Disepakati, Patung Ismail Marzuki Dikembalikan

 

 

AKHIRNYA, pematung Arsono bersama Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tinia Budiati dan Kepala UPT TIM Imam Hadi, sepakat mengembalikan patung Pahlawan Nasional Ismail Marzuki, landmark PKJ-TIM ke tempatnya semula.

Kesepakatan itu terjadi setelah mereka bertemu di Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), Jl. Cikini Raya 73 Jakarta Pusat, Kamis sore, 18 Januari 2018. Melaksanakan perintah Gubernur DKI Anies Baswedan, tertanggal 17 Januari 2018, yang berisi empat hal.

Bunyi lengkap selembar surat Anies yang ditujukan kepada Kepala UPT TIM dan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta, yang ditandatangani Anies Baswedan dengan tinta biru, berlogo garuda emas — seperti yang diterima redaksi — sebagai berikut:

“Terkait pemindahan patung Pahlawan Nasional Ismail Marzuki pada Oktober 2017 lalu ke depan Teater Besar TIM, harap lakukan arahan sebagai berikut:

Segera pindahkan kembali patung tersebut ke lokasi semula di halaman depan Taman Ismail Marzuki.

Komunikasikan dan libatkan keluarga Ismail Marzuki – ibu Rachmi Aziah, dan pembuat patung Ismail Marzuki –Bapak Arsono, dalam proses pengembalian patung tersebut.

Pastikan proses pengembalian berjalan dengan baik dan aman, tidak menimbulkan kerusakan pada patung

Laporkan proses dan hasilnya pada kesempatan pertama.

Sepulang dari pertemuan itu Arsono menjelaskan rencana pemindahan patung akan berlangsung sekitar akhir bulan Januari 2018. “Sebelumnya saya minta terlebih dahulu dibuat gambar oleh arsitek, dimana dan bagaimana patung itu diletakkan. Kemudian ditanda tangani pejabat DKI sebagai dokumen landmark PKJ-TIM. Baru dipindahkan sesuai gambar itu,” ujarnya sambil tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Gubernur DKI Anies Baswedan atas kebijakannya, dan para staf yang terlibat mengurus ini.

Pakar hukum patung publik DR. Inda C. Noerhadi, menyambut baik langkah Anies bersama aparatnya. Mengapa? Karena pemindahan paksa landmark ini ke depan Teater Besar TIM dari tempatnya semula di halaman TIM sejak 1984 selain menyalahi prosedur hukum, juga melanggar hak moral seniman (pematung).

Mikha Tambayong Pramugari di Film Pembajakan Pesawat

Mikha Tambayong

AKTRIS peran Mikha Tambayong berperan sebagai seorang pramugari dalam film drama komedi Flight 555. Didapuk menjadi seorang pramugari, Mikha mengaku harus merelakan rambut panjangnya dipotong sampai di atas pundak.

“Aku potong rambut aku untuk film ini. Aku pengin total sebagai pramugari,” ujar Mikha dalam jumpa pers saat menghadiri pemutaran film tersebut di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (15/1/2018).

Selain memotong rambutnya, Mikha juga belajar menjadi seorang pramugari sungguhan. Ia mengaku mendapatkan pelatihan secara langsung oleh para pramugrari. “Saya belajar sebagai pramugari dan belajar sama pramugari aslinya. Tidak hanya soal akting, tapi diberikan wawasan agar menjadi pramugari sungguhan,” kata Mikha.

“Ini benar-benar film yang tidak aku bisa lupakan. Apalagi film komedi, enggak gampang membuat orang tertawa,” sambung dia.

Film Flight 555 menceritakan pesawat Putu (Tarra Budiman) dari Jakarta ke Bali dengan menumpang sebuah maskapai Komodo Airlines. Di dalam perjalanan, terjadi pembajakan oleh dua penumpang dari Papua dan Sunda. Putu harus segera tiba di Bali karena mendapat kabar ayahnya menjalani perawatan di Rumah Sakit.

Selain Tarra Budiman dan Mikha Tambayong, film yang disutradarai Raymond Handaya ini juga dimeriahkan Gisella Anastasia, Meriza Febriani, Mathias Muchus, Julius SItanggang, Ryan d’Massiv, Jaja Miharja, Inggrid Wijanarko, Mo Sidik, Samuel Zylgwyn, Joshua Pandelaki, dan artis lainnya. ***

Rianti Cartwright Penakut, Tapi Main Film Horor

Rianti Cartwright

BERPERAN dalam film Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati adalah kali pertama untuk aktris Rianti Cartwright terlibat dalam film bergenre horor. Namun, wanita 34 tahun ini mengaku langsung setuju ketika tahu Rizal Mantovani yang bertindak sebagai Sutradara.

“Aku itu penakut banget, tapi karena mas Rizal yang ngajak dan aku sudah pernah kerja sama dengan dia sebelumnya, aku mau. Ternyata syuting horor nggak semenakutkan bayanganku, banyak ketawa, jadi nggak semencekam bayanganku. Nggak ada kejadian horor juga. Jadi kalau suasana syutingnya begini aku mau-mau saja,” kata Rianti saat jumpa pers kepada penulis

Film ini unik karena hantunya bayi. Berawal dari ide sang produser, Dheeraj Kalwani, saya langsung tertarik dan mengembangkannya dengan mitos mistis yang berkembang di Indonesia. Ada sisi baby blues yang memang dialami ibu-ibu hamil juga yang jadi salah satu poin utama,” jelasnya.

Film Bayi Gaib: Bayi Tumbal Bayi Mati akan tayang di bioskop di seluruh Indonesia mulai 15 Februari 2018. Kemudian, rencananya akan tayang di Malaysia.

Film yang disutradari oleh Rizal Mantovani ini bercerita tentang pasangan suami istri, Rafa (Ashraf Sinclair) dan Farah (Rianti Cartwright) yang baru pindah rumah. Kebahagiaan Rafa sebagai kontraktor sukses, nyaris lengkap saat istrinya, Farah mengabarkan kehamilannya setelah penantian 2 tahun rumah tangga mereka. Namun, ada yang ganjil dengan kehamilan Farah dan bayinya. ***

Pengalaman Tina Toon Lupa Lirik Saat Manggung

tina toon–foto kapalagicom

Tina Toon ternyata punya cara tersendiri untuk merawat otaknya agar tetap cemerlang. Di antaranya, kata Tina, rajin membaca, membuat analisa-analisa juga berdiskusi. “Caranya banyak di antaranya rajin membaca, rajin menganalisa sesuatu, berdiskusi, dll. Intinya adalah bagaimana agar otak aktif bekerja,” ujar mantan penyanyi cilik yang belum lama ini menyelesaikan S2-nya di bidang Hukum Perpajakan.

Menurut Tina dengan rajin ‘merawat’ otak membuat kita tidak pikun atau pelupa. Karena pelupa bukan saja milik orang tua tapi anak muda pun kalau tidak sering melatih otaknya akan menjadi pelupa.

“Aku bukan orang yang pelupa, malah aku termasuk orang yang punya daya ingat tajam. Namun sebagai manusia, ya ada dong sesekali jadi pelupa. Itu biasanya karena aku kurang fokus. Misalnya karena terlalu sibuk atau capai, membuat kurang fokus yang akhirnya jadi lupa sesuatu,” ungkap pemeran film ‘Cinta Dalam Kardus’, ini.

Meski bukan pelupa, namun Tina yang ngehits dengan lagu ‘Bolo-bolo’ di masa kanak-kanak, memiliki pbeberapa pengalaman terkait dengan lupa. “Sebenarnya yang namanya penyanyi ataupun artis peran, lupa lirik atau lupa dialog adalah hal yang biasa. Kalau artis peran, lupa dialog saat syuting sinetron atau film masih bisa diperbaiki, tapi kalau penyanyi lupa lirik saat show, itu bisa berakibat fatal jika tidak bisa mengatasinya”.

tina toon—foto kapanlagicom

“Aku pernah juga mengalami hal ini, ketika manggung (menyanyi) lupa lirik. Aku segera bikin improvisasi, misalnya dengan mengajak penonton bernyanyi, atau melakukan improvisasi lain. Itu sebagian trik yang biasa dilakukan saat kita (penyanyi) bermasalah di panggung. Yang penting kita tenang melakukannya sehingga penonton tak sadar kalau sebenarnya kita lupa lirik. Dengan begitu show kita tidak menjadi memalukan,” tutur Tina.

Pernah juga, lanjut Tina, karena terlalu sibuk dan capai dia melupakan sebuah acara. Meski akhirnya permasalahan itu dapat diselesaikan namun cukup berdampak. “Jadi waktu itu aku lupa nyatet jadwal, manajemen aku juga lupa. Kebetulan memang pada waktu itu kegiatan aku cukup padat. Akhirnya acara itu jadi terlupakan. Sempat bermasalah, namun akhirnya bisa diselesaikan. Cuma fatalnya mereka (penyelenggara) harus mencari talent lain untuk men-replace aku. Ya jadi berantakan,” tutur Tina. ***tkh

 

Soraya Haque Melawan Lupa

soraya haque–sumber instagram soraya haque

Siapa orang tidak pernah lupa? Pasti setiap orang pernah lupa sesuatu entah itu hal besar ataupun kecil. Sesekali lupa adalah hal yang biasa. Namun kalau terlalu sering lupa, itulah yang harus dipertanyakan atau dicurigai sebagai tanda adanya sesuatu. Lupa, kata Soraya Haque, mantan artis yang kini banyak berkecimpung di bidang kesehatan dan human resources, menandakan ketikdakfokusan. Ini dalam konteks lupa biasa-biasa atau sesekali lupa.

“Namanya manusia ya tidak luput dari lupa. Itu manusiawi. Yang saya maksud adalah sesekali lupa, bukan dalam konteks penyakit lupa serius seperti pikun ataupun demensia,” ujar Aya, begitu namanya akrab disapa.

“Lupa itu kelemahan manusia ketika ia tidak sedang fokus. Misalnya, menaruh barang di suatu tempat, tapi pikirannya sedang tidak di situ alias pikiran kemana-mana, maka tak heran dia akan lupa. Jadi intinya, manusia lupa karena tidak fokus. Coba kalau dia fokus, pasti tidak akan lupa,” tegas Aya yang sedang menempuh pendidikan doktoral jurusan Hukum Kehakiman.

Dulu, kata mantan pragawati papan atas era ’80-an ini, dia pun kerap lupa karena tidak fokus. “Yang paling saya ingat itu, dulu, saya beberapa kali lupa jam undangan. Jadi saya dapat undangan pernikahan, saya kurang perhatian pada jam acara, hanya ingat tanggal dan tempat acara. “

soraya haque–sumber instagram soraya haque

“Jadi pernah suatu kali saya dan Eki (Eki Soekarno-suaminya-red) datang ke undangan pernikahan. Sampai di sana, saya dan Eki kebingungan, pasalnya, nama pasangan yang menikah berbeda. Saya perhatikan, kok, yang dipelaminan saya nggak kenal. Saya langsung feeling, wah ini pasti saya salah. Ternyata acara pernikahan yang saya mau datangi sudah lewat, dan acara yang ini adalah pemakai gedung setelahnya,” tutur Aya sambil tertawa.

Terkait salah acara ini, tambah Aya, sudah tiga kali terjadi. “Biasanya kalau sudah begini Eki tahu ini pasti ‘kerjaan’ saya…hahahaha,” ucapnya.  Kejadian-kejadian itu menyadarkan dirinya bahwa jika kita tidak fokus tentang sesuatu, pasti akan mudah lupa. Maka sejak itu, ucapnya, dia pun berupaya untuk fokus tentang apapun juga.

“Untuk bisa fokus terhadap segala sesuatu tidak datang begitu saja. Itu perlu dilatih. Lihat saja tubuh kita jika ingin memiliki tubuh yang sehat selain menjalani pola hidup sehat, kita juga perlu melakukan olah tubuh atau olah raga. Begitupun otak. Jika ingin daya ingat kita tetap baik, memori kita tidak menurun, ya harus rajin dilatih, olah pikiran.”

“Saya ingat suatu ketika pernah membaca artikel seorang menyelesaikan program doktoralnya diusia 79 tahun. Bayangkan, diusia seperti itu, dia masih mampu menyelesaikan pendidikan doktoral. Padahal menempuh program doktor tidak mudah,” papar Aya yang pernah mendapat award dari Helen Keller Fondation karena aktivitasnya memproduseri dan menjadi presenter acara ‘Ibu, Bayi dan Balita’.

Seperti halnya tubuh, lanjut ibu tiga anak ini lebih jauh, otak pun harus diolah terus menerus. Caranya bermacam-macam, lewat bacaan, menganalisa sesuatu, diskusi-diskusi, dll yang intinya merangsang otak untuk berpikir. Kalau otak jarang dirangsang maka yang terjadi adalah penurunan memori.

“Ada kecenderungan orang semakin bertambah usia, semakin merasa tua, dia menjadi malas berpikir. Kalau disuruh mikir maka jawabnya,” Ah udah tua ngapain mikir susah-susah.’ Padahal berpikir, menganalisa adalah salah satu bentuk atau cara merangsang otak,” tuturnya.

Beruntung, dirinya tidak punya pandangan seperti itu. Di usianya yang 52 tahun dia tidak mengalami penurunan memori karena aktif melakukan olah otak. Apalagi saat ini dia tengah menyelesaikan program doktoral yang cukup berat dalam prosesnya. “Setidaknya saya harus rajin membaca banyak jurnal, melakukan analisa-analisa. Saya juga harus membaca setidaknya 50 buku, juga diskusi-diskusi. Dengan itu semua otak mendapat rangsangan untuk terus bekerja,” jelas Aya.***tkh

Southeby Lelang Lukisan Potret Wanita Selingkuhan Pablo Picasso

 

Seorang pengunjung melihat sebuah lukisan berjudul ‘Femme assise pres d’une fenetre’ (Seorang wanita duduk di dekat jendela) oleh seniman Spanyol, Pablo Picasso di rumah lelang Sotheby di London tengah. Karena merupakan bagian dari Impresionis dan Modern Art Evening Sale pada tanggal 5 Februari 2013 diharapkan untuk mengambil nilai penjualan antara 25 – 35 juta GBP (29-41 juta EUR – 40-55 juta USD). AFP PHOTO / CARL COURT.

SEBUAH potret kekasih Pablo Picasso, Marie-Therese Walter, dijual di London dengan harga £ 28,6 juta (Rp 607,5 miliar), kata manajeman rumah lelang Southeby.

Warna-warni dan montok “Femme assise pres d’une fenetre” (wanita duduk di dekat jendela), yang dilukis pada tahun 1932, dijual di sebuah ruang penjualan yang ramai kepada pembeli yang mengorder melalui telepon anonim, kata juru bicara Sotheby. Diperkirakan harga yang dicapai akan berada di ketuk di angka antara £ 25 juta dan £ 35 juta.

“Kami senang bahwa potret yang menakjubkan dan monumental ini, yang merupakan bagian dari seri yang menentukan yang memperkenalkan ‘muse emasnya’ ke mata publik, menemukan harga yang begitu kuat,” kata Helena Newman, ketua departemen seni impresionis dan seni Sotheby di Eropa.

“Potret ini adalah karya yang mencolok dan terutama terlihat modern dari salah satu periode paling terkenal pelukis.”

Lukisan itu menjadi bintang dalam penjualan seni impresionis, modern dan surealis yang dilakukan pada Selasa, dan mencapai harga tertinggi dalam sebuah lelang yang menghasilkan total 121 juta poundsterling.

Picasso bertemu dengan muse terkenal Marie-Therese Walter di Paris pada tahun 1927, saat mereka masing-masing berusia 17 tahun dan berusia 45. Hubungan mereka dirahasiakan selama bertahun-tahun, karena masa muda dan pernikahan Picasso dengan balerina Rusia Olga Khokhlova.

Perselingkuhan itu terungkap pada tahun 1932, ketika potret Walter dipajang untuk pertama kalinya di samping karya Picasso lainnya secara retrospektif, dan Khokhlova menyadari ada wanita lain dalam kehidupan suaminya.

Walter, yang mengilhami beberapa karya Picasso termasuk “La Lecture”, “La Reve” dan “Nature morte aux tulipes”, membawa artis Spanyol itu seorang putri, Maya.

“Beberapa tahun terakhir ini, kami telah menyaksikan keasyikan potret Picasso Marie-Therese terhadap kolektor, Picasso,” kata Newman.

Potret lain Walter dari serial yang sama, “Nude, Green Leaves and Bust”, memegang rekor karya seni termahal yang pernah dijual di lelang saat dibeli seharga $ 106,4 juta (Rp 1,436 triliun) di New York pada tahun 2010.

Relor itu digulingkan Mei lalu ketika “The Scream” oleh Edvard Munch dijual seharga $ 119,9 juta (Rp 1,6169 triliun).

“La Lecture” terjual di Sotheby’s pada tahun 2011 seharga £ 25 juta, dua kali lipat dari perkiraan pra-penjualannya, sementara “Nature morte aux tulipes” masuk di bawah palu di New York pada November lalu seharga $ 41,5 juta (Rp 560,25 miliar).

Juga dijual pada hari Selasa adalah lukisan lili Claude Monet “Nympheas avec reflets de hautes herbes”, yang menghasilkan 9.000 juta poundsterling.

Sepotong karya Egon Schiele, Liebespaar, juga mencetak harga rekor untuk sebuah karya di atas kertas oleh seniman Austria itu, dengan harga 7,9 juta poundsterling.

 

Rowman ‘Ungu’ Hadirkan Project EDM Bersama The Row

DRUMER Ungu, M. Nur Rohman atau yang akrab disapa Rowman mengikuti jejak rekannya, Enda, untuk menghadirkan projek EDM. Menggandeng Rendra (gitaris dan musik produser) serta Ayu Angels (vokalis), Rowman resmi memperkenalkan The Row.

“Kebetulan kan memang EDM ini lagi booming dan Ungu juga sering kolaborasi sama DJ,” kata Rowmam saat ditemui di peluncuran single Bersamamu (I Will Be There For You) di Hard Rock Cafe, SCBD, Jakarta Selatan, Rabu (10/1/2017).

“Nah dari situ kepikiran kenapa gue enggak bikin sendiri ya. Ketimbang bikin cabutan pemainnya, akhirnya gue bikin The Row. Ya sudah gue ajak mereka,” lanjut Rowman sambil memperkenalkan dua anggota The Row.

Seiring dengan perkenalan The Row, status Rowman dalam Ungu pun mulai dipertanyakan.

“Ungu masih baik-baik aja. Gue masih manggung sama mereka. Waktu itu memang kalau hari biasa enggak bisa. Bisanya weekend. Daripada gue bengong ya sudah gue isi dengan ini. Ya alhamdulillah buat nambah-nambahin lah,” tutur Rowman, yang ternyata dalam pembuatan The Row mendapat dukungan penuh dari personel Ungu lainnya, Enda dan Makki.

“Antara label yang baru ini dengan labelnya Ungu kan saling sinergi. Kan enggak mungkin kalau enggak izin kan. Kan bilang sama label dan manajemen Jadi pihak label ya sinergi masalah jadwal dan lain-lain. Yang penting komunikasi aja sih yang lancar dan enggak dibikin pusing,” pungkas Rowman. ***

Septian Dwi Cahyo “Silaturahmi Seni Pantomime” di Madya Lestari

Aktor “Indonesia Pantomime” beraksi…. Puluhan anak-anak Perumahan Madya Lestari, Curug, Bojongsari dan sekitarnya pun antusias menyaksikan. Foto: Istimewa

DIBUTUHKAN seniman “gila” untuk konsisten pada idealismenya. Untuk urusan yang satu ini, artis pantomime, Septian Dwi Cahyo terbilang “gila”. Melambung namanya bersamaan demam breakdance pada dekada 1997-an, memasuki tahun 2000, seni pantomime meredup. Nama Septian pun memudar dari ingar-bingar panggung pertunjukan maupun televisi.

Septian Dwi Cahyo bersama ibu-ibu Komplek Madya Lestari, Curug yang memprakarsai acara Silaturahmi Seni Pantomime. Foto: Ist

Belasan tahun kemudian, nama Septian masih tercatat sebagai seniman ‘teater-tanpa-kata’ yang konsisten. Penampilannya pada acara Hitam-Putih Trans-7 yang dipandu host Deddy Corbuzier, menunjukkan kualitas olah-gerak dan ekspresi yang makin matang. Septian mampu mengalirkan gerakan-gerakan pantomime mengiringi narasi yang diucapkan Deddy.

Saking konsistennya pada dunia teater, aktor yang pernah bergabung dengan Teater Ananda itu pernah memprakarsai penyatuan aktor-aktor pantomime dalam satu wadah kreatif. Bukan hanya itu, ia juga bersusah-payah membuat seni pantomime tetap eksis melalui berbagai ajang perlombaan.

Sadar bahwa “pengkaderan” adalah jaminan kelangsungan seni pantomime, maka Septian dengan kelompok “Indonesia Mime” atau Indo-Mime kini giat melakukan kegiatan silaturahmi pantomim dengan segmen anak-anak usia SD bahkan PAUD. Lelaki kelahiran Jakarta 50 tahun lalu itu, antusias membina aktor-aktor muda yang meminati pantomime, dan melakukan pertunjukan di berbagai pelosok daerah, dengan segmen penonton anak-anak.

Seperti yang berlangsung Sabtu, 13 Januari 2018, di Perumahan Madya Lestari, Curug, Bojongsari – Kota Depok. Kegiatan yang diprakarsai Ambar, Galuh, serta para ibu-ibu komplek Madya Lestari itu, menggelar acara “Silaturahmi Seni Pantomime”.  Sore itu, Septian Dwi Cahyo hadir di tengah-tengah warga dan anak-anak komplek Madya Lestari.

Anak-anak pun diajak ber-pantomime. Foto: Ist

Tampak ia mengajak aktor pantomime asal Jepang, untuk melihat secara langsung bagaimana Septian bersama Indonesia Pantomime melakukan silaturahmi pantomime ke berbagai pelosok dengan sasaran anak-anak. Septian seperti ingin menunjukkan, apa yang ia lakukan agar seni pantomime tidak mati. Hari itu, suami dari Uci Ananda memang tidak secara spesial melakukan performe. Tugas berpantomime diserahkan kepada tiga aktor pantomime yang ia ajak.

Mereka melakukan aksi pantomime dengan sangat baik. Alhasil, puluhan anak-anak menyaksikan seni pantomime dengan sangat antusias. Terlebih ketika mereka diajak mengikuti gerakan-gerakan pantomime sederhana. Tak pelak, sore yang mendung, suasana perumahan Madya Lestari, Curug pun meriah. Tidak saja karena kedatangan aktor pantomime Septian Dwi Cahyo dkk, tetapi hari itu, puluhan anak Indonesia telah diperkenalkan seni pantomime. Bukan hanya diperkenalkan, tetapi bahkan berpraktek melakukan beberapa gerakan. ***

Silaturahmi Seni Pantomime di Komplek Madya Lestari Curug, Bojongsari Kota Depok. Sebuah upaya sosialisasi seni pantomime kepada anak-anak. Foto: Istimewa

Tahun Shio Anjing Tanah: Ekonomi Kreatif Berkibar

Suhu Naga

 

INI masih soal tahun Shio Anjing Tanah. Selain bicara politik, Suhu Naga, juga bicara mengenai dunia ekonomi kreatif. Berbeda dengan arena politik yang penuh dengan intrik dan kemungkinan hadirnya kejutan-kejutan di Pilkada 2018 ini, seperti di Jawa Tengah dan Jawa Barat, ekonomi kreatif tampaknya akan memberi masa depan bagi bangsa ini, terlebih mereka yang menggelutinya.

Menurut Suhu Naga, beberapa penemuan baru di dunia ekonomi kreatif akan membawa pengkreatifnya “berkibar”. Dunia musik indie bakal mencorong pamornya. Band Payung Teduh meski kehilangan vokalis andalnya, Istiqamah, tapi tetap meroket namanya.

Hingga bulan Februari tahun 2018, Payung Teduh hampir tiap minggu kebanjiran job manggung baik di Jawa maupun luar Jawa.
Lahir yargon baru di dunia musik. Kalau tahun 2017 Cita Chitata memopulerkan istilah ‘Sakitnya tuh di sini’, tahun ini bakal lahir ‘the rising star’ di dunia musik, bisa di pop maupun di dangdut. Host Andhika Pratama bakal gantikan Raffi Ahmad yang kayaknya sudah terlalu lelah.
Dunia fashion bakal mencorong di luar negeri. Bisa batik, endek maupun kain songket. Tak boleh dilupakan adalah faktor promosi yang sangat kuat dari Badan Ekonomi Kreatif yang dikepalai Triawan Munaf, mantan rocker dari band Giant Step.
Komika masih laris, tapi film-film bergenre horor bakal kehabisan nafas. Makanya, film-film lawas dibuat ulang dan di reborn. “Seorang penyanyi pria multi talenta bakal bersinar dan banyak ditulis di media lokal maupun media asing,” ramalnya.
Tulus ? Suhu Naga tak mau menyebutkan namanya.
Angka perceraian di kalangan artis masih menguat. “Band-band klotokan akan laris dan dicari produser india yang bergerilya mencari bibit-bibit baru di dunia musik,” imbuhnya.
“Meski tahun 2018 dikatakan Tahun Politik namun kita enggak boleh takut dan kecewa. Kita terus berdoa dan semoga musibah yang terjadi di republik ini segera berlalu. Toh walau ekonomi dunia sedang anjlog dan Indonesia terkena imbasnya, kita tetap eksis,” demikian Suhu Naga mengakhiri perbincangan ini.***

Rumah Belanda dari Awal hingga Akhir Mencekam

 

RUMAH BELANDA adalah sebuah film horor asal Indonesia terbaru 2018. Film Rumah Belanda ini akan bercerita tentang Seorang penulis yang bernama Raya (diperankan Kelly Tandiono), dimana dirinya mendapat sebuah pekerjaan dari seorang jutawan kaya bernama Hilda, yang menyuruhnya untuk membuat biografi Aline.

Dengan diantar suami dan juga kedua anaknya, Raya pun berangkat ke sebuah Rumah Belanda, agar Raya dapat bekerja di rumah itu, dan supaya dirinya dapat lebih untuk berkonsentrasi.

Akan tetapi disana dirinya mendapatkan banyak gangguan dari mahluk halus, yang ternyata rumah tersebut mempunyai kisah masa lalu yang sangat kelam dan juga penuh misteri, sekarang Raya berusaha untuk mengungkap misteri tersebut. Film ini adalah garapan dari sutradara film bernama Hedy Suryawan. Berdasarkan naskah skenario yang ditulis oleh Laode Muh Farhan.

Film ini dibuat oleh Rumah Produksi Film Apollo Pictures, dan diproduseri oleh Budi Buthong, dan Hedy Suryawan. Film ini memiliki durasi sekitar 1 jam lebih 20 menit, dan akan mulai dirilis pada tanggal 18 Januari 2018 mendatang. Adapun para pemain yang akan turut meramaikan, yaitu seperti Kelly Tandiono berperan sebagai Raya, Agung Udijana, Grace Salsabila, Linda Nuwuire, Aida Nurmala, Atiyah Shahab, J Dania.***