Fan Bingbing

Fan Bingbing–foto learingenglish.voanews

Oleh: Dahlan Iskan

Fan Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takhluk di depan petugas pajak. Bintang film cantiiiiiik-galaaaaak itu harus bayar denda. Berikut pokoknya. Nilainya mencapai box office: Rp 1,5 triliun!

Bayangkan! Bintang film harus bayar pajak Rp 1,5 triliun. Tepatnya  USD129 juta!

Kepala Fan Bingbing seperti terkena kungfu di tengkuknya yang merangsang itu!

Semua itu gara-gara satu postingan di medsos.

Yang dilayangkan bintang film juga. Atau tepatnya bintang TV. Anchor salah satu TV pemerintah di Beijing.

Namanya: Cui Yongyuan. Laki-laki. Umur 50 tahun.

Dalam postingan di Weibo itu Cui Yongyuan tidak menyebut nama Fan Bingbing. Tapi nadanya ke sana.

Postingan itu mengungkap kebiasaan di kalangan bintang film Tiongkok. Yang belakangan kian moncer. Kian banyak yang menembus Hollywood. Atau industri film Hongkong. Fan Bingbing salah satu success story. Honornya sudah di level A untuk bintang film Barat di Hollywood.

Semua itu berkat ekonomi Tiongkok yang kian berjaya. Daya beli masyarakatnya naik. Selera hiburannya juga lebih bervariasi. Film menjadi amat laris di Tiongkok. Termasuk film-film Hollywood.

Jenis film indoktrinasi sudah kurang laku. Dagangan komunisme sudah kalah dengan hedonisme. Termasuk yang disebarkan oleh Hollywood.

Kata anak saya: hampir semua film Hollywood kini melibatkan emosi Tiongkok. Bisa lewat salah satu bintangnya: bintang film Tiongkok. Bisa lewat lokasinya. Atau lewat sumber dananya.

Pasar film Tiongkok memang menggiurkan. Jumlah layar lebarnya mengalahkan seluruh layar lebar di Amerika. Box office kedua kini sudah diraih dari Renminbi. Diramalkan, dua tahun lagi, box office dunia sudah dari Negeri Panda.

Kalau jadi. Kalau Trump tidak ngamukan terus. Kalau Xi Jinping tidak memasukkan film Hollywood dalam tit-for-tat-nya. Dalam perang dagangnya. Atau perang benerannya.

Nama Fan Bingbing melejit menunggangi pasang naik film Hollywood itu. Penggemar Fan Bingbing bisa histeris: cantik. tinggi, langsing, matang, aktingnya bagus dan suka bantu kegiatan sosial.

Umurnya: 36 tahun. Lahir: Qingdao, provinsi Shandong. Kota pantai yang cantik. Satu jam penerbangan ke arah utara dari Shanghai.

Pasangan kumpul kebonya bintang film juga: Li Chen.

Fan Bingbing bintang film yang akademis. Dia lulusan akademi teater dan akademi film di Shanghai.

Setelah sukses, Fan Bingbing bikin studio sendiri. Di Suzhou. Kota tetangga Shanghai.

Pokoknya serba sukses. Sampai bulan Mei lalu. Ketika Cui Yongyuan memposting kebiasaan curang para bintang film:

menandatangani kontrak ‘Yin & Yang’.

Kontrak yang formal dan kontrak yang di bawah tangan. Nilainya jauh berbeda. Bumi dan ujung Burj Al Khalifa.

Ada kontrak yang formalnya USD 1,6 juta. Yang di bawah tangan USD 7,8 juta.

Heboh. Gempa. Tsunami. Jadi satu. Melanda bintang-bintang film Tiongkok. Menyapu industri film secara keseluruhannya.

Reaksi publik begitu ganasnya. Terutama dari mereka yang taat membayar pajak.

Ada yang mengaitkan dengan ideologi negara: bagaimana di sebuah negara komunis bisa seperti itu. Ada tokoh-tokoh yang hidup mewah secara melanggar hukum. Di tengah masyarakat miskin yang masih banyak.

Jadilah isu sensitif.

Pemerintah tidak bisa lagi tutup mata. Semua bintang film diperiksa.

Terungkaplah secara luas. Jenis kontrak ‘Yin & Yang’ ini.

Fan Bingbing tiba-tiba seperti lenyap ditelan gempa Palu. Tidak ada kabarnya. Tidak ada juga orangnya.

Dunia gosip menjadi sepi. Kehilangan obyeknya.

Eh, ternyata tidak begitu. Gosip justru membahana: di mana Fan Bingbing.

Akhirnya rumor yang paling dipercaya adalah ini: Fan Bingbing disekap. Hampir selama tiga bulan. Tanpa informasi apa pun.

Sampai minggu lalu.

Tiba-tiba Fan Bingbing muncul: minta maaf atas perbuatannya. Dan akan membayar semua kewajiban pajaknya. Termasuk bunganya: yang Rp 1,5 triliun itu.***

Presiden Trump Suka Musik Taylor Swift, tapi Luntur 25% Gara-gara Dukung Demokrat

 

 

TIDAK butuh waktu lama! Kurang dari 24 jam setelah Taylor Swift mengumumkan dukungannya terhadap dua kandidat Demokrat di Tennessee, Presiden Donald Trump berbagi pemikirannya.

Setelah ditanya tentang dukungan Swift untuk kandidat Senator Phil Bredesen yang akan  bersaing dengaan calon Republikan Marsha Blackburn, Trump mencoba memutarnya.

Dia bertanya pada wartawan pada hari Senin, 8 Oktober, “Apa yang dia katakan?”

Dia kemudian menyindir: “Saya yakin Taylor Swift tidak tahu apa-apa tentang [Blackburn.] Katakanlah, saya suka musik Taylor sekarang berkurang sekitar 25 persen, oke..”

Tanggapan ini diberika hanya satu hari setelah bintang pop molek yang berusia28 itu, berbagi keyakinan politiknya dalam postingan langka di Instagram pada hari Minggu, 7 Oktober.

“Saya menulis posting ini tentang pemilihan tengah semester yang akan datang pada tanggal 6 November, di mana saya akan memilih di negara bagian Tennessee,” penyanyi itu menulis di samping foto dirinya.

“Di masa lalu saya enggan untuk secara terbuka menyuarakan pendapat politik saya, tetapi karena beberapa peristiwa dalam kehidupan saya dan di dunia dalam dua tahun terakhir, saya merasa sangat berbeda tentang itu sekarang.”

Dia melanjutkan pesan panjangnya dengan keyakinannya tentang pentingnya memberikan suaranya untuk kandidat yang dia yakini akan “melindungi dan memperjuangkan hak asasi manusia yang saya percaya kita semua layak di negeri ini.”

Swift menambahkan: “Saya percaya dalam perjuangan untuk hak LGBTQ, dan bahwa segala bentuk diskriminasi berdasarkan orientasi seksual atau gender adalah SALAH. Saya percaya bahwa rasisme sistemik yang masih kita lihat di negara ini terhadap orang kulit berwarna menakutkan, memuakkan, dan lazim. Saya tidak dapat memilih seseorang yang tidak akan mau berjuang untuk harga diri bagi SEMUA orang Amerika, tidak peduli warna kulit mereka, jenis kelamin atau siapa yang mereka cintai. ”

Adapun alasannya di balik tidak mendukung calon Partai Republik Blackburn, pemenang penghargaan Grammy 10 kali mencatat bahwa “catatan pemungutan suara di appalls Kongres dan membuatku takut.”

Artis bereputasi ituitu menjelas: “Dia memilih menentang pengupahan yang setara untuk wanita. Dia memilih menentang Reauthorization of the Violence Against Women Act, yang berusaha untuk melindungi perempuan dari kekerasan dalam rumah tangga, menguntit, dan tanggal perkosaan. Dia percaya bisnis memiliki hak untuk menolak melayani pasangan gay. Dia juga percaya mereka seharusnya tidak memiliki hak untuk menikah. Ini bukan nilai-nilai Tennessee kita. ”

Bertahun Dipendam, Aktris Tatum O’Neal Buka Mulut Alami Penyerangan dan Pelecehan Seksual Semenjak Usia 5 Tahun

GERAKAN #MeToo di kancah global yang bergerak dari Amerika Serikat, seperti efek bola salju. Satu persatu selebriti dan masyarakat yang pernah menjadi korban pelecehan maupun kekerasan seksual, mengungkapkan ke publik, sebagai langkah untuk memerangi kejahatan seksual.

Yang terbaru, datang pengakuan dari aktris Hollywood, Tatum O’Neal.  Dia berbagi  kisah untuk memperjuangkan harkat martabat manusia (terutama perempuan), yang dalam  hal ini secara global paling sering mengalami pelecehan.

Mantan bintang anak ini, yang baru-baru ini maju dengan kisahnya tentang kekerasan seksual yang dialaminya,  sekarang membuka kartu tentang apa yang terjadi dan mengapa, termasuk perjuangan orang tuanya terkait dengan  penyalahgunaan zat dan kecanduan.

“Ketika orang tua Anda mabuk, mereka tidak memperhatikan apa yang terjadi pada anak-anak mereka,” kata O’Neal. Perempuan 54 ini  menjelaskan dalam sebuah wawancara dengan The Mail pada hari Minggu,  yang diterbitkan pada Minggu, 7 Oktober. (Tatum  adalah putri Ryan ONeal dan almarhumah Joanna Moore.)

Tatum yang tinggal di California ini menambahkan bahwa dia “mengalami bertahun-tahun pelecehan, baik secara emosional dan seksual.” O’Neal juga mengatakan, bahwa dua penyerangnya termasuk dilakukan oleh teman ayahnya, dan yang lain adalah pacar ibunya, keduanya  pernah berusaha memperkosanya. .

Tatum O’Neal – yang memenangkan Oscar sebagai Aktris Pendukung Terbaik pada usia 10 tahun untuk perannya di Paper Moon, yang membuatnya menjadi orang termuda yang pernah menerima penghargaan  tersebut- maju ke publik dengan klaim pelecehannya. Apa yang dia lakukan secara terang benderang dan mengharukan yang  dia poskan di Instagram pada hari Kamis, 4 Oktober.

“Saya seorang wanita dan saya telah diserang secara seksual lebih dari sekali !! Bukan salah saya ketika saya berusia 5, 6 12, 13, 15, ” Tatum  memulai tulisan panjang di samping foto dirinya yang sedang merokok di sebuah adegan dari Paper Moon.

“Semua oleh pria yang lebih tua yang saya pikir aman! Saya jarang mengetahui keamanan dan selalu disalahkan atas serangan dan,  dan rasa ingin tahu saya. ”

Pernyataan Paling Kuat Hollywood  
Bintang The Runaways ini melanjutkan dengan anggukan kepada Dr Christine Blasey Ford, yang maju dengan tuduhan terhadap calon Mahkamah Agung Brett Kavanaugh dan diejek oleh Presiden Donald Trump.

“Itu terjadi pada saya hampir 55 tahun untuk mengetahui cara mengadvokasi diri saya sendiri. Tapi saya belajar dengan cepat dan di sini saya pergi !! Untuk melihat presiden AS. Punya seorang wanita, apalagi korban kekerasan seksual. Kami telah tenggelam ke kedalaman kebobrokan yang saya tidak pernah berpikir presiden Amerika Serikat dapat tenggelam ke Anda, “tulisnya.

“Dengan tawa gaduh bagi seseorang yang diserang pada usia 15 tahun. Apakah itu 35 tahun yang lalu kepada seorang pria berusia 75 tahun pada 15 saya ingat semuanya !! Sudah waktunya bersatu. ”

O’Neal menutup posting: “Mari kita, memimpin dengan cinta dan kebaikan dan empati Menuju satu sama lain. Tapi kita, korban-korban peleceha seksual, atau kekerasan, TIDAK harus meletakkan baju besi kita. Ini waktunya untuk bertarung untuk satu sama lain dan masing-masing lainnya dalam waktu yang gelap ini! Amerika Kita bisa berbuat lebih baik – kita akan menjadi lebih baik !! ”**

Film ‘Tengkorak’, Sci-fi Indonesia Tayang di Bioskop

Film ‘Tengkorak’ produksi Sekolah Vokasi (SV) UGM akan dirilis ke publik pada 18 Oktober mendatang. Penayangan film ini akan dilakukan di jaringan bioskop nasional XXI, Cinemaxx, dan CGV. Keputusan untuk menayangkan film tersebut berdasarkan pada respon positif masyarakat. ‘Tengkorak’ pun telah diboyong ke sejumlah festival film tingkat internasional.

Film ini tayang official selection di Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2017 di Jogjakarta, Balinale FF 2018 dan nominasi di Cinequest 2018 di California, AS. “Terakhir kita juga disertakan Balinale International Film Festival untuk akhir September 2018,” ujar Yusron Fuadi selaku sutradara dalam jumpa pers Minggu (7/10/2018).

Tengkorak merupakan film genre Science-Fiction (Sci-Fi), bercerita tentang ditemukannya tengkorak serta kerangka sepanjang 2 kilometer usai terjadi gempa pada tahun 2006.

‘Tengkorak’ sendiri merupakan hasil gagasan dari Yusron Fuadi, yang juga merupakan Dosen SV UGM. Seluruh proses produksi melibatkan para mahasiswa serta staf dari UGM. “Prosesnya dilakukan di Laboratorium Mulitmedia D3 Komputer dan Sistem Informasi di SV UGM,” kata Wikan. (pik)

 

Jonathan Kuo Bawakan Karya Tchaikovsky dan Mozart

konser musik klasik bertajuk ‘Steinway & Sons Present Young Steinway Artist Gala Concert’

Jakarta Sinfonietta sukses menggelar konser musik klasik bertajuk ‘Steinway & Sons Present Young Steinway Artist Gala Concert’ di Aula Simfonia, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Minggu (7/10/2018). Konser musik klasik tersebut sekaligus peringatan kematian komposer andal asal Rusia, Pyotr Ilyich Tchaikovsky, yang ke-125. Ia juga bawakan konserto piano dari opus no 21 dalam C Major K 467 Mozart  (allegro maestro, andante dan allegro vivace assai).

Gelar konser resital solo Jonathan Kuo bawakan karya legendaris–foto istimewa

Jonathan dan Jakarta Simfonietta (dengan 53 piece) membuka konser tersebut dengan lantunan Suite Nutcracker, musik ciptaan Tchaikovsky pada 1892. Lagu itu digunakan sebagai musik latar pertunjukan balet, The Nutcracker, sekaligus menjadi salah satu karya terpopuler sang komposer hingga kini.

Pianis 16 tahun itu kembali memukau lebih dari 1.000 khalayak konsernya lewat tiga karya Tchaikovsky lainnya: Allergo con spirito, Andantino semplice, dan Allergo con fuoco. Ketiga karya musik itu diciptakan Tchaikovsky sepanjang periode 1840-1893.

Pada kesempatan itu, Jonathan juga mendapatkan penghargaan sebagai Young Steinway Artist oleh Steinway & Sons, sebuah produsen piano asal Manhattan, Amerika Serikat. “Penghargaan ini merupakan kehormatan bagi saya. Latihan keras selama 6 jam sehari akhirnya bisa membuahkan hasil memuaskan,” ujar Jonathan seusai konser.

Diakuinya, menggelar tur di beberapa negara seperti Malaysia dan China bukanlah hal mudah. Apalagi dia harus membawakan karya legendaris milik Tchaikovsky. “Sulit mempertahankan emosi agar stabil (sepanjang pertunjukan). Karena lagu itu kan berdurasi 40 menit, jadi kalau enggak konsentrasi semuanya bisa berantakan,” imbuhnya. (pik)

 

Skandal Pelecehan Seksual di Bollywood

 

 

 

AKTRIS  Bollywood Kangana Ranaut mengaku telah menjadi korban  pelecehan  seksual oleh sutradara Vikas Bahl daat bermain  sebagai peran utama dalam film ‘Queen.’

Kangana  memgaku kasus pelecehan itu terjadi  pada tahun 2014. Sebelumnya, skandal pelecehan seksual juga terjadi di Hollywod yang melibatkan Harvey Weinstein, Kevin Spacey, Jeremy Piven, Oliver Stone dan lainnya.

“Meskipun Vikas menikah pada tahun 2014, ketika kami sedang syuting Queen, dia membual tentang berhubungan seks dengan pasangan barunya itu  setiap hari kepada saya. Saya tidak menilai orang dan pernikahan mereka, tetapi Anda dapat mengetahui kapan kecanduan menjadi penyakit. Ia berpesta setiap malam dan mempermalukan saya, karena tidur lebih awal dan tidak cukup dingin, ” katanya dalam sebuah wawancara dengan  India Today. 

Dia mengungkapkan, Vikas  memaksa memeluknya erat dan mencium rambutnya. “Tapi tetap saja setiap kali kami bertemu, secara sosial disambut dan berpelukan satu sama lain. Dia akan (mamanfaatkan itu dengan) membenamkan wajahnya di leherku, memelukku erat dan menghirup bau rambutku. Butuh banyak kekuatan dan usaha untuk menarik diriku keluar dari pelukannya. Dia akan mengatakan ‘Saya suka bagaimana Anda mencium “K”. Saya bisa mengatakan ada sesuatu yang salah dengan dia, ” tambah Kangana.

Dalam wawancara dengan Huffington Post belum lama ini, seorang anggota kru perempuan juga menuduh Vikas Bahl melakukan pelecehan seksual.

Bagaimana mengekspresikan dukungan untuk wanita itu, Kangana berkata, “Pada saat itu Vikas telah datang kepada saya dengan sebuah naskah tentang seorang peraih medali emas dari Haryana. Ketika saya mendukung gadis itu, dia berhenti berbicara kepada saya. Saya tidak keberatan kalah dengan baik. skrip dan aku juga tidak pernah memanggilnya. Aku bertekad untuk mengatakan apa yang kurasa benar. Masalahnya, didorong di bawah karpet dan aku tidak mendengar pembaruan apa pun yang sama. ”

“Aku bisa mengatakan ada yang salah dengan dia. Aku percaya gadis ini. Tapi, yang menyedihkan, apakah sekarang Phantom sudah dibubarkan, banyak yang menyerangnya, meskipun gadis itu meminta bantuan sejak lama. Pada saat itu, ceritanya dibunuh dengan nyaman, tetapi saya mendukungnya pada saat itu juga. Anda dapat melihat interaksi media saya selama salah satu interaksi dukungan merek saya. Saya pikir gerakan #MeToo akan menyusul, tetapi saya (ternyata) salah (mengira), ” ungkap Kangana.***

Festival Film Jerman di 6 Kota

Festival Film Jerman alias German Cinema kembali digelar di Indonesia dengan menghadirkan 9 film, termasuk 2 film anak-anak. Dua film anak tersebut yakni “The Legend of Tim Thaler or The Boy Who Sold His Laughter” karya Andreas Dresen dan “Queen of Niendorf” karya Joya Thorne.

“Pada dasarnya, German Cinema itu untuk edisi-edisi yang terdahulu merupakan festival film bagi audiens dewasa. Jadi, kontennya untuk penonton 18 tahun ke atas. Namun, mulai 2 tahun lalu terdapat 1 film anak dan tahun ini ada 2 film anak,” terang Asisten Bagian Acara Budaya Goethe Institut Dinyah Latuconsina.

Penayangan film anak, lanjutnya, lebih merupakan kesempatan bagi orang-orang yang belajar Bahasa Jerman untuk menonton film Jerman pertama mereka di festival ini. Pasalnya, film anak biasanya memiliki dialog yang lebih mudah dipahami.

German Cinema 2018 akan dibuka oleh film bergenre thriller ‘In The Fade’ yang dibintangi Diane Kruger, aktris papan atas Hollywood. ‘In the Fade’ atau dalam bahasa Jerman ‘Aus Dem Nichts’ karya sutradara Fatih Akin.

Festival ini tidak hanya digelar di Jakarta tapi juga di lima kota besar lainnya yaitu Denpasar, Bandung, Makassar, Yogyakarta, dan Surabaya. German Cinema 2018 berlangsung pada 4-21 Oktober 2018. (pik)

 

Kla Project Gelar Konser 30 Tahun Berkarya

Menandai 30 tahun berkarya, Kla Project akan kembali menggelar konser tunggal spektakuler yang bertajuk ‘Karunia Semesta‘, pada 5 Desember 2018 di Jakarta Convention Center (JCC), Plenary Hall.

Konser tahun ini menurut salah satu personel Kla, Adi Adrian, juga akan menyuguhkan sesuatu yang belum pernah mereka tampilkan.

“Kita enggak berhenti. Kita terus mengeksplorasi, berkarya, berkonser, menyuguhkan, dan bersyukur bahwa hal itu diterima. Sehari-hari kami memang seniman dan itu pilihan kami. Merayakan 30 tahun tidak sama dengan konser nostalgia yang lain. Kita harapkan 30 tahun itu istimewa punya kenangan manis buat penonton, dan juga punya kenangan manis untuk kami,” kata Adi, saat berada di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, 5 Oktober 2018.

Tidak hanya tata panggung yang akan dibuat berbeda, aransemen lagu Kla Project juga dibedakan pada konser tahun ini. Kla memang pernah menyuguhkan sajian orkestra sebagai pelengkap aransemen, namun kini musisi dan penari etnik yang digandeng lebih bervariasi, kolosal, dan menonjolkan eksplorasi band.

Adi juga menambahkan, selain menyajikan lagu-lagu legendaris penuh cinta dan romansa dari album pertama hingga akhir, konser bertabur bintang ini juga akab menyuguhkan musik berkelas. “Kami akan menampilkan aransemen musik elektro, akustik, klasik, serta etnik Nusantara,” ujarnya. Konser KLa berdurasi 2 jam dengan 30 lagu ini digawangi Katon, Lilo dan Adi Adrian. (pik)

 

Skuad PUGB Songsong Kompetisi Indihome Esports League 2018

Permainan online Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) semakin digandrungi di Indonesia.

Menjelang kuartal ke-empat tahun 2018, menjadi bulan idamannya para penggemar permainan PlayerUnknown’s Battlegrounds (PUBG). Pasalnya, mereka akan semakin dimanjakan dengan banyaknya gelaran perlombaan PUBG profesional di tanah air.

Setelah diumumkannya Age Master League (AML 2018), kali ini IndiHome sebagai sponsor utama dari IndiHome Esports League (IEL 2018) yang sudah memasuki musim kedua kelangsungannya akan menjadikan permainan PUBG sebagai permainan utama di ajang perlombaan ini, dengan total hadiah ratusan juta rupiah.

Bagi kalian penggemar maniak PUBG silahkan mendaftar dan catat jadwalnya. “IEL Season 2” bakal diadakan pada hari Sabtu dan Minggu dari Sabtu (13/10/2018) hingga 21 Oktober 2018 untuk babak kualifikasi 1, dan tahapan kualifikasi 2 pada 3-11 November 2018.

Akan ada dua gelombang permainan per hari nanti dengan tanpa batasan tim yang diperbolehkan mengikuti babak kualifikasi nantinya.

Untuk mengikuti permainan ini, nantinya kalian bisa melakukannya secara online di mana saja. Akan tetapi IndiHome juga sudah menyiapkan 350 warung internet (warnet) yang menjadi partner mereka di beberapa lokasi.

Jadi, bagi kalian yang masih belum punya rig khusus instalasi perangkat PUBG, jangan bingung buat segera gabung di warnet-warnet yang bakal ditentukan.

Guna mengikuti babak kualifikasi, para pemain diharuskan menggunakan layanan IndiHome. Babak kualifikasi ini akan menyaring 25 tim per kualifikasi. Dari situ, tim yang berhasil lolos akan lanjut untuk bermain di babak play-off yang yang dijadwalkan berlangsung pada 18 November 2018.

Nantinya, 16 tim terbaik berhak untuk ikut babak Grand Final di IndiHome eSports Stadium pada 2 Desember mendatang, dan rencananya diramaikan pemain dan influencer PUBG terkenal seperti Shroud, serta musisi Deadmau5 dan tim eSports PUBG Indonesia Aerowolf.

Penyelenggaraan IEL 2018 menjadi bagian dari berlangsungnya kegiatan Oktober Fest yang didukung oleh AGe Network sebagai salah satu broadcaster eSports Indonesia bekerjasama dengan Telkom Indonesia, Bluehole, True Digital Plus Indonesia dan OnGameNet (OGN Korea Selatan). (john js)

G-Pro Bersetara di Panggung IIMF dengan Lagu-lagu Klasik Rock dan Oldies

Para pengunjung  Pekan Raya Indonesia di ICE, BSD City, Tangerang Selatan, Banten  hingga Minggu (7/10/2018) dihibur oleh penyelenggaraan International Indie Music Festival (IIMF) sejak sore hingga malam yang menampilkan Mocca, Padi, Foxtails Brigade, The Shapers, Ari Lasso, Fourtwnty dan banyak lagi.

Namun juga layak dicatat tentang performa G-Pro di IIMF yang personelnya didominasi dedengkot-dedengkotnya anak band  1980-an, dimana awal pekan ini merekapun tidak menyangka-nyangka memperoleh sambutan publik penonton yang melegakan.

“Sambutan para penonton ternyata oke. Cukup ramai penontonnya. Padahal kami sempet ragu, karena ketika datang dari sore melihat suasana pertunjukan band lainnya padahal bagus tapi sepi. Syukurlah, ketika ternyata kemudian kami tampil dan mendapatkan antusias dari penonton. Lega, lagu-lagu klasik rock dan oldies yang kita nyanyikan ternyata dipahami. Sampe ada pula penonton yang request lagu,” komentar Amir Roes, penyanyi lawas yang kini jadi frontman G-Pro, saat ditemui dalam rutinitas pentas tiap Jumat malam di Melody Music Bar & Lounge, Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan.

Penyanyi asal Solo, Jawa Tengah penyuka band rock Trenchem di masa bocahnya dan mulai dikenal masyarakat sejak suara berlevelnya mengisi original soundtrack film Catatan Si Boy itu, mengingatkan bahwa G-Pro bakal muncul lagi  di pentas International Indie Music Festival hari Minggu (7/10/2018), serta janjinya bakal memilih lagu-lagu yang lebih familiar melegenda,

“Seperti diantaranya, Dust In The Wind dimana lagu-lagu semacam itu dulunya sering diputar oleh bapak-bapak dan ibu-ibu di rumah dan ikut didengerin anak-anaknya,” ungkap Amir.

Diakuinya, G-Pro memang berkarya bukan melulu buat menciptakan lagu sendiri karena kan berkreasi musik dengan bagus juga artinya berkarya.

Apalagi, tambahnya, dilakukan dengan suka hati tanpa paksaan dan bersilaturahmi dengan rekan-rekan seangkatan (antara lain kibordis Najib Oesman, Maxie Pandelaki; gitaris Masrie Pilliang dan bassis Harry Minggoes) yang terus terjaga dengan baik.

“Sampe performance juga lebih friendly jadinya, dan menyanyikan lagu-lagu cover version ada pasarnya. Apalagi, saya dari dulu juga pelakunya bersama Johan Untung. Ikut meramaikan dengan tetep bergaya classic rock. Sampe lagunya Boyz II Men, I’ll Make Love To You belum dikenal disini malah duluan dikenal cover version yang saya nyanyikan,” kenang Amir. ***john js