Film Timur, tentang Persaudaraan dan Kisah Nyata Operasi Mapenduma di Papua

JAYAKARTA NEWS— ‘Timur’ adalah debut aktor laga Iko Uwais sebagai sutradara.

Iko yang dikenal di film The Raid dan kerap membintangi film di Hollywood kini balik ke Indonesia guna membangkitkan perfilman Nasional.

Terinspirasi kisah nyata Operasi Mapenduma tahun 1996 di Jayawijaya, Papua tentang pembebasan 26 sandera peneliti asing oleh kelompok teroris yang membelot dari TNI AD.

Dipimpin prajurit Kopassus bernama Timur langsung mendapat tugas dari Komandan Prabowo Subianto guna membebaskan sandera.

“Jujur. Saya menolak dikatakan ini proyek pencitraan. Ide ini tercetus tiga tahun silam sebelum pak Prabowo jadi Presiden,” kata Iko Uwais berendah hati kepada penulis usai galprem Timur di XXI  Epicentrum baru-baru ini yang dihadiri Wagub Jakarta, Rano Karno.

Mengangkat citra TNI AD yang bertugas sebagai pengaman negara, film ini berkisah tentang persaudaraan kakak dan adik serta nilai juang bagi seorang prajurit.

Ditegaskan, Iko tak minta apa-apa kepada Prabowo.

“Ini murni proyek saya dari Uwais Pictures bekerjasama dengan Telkomsel, My Telkomsel dan BNI,” imbuh iko didampingi isterinya, Audy Item Uwais yang melantunkan OST ‘Nyanyian Timur’ di film ini.

Jabal Nur sebagai Prabowo Subianto, Komandan Kopassus (foto uwp)

Naskah ditulis Titien Wattimena dan Samuel Rustandi, pemeran Prabowo Subianto adalah Jabal Nur.

“Katanya wajah saya mirip pak Prabowo. Awalnya saya kaget ditunjuk bang Iko jadi pak Prabowo. Tapi ini tantangan buat saya,” ujar Jabal Nur.

Iko menambahkan, tak mungkin ia minta pak Prabowo ikut main di Timur. Ini bukan film doku drama.

Ceritanya fiktif tapi berlatar Operasi Mapenduma di Papua.

“Saya menjauhkan  narasi dari politik. Film ini lebih menonjolkan nilai kemanusiaan,” ungkap Iko Uwais.

Ceritanya ihwal dua anak bersaudara terpisah menjalani kehidupan oleh keadaan berbeda. Ketika dewasa dan bertemu di hutan, saling bermusuhan.

Yang satu jadi prajurit Kopassus dan saudaranya jadi pemberontak dan teroris.

Jimmy Kobagou yang berperan sebagai Sila menambahkan, Timur murni ber alur drama. Tentang sisi baik dan dampak buruk dari sebuah peperangan antara pasukan Kopassus TNI AD menyerbu pasukan teroris yang ingin mendirikan OPM dan menyandera peneliti asing.

Tentu, diselipkan kisah cinta dan hubungan kekeluargaan diantara para pelakunya.

“Saya dan kawan-kawan digembleng olah fisik dan menggunakan senjata oleh prajurit TNI selama seminggu. Syuting di hutan di kawasan Bandung. Bang Iko sangat tertib dan disiplin. Usai syuting pukul 2 pagi terus break istirahat. Maklum, cuaca hujan,” cerita Jimmy Kobagou.

Menggunakan teknologi Dolbi Atmos yang moderen sehingga pukulan, teriakan dan perkelahian lebih hidup dan wajar.

Film Timur yang di galprem mendapat apresiasi dari produser dan insan film asing akan dirilis di bioskop mulai 18 Desember 2025.

Selain Iko sebagai pemeran utama, Timur juga dimeriahkan sederet pelakon terkenal yaitu Yasamin Jasem, Yusuf Mahardika, Fanny Ghasani, Kiki Narendra, Andre Madhadi, Aufa Assegaf, Stefan William, Adhin Abdul Hakim, Billy Tanasale, Beyon Destiano, Jabal Nur, Jimmy Kobagou, Arnold Kobagou, Amara Angelica, Macho Hungan dan pemeran lain yang menjadi cameo.

Penata musik ditangani Aghi Narottama.

Uwais Team khusus menangani koreografi dan adegan laga.

Produser Yentonius Jenniel Ho dan Nagita Slavina di produser eksekutif. (pik)

Ozora: Perjuangan Ayah Lawan Ketimpangan Hukum

JAYAKARTA NEWS— Sutradara Anggy Umbara dan Bounty Umbara membuat film yang didasarkan pada kisah nyata. Berjudul ‘Ozora : Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel’ yang akan beredar 4 Desember 2025 ini berkisah ihwal ‘bullying’ dan ‘power abuse’ (penyalahgunaan kekuasaan) dan perjuangan seorang ayah melawan ketimpangan hukum.

“Film ini menyoroti realita pahit yang dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujar Anggy Umbara yang sukses memfilmkan kisah nyata Vina dan Eky yang jadi korban pembunuhan di Cirebon dalam film ‘Sebelum 7 Hari’. 

Ozora penuh nuansa emosional. Seorang ayah bernama Jonathan Latumahina (anggota Banser NU) yang ‘dipaksa’ menghadapi ketidakadilan hukum yang mengguncang publik.

Ini membuka luka sosial yang lama tersimpan. Tentang sistem pengadilan yang rapuh dan merugikan masyarakat ketika anaknya yang mualaf bernama David Latumahina menjadi korban aniaya anak pejabat tinggi.

David dibawa ke Rumah Sakit dalam kondisi koma dan kasus penganiayaan ini cepat tersebar ke masyarakat.

Anggota Banser dan ormas Nahdlatul Ulama (NU) bergerak dan menanyakan ke kantor polisi karena si pelakunya bernama Dennis bebas bermain gitar dan bercanda dilindungi polisi berkat kedudukan ayahnya di kantor Kementerian.

‘Ini simbol ketimpangan Hukum’ bunyi poster dan spanduk yang dibentangkan ratusan anggota Banser NU.

Seluruh pimpinan dan kiai NU menggelar doa kesembuhan untuk David.

Bahkan, doa lintas agama (Protestan, Katolik, Hindu Bali, Budha dan Khonghucu) ikut berperan serta mendoakan kesembuhan David yang tak bersalah.

Pihak penguasa dan petinggi Kementerian berusaha segala cara ke Jonathan untuk jalan damai. Namun, sogokan, trik dan suapan ini tak berhasil.

“Pengadilan jalan satu-satunya !,” teriak Jonathan yang percaya masih ada pengacara jujur di Republik ini. Dan dinamika konflik serta perdebatan bisa ditemui di persidangan.

Pemeran Jonathan yaitu Chicco Perikho berakting intens dan apik.

“Jujur, saya benar-benar emosional dan meneteskan air mata yang bukan tangis buaya. Saya berakting sepenuh hati dan wajar,” aku Chicco Jerikho kepada penulis usai galprem Ozora di XXI Epicentrum, Jakarta.

“Saya tak membesarkan anak menjadi bajingan,” kata Jonathan bersaksi di hadapan Hakim Ketua.

Lain lagi pengalaman Muzakki Ramdhan, aktor remaja berbakat yang dipercaya menjadi David Latumahina.

Di satu adegan mimpi, David bersua dengan Gus Dur (Ketum Tanfiziah NU) yang telah lama berpulang, di jembatan Siratal Mustaqim.

“Ananda David. Kamu belum saatnya berada di sini. Kamu masih banyak tugas. Pulanglah ke duniamu,” pinta Gus Dur yang wajahnya sengaja dikaburkan.

Adegan fiktif dan hanya terjadi di alam mimpi ini sangat artistik dan menyentuh kalbu.

Peran antagonis Rafael Alun  mampu dimainkan Mathias Muchus meski dia menjadi sasaran makian penonton.

Rafael Alun di ending ditangkap aparat karena kasus korupsi dan dijatuhi hukuman 14 tahun penjara.

Sedangkan anaknya yang melakukan aniaya, Mario Dandy divonis 12 tahun penjara.

Ozora juga bakal dirilis di negara jiran Asean yaitu Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam tanggal 26 Januari 2026.

Pemeran lain di film ini juga bermain cemerlang seperti Tika Brivani, Donny Damara, Mathias Muchus, Hanna Saraswati, Sinyo Riza, Erdin Werdrayana, Jenny Zhang, Rizky Hanggono, Martin Anugrah, Annisa Kaila dan masih banyak lagi. (ipik)

Nia: Angkat Budaya Minang

JAYAKARTA NEWS— Kisah nyata seorang pelajar wanita bernama Nia Kurnia Sari (14 tahun) yang dirudapaksa (diperkosa) dan dibunuh secara keji oleh residivis menjadi viral dan menggegerkan masyarakat.

September 2024, masyarakat Kayu Tanam, Padang Pariaman, Sumatera Barat marah atas perbuatan Andri, pengangguran dan pecandu narkoba yang membekap dan membunuh Nia, penjual gorengan kala hujan lebat di tengah hutan yang sunyi.

Tidak itu saja. Pria bejat itu lalu merudapaksa Nia dan jasadnya dikubur di pinggir sungai irigasi.

Tiga hari setelah kejadian, jasad Nia ditemukan.

Tak lama kemudian, pelakunya Andri berhasil ditangkap di sebuah rumah tua.

Mau dihakimi massa, tapi keburu diamankan polisi dan ditahan. Berdasar bukti otentik dan pengakuannya, Andri menjadi tersangka tunggal.

‘Nia’ tentang rudapaksa keji (foto smaradana)

Menanti vonis jaksa di pengadilan, Andri diancam hukuman mati.

Peristiwa pilu dan getir ini difilmkan oleh sutradara Aditya Gumay dan Ronny Mepet berjudul ‘Nia’ yang akan beredar di bioskop 4 Desember 2025.

Kala digelar gala premier dan press screening di Epicentrum dan Plaza Senayan baru-baru ini sebanyak 8 studio, penonton full dan meneteskan air mata haru.

“Film ini mengangkat budaya Minang. Para diaspora orang Minang di rantau berjejal memenuhi bioskop. Kita harus dukung karya orang Minang ini,” kata Andre Rosiade, Ketua Ikatan Keluarga Minang (IKM) usai nonton.

Di bioskop di Padang, juga penonton membludak, tersentuh dan banjir air mata ketika dipreviewkan khusus.

Bahkan, Menbud Fadli Zon ikut main sebagai cameo dan Gubernur Sumbar juga terlibat sebagai special guest.

Sebagian penjualan tiket akan didonasikan untuk membangun Rumah Tahfizd Qur’an dan pesantren serta kegiatan sosial lain.

Syuting di Sumbar dan Bogor, produksi 786 Production dan PT Smaradana Pro ini benar-benar penuh kejadian unik.

“Kami tak memvisualkan adegan perkosaan guna menghormati ibu korban,” papar Aditya Gumay, pimpinan Sanggar Ananda yang dulu dikenal dengan Lenong Bocah.

Nia adalah gadis sholehah dan tulang punggung keluarga bagi ibu n saudaranya, kakak dan adiknya. Pacarnya yang sedang studi di mancanegara terkena penyakit jantung namun hubungan per telepon terus terjalin.

Diperankan oleh pendatang baru Shakira Humaira Ramadani yang masih berusia 18 tahun (di film berumur 14 tahun). Gesture dan pembawaannya menarik.

“Haruskah aku mati agar ayahku kembali” demikian teriak Nia dalam satu adegan mengharukan. Maklum, orang tuanya sudah lama bercerai.

Pemeran lain adalah Neno Warisman, Ida Leman, Qya Ditra, Zainal Chaniago, Adie Danoe, Aisyah Zahara, Vivi Misroyani (juga bertindak sebagai produser eksekutif), DR Fadli Zon, Helsi Herlinda dan sederet aktor lokal dan Sumbar yang bermain cemerlang dan elok.

Duka nestapa dan kekerasan terhadap perempuan pas divisualkan di film ini.

Diproduseri Ruben Onsu dan Nicky RW, ‘Nia’ dari awal sampai ending benar-benar menggiring penonton mengharu biru dan tersentuh.

Satu hal pasti. Aditya Gumay dan Ronny Mepet ‘naik kelas’ dan membawa rekam jejak menjanjikan. (pik)

Agak Laen 2, Menyala Pantiku

JAYAKARTA NEWS— Sukses Agak Laen yang meraih 9 juta lebih penonton, Imajinari kembali membuat sekuel film berjudul ‘Agak Laen 2 – Menyala Pantiku’ yang akan dirilis 27 November 2025.

Masih disutradarai Muhadkly Acho, Agak Laen 2 adalah perpaduan komedi yang menggelitik dan sarat pesan moral.

“Dulu Kwartet Agak Laen bercerita di rumah hantu, kini mereka menyusup ke panti jompo,” ujar Muhadkly Acho.

Mengangkat cerita tentang empat detektif yang gagal menjalankan misi dan tugas mencari buronan kasus pembunuhan anak Walikota yang bersembunyi di panti jompo.

Bene Dion, Rajagukguk, Oki Rengga, Indra Jegel dan Boris Bokir hanya punya kesempatan untuk membuktikan kemampuannya. Mereka menyamar menjadi perawat penghuni panti.
Berbagai kejadian lucu dan misteri yang tegang mencuat di panti yang dihuni orang lansia.

“Daya tarik utamanya komedi yang disisipi pesan moral. Saya jamin penonton akan tertawa terbahak-bahak,” jelas produser Ernest Prakasa diiyakan Dipa Andika.

Yang unik, Muhadkly Acho menambahkan di Agak Laen 2 ini ada ‘golden scene’.
Yaitu melibatkan orang banyak dan syuting juga banyak serta diulang-ulang agar dapat ‘feel’ yang pas.

“Ini adegan rahasia yang tak diberitahukan ke pemeran. Sutradara hanya berucap adegan menantang secara teknis dan waktu. Syuting take usai makan malam sampai usai pukul tiga pagi,” ungkap Bene Dion Rajagukguk.

Memang, adegan ini paling lama digarap. Tanpa reading. “Natural saja,” imbuh Bene Dion.
Adegan ‘golden scene’ seperti apa, Muhadkly tak mau spoiler. “Pokoknya, lebih intens dan penuh kejutan,” tegas Muhadkly.

Tawa nan menggelitik yang sarat pesan moral yang diharapkan sutradara dan produser.
Agak Laen 2 selain diperkuat Kwartet Bene Dion, Oki, Indra dan Boris, juga disesaki sederet artis dan komedian yaitu Tissa Biani, Ariyo Wahab, Tika Panggabean, Jarwo Kwat, Jajang C Noer, Chew Kin Wah (aktor Malaysia), Eggy Fedli, Ayushita, Surya Saputra, Mario Caesar dan Gita Bhebhita.

Yuk kita tertawa karena haha hihi tidak dilarang. **

Yura Yunita Luncurkan Single ‘Mau Jadi Apa’

JAYAKARTA NEWS—  Biduanita berdarah Sunda, Yunita Rahman alias Yura Yunita meluncurkan single berjudul ‘Mau Jadi Apa’. Bernuansa keroncong dan pop ringan, lagu ini musiknya ditangani oleh Donne Maula, suami Yura.

“Iramanya hangat dan sarat pesan emosional. Tentang makna perjalanan jati diri dan berani menghadapi ketidakpastian dalam kehidupan,” ujar Yura optimis.

Dikatakannya, jika masih anak selalu nanya ke diri sendiri. Jika dewasa mau jadi apa ? . Dulu kita nanyain, kini kita lakuin,” ungkapnya.

Yura Yunita dan suami, Donne Maula

Misi lagu ini berpesan mengajak pendengar agar tak terburu-buru  menentukan arah kehidupan dan membiarkan proses hidup ini berjalan wajar.

Dalam video klip dan platform musiknya, Yura tarik suara berlatar corak budaya Indonesia, berbusana kebaya dan menari tradisi.

Yura belakangan aktif unjuk diri di panggung musik dan festival musik bergengsi. Bahkan, Yura juga tampil di pergelaran jazz seperti Jak Jazz dan Java Jazz.

Selama berkarir di industri musik, Yura sudah merilis beberapa single yaitu ‘Tutur Batin’, ‘Cinta dan Rahasia’, ‘Tenang’ dan ‘Dunia Tipu Tipu’.

Bersama suaminya, Donne Maula, Yura Yunita tampil berkolaborasi di video klip musik bertajuk ‘Buktikan’ yang bernada riang. Kini, dengan single ‘Mau Jadi Apa’, Yura membuktikan masih eksis dan menyodorkan frasa ‘mau jadi apa’ ke pendengarnya.***ipik

Riba: Horor yang Menghancurkan Keharmonisan Keluarga

JAYAKARTA NEWS— Sutradara Adhe Dharmastriya mengganti judul film karyanya dari ‘Getih Anak’ menjadi ‘Riba’ yang siap dirilis di bioskop mulai 4 Desember 2025.

“Ini langkah strategis Verona Films yang memfasilitasi film tersebut. Judul baru lebih menyentuh masalah sosial yang marak terjadi di hubungan keluarga di Indonesia. Kesannya enggak eksplisit lagi,” ujar Adhe dalam peluncuran trailer dan poster ‘Riba’ di XXI Senayan Park, Jakarta, baru-baru ini.

Dikatakannya, film ini bukan memvisualisasikan teror hantu dan jump scare. Tapi ada pesan moral yang mengangkat tema tentang praktik ekknomi yang dilarang agama.

Riba adalah tambahan/bunga pinjaman yang diambil dari harta pokok tanpa ada transaksi yang sah menurut syariah.

“Di Islam, hukumnya haram. Ini bentuk eksploitasi dan ketakadilan dan dapat memperlebar kesenjangan ekonomi,” papar Adhe.

Sependapat produser Titin Suryani.

“Enggak seperti genre horor lain. Di sini tampil menakutkan dari rasa bersalah setelah ambil keputusan fatal,” ungkap Titin Suryani.

Kisahnya seorang pria bernama Sugi yang hidup sederhana dengan isteri dan dua anak serta ibu mertua.

Sutradara Adhe Dharmastriya dan pemeran Riba

Kehidupan mereka berubah drastis dan hancur ketika Sugi terjerat hutang pada juragan yang bengis.

Mendapat tekanan dan ancaman dari juragan dan Sugi terjebak tawaran pesugihan ‘getih anak’ (darah anak) dari sahabat lamanya, Muji.

Getih anak adalah ritual darah yang menjanjikan kekayaan namun dengan konsekuensi setiap tetes darah akan membawa kutukan nyata.

Naskah ditulis Titien Wattimena, film ini mengingatkan penonton bahwa tindakan yang diambil di dunia tak hanya akan memengaruhi diri sendiri tapi juga mengancam nyawa keluarganya.

Penonton tak merasakan horor tak hanya datang dari sosok makhluk gaib tapi juga dari dosa dan karma yang tak terhindarkan.

Riba dimeriahkan sederet pemeran terkenal yaitu Ibrahim Risyad, Wafda Saifan, Jajang C Noer, Fanny Ghassani, Kevin Danu dan Emilat Morshedy. Khusus Fanny Ghassani yang tampil setelah 14 tahun vakum setelah unjuk diri di sinetron Cinta Fitri. (ipik)

Rhoma Irama Rilis Single Terbaru “Senyum”

JAYAKARTA NEWS – Sang Raja Dangdut, H. Rhoma Irama, kembali hadir dengan karya terbarunya bertajuk “Senyum” . Di usianya yang ke-78 tahun, Rhoma Irama membuktikan bahwa semangat berkarya dan berdakwah melalui musik tak pernah padam. Lagu terbaru ini Launching pada Jumat, 10 Oktober 2025 melalui Proaktif Musik sebagai mitra distribusi resmi.

Lagu “Senyum” diciptakan dan diaransemen langsung oleh Rhoma Irama. Masih setia dengan warna dangdut klasik khas sang maestro, lagu ini menghadirkan nuansa lembut dan pesan moral yang dalam. Seperti karya-karya sebelumnya, Rhoma mengemas nilai dakwah dan pesan sosial melalui lirik yang sederhana namun sarat makna.

“Sekarang ini banyak orang ribut, saling bully, caci maki, wajah garang. Dari situ saya terinspirasi untuk mengajak orang agar tersenyum,” ujar Rhoma Irama.

Menurut Rhoma, lagu “Senyum” lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi sosial saat ini yang penuh dengan ujaran kebencian dan permusuhan di media sosial maupun kehidupan sehari-hari. Melalui lagu ini, ia ingin mengingatkan bahwa senyuman adalah bentuk sedekah yang paling mudah dilakukan.

“Misi dakwah dalam lagu ini berasal dari hadist Rasulullah, bahwa tersenyum itu sedekah. Sedekah bukan hanya dengan harta, tapi juga dengan perbuatan baik — menolong orang, menyingkirkan barang bahaya dari jalan, bahkan tersenyum pun adalah sedekah,” ungkap Rhoma.

Menariknya, proses kreatif lagu ini dimulai dari penulisan lirik terlebih dahulu, baru kemudian dibuat notasinya. Hal ini, menurut Rhoma, menjadi kunci agar pesan dalam lagu benar-benar tersampaikan dengan kuat.

Jika didengar sepintas, lirik “Senyum” memiliki kemiripan dengan lagu “Sedekah” yang pernah dirilis Rhoma pada era 1990-an. Namun, “Senyum” hadir dengan warna baru yang lebih lembut dan reflektif, menggambarkan sisi bijak Rhoma di usia senja.

Video klip “Senyum” juga digarap langsung oleh Rhoma bersama timnya, memperlihatkan keseriusan dan dedikasi sang legenda terhadap setiap detail karya.

Dengan “Senyum”, Rhoma Irama kembali menegaskan bahwa musik dangdut bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana dakwah, nasihat, dan penyampai pesan moral yang universal.

Rhoma menutup pesannya dengan ajakan sederhana namun bermakna:

“Kalau ingin dunia damai, mulai dari diri sendiri, tersenyumlah.” (Agus Oyenk)

Kementerian Ekraf Apresiasi Film Believe Tembus Ke Festival dan Pasar Internasional

JAYAKARTA NEWS – Menteri Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesuksesan film “Believe” yang semakin membuka jalan bagi perfilman Indonesia di pasar internasional. Pernyataan ini disampaikan menanggapi raihan tiga penghargaan internasional sekaligus oleh film yang mengangkat patriotisme dan nasionalisme itu.

Wamen Ekraf, Irene Umar, menghadiri pra-tayang film “Believe” yang sudah berlangsung pada, Senin (14/7/2025).Wamen Ekraf, Irene Umar, menghadiri pra-tayang film “Believe” yang sudah berlangsung pada, Senin (14/7/2025).

“Kami sangat memberi apresiasi dan begitu bangga atas perjuangan Film Believe di panggung internasional. Harapan kami, ini bisa menjadi momentum dan membuka jalan baru bagi perfilman Indonesia tembus ke pasar internasional, baik secara komersial maupun artistik,” ujar Menteri Ekraf.

Kesuksesan secara komersial di Indonesia mencatat, Film Believe telah meraih lebih dari 1 juta penonton sejak tayang 24 Juli 2025 lalu di bioskop seluruh Indonesia. Selain sukses di layar lokal, Film Believe telah mencatat prestasi internasional dalam 3 penghargaan:

· Best Action Movie untuk Bollywood Hollywood International Film Festival (Las Vegas)

· Best Director untuk Montreal International Film Festival (Kanada)

· Official Selection untuk Urban Action Showcase International Film Festival (New York)

Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf.Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf.

“Film Believe membuktikan bahwa perfilman Indonesia bisa mengusung tactical combat realism yang segar dan lebih dekat dengan standar internasional,” imbuh Wamen Ekraf Irene Umar yang pernah hadir dalam pra-tayang Film Believe pada 14 Juli di XXI Agora Mall.

Film Believe: Takdir, Mimpi, dan Keberanian menjadi debut dari rumah produksi Bahagia Tanpa Drama yang tak hanya mengusung tema militer atau orang-orang yang mengangkat senjata, tetapi tentang mereka yang juga menunggu dalam diam, antara harapan dan kehilangan. Film yang disutradarai Rahabi Mandra dan Arwin Tri Wardhana ini berhasil memadukan kisah patriotik, visi produksi kuat, dan aksi realistis.

Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf.Dok. Biro Komunikasi Kemenekraf.

“Dengan Film Believe, kami ingin melangkah lebih jauh. Tidak dengan silat, melainkan dengan tactical combat yang autentik. Kabar kemenangan di Las Vegas, rilis di Malaysia, dan kerja sama dengan Media Move untuk pasar Amerika dan Eropa membuktikan bahwa film Indonesia bisa diakui dan diterima lebih luas ke kancah dunia,” ungkap produser Film Believe, Celerina Judisari yang sebelumnya memproduksi Film Kadet 1947 dan Satria Dewa: Gatotkaca.

Berita baik lain, Film Believe siap rilis di Malaysia pada Oktober 2025. Hal tersebut diyakini bisa memperkuat jangkauan ke pasar global melalui kemitraan dengan Antenna Entertainments untuk distribusi Asia Pasifik dan Media Move, yang akan menangani distribusi di Amerika Serikat serta Eropa.***/mel

Imelda Therinne Aktris Terkemuka Jadi Isteri Koruptor

JAYAKARTA NEWS— Imelda Therinne (43 tahun) berdarah Minang termasuk aktris terkemuka yang berkualitas dan berkuantitas bagus.


Ia pernah meraih gelar Aktris Terbaik di Indonesian Movie Awards (IMA) 2013 di film ‘Belenggu’ sekaligus sudah puluhan film layar lebar, film pendek dan sinetron dan series yang dibintanginya.


Film terbaru dan akan beredar berjudul ‘Jembatan Shiratal Mustaqim’ yang disutradarai Bounty Umbara.


Di film bergenre horor spiritual itu, Imelda berperan sebagai isteri koruptor yang melakukan penggelapan dana bantuan bencana tsunami.


“Saya penasaran. Ini epik yang bercerita ihwal keadilan. Tidak hanya ditonton pejabat tapi juga masyarakat luas,” ujar Imelda yang juga menyabet penghargaan sebagai aktris pendatang baru terpilih di Piala Maya 2013.


Kenapa ia menerima tawaran sebagai isteri koruptor karena sangat menantang.
“Di film ini, hanya saya dan anak saya yang bernama Arya selamat. Tapi suami yang wafat karena kecelakaan masuk neraka,” papar Imelda.


Berbeda ketika ia menjadi wanita tuna susila bernama Jingga yang kehidupannya rumit di dunia gelap, justru di film Jembatan Shiratal Mustaqim, Imelda melakukan riset mendalam bagaimana sehari-hari merawat suaminya yang merahasiakan profesinya di kantor.


Apakah itu hanya mimpi belaka, Imelda angkat tangan.


“Saya kan di film belum mati. Tapi akhirnya meninggal dan masuk surga. Tapi sutradara bilang seni peran saya pas. Scripnya oke dan menarik. Juga produser Dheeraj Kalwani juga mengakui akting saya diacungi jempol. Tapi itu nantinya terserah penilaian penonton,” imbuh Imelda berendah diri.


Model yang mengawali kariernya di ajang Gadis Sampul 1999 membuka jalan di ranah hiburan dan film ini menambahkan ingin bermain baik sebagai sosok protagonis maupun tokoh antagonis.


“Saya enggak memilih peran ini itu. Asal tema ceritanya bagus dan karakter yang saya lakukan oke, saya jalani saja. Saya selalu move on dan dunia film ini telah membesarkan saya,” timpalnya lagi.


Ibu dua anak ini mengaku ia sangat bangga dan akan terus melakukan tugas sesuai profesinya sebagai seorang aktris.


Di film ini, Imelda mengungkapkan bisa beradaptasi dan bekerja sama dengan pemeran lain seperti Raihan Khan, Agus Kuncoro, Mike Lucock dan seabreg aktor lain.


Tak banyak aktris seperti Imelda Therinne.


“Saya di dunia hanya numpang minum, sebagaimana falsafah Jawa. Karena darah saya Minang, saya juga percaya di situ bumi dipijak dan langit dijunjung, disitulah saya bekerja,” tutup Imelda mengakhiri obrolan ini.


Berdoa dan bekerja. Ora et Labora. Kita sorong dengan doa. (PR)

JWC 2025 Dibuka: 8 Film tak Lolos Sensor

JAYAKARTA NEWS— Hari pertama, Sabtu (27/9), event Jakarta World Cinema (JWC) edisi 4, Sabtu (27/9) di CGV Grand Indonesia Jakarta, penonton membludak. Penayangan film pembuka ‘Sentimental Value’ dari Belgia, tiket ludes (sold out).

Sampai ada orang berani mencari dan membeli tiket opening festival seharga Rp 300.000.

Tapi ‘take it or leave it !’ berlaku.

Sebanyak185 film dari 66 negara (155 film panjang dan 30 film pendek) tayang di JWC 2025.

Director executive JWC, Frederica berkata, ini adalah perayaan sinema global

“JWC sangat menantang dari inspirasi hingga menyatukan penonton,” ujarnya.

Namun, ada 8 film tak lolos sensor alias gagal diputar tahun ini.

“Ada peraturan di LSF, seluruh film wajib disensor. Kalau mengantungi STLS, bisa tayang di bioskop,” ungkap Shandy Gasella selaku Festival Director.

Dikatakannya, ada satu film bisa tayang tapi harus direvisi versi LSF.

“Panitia enggak mau. Seluruh film yang diputar harus utuh. Kita menjaga integritas karya sineas,” imbuh Shandy.

Meski demikian, film-film yang diputar di JWC 2025 tetap berkelas FF internasional seperti dari Cannes, Berlin dan Sundance.

Joko Anwar menambahkan ihwal posisi Jakarta menjadi salah satu pusat FF di Asia Tenggara.

“Film bukan lagi jadi tontonan tetapi wadah pertukaran budaya,” timpal Joko Anwar yang jadi juri kompetisi film pendek di JWC 2025 bersama Alim Sudio, Aditya Ahmad dan Asmara Abigail.

JWC 2025 akan berlangsung delapan hari sampai 4 Oktober 2025.

Film penutup adalah ‘It was just an Accident’ karya sineas dari Iran, Jafar Panahi. Diputar untuk 7 sesi, tiket film penutup JWC 2025 pun sudah ludes.***