Liam Gallagher Oasis Bakal Guncang Jakarta Tahun 2018

Liam Gallagher dalam sebuah konser

 

BERSIAP-siaplah para penggemar Liam Gallagher. Pada 14 Januari 2018 mendatang, mantan personel OASIS ini akan menggelar konser perdananya di Jakarta yang bertajuk ‘Liam Gallagher of OASIS -World Tour 2018’. Konser ini pun akan berlangsung di Ecovention Ancol, Jakarta Barat.

Seperti diketahui, konser Liam Gallagher seharusnya dihelat pada 7 Agustus 2017 lalu, namun lantaran terkendala dengan manajemen Liam Gallagher, konser ini pun diundur menjadi Januari 2018.

Kendati demikian, kedatangan dari salah satu mantan personel OASIS ini bakal menjadi penawar rindu bagi para penggemarnya. Bahkan para penggemarnya di Indonesia memang begitu menantikan aksi panggung dari sang pelantun Stand By Me. Sebab, konser ini merupakan kali pertama Liam berkunjung ke Indonesia.

“Kita tahu OASIS enggak pernah datang ke Indonesia, dan banyak banget wishlist yang kita terima dari masyarakat, dan salah satu nama terbesar yang muncul adalah Liam Gallagher,” ujar Abe selaku PR Nada Promotama dalam jumpa pers yang diadakan di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (14/12/2017).

Sementara itu, pihak promotor juga mengungkapkan bahwa untuk mendatangkan penyanyi berusia 45 tahun ini tak menemui jalan buntu. Meski begitu, Liam Gallagher juga menyimpan keinginan utuk mengunjungi Asia terutama Indonesia. Liam sendiri pun tahu bahwa fanbase di Indonesia memang banyak.

“Sama sekali tidak sulit sebenernya (mendatangkan Liam), hanya masalah negosiasi istilahnya artis fee-nya dan kita bisa memenuhi itu mereka juga demand tidak terlalu tinggi. Karena memang ada keinginan dari liam gallager untuk ke Asia terutama Indonesia,” tambah Panji Parayoga selaku promotor dari Collective Touring.

“Karena ketika dia(Liam) masih di OASIS dia tahu fanbasenya masih besar, jadi dia enggak terlalu menuntut apa apa,” tambahnya.

Slank Ajak Slankers Berwirausaha Lewat Kopi

 

GROUP musik Slank baru saja meresmikan dua produk kopi terbaru, yakni SlanKopi in PaperCup dan SlanKopi In The Box. Dengan adanya SlanKopi, para pecinta kopi maupun Slankers, bisa langsung menikmati.

Apalagi, SlanKopi ini terbilang cukup mudah dinikmati. Dengan SlanKopi in PaperCup pecinta kopi hanya menuangkan air panas saja. Sehingga, mereka akan lebih cepat dan mudah menikmati kopi.

“Jadi lebih gampang aja dan biar SlanKopi juga bisa menggairahkan para petani,” kata Bimbim saat ditemui di ditemui di Trafic Coffee, Jalan Hang Lekir, Senayan, Jakarta Selatan, Sabtu (16/12/2017).

Selain itu, lewat SlanKopi juga, para pecinta kopi maupun penggemar Slank, Slankers bisa berwirausaha dengan membuka kedai kopi sendiri. SlanKopi In The Box, dengan bermodalkan 2 juta rupiah, Slankers maupun pecinta kopi bisa langsung berwirausaha.

Gitaris Slank, Ridho mengatakan, SlanKopi sangatlah berbeda dengan kopi lainnya.

“Ini bener kopi beneran kopi. Ampasnya juga nggak ada, ini real kopi. Buka kopi main-main. Nggak bikin asam lambung tinggi,” tandas Ridho.

Chew Kin Wah Abdullah, Aktor M’sia yang Laris Bermain Film di Indonesia

 

 

 

DIA berwarganegara Malaysia, tapi belakangan laris mencari pundi-pundi di Indonesia. Chew Kin Wah Abdullah, tidak hanya bermain film saja, namun dia juga mengukir prestasi di ajang Festival Film di Republik ini. Dari Festival Film Tempo hingga terakhir FF Piala Maya, yang baru saja usai digelar di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta.

“Assalammualaikum…terima kaseh…saya sudah dikenalkan dengan keelokan alam Sumba oleh sutradara Ernest Prakasa,” kata Kin Wah membuka pidatonya setelah menerima tropi penghargaan sebagai Aktor Pendukung Terbaik di FF Piala Maya, belum lama ini.

Dia diganjar penghargaan atas seni perannya yang sangat baik di film ‘Cek Toko Sebelah’ yang disutradarai Ernest Prakasa.

Sebagai mualaf, dia termasuk orang yang ramah dan berendah hati. Meski lebih fasih bercakap-cakap dalam bahasa Inggris, Kin Wah belakangan mulai berani berbahasa Indonesia campur bahasa Melayu.
Dia tahu, mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam. Makanya, dia merasakan Indonesia seperti ‘rumah ke dua’ bagi dirinya dan tidak ada sekat lagi karena dimana saja, di lokasi syuting apa pun, Kin Wah diterima baik. Disela-sela kepadatannya syuting film, dia menyempatkan diri beribadah.

“Saya ada keluarga di sini, di Sumba, di Indonesia. Juga malam ini, di Piala Maya, semua anak-anak saya, Dari Ernest Prakasa, Dion Wiyoko sampai pemain komika lain hingga kru film. So, semua keluarga saya di Indonesia,” ungkap Kin Wah yang berdialek bahasa Melayu campur bahasa Inggris.

Malam usai menerima penghargaan Piala Maya di Jakarta, Kin Wah harus balik ke Kuala Lumpur, Malaysia, esok harinya. “Saya dah cukup lama syuting di Jakarta, hampir 2 minggu. Tajuk filmnya ‘Dim Sum’. Saya dah kangen sama keluarga saya di Malaysia,” ucap Kin Wah yang juga bermain elok di film ‘My Stupid Boss’ produksi Indonesia yang seluruh syutingnya di Malaysia.

Dalam film ‘Cek Toko Sebelah’, Kin Wah berperan sebagai koh Afuk, pria keturunan Tionghoa yang berusia sekitar 60 tahun. Koh Afuk memiliki toko kelontong yang sangat laris dan berharap tokonya kelak dilanjutkan anaknya, Erwin (Ernest Prakasa).

Cerita Koh Afuh skenarionya ditulis Ernest Prakasa dan Jenny Jusuf berdasarkan realitas etnis Tionghoa di Indonesia.

“Cek Toko Sebelah ceritanya sederhana tapi kaya makna. Keluarga adalah pesan utamanya. The family unit itu penting sekali. Menghidupi keluarga dan hidup jujur adalah falsafah orang-orang etnis Tionghoa di Indonesia. Di Malaysia, Singapura dan di negara mana pun, sama saja, walau dalam bentuk berbeda.” papar Kin Wah yang mempelajari gestur tubuh dan cara gerak engkoh-engkoh pemilik toko kelontong.
Pantaslah, Kin Wah memperoleh penghargaan dari FF Piala Maya 2017.

Usmar Ismail Awards 2018 Selektif dalam Memilih Juri

Wina Armada, Ketua Dewan Juri Festival Film Usmar Ismail.

PADA tahun ketiganya, Festival Film Usmar Ismail Awards (UIA) mulai mempersiapkan diri. Sejumlah perubahan sudah disiapkan untuk membuat festival yang dihelat oleh komunitas wartawan ini bisa menjadi lebih baik.

Ketua Dewan Juri UIA, Wina Armada menyatakan saat ini pihaknya terus mencoba melakukan perbaikan. Di antaranya dengan merangkul lebih banyak wartawan yang akan menjadi juri untuk penilai festival UIA 2018, hal ini disampaikannya dalam acara HUT ke 23 YPPHUI di PPHUI, Jakarta, baru-baru ini.

Sementara itu, pihaknya akan memperbanyak lagi perwakilan-perwakilan wartawan dari daerah. Dirinya mengatakan, pihaknya telah menetapkan persyaratan untuk menjadi juri.

“Persyaratannya harus 20 tahun menjadi wartawan film atau telah menulis kritik film minimal 25 kali atau dikenal memiliki kompetensi sebagai kritikus film oleh masyarakat perfilman Indonesia atau juga memiliki penghargaan tingkat nasional untuk kritik film atau statusnya dapat ditetapkan oleh panitia UIA untuk menjadi anggota dewan juri,” paparnya.

Dengan adanya kriteria tersebut, Wina berharap keraguan terhadap kompetensi juri yang menilai UIA 2018 bisa semakin disisihkan. Ia menegaskan sejauh ini anggota juri yang sudah terlibat di dalam penyelenggaraan UIA 2017 merupakan wartawan yang masih aktif dengan liputan di dunia film nasional.

“Untuk kriteria juri di UIA 2018 memang perlu kita tegaskan lagi,” kata dia.

Kemudian, untuk film yang akan dinilai pada penyelenggaraan UIA 2018 adalah film-film yang beredar di bioskop mulai April 2017 hingga Maret 2018. Pihak dewan juri nantinya menilai seluruh film tersebut secara independen.

“Untuk sistem penilaian akan ada perubahan juga dibandingkan pada penyelenggaraan UIA 2017. Yang jelas, perubahan ini tidak akan mengubah substansi penilaian. Perubahan yang akan dilakukkan ini bertujuan untuk membuat bobot penilaian akan semakin baik,” ujar Wina.

Di pihak lain, Ketua Panitia Pelaksana UIA, Soni Pujisasono berharap agar penyelenggaraan UIA 2018 bisa berjalan lebih baik lagi dari tahun-tahun sebelumnya. Ia menginginkan adanya pedoman yang bersifat baku untuk penjurian UIA 2018.

“Perlu dibentuk tim kecil yang nantinya menjadi induk buat penyelenggaraan sekaligus menjadi pegangan buat penyelenggaraan UIA 2018,” katanya.

Ketua Yayasan Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail, Irwan Usmar Ismail berharap penyelenggaraan UIA 2018 bisa tampil semakin baik. Ia optimistis adanya kerjasama yang semakin baik akan membuat penyelenggaraan festival yang mengusung tagline Penghargaan Insan Film Sesungguhnya ini bisa memberikan kontribusi positif buat geliat film Indonesia. ***

Soleh Solihun Berjanji tak Akan Rusak Kredibilitas Zombie

Soleh Solihun

TAHUN depan nampaknya industri film tanah air bakal semakin menawarkan genre beragam. Salah satu judul patut diantisipasi ialah REUNI Z, sebuah horor komedi besutan Soleh Solihun dan Monty Tiwa yang bercerita tentang teror zombie alias mayat hidup.

Meski mengambil tema zombie dalam balutan komedi, Soleh yang juga bertindak sebagai penulis skenario dan pemain utama tak mau asal bekerja. Ia menjanjikan bila filmnya ini akan menjaga kredibilitas zombie supaya tetap berwibawa.

“Orang awam kan kadang tidak mengerti mana zombie yang keren dan norak. Alhamdulilah kita bakal keren. Zombinya berwibawa. Meski komedi, mereka tetap melaksanakan titah sebagai zombie yang mematikan. Saya tidak akan mencoreng nama zombie karena unsur komedinya dari aktor, zombienya kebagian horor,” kata Soleh saat selamatan film REUNI Z di kantor Rapi Films, kawasan Cikini, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Ide pembuatan film dengan tema zombie attack ini datang ketika Soleh ditantang produser Sunil Samtani untuk memberikan sebuah cerita. Dari tiga sinopsis yang ditawarkan, REUNI Z mendapat respon positif untuk dijadikan layar lebar.

“Awal ada film ini atas permintaan Pak Sunil minta dibikinin konsep cerita seru yang multicast. Saya kasih beberapa cerita, dia berminat dengan pitching REUNI Z. Alhamdulilah beliau mau mewujudkan kecintaan saya terhadap film zombie. Saya selalu senang lihat film zombie terlepas dari gimana ceritanya. Karena saya basic stand up comedy, jadi ada unsur komedi,” tutur pria yang sebelumnya berprofesi sebagai wartawan ini.

REUNI Z berkisah tentang reuni SMA Zenith angkatan 1997 yang dilakukan di gedung sekolah. Tiba-tiba saja wabah zombie menyerang dan sekelompok orang bertahan demi menyelamatkan banyak nyawa. Film yang belum miliki tanggal rilis ini dibintangi Surya Saputra, Tora Sudiro, Beby Tsabina, Ayushita dan masih banyak lagi. ***

Rahasia Samuel Rizal Berakting di Film ‘Eiffel I’m In Love 2’

AKTOR Samuel Rizal kembali memerankan karakter Adit untuk film Eiffel I’m In Love 2 garapan rumah produksi Soraya Intercine Film dan disutradarai Rizal Mantovani.

Jalan ceritanya pun merupakan kelanjutan dari sekuel pertama, hanya saja ini adalah 13 tahun kemudian dari cerita sebelumnya. Sammy punya cara sendiri untuk kembali mengingat karakter Adit yang diperankan 13 tahun lalu.

“Karena udah 13 tahun jadi nonton lagi, skripnya diulang-ulang lagi. Nonton filmnya lagi juga,” ujar Sammy saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurut Sammy itu berhasil untuk mengingat dan memudahkan dirinya menghafal skenario di film Eiffel I’m In Love 2 ini. Dirinya jadi tahu harus melakukan apa ketika syuting dan beradu akting dengan lawan mainnya.

“Jadi udah tau, oh ini adegan A mau gue maenin kaya begini. Adegan B kaya begitu. Kalau pun nanti ada lawan main, janjian gitu. Terus ada pengembangan yang bikin sutradara dan produser terkejut,” katanya.

Sammy mengaku, kalau aktingnya di film Eiffel pertama dijadikannya sebagai kritikan karena masih banyaknya kekurangan di sana sini.

“Jadi tiap nonton film yang lalu-lalu saya selalu merasa ingin mengeritik diri gue sendiri. Oh, ini kurang ini itu. Karena tahun demi tahun kita harus ada pengembangan dong. Tetep harus ambil intisari dari yang pertama untuk Eiffel keduanya,” ucapnya. ***

Film “Tengkorak” Wakili Indonesia ke California

SETELAH berhasil dengan spesial gala di Festival Film Asia JAFF 2017 belum lama ini, film “Tengkorak” karya sivitas akademika Vokasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta akan mewakili Indonesia di Cinequest Film and VR Festival 2018 di Silicon Valley, California, Amerika Serikat.

Dekan Sekolah Vokasi UGM Yogyakarta Dr. Wikan Sakarinto, didampingi Yusron Fuadi, sutradara film  “Tengkorak”, di ruang Fortakgama UGM Yogyakarta, kemarin menyatakan, fil “Tengkorak” dinyatakan layak oleh yuri Cinequest untuk berkompetisi memperebutkan Best Sci-Fi, Fantasy, dan Horor Features Award, di Cinequest 2018.  “Menurut hasil polling yang dirilis oleh ‘USA Today’, Cinequest meruapakan festival film terbaik di Amerika Serikat,” papar Wikan Sakarintp.

Dekan Sekolah Vokasi UGM Yogyakarta ini menambahkan, pihak Cinequest mengirimkan invitasi agar film “Tengkorak (skull) menyelenggarakan ‘World Premier’ pada pemutaran film di Cinequest 2018, California, bersama ratusan film dari negara lain yang dinyatakan layak oleh Cinequest. “Tim produksi film Tengkorak, terdiri dosen dan mahasiswa Prodi Diploma Komputer dan Sistem Informasi Sekolah Vokasi peminat multimedia,” tambah Wikan lagi.

Yusron Fuadi, sutradara film Tengkorak menambahkan, film ii berdurasi 130 menit, memakan waktu pembuatan 127 hari untuk pengambilan gambar di berbagai lokasi. Film Tengkorak yang mengambil lokasi latar di empat kabupaten  dan kota di Provinsi DIY . Film Tengkorak membawa misi untuk mengangkat hal-hal yang baru ke dalam dunia perfilman Indonesia. Yusron mengakui, film fiksi ilmiah, seperti “Tengkorak” sangat jarang dilirik oleh produsen-produsen film Indonesia,” kata Yusron.

Menurut Yusron, film “Tengkorak” bercerita tentang misteri penemuan fodil tengkorak berumur 170 tahun di Pulau Jawa. Penemuan ini menimbulkan kebingungan dan perdebatan diantara para ilmuwan dan pemuka agama, dan perjalanan seorang gadis yang berkeinginan mengunngkap misteri di baliknya. ***

“Wonder”, Pilih Benar atau Berlaku Baik

BAGI penggemar Julia Roberts, ini saatnya Anda menyaksikan penampilan aktris Holloywood yang sukses dengan Prety Women pada era 90-an. Bermain dalam film terbarunya bertajuyk “Wonder”, Julia tampak memberikan peran yang all out.

Dear God, please let them be nice to him.” kata Isabel Pullman, yang diperankan secara apik oleh Roberts. Doa seorang itu kepada anaknya yang hendak memasuki sekolah umum.  August Pullman alias Auggie (yang diperankan Jacob Tremblay), adalak anak Roberts dengan  kelainan bentuk rupa wajah dibandingkan anak-anak lainnya.

Kelainan yang dibawa sejak lahir oleh Aggie,  membuat  wajahnya sangat berbeda dengan anak-anak lainnya, sekalipun sudah beberapa kali menjalani  operasi  sejak dirinya dilahirkan. Menghadapi masalah yang tidak mudah ini, ibunya  memilih home schooling sebagai sarana pendidikan bagi Auggie hinga kelas 5.

Setelah melampaui perdebatan pangang, Isabel  dengan sang suami, Nate Pullman (Owen Wilson), akhirnya mereka sepakat  inilah saatnya bagi  Auggie untuk bergabung ke sekolah umum.

Sebelum memasuki musim ajaran baru, Auggie dibawa terlebih dahulu ke calon sekolahnya dan menemui sang kepala sekolah yang simpatik, Mr Tushman (Mandy Patinkin). Dalam pertemuan tersebut, Mr Tushman mengenalkan Auggie dengan beberapa anak lainnya, seperti Jack Will (Noah Jupe), dan Julian Albans (Bryce Geishar).

Jack Will adalah anak dari keluarga kelas menengah yang berhasil masuk ke sekolah swasta tersebut karena berhasil mendapat beasiswa.

Sedangkan Julian Albans adalah anak dari keluarga elite yang selalu membanggakan diri akan kekayaan yang dimiliki olehnya dan anggota keluarganya.

Sejak hari pertama dia masuk sekolah, berbagai cobaan menerpa Auggie, seperti sorotan mata yang menusuk dari anak-anak yang lain, hingga hinaan dan cercaan dari Julian dan gangnya.

Namun, Auggie dapat melewatinya, selain dari dukungan orangtua dan kakaknya, Olivia (Izabela Vidovic), juga karena Jack Will yang mau bergaul dan datang ke rumah Auggie.

Tentu saja jalan kehidupan tidak semudah membalik telapak tangan, dan Auggie terus mendapatkan rintangan, seperti retaknya persahabatan antara Auggie dan Jack.

Setiap karakter
Salah satu keunikan dalam film berdurasi 113 menit itu adalah tidak seluruhnya berpusat kepada kisah Auggie, karena ada pula bagian-bagian yang mengisahkan setiap karakter yang ada di sekitar Auggie.

Seperti kisah sang kakak, Olivia, yang ternyata meski memiliki kesabaran dalam menghadapi Auggie yang kerap sakit-sakitan, di sisi lain dia juga merasa cemburu dengan perhatian yang besar yang diberikan kedua orangtuanya kepada sang adik.

Belum lagi, persahabatannya dengan kawan sejak masa kecil, Miranda (Danielle Rose Russell), retak karena setelah liburan musim panas, Miranda tiba-tiba menjauh dari Olivia.

Ternyata film itu juga tidak menampilkan sosok Miranda hanya sebagai anak remaja yang jahat karena memutuskan tali persahabatan dengan Olivia, karena ada bagian khusus “Miranda” yang juga mengisahkan mengenai penyebab perubahan sikapnya tersebut.

Dengan penjabaran kisah latar belakang dalam sejumlah sosok yang berkaitan dengan Auggie, penonton juga dapat memahami dan menimbulkan rasa simpati kepada masing-masing karakter yang muncul dalam cerita.

Namun, meski ada bagian dari beberapa karakter penting, film yang disutradarai Stephen Chbosky itu juga memiliki sejumlah “lubang”, seperti tidak dijelaskan secara terperinci apa pekerjaan dari sang ayah.

Hal tersebut karena sepanjang film, yang diperlihatkan kepada penonton dari sosok sang ayah adalah seseorang lelaki yang biasanya memakai dasi dan jas kerja, serta suka bermain Xbox dengan anaknya.

Akting yang baik
Dari segi akting, setiap pemeran berhasil menampilkan akting yang baik, seperti Jacob Tremblay yang berhasil memainkan peran seorang anak “buruk rupa” tapi tidak terjebak kepada kecengengan semata.

Begitu pula Julia Roberts yang berhasil membawakan peran sebagai ibu yang terus berjuang dan menemani Auggie, serta sangat peduli dengan apapun yang terjadi pada sang anak.

Pujian juga layak dilayangkan kepada Izabela, yang masih berusia 16 tahun, tapi sukses berperan sebagai seorang kakak yang meski memendam rasa cemburu, tetapi tetap menyayangi adiknya.

Keunggulan lainnya dari “Wonder” juga ada banyak kutipan positif yang bisa diambil, dan dijadikan nasihat terutama bagi setiap orang dalam menghadapi permasalahan dalam hidupnya.

Misalnya, Auggie yang mengatakan bahwa “I think there should be a rule that everyone in the world should get a standing ovation at least once in their lives.” (Aku rasa seharusnya ada aturan bahwa setiap orang di dunia seharusnya mendapatkan tepuk tangan membahana setidaknya sekali dalam seumur hidup mereka).

Atau, sang kepala sekolah yang berpidato di akhir tahun ajaran bahwa “Courage. Kindness. Friendship. Character. These are the qualities that define us as human beings, and propel us, on occasion, to greatness.”

(Keberanian. Kebaikan. Persahabatan. Karakter. Itu adalah kualitas yang mendefinsikan kita semua sebagai manusia, dan melesatkan diri kita, sesekali, kepada keagungan).

Begitu pula ketika Auggie yang menangis karena tidak tahan diejek sebagai anak yang sangat jelek tampangnya, sang ibu mengatakan “You are not ugly, and anyone who cares to know you will see that” (kamu tidaklah buruk, dan siapapun yang peduli untuk mengenalmu akan mengetahui hal itu).

Kutipan berharga lainnya adalah ketika sang guru kelas Auggie, Mr Browne menuliskansalah satu prinsip yang dipegang teguh oleh dirinya adalah “When given the choice between right or being kind, choose kind.” (Ketika diberikan pilihan antara berbuat benar atau berbuat baik, pilihlah kebaikan).

Gelar Kampanye Film Serentak di Lima Kota

DALAM rangka pencanangan Gerakan Kampanye Film Indonesia, Pusat Pengembangan Film (Pusbangfilm) Kemendikbud menggandeng Forum Wartawan Hiburan (Forwan) Indonesia dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jaya memggelar Semiloka Kampanye Film, yang akan digelar serentak di 5 Kota, Bandung, Jakarta, Malang, Maros dan Padang.

“Nanti pada hari Selasa tanggal 12 Desember kami akan serentak melakukan pencanangan Gerakan Kampanye Film Indonesia di 5 kota. Salah satunya dengan teman-teman Wartawan yang tergabung di Forwan yang akan di selenggarakan di Wisma Arga Mulya Cisarua, Bogor Jawa Barat,” ujar Kholid Fatoni kepala Tata Usaha Pusbangfilm.

Nantinya Gerakan Kampanye Film akan dilakukan di seluruh Indonesia mulai tahun 2018. “Kami harapkan dari Gerakan Kampanye Film ini, masyarakat makin mencintai film Indonesia,” tegas Kholid, Ahad (10/12/2017).

Sementara Tresnawati selaku ketua Semiloka Kampanye film mengungkapkan panitia akan menghadirkan narasumber Kapusbang Film Dr Maman Wijaya, Ody Mulya Hidayat serta Jimmy Harjanto dari Gabungan Pungusaha Bioskop Indonesia.

Selain menggelar kampanye Film panitia juga menggeliar Semiloka Pertelevisian yang mengangkat tema Gonjang-Ganjing Undang-Undang Penyiaran dengan narasumber Dr Ishadi SK, Ketua asosiiasi Televisi Swasta Indonesia, Helmy Yahya, Direktur Utama TVRI dan Muhaimin Iskandar, Ketua umum PKB/anggota DPR RI komisi 1.

Sementara Indra Yudhistira Ramadan Presiden Direktur Indonesia Entertainment Produksi akan mengususng tema TV Konvensional vs TV Digital.

Sebagai pamungkas Semiloka dari kalangan insan musik yang akan mengangkat tema persoalan Plus Minus Musik Cover Version. Di sesi ini menghadirkan pelaku industri musik seperti Rahayu Kertawiguna (Produser Nagaswara), Muhammad Roem Aziz (KFC Musik) dan Agi Sugiyanto (CEO Pro Aktif).

“Dengan narasumber dari para profesional dibidangnya, kami harapkan bisa memberi pencerahan kepada anggota Forwan sebagai pesertanya dan kemudian bisa menyebarkan ke masyatakat luas. Sehingga target Kampanye Film sendiri bisa tercapai,” ujar Tresnawati.

Selain semiloka, acara diawali dengan Orientasi Wartawan bagi anggota Forwan yang ingin menjadi anggota PWI. Orientasi yang diselenggarakan Senin (11/12) akan menghadirkan pembicara Endang Werdiningsih (Ketua PWI Jaya), Kesit dan Sayid (sekretaris PWI Jaya).

Sementara dihari ketiga akan diisi dengan Media Vaganza yang antara lain akan menampilkan pembicara seorang apoteker dari PT Kimia Farma yang akan memberikan pembekalan mengenai penggunaan obat secara rasional.

‘’Materi penggunaan obat secara rasional ini penting, sebagai bekal bagi teman-teman wartawan agar dapat mengelola kesehatan diri dan keluarganya dengan baik, dimulai dengan penggunaan obat yang rasional,’’ tutur Tresnawati. ***

Battle of Surabaya Raih Penghargaan Film Animasi Terbaik di Milan

FILM karya sinas muda Indonesia, “Battle of Surabaya” kembali menorehkan prestasi di ajang internasional. Film animasi layar lebar 2D Indonesia pertama ini dinobatkan sebagai film animasi terbaik dalam Milan International Filmaker Festival. “Battle of Surabaya” berhasil mengungguli enam nominator lainnya dari berbagai negara.
Tropi kemenangan secara resmi diserahkan di  kota Milan, Italia, pekan lalu. Pihak produser film “Battle of Surabaya”, MSV Pictures, yang berhalangan hadir diwakili Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Italia.
Duta Besar RI untuk Italia, Esti Andayani menyatakan, kemenangan ini merupakan pengakuan atas keunggulan kemampuan anak bangsa di bidang film animasi, sekaligus mencerminkan kemajuan industri kreatif Indonesia. “Kembali terpilihnya Battle of Surabaya ebagai film animasii terbaik di kancah perfilman internasional membuktikan bahwa Indonesia pantas diperhitungkan sebagai animator kelas dunia,” papar Dubes Esti.
Ketua PPI Italia, Bashofi, mewakili MSV Pictures menerima penghargaan tersebut menyatakan turut berbangga atas pencapaian ini. “Ajang Milan International Filmaker Festival 2017 dilaksanakan sejak 25 November hingga 2 Desember, serta dihadiri para pembuat film bertalenta tinggi dari seluruh dunia. Saya melihat tingginya apresiasi terhadap film Battle of Surabaya yang disutradarai Aryanto Yuniawan ini,” paparnya.
Sebagaimana diketahui, Milan International Filmmaker Festival merupakan bagian dari The Film Festival International, sebuah rangkaian festival film bergengsi di lima kota Eropa, yakni London, Nice, Madrid, Amsterdam dan Milan. Bukan hanya itu, festival film ini juga menjadi ajang temu bisnis pelaku film dunia.
Film Battle of Surabaya mengambil latar belakang Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Animasi yang sangat indah  dikerjakan oleh mayoritas kreator muda asli Indonesia. Selain memenangkan berbagai penghargaan, film Battle of Surabaya juga dilirik oleh Walt Disney Pictures yang kemudian membantu distribusi global.  Dengan kemenangan Battle of Surabaya ini, animator Indonesia diharapkan semakin mampu meraih pasar film animasi global.​ ***