Curhat Maudy Ayunda tentang Mama-nya

Maudy Ayunda—foto instagram maudy

JAYAKARTA NEWS—Cantik, cerdas dan sukses dalam pendidikan dan karier, itulah Maudy Ayunda. Tidak mudah untuk mencapai itu semua. Hanya mereka yang konsisten dan mau bekerja keras yang mendapatkannya. Diakui Maudy apa yang dicapainya saat ini tak lepas dari dukungan orangtua, khususnya sang mama yang selalu siap menjadi ‘teman’ diskusinya.

“Aku tuh deket banget sama mama… Banyak hal aku selalu cerita ke mama, dan minta pendapatnya. Walau kadang pendapat kita berbeda dan bisa jadi perdebatan panjang,” ungkap Maudy yang melanjutkan pendidikan S2-nya di Stanford University, AS.

Saat dirinya mulai banyak kegiatan, lanjut Maudy, mama-nya lah orang pertama yang diajaknya berdiskusi, mengenai seberapa penting semua hal itu untuk  dirinya dan apa yang menjadi prioritasnya.

Maudy dan mama-nya, Muren Murdjoko Jasmedi—foto instagram maudy

“Walau awalnya khawatir, akhirnya mama bisa mengerti dan akan selalu siap mendukung setiap langkahku. Aku nggak tau akan seperti apa hidupku tanpa mama. Love you mom! Semoga di momen Ramadhan kali ini aku bisa lebih banyak menghabiskan waktu bareng mama,” ungkap tulis Maudy di akun instagramnya.

Maudy Ayunda memang selalu sibuk. Dia memiliki sejumlah  kegiatan yang menyita waktunya, bukan hanya menyanyi. Karena kelewat sibuk, waktunya bersama keluarga pun jadi terbatas. Hal itu juga diakui oleh sang mama, Muren Murdjoko Jasmedi.

“Tante maunya Maudy deket tante terus, nggak kemana mana. Tapi kan kenyataannya justru banyak kerjaan, tante jarang bisa quality time,” ujar Muren sambil tertawa. Untungnya, tambah Mauren, Maudy juga menyadari hal itu. Jadi meski dia sibuk tetap berusaha meluangkan waktunya untuk kumpul keluarga.   

Muren juga mengaku bangga dengan capaian anaknya. Bagaimana anaknya berjuang untuk menekuni kuliahnya sembari menjaga kariernya di dunia entertainment tetap eksis. Itu semua adalah bukan hal yang mudah.

Sebagai orangtua, kata Muren, dia selalu mensupport anaknya dan selalu menyemangati. “Meski bisa memutuskannya sendiri, namun Maudy selalu melibatkan orangtuanya dalam langkah yang akan diambilnya. Dia suka curhat tentang ini-itu. Dia juga bertanya pandangan kami tentang langkah yang akan diambilnya,” jelas Muren.***ebn

Opick 5 Kali ke Gaza Kirim Bantuan Kemanusiaan

JAYAKARTA NEWS – Satu-satunya penyanyi Indonesia yang sudah lima kali mengirimkan bantuan ke Jalur Gaza, Palestina adalah Opick (45 tahun). Akhir tahun ini, Opick yang bernama lengkap Aunur Rofiq Lil Firdaus ini akan ke Palestina lagi.

“Saya enggak tega melihat di televisi Al Jazeera, 30 anak-anak di Gaza ditembak mati oleh tentara Israel. Mereka yang masih hidup, butuh bantuan di kamp-kamp pengungsian, seperti selimut, buku tulis, pakaian dan roti kering,” ungkap Opick sebelum tampil di acara Gaza Kembali Berduka-Konser Amal Peduli Palestina di sebuah hotel di Tangerang, baru-baru ini.

Penyanyi religi ‘Tombo Ati’ dan ‘Dealova’ ini merasa terharu melihat pada awal puasa Ramadan tahun ini, organisasi Sahabat Palestina Memanggil ini berhasil mengumpulkan donasi sebanyak Rp 7,6 Milyar untuk disalurkan ke Gaza.

Apakah di Gaza, Opik juga akan menyanyi ? “Tugas saya hanya kirim bantuan, terakhir bersama Dik Doank ke sana. Saya sering kontak dengan KBRI di Palestina, bagaimana sebaiknya saya di Gaza. Tapi kalau anak-anak Palestina mendaulat saya untuk tarik suara, yah saya lakukan juga. Biasanya, lagu berbahasa Arab sudah saya siapkan, agar mereka gembira,” jawab Opick yang sampai kini sudah merekam sebanyak 20 album religi.

Apakah tidak takut ke Gaza yang masih dilanda kecamuk perang. Kan peluru musuh tidak kenal siapa kawan siapa lawan ?

“Saya serahkan semuanya kepada Allah SWT. Ini kan tugas kemanusiaan. Sebagai muslim, saya wajib menolong dan membantu umat yang lain.Pernah suatu ketika, meski tim saya sudah mengibarkan bendera Palang Merah Indonesia, toh peluru terus berdesing di atas kepala saya. Alhamdullilah…saya masih diberi keselamatan,” papar Opick.

Dalam konser amal tersebut, sebelum Opick unjuk diri di panggung, dilakukan orasi oleh Syekh Palestina yaitu Dr Ahmad Alkuad (Menteri Kesra Gaza) dan Dr. Hatim Owaedah (Deputi Menteri Ekonomi Gaza). Mereka bicara sembari menampilkan video tentang penderitaan anak-anak Palestina di Gaza. “PBB wajib turun tangan. Terima kasih kepada artis dan seniman dari Indonesia yang sudah mengulurkan bantuan kepada negara kami,” kaa Dr. Ahmad Alkuad.(pik)

Jonathan Kuo ingin Populerkan Musik Klasik di Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Akar dari semua genre musik adalah musik klasik. Musikus jazz mau menggelar konser, harus belajar noot balok dulu di musik klasik. Meski ada beberapa musikus jazz yang hanya mengandalkan ‘feeling’ semata.

Indonesia gudangnya musik. Musik genre apa saja, ada di sini. Namun, yang terbanyak adalah musikus alam yang mengandalkan feeling, bukan metoda baku. Belajar noot balok atau yang acap disebut ‘noot kecambah’ ?
Nanti dulu deh.

“Saya ingin Indonesia cinta musik klasik. Generasi milenialnya menyukai klasik. I think love clasic music,” kata Jonathan Kuo (19 tahun) dalam perbincangan dengan penulis di Jakarta Conservatory of Music, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Jonathan yang belajar piano klasik sejak usia 7 tahun ini akan menghelat konser resital solo di Balai Resital Kertanegara, 25 Juni 2019. tema konsernya adalah ‘A Piano Recital Jonathan Kuo’.

“Saya persembahkan konser ini untuk Indonesia,” kata Jonathan yang pernah menggaet penghargaan sebagai Juara ke 1 pada Indonesia Steinway Youth Piano Competition, 2014 (kategori Talentum B, usia dibawah 13 tahun).

jonathan memaparkan, dia setiap hari berlatih piano 5 jam. “Durasinya 1,5 jam, bebannya hampir sama dibandingkan ‘Young Steinway Artist Gala Concert’, Oktober tahun 2018 di Aulia Simfonia Jakarta,”ucapnya lagi.

Selama mengikuti berbagai ajang kompetisi piano di luar negeri, Jonathan melihat banyak musikus Indonesia benar-benar bertalenta. “Bakat dan dedikasi musikus Indonesia luar biasa. Mereka banyak memenangi penghargaan di ajang kompetisi di Eropa maupun di Asia,” ujar Jonathan.

Selain kompetisi, dia juga aktif mengikuti berbagai masterclass dibawah arahan pianis-pianis ternama di Tanah Air serta artis dan pedagog (edukator) pada kancah internasional antara lain Thomas Hecht, Josef Anton Scherrer, Benyamin Loh, Li Ming Qiang, Alexander Gurning dan Kim Barbier.

Memulai pelajaran piano untuk pertama kalinya pada usia 7 tahun. Dan menjadi siswa dari Iswargia R.Sudarno, pendiri Jakarta Sinfonietta, sebuah orkes kamar yang dibangun tahun 2015.

Sejak belajar piano bersama Iswargia R.Sudarno, dia semakin mencintai musik klasik. Bahkan, ia memiliki cita-cita menjadi pianis musik klasik kelas dunia.

“Jonathan merupakan salah seorang pianis muda yang paling andal dan potensial di Indonesia saat ini. Masa depannya cukup cerah untuk mengharumkan nama bangsa di dunia internasional kelak,” komentar Iswargia R. Sudarno. Teknik panistiknya makin tinggi, tambahnya, dan kepekaan dalam menciptakan warna suara dan berimajinasi dalam suara, semakin lihai.(pik)

Totalitas Mathias Muchus Bermain Film

JAYAKARTA NEWS – Salah seorang aktor film Indonesia yang konsisten berkarya adalah Mathias Muchus (62 tahun).

Ayah dua anak berdarah Pager Alam ini sudah membintangi banyak film, dan sinetron. Salah satu sinetron televisi yang terkenal adalah ‘Losmen’ yang disutradarai oleh Wahyu Sihombing (almarhum), guru aktingnya di Institut Kesenian Jakarta IKJ). Berpesan sebagai pemuda bernama Tarjo, sejak itu Mathias melangkahkan karirnya ke dunia seni peran yang sesungguhnya.

“Saya tidak pilih-pilih peran. Asal ceritanya menarik dan perannya cocok dengan karakter saya, saya oke-oke saja. Toh banyak juga peran yang saya tolak, selain enggak pas, juga waktunya bentrok dengan kegiatan lain,” kata Mahitas sewaktu acara berbuka puasa di Jakarta belum lama ini. Pada usia berkepala 6 ini, Mathias tak ragu untuk menyantap kambing guling dan steak sapi.

Terakhir, suami Mira Lesmana (produser) ini membintangi dua film sekaligus bergenre drama komedi, yaitu ‘Kapal Goyang Kapten’ dan ‘Vitamin Sea’ karya sutradara Raymond Handaya.

Mengingat usianya yang sekarang, Mathias acap mendapat peran sebagai orangtua dan kakek.

“Kalau di tahun 80an, pas usia saya masih muda, saya selalu mendapat peran sebagai anak muda yang sedang tumbuh,” kata Mathias yang hampir tidak pernah bermain dalam film horor.

Berkat permainannya sebagai pemuda homorseksual bernama Nico dalam film ‘Istana Kecantikan’, ia diganjar piala Citra pertama sebagai pemeran utama pria terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 1989 di Jakarta. Hingga kini, Mathias sudah tiga kali menggaet Citra yaitu ‘Pengejar Angin’ (2011) dan ‘Toba Dreams’ (2015) sebagai pemeran pendukung pria terbaik.

Dengan dua anaknya hasil pernikahan dengan Mira Lesmana, Mathias acap berdebat soal film.

“Saya dan Mira Lesmana enggak pernah mengarahkan kepada anak-anak, mau jadi apa kelak. Terserah mereka nanti. Kalau akhirnya terjun ke dunia film, oke saja, asal mau belajar dari bawah,” ujar Mathias yang pernah menyutradarai film bertajuk ‘Romantik’ dan ‘Rindu Purnama’.

Sebagaimana halnya Mathias sendiri. Ayahnya dulu kala adalah wiraniaga dari Solok,, Sumatera Barat. Toh ia tidak pernah mengikuti jejak sang ayah jadi pedagang, justru ia hengkang ke Jakarta kuliah seni peran di IKJ.

Lebaran sudah ada agenda mau kemana ? “Di Jakarta saja. Ini saja puasanya belum tuntas. Semoga bisa mencapai 30 hari,” tandas Mathias yang bermain gemilang dalam beberapa film, diantaranya ‘Petualangan Sherina’, ‘Gending Sriwijaya’, ‘Roro Mendut’, ‘Cintaku di Way Kambas’, ‘Denias, Senandung di Atas Awan’ dll. (pik)

Dwiki Garap Musik Film ‘Iqro – My Universe’

JAYAKARTA NEWS – Musisi Jazz, Dwiki Dharmawan (52 tahun) bersyukur dapat menjalankan ibadah puasa pada Ramadan tahun ini. Malah, kehadiran Ramadan sekarang ini juga memberi berkah rejeki buat salah satu pendiri Krakatau Band ini.

Di keluarganya, puasa Ramadan, salah satu hal yang diajarkan oleh orang tuanya semenjak kecil. Orang tuanya selalu menekankan, agar puasa Ramadan benar-benar diselesaikan sebulan penuh, karena besarnya keberkahan.

“Sampai sekarang saya tetap rajin berpuasa. Hanya, tarawih sulit saya lakukan. Maklum, banyak job main di luar,” ujar musisi berdarah Sunda ini.

Selama berpuasa, suami rocker yang berjaya di era 80 dan 90-an Ita Purnamasari ini. memgaku dirinya senantiasa menghindari makanan kolestoral dan berlemak. “Merokok enggak, tapi kopi masih. Kalau saya makan sate kikil, pasti asam urat kambuh,” katanya disusul dengan tawanya.

Puasa biasanya menurunkan berat badan Dwiki 2-kg, tetapi setelah lebaran lazimnya kemudian naik 3-kg. Itu, seperti menjadi “tradisi” dalam dirinya.

Bulan Ramadan tahun ini, terasa lebih istimewa bagi Dwiki karena mendapat job menjadi penata musik (music scorer) dalam film ‘Iqro – My Universe’ yang akan tayang 11 Juli 2019.

“Saya juga dipercaya menulis lirik lagunya untuk lagu tema (theme song) bertajuk ‘Untuk Semesta’ yang dinyanyikan Lana Nitibaskara,” ungkap Dwiki yang merupakan pendiri band Krakatau dan World Peace Orchestra.

‘Iqro – My Universe’ produksi Yayasan Pembina Masjid Salman ITB, Bandung itu, merupakan sekuel anak-anak yang disutradarai Iqbal Alfajri. Film ini dibintangi oleh sederet bintang terkenal, seperti Cok Simbara, Maudy Koesnaedi, Aisha Nurra Datau, Mike Lucock, Raihan Khan, Astri Ivo, Ben Kasyafani, Mario Irwinsyah, Meriem Bellina, Rony Dozer dan Harris J (musisi muda muslim asal Inggris).

Selain itu, juga ada penampilan khusus dari Prof. Dr. Pratiwi Sudarmono (eks calon astronaut wanita pertama Indonesia), Prof. Dr. Thomas Djamaluddin (Ketua LAPAN), dan Muzammil Hasbalah, ST (Imam muda Masjid Salman ITB dan Qur’an Reciter).

Film yang mengedepankan ilmu pengetahuan ini, mencoba untuk mengangkat kebesaran Al Quran dengan mengisahkan tentang mimpi seorang anak remaja untuk menjadi seorang astronaut dan pergi ke pusat penelitian luar angkasa di Inggris dengan mengikuti lomba Vlog tentang tokoh antariksa.

Dengan mengambil lokasi di Jakarta, Bogor, Siak, dan juga di Inggris, film ini akan menampilkan visual dengan animasi untuk memperkuat tampilan film.

“Saya ciptakan lirik lagunya khusus untuk film ini, berjudul ‘Untuk Semesta’. Bergenre pop biasa, tapi liriknya saya ambil dari beberapa Surah dalam Al Quran. Makanya bernuansa religi, coba dengarkan ya,” pinta Dwiki. (pik)

Serem-serem Sedap, Lebaran Bersama ‘Kuntilanak 2’

JAYAKARTA NEWS – Sekali lagi, makhluk astral Kuntilanak ‘merayakan’ Lebaran pada tahun 2019 ini.

Tahun lalu, Kuntilanak untuk pertama kalinya tayang di bioskop di seluruh Indonesia, tepat di hari Lebaran.

Pemutaran film Kuntilanak pada edisi libur Lebaran 1440 H ini, akan dimulai pada 4 Juni 2019, dilanjutkan pada tanggal 5 Juni, dan seterusnya….

“Saya enggak percaya Lebaran itu ‘kuburan’-nya perfilman nasional. Lima tahun belakangan, lebih dari 5 film nasional merajai bioskop seluruh RI. Dan hampir seribuan layar dikuasai film nasional,” lontar Rizal Matovani, sutradara ‘Kuntilanak 2’.

Alhasil, Rizal Mantovani sangat optimistis 5 film nasional yang akan tayang Lebaran tahun ini bersaing secara sehat dan masing-masing akan memperoleh banyak penonton.Sekedar catatan, Kuntilanak produksi MVP Pictures berhasil menggaet 1.236.000 penonton.

Lalu, apa uniknya Kuntilanak 2018 dan Kuntilanak 2 tahun ini? “Hampir semua bintangnya di Kuntilanak 3 baru. Karina Suwandi, aktris lawas saya tunjuk jadi Karmila alias Kuntilanak,” jawab Rizal.

Film berdurasi 100 menit dan lolos sensor untuk 13 tahun ke atas ini dikatakan Rizal adalah bergenre horor fantasi.

“Dan didalamnya, saya masukkan sub-genre rumah kayu di tengah hutan. Saya tidak tahu apakah ini mengerikan atau tidak, tapi teman-teman saya baik yang cowok maupun yang cewek sewaktu diundang gala premier mengatakan,mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri semua…,” papar Rizal.

Sutradara muda usia ini mengungkapkan, Kuntilanak 2 berbeda dari film horor lainnya.  Kali ini, lewat sudut pandang anak-anak yang seharusnya tidak mengalami fenomena gaib seperti ini kendati sebelumnya berhasil menang melawan Kuntilanak.

“Selain horor, ada juga elemen aksi, komedi, petualangan, drama, misteri, hingga thriller pun ada,” tambahnya.

Dalam Kuntilanak 2, Dinda yang diakui sebagai puteri Kuntilanak (diperankan oleh Sandrinna Skornicki) yang sebelumnya berhasil lolos dari teror Kuntilanak di film sebelumnya, tanpa persetujuan Tante Donna (Nena Rosier) berniat untuk menemui seseorang yang diyakini sebagai ibu kandungnya yang tinggal sendiri di  rumah kayu di tengah hutan.

Namun, dia bersama adik-adiknya ditemani Julia (Susan Sameh) dan Edwin (Maxime Bouttier), malah terjebak dalam sebuah rumah sunyi di tengah hutan.

Dinda sadar bahwa menumpas Kuntilanak kali ini tidak bisa lagi menggunakan paku atau mantra. Justru Kuntilanak benar-benar mati karena dahinya ditusuk oleh tusuk konde miliknya sendiri. Dan yang menusuk adalah Dinda, puterinya.

Apakah ini sekuel atau prekuel dari Kuntilanak ? “Saya enggak berpikir membuat sekuel atau prekuel. Ini ya Kuntilanak 2,”

Lalu, apakah kalau Kuntilanak 3 sukses dan dtonton jutaan penonton di hari Lebaran, apakah Anda akan membuat Kuntilanak 3, padahal Kuntilanaknya sudah mati ?

“Hahaha…..terserah yang punya duit  (Amrit Punjabi, Raam Punjabi, Gobind Punjabi dan Anita Whora.Tadi sih saya ngobrol sama Karina Suwandi, dia mau lagi memerankan jadi Kuntilanak…,” tandas Rizal.

Co Producer MVP, Amrtj Punjabi menekankan proses pembuatan film Kuntilanak kali ini memang dikerjakan jauh lebih serius. “Kita hampir syuting lama di hutan lindung Baturaden, di kaki Gunung Slamet, Banyumas. Pas baru mulai syuting 5 menit, turun hujan. Break 3 jam. Mulai take lagi, hujan deras lagi. Akhirnya puji Tuhan, kita berhasil menyelesaikan syuting ini walau molor beberapa hari,” kata Amrit Punjabi.

Amrit Punjabi juga menjelaskan, kalau pada film pertama terornya ada di rumah, kali ini teror muncul lebih adventure, mencekam dan sekaligus menegangkan.

Selain dibintangi pemain-pemain di atas, Kuntilanak 2 juga dimeriahkan sederet pemain berbakat yaitu Teuku Rifnu Wikana dan lima pemain anak-anak yaitu Sandrinna Skornicki, Andryan Bima, Ali Fikry, Adlu Fahrezy dan Clara Nadine Brosnan.

Skenario ditulis Alim Sudio yang lama malang melintang dalam penulisan skenario. Penata suara digarap Khidmawan Santosa dan ini adalah karya terakhirnya (ketika film ini beredar, Khidmawan Sandosa meninggal dalam kecelakaan di Puncak).

Melantunkan lagu berbahasa Jawa ‘Tak lelo lelo ledung’, Karina Suwandi sebagai Karmila alias Kuntilanak  yang hampir jarang tersenyum dan menguraikan rambut sebelah kirinya, mendadak sontak mncul dengan wajah mengerikan, mulut berdarah dan kuku-kuku di kedua tangannya siap membunuh siapa saja. (pik)

Pemerintah Belum Perlakukan Film sebagai Karya Kebudayaan

JAYAKARTA NEWS – Pelawak Bagito (Bagi Roto), Dedi Gumelar alias Miing (61) menilai, kebijakan Pemerintah baru memperlakukan pendekatan komersial terhadap seni film.

“Selama ini, Pemerintah belum memperlakukan Film sebagai karya Kebudayaan,” ujar Miing dalam dialog film bertema ‘Hak atas Kekayaan Intelektual Perfilman dalam konten Perizinan Produksi Film’ yang diadakan oleh Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) dan Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Jakarta, belum lama ini.

Mantan anggota DPR Komisi X periode 2009-2014 mewakili fraksi PDI P (membawahi Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Kesenian dan Kebudayaan) ini menegaskan, selama dia sebagai anggota parlemen, DPR belum pernah membahas Film sebagai identitas bangsa.

“Apalagi, Film sebagai politik pendidikan, nol. Film lagi-lagi dibahas sebagai industri dan ekonomi, bukan sebagai karya seni,” papar Miing yang beberapa kali bersama dua personel Bagito lainnya (Didin Pinasti dan Unang) bermain dalam film komedi.

Miing membandingkan kiat perfilman di Amerika Serikat yang kalah perang di Vietnam. Kemudian untuk membangkitkan kepercayaan bahwa Amerika seolah-olah ‘menang perang’ di Vietnam, dibuat film Rambo yang diperankan oleh Sylvester Stallone. Persepsi publik Amerika lantas dibangkitkan bahwa identitas bangsa Amerika melalui pahlawan Rambo seolah-olah menang di strategi kebudayaan.

“Contoh lain, ketika film ‘Ghost’ terkenal di Indonesia, cewek-cewek kita lantas memotong rambutnya menjadi pendek meniru ulah pemain filmnya, Demi Moore. Kita juga pernah melakukan lewat film ‘Catatan si Boy’ karya Marwan Alkatiri, dimana Onky Alexander alias Si Boy selalu menaruh tasbih dan sajadah di mobil yang dikendarainya. Beberapa bulan kemudian, banyak anak muda kita ikutan gaya Si Boy yang lebih religius tapi tetap nyosor cewek,” imbuh Miing disambut tepuk riuh pengunjung yang mayoritas produser film dan insan-insan film.

‘Trend setter’ manjur ini berhasil mengubah persepsi publik. Ini bukti bahwa Film adalah kiat ces pleng yang cepat membangkitkan dan menjungkirbalikkan dunia mode, life style dan budaya manusia dari urakan menjadi lebih religius.

Komedian asal Banten ini menambahkan, mewabahnya Dilan – dari novel karya Pidi Baiq yang diangkat ke film – di bioskop seluruh Indonesia juga diposisikan sebagai trend setter. “Hanya saya masih ragu menjawabnya, apakah Dilan itu hak cipta atau sekedar branding ? . Bagimana jika ada sineas kita membuat film dengan judul ‘Tetangga Dilan’ atau ‘Bukan Dilan’, ini menyangkut intelectual right atau apa ?. Jelaslah, Film mempengaruhi pola pikir dan budaya bangsa kita,” tandas Miing.

Dalam diskusi Film yang berjalan gayeng sembari berbuka puasa ini juga mengetengahkan Firman Bintang (Ketum PPFI) yang banyak menyorot perizinan produksi film, Agung Damar (Dirjen HAKI, Kementerian Hukum dan HAM) membahas hak moral dan hak ekonomi dan ditutup oleh Sri Satrya Tjatur Wisnu Sasangka (Kepala Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud RI) yang memaparkan pembahasan bahasa Indonesia dalam judul film Nasional. Diskusi dipandu oleh Adisurya Andy, Kepala Sinematek Indonesia. (pik)

Peruri Punya Ruang Kreatif & Music Hall untuk Milenial

JAYAKARTA NEWS – Indonesia belakangan banjir artis dan band asing. Namun, mereka lagi-lagi bermain di venue yang tidak memadai untuk ditampilkan di depan publik.

Sebaliknya, negara jiran yang penduduknya lebih sedikit dari Indonesia, Singapura justru hampir tiap minggu menyuguhkan konser musik artis asing. Penonton konser musik di Singapura justru 80% dari Indonesia. Bahkan, dalam ajang F1 pun, penontonnya mayoritas orang Indonesia.

“Orang Indonesia memang haus hiburan, dan nonton konser musik dan hiburan lain ke Singapura. Padahal, Singapura enggak punya artis lokal. Dan Indonesia yang banyak artis lokalnya malah mengeluh tiadanya ruang kreatif yang representatif dan memadai. Makanya, band-band besar main di lapangan bola dan ruang kreatif yang kecil yang bukan untuk pertunjukan musik,” kata Wendi Putranto selaku Direktur Program {T Ruang Riang Milenial dalam acara berbuka puasa di Perusahaan Umum (Perum) Percetakan Uang RI (Peruri), baru-baru ini.

Alhasil, Peruri dan PT Ruang Riang Milenial kemudian berinisiatif mendirikan ruang kreatif yang diberi nama ‘M Bloc’ dan perjanjian kerjasamanya antara dua pihak telah diteken pada Jumat (17/5) yang lalu.

Proyek M Bloc ini akan mengalih-fungsikan lahan seluas 6500 meter persegi milik Peruri yang awalnya berfungsi sebagai komplek perumahan karyawan dan gudang tempat produksi uang yang sudah tidak beroperasi menjadi sebuah ‘creative hub’ multi fungsi bagi komunitas milenial.

Proyek ruang kreatif yang digarap oleh PT Ruang Riang Milenial ini berlokasi di sebagian area kantor Peruri di kawasan Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sementara percetakan uang yang mencetak uang logam dan uang rupiah dipindahkan ke Karawang.

Sebanyak 16 unit bekas rumah karyawan bergaya post colonial berlantai dua yang telah eksis sejak dekade 50-an akan dimanfaatkan oleh berbagai tenant ternama dalam negeri yang bergerak di bidang usaha kuliner, musik, film, animasi, seni rupa, kriya, hingga co-working space. Sementara 2 unit gudang bekas tempat produksi uang berukuran sekitar 900 meter persegi di bagian dalam akan disulap menjadi lounge dan venue berkapasitas 350 orang yang digunakan untuk konser musik serta pertunjukan seni lainnya.

Wendi Putranto juga memaparkan, nantinya pengunjung dapat melihat destinasi wisata musik.

“Malam nonton konser musik, siang harinya kita gelar jumpa pers dan jumpa fans yang pasti lebih bergairah buat generasi milenial,” ungkap Wendi Putranto yang mantan wartawan majalah musik Rolling Stone versi Indonesia.

Dalam gagasannya, nantinya tiap malam akan ada 3 band unjuk diri di hadapan publik. “Boleh juga kita helat konser Tribute untuk band-band senior kita, seperti Koes Plus yang tahun ini berusia 50 tahun dan God Bless yang berumur 46 tahun. Pihak promotor enggak akan menggelar konser musik Top Fourty. Tapi akan dikhususkan buat para legenda musik Indonesia. Yang jelas, mereka yang akan kami pilih adalah yang punya konsep dan karya sendiri,” imbuh Wendi Putranto.

“Dengan mulai beroperasinya MRT, gaya hidup dan budaya baru akan bertumbuh. Jakarta sangat membutuhkan ruang publik yang mampu menjadi ruang ekspresi yang positif,” ujar Handoko Hendroyono, Direktur Utama PT Ruang Riang Milenial.

Pemusik dan penyanyi Glenn Fredly yang ikut hadir menyambut gembira akan dibukanya ruang kreatif dan music hall yang dijadwalkan bulan September tahun ini, bertepatan dengan HUT ke 48 Peruri.

“Jakarta akan menjadi New York baru sebelum dipindahkan,” kata Glenn Fredly bangga. (pik)

Film ‘The Lawyers – Pokrol Bambu’, Komedi Getir Dunia Pengacara

JAYAKARTA NEWS – Makhluk apa the lawyer alias pengacara ? Dan seperti apa pengacara itu ?

Ada pepatah mengatakan ‘biarpun langit runtuh, hukum harus tegak’. Ya, itu pepatah sangat kuno dan didalam dunia milenial atau kekinian, pepatah tersebut (nyaris) sudah tidak berlaku lagi.

Karena apa ? Banyak pengacara dan penasehat hukum di era sekarang kaya raya, memiliki rumah mewah, mobil lebih dari tiga buah, villa dan apartemen bertebaran di luar kota, harta melimpah dan cincin emas melingkar di sepuluh jari tangannya dan….istri sah dan istri siri tersembunyi dimana-mana.

Apakah hal tersebut tidak boleh ?

Boleh saja, asalkan semuanya diperoleh secara halal. Namun, belakangan banyak penegak hukum dan bahkan pengacara ikut dicokok KPK karena menerima ‘sesuatu’ yang tidak halal alias tidak dibenarkan di dunia hukum/keadilan.

Dunia hukum dan peradilan kita belakangan serba terbalik : yang salah jadi benar dan yang benar bisa salah. Informasi simulakrum berseliweran di depan mata kita membuat pedih masyarakat kecil tak berdosa.

Ada istilah ‘tebang pilih’ dimana orang kecil kalau berbuat kesalahan sepele – mencuri ayam misalnya – dipastikan terkena hukuman puluhan tahun. Orang kaya dan koruptor ? Paling banter terkena hukuman beberapa bulan saja. Masuk hotel prodeo pun, hanya pura-pura : pagi tidur di tahanan tapi malam berkeliaran bebas di luar penjara.

Bisa jadi ini ada ‘permainan jahat’ para pengacara selama persidangan ?

Tontonlah film bertajuk ‘The Lawyers Pokrol Bambu’ yang disutradarai Azar Fanny. Dalam film produksi Erwin Kallo Film yang berdurasi 90 menit ini, seluk-beluk dan lika-liku dunia pengacara divisualisasikan secara gamblang di layar putih.

Memang suap menyuap seperti digambarkan pada film-film India (polisi menerima pungli), sineas kita masih belum berani. Ada sedikit yang nekad di era Soeharto/Orde Baru zaman dulu, gunting sensor bakal membabat habis adegan itu.

Makanya, kita harus lihai memelintir dan menyelipkan simbol-simbol satire dan bumbu humor kedalam substansi film tersebut.

Suparman Simanjuntak, SH alias akrab dipanggil ‘Supermen’ (Dicky Chandra) adalah pengacara pokrol bambu yang kantornya terletak di sebuah gang sempit, hanya mengandalkan bicara untuk memenangkan kasus. Rekan kerjanya yang berjumlah empat orang yang sibuk mencari klien yang berperkara selalu apes, ada yang dibayar hanya dengan hasil bumi atau duit recehan. Belakangan, pengacara pokrol bambu ini sepi order dan nyaris tutup. Hutang pada warung milik si Engkoh bertumpuk dan selalu tidak bisa dilunasi.

Menurut istilah hukum, para pengacara ‘garis lurus’ (atau ‘garis lucu’?) ini yang didambakan oleh masyarakat kecil dan kelas bawah disebut ‘pro bono’ alias suatu pelayanan hukum untuk kepentingan umum dan pihak yang tidak mampu, tanpa dipungut biaya.

Namun, di sisi lain, ada pengacara bernama RM Wicaksono (Roy Marten) yang elite dan hidup sok glamour. Bertemu klien, harus di hotel berbintang.

Uniknya, pengacara pokrol bambu dan pengacara elite ini bersua di pengadilan. Bukan kasus korupsi atau kasus kakap, tapi kasus perceraian pasutri Johan Nabawi (Jerio Jeffry) dan isterinya, Nina Tanjung (Kartika Berliana).

Gugatan cerai ini dilayangkan oleh Nina Tanjung terhadap Johan Nabawi yang mengidap sadomasochist sebelum berhubungan di tempat tidur. Namun, Johan Nabawi justru ogah bercerai dan menginginkan rumah tangganya utuh kembali. Terlebih lagi, mereka berdua telah dikaruniai seorang puteri bernama Nayla.

Di persidangan yang dipimpin Hakim Ketua (Rina Hassim), Johan Nabawi mengandalkan ‘jasa’ pengacara RM Wicaksono. Sebaliknya, Nina Tanjung mempercayakan perkaranya kepada Supermen.

Masing-masing kubu bersilat lidah, adu argumentasi dan mengeluarkan jurus yang dianggap mematikan : saksi dan bukti-bukti.

Di persidangan terakhir, ternyata Supermen dinyatakan menang dan RM Wicaksono kalah.

Johan Nabawi kecewa dan pedih. Di sebuah toilet hotel yang sepi, Johan Nabawi membunuh RM Wicaksono dengan jalan menjerat lehernya dengan scarf yang dipakainya.

Apakah pengacara Supermen yang menang menerima uang berlimpah dari klien Nina Tanjung ? Tidak juga. Supermen cuma dibayar murah, hampir sepersepuluhnya dari honor yang disepakati bersama. Kok Supermen mau ? Di ending, Supermen menikahi Nina Tanjung dengan seperangkat sisa honor yang belum dibayarkan. Alhasil, Supermen sebagai ‘pengacara’ memang benar-benar ‘pengangguran banyak acara (pengacara)’?

Lucu, getir sekaligus penuh satir. Kita bisa menyimpulkan bahwa dunia pengadilan kita sudah tidak bermoral lagi, penuh intrik dan tipu daya.

Sutradara Azar Fanny cukup berhasil menuangkan kegetiran dan kelucuan yang terjadi di dunia pengacara. Sayang, plot cerita terlalu linear. Nyaris tak ada konflik yang berliku dan menukik, sebagamana biasa terjadi di dunia pengadilan. Azar Fanny juga bertindak sebagai penulis skenario.

Tembakan-tembakan penata kamera Hendro Tolatole diakui juga kurang ‘berani’ mencuatkan celah dan ruang di pengadilan. Seharusnya silat lidah dan adu argumentasi di pengadilan bisa divisualisasikan bergantian antara dua pengacara dan pendukung penggugat dan tergugat.

Namun, sebagai suatu terobosan dan keberanian baru, film ‘The Lawyers Pokrol Bambu’ bolehlah diketengahkan dan masuk dalam daftar film Nasional yang patut ditonton. Untunglah, pemain senior yaitu Roy
Marten, Dicky Chandra bisa dijual di sini. (Ipik Tanoyo)

Puasa, Paula Verhoeven Turuti Nasihat Dokter Kandungan

JAYAKARTA NEWS – Istri  aktor Baim Wong, Paula Verhoeven (31 tahun) kini tengah  hamil satu bulan, setelah mengalami keguguran sebelumnya.

“Puasa Ramadan di hari pertama (6/5/2019) lancer dan saya enggak mengalami apa-apa. Baru puasa di hari kedua, ketiga dan seterusnya, saya mengalami pusing-pusing dan mual. Mas Baim sarankan, saya ke dokter kandungan dan saya dianjurkan enggak usah puasa. Toh di hukum Islam, bagi wanita yang sedang hamil dan menyusui anaknya, tidak diwajibkan berpuasa,” kata Paula di sela-sela acara peragaan busana merayakan ultah ke I Supermodels Project, di La Moda Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta, Minggu (12/5).

Kini, setelah minum obat, Paula lebih tenang dan jalan kaki pun, tidak perlu terburu-buru. “Kalau perlu, saya hanya mengenakan sepatu kets, tidak boleh high heels (sepatu hak tinggi),”  ujar Paula yang dalam dirinya mengalir darah Belanda-Tionghoa dari ayah (Eddy Verhoeven) dan Jawa Semarang (Herlina).

Meski demikian, Paula tetap bangun pagi dan menamani Baim Wong sahur. “Mas Baim paling suka makanan yang panas dan mengurangi minuman dingin. Untungnya, dia juga enggak merokok dan minum kopi,” ungkap Paula yang pernah membintangi film ‘Supernova’.

Alumnus London School of Public Relation jurusan Kehumasan tahun 2005-2009 ini sebenarnya ingin berpuasa pol tahun ini. Tapi mengingat dirinya sedang hamil, dia lebih memerhatikan kesehatan jabang bayinya.   

“Nanti kalau anak saya sudah lahir dan sudah besar, kalau dibolehkan, saya akan berpuasa lagi. Juga, saya akan mengajarkan salat dan membaca kitab suci Al Quran kepada anak saya,” papar Paula yang rajin beribadah lima waktu (ketika menanti acara, Paula aktif menjalankan salat ashar dan salat magrib di lantai atas Plaza Indonesia).

    Anda rajin beribadah, siapa yang mengajarkan Anda ? “Sejak kecil, saya sudah salat lima waktu sama ibu saya di Semarang. Bahkan, ayah memanggil guru mengaji ke rumah. Setelah saya menikah dan hengkang ke Jakarta, saya tentunya salat sama suami saya, mas Baim Wong. Belakangan, mas Baim Wong juga menyarankan agar saya memakai jilbab. Tapi saya belum siap,” imbuhnya.

Mengingat namanya yang beraroma Belanda, banyak yang mengira (termasuk penulis), Paula Verhoeven itu non-muslim. Bahkan, suaminya, Baim Wong sejak awal akan dikenalkan lewat ‘comblang’ Teuku Zacky, menyangka Paula itu bukan seorang muslimah.

Maklum, kala itu Baim Wong usianya sudah 37 tahun dan belum menikah (malah Baim Wong dijuluki Raja Jomblo). Dengan Marshanda, hubungannya putus dan Marshanda menikah dengan pria lain. Ini kok Teuku Zacky mau mengenalkan dirinya dengan wanita non-muslim ?

Namun, sahabat-sahabatnya seperti Zaskia Sungkar dan Raditya Dika memberi semangat dan kepercayaan bahwa Paula Verhoeven itu beragama Islam. Kalau tidak percaya, Baim Wong boleh buka Google.

“Lalu, saya googlingan. Ternyata, dugaan saya salah dan omongan teman-teman saya benar. Ada foto Paula Verhoeven sedang pakai jilbab dan menjalankan ibadah umroh ke tanah suci bersama teman-temannya. Yahhh…. menyesal deh saya… kemudian saya mengadakan ‘pdkt’ lebih atraktif ke Paula. Yang lucu, Paula juga cari informasi lewat Google. Dikatakan, Baim Wong itu gonta ganti pacar dan playboy, walau orangnya baik. Pokoknya, peristiwa saling cek dan ricek ini akhirnya  gol. Persahabatan terjadi dan Paula dilamar, dan puncaknya, Baim Wong menikahi Paula Verhoeven tahun 2018.

Paula yang tingginya 1.82 meter ini, mengukir prestasi melalui jenjang paling bawah : juara II Abang None Jakarta Barat (2006), juara harapan 3 Abang None Jakarta tingkat Nasional (2006), juara I Voice of Asia (2012), berkarir menjadi peragawati di Singapura (2014) dan dikontrak agency di Milan-Italia selama tiga bulan dan terjun ke dunia film.

Mantan model Elite Look Model sejak usia 16 tahun ini terakhir membuka usaha Sekolah Model Supermodels Project bersama Kelly Tandiono, Dominique Diyose, dan Laura Mulyadi tahun 2018 di Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Puluhan anak didiknya kini sudah banyak yang menjadi model terkenal dan mengisi acara-acara peragaan busana di Jakarta dan kota lain. (pik)