‘Jelita Sejuba’, Antara Bakti Negara dan Bakti Keluarga

FILM JELITA SEJUBA (Mencintai Kesatria Negara) berkisah tentang SHARIFAH (Putri Marino), istri tentara yang hatinya selalu bergejolak setiap kali suaminya, JAKA (Wafda Saifan Lubis) ditugaskan oleh negara. Kerinduan Sharifah akan Jaka membawa ingatannya kembali ke masa Ialu yang indah di negeri Natuna, Sumatera. Ketika asmara pertama membuat hati belianya bergelora. Ketika galau melanda jiwanya saat dipinang sang Prajurit. Ketika si buah hati lahir, tumbuh, dan bertanya kapan Ayahnya pulang. Namun Sharifah tetap yakin akan cintanya untuk sang Kesatria Pembela Negara.

Perjalanan film JELITA SEJUBA berawal dari buah pemikiran KRISNAWATI, seorang wanita yang berkecimpung di dunia militer. Ia menyaksikan sendiri bahwa di balik sosok prajurit-prajurit muda yang siap mempertaruhkan nyawa untuk negara, ada perempuan-perempuan hebat. “JELITA SEJUBA” adalah kisah cinta yang unik dan tidak biasa. Banyak yang tidak tahu pejuangan hidup para istri prajurit, ketika mereka harus berjarak dengan suami yang sedang bertugas, mereka harus berperan menjadi kepala keluarga. Segala kegelisahan dan kekhawatiran harus dipendam dalam-dalam agar tidak menggoyahkan konsentrasi para suami. Perempuan-perempuan ini adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang turut mendarmabaktikan kehidupannya pada bangsa dan negara.”

Hal ini pula yang membuat sutradara RAY NAYOAN merasa tergugah untuk mengangkat kisah ini sebagai film panjang pertamanya. Sebelumnya ia melihat kehidupan militer itu bagaikan robot. Namun lewat riset dan observasi langsung ke tengah kehidupan para prajurit muda di Natuna, ia melihat sisi humanis yang belum banyak terekspos ke masyarakat. Kehidupan para prajurit ini bukan hanya melulu untuk negara. Mereka juga jatuh cinta. Dan betapa luar biasanya perempuan-perempuan muda yang berani berkomitmen dengan mereka atas nama cinta. Rela menjadi nomor dua, karena prioritas utama para suami adalah bela negara.

Penulis skenario kawakan, JUJUR PRANANTO, yang film-filmnya telah disaksikan jutaan penonton Indonesia antara lain Ada Apa dengan Cinta?, Petualangan Sherina, dan Laskar Pelangi berkolaborasi dengan Ray dalam menggarap naskah kisah kekuatan cinta yang tulus ini.

PUTRI MARINO bermain memikat sebagai Sharifah, si gadis Natuna. Ia memerankan tokoh ini dalam dua dimensi umur yang berbeda, yaitu sebagai Sharifah si remaja lugu dan naif yang sedang jatuh cinta, dan sebagai Sharifah sang ibu muda yang tegar menghadapi hari-harinya sebagai istri tentara. Perempuan yang di tahun 2017 lalu berhasil memenangkan Piala Citra kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik di film Posesif karya Edwin ini awalnya khawatir tidak bisa maksimal memerankan Sharifah, apalagi harus menggunakan dialek Melayu khas Natuna. Namun kegelisahannya berhasil dipatahkan oleh YAYU UNRU, yang menjadi acting coach untuk Putri di film lni. Bahkan aktor senior pemenang Piala Citra kategori Aktor Pendukung Pria Terbaik untuk film Posesif ini kembali dipasangkan dengan Putri sebagai ayah dan anak dalam film JELITA SEJUBA.

Sebelumnya dikenal sebagai vokalis dari Volume Band, WAFDA SAIFAN LUBIS menjalani proses casting yang panjang sebelum terpilih sebagai Jaka si tentara muda yang kharismatik. Untuk peran utama pertamanya di film layar lebar ini, Wafda menunjukkan keseriusannya sebagai aktor dengan menjalani bootcamp bersama para tentara jelang shooting. Ia belajar mengoperasikan tank, memegang dan merawat senapan, hingga ikut berkompetisi dengan tim bola kompi C di Natuna. ***

Film Horor Sabrina, Spin Off Dari The Doll 2

FILM genre horor masih terus akan menghiasi bioskop Tanah Air tahun ini. Diproduksi oleh Hitmaker Studios, sebuah film berjudul ‘Sabrina’ baru baru ini merilis teaser poster resmi. Disutradarai oleh Rocky Soraya, film ini direncanakan akan tayang Juli 2018 mendatang.

Dibintangi oleh Luna Maya, Christian Sugiono, dan Sara Wijayanto, masing-masing dari mereka pun mengunggah teaser poster resmi film tersebut kemarin.

Official teaser poster Sabrina, sebuah film horor terbaru produksi Hitmaker Studios. Sabrina akan menemui kalian mulai Juli 2018 di bioskop. #sabrinathemovie #hitmakerstudios #comingsoon,” tulis Luna Maya dalam akunnya @lunamaya.

Selain tertulis judul ‘Sabrina’, dalam poster tersebut juga tertulis ‘Spinoff ‘The Doll 2’. Spinoff adalah jenis film yang ditujukan untuk menceritakan secara fokus suatu kejadian atau karakter pendukung. Karakter tersebut biasanya memiliki penggemar tersendiri atau tanpa diduga malah menjadi ikon dan scene stealer dalam film tersebut. Contoh film spinoff misalnya ‘Annabelle’, ‘The Scorpion King’, dan ‘Penguins of Madagascar’.

‘The Doll 2’ adalah film yang rilis tahun lalu yang juga dibintangi Luna Maya. Film tersebut menceritakan pasangan suami istri, Maira (Luna Maya), dan Aldo (Herjunot Ali) yang begitu berduka karena putrinya yang bernama Kayla meninggal karena kecelakaan mobil yang tak lazim. Dalam kecelakaan tersebut, Kayla membawa boneka kesayangannya yang bernama Sabrina.

Agar bisa berkomunikasi dengan arwah Kayla, tanpa sepengetahuan Aldo, Maira bersama temannya Elsa (Maria Sabta) melakukan ritual pemanggilan arwah Kayla dengan memakai boneka Sabrina sebagai perantara. Bukannya berhasil, kejadian aneh dan mistis malah menghampiri Maira. Akhirnya Maira meminta bantuan kepada ahli spiritual bernama Laras (Sara Wijanarko). Kemudian diketahui bahwa arwah Kayla masuk ke dalam boneka Sabrina dan ingin membalas dendam atas kematiannya yang tak lazim tersebut.

Dengan tampilan kepala boneka tanpa rambut berwarna merah dengan darah menetes-netes sembari tersenyum, film ini akan fokus pada mistiknya boneka Sabrina. ***

Rindu Baitullah, Film Religi tanpa Bintang Terkenal

CERITA ini diambil dari kisah nyata seorang wanita bernama Hana yang mendapat Doorprize Umroh di Acara Wisata Haji 2000 jamaah yang diselenggarakan oleh KBIH Attaqwa KH. Noer Alie Bekasi.

Hana ini adalah seorang anak dari seorang ibu yangg hidup dalam keadaan miskin, pekerjaan kesehariannya sebagai pencuci pakaian. Walau hidupnya susah, akan tetapi tersimpan di hatinya keinginan yang sangat besar untuk bisa menunaikan ibadah Umroh, berkunjung ke Baitulloh dan Berziarah ke Maqom Rasulullah SAW.

Siang malam ia selalu berdo’a agar keinginannya itu bisa segera menjadi kenyataan. Dalam sebuah perjalanan secara tidak sengaja Hana melihat Plang Kantor Pendaftaran Haji dan Umroh KBIH Attaqwa. Lalu Hana memberanikan diri untuk mampir dan bertanya di Kantor KBIH Attaqwa tentang prosedur pendaftaran Umroh. Ketika dijelaskan ternyata biaya Umroh cukup mahal dan spertinya Hana ini tidak mampu dan nampak raut wajah Hana cukup sedih, lalu ditawarkanlah Hana oleh staff di KBIH agar Hana mengikuti Acara Wisata Haji 2000 jamaah dengan biaya yang jauh lebih murah Rp. 165.000,-. Dengan beberapa fasilitas yg akan didapatkannya termasuk salah satunya adalah Hadiah Doorprize Umroh.

Dan ternyata Hana pun tidak mampu untuk mebayar biaya Acara Wisata Haji, sampai kemudian ada orang lain yang membiayai Hana untuk ikut Acara Wisata Haji tersebut. Dengan suka cita dan perasaan yang sangat gembira Hana menerima kebaikan dari orang yang membiayainya untuk ikut Acara Wisata Haji yang diselenggarakan oleh KBIH Attaqwa.

Tibalah pada hari pelaksanaan Acara Wisata Haji. Hana mengikuti kegiatan Acara Wisata Haji yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal Jakarta. Acara demi acara sudah diikutinya sampailah pada acara pengundian pemenang Hadiah Doorprize Umroh gratis. Dari skitar 2000 kupon jamaah yg mengikuti acara tersebut maka diambil lah 1 kupon yg berhak menerima Hadiah Doorprize Umroh Gratis, dan ternyata nama yang tertera di dalam kupon itu adalah…

HANA……..

Dan berngkatlah Hana ke Tanah Suci untuk melaksanakan Ibadah Umroh.

Dari sini kita tahu bahwa Panggilan Allah untuk melaksanakan Haji ataupun Umroh itu berlaku kepada setiap orang bukan hanya bagi mareka yang mampu akan tetapi juga berlaku bagi mareka yang tidak mampu. ***

Film Arini Versi Romantis

FILM ‘Arini: Masih Ada Kereta yang Akan Lewat’ yang diangkat dari novel karya Mira W tahun 1985.

Pada tahun 1987 mendiang Sophan Sophian juga sudah pernah menyutradari film yang diangkat dari novel ini, yang diperankan oleh istrinya Widyawati dan Rano Karno. Sekuel ‘Arini-Biarkan Kereta itu Lewat) dibuat Wim Umboh dengan pemain Ida Iasha dan Rico Tampaty (1987).

Film tersebut kembali hadir dengan judul yang sama pada 2018 ini dengan pemain Morgan Oey dan Aura Kasih yang disutradarai oleh Ismal Basbeth.  Namun, Ismail Basbeth, mengaku ingin menggarap film ‘Arini Masih Ada Kereta yang Akan Lewat’ berbeda dari tahun 1987. Untuk itu, ia melarang para pemain untuk menonton film yang dahulu.

“Saya sengaja tidak memperbolehkan Morgan dan Aura untuk menonton film yang dulu.”

“Karena saya pengin menciptakan Arini yang zaman sekarang, dan agar akting mereka natural,” ujar Ismail saat Gala Premier film Arini ‘Masih Ada Kereta Yang Lewat’ di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan pada Sabtu (31/3/2018).

Dalam film ini menceritakan tentang Arini, seorang wanita berusia 38 tahun, bertemu dengan seorang pria muda bernama Nick yang masih berkuliah di luar negeri. Syuting dilakukan di Jogjakarta dan Jerman. ***

‘Bluebell’ Kisah Cinta Dibalut Keindahan Alam Pulau Dewata

Di tengah maraknya film televisi (FTV) bertema cinta di layar kaca, Cinta, cowok galau, cewek tangguh, pantai, surfing, dan lanskap Bali adalah sederet  hal yang membuat penonton mafhum ketika menonton FTV. Claudia Stefanus adalah prosedur film Bluebell. Dia mengaku tetap optimistis mengangkat kisah cinta ke layar lebar, meskipun dengan hal-hal yang lumrah seperti dalam FTV.

“Tidak takut, karena balik lagi ketika membaca sinopsis awal, saya tertarik dengan tokoh Bluebell. Bukan cuma Bluebell, tokoh Mario yang jatuh cinta dengan Bluebell juga punya pesan yang lebih dari sekadar cinta yaitu keiklasan, perjuangan, dan pertaruhan,” ujar Claudia.

Dikisahkan, Bluebell adalah seorang cewek yang jago surfing dan piawai bermusik. Claudia menggambarkan Bluebell sebagai perempuan yang mandiri. Ia menjadi sosok yang menyenangkan dan memberi warna hidup bagi orang-orang terdekatnya. Sebagian pengambilan gambar dilakukan di Bali dan beberapa scene diambil di Kyoto, Jepang.

“Ini nggak biasa. Pengambilan gambarnya juga penuh kejutan. Seperti yang saya katakan, saya optimistis karena Pak Yusuf (sutradara) juga bilang akan penuh surprise. Film drama, tapi dengan jalan cerita yang tidak tertebak,” imbuhnya.

Sementara itu, Muhammad Yusuf selaku sutradara mengatakan, penggunaan nama Bluebell sebagai judul film karena terinspirasi kalimat ‘save by the bell’. Orang-orang yang jatuh cinta, kata dia, identik dengan warna biru. Jadilah bluebell. “Belakangan saya tahu, ternyata bluebell itu nama bunga abadi. Cocok jadi metafora dalam film ini,” ujar Yusuf.

Sutradara Film “Bluebell” Muhammad Yusuf saat jumpa pers di Kuta, Bali, Sabtu, mengatakan film tersebut saat ini masih sedang digarap dengan melakukan syuting di sejumlah objek wisata di Pulau Dewata. Lokasi syuting di Bali tersebut lebih banyak mengeksplorasi keindahan alamnya. Bukan dari seni dan budayanya.

“Dalam pengambilan gambar film tersebut di Bali lebih banyak mengetengahkan keindahan alamnya. Karena kisah film ini lebih banyak menonjolkan kisah cinta penuh romatis. Namun dalam setiap adegan juga ada kisah yang memilukan,” ujarnya. Ia mengatakan dalam film yang dibintangi, antara lain Regina Rengganis, Qausar Harta Yudana, Ncess Nabati, Rafael Tan, Gibran Marten dan Steffi Samora. “Sisi menarik dalam pengambilan gambar film ini adalah di Bali, dan sebagian syutingnya di Kyota, Jepang,” ucapnya.

Yusuf mengaku cukup tertantang menggarap film cinta karena karya-karyanya dominan tentang horror. Itulah yang menyebabkan, dalam Bluebell akan terdapat banyak kejutan dari awal hingga akhir film. “Semua scene akan beraura cinta,” ujarnya.

Film ini rencananya akan dirilis April 2018. Sebelum nampang di layar lebar, tim film juga akan mengeluarkan novel Bluebell bulan Desember mendatang. Agar penonton yang juga pembaca tidak kecewa, Claudia memastikan apa yang ada di film dengan isi novel bisa benar-benar sejalan.***

 

Parade Film Malang 2018

SETELAH sukses digelar di tahun 2016 dan 2017, tahun ini Parade Film Malang kembali hadir. Parade Film Malang sendiri merupakan agenda event tahunan yang digagas secara kolektif oleh pegiat seni di Kota Malang dalam rangka merayakan Bulan Film Nasional yang diperingati tiap bulan Maret.

Kegiatan ini sendiri bersifat kolektif dan berangkat dari pemahaman bahwa film tidak hanya untuk kalangan terbatas dan melibatkan berbagai elemen yang berhubungan. Dengan berkolaborasi dengan berbagai komunitas dan penggiat seni di Malang, kegiatan kolektif ini diharapkan bisa menjadi wadah bertemunya para pembuat film, penikmat film dan juga masyarakat pada umumnya untuk mengadakan acara bersama-sama.

Agenda acara yang rutin digelar tiap tahun adalah pemutaran dan launching film pendek karya sineas muda Kota Malang, pemutaran dan diskusi animasi, pemutaran dan diskusi video musik, serta tak ketinggalan juga tradisi nonton layar tancepan yang diadakan dari kampung ke kampung.

Untuk penggiat musik, akan digelar pertunjukan musik (gigs) di Legipait 2 yang membawakan lagu-lagu dari film-film Indonesia. Menariknya, Malang Subnoise akan merespons klip film Indonesia dengan mengeksplorasi bunyi noise sebagai ilustrasi musik secara live. Tak hanya pertunjukan musik, Komunitas Sound Malang juga akan mengadakan workshop umum yang membahas proses memproduksi audio dan sound untuk film.

Untuk gelaran tahun ketiga ini, Parade Film Malang menyuguhkan konsep yang berbeda tahun-tahun sebelumnya. “Yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kami akan membuat kompetisi, workshop, dan master class untuk penulisan script film pendek. Yang terpilih akan diwujudkan menjadi film pendek. Film pendek ini juga adalah produk pertama Parade Film Malang yang nantinya bisa didistribusikan secara nasional dan internasional,” ujar Astu Prasidya, inisiator Parade Film Malang.

Tujuan dari diadakannya workshop untuk mensinergikan dan mempertemukan elemen-elemen berbagai komunitas dan seni di Malang menjadi satu ekosistem industri kreatif yang hidup. Selain itu terdapat juga kompetisi film pendek yang pendaftarannya bisa langsung melalui tautan http://bit.ly/KompetisiPFM2018.
Selama sebulan penuh pada Maret 2018, Kota Malang akan penuh dengan berbagai agenda acara dalam memperingati Bulan Film Nasional ini.

Untuk mengetahui jadwalnya, simak langsung social media Parade Film Malang, di Instagram @paradefilmmlg dan Twitter @paradefilmmlg serta blog http://paradefilmmalang.blogspot.com. Hari Film Nasional (HFN) 2018 di Malang juga dirayakan Presiden Jokowi dan insan film dari Jakarta dan Malang. Presiden mengapresiasi dunia film dengan menyerahkab beberapa penghargaan bagi yang berdedikasi terhadap dunia sinema. “Ada 10 orang yang setia terhadap dunia film yang dipilih melalui reputasi mereka,” kata Maman Wijaya, Kepala Pusat Pengembangan Perfilmsn Kemendikbud RI kepada penulis.

“Salah satu dewan juri, Slamet Rahardjo menilai orang-orang yang berdedikasi tersebut. Bahkan, ada juga yang profesinya tidak masuk sineas, seperti mereka yang mengoleksi film zaman dulu,” ungkapnya. Penghargaan lain adalah 7 film yang masuk box office dari 7 produser. Juga, 6 film yang dapat penghargaan di festival film internasional yang diapresiasi seperti Marlina dan Istirahatlah Kata Kata,” tandasnya. Selain itu, juga ada 11 sertifikat untuk assesor profesi. “Presiden memberi contoh pada kita untuk mulai menonton film di bioskop dan mengapresiasi film Indonesia,” tutup Maman Wijaya. ***

Jokowi Nonton Film “Yowis Ben” di Malang

Presiden Joko Widodo nonton film “Yowis Ben” di Kota Malang. Foto: Ist

DALAM dua tahun terakhir ini, film nasional mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah bioskop dan juga jumlah penonton. Demikian disampaikan Presiden Joko Widodo setelah menyaksikan film “Yowis Ben” di salah satu bioskop di Kota Malang, Rabu 28 Maret 2018. “Saya kira loncatan yang bagus dalam dua tahun ini,” ucap Presiden.

Namun demikian, peningkatan jumlah bisokop dan pembuatan film tidak diiringi dengan peningkatan jumlah kru pembuat film. “Saya mendapatkan kabar bahwa pembuatan film ini kekurangan kru. Kru film kurang ini sesuatu yang bagus tapi juga harus kita isi kekurangan-kekurangan yang ada,” lanjutnya.

Kekurangan kru film ini menurutnya merupakan kabar yang baik karena membuka lapangan pekerjaan. Namun di sisi lain, kekosongan itu harus segera terisi, salah satunya adalah melalui tenaga terampil yang dihasilkan oleh Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

“Jurusan yang berkaitan dengan perfilman itu ada kurang lebih 120 SMK, tapi baru diperbaiki atau direvitalisasi 18 SMK. Perlu perbaikan sarana prasarana, meng-update guru-guru yang ada. Sehingga kekurangan kru di dalam perbuatan film betul-betul kita isi,” katanya. Oleh karenanya untuk mempercepat revitalisasi SMK tersebut Presiden telah memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyelesaikannya.

Film “Yowis Ben” sendiri merupakan film drama-komedi Indonesia yang dirilis pada 22 Februari 2018. Film yang dibintangi oleh Bayu Skak sebagai pemeran utamanya ini, 80 persen menggunakan bahasa Jawa. Presiden pun menyampaikan rasa senangnya dengan adanya film yang menggunakan bahasa daerah.

“Saya senang sekali ada sebuah film yang berbahasa daerah Jawa Timur-an. Kemudian di bawahnya tetap ada terjemahan bahasa Indonesia sehingga semua bisa melihat dan menikmati film ini. Ini film anak muda yang wajib ditonton yang merasa muda. Yah bagus sekali banyak lucunya, banyak ger-nya dan alur ceritanya juga bagus,” katanya.

Presiden pun berharap dengan semakin banyaknya bioskop yang memutar film nasional akan memberikan kesempatan kepada pembuat film untuk tumbuh dan berkreasi. “Memberikan kesempatan dan peluang untuk filmmaker di negara kita semakin tumbuh karena jumlah penonton banyak artinya membuat film itu (miliki potensi) keuntungan,” kata Presiden.

Turut hadir mendampingi Presiden dalam acara ini, antara lain Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Selain itu turut hadir pula beberapa pemeran “Yowis Ben”, antara lain Bayu Skak, Brandon Salim, dan Devina Aureel.

Berdasarkan data yang dilaporkan situs Katalog Film Indonesia (KFI) jumlah penonton pada tahun 2017 sebanyak 42,7 juta penonton, meningkat dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 37,2 juta penonton.

Menurut data KFI, jumlah layar bioskop di Indonesia meningkat pesat dalam lima tahun terakhir. Hingga Desember 2017, sudah ada 263 gedung bioskop dengan total layar sebanyak 1.412. Jumlah layar pada akhir 2017 ini meningkat hingga 2,3 kali lipat dibanding pada penghujung 2012 dimana terdapat 145 gedung bioskop dengan total layar sebanyak 609. ***

Novel Serendipity Diangkat ke Film

sumber kapanlagi com

Sukses dengan film adaptasi novel berjudul Dear Nathan, sutradara Indra Gunawan kembali mencari peruntungan yang sama. Novel best seller kedua Erisca Febriani Serendipity bakal diusung ke dalam layar lebar.

Cetakan ketiga novel telah terjual hingga 40.000 eksemplar, dilanjutkan rencana cetakan keempat. Hal itu yang membuat pihak Virgo Putra Films selaku Production House (PH) serius menggarapnya.

Pada 2001 lalu sutradara Peter Chelsom pernah menggarap komedi romantis Amerika berjudul Serendipity. Namun demikian, Aris memastikanSerendipity garapan Indra ini berbeda dan tidak ada hubungannya dengan film berlatar New York tersebut.

Kisahnya diawali dari konflik keluarga seorang remaja bernama Rani. Ia harus menanggung kesedihan karena ayahnya meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membayar hutang mendiang ayahnya dia bekerja sebagai seorang lady escort.

Dari situ konflik cintanya dimulai. Kekasihnya, Arkan, tak suka dengan pekerjaan Rani lalu memutuskan berpisah. Ia kemudian dipertemukan dengan Gibran, murid baru di sekolah yang akhirnya menjadi teman dekat. Persahabatan keduanya menyulut masalah baru hingga terjebak dalam cinta segitiga.

“Banyak twist-twist menarik yang mesti ditunggu penonton. Adegan-adegan romantis yang menghanyutkan juga ending cerita yang tak terduga. Karena Indra Gunawan tak sepenuhnya mengadaptasi seluruh isi novel menjadi cerita film. Ada beberapa bagian yang dibuat lebih dramatis,” kata Aris.

Karakter utama dalam film bakal diperankan sejumlah aktor muda seperti Maxime Boutier, Mawar Eva de Jongh, dan Kenny Austin. Juga dimeriahkan kehadiran Nadira Octova, Naomi Paulinda, Gunawan, Dian Nitami, dan Marissa Nasution.

Serendipity menandai kembalinya rumah produksi Virgo Putra Films. Terakhir mereka memproduksi Realita Cinta Rock n Roll pada 2008. Pekan lalu mereka telah merilis poster dan trailer resmi film ini. Namun sampai hari ini belum menyebutkan tanggal penayangan. ***

Film Pengabdi Setan Versi Asli 1980 Hari Ini Tayang di Bioskop!

Poster film Pengabdi Setan tahun 1980 (kiri) dan poster film Pengabdi Setan 2018–istimewa

Film Pengabdi Setan orisinal tahun 1980 versi restorasi hari ini Kamis akan ditayangkan di bioskop CGV 10 kota. Sebagaimana diketahui jejak Pengabdi Setan (2017) sebagai film horor terlaris Indonesia dengan raihan 4,2 juta penonton  masih terasa segar. Apalagi, ia baru saja mendominasi ajang penghargaan Indonesian Box Office Movie Awards (IBOMA) minggu lalu.

Seperti yang kita tahu, film yang disutradarai oleh Joko Anwar itu merupakan film daur ulang dari film berjudul sama yang rilis tahun 1980 lalu. Pengabdi Setan yang orisinal itu disutradarai oleh Sisworo Gautama. Ia kemudian menjadi populer dan dinilai sebagai film horor klasik sekaligus terseram dari Indonesia.

Pengabdi Setan versi Sisworo Gautama bercerita tentang sebuah keluarga yang dihantui oleh arwah sang ibu yang baru meninggal. Belakangan diketahui sang ibu mengabdikan dirinya kepada setan sehingga keluarganya harus menanggung akibat. Pengabdi Setan ini merupakan film Indonesia pertama yang menampilkan mayat hidup alias zombie.

Nah kabarnya film itu akan dirilis ulang dalam versi restorasi. Buat kamu yang belum tahu, restorasi adalah serangkaian proses untuk menyelamatkan berkas film lama yang sudah rusak. Berbeda dengan film sekarang yang sudah digital, film-film lama umumnya berbentuk gulungan seluloid.

Data film, baik visual maupun audio kemudian akan diubah ke dalam versi digital. Perbedaanya, kualitas film tentunya akan meningkat, misalnya ada perbaikan warna, koreksi suara, dan gambar rusak.

Produser Sunil Samtani dari Rapi Films yang memiliki Pengabdi Setan mengatakan film orisinal itu termasuk film yang punya basis penggemar yang kuat. “Menurut saya film ini cult dan banyak orang masih mau nonton. Apalagi ini versi restorasi, tanpa goresan dan warna lebih baik,” ujar Sunil.

Film Pengabdi Setan versi restorasi ini akan ditayangkan di 10 bioskop jaringan CGV mulai Kamis hingga Sabtu minggu ini. Sepuluh bioskop ini ada di kota Jakarta, Bekasi, Cirebon, Bandung, Tanggerang, Depok, Yogyakarta, Karawang, Surabaya, dan Medan. Film hanya diputar sekali per hari, yakni jam 16.00 WIB. ***

 

‘Kenapa Harus Bule’ , Film Kocak Untuk Orang Dewasa

‘Kenapa Harus Bule’ , Film Kocak Untuk Orang Dewasa

 

Kisah ‘Kenapa Harus Bule?’ tentang seorang wanita berusia 30 tahun bernama Pipin Kartika (Putri Ayudya). Pipin belum menikah dan punya obsesi punya suami bule. Dia merasa kalau di mata cowok Indonesia dirinya jelek, tapi bagi pria asing Pipin ini masuk kategori eksotis. Berbagai cara pun dilakukan Pipin untuk bisa dapat jodoh pria bule.

Karena merasa gagal terus, Pipin pun menuruti saran dari sahabatnya, Arik (Michael Kho), untuk pindah ke Bali yang banyak didatangi turis asing. Di pulau Dewata, Pipin seolah-olah bisa mendapatkan mimpinya dengan mudah. Dia bertemu Gianfranco (Cornelio Sunny), pria dari Italia yang punya bisnis villa (ternyata cuma pegawai villa). Selain itu ada pria Indonesia berdarah China, Buyung (Natalius Chendana), yang berbisnis restoran dan juga menaruh hati pada Pipin.

Meski dikelilingi banyak bule, tapi kehidupan di Bali ternyata tak seindah pemandangannya bagi Pipin. Dia mulai kesulitan keuangan. Tabungannya menipis, sewa tempat tinggal mahal, dan Pipin tak kunjung dapat pekerjaan tetap. Dari sinilah Pipin harus menentukan pilihan, tinggal bersama laki-laki yang dapat menafkahinya atau hidup mandiri dengan konsekuensi jadi jomblo?

‘Kenapa Harus Bule?’ punya ide cerita yang relatable dengan kehidupan masyarakat dan dikemas dengan kocak. Meski tak mengandalkan aktor atau aktris papan atas Tanah Air, film yang disutradarai Andri Cung ini tetap bakal menarik untuk ditonton karena tiap pemainnya pas dengan karakter yang mereka perankan.

Jadi kenapa harus nonton ‘Kenapa Harus Bule?’ Temukan jawabannya di bioskop terdekat karena film ini sudah dirilis sejak 22 Maret. Tapi ingat jangan ajak anak di bawah umur ya karena rating film ini 21+. ***