Pengalaman Natasha Wilona Bintangi Film Horor “Nini Thowok”

Natasha Wilona

 

FILM horor, menghadirkan sensasi tersendiri, tidak terkecuali buat aktor atau aktris yang berpedan di dalamnya, seperti “Nini Thowok” yang dibintangi  Natasha Wilona.

Nini Thowok  merupakan film yang digarap berdasarkan literatur Jawa, yang artinya boneka yang terbuat dari siwur gayung dari batok kelapa. Gayung tersebut menyerupai boneka jailangkung.

“Dan akhirnya dengan bangga, bertepatan pada malam Jumat Kliwon ini, TBS Films mempersembahkan penampakan pertama dari #ninithowokthemovie!” tulis dalam keterangan foto poster Nini Thowok di Instagram @ninithowokmovie, Kamis (16/11) kemarin.

Poster film terbilang cukup membuat bulu kuduk berdiri, yakni memperlihatkan sosok wanita yang hanya terlihat sebagain wajahnya saja karena tertutup oleh rambutnya. Sosok wanita tersebut juga tampak menatap tajam ke arah Anda.

Selain diperankan Natasha Wilona, sejumlah artis seperti Aris Amec, Gesata Stella, Nicole Rossi dan Ingrid Widjanarko juga turut memainkan Nini Thowok. Film ini telah merampungkan proses syutingnya pada September 2017 lalu.***

Tahun Kegamangan Politik, Ada Kejutan di Pilkada Jateng dan Jabar

Suhu Naga

Mencandra jagad politik di tahun shio Anjing Tanah

 

TAHUN 2018 memasuki shio Anjing Tanah. Peramal yang bersandarkan pada ilmu ‘psycho cybernetic’, Suhu Naga, mengatakan ‘anjing pemburu mangsa’.

“Anjing itu suka memburu mangsanya. Aromanya panas. Dan karakter tanah paling cocok dengan hewan anjing. Tahun 2018 masih terjadi bencana alam. Banjir, tanah longsor atau kecelakaan di darat, air dan udara masih akan terjadi,” kata Suhu Naga mengawali perbincangan ‘sersan’ (serius tapi santai) di sebuah Hotel terkenal di kawasan Kuningan, Jakarta, belum lama ini.

Angka kriminalitas mencuat. Narkoba masih marak. Kalangan artis dan oknum pejabat tinggi banyak yang ditangkap dan dicokok aparat karena menggunakan narkoba. Aktris Jennifer Dunn enggak kapok-kapok ditangkap sampai tiga kali karena kedapatan pengguna narkoba.

Awal tahun 2018, isteri wawali (Wakil Walikota) Gorontalo, Shirley Djou ditahan polisi karena mengadakan pesta sabu-sabu bersama teman-temannya. Padahal, suaminya Dr. Charles Budi Doku adalah pejabat terkenal di daerahnya,” ungkap Suhu Naga yang pernah meramal meninggalnya Taufiq Kiemas bakal tutup usia beberapa tahun silam.

Ia membenarkan, 2018 adalah tahun penuh kekelaman. Tahun kegamangan politik.
Bulan Juni tahun ini bakal digelar Pilkada serentak di 171 wilayah Indonesia yang meliputi 17 Propinsi, 115 Kabupaten dan 39 Kota.

“Justru yang paling ramai terjadi di Pulau Jawa. Kita semua tahu, Jawa adalah kunci. Hampir separuh pemilih Pilkada ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Namun, yang terjadi adalah kegamangan politik. Beberapa Calon Gubernur (Cagub) ramai diperebutkan partai-partai. Yang heboh, cagub Jatim mengundurkan diri karena ketahuan berselingkuh dengan seorang aktris terkenal dan fotonya beredar di media sosial,” katanya.

Tokoh-tokoh terkenal gonta-ganti diperebutkan oleh partai-partai pendukung pemerintah dan partai-partai yang berseberangan. Benar juga pagi kedele, siang tempe dan malam kecele. Tak ada yang abadi di dunia politik. Yang abadi adalah kepentingan. Yang surprise, turun panggungnya beberapa Jenderal aktif di panggung politik ikut memberikan warna tahun ini. Trah Soekarno ternyata masih punya kharisma di Jatim, dengan tampilnya Puti Guntur Soekarno. Namun, Suhu Naga dalam penerawangannya, mengatakan, pesaing Puti sama-sama kuat yaitu Kofifah Indar Parawansa dari PKB.

Untuk Jawa Tengah, ia memprediksi calon dari partai-partai besar justru akan kehilangan suaranya. Juga terjadi di Jawa Barat, tokoh yang diunggulkan bakal masuk kotak, Dan kejutan akan terjadi di Jabar dan Jateng.

“Untuk Pilpres, the next leader di panggung politik bakal dibicarakan dimana-mana. Stok lama wajah baru, istilah saya. Yang saya maksudkan adalah tampilnya trah Cendana alias Soeharto, baik Titiek maupun Tommy. Toh Jawa masih dikuasai keturunan Mataram. Mau enggak mau, baik Soekarno maupun Soeharto berasal dari trah Raja Jawa,” lanjut Suhu Naga.

Bagaimana peluang Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok di dunia politik ?
“Ahok akan mencuat kembali tapi di tahun 2019. Bukan tahun 2018. Setelah dia keluar dari penjara Mako Brimob karena kasus penistaan agama, bintangnya akan bersinar lagi. Tapi bukan sebagai Ketua KPK,” paparnya.

Akan tetapi, Suhu Naga menyayangkan perceraiannya dengan Veronica. Ini pilihan berat bagi Ahok. “Enggak ada kaitannya dengan kasus-kasus yang terjadi selama ini seperti Reklamasi dll. Pindah agama dan jadi mualaf ? Ini juga enggak mungkin. Yang jelas, biar bercerai, baik Ahok maupun Veronica tetap akan fokus pada pendidikan anak-anaknya yang studi di luar negeri,” Suhu Naga menjelaskan.

Perfilman Nasional Masih Karut Marut

Wina Armada

 

UNDANG-UNDANG Perfilman terjegal pelaksanaannya, hingga delapan tahun semenjak diundangkan, pemerintah belum melaksanakan kewajibannya, termasuk menerbitkan Peraturan Pemerintah maupun Keputusan Menteri sebagai turunannya. Akibatnya, penyelenggaraan perfilman tidak beraturan.

Film Indonesia diberlakukan tidak adil. Walau dikampanyekan film nasional kini sedang mengalami kemajuan pesat,  pada kenyataannya lebih dari separuh film Indonesia tidak punya kesempatan mengumpulkan penonton yang memadai.  Yang menyedihkan,  banyak film yang tidak punya kesempatan untuk dipertunjukkan di bioskop.

Karut-marut persoalan perfilman itu  mengemuka dalam Sarasehan Peranserta Masyarakat Perfilman, di Gedung Pusat Perfilman H. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta belum lama berselang.  Acara itu dihadiri lebih dari 40 insan film dan pemerhati masalah perfilman, dan dipandu praktisi perfilman Akhlis Suryapati, serta membahas paparan wartawan senior dan kritikus film Wina Armada serta anggota Komisi X DPR-RI Dadang Rusdiana.

“Ketika terjadi silang-sengkarut pendapat dan tindakan yang merugikan Film Indonesia, maka kita menempatkan hukum atau peraturan menjadi acuan untuk mengkritisi semua itu. Sarasehan ini digagas oleh masyarakat perfilman dengan mengajak wartawan film, untuk mengkritisis kondisi perfilman yang sebenarnya, tanpa harus ada kecurigaan-kecurigaan, apalagi kebencian, terhadap pihak-pihak tertentu. Insan film terlalu capek untuk diadu-domba dan terpecah-pecah,” kata Akhlis Suryapati.

Wina Armada memaparkan secara fokus, bahwa pemerintah telah melakukan pelanggaran, atau tidak memenuhi kewajibannya, dalam penyelenggaraan perfilman. “Ini bukan pendapat saya, melainkan sesuai undang-undang. Yaitu Undang-undang Nomor 33 tahun 2009 tentang Perfilman,” kata Wina, menegaskan.

“Di Undang-undang ini sangat jelas disebut apa yang harus dilakukan pemerintah, bahkan sangat jelas disebutkan batas waktunya, yaitu satu tahun setelah diundangkan harus menerbitkan Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri. Namun sampai delapan tahun berjalan kewajiban itu tidak dipenuhi. Ada apa ini?

Sejak empat atau lima tahun yang lalu, jika ditanya jawabannya selalu sudah dibahas, dipersiapkan, sudah di meja menteri, tinggal ditandatangi, dan sebagainya.”

Menurut Wina Armada, akibat dari ketiadaan peraturan turunan UU Perfilman itu, ketidakadilan berlangsung, terutama dalam penyelenggaraan usaha perfilman. Yang kuat menindas yang lemah. Film Indonesia diperlakukan tidak adil. Produser-produser takut bersuara meskipun usaha filmnya merugi miliaran rupiah, karena khawatir semakin digencet dan tidak diberi kesempatan untuk bisa tetap memproduksi dan mengedarkan filmnya.

“Kami ini membuat film dengan uang miliaran rupiah, Pak. Lenyap begitu saja, karena film kami tidak bisa beredar, atau bisa beredar namun hanya diberi jatah sepuluh atau lima layar. Bayangkan, ada 1500 layar bioskop di Indonesia, dan film Indonesia hanya main di 10 atau 15 layar bioskop. Hanya film-film tertentu milik produser tertentu yang diberi jatah 40 layar sampai 70 layar di hari-hari awal pertunjukan,” kata produser film Evry Joe, yang ‘terpaksa’ curhat dalam sarasehan itu.

“Kami ini seperti mengemis di negeri sendiri, Pak. Lalu di mana pelaksanaan undang-undang itu? Di mana payung hukum itu? Di mana komitmen pemerintah yang katanya ingin memajukan film Indonesia dan menjadikan film Indonesia tuan rumah di negara sendiri?”

Menurut Evry Joe, akibatnya di antara produser film Indonesia sendiri terjadi saling curiga, tidak akur, merembet kepada insan film, organisasi-organisasi perfilman tidak bisa kompak. Iklim perfilman menjadi tidak kondusif. Yang diuntungkan oleh keadaan seperti ini, ikut-ikutan nyinyir terhadap yang tertindas.”

Sementara itu Rully Sofyan dari Asirevi mengungkapkan, bahwa UU Perfilman benar-benar terjegal oleh kekuatan politik bisnis yang besar.

“Ketika saya menjadi Pengurus Badan Perfilman Indonesia, ikut mengawal dan membahas masalah ini, beberapa Peraturan Pemerintah bahkan sudah ditandatangani oleh Menteri Parekraf pada waktu itu. Perlu sekali lagi ditandatangani Menteri Pendidikan dan Kebudayaan karena UU Perfilman mengaturnya demikian. Eh, ternyata masuk-angin juga. Begitu pun DPR yang semula sempat bersemangat membentuk Panja segala, akhirnya masuk angin juga. Jadi UU Perfilman memang terjegal.”

Anggota Komisi X DPRI RI Dadang Rusdiana menyimak semua paparan dalam sarasehan, dan bertekad membawa aspirasi ini ke Komisi X DPRI RI.
“Tentu saja kami perlu terus-menerus diingatkan dan didorong seperti ini, karena yang dibahas di DPR itu banyak sekali. Peran masyarakat melalui media, termasuk media sosial, sangat membantu dalam mendorong DPR maupun pemerintah untuk menindaklanjuti proses-proses legislasi dan monitoring sesuai fungsi dan tugasnya ,” kata Dadang.
Dadang Rusdiana sependapat, UU Perfilman yang ada sudah cukup bagus dan memadai. Kebetulan juga tahun ini tidak masuk dalam Program Legislasi Nasional di DPR-RI.

“Persoalannya memang pada implementasi dan tidak diterbitkannya peraturan-peraturan turunannya oleh Pemerintah,” kata Dadang.

Sarasehan Peranserta Masyarakat Perfilman rencananya berlangsung secara berkala, dengan topik berbeda-beda, dalam rangka menuju Kongres Peranserta Masyarakat Perfilman bertajuk ‘Demi Film Pribumi’ di Surabaya pada 2 dan 3 April mendatang.**

Artis K-pop Main Film ‘Forever Holiday in Bali’

 

MANTAN personel boyband MBLAQ, Thunder memamerkan bakat aktingnya di Indonesia dalam film Forever Holiday in Bali. Film itu sendiri merupakan hasil kolaborasi sineas Indonesia dengan rumah produksi Korea Selatan, Showbox. Film ini tak ada hubungannya dengan film berjudul sama yang dibuat oleh Perfini dan Sampaguita, flm dari FIlipina, 30 tahun lalu. Bintang-bintang waktu itu antara lain Chitra Dewi, Fifi Young, Dicky ZUlkarnaen, Yoseph Estrada, dll.

Mengikuti proses syuting film yang sepenuhnya berlatar di Bali itu, pemilik nama asli Park Sang Hyun ini mengaku mendapatkan pengalaman yang seru. “Bali itu tempat yang nyaman untuk dikunjungi. Sebelumnya saya sudah pernah datang dan banyak pengalaman seru,” katanya dalam konferensi pers di CGV Grand Indonesia, belum lama ini.

“Belajar naik motor selama dua hari, kemudian pas syuting pun belajar lagi. Senang, adegannya bagus,” katanya.

Dalam film yang diarahkan Ody C. Harahap, sutradara yang sebelumnya mengarahkan filmSweet 20, itu Thunder beradu akting dengan aktris pendatang baru Caitlin Halderman. Mereka berperan sebagai dua orang yang saling jatuh cinta.

Demi membangun kedekatan sebagai pasangan yang tengah jatuh cinta, baik Thunder maupun Caitlin mengaku banyak menghabiskan waktu bersama sebelum syuting. “Jadi untuk bangun ‘chemistry’ kami jalan-jalan dulu di Bali. Beli es krim,” ujar Caitlin.

Sedangkan  Thunder, yang menyatakan sebenarnya  tidak suka dengan es krim,  untuk kepentingan kerja dalam film ini, ia mengaku rela memakannya demi dekat dengan Caitlin.

“Saya tidak suka es krim, tapi demi dekat sama dia, saya makan. Dia sudah seperti adik saya sendiri, dan sebenarnya saya agak pemalu,” tutur Thunder.

Selain beradu akting, keduanya turut mengisi lagu tema untuk film Forever Holiday in Bali. Mereka berduet untuk lagu berjudul Destiny.

Film ini sendiri bercerita tentang dua anak muda, Kay (Thunder) dan Putri (Caitlin) yang secara tak sengaja bertemu di Bali.

Kay adalah seorang seniman K-Pop yang sedang mengalami kesulitan serta stres pascakehilangan ibunya. Sementara Putri merupakan seorang gadis Bali yang dibebani oleh kondisi keuangan keluarganya dan ketiadaan kedua orangtuanya.

Ketika kedua anak muda dari dunia yang berbeda ini bertemu, cinta mulai bertumbuh. Film ini akan menyingkap cerita bagaimana Kay dan Putri menghadapi masalah yang terjadi di antara mereka dan orang-orang yang mencoba memisahkannya.

Forever Holiday in Bali  rilis di Indonesia pada hari ini tanggal 11 Januari 2018. Setelahnya, film itu direncanakan tayang di beberapa negara, termasuk Korea Selatan, Malaysia, dan Filipina.**

Resolusi Nikita Willy: Ingin Fokus pada Pendidikan dan Film

foto kapanlagi.com

“Nggak ada usaha yang mengkhianati hasil!” Begitu kata Nikita Willy untuk menggambarkan kerja kerasnya dalam berkarier dan hasil yang didapat. Itu juga yang terjadi sepanjang 2017 dimana dia telah bekerja keras untuk mewujudnya mimpi dan target-target yang ditetapkannya, dan Alhamdulilah kata Nikita, kebanyakan resolusi yang ditetapkanya bisa terwujud.

“Aku adalah salah satu orang yang percaya bahwa nggak akan ada usaha yang mengkhianati hasil. Begitu juga di tahun 2017, rasanya semua yang aku usahakan dengan kerja keras bisa terwujud dan aku jalani dengan baik,” ungkap Niki, begitu namanya akrab disapa.

Seperti misalnya film. Niki mengaku sejak lama ingin main film, lantaran sudah lama tak berakting di layar lebar. Film terakhirnya adalah tahun 2008, ‘Married by Accident’. Sejak itu dia tak pernah lagi muncul di layar lebar, waktunya lebih banyak tersita dengan sinetron-sinetron. “Jadi aku waktu 2016 lalu bikin resolusi akan main film di 2017. Ternyata terwujud. Tahun lalu aku main tiga film; ‘From London to Bali’, ‘Total Chaos’ dan ‘Gasing Tengkorak’. Film ‘Gasing Tengkorak’ adalah film pertama aku yang bergenre horor,” papar gadis kelahiran Juni 1994 ini.

“Aku nggak sangka bisa main film horor. Ini sungguh berbeda dengan film-film yang biasa aku perankan. Ini sebuah tantangan baru yang mengasyikan buat aku. Kalau biasanya film atau sinetron aku, kan, drama yang hanya berekspresi sedih atau bahagia. Nah horor berbeda, aku harus lebih banyak eksplorasi ekspresi, mixed. Jadi ada senang, juga takut. Belum lagi hawa mencekam yang menyeramkan,” tambah Niki yang mengaku sudah lama menginginkan main film horor namun baru mendapat kesempatan pada 2017 .

instagram nikita willy

Lalu bagaimana dengan tahun 2018?

Anak sulung pasangan Henry Willy-Yora Febrine menyebut punya banyak daftar keinginan yang hendak dicapainya. Namun menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum adalah prioritasnya.  “Tahun ini  adalah tahun keempat aku kuliah hukum. Aku berharap bisa selesai tahun ini. Makanya aku harus fokus  dengan masalah pendidikan agar bisa segera selesai,” tutur Niki yang kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Institute of Business Law and Legal Management, Jakarta

Karena kuliahnya hampir selesai, dia berusaha keras agar bisa tuntas tahun ini. Bisa jadi itu juga sebabnya dia sangat mengurangi main sinetron karena sinetron terlalu menyita waktu. “Aku kuliah setiap Rabu, Jumat atau Sabtu, dari sore sampai malam. Memang ini kelas untuk karyawan, jadi secara waktu lebih longgar sehingga aku bisa berbagi waktu dengan pekerjaan lainnya,” jelas Niki yang memulai kariernya di jagad hiburan sejak usia 8 tahun.

Selain masalah pendidikan, Niki juga memiliki resolusi untuk kariernya di tahun ini. Dia berkeinginan untuk fokus pada layar lebar alias main film. Jadi untuk sementara dia akan mengurangi penampilannya pada sinetron maupun FTV. ***

 

Aditya Suryo Bangga Bermain di Film Horor “Arumi”

 

 

 

ARUMI  adalah film horor pertama yang tayang di awal 2018. Bintang muda berbakat Aditya Suryo mengaku bangga bisa terlibat di film Arumi produksi Flying Stars Pictures.
Karena menurut adik kandung Chand Calvin ini film Arumi bukan horor biasa tapi lebih menonjolkan cerita kekinian atau istilah jaman sekarang, anak muda jaman now.

“Aku suka banget main film Arumi, karena ceritanya beda banget dengan cerita horor yang ada di Indonesia. Pokoknya seru banget deh,” ungkap Aditya belum lama ini.

Apalagi di film besutan Nayato Fionala pengambilan gambarnya banyak di lokasi yang mistis di kawasan, Ciawi, Puncak dan Bogor.

Aktor muda Aditya Suryo yang bermain di film horor “Arumi”

“Tadinya saya kan banyak main sinetron drama yang lokasi syutingnya di tempat ramai. Tapi begitu main film Arumi lokasi syuting lebih banyak di tempat sepi dan mistis jadi banyak pengalaman menarik selama syuting film Arumi. Salah satunya melihat orang ketempelan penunģgu villa yang lumayan angker,” papar Aditya.

Belum lagi, kata Aditya menambahkan, ia diarahkan oleh sutradara bertangan dingin yang banyak melahirkan artis papan atas.

“Selain ceritanya keren, sutradara nya dikenal piawai meramu cerita horor. Makanya banyak film yang disutradarai nya sukses di pasaran,” ujar artis yang kini banyak membintangi religi yang tayang di Indosiar.

Ditengah meningkatnya penonton film genre horor, Aditya optimis kalau film Arumi bakal diburu pecinta film horor.

“Insya Allah, film ini akan menyedot banyak penonton. Buat anal muda jaman now. Ayo tonton film yang bakal tayang 11 Januari 2018. Doain ya, biar bisa box office,” jelas Aditya.

Pole Dance untuk yang Tubuhnya ‘Gembyar-gembyor’

 

 

 

Para wanita yang badannya ‘gembayr-gembyor’, mereka yang ingin kembali bertubuh cantik dan sexy, sepertinya olah raga Pole Dance jawabannya. Olah raga yang sudah ada di Amerika sejak tahun 1920, ini, memang termasuk olah raga ekstrem dan tidak mudah. Namun bagi mereka yang punya tekad kuat untuk mendapatkan tubuh sexy pastilah bisa melakukannya dengan baik. “Yang penting tekun, disiplin dan tidak mudah putus asa. Karena ini bukan olah raga biasa tapi cukup sulit. Ikuti instruksi dengan benar maka pasti bisa,” ungkap Vicky Burki, instruktur Indonesia Pole Dance.

Awalnya, tutur Vicky sulit mengembangkan Pole Dance lantaran banyak yang beranggapan ini adalah striptis alias tarian erotis lantaran seperti halnya striptis, Pole Dance juga menggunakan tiang sebagai alat bantu. Walhasil, gara-gara adanya tiang, membuat image negatif melekat pada Pole Dance. Padahal, Pole Dance murni olah raga jauh dari striptis yang berkonotasi tarian erotis.

“Mengubah mindset orang sungguh tidak mudah. Perlu waktu bertahun-tahun sampai akhirnya masyarakat baru bisa menerima Pole Dance sebagai olah raga,” tambahnya.

Seiring dengan perubahan mindset itulah, kini olah raga yang tengah dikembangkan Vicky dan temannya Mametho mulai banyak peminatnya. “Uniknya banyak dari anggota studi Vicky yang ikut Pole Dance adalah orang-orang yang dulunya mengira olah raga ini adalah striptis. Ya salah paham karena mereka kan belum tahu. Tapi setelah tahu dan merasakan manfaatnya, mereka senang sekali dan rajin latihan,” ujar Vicky semangat.

Vicky sendiri belajar Pole Dance di Australia beberapa tahun lalu. Lulus dari pelatihan Pole Dance, dia bersama temannya pun membangun studio. Tidak mudah memang, tapi Vicky yang pernah menyabet gelar Ratu Aerobic Asia, tidak putus asa. Demi fokus pengembangan studionya, dia pun mengurangi aktivitasnya di dunia hiburan. Sinetron terakhir Vicky adalah ‘Cinta di Langit Taj Mahal’ sekitar 2015. Sinetron ini sangat populer di masyarakat, Vicky sendiri kebagian peran sebagai ‘Ibu Hilda’.

Kala itu, ungkap Vicky, dirinya sudah berkecimpung di studionya. Namun berkat pengaturan jadwal yang menurut Vicky ‘cangih’ lantaran jadwal syuting bisa diatur sedemikian rupa sehingga menyesuaikan dengan jadwal ketat Vicky sebagai instruktur senam, akhirnya wanita yang tetap awet muda di usianya yang 53 tahun, bisa terlibat dalam sinetron populer itu. “Vicky sih syukur banget ya waktu itu yang ngatur jadwalnya ‘canggih banget’ sehingga Vicky bisa syuting sehabis mengajar di studio. Pagi Vicky ngajar, siang syuting, sore balik ke studio lagi, dan malam syuting sampai tengah malam,” ungkap Vicky yang kerap kebagian peran antagonis.

Sayangnya, kata Vicky, tak banyak orang yang mampu mengatur jadwal seperti itu. Akibatnya, ketika ada tawaran bermain sinetron, Vicky diharuskan memilih antara sinetron atau olah raga, itu lah yang tak dapat dilakukan Vicky. “Mereka nggak bisa ngatur jadwal menyesuaikan dengan kegiatan aku diluar. Harus milih, katanya. Ya sudah, Vicky milih tetap olah raga karena itu dunia Vicky dari dulu. Apalagi mengembangkan studio bukan hal mudah. Sekarang ada Pole Dance yang olah raganya relatif baru, jadi Vicky harus mengawal, nggak bisa ditinggal-tinggal. Itu makanya dua tahun terakhir Vicky sama sekali nggak muncul di sinetron,” ungkapnya.

Tapi dirinya bersyukur upayanya untuk fokus pada kegiatan utamanya membuahkan hasil. Murid semakin banyak dan pendaftar olah raga Pole Dance semakin banyak. “Vicky sebenarnya sudah kangen banget berakting, namun belum bisa ninggalin murid-murid, kecuali ada pengaturan schedule syuting seperti dulu (Cinta di Langit Taj Mahal). Ya mungkin Vicky harus sabar ya, nunggu sampai studio Vicky bisa berjalan baik, baru bisa belok lagi ke sinetron. Lihat bagaimana nanti saja deh. Toh, Vicky sekarang enjoy kok, lagi seneng banget dengan perkembangan usaha Vicky,” ucapnya. ***

 

London Love Story 3 Tayang Awal Februari 2018

 

KISAH cinta film London Love Story (LLS) arahan Asep Kusdinar tak berakhir di satu sekuel. Screenplay Pictures telah mengerjakan seri ketiga yang akan tayang pada awal Februari 2018.
Screenplay juga baru saja merilis teaser trailer untuk film ini. Dalam cuplikan semenit, tampak perjalanan relasi Dave (Dimas Anggara) dan Caramel (Michelle Ziudith) memasuki babak baru. Dave melamar sang kekasih di sebuah restoran mewah.

Namun pada satu titik, ada satu masalah terkait hal medis begitu mereka pulang ke Indonesia. Caramel meminta Dave untuk mencari perempuan yang lebih ‘sempurna’. Tampak mereka bertangisan di bawah guyuran hujan.

Menurut sinopsis resmi, kedua tokoh juga akan pergi berlibur ke Bali sebelum menikah. Mereka bertemu dengan seorang pria yang baru kenal. Mereka berdua merasa terusik.

LLS dirilis pada 2016 dan menjadi film terlaris ke-10 tahun itu dengan perolehan 1,1 juta penonton. Sekuel dirilis tahun berikutnya dan kembali masuk ke jajaran film laris.

Dimas Anggara dan Michelle Ziudith tampil di ketiga film sebagai pemeran tokoh utama. Dalam LLS 3, Derby Romero dan Amanda Rawless bergabung sebagai aktor pendukung.

Tahun ini Indonesia Miliki 2.000 Layar Bioskop

Ketua Umum GPBSI Djonny Syafruddin

 

GABUNGAN  Pengelola Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mengungkapkan pada tahun 2018 ini, Indonesia akan memiliki 2.000 layar bioskop, seiring bergairahnya bisnis bioskop di Tanah Air belakangan ini.

Ketua Umum GPBSI Djonny Syafruddin di Jakarta, belum lama ini, menyatakan sejumlah pemain baru saat ini gencar melakukan ekspansi membangun bioskop baru sampai bulan awal 2017, jumlah layar bioskop di Indonesia menembus angka 1.500 layar. “Melalui teknologi yang baru, usaha bioskop sedang bangkit. Semua operator melakukan penambahan layar, bukan hanya pengusaha bioskop besar, bioskop yang kecil juga ikut bergairah,” katanya.

Menurut dia, bertambahnya jumlah layar bioskop merupakan angin segar bagi industri film Indonesia karena kesempatan bagi film-film Indonesia berkualitas untuk diputar di bioskop semakin terbuka lebar. “Bahkan kami menunggu realisasi pengusaha bioskop untuk menambah 1.000 layar lagi selama dua tahun ke depan,” ujar Djonny Syafruddin.

Dua pemain baru CGV dan Cinemaxx, tambahnya, menunjukkan agresivitas dan tekad untuk menambah lebih dari 1.000 layar. Jika itu terjadi, maka pada 2018, jumlah layar bioskop di Indonesia akan mencapai angka 2.000 layar.

Menurut Djonny Syafruddin, bioskop independen atau bioskop non-jaringan juga mengalami pertumbuhan yang signifikan. “Beberapa kota yang dulunya tidak ada bioskop kini sudah mulai ada beberapa layar,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, pertumbuhan bisnis bioskop sangat tergantung kepada tingkat pertumbuhan ekonomi dan pendapatan masyarakat, terutama kelas menengah, di suatu negara. Jika ekonomi membaik dan pendapatan masyarakat meningkat, industri bioskop dengan sendirinya akan meningkat pula.

Dikatakannya, perbandingan jumlah bioskop dengan penduduk di negara yang ekonominya maju pada umumnya lebih besar dibandingkan di negara berkembang. Malaysia, misalnya, memiliki jumlah layar bioskop yang hampir sama dengan Indonesia yakni 920 layar, padahal jumlah penduduk Malaysia hanya seperdelapan dari Indonesia. Hingga kini, tercatat 5 provinsi belum ada bioskop, yaitu Sulawesi Barat, Papua Barat, Aceh, Kalimantan Utara dan Maluku Utara. Sementara untuk tahun 2018, beberapa bioskop akan dibuka di Ternate, Sorong, Manokwari, Sengkang, dan Siantar.***

Vokalis Koes Plus, Yon Koeswoyo Tutup Usia

Yon Koeswoyo dalam sebuah penampilan. (ANTARA FOTO/Didik Suhartono)

 

 

KABAR duka datang dari industri musik tanah air. Vokalis Koes Plus, Yon Koeswoyo meninggal dunia pada Jumat (5/1/2018) pagi. Hal itu dibenarkan oleh Bens Leo, pengamat musik.

“Iya benar, Mas Yon meninggal dunia tadi pagi,” kata Leo dihubungi wartawan, Jumat (5/1/2018) pagi.

Kabar tersebut didapat Bens dari kakak Yon, yakni Nomo Koeswoyo. Saat ini, Bens tengah menuju rumah duka di kawasan Pamulang, Tangerang Selatan.

Diceritakan Bens pula, selama dua tahun terakhir Yon sudah keluar masuk rumah sakit lantaran komplikasi penyakit yang dideritanya.

“Terakhir saya jenguk di Eka Hospital BSD, tapi saat itu sih sempat sehat kembali,” ujar dia.

Yon yang bernama asli Koesyono Koeswoyo lahir di Tuban, Jawa Timur, 27 Semptember pada 77 tahun lalu. Ia membentuk band lagendaris Koes Plus bersama saudaranya, yang sebelumnya bernama Koes Bersaudara.

Tahun 2016, Yon berjuang melawan penyakit sesak nafas sehingga paru-parunya bocor. Hanya keajaiban yang bisa memperpanjang usia Yon. Tapi awal Januari 2018, Yon menyerah. Terakhir, Yon tinggal bersama isterinya, Bonita di Pamulang di rumah seluas 2500 m2. Tiap pagi Yon memotong dan menyirami rerumputan. “Saya berjuang untuk hidup dan harus optimis,” ujar ayah 4 anak ini.

Ihwal lagu-lagu Koes Plus yang direkam tanpa izin n dia tak mendapat royalti, Yon pasrah dan legowo. “Saya percaya, lagu ciptaan saya bakal kembali ke saya,” katanya. Kiat hidupnya : Yon tak pernah berpikir sudah tua di musik. “Sampai ajal menjemput, saya tetap mencari nafkah di musik,” papar Yon Koeswoyo.