‘Dua Garis Biru’, Ketika Pendidikan Seks Menjemput Kaum Milenial

 ‘Dua Garis Biru’,  Ketika Pendidikan Seks Menjemput Kaum Milenial

JAYAKARTANEWS – Ihwal keterbukaan informasi tentang seks sering dianggap wiilayah tabu. Pamali dan haram dibicarakan, demikian banyak orang tua menasihati anak-anaknya. Padahal, keterbukaan adalah upaya preventif yang penting.

Era 66-67, tatkala Orde Baru baru menancapkan akarnya di bidang politik dan kebudayaan, pelajar-pelajar sekolah SMP dan SMA yang berambut gondrong dilarang masuk kelas. Kalau nekad, tim gunting rambut siap menggunting rambut gondrong mereka. Ketahuan membawa dan membaca buku stensilan dan foto porno langsung kena tegur dan kena sanksi.

Membicarakan dan mendiskusikan masalah seks dan anatomi tubuh cowok dan cewek, noway. Beberapa kali akan digelar diskusi tentang kelahiran bayi dan masalah seks, acaranya dihentikan dan panitianya – yang notabene anak-anak sekolah – dilaporkan ke polisi.

Dulu kala, sebuah SMA Katolik yang semua siswanya cewek, ketahuan memutar BF alias Blue Film, langsung Kepala Sekolahnya ditegur dan diganti dengan guru lain. Padahal, saat itu, film ‘Helga’ yang membahas secara detil ihwal persenggamaan antarmanusia dan kelahiran bayi, lolos sensor. Lalu, dimana salahnya ?

Secercah sinar keterbukaan mulai menguak sedikit demi sedikit. Pada tahun 70-an, mendadk sontak ada produser kita yang nekad membuat film yang diangkat dari novel laris karya wartawan Zainal Abdi bertajuk ‘Bernafas Dalam Lumpur’.

Film yang disutradarai Turino Junaidy ini diperankan oleh Suzanna dan Rachmat Kartolo. Ada salah satu adegan Rachmat Kartolo yang jadi tukang becak entah kemasukan setan apa, tiba-tiba nyaris memerkosa penumpang Suzanna didalam becak yang kala itu jalanan sedang sepi. Celana dalam Suzanna dipelorotkan oleh si tukang becak dan adegan ini lolos…sensor.

Di bioskop Soboharsono di Jogjakarta, terpajang baliho gede Suzanna sedang memelorotkan celana dalamnya, dan astagafirullah, celana dalamnya….beneran masih baru yang dibeli di toko pakaian. Promosi lihai atau promosi keblinger demi menggaet banyak penonton ?

Anehnya atau uniknya, kelarisan Bernafas Dalam Lumpur menjadi momentum kebangkitan perfilman nasional yang telah lama tidak berproduksi. Kala itu, ada pengamat film menulis bahwa film ‘Bernafas Dalam Lumpu’ adalah film esek-esek nasional pertama yang laris di Indonesia.

Dipenuhi adegan perkosaan, pelacuran, adegan ranjang hingga kata-kata kotor berhamburan dalam film ini. Seketika itu juga, banyak produser dan sutradara kita membuat film dan penonton film nasional pun mulai melirik mendatangi bioskop.

Era kuantitas produksi film nasional meningkat drastis, namun kualitasnya bisa dihitung dengan jari. Hampir separuh judul film nasional bergenre drama rumah tangga yang dipenuhi adegan ranjang. Film remaja pun dipenuhi adegan ciuman dan ada yang nekad meningkat ke adegan seks terlarang.

Beberapa judul film kita kala itu lolos sensor dan diakui oleh para pengamat film, sangat seram dan vulgar. Baca saja : Yang Jatuh di Kaki Lelaki, Ranjang Bergoyang,

Ranjang Siang Ranjang Malam, Surga Dunia di Pintu Neraka (Tandes) dan seabreg judul lain yang bikin bulu roma bergidig. Sebuah catatan penting, film ‘Yang Jatuh di Kaki Lelaki’ yang lolos sensor di Indonesia justru dilarang main di Singapura.

Lalu, apakah pendidikan seks masih penting di era digital di zaman now saat ini ?

“Masih, khususnya pernikahan dini. Sebagai ibu dari dua anak, saya pikir masih perlu dibicarakan secara terarah dan step by step ihwal kondom dan alat bantu seks yang marak beredar sekarang. Agar generasi muda di masa depan enggak tersesat jalannya,” ujar Gina S. Noer, sutradara dan penulis skenario film ‘Dua Garis Biru’ yang lolos untuk 17 tahun ke atas.

Ditulis skenarionya sejak tahun 2010, Gina S. Noer mulai ragu terhadap keinginannya menjadi sutradara untuk pertama kalinya, Namun, produser dari PT Kharisma Starvision Plus, Ir. Chand Parwez Servia memberikan dorongan dan semangat agar bisa diselesaikan. Dan akhirnya, tahun 2019, film ‘Dua Garis Biru’ selesai syuting dan lolos sensor.

Dikatakannya, film perdananya ini adalah desakan kerasnya untuk para pihak yang bertanggung jawab agar berupaya lebih serius mengurangi jumlah kesalahan fatal seperti kehamilan dini pada remaja di Indonesia. Kesalahan yang bisa berujung pada kematian ibu dan atau bayinya, menambah jumlah angka pelajar putus sekolah, lingkaran kemiskinan, bahkan kekerasan dalam rumah tangga karena ketidaksiapan pernikahan dini.

Cinta kita sebagai orang tua seharusnya menjadi modal utama untuk membuka ruang diskusi tentang kesalahan apa yang anak mungkin lakukan nanti. Rasa ingin tahu anak seharusnya juga menjadi modal utama untuk masyarakat yang lebih sehat dan bahagia. Bukan malah sesuatu yang tabu dibicarakan.

Dalam film ‘Dua Garis Biru’ bukan hanya kisah Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Zara JKT48) yang remaja baik-baik berpacaran sejak SMA. Juga, keluarga keduanya termasuk baik-baik. Namun, mereka melakukan hubungan terlarang sebelum nikah sah. Konflik pun mulai mencuat, bagaimana sekolahnya, dan jika Zara sudah melahirkan anak, dimana Bima bekerja dan mendapatkan uang untuk membeli susu ?

Bangsa ini perlu makin mendewasakan diri guna membicarakan fakta sulit seperti pendidikan seks secara lebih baik dan terarah kepada anak dan kalangan remaja. Semakin dini kita menghargai mereka sebagai manusia utuh, maka semakin lama proses kita melatih mereka membiasakan berpikir panjang, dan menimbang resiko secara menyeluruh sebelum berbuat.

Menonton film ‘Dua Garis Biru’, bukannya menutup-nutupi masalah seks, tapi membuka ruang diskusi agar dipahami bahwa perbuatan terlarang ketika dilanggar akan berdampak sangat buruk. Tapi ketika semuanya sudah terjadi, disadari setelah terlambat dan dalam proses saling memaafkan satu sama lain,dalam perjalanannya untuk menjadi manusia lebih baik lagi.

Alhasil, bukan hanya soal seks. Tapi dalam hal lainnya.

Karena memahami hal-hal mendasar seperti seks, sebenarnya adalah bagian dari perjalanan mengenali dan menghargai diri sendiri sebagai manusia. Karena pada akhirnya kita tak bisa terus melindungi anak kita selamanya, apalagi berharap kalau anak tak akan pernah berbuat salah.

Sebab, sejak kita memilih untuk berkeluarga berarti kita memilih berproses dan tumbuh lebih baik dengan segala kesalahannya, dengan segala resikonya.

Selamat datang film bertema pendidikan seks ! (Ipik Tanoyo)

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *