Mendarat Darurat – Komedi Romantis Reza Rahadian

JAYAKARTA NEWS – Reza Rahadian Matulessy adalah aktor watak. Berbagai sosok sukses diperankan, dari BJ Habibie sampai lelaki gagap. Dalam film bertajuk ‘Mendarat Darurat’ yang disutradarai Pandji Pragiwaksono, Reza yang meraih 3 piala Citra ini didapuk menjadi pemuda gagap.

Aneka fenomena kelucuan yang terjadi menggiring penonton tertawa terpingkal menonton film bergenre komedi romantis berdurasi dua jam lebih ini. Glenn, selamat dari kecelakaan pesawat. Ia seharusnya terbang hari itu, justru di hari yang naas itu, Glenn berselingkuh dengan atasannya, di hotel. Bingung. 

Maya, isterinya, ditelpon bahwa sebentar lagi pesawatnya siap lepas landas. Glenn dihadapkan pada pilihan sulit: ia masih hidup ataukah mengaku secara jujur bahwa ia selamat dan tak jadi terbang naik pesawat. Justru dengan perbuatannya ini mengancam kehidupan rumah tangganya.

Berbagai peristiwa lucu mencuat di film ini: Glenn mengaku sebenarnya apa yang terjadi, tapi ibunya yang mukim di Bandung dan saudara-saudaranya mengira yang datang itu hantu Glenn. Karena nama-nama penumpang yang tewas dalam musibah itu jelas diberitakan di televisi.

Demikian pula halnya ketika Glenn menemui Maya, isterinya. Maya dan dua tantenya menyangka yang datang itu arwah Glenn yang sudah mati. Reza bermain cemerlang.

Juga, sederet pemain lain tak bisa dipungkiri beroeran pas dengan porsinya : Luna Maya, Marissa Anita  Pandji Pragiwaksono, Endhita, Dewi Irawan, Ully Triani, Cecep Arief Rachnan, dan barisan komika terkenal. “Kami terus mendukung perfilman nasional yang tengah bangkit dari pandemi ini. Semua genre kami bikin. Dari horor seperti ‘KKN di Desa Penari’ sampai ‘Mendarat Darurat’ ini,” papar Manoj Punjabi selaku CEO dan produser dari MD Pictures ini. (pik)

‘Autobiography ke FF Venice dan FF Toronto

JAYAKARTA NEWS – Setelah film Yuni menggaet penghargaan Platform Price di Festival Film (FF) Toronto tahun 2021 lalu, kini ‘Autobiography’ garapan perdana sutradara Makbul Mubarak disertakan dalam ajang FF Toronto, Kanada, 8 s d 18 September 2022 mendatang.

Sebelumnya, Autobiography dikirim ke FF Venice, 31 Agustus s d 10 September 2022. Film produksi KawanKawan Media ini bakal berkompetisi di seksi Orrizonti (Horizons) sebagai satu-satunya film dari Asia Tenggara, bersama film-film lain dari Ukraina, Jepang, Argentina, Italia, Perancis, Iran dll.

Film yang berangkat ke dua FF bergengsi di dunia itu difasilitasi Kemendikbud Ristek melalui Dana Indonesiana. “Tim Autobiography yang terdiri atas produser, sutradara  dan pemain film untuk menemani dan merayaksn sinema Indonesia,” ujar produser Yulia Evina Bhara.

Film berdurasi sekitar 1, 5 jam ini dibintangi oleh Kevin Ardilova  Arswendy Bening Swara, Lukman Sardi, Yusuf Mahardika, Rukman Rosadi, Yudi Ahmad Tadjudin, Haru Sandra dan almarhum Gunawan Maryanto. “Hampir keseluruhan pemain cowok semua,” ungkap Kevin Ardilova yang berperan sebagai Rakib.

Kevin Ardilova dan Yusuf Mahardika (Istimewa)

Sosok Rakib sehari-hari menjaga rumah seorang pensiunan bernama Purna (Arswendy Bening Swara). Ketika Purna pulang untuk mencalonkan diri menjadi bupati, Rakib cepat akrab dan melihat Purna sebagai figur ayah. Bergenre suspense thriller, penonton diperlihatkan dunia yang ditinggali Rakib dan Purna, penuh kegelapan dan ketegangan.

Autobiography menjadi film Indonesia yang berko-produksi dengan Singapura, Polandia, Filipina, Jerman, Perancis dan Qatar. Tidak hanya dari luar Indonesia, film ini juga mendapatkan dukungan financing dari Badan Ekonomi Kreatif untuk tahap pengembangan melalui partisipasi ke Toronto FilmLab.

Aspek produksi dan distribusi didukung oleh Kemendikbud Ristek dan Kemenpar dan Ekknomi Kreatif. Kemendikbud Ristek melalui Direktorat Perfilman, Musik dan Media (PMM) berkomitmen terus mendukung film Indonesia yang berkompetisi maupun tayang di festival bergengsi di luar negeri.

“Kami siap memfasilitasinya, enggak hanya di Venice dan Toronto. Tapi juga di Locarno, Busan, Bucheon, Tampere FF untuk film pendek dan beberapa festival lainnya,” urai Ahmad Mahendra selaku Direktur PMM, Kemendikbud Ristek. (pik)

SAAT – Film Berdurasi 9 Menit tentang Waktu

JAYAKARTA NEWS – Selain film panjang/bioskop, film pendek marak dibuat. Banyak komunitas film di daerah membuat film pendek. Untuk ujian sarjana film, mahasiswa Jurusan Film dan Televisi IKJ tingkat akhir juga diharuskan membikin film pendek.

Ungke Kaumbur, alumni IKJ, baru saja meluncurkan dan diskusi film pendek karyanya bertajuk ‘Saat’. Film Saat tidak dikomersialkan dan tidak diputar di bioskop.  Slot penayangan hanya untuk platform nonkomersial serta diputar untuk roadshow ke sekolah-sekolah dan tempat screening lainnya.

Dikurasi untuk 13 tahun ke atas, Saat berdurasi 9 menit. “Saat bicara tentang waktu. Kita enggak tahu apa yang akan terjadi lima menit ke depan. Ada bencana atau terjadi sesuatu, kita enggak tahu. Film ini enggak ada dialog, tapi bahasa gambarnya hidup. Drama tragedi ini mengisahkan kehidupan tolong menolong,” ujar Ungke Kaumbur.

Kanan: Ungke Kaumbur (foto IKJ)

Jujur, meski berdurasi pendek, tapi inti cerita dan makna filmnya sangat dalam. Perlu dibahas, dikomtemplasikan dan direnungkan falsafahnya. Film ini hanya dibintangi tiga pemain yang aktif di dunia seni peran yaitu Yuni Yumaris, Devina Mulyawati dan Dede Setiawan.

Ketiganya malang melintang di film televisi dan berdomisili di Jawa Barat. Kisahnya tentang seorang wanita sedang mengendarai mobil dan mendadak sontak mobilnya mogok di tengah jalan yang diselimuti pepohonan hutan.

Seseorang berusaha mendekati dan tampak dari balik jendela mobilnya, ia membawa golok di pinggang. Si ibu kaget dan makin gelisah. Ternyata orang tersebut malah menolongnya.

Penasaran melihat kebaikan orang tersebut, si ibu akhirnya memutuskan melakukan kebaikan yang sama. Dijumpainya wanita penjaja makanan yang sedang hamil tua. Sang ibu menawarkan bantuan dan memberi sejumlah uang kepada wanita yang sedang hamil itu.

“Ini maknanya apa? Film pendek yang saya buat ini berkonsep sedikit mengadaptasi Cinema Pur alias Sinema Murni, sebuah gerakan film garda depan (avantgarde) yang lahir di Paris tahun 1920 dan 1930an,” papar Ungke Kaumbur.

Istilah ini diciptakan pertama kali oleh Henri Chomette untuk mendefinisikan sinema yang berfokus pada elemen murni film, seperti gerak, bentuk, komposisi visual dan ritme. Gerakan ini banyak melibatkan seniman Dada, seperti Man Ray, Dudley Murphy, Marchel Duchamp dll. (pik)

Aria Menggambar Permata Sangat Realistis Hanya Menggunakan Pensil Warna

JAYAKARTA NEWS – Aria, seorang seniman Jepang berbakat,  mengkhususkan diri dalam gambar pensil. Ia telah mendapatkan banyak perhatian untuk seri perhiasannya.  Kumpulan gambar permata hiper-realistis, terlihat lebih baik daripada inspirasi mereka.

Bakat luar biasa Aria, ditampilkan awal tahun di Oddity Central dalam  gambar yang  mengesankan. Sejak itu, dia mengasah keterampilannya dan menjadi viral.

Salah satu karya barunya, berjudul “Amethyst”,  telah menjadi viral di media sosial. Banyak yang berkomentar bahwa itu sebenarnya terlihat lebih baik daripada permata yang sebenarnya.

(Foto: aririria_art /odditycentral.com)

Aria menghabiskan sekitar 10 jam membuat Amethyst dan dia menggunakan sekitar 40 pensil warna, termasuk 10 warna ungu untuk mendapatkan efek visual yang tepat.

“Setelah menggambar garis grid (garis dengan lebar yang sama), saya menggambar tipis tepi permata dengan pensil dan kemudian menggambar warnanya dengan tepat,” kata Aria kepada J-Town, meskipun cara dia berhasil mengekspresikan efek 3D, transparansi dan kejernihan permata masih menjadi misteri.

Amethyst mendapat perhatian paling banyak secara online, tetapi Aria memiliki seluruh seri yang berfokus pada permata dari berbagai bentuk dan warna, dan semuanya sama mengesankannya. Untuk lebih banyak melihat karya Aria, pantau terus Twitter dan Instagram-nya.***/mel

MUMUN – Aksi Balas Dendam Pocong

JAYAKARTA NEWS – Film terbaru produksi Dee Company bertajuk ‘Mumun’ diadaptasi dari sinetron ‘Jadi Pocong’ karya Mandra. Kali ini, yang jadi hantu pocong adalah Acha Septriasa. “Saya memerankan tiga karakter, jadi kembar Mumun dan Mimin serta jadi pocong,” ujar Acha yang saat ini mukim bersama suami di Australia.

“Memang melelahkan, tapi asyik. Karakter pocong itu sangat ikonik,” ungkap Acha. Hampir setiap hari, Acha memerankan tiga karakter. “Bedanya signifikan dalam pelafalan. Sama-sama menggunakan logat Betawi, tapi ada Betawi asli dan Betawi pinggiran,” imbuh Acha.

Hebatnya, ketika Acha dimake up jadi pocong, enggak pakai pemeran pengganti (stand in), karena dia ingin memerankan karakternya secara total. “Kalau make up sudah ada ahlinya. Tapi akting menjadi pocong ini tantangannya adalah gerak terbatas tapi tetap harus bisa membuat orang takut,” timpal Acha.

Produser, sutradara dan seluruh pemain Mumun (Ist)

Sutradara Rizal Mantovani mempersiapkan adegan-adegan kejutan untuk meningkatkan teror pocong Mumun. “Tanpa mengurangi karakter Mumun yang khas dengan mata hijaunya. Saya membuat adegan teror  lebih terasa mencekam,” kata Rizal Mantovani.

Produser Dheeraj Kalwani memastikan ciri khas pocong Mumun tak akan hilang dalam versi film. Justru kehadiran film ini dapat memenuhi nostalgia tapi juga memperkenalkan kisah Mumun kepada penonton baru.

Mumun menceritakan sepasang kekasih yaitu Mumun dan Juned. Kisah cinta mereka berakhir  setelah Mumun ditabrak mobil. Juned hanya bisa pasrah menerima kepergian sang kekasih. Di hari pemakaman, Husein tukang gali kubur lupa membuka ikatan pocong Mumun.

Pocong Mumun gentayangan menyebar teror menghantui warga desa. Srlain itu, pocong Mumun juga mencari Jefri, orang yang menabraknya, ingin balas dendam.

Di film ini, Acha Septriasa juga beradu peran  dengan para pemain sinetron Jadi Pocong yaitu Eddies Adelia dan pelawak Mandra. Juga dibintangi Dimas Aditya, Voland Humonggio, Bedu, Ence Bagus dan Fajar Nugra. 

‘Mumun’ akan tayang di 300 layar seluruh Indonesia awal September 2022. Bersiap untuk menjerit ketakutan sekaligus tertawa ngakak melihat ulah Mandra. (pik)

LokaPala Siap Jalin Kerjasama Wujudkan Exports Ramah Anak  

JAYAKARTA NEWS – Tim LokaPala bertandang ke Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) baru-baru ini. Seto Mulyadi selaku Ketum LPAI takjub dan mendukung kiprah LPAI dalam menjalin kerjasama MoU wujudkan exports ramah anak. ‘LPl Saga of the Six Realana’ adalah game mobile garapan Anantarupa  Studios dan game MOBA (Multiplayer Online Battle Arena) adalah game pertama yang sepenuhnya dikembangkan di Asia dan terinspirasi dari mitologi, sejarah dan budaya Indonesia.

CEO LPI, Anantarupa Studios, Ivan Chen mengaku Indonesia mempunyai potensi besar dan bisa makin mengembangkan pertumbuhan ekonomi melalui industri  game dan exports.”Game enggak merasa asing bagi anak muda zaman now, anak muda kelas 8 sampai mereka yang kuliah di Perguruan Tinggi.

“Mereka senang belajar dan mencari tahu sejarah dan budaya Nusantara,” kata Ivan Chen yang menambahkan bahwa peserta dari Indonesia akan menjadi Ketua Asean di tahun 2023. Dan game adalah yang dipertandingkan dalam PON XX dan Piala Presiden 2021 yang lalu.

LPI baru dirilis 2020 yang lalu dan cepat memikat hati pemain game mobile di Indonesia dan dinobatkan sebagai Indonesian Game of the Year di dunia Games Awards 2021. “Kami membawahi LPA di 30 Provinsi diseluruh Indonesia dan literasi main game ini semakin meningkat. Namun kami harus waspada terhadap penggunaan game gadget ini,” pungkas Ivan Chen. (pik)

BCL Duet dengan Ariel Noah di Pulau Sentosa

JAYAKARTA NEWS – Applause menggemuruh tatkala Bunga Citra Lestari (BCL) berduet dengan bintang tamu, Ariel Noah dalam konser spektakulernya di Resort World Hall, Pulau Sentosa, Singapura, baru-baru ini. Beberapa nomor tembang lawas dan anyar disenandungkan oleh mereka berdua dengan improvisasi yang menawan.

Makin malam, tampilan BCL dan Ariel Noah tampak makin mesra. Dan hal ini menggiring para penonton yang mayoritas dari Indonesia itu memotret mereka. Disaksikan sekitar 1500 khalayak, BCL juga berduet dengan Alvin Jo, juara X Factor Indonesia.

BCL diiringi puluhan penari latar tempatan dari Singapura (foto: Manajemen BCL )

Gelaran megah ini ditata harmoni musiknya secara apik oleh Ronald Steven (music director) yang dibantu pencahayaan dan tata panggung yang manis oleh Hagai Pakan. Hajatan kolosal ini dipadati khalayak yang mayoritas dari puak Melayu (Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam) dan Indonesia.

“Saya senang bisa menghibur budak-budak serumpun di negara jiran tanpa ada jarak lagi. Ini konser pertama saya sejak pandemi Covid mengganas di Asia,” ujar BCL menggunakan dialek Melayu seperti diwartakan manajer BCL.

Sejak jauh-jauh hari, berita kedatangan dan gelaran BCL sudah memenuhi banyak akhbat (koran) di Singapura dan Malaysia. Konser BCL di Singapura ini dibanderol SGD 68, SGD 78, SGD 98, SGD 128 dan SGD termahal 193 (including booking fee dan biaya penanganan). 1 SGD (Singapore Dollar) diRupiahkan menjadi 10.705.02. (pik)

‘Gendut Siapa Takut ?!’ – Film Keluarga yang Membuat Bahagia

JAYAKARTA NEWS – Berbadan gendut membuat sengsara dan diolok orang? Siapa bilang?

Lewat film besutan sutradara Pritagita Arianegara yang diadaptasi dari novel karya Alnira ini, cewek gendut justru membuat kebahagiaan bagi orang banyak. “Ini film ke empat saya. Isunya cukup personal buat saya, tentang body positivity,” ungkap Pritagita.

Dalam film produksi Spectrum ini, yang didapuk bertubuh gendut adalah Marshanda. “Saya senang saja bermain di film komedi ini. Agar perannya masuk, saya berhasil menggendutkan badan bertambah 10 kg. Ya, saya juga menjaga pola makan selain saya minum obat penahan nafsu makan,” urai Marshanda.

Marshanda (foto:Dudut SP)

Semula Chacha kaget jadi sosok gendut di film, tapi dia akhirnya menerimanya. “Semoga usai menonton film ini, orang bergembira dan bahagia, nyanyi-nyanyi,” imbuh ibu satu anak hasil pernikahan dengan Ben Kasyafani (cerai).

Demikian pula halnya produser Spectrum, Rajesh Kewalram Jagtiani. “Syuting baru kelar November tahun 2021. Karena pandemi, kita baru dapat tanggal main di bioskop mulai 22 September 2022 mendatang. Syukur kami juga bisa mendapatkan pemain yang tepat dengan karakter mereka masing-masing,” papar Rajesh Kewalram Jagtiani.

Film ini bercerita tentang Moza Aphrodite, penulis  novel roman laris yang selalu berkhayal mendambakan pangeran impiannya. Meski berbadan gendut, Moza sangat percaya diri dengan penampilannya. Hingga suatu ketika, Moza dihadapkan pada sebuah pilihan cinta yang sulit.

Nares, teman masa kecil yang paling dibenci, atau Dafi, sutradara terkenal dan tampan seperti digambarkan dalam novel-novelnya. “Film ini akan membawa kita mengikuti gemasnya kisah cinta Moza,” timpal Chacha tertawa.

O ya, selain Marshanda, film ini juga disesaki banyak bintang top, seperti Wafda Saifan Lubis, Marthino Lio, Jihane Almira, Cut Mini, Tora Sudiro, Dea Panendra dan Omara Esteghlal. (pik)

Ireng Halimun, Seniman Enggak Boleh Menyerah dan Cengeng

JAYAKARTA NEWS – Kreatifitas harus diprioritaskan, dinomorsatukan. Di era pandemi, banyak kaum seniman menganggur dan enggak ada penghasilan. Terutama di daerah, banyak seniman tradisi alih profesi dan menjual alat-alatnya (instrumen musik, kanvas, lukisan dll) dan ‘membanting’ harga.

“Ini enggak benar. Seniman enggak boleh menyerah dan  menjadi cengeng,” kata perupa (pelukis) Ireng Halimun di Balai Budaya, Jalan Gereja Theresia, Menteng, Jakarta Pusat. Kepada penulis, Ireng menceritakan pengalamannya berminat melukis sejak kecil. Ia acap menjuarai lomba menggambar di sekolahnya.

Lukisan karya Ireng Halimun (foto:BB)

Hingga dewasa dan kuliah di jurusan Seni Rupa IKIP Negeri, hobi dan minatnya makin tersalurkan. Sampai kini, Ireng sudah menggelar pameran tunggal sebanyak tiga kali.

Terakhir, 11 Agustus 2022 lalu, bertepatan dengan ulang tahunnya ke 57, Ireng memamerkan sebanyak 12 lukisan yang dilukis dengan akrilik di Balai Budaya Jakarta bertema ‘Langkah 5inga 7antan’. ‘Zodiak saya Leo, jadi singa adalah kesayangan saya.

Pameran ini wujud tanggung jawabku sebagai perupa, pelukis alias peseni,” beber Ireng blak-blakan. Ditegaskannya, dia enggak hirau dengan gaya atau aliran lukisan tertentu. “Saya punya passion begitu saja. Saya tumpahkan di atas taferil, sudah. Mau laku atau enggak, terserah. Saya enggak mencari cuan lewat pameran ini. Rezeki bisa datang dari mana saja,” urai Ireng lagi.

Hingga mendekati ‘hari H’ pameran, Wina Armada Sukardi selaku kurator dan advokat bilang kepada dirinya agar mencantumkan harga lukisannya. 12 lukisan karya Ireng yang dipajang memang 5 agak besar berukuran 270 x 145 cm dan 7 sedang berukuran 145 x 145 cm ke bawah.

Lukisan karya Ireng Halimun (foto:BB)

“Jujur, saya enggak muda alias young lagi, tapi saya sebagai pemuda alias youth di bidang kesenian. Semoga ini bisa menjadi stimulus bagi kaum seniman lain khususnya perupa,” imbuh Ireng.

Wina Armada Sukardi selaku kurator dan kolektor lukisan mrngapresiasi kecintaan Ireng Halimun terhadap seni lukis. “Ada atau enggak enggak ada Covid 19, Ireng Halimun terus berkarya. Dia enggak mau menyerah kepada keadaan,” timpal Wina Armada.

Segendang sepenarian dengan Ketua MPR, Bambang Soesatyo. “Saya tahu dan paham semangat Ireng Halimun yang terus berkarya demi kemajuan seni rupa Indonesia,” ujar Bambang Soesatyo yang pernah satu perusahaan di media Info Bisnis (Ireng sebagai ilustrator).

Yang jelas, Ireng Halimun banyak be lajar dari perupa dunia seperti Pablo Picasso, Juan Miro, Salvador Dali, Willem de Koening serta perupa Indonesia yaitu S Sudjoyono, Affandi, Hendra Gunawan dan masih banyak lagi. Last but not least: kerja kreatif Ireng Halimun sudah tersirat dalam UU Nomor 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Enggak banyak omong. Suka atau enggak suka, diam atau bergerak. (pik)

‘Sang Dewi’ Diremake Lyodra Ginting

JAYAKARTA NEWS – Lagu lawas ‘Sang Dewi’ mendadak sontak populer kembali. Lagu ciptaan Andi Rianto yang pernah disenandungkan Titi DJ kini dilantunkan pendatang baru, Lyodra Margareta Ginting, juara Indonesian Idol 2020.

Kali ini, dengan aransemen super megah yang diaransemen Andi Rianto  (juga sebagai produser) dengan melibatkan Budapest Scoring Orchestra,  dipadukan vokal apik dari Lyodra. “Lagu ini menceritakan tentang seorang wanita yang menemukan cinta sejatinya meski si pria bukan dewa tapi dia sudah membuat wanita ini merasa menjadi sang dewi,” ujar Andi Rianto.

Lyodra, improve dan hype-nya ok banget (foto: Herry )

“Ini lagu sulit banget. Karena notasinya susah. Kedengarannya gampang, tapi saat dinyanyikan sulit. Improve dan vibenya kan harus baru, terus range vokalnya juga. Nadanya juga harus tinggi. Menariknya, buat saya, setelah saya usai menyanyikan lagu ini, saya puas dan keren banget. Belum lagi aransemennya yang megah. Supet grande,” tegas Lyodra.

Ihwal kolaborasi berdua dengan Andi Rianto, spontan saja terjadi. Kemudian berlanjut ke workshop hingga proses rekaman yang tak banyak memakan waktu.

Dengan dirilisnya versi terbaru Sang Dewi, baik Lyodra maupun Andi Rianto berharap lagu ini dapat memberikan warna baru dan menjangkau lebih luas lagi para penikmat musik terutama generasi muda. Single teranyar dari Universal Music Indonesia ini bisa didengarkan sekarang. Videonya juga bagus ditonton. (pik)