, aneka kopi instan dan beberapa bungkus rokok, setiap malamnya ia berhasil membawa pulang rata-rata Rp100-150 ribu. Jumlah itu, katanya, tidak termasuk malam minggu atau saat TMII menggelar even di malam hari. Hari ramai, ia bisa membawa pulang Rp 300 ribu – Rp 400 ribu. “Saya mulai jualan jam empat sore, sampai jam sebelas malam,” tambahnya.

Pada malam tahun baru, ia bisa membawa pulang duit Rp 1,5 juta. ”Sungguh saya nggak mengira, pengunjung yang datang menikmati malam tahun baru di sini sampai membludak. Tadinya saya hanya bawa barang sedikit, terpaksa berkali-kali belanja tambahan karena banyaknya pembeli,” tuturnya senang.

Beda dengan Maman. Meski melakoni profesi yang sama dengan Naning, tapi ia berjualan di tengah kota, tepatnya di sekitar perkantoran Kebon Sirih,

Hal yang sama juga diakui Pambudi, tukang kopi keliling yang biasa mangkal di lokasi wisata Museum Fatahillah, Jakarta Barat. Menurutnya, dari semua pekerjaan yang pernah dilakoninya di Jakarta, menjadi penjual kopi keliling adalah yang terbaik dari sisi penghasilan. “Modalnya tak banyak, juga tak secapai ketika menjadi kernet angkot. Cuma duduk sambil menunggu pembeli. Saya jualan hanya pada sore sampai malam hari. Karena kalau siang, PKL tidak boleh buka lapak sembarangan,” tuturnya.

Menurutnya, sejak kawasan kota tua direvitalisasi, pengunjung yang datang pada malam hari cukup banyak, bahkan kalau malam minggu pengunjung bisa membludak. Penghasilan di malam minggu bisa mencapai Rp400-500 ribu. “Lumayan banget,” tambah Pambudi yang pada siang hari bekerja serabutan di sekitar Pasar Asemka.***

Tak Takut Cedera

SIAPA sangka jika Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo yang baru diresmikan ini memiliki kelebihan dibanding RPTRA lainnya. Ya, mainan anak yang ada di sana telah diasuransikan. Sehingga, setiap anak yang mengalami cedera akibat menggunakan fasilitas permainan tersebut dapat melapor ke pengelola RPTRA dan mendapat perawatan. Karenanya, pengunjung tak perlu ragu melepaskan anaknya untuk menikmati seluruh sarana permainan yang ada.

RPTRA Kalijodo merupakan satu lokasi yang diresmikan penggunaannya oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, baru-baru ini. Kawasan yang dulunya dikenal sebagai tempat prostitusi, kini disulap menjadi Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). RPTRA Kalijodo ini merupakan RPTRA ke-184 yang telah diresmikan Pemprov DKI. Di antara jumlah tersebut, ada sebanyak 123 RPTRA yang dibangun dengan menggunakan APBD DKI Jakarta.

“Saya puas dengan hasil pembangunan RPTRA Kalijodo ini. Karena RPTRA ini dapat dijadikan sarana beraktivitas yang berguna bagi warga, terutama anak-anak yang membutuhkan ruang bermain,” kata Ahok di RPTRA Kalijodo, Jakarta Barat.

RPTRA Kalijodo dibangun menggunakan dana CSR PT Sinar Mas Land dengan anggaran senilai Rp 3,6 miliar. Berbeda dengan RPTRA lainnya, RPTRA yang memiliki luas lahan 5.489 meter persegi dan luas bangunan 1.468 meter persegi tersebut memiliki Pos Pengaduan Kekerasan Terhadap Perempuan dan anak.

Pos tersebut dikelola oleh Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dari Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk DKI bekerja sama dengan Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak RI serta LSM.

Selain meresmikan RPTRA Kalijodo, Ahok juga meresmikan RTH Kalijodo yang terletak di Kelurahan Pejagalan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara. RTH tersebut memiliki luas sekitar 10 ribu meter persegi dan memiliki sejumlah fasilitas di antaranya skate park , arena bermain sepeda BMX, outdoor gym dan toilet untuk penyandang disabilitas. ***

Demo Pendukung Rano

TIDAK menerima kekalahan di Pilgub Banten, massa pendukung cagub-cawagub, Rano Karno-Embay Mulya Syarief, kepung kantor KPU Kota Tangerang. Massa Banteng Moncong Putih itu menggelar demo saat rapat pleno perhitungan suara berlangsung, Kamis (23/2).

Massa datang sekitar pukul 12.00 WIB di kantor KPU Kota Tangerang, Jl Nyimas Melati. Mereka membawa spanduk berisi tuntutan pemungutan suara ulang di Kota Tangerang. Tampak pula atribut partai.

Dalam orasinya, pendemo menyebut adanya kecurangan dalam pemungutan suara Pilgub Banten di Kota Tangerang. Massa mendesak KPU menghentikan rapat pleno penghitungan suara. Sebelum mendatangi kantor KPU, massa melakukan long march dari Lapangan Ahmad Yani, Tangerang, menuju kantor Panwaslu, Jl Ki Samaun, Tangerang. Demonstrasi dijaga ketat aparat kepolisian dibantu TNI.

Di sela demonstrasi, Ketua KPU Kota Tangerang Sanusi Pane menemui massa. Sanusi menegaskan pihaknya bekerja sesuai dengan aturan. “Hari ini kami sedang menggelar rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara di tingkat kota. Kami akan bekerja sesuai aturan,” kata Sanusi di atas mobil komando.

Terkait tuntutan pemungutan suara ulang, Sanusi menyebut pihaknya tetap merujuk pada aturan. Namun belum ada keputusan mengenai pemungutan suara ulang. “Kami pastikan apabila itu menjadi ketentuan, kami akan jalankan. Karena kami sebagai penyelenggara memenuhi amanat undang-undang,” ujarnya. ***

Gratis ke Kalijodo

RUTE Balai Kota-Kalijodo memang rute baru bus Transjakarta. Namun, ini bukanlah rute biasa, namun rute khusus yang sengaja diadakan untuk melayani warga Jakarta yang hendak berwisata ke Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Kalijodo, Jakarta Barat.

PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) memang membuka rute baru untuk tujuan pariwisata, yakni Balai Kota-Kalijodo, uniknya penumpang tak perlu mengeluarkan uang untuk membayar alias gratis. “Untuk rute Balai Kota-Kalijodo itu, setiap hari kami menyediakan tiga unit bus tingkat. Penumpang tidak dipungut biaya alias gratis,” kata Direktur Utama PT Transjakarta Budi Kaliwono di Kalijodo, Jakarta Barat.

Menurut Budi, rute baru ini dilakukan mengingat RTH dan RPTRA Kalijodo telah menjadi destinasi wisata. Ia bahkan berjanji, ke depan akan menambah armada bus Transjakarta. “RTH dan RPTRA Kalijodo sudah menjadi salah satu destinasi wisata baru di Jakarta. Oleh karena itu, ke depannya kami akan menambah jumlah bus yang melayani rute ke Kalijodo,” jelasnya.

Diharapkan, rute wisata baru tersebut tak hanya menarik minat warga yang ingin berkunjung ke RTH dan RPTRA Kalijodo, tetapi juga sebaliknya dapat memudahkan warga yang ingin berkunjung ke Balai Kota DKI dan Monumen Nasional (Monas). “Bukan hanya itu, bagi warga sekitar kawasan Kalijodo juga bisa dengan mudah berekreasi ke Monas, Balai Kota dan sekitarnya yang dilalui bus tingkat wisata itu,” ungkapnya.

Rute yang dilalui bus tingkat itu, yakni Balai Kota-Sarinah-Tosari-masuk Tol Semanggi dan keluar Tol Pluit Tomang-Kalijodo. Untuk arah sebaliknya, dari Kalijodo-masuk Tol Pluit-Tomang-keluar Tol Semanggi-Tosari-Bundaran HI-Sarinah-Balai Kota.

Bus wisata itu beroperasi setiap hari, yaitu Senin hingga Jumat pukul 11.00 hingga 19.00 WIB, Sabtu pukul 9.00 hingga 23.00 WIB dan Minggu pukul 12.00 hingga 19.00 WIB. Bus beroperasi dengan jarak waktu pemberangkatan 1 hingga 1,5 jam setiap hari. ***

Kota Layak Anak

SAAT ini mencari lokasi bermain bagi anak memang sulit. Banyak lahan kosong, taman, dan sejenisnya telah disulap jadi gedung tinggi. Untuk itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak mewajibkan seluruh kota menjadikan sebagai kota layak anak.

Namun demikian, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah mengantisipasi hal itu dengan membuat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) di beberapa titik. Salah satunya, RPTRA Baung di Jalan Baung, RT 04/02, Kelurahan Kebagusan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang diresmikan penggunaannya oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, Kamis (24/2).

Dijelaskan  Ahok, sapaan Basuki Tjahaja Purnama, sebenarnya keberadaan RPTRA sudah bisa jadi tempat ramah keluarga. Karena mulai dari balita hingga lanjut usia berinteraksi dalam satu tempat ini. “Namun karena kementerian meminta agar ada kota layak anak maka tempat ini diganti sebagai layak anak. Ini tempat kumpul warga berbagai usia, mulai dari balita hingga lansia,” kata Ahok.

Menurutnya, Pemprov DKI memiliki dua program utama yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Yakni pembangunan rumah susun sewa (Rusunawa) dan RPTRA. Program ini sangat membantu warga tidak mampu yang ada di Ibukota. Alasan pembangunan RPTRA melibatkan swasta karena dahulunya setiap mengajukan usulan menggunakan APBD DKI selalu ada kendala.

Setiap pembangunan RPTRA, perencanaannya juga melibatkan perguruan tinggi dan tokoh masyarakat sekitar. Sehingga masyarakat turut andil memberikan masukan tentang desainnya. Agar masyarakat juga merasa dihargai dan ada nuansa Betawinya di RPTRA.

Sementara itu, RPTRA Baung dilengkapi berbagai fasilitas yang sangat layak sebagaimana terdapat di RPTRA lainnya. Seperti lapangan serbaguna, sarana bermain anak, tanaman hidroponik, tanaman obat keluarga,  kolam ikan, PKK Mart dan sebagainya. ***

Hikayat Wayang Pucung (3)

BERKEMBANGNYA Wisata Wayang Desa Pucung, Wukirsari, Bantul – Yogyakarta, memberi dampak positif bukan pada pelestarian budaya wayang, serta peningkatan kesejahteraan para perajin. Masyarakat desa juga kecipratan. “Rombongan tamu baik dari dalam maupun luar negeri banyak yang datang, otomatis desa kami pun ikut berbenah, menjadi lebih cantik dan rapih. Masyarakat desa sangat antusias sekali,” kata Demy Raharja seraya tersenyum.

Di sisi lain, minat anak muda Desa Pucung menekuni wayang pun perlahan bangkit kembali. “Kini banyak pemuda desa mau membuat kerajinan wayang. Setidaknya kalaupun masih bekerja di sektor lain, di sela-sela waktunya mereka menyempatkan diri membuat kerajinan,” jelas anak pertama pasangan Sabar Raharjo-Dasia.

Kemajuan Wisata Wayang ini bisa dilihat dari sejumlah fasilitas yang kini dimiliki paguyuban ini. Di antaranya joglo untuk kegiatan Wisata Wayang, show room kerajinan wayang yang menampung hasil kerajinan para perajin dan membantu memasarkannya.

Sedang yang sedang dibangun adalah gedung pertunjukan wayang berkapasitas 300 orang. “Jika gedung ini jadi maka nantinya acara pertunjukan wayang bisa disaksikan setiap hari. Seiring perkembangan, kami ingin Desa Pucung nantinya bisa jadi Pusat Wayang yang lengkap, baik dari pertunjukan, perpustakaan, tempat belajar wayang, dll. Itu harapan kami ke depan,” katanya.

Terkait paket Wisata Wayang, ada banyak macam yang ditawarkan. Mulai dari belajar pembuatan wayang dari awal sampai selesai, ataupun hanya sebagian-sebagian, misalnya, mewarnai wayang, memahat wayang, dll. Tapi ada juga paket menginap 3 hari 2 malam, di mana pengunjung bukan hanya belajar berbagai hal tentang wayang tapi juga akan diajak ke tempat wisata lainnya di Desa Pucung, bahkan bisa ziarah ke kompleks pemakaman Raja-raja Yogya-Solo di Imogiri.

Bagaimana soal menginap? Nah inilah keunikan paket wisata ini. Wisatawan menginap di rumah-rumah warga yang memang sudah disiapkan untuk melayani tamu Wisata Wayang.  “Jadi wisatawan menginap di rumah warga dan menjalani kehidupan, seperti makan dan minum, bersama warga. Paket ini ternyata banyak peminatnya karena, mungkin, banyak wisatawan pun ingin merasakan bagaimana keseharian kehidupan di desa,” ujar Demy. (SELESAI).

Hikayat Wayang Pucung (2)

“BISO mergo kulino”, artinya “bisa karena terbiasa”. Itu yang diraskan Demy Raharja. Ketika hatinya “krenteg” atau tergerak untuk mengembangkan wayang, dengan kesadaran penuh, maka ia pun mulai menekuni profesi yang ditekuni bapaknya.

Tidak berhenti sampai di situ, Demy mulai mendekati teman-teman sebaya untuk menanamkan “virus cinta wayang”. Bukan berangkat dari kondisi kehidupan perajin wayang yang relatif tidak moncer, tetapi masuk dari keprihatinan sebagai anak bangsa, demi melihat infiltrasi budaya asing yang begitu masif.

Jika tidak ada gerakan mengembangkan budaya lokal, niscaya anak-cucu kita kelak tidak akan pernah mengetahui seni tradisi seperti wayang kulit. Usaha Demy pelan tapi pasti membuahkan hasil. “Kami bertekad membuat gerakan untuk melestarikan budaya wayang kulit sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar hidup dari kerajinan wayang. Akhirnya, lahir gagasan mewujudkan  Wisata Wayang di Desa Pucung, Wukirsari, yang mulai beroperasi sejak 2014 lalu,” kata Demy.

Gagasan itu sebenarnya sudah lama. Dan baru terwujud berkat program sosial BCA melalui desa. Pihak desa kemudian menyediakan lahan kas desa seluas 6.000 meter persegi.

Kini, Demy dan komunitas Wisata Wayang Desa Pucung sudah sering berpameran di berbagai kota, termasuk di Jakarta. “Selain pameran wayang, kami juga mengenalkan produk desanya yakni ‘Wisata Wayang’. Selama dua tahun berjalan, katanya, Wisata Wayang berjalan bagus dan mulai banyak dikenal di berbagai kalangan,” ujarnya.

Tamu-tamu yang datang, umumnya rombongan, baik dari sekolah-sekolah, perusahaan atau kelompok-kelompok tertentu. Rombongan wisatawan asing juga banyak. “Nanti, akhir Juni rombongan wisatawan dari Australia juga akan datang ke Bantul. Sekarang ini agenda setiap bulan selalu terisi,” tambahnya. ***