Film “Enak Tho Zamanku, Piye Kabare”, Multitafsir

 Film “Enak Tho Zamanku, Piye Kabare”, Multitafsir

FILM Enak Tho Zamanku, Piye Kabare bagi sang produser Sonny Pudjisasono berbeda dengan film yang pernah dibuat sebelumnya. Selama ini film Indonesia didominasi film bergenre pop. Sedangkan Enak Tho Zamanku, Piye Kabare termasuk genre baru yang dianggapnya multitafsir.

Sonny menyadari risiko membuat film dengan genre baru akan membentuk komunitas penonton tersendiri. “Saya sengaja tidak mengekor produksi film-film yang ada. Genre film baru seperti ini memang tidak populer tapi saya yakin genre film ini bisa menjadi alternatif, “ ungkap Sonny percaya diri usai press screening film Enak Tho Zamanku, Piye Kabare di Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail (PPHUI), Kuningan, Jakarta Selatan, baru baru ini.

Film ini bisa dikatakan fenomena yang ada di masyarakat yang bisa dipersepsikan masa lalu dan masa sekarang. Film ini menceritakan tentang perebutan kekuasaan antara satu generasi kepada generasi selanjutnya. Sonny menyebut dialog-dialog dalam film ini identik dengan Pak Harto.

Ada segmen masyarakat yang disebutnya merindukan zaman Orde Baru, diharapkan film ini mampu mengobati kerinduan mereka. “Di daerah ada komunitas Piye Kabare yang menyambut baik film ini, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kita mengisi kondisi sosial yang ada di masyarakat. Ada satu keluarga yang kita gambarkan mempunyai kehidupan masa lalu yang punya pijakan, yang kemudian tejadi perebutan oleh saudaranya dengan kondisi yang dibuat tidak nyaman sehingga ada kesan enak tho zamanku,” papar Sonny.

Disinggung kemungkinan film ini memiliki hubungan partai politik tertentu? Sonny menyebut, film sebenarnya adalah produk politik yang memang bisa menjadi alat diplomasi politik. Namun demikin, keberadaan Enak Zamanku Tho, Piye Kabare diharapkan dapat mengisi pilihan di tengah produksi film Indonesia yang cenderung bergenre pop.

“Misi film ini untuk mengingatkan dan sekaligus mencerdaskan masyarakat. Agar masyarakat mencari pemimpin tidak hanya yang populer saja, tapi juga melihat track recordnya,” pungkasnya.

Sutradara, Akhlis Suryapati menjelaskan, film ini menjanjikan multitafsir. Karakter tokoh nyaris tak ada yang langsung mempersonifikasikan tokoh-tokoh tertentu, namun mudah ditebak siapa yang sedang digambarkan. Film ini terasa makin politis ketika dalam promosinya juga dipolitisir. Posternya ditambahi logo Partai Berkarya dan gambar Tommy Soeharto. Fiksi ? “Fiksi bukan khayalan. Prosa naratif yang juga mendramatisasikan hitungan dan sebab akibat antarsoal manusia dan alam. Dengan sifatnya yang imajiner. Karena itu, fiksi tetap masuk akal dan mengandung kebenaran-kebenaran,” ungkap Akhlis. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *