Tok, Pemerintah Tetapkan 14 Februari Libur Nasional Pemilu 2024

JAYAKARTA NEWS – Pemerintah menetapkan tanggal 14 Februari 2024 sebagai hari libur nasional dalam rangka pemungutan suara Pemilu Serentak 2024. Keputusan ini disahkan dan tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2024 yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada 6 Februari 2024.

“Menetapkan hari Rabu tanggal 14 Februari 2024 sebagai hari libur nasional dalam rangka Pemilihan Umum Tahun 2024,” demikian dikutip dari Kepres yang diunggah di situs resmi Kementerian Sekretariat Negara, Selasa (6/2/2024).

Dikutip dari Laman NU, Rabu (7/2/2024), penetapan hari pemungutan suara sebagai hari libur nasional ini ditujukan untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada warga negara Indonesia untuk menggunakan hak pilihnya. Hal ini selaras dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2023 yang menyebutkan bahwa pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional.

Pada Pemilu serentak tahun 2024 ini, masyarakat Indonesia yang memiliki hak suara akan memilih Capres dan Cawapres, DPD, dan DPR mulai dari pusat sampai daerah. Pemilu tahun ini akan diikuti oleh 24 partai politik dan yang terdiri dari 18 partai politik nasional dan 6 partai lokal Aceh.

Sebelumnya, Kementerian Ketenagakerjaan juga telah menyetujui surat edaran yang mengenai hari libur untuk buruh atau pekerja pada tanggal 14 Februari 2024 atau saat hari pencoblosan pemilihan umum (pemilu). Surat edaran ini resmi ditandatangani oleh Ida pada tanggal 26 Januari 2024 dan disampaikan kepada Presiden, Wakil Presiden, serta Menteri Kabinet Indonesia Maju.

Selain itu, surat edaran ini juga diteruskan kepada Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Pengusaha Indonesia, dan para pimpinan dari konfederasi serikat pekerja/serikat buruh.

Peraturan itu tertuang dalam Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota menjadi Undang-Undang, pemungutan suara dilaksanakan secara serentak pada hari libur atau hari yang diliburkan secara nasional. 

Dengan keputusan Pemilu sebagai hari libur nasional, maka relatif banyak hari libur yang akan terjadi di bulan Februari 2024, yaitu:

Kamis, 8 Februari 2024: Libur Nasional Isra Mikraj Nabi Muhammad saw

Jumat, 9 Februari 2024: Cuti Bersama Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili

Sabtu, 10 Februari 2024: Libur Nasional Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili

Rabu, 14 Februari 2024. Libur Nasional Pemilu***/mel

Menag Launching Pendidikan Keagamaan Buddha Formal Dhammasekha

JAYAKARTA NEWS – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, Dhammasekha merupakan bagian dari kontribusi umat Buddha memberikan pendidikan formal sekaligus pendidikan keagamaan bagi anak bangsa.

“Ini menunjukkan keinginan umat Buddha berkontribusi mencerdaskan anak-anak bangsa,” terang Menteri Agama saat Launching Dhammasekha, Direktorat Jenderal Bimas Buddha di Jakarta.

Dhammasekha merupakan pendidikan keagamaan Buddha formal yang menyelenggarakan pendidikan umum yang bersumber dari ajaran Buddha dan dipadukan dengan pengetahuan serta pandangan hidup. Selama tiga tahun terakhir kepemimpinan Gus Men, panggilan Menteri Agama, telah lahir 22 Dhammasekha dari 40 Dhammasekha yang ada.

Gus Men menyebut keterlibatan pihak swasta dalam mendirikan Dhammasekha ini sangat penting. “ Di agama Islam ada madrasah, ia lahir dari inisiatif masyarakat, Dhammasekha juga kurang lebih lahir dari masyarakat,” kata Gus Men, Jumat (15/12/2023).

Ia menyampaikan, meski Dhammasekkha lahir dari inisiasi masyarakat, namun pemerintah tidak boleh berpangku tangan. Gus Men minta Direktorat Jenderal Bimas Buddha untuk memperhatikan dan memberikan afirmasi bagi Dhammasekha swasta.

“Saya bilang ke pak Dirjen, yang diurus jangan hanya Dhammasekha milik pemerintah, tapi yang justru lebih penting juga mendapat perhatian Dhammasekha yang dikelola swasta,” pinta Gus Men.

“Harus diberikan afirmasi-afirmasi agar Dhammasekha swasta berkembang lebih baik,” sambungnya.

Sebagai lembaga pendidikan, Dhammasekha memiliki jenjang pendidikan lengkap, yaitu Nava Dhammasekha (Pendidikan Usia Dini), Mula Dhammasekha (Pendidikan Dasar), Muda Dhammasekha (Pendidikan Menengah Pertama), dan Uttama Dhammasekha (Pendidikan Menengah Kejuruan).

Menurut Menag, agar bisa disebut pendidikan yang memadai dan layak dan bisa diharapkan generasi mendatang menjadi tantangan tersendiri.

“Mengejar jumlah atau kuantitas jangan jadi dasar utama cara mengelola pendidikan, tapi lebih dari itu kualitas juga penting. Dhammasekha harus setara dengan MAN Insan Cendekia Serpong Banten yang dinilai sebagai sekolah terbaik melangkahi SMA-SMA favorit saat ini. Saya ingin salah satu Dhammasekha bisa seperti MAN IC Serpong,” harap Gus Men.

Direktur Jenderal Bimas Buddha Supriyadi menambahkan, sampai saat ini jumlah Dhammasekha di Indonesia mencapai 43 dengan 1.057 siswa, serta 261 orang pendidik dan tenaga kependidikan profesional.

“Semua penyelenggaraan pendidikan Dhammasekha memiliki Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN) serta Nomor Induk Siswa Nasional (NISN) dan Education Management Information System Emis, Kemenag,” ujar Supriyadi.

Tampak hadir, Staf Khusus Menteri Agama Bidang Media dan Komunikasi Publik Wibowo Prasetyo, Dirjen Bimas Katolik Suparman, Ketua Permabuddhi Philip K. Widjaja, Y.M. Bhante Dhammavudho Mahathera, Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Akhmad Fauzin dan sejumlah tokoh agama Buddha.***/mel

EKSIL: Kuburan Saya Ada di Mana-mana

JAYAKARTA NEWS— Puisi karya Chalik Hamid, seorang eksil (orang buangan, orang terasing) di Albania ini sempat menggegerkan para insan penegak hak asasi. Chalik Hamid adalah anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), ormas onderbouw PKI dan Ketua PPI di Albania.

“Saya dikirim oleh Presiden Soekarno belajar sastra di Albania. Biar saya kini sudah jadi warganegara Belanda (pasca perang di Albania, dia pindah ke Belanda), tapi pikiran saya tetap ada di sana, Indonesia,” ujar Chalik Hamid yang hampir 30 tahun tak pernah pulang ke Indonesia.

“Ketika ibu dan ayah serta abang saya wafat, saya enggak boleh pulang ke Indonesia,” urai Chalik Hamid ketika diwawancarai oleh Lola Amaria (sutradara, produser) dalam film bertajuk ‘Eksil’ (The Exile) ketika diputar di XXI Epicentrum dalam upaya mengumpulkan donasi untuk Palestina, baru-baru ini.

Ada 10 eksil di Belanda, Jerman, Tiongkok, Cheko Slovakia, Swedia dan Albania yang jadi nara sumber film Eksil yang berdurasi 119 menit dan diklasifikasi untuk 13 tahun ke atas oleh LSF.

‘Eksil’ yang meraih Piala Citra sebagai film dokumenter terbaik di FFI 2023 ini mengangkat sejarah kelam bangsa Indonesia pasca meletusnya G 30 S di tahun 1965/1966.

Lola Amaria : Saya dituduh agen intelijen. (foto: Fitriawan Ginting)

“Saya harus cepat membuat film ini. Karena beberapa eksil ada yang sudah wafat dan sakit tua. Hampir 2 tahun lebih saya merampungkan Eksil yang dibantu Shalahuddin Siregar sebagai penyunting gambar,” cerita Lola Amaria.

Akhirnya, hanya beberapa tokoh yang berhasil diwawancarai Lola tentang kisah perjuangan dan sepak terjangnya selama mengembara dari satu negara ke negara lain.

Asahan Alham Aidit, Sarjio Mintardjo, I Gede Arka, Tom Ilyas dan Hartoni Ubes tercatat beberapa eksil yang sempat jadi nara sumber film ini.

“Bahkan, ada eksil yang curiga dan saya dituding agen intelijen Soeharto atau siapa lah. Tapi saya jelaskan bahwa saya hanya khusus membuat film tentang mereka dan film ini juga didukung organisasi Amnesty International Indonesia dan individu-individu pegiat hak asasi manusia,” beber Lola.

Dari hasil wawancara para eksil, kehidupan mereka benar-benar pahit berkepanjangan. Pasport dicabut, dan status warganegara hilang bahkan status kekerabatan dengan sanak saudara juga hilang.

“Bayangkan. Para eksil kerja serabutan di luar negeri di luar ahli dan keilmuannya. Mereka berjuang untuk hidup dengan pindah-pindah negara. Mereka terus diintimidasi dan ditakuti. Dicap komunis dan harus pro Orde Baru dan Soeharto. Padahal mereka enggak semua PKI. Mereka Soekarnois dan pendukung Soekarno. Para eksil ada yang tugas belajar dan dikirim oleh Soekarno ke luar negeri,” imbuh Lola lagi.

Lola Amaria yang didukung Usman Hamid selaku Direktur Amnesty International Indonesia mengaku prihatin dengan nasib para eksil pasca G 30 S akibat stigma komunis yang melekat dalam diri mereka.

“Negara bertanggung jawab minta maaf. Presiden Gus Dur sudah memulainya dan mengajak eksil pulang ke Indonesia. Cinta mereka kepada tanah air Indonesia enggak diragukan lagi,” kata Usman Hamid.

Lola Amaria sendiri mengungkapkan sejak SD, SMP sampai SMA hanya dicekoki film ‘Pemberontakan G 30 S/PKI’ yang jadi wajib tonton di masa Soeharto. “Saya penasaran dan akhirnya saya membuat versi lain yaitu film ‘Eksil’ ini,” papar Lola.

Bagaimana kalau film Eksil diprotes dan dituntut enggak boleh tayang karena persoalannya cukup peka ?

“Silakan. Ingat lho. Ini era reformasi. Keterbukaan harus diungkapkan, enggak boleh ditutupi terus,” jawab Lola tenang.

Bagi dirinya sebagai seorang sineas dan warganegara yang baik, dia terus memikul beban sejarah kelam pasca G 30 S.

“Ini sebuah karya saya dilihat dari perspektif berbeda,” tegas Lola Amaria.
Klop. (pik)

Akan Digelar di Surabaya, Menag Harap Perayaan Natal Nasional 2023 Memorable

JAYAKARTA NEWS – Perayaan Natal Nasional 2023 rencananya akan digelar pada 27 Desember 2023, di Surabaya, Jawa Timur. Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berharap, perayaan yang rencananya akan melibatkan 30 ribu umat kristiani ini dapat berlangsung lancar dan menjadi momen yang bisa diingat sepanjang masa.

Dikutip dari Rilis Kemenag, Sabtu (2/12/2023), hal ini disampaikan Menag saat memberi arahan dalam rapat koordinasi persiapan Natal Nasional 2023 yang digelar secara daring.

“Presiden berharap kita mempersiapkan Natal Nasional ini dengan baik, dengan well perform, dan dapat menjadi sesuatu yang memorable. Jadi bisa benar-benar diingat dan dikenang sepanjang masa, bukan hanya oleh umat Kristiani saya kira, tapi juga oleh bangsa Indonesia secara umum,” ungkap Menag di Jakarta, Jumat (1/12/2023).

Turut hadir dalam rapat tersebut Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi, Wakil Menteri Parekraf Angela Tanoesoedibjo, Plt Dirjen Bimas Katolik Kemenag AM Adiyarto Sumardjono, jajaran pejabat Ditjen Bimas Kristen dan Katolik Kemenag, serta perwakilan PGI dan KWI.

Dalam kesempatan tersebut, Menag juga menyampaikan bahwa pihaknya telah menerbitkan Keputusan Menteri Agama (KMA) tentang penyelenggaraan Natal Nasional 2023. “Isi dari KMA tersebut salah satunya memohon kesediaan Menkominfo Budi Arie Setiadi untuk menjadi Ketua Umum Perayaan Natal Nasional 2023,” ujar Menag.

Natal Nasional tahun ini akan mengusung tema “Kemuliaan Bagi Allah dan Damai Sejahtera di Bumi (Lukas 2:14)”.

“Tema yang sudah diputuskan sesuai dengan pesan natal PGI dan KWI. Pesan natal ini menjadi spirit kita semua di tengah tahun politik yang menurut saya juga harus menjadi perhatian kita,” kata Menag.

Menag juga mendorong keterlibatan seluruh umat beragama dalam perayaan natal nasional kali ini. “Misalnya organisasi masyarakat seperti Banser, atau Kokam, atau lainnya dapat terlibat dalam pengamanan pada prosesi perayaan natal nasional. Jadi tidak hanya dari aparat keamanan saja,” harap Menag.

“Ini menarik untuk bisa kita tunjukkan kepada publik dan dunia bahwa umat Kristiani di Indonesia ini sangat terbuka bagi perbedaan, latar belakang, dan kebhinekaan yang sudah menjadi takdir bagi Indonesia,” imbuhnya.

Senada dengan Menag, Menkominfo Budi Arie Setiadi juga berharap perayaan Natal Nasional 2023 ini menjadi momentum untuk dapat menunjukkan pluralitas dan kebhinekaan Indonesia.

“Kita akan berkoordinasi terus, dan kita berharap Natal Nasional ini akan berlangsung meriah dan bisa menggambarkan apa yang disampaikan Pak Menteri Agama,” kata Menkominfo Budi Arie Setiadi.

“Kita berharap, perayaan Natal Nasional bisa memorable, dapat memberikan warna dan pesan bahwa Indonesia begitu pluralis, begitu bhineka sesuai dengan takdir Indonesia,” imbuhnya.***/mel

Kemenag Gelontorkan 1,3 M Bantu Penelitian Dosen PTK Kristen

JAYAKARTA NEWS – Afirmasi terhadap pendidikan keagamaan terus diberikan oleh Kementerian Agama. Terbaru, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen (Ditjen) memberikan bantuan penelitian senilai total Rp.1.370.000.000 kepada 36 tim dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen (PTKK).

“Pemberian bantuan penelitian ini merupakan bagian program prioritas Kementerian Agama, yaitu moderasi beragama. Kemenag berkomitmen untuk meningkatkan kualitas layanan bagi semua agama, termasuk pada pendidikan keagamaan Kristen,” tutur Dirjen Bimas Kristen Jeane Maria Tulung di Jakarta, Kamis (2/11/2023).

Selain itu, sambung Dirjen, program bantuan penelitian ini terkait juga dengan kepentingan pengembangan keilmuan, mutu dan akreditasi, SDM serta afirmasi pada PTKK.

“Setelah dilakukan seleksi ketat, kami memutuskan 36 dosen PTKK baik negeri maupun swasta berhak atas bantuan pemerintah ini,” kata Jeane.

Jeane menambahkan, ada empat skema kategori bantuan yang diberikan. Pertama, skema bantuan pembinaan/pengembang kapasitas. Untuk kategori diberikan kepada empat orang dosen dan masing-masing menerima beasiswa senilai 20 juta rupiah.

Kedua, skema bantuan penelitian dasar/pengembang keilmuan program studi. Terdapat 10 dosen yang menerima beasiswa kategori ini dengan nominal sebesar Rp 30 juta/orang.

Ketiga, skema bantuan penelitian pengembang pendidikan tinggi. Bantuan ini diberikan kepada 11 penerima dengan masing-masing mendapat beasiswa senilai Rp 40 juta.

Keempat, skema bantuan penelitian terapan kajian strategi nasional. Bantuan ini diberikan kepada 11 penerima dengan masing-masing mendapat beasiswa senilai Rp 50 juta.

Berikut daftar nama penerima bantuan penelitian:

I. SKEMA BANTUAN PENELITIAN PEMBINAAN/PENGEMBANG KAPASITAS:

1. Dr. Alrik Lapian, S.Th., M.Sn., Dr. Markus Wibowo S.Th., M.Sn., Maria Armalita Tumimbang, M.Sn., Andre Yohanis Herani Sahadula (Judul penelitian: Eksistensi Musik Bambu Entel Dalam Liturgi Ibadah Di Gereja GERMITA Sasanggelo Di Kecamatan Beo Kabupaten Kepulauan Talaud Provinsi Sulawesi Utara)
2. Dr. Talizaro Tafonao, M.Pd.K., Yunardi Kristian Zega, M.Pd. (Judul penelitian: Metaverse: Revolusi Dan Krisis Gereja Dalam Era Digital)
3. Royke Lantupa Kumowal, M.Th., Heliyanti Kalintabu, S.Th., M.Pd.K., Charolin Geby Bambung (Judul penelitian: “Dumia Umbanua” : Kajian Teologi Misi Kontekstual Dan Implementasinya Dalam Moderasi Beragama Di Desa Laikit Kabupaten Minahasa Utara)
4. Muis Saifuddin Anshari Pikahulan, M.H., Drs. Sudirman Simanihuruk, M.Th., Franklin Stevan Dahaklory, M.Pd.(Judul Penelitian: Peran Tokoh Agama Dalam Mendorong Moderasi Beragama: Studi Kasus Kota Ambon)

II. SKEMA BANTUAN PENELITIAN DASAR/PENGEMBANG KEILMUAN PROGRAM STUDI:

1. Dr. Wolter Weol, S.Th., M.Pd. dan Denni H.R. Pinontoan, M.Th. (Judul Penelitian: Paradigma Mapalus dalam Penguatan Moderasi Beragama: Studi Budaya Minahasa dengan Pendekatan Relasi Intersubjektif dalam Konteks Masyarakat Majemuk di Sulawesi Utara);
2. Dr. Setinawati, M.Th., Isabella Jeniva, M.Si. BELUM RUHUI RAHAYU Dalam Bingkai Moderasi Beragama: Kajian Sosio-Teologi Terhadap Peran Agama Dan Budaya Pada Masyarakat Dayak di Desa Tewang Darayu, Kabupaten Katingan, Provinsi Kalimantan Tengah;
3. Dr. Serli Patasik, M.Th., Arie Rissing Natalia, S.Th., M.Pd.K., Patar Rudianto Butar-butar (Judul Penelitian: FILOSOFI ONOMI REIMAI Membangun Moderasi Beragama di Sentani);
4. Dr. Suryaningsi Mila, M.Si., Andriarto Kapu Enda, M.Pd.K. (Judul Penelitian: Membingkai Ulang Misi Gereja di Tengah Pluralitas Agama : Suatu Studi terhadap Praktik dan Model Misi Gereja Kristen Sumba Jemaat Waingapu);
5. Tio R.J. Nadeak, M.Pd., Debora Purba, S.S., M.Sc., Ade Putera Arif Panjaitan, M.Si., Bambang T.J. Hutagalung, M.Kom. (Judul Penelitian: Potensi Voluntourism Dalam Perkembangan Pariwisata Berkelanjutan di Tapanuli Utara)
6. Dr. Yowelna Tarumasely,M.Pd., Dr. Mercy Florence Halamuri, M.Pd.K., Yunita Sipahelut, M.Psi.,Psikolog, Wilhemus Labobar.M.Pd. (Judul Penelitian: Analisis Dampak Penggunaan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) Terhadap Motivasi Dan Perilaku Belajar Mandiri Siswa SMA Di Kota Ambon)
7. Dr. Lustani Samosir, M.Pd., Dr. Robert Juni Tua Sitio,M.Pd., Frainskoy Rio Naibaho, M.Kom., Maryska Debora Silalahi (Judul Penelitian: Moderasi Beragama dalam Kehidupan Sosial Mahasiswa Sumatera Utara (Gambaran Perilaku Moderasi Beragama Pada Mahasiswa Di Sumatera Utara))
8. Dr. Fibry Jati Nugroho, S.Th., M.Si, Dwi Novita Sari, S.Th., M.Pd., Agustinus Tunda (Judul Penelitian: Konstruksi Moderasi Beragama Masyarakat Salatiga Sebagai Kota Toleran)
9. Dr. Bestian Simangunsong, M.Th., Dr. Hanna Dewi Aritonang, M.Th., Mega Intan Tambunan (Judul Penelitian: Menghidupi Spiritualitas Ekologis: Sebuah Panggilan Kristen di Tengah Krisis Lingkungan Hidup di Indonesia)
10. Dr. Aselmus. A.J.E. Toenlioe, M.Pd., Dr. Lidia Susanti, M.P., Dr. Janneman R. Usmany, M.Pd.K., Dr. Amir Hamzah, M.Pd., Fransisca Kurniajaya, Yohanes Setiawan (Judul Penelitian: Pengembangan Kurikulum Merdeka Berbasis Pertumbuhan Iman Dan Kecakapan Hidup (Soft Skill) PAUD Kristen Se-Malang Raya)

III. SKEMA BANTUAN PENELITIAN PENGEMBANG PENDIDIKAN TINGGI:

1. Dr. Farno Billy Arthur Gerung, M.Th. dan Krueger Kristanto Tumiwa, M.Si. Teol. (Judul Penelitian: Paradigma Integratif Keilmuan Kristen Untuk Pengembangan Konsorsium Keahlian Dosen di PTKK)
2. Stevri P.N. Indra Lumintang dan Zummy Anselmus Dami (Judul Penelitian: Faktor-Faktor yang Meningkatkan Organizational Citizenship Behavior dan Kepuasan Kerja Dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen: Menguji Peran Motivasi untuk Melayani, Servant Leadership, Kepercayaan dan Leader-Member Exchange)
3. Dr. Elka Anakotta, M.Si. dan Dr. Flavius Andries, M.A (Judul Penelitian: Negara, Agama dan Nasionalisme (Penolakan Pembangunan Sekolah Kristen di Pare-Pare Sulawesi Selatan))
4. Prof. Dr. Amos Neolaka, M.Pd., Dr.Phil. Jenry Elrich Cornelis Mandey., Dr. Marthin Steven Lumingkewas, M.Div., Dr. Sri Mulyani, S.Si., M.Si. (Judul Penelitian: Aplikasi Deteksi Dini SALUTI (Sadar Akan LUka haTI) Berbasis Android bagi Masyarakat Tangerang Selatan)
5. Dr. Junihot M. Simanjuntak, M.Pd., Nelson Hasibuan, M.Th. (Judul Penelitian: Model Manajemen Mutu Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Di Indonesia Berbasis Produk Penelitian Dan Publikasi Dosen).
6. Dr. Agusthina Siahaya, M.Th., Ajuan Tuhuteru, M.Ikom., Erika Christine Panggabean, M.M. (Judul Penelitian: Analisis Model Kompetensi Dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Negeri Berdasarkan PERDIRJEN Nomor 2626 Tahun 2023)
7. Dr. Meily Meiny Wagiu, M.Th., Ryanto Adilang, M.Th., Samuel Wailan Leonard Wanget, M.Th. (Judul Penelitian: Reinterpretasi Kisah Perwira Kapernaum Dalam Kajian Kritik Historis Teks Lukas 7:1-10 Dan Relevansinya Dengan Moderasi Beragama Melalui Pendidikan Kristiani di Kota Manado)
8. Dr. Johannis Siahaya, M.Th., M.Pd., Dr. Nunuk Rinukti, M.Th., M.Pd.K. (Judul Penelitian: Pemakaian Nama Tete Manis Sebagai Pengganti Nama Tuhan Yesus Suatu Jembatan Moderasi Beragama Dalam Emik Budaya Maluku)
9. Prasetiwati, M.Th., Yonatan Gabriel, Johnson Wadani (Judul Penelitian: Penguatan Strategi Pembelajaran Lintas Pihak Berbasis Komitmen Tanggung Jawab Dalam Budaya Dayak Bagi Keberlanjutan Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Tingkat Sekolah Menengah Pertama di Kalimantan Tengah)
10. Agustinus, Reynaldo Pabebang (Judul Penelitian: MA’TA’DA: Kritik Teologi Terhadap Ritual Ma’ta’da Berdasarkan Perspektif Pengakuan Iman Westminster Mengenai Penyembahan)
11. Dr. Ibelala Gea, S.Th., M.Si., Dr. Herdiana Boru Hombing, M.Th., Grecetinovitria Merliana Butar-butar, M.Th. (Judul Penelitian: Peran Gereja dalam Memutus Mata Rantai Kekerasan Sekseual Terhadap Anak)

IV. SKEMA BANTUAN PENELITIAN TERAPAN KAJIAN STRATEGI NASIONAL:

1. Prof. Dr. Sonny Eli Zaluhu, M.Th., Dr. Robinson Rimun, M.Th., Dr. Joseph Chris Santo, M.Th. (Judul Penelitian: Digital Religion and Theological Perspective Systematic Literature Review)
2. Dr. Olivia Cherly Wuwung, S.T., M.Pd., Dr. Jefri Mailool, S.T., M.Pd., Firmanians Tuerah, M.Phil., Darmianus Harefa, M.Pd.K. (Persepsi Mahasiswa Terhadap Toleransi Antar Budaya Di Lingkup Pendidikan Tinggi Kristen)
3. Dr. Harun Y. Natonis, M.Si., Merling Tonia Litron Litos Conthes Messakh, M.Pd., Agustinus Nggiku (Judul Penelitian: Implementasi Misi PAK melalui Rumah Moderasi Beragama di Indonesia)
4. Prof. Mareyke M.W. Tairas, Ph.D., Dr. Dwi Ariefin, S., S.Pd., M.Th., Dr. Mariani Harmadi, S.Pd., M.Th., Dwi Anugrahani H., S.Pd. (Judul Penelitian: Riset Survei Kompetensi Pedagogik Guru dalam Implementasi Merdeka Belajar pada Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen di Sekolah Menengah Tingkat Pertama Nasional)
5. Prof. Dr. Ch.D.W. Sahertian, M.Pd., Dr. Onisimus Amtu, M.Pd., Dr. Hendrik A.E. Lao, M.Pd., Ribka Manufandu (Judul Penelitian: Meningkatkan Layanan Jasa Pendidikan Dengan Budaya Akademik Dan Implementasi SPMI Melalui Model Servant Leadership Sebagai Variabel Moderating Di PTKKN)
6. Dr. Sarmauli, M.Th., Dr. Tolop Oloan Marbun, M.Th., M.Pd., Dr. Yamowa’a Bate’e, M.Th., Lilyantie, S.Th., M.Si., Dr. Agus Surya, M.Th. (Judul Penelitian: Kajian Teologis Antropologis terhadap Makan Sapa dalam tradisi Batak Toba di Kabupaten Samosir dan Implikasinya terhadap Komunikasi Interreligious)
7. Prof. Benyamin Fleming Intan, Ph.D., Prof. Yahya Wijaya, Ph.D., Calvin Nathan Wijaya, Semy Arayunedya (Judul Penelitian: Missiology from Below: A Perspective of Laity on Evangelism in Muslim-Majority Indonesia)
8. Prof. Dr. Albiner Siagian, M.Si., Melinda Siahaan, Ph.D., Dian Purba, M.A. (Judul Penelitian: Budaya Persahabatan Batak: Studi Teologis Praktik Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Suku Batak Toba di Tapanuli Raya)
9. Telhalia, D.Th., Alfonso Munte, M.Pd.K. (Judul Penelitian: Sektor Energi Berkelanjutan Tanpa Karbon Indonesia 2060 Berbasis Eco-Theo-Sophy: Studi Kasus di Kalimantan Tengah)
10. Fredrik Warwer, Devid R. Pontoan (Judul Penelitian: Kajian Model Pembelajaran Dan Pembentukan Karakter Berbasis Kearifan Lokal “Rumsram” Dalam Perspektif Kristen)
11. Joni Tapingku dan Yohanes Krismantyo Susanta (Judul Penelitian: Membaca Kisah Pemerkosaan Tamar dalam 2 Samuel 13 dari Perspektif Hermeneutika Trauma dan Implikasinya bagi Perempuan Penyintas Kekerasan Seksual di Indonesia)***/mel

Ketum PBNU Sebut Sarung Bukti Kesinambungan Peradaban Hindu, Buddha, dan Islam

JAYAKARTA NEWS – Hari Santri 2023 dimeriahkan dengan Sarung Santri Nusantara. Bertempat di Gedung Negara Grahadi Nusantara Surabaya, acara ini berlangsung dalam nuansa berbeda.

Para tamu undangan hadir dengan mengenakan sarung dengan beragam corak dan warna. Hadir, Menag Yaqut Cholil Qoumas, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Abdullah Azwar Anas, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, Wamenag Saiful Rahmat Dasuki, jajaran pejabat Eselon I dan II Kemenag, serta ratusan santri dan warga Surabaya.

“Sarung adalah bukti kesinambungan sejarah dan ketersambungan kawasan peradaban yang sangat luas. Kalau di Indonesia yang mayoritas muslim, santri dan kiainya bersarung, mari kita lihat, masyarakat India yang Hindu juga bersarung, Myanmar yang Buddha juga bersarung,” terang KH Yahya Cholil Staquf di Surabaya, Sabtu (21/10/2023) malam.

“Sarung merupakan penyambung dari sekian banyak masyarakat yang heterogen dalam satu kawasan peradaban yang luas,” sambungnya.

Dijelaskan Gus Yahya, panggilan akrabnya, sarung sudah dipakai orang di Nusantara bahkan sejak sebelum Islam dikenal di sini. Artinya, walaupun masyarakat Nusantara sekarang mayoritas muslim, sarung tetap jadi bagian dari tradisi kehidupan mereka.

Sejarah peradaban Nusantara, kata Gus Yahya, terus bersambung dari zaman ke zaman. Meski pada satu masa, misalnya, Sriwijaya, sangat diwarnai tradisi Buddha dan sekarang menjadi masyarakat mayoritas muslim, tapi karakter budayanya (sarung) tidak berubah.

“Ini modal yang menjadikan santri Nusantara ini selamat dari gonjang-ganjing sejarah global yang menjadi kesulitan di tempat lain. Ini patut kita syukuri, makna sarung dan vitalitas budayanya. Tidak ada yang lebih ulet dari vitalitas budayanya melebihi sarung,” papar Gus Yahya.

“Sarung dari zaman kuno sampai sekarang bentuknya sama. Motifnya tinggal kreativitas komunitas tenun. Sarung punya vitalitas budaya ulet,” lanjutnya.

Hal senada disampaikan Wakil Menteri Agama Saiful Rahmat Dasuki. Menurutnya, sarung merupakan bagian yang tidak lepas dari ciri bangsa. Bahkan, sarung yang sebelumnya identik dengan masyarakat kampung dan tradisional, kini digunakan juga dibanyak acara kenegaraan yang dihadiri Presiden dan Wakil Presiden.

Selain vitalitas budaya, kata Wamenag, tenun sarung menggambarkan nilai persatuan dan kesatuan. “Sarung ditenun dari helai demi helai benang hingga menjadi sarung. Ini wujud psrsatuan dan kesatuan. Sarung kuat karena diikat melalui tenun,” jelas Wamenag.

“Sarung adalah kekayaan Nusantara. Kain tradisional sarat makna budaya Nusantara. Digunakan secara nasional dalam beragam kegiatan. Kita berharap suatu hari nanti akan memperingati Hari Sarung Nasional,” tandasnya.***/mel

Lepas Jutaan Peserta Jalan Santai, Gus Yahya: Jihad Santri Jayakan Negeri

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Ketua Umum PBNU menegaskan pentingnya peran santri dalam membangun negeri. Peran itu antara lain terwujud dari semangat jihad fi sabilillah yang sudah digelorakan sejak zaman perang kemerdekaan.

Pesan ini disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf saat melepas Jalan Santai Hari Santri 2023 di Surabaya, Sabtu (21/10/2023). Hadir, Menag Yaqut Cholil Qoumas, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan jajarannya, Sekjen PBNU Saifullah Yusuf, Wamenag Saiful Rahmat Dasuki, para pejabat Eselon I Kemenag, Kakanwil Kemenag Jawa Timur Khusnul Maram, Walikota Surabaya Eri Cahyadi, dan jajaran Forkompimda Jawa Timur dan Kota Surabaya.

Acara ini diselenggarakan atas kerja sama Kementerian Agama, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Menurut Gus Yahya, panggilan akrabnya, mengingatkan peran santri dalam jihad fii sabilillah mempertahankan NKRI, menjaga Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 1945. “Mari kita berjihad. Sebab negara ini didirikan dengan jihad. Masa depannya juga harua diperjuangkan dengan jihad. Jihad santri, jayakan negeri,” tegas Gus Yahya.

Negeri ini, kata Gus Yahya, tidak akan berjaya tanpa jihad dari warganya. Jihad yang dilandasi semangat kepahlawanan sebagaimana diteladankan para pahlawan demi tegaknya Indonesia.

Ditanya kenapa Hari Santri dipusatkan di Surabaya, Gus Yahya menjelaskan bahwa itu tidak lepas dari sejarah Resolusi Jihad yang digaungkan para ulama pada 22 Oktober 1945. Saat itu, mereka berkumpul di Surabaya dan meminta pemerintah memobilisasi warganya untuk jihad fii sabilillah, mempertahankan NKRI dari upaya sekutu untuk menjajah kembali.

“Surabaya menjadi pusat dari pertarungan mempertahankan NKRI. Peristiwa itu menjadi titik penting sebagai pondasi keberlangsungan proklamasi,” jelas Gus Yahya.

“Mari jangan sampai kejayaan yang telah diperjuangkan para pahlawan itu batal di masa depan karena kita tidak mampu meneladani kepahlawanan mereka,” sambungnya.

Menag Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, jalan santai digelar dalam semarak Hari Santri sebagai ikhtiar menjaga kesehatan dan memberi nuasan kegembiraan. Menurutnya, Hari Santri patut dirayakan dengn riang gembira.

“Ini menunjukkan bahwa negara mengakui perjuangan para santri, memberikan kado istimewa yakni Hari Santri,” sebutnya.

“Santri selalu terlibat menjadi bagian dalam momentum penting negeri ini. Momentum Hari Santri menunjukkan bahwa setiap episode sejarah negeri ini, selalu melibatkan santri,” tandasnya.

Jalan santai ini diikuti jutaan warga masyarakat dan santri dari berbagai daerah di Jawa Timur, bahkan provinsi lainnya. Mereka memadati sepanjang Jalan Gunernur Suryo, Kota Surabaya, sejak pagi.

Jalan santai dilepas Gus Yahya mulai pukul 06.30 WIB dari Jalan Gubernur Suryo, tepatnya di depan Gedung Negara Grahadi. Peserta lalu menuju jalan Jenderal Soedirman, lalu keJalan Basuki Rahmat, kawasan Embong Malang, Praban, Siola, lalu balik ke Gedung Negara Grahadi.

Panitia telah menyiapkan banyak doorprize, mulai dari sepeda gunung, televisi, lemari es, 60 paket umrah hingga mobil.

Selain jalan santai, Hari Santri 2023 dimeriahkan dengan beragam acara. Ada Pagelaran Sarung Santri Nusantara yang diadakan di Gedung Negara Grahadi dan pembacaan 1 miliar Shalawat Nariyah di Masjid Al-Akbar Surabaya. Puncaknya, digelar Apel Hari Santri di Tugu Pahlawan Surabaya yang akan dihadiri langsung Presiden Joko Widodo yang bertindak sebagai Pembina Apel.***/mel

Semarak Hari Santri 2023, Rayakan Keberagaman dengan Sarung Nusantara

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Keragaman Indonesia yang semarak akan ditampilkan melalui Peragaan Sarung Santri Nusantara. Acara ini akan mempersembahkan busana sarung yang selama ini identik dengan busana santri dalam gaya yang berbeda. Peragaan Sarung Nusantara ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Santri 2023 yang diselenggarakan Kementerian Agama bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan PBNU.

“Hari Santri adalah momen penting yang menyoroti peran santri dalam memelihara dan mewariskan nilai-nilai agama, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan. Dengan semangat yang tulus, para santri dapat menjadi penjaga tradisi sekaligus pembangun Indonesia modern,” kata Plt Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Waryono Abdul Ghafur saat konferensi pers terkait perayaan Hari Santri 2023 di Surabaya, Jumat (20/10/2023).

Hadir juga Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie dan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Pemprov Jawa Timur.

Peragaan Sarung Santri Nusantara akan berlangsung di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Acara berlangsung pada 21 Oktober 2023 dan dijadwalkan dimulai pada sekitar pukul 19.00 WIB. Pagelaran ini akan menjadi sorotan utama dengan penampilan Raka Raki dan Cak Ning, yang mengenakan corak dan model sarung beraneka ragam dari seluruh penjuru Indonesia di mana merupakan interpretasi modern dari pakaian tradisional.

Juru Bicara Kementerian Agama Anna Hasbie, menyambut baik diselenggarakannya acara ini. Menurutnya, Peragaan Sarung Santri Nusantara menjadi etalase keragaman bangsa yang dibalut dalam semangat persatuan dan kegembiraan.

“Ini merupakan kegiatan yang dapat menyatukan orang dari berbagai latar belakang dalam perayaan warisan bersama,” sambutnya.

Selain peragaan sarung santri, acara ini juga akan dimeriahkan dengan berbagai penampilan budaya, termasuk peragaan seni dan musik. Sejumlah seniman dijadwalkan hadir dan ikut mengisi acara, antara lain Tretan Muslim, Sosiawan Leak, dan Sastro Adi. Acara juga akan dimeriahkan dengan penampilan musik dari Armand Maulana.

“Peragaan Sarung Santri Nusantara akan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyaksikan beragam tradisi yang berkembang di banyak daerah, tapi dalam satu kesempatan sekaligus,” jelas Anna Hasbie.

“Mari bergabung dengan kami di Peragaan Sarung Santri Nusantara untuk sama-sama menyaksikan keindahan keragaman budaya dan tradisi Indonesia. Terbuka untuk umum, masyarakat silakan hadir. Festival ini menawarkan pengalaman tak terlupakan,” tandasnya.***/mel

Harlah Nabi Kongzi & Satu Abad Matakin, Wamenag: Jaga Persatuan Bangsa

JAYAKARTA NEWS – Umat Khonghucu memperingati hari lahir ke-2574 Nabi Kongzi. Bersamaan itu, diperingati juga satu Abad Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia (Matakin).

Seremonial peringatan berlangsung di Ruang Serba Guna Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur. Wakil Menteri Agama (Wamenag) Saiful Rahmat Dasuki mengapresiasi kiprah umat Khonghucu dan berpesan untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan.

“Acara ini merupakan salah satu wujud peran umat Konghucu melalui Matakin dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Wamenag Saiful Rahmat Dasuki, Rabu, (11/10/2023).

“Umat khonghucu juga turut berkiprah dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia,” sambung Saiful Rahmat Dasuki.

Saiful Rahmat Dasuki menyampaikan selamat merayakan Hari Kelahiran ke-2574 Nabi Agung Kongzi kepada Umat Khonghucu di Tanah Air. Wamenag berharap ajaran-ajaran Nabi Agung Kongzi dapat diteladani untuk menciptakan kebersamaan.

“Selamat dan sukses atas prosesi persembahyangan Hari Lahir Nabi Kongzi pagi ini dan atas pencapaian 1 Abad Matakin berkiprah untuk Indonesia. Kenyataan ini patut kita syukuri sebagai wujud dari hadirnya Matakin dalam upayayang telah dilakukan untuk membina dan mewadahi umat Khonghucu,” kata Saiful Rahmat Dasuki.

Dijelaskan Saiful, hubungan baik Matakin dengan pemerintah, khususnya Kementerian Agama, bersama tokoh-tokoh Khonghucu dan para stakeholder lainnya harus terus dijaga. Sinergitas yang telah terbangun ini, hendaknya terus dikembangkan dalam upaya bersama menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi dan sosial bangsa Indonesia.

“Saya apresiasi inisiasi dialog kebangsaan yang bertajuk Pesan dan Suara Kenabian untuk Bangsa ini. Mari, jadikan momentum Harlah Nabi Kongzi ini antara lain untuk meneladani sosok Nabi yang suka kesederhanaan, mengasihi, rendah hati, menolong untuk kebenaran, dan berkebajikan,” tegas Saiful.

Saiful juga menyampaikan bahwa agama sebagai sumber ajaran mulia yang memerintahkan untuk mengembangkan kebajikan dan untuk menjadi berkah bagi semua ciptaan.

“Selamat mengikuti Dialog Kebangsaan, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan keberkahan dan ridla-Nya pada setiap ikhtiar yang kita lakukan untuk agama, bangsa dan negara tercinta ini,” tandas Saiful.

Ketua Panitia selaku Kabid Kelembagaan Pusbindik Khonghucu, Farid Wajdi menyampaikan bahwa acara peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi ke-2574 dan Peringatan 1 Abad Matakin kali ini diisi dengan dialog kebangsaan oleh tokoh-tokoh lintas agama dan organisasi masyarakat. Dan diikuti lebih dari 100 orang hadirin dan tamu undangan.

“Semoga Peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi ini bisa dilaksanakan setiap tahunnya,” tandas Farid Wajdi.

Tampak hadir, Sekjen Kemenag Nizar dan pengurus Matakin, Permabudhi, serta tokoh-tokoh umat Khonghucu.***/mel

Terbit SE Pedoman Ceramah, Kemenag Harap Tokoh Agama Selalu Rawat Kerukunan Umat

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia menerbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Agama dengan Nomor SE. 09 Tahun 2023 tentang Pedoman Ceramah Keagamaan pada 27 September 2023.

Menurut Direktur Penerangan Agama Islam (PENAIS) Ahmad Zayadi, Surat Edaran ini mengambil pijakan pada prinsip bahwa kerukunan umat beragama adalah pondasi penting dari kerukunan nasional.

“Hal ini penting untuk mempertahankan dan memajukan persatuan dan kesatuan, yang merupakan modal utama dalam memajukan bangsa ke depan,” kata Zayadi di Jakarta, Rabu (4/10/2023).

Pihaknya mengungkapkan, pedoman ini memiliki dua tujuan utama. Pertama, memberikan panduan jelas bagi penceramah agama dalam memberikan ceramah keagamaan.

“Kedua, memberikan panduan bagi pengurus dan pengelola rumah ibadat dalam memfasilitasi pelaksanaan ceramah keagamaan,” ungkapnya.

Zayadi menerangkan, para tokoh penceramah agama di Indonesia selama ini mengambil peran penting dalam mewujudkan kerukunan umat beragama.

“Karena itu, Kemenag menilai sangat penting untuk menerbitkan panduan yang memuat tentang kualifikasi penceramah, materi ceramah, hingga pentingnya pembinaan penceramah yang dilakukan oleh Kemenag di semua tingkatan,” terangnya.

Surat Edaran ini, lanjut Zayadi, menggarisbawahi perlunya penceramah agama memiliki pengetahuan dan cara pandang serta sikap yang moderat dalam beragama, berwawasan kebangsaan, sikap toleransi, menjunjung tinggi harkat dan martabat kemanusiaan serta sikap santun dan keteladanan.

“Materi ceramah juga diamanatkan untuk bersifat mendidik, mencerahkan, dan konstruktif dengan tujuan meningkatkan keimanan, memperkuat hubungan antarumat beragama, serta menjaga keutuhan bangsa dan negara,” tegasnya.

“Selain itu, materi tersebut wajib menghormati dan mematuhi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan Bhineka Tunggal Ika, menghindari konflik berbasis suku, agama, ras, dan golongan serta menghindari konten yang dapat memicu intoleransi, diskriminasi, anarki, atau kampanye politik praktis,” sambung Direktur PENAIS Zayadi.

Secara khusus, ia mengajak kepada aktor-aktor layanan keagamaan seperti Penyuluh Agama Islam, dai/daiyah, majelis taklim, qori’/qoriah, hingga lembaga seni dan budaya Islam, agar benar-benar mengindahkan pedoman ceramah di lingkungan atau jamaahnya masing-masing.

“Para aktor layanan keagamaan ini memiliki basis yang loyal, jadi kami mengajak secara bersama-sama untuk menyemai masyarakat dengan ceramah keagamaan yang melahirkan benih-benih yang dapat memperkuat kerukunan umat,” ajak Zayadi.

Ia berharap Surat Edaran Pedoman Ceramah ini dapat menjadi landasan yang kuat bagi para tokoh agama untuk mematuhi prinsip-prinsip yang tercantum di dalamnya.

“Kemenag optimistis bahwa tokoh agama akan terus berperan aktif dalam merawat kerukunan umat beragama, yang pada akhirnya akan berkontribusi besar terhadap pembangunan dan keberlanjutan bangsa Indonesia,” pungkasnya.***/mel