Trailer dan Poster Film Tumbal Darah Resmi Dirilis, Siap Teror Bioskop 23 Oktober

JAYAKARTA NEWS – Pecinta film horor bersiaplah, teror baru siap menyergap layar lebar. MAGMA Entertainment bersama Wahana Kreator dan Sinemaku Pictures merilis trailer dan poster resmi film Tumbal Darah, sebuah horor-thriller-aksi yang dijanjikan paling brutal tahun ini. Film arahan sutradara Charles Gozali tersebut dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 Oktober 2025.

Kredibilitas Tumbal Darah tidak diragukan lagi. Film ini sebelumnya sukses mengguncang Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2024 dengan penayangan penuh sesak dan pujian atas intensitasnya.

Rumah Bersalin Penuh Teror
Trailer berdurasi dua menit yang dirilis hari ini langsung mengajak penonton masuk ke dunia kelam Jefri (Marthino Lio), seorang penagih utang yang nekat melakukan apa saja demi menyelamatkan istrinya, Ella (Sallum Ratu Ke). Namun perjuangan tersebut justru menuntun mereka ke sebuah rumah bersalin terkutuk—tempat di mana tangis bayi berubah menjadi jeritan maut.

“Tumbal Darah adalah tentang neraka personal,” kata sutradara Charles Gozali. “Film ini bukan hanya horor-aksi, tapi juga drama tentang seberapa jauh seseorang rela berkorban demi orang yang dicintai.”

Poster yang Mengguncang Emosi
Poster resmi yang dirilis memperlihatkan momen paling mencekam: Ella (Sallum) ditarik oleh tangan-tangan iblis dari balik pintu, sementara Jefri (Marthino) hanya bisa menatap tanpa daya. Visual tersebut menggambarkan pertarungan emosional dan fisik yang akan menguras adrenalin penonton.

Marthino Lio menyebut perannya sebagai tantangan berat. “Saya harus menyelami mimpi buruk seorang suami yang terpojok. Charles Gozali mendorong kami untuk bermain seintens mungkin, dan itu terasa nyata di layar,” ungkapnya.

Sallum Ratu Ke menambahkan bahwa Tumbal Darah adalah proyek monumental baginya. “Ella membawa beban emosional yang luar biasa. Saya tidak sabar menunggu penonton merasakan perjalanan emosinya,” katanya.

Selain Marthino Lio dan Sallum Ratu Ke, film ini juga dibintangi Donny Alamsyah, Agla Artalidia, dan Epy Kusnandar. Tumbal Darah akan mulai menagih nyali penonton pada 23 Oktober 2025 di seluruh jaringan bioskop nasional (Agus Oyenk)

Jangan Panggil Mama Kafir: Drama Keluarga Mengharukan

JAYAKARTA NEWS— Film Jangan Panggil Mama Kafir yang disutradarai Dyan Sunu Prastowo berkisah ihwal cinta, janji, beda iman dan keputusan besar dalam hidup.

“Ini kisah nyata. Lahir di masyarakat kita yang heterogen dan perbedaan iman. Panggilan emosional ibu dan anak yang mengharukan dan menggetarkan jiwa,” kata Dyan Sunu.

Produksi Maxima dan Rocket Studio Entertainment yang akan dirilis 16 Oktober 2025 ini dibuat dalam memperingati hut ke 21 Maxima Pictures.

“Film ini tak hanya menghibur tapi juga membuka ruang empati dan refleksi bagi masyarakat yang memandang beda iman dan kehidupan keluarga menjadi penting,” beber produser Yoen K dan Zoya Salsabila berbareng.

Naskah ditulis Archie Heksgery dan Lina Nurmalina ini mengisahkan tentang Maria (Michelle Ziudith) yang Kristen bersuamikan pria muslim bernama Fafat (Georgino Abraham).

Mereka dikaruniai seorang puteri bernama Laila (Humaira).

Takdir bicara lain yang mengubah drastis kehidupan Maria. Fafat wafat.

Umi Habibah (Elma Theana), ibu Fafat menggugat hak asuh Laila.

Di persidangan, Laila meneriakkan siapa ibu kandungnya.

“Jangan panggil mama kafir ,” yang menggetarkan pengunjung sidang.

Michelle Ziudith mengaku menjadi ibu tunggal merupakan tantangan tersendiri yang berat.

Georgino Abraham sama.

“Sebesar apa pun agama dan relasi keluarga serta cinta ibu  berada diatas segalanya,” timpal Georgino.

Lalu ?

Saksikan sendiri film Jangan Panggil Mama Kafir di bioskop. Nanti jadi spoiler.

Film ini juga dibintangi sederet pemeran top lintas generasi seperti Indra Birowo, TJ Ruth, Dira Sugandi, Ence Bagus, Emmy Lemu, Gilbert Patiruhu, Pratiwi Dwiarti, Runny Rudiyanti dan Kaneishia Yusuf. (*)

Jembatan Shiratal Mustaqim: Hukuman buat Koruptor

JAYAKARTA NEWS— Mengangkat isu koruptor pasca-tsunami di suatu daerah, film ‘Jembatan Shiratal Mustaqim’ berkisah tentang kengerian hukuman di akhirat dan suasana di Padang Mahsyar.

Shiratal Mustaqim adalah jembatan paling ditakuti yang terbentang di atas neraka dan bisa dilalui dengan amal dan doa keluarga.

“Ini bukan horor biasa. Jembatan ini sulit dilalui karena dipercaya bentuknya setipis rambut,” kata sutradara Bounty Umbara.

Produser Dee Company, Dheeraj Kalwani menuturkan ide pembuatan film ini lahir dari keresahan melihat maraknya praktik korupsi di Indonesia.

“Korupsi merampas doa anak dan keluarga. Sehingga seseorang berjalan sendiri di jembatan Shiratal Mustaqim. Film ini mengajak refleksi agar kita bertobat,” papar Deeraj Kalwani.

“Amal saleh dan doa jauh lebih berharga daripada harta hasil korupsi,” imbuhnya.

Model, politisi dan Puteri Indonesia 2001, Angelina Sondakh yang khusus diundang Dee Company mengungkapkan kengeriannya.

“Saya merinding melihat trailer filmnya. Ini sebagai pengingat agar kita merenung mendalami hukuman di akhirat. Dan memperbaiki diri. Tiap dosa akan ditagih di sana. Tanggung jawab di akhirat lebih besar daripada di dunia,” tegas Angelina Sondakh yang terjerat kasus korupsi Wisma Atlet di Palembang dan dijatuhi hukuman penjara selama sepuluh tahun.

Dengan proses CGI yang canggih, film ini menampilkan sinematik modern yang belum pernah ada di negara kita.

Film yang akan beredar di bioskop mulai 9 Oktober 2025 ini diramaikan sederet artis yaitu Raihan Khan, Imelda Therinne, Agus Kuncoro, Mike Lucock dan banyak lagi yang lain. (*)

Ancol Gelar “Merdeka Ria” Sambut HUT ke-80 RI, Ruben Onsu Siap Kibarkan Bendera di Akuarium Hiu

JAYAKARTA NEWS – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, Taman Impian Jaya Ancol menggelar konferensi pers bertema “Merdeka Ria” di kawasan Ombak Laut, Pantai Ancol, Jakarta Utara, Rabu (13/8/2025).

Acara yang berlangsung meriah itu dihadiri jajaran manajemen Ancol, mitra strategis, awak media, serta sejumlah tokoh hiburan. Nuansa merah putih menghiasi area pesisir dengan latar pemandangan laut Jakarta yang membentang luas.

Manajemen Ancol mengumumkan rangkaian program spesial yang akan digelar mulai Agustus hingga akhir tahun 2025. Di antaranya lomba rakyat khas 17 Agustusan, pertunjukan musik, parade kostum, festival kuliner nusantara, hingga promo tiket khusus kemerdekaan.

“Kami ingin mengajak seluruh masyarakat untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang gembira, aman, dan penuh kebersamaan. Ancol hadir memberikan pengalaman rekreasi yang tak hanya menghibur, tapi juga membangkitkan rasa cinta tanah air,” ujar perwakilan manajemen.

Sebagai ikon wisata terbesar di Ibu Kota, Taman Impian Jaya Ancol terus menghadirkan inovasi hiburan, mulai dari Dunia Fantasi, Sea World, Atlantis Water Adventure, Ecopark, hingga pantai publik.

Ruben Onsu, Pengibar Bendera di Tengah Hiu

Salah satu momen spesial tahun ini adalah aksi presenter sekaligus pengusaha Ruben Onsu yang akan mengibarkan bendera merah putih di dalam akuarium hiu Sea World Ancol pada 17 Agustus mendatang. Aksi tersebut memadukan keahlian selam dan semangat nasionalisme.

Ruben mengaku telah melakukan persiapan fisik, latihan pernapasan, hingga mengosongkan jadwal kerja sehari sebelum acara.

“Dari pagi jam 07.00 saya sudah standby di Sea World. Acara mulai pukul 10.00, tapi prosesnya panjang, dari pengecekan peralatan sampai adaptasi di air,” ungkap Ruben.

Bagi Ruben, tantangan terbesar bukan hanya menyelam, tetapi juga menjaga ketenangan saat berada di dekat hiu.

“Kalau ikan biasa saya sudah sering lihat, tapi kalau hiu, itu beda cerita. Mereka lewat begitu dekat, kadang sampai di kaki. Kuncinya jangan panik, fokus ke napas dan gerakan yang sudah dihafal,” katanya.

Pengalaman diving lebih dari sepuluh tahun membuat Ruben mantap menjalani misi ini.

“Selain tantangannya unik, ada makna nasionalisme yang kuat. Mengibarkan bendera merah putih di tengah hiu adalah kehormatan dan pengalaman yang akan saya kenang seumur hidup,” tutupnya. (AgusOyenk)

Transparansi Royalti Indonesia: Izin Operasional Resmi Keluar, Jamin Transparansi Royalti bagi Pencipta Lagu Indonesia

JAYAKARTA, NEWS – Industri musik Indonesia mencatat tonggak penting dalam sistem perlindungan hak cipta. Sebuah Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) baru, bernama Transparansi Royalti Indonesia (TRI), secara resmi memperoleh izin operasional dari Kementerian Hukum dan HAM. Keputusan ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor HK.23.KL01.04.01 Tahun 2025, dan diumumkan pada Jumat (1/8/2025) di Gedung DJKI, Kuningan, Jakarta Selatan.

TRI hadir sebagai LMK yang memiliki mandat khusus untuk mengelola royalti hak cipta lagu dan musik secara transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Penyerahan izin operasional dilakukan langsung oleh Direktur Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri Agung Damarsasongko SH.Mh dan Ketua Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Dharma Oratmangun, yang menyampaikan harapan besar terhadap kiprah TRI ke depan.

“Saya mengenal Ketua TRI cukup lama dan melihat rekam jejak digitalnya yang positif. Kami berharap TRI mampu menjadi warna baru dalam tata kelola royalti di Indonesia, terutama dalam menjawab kerinduan para pencipta lagu akan keadilan,” ujar Dharma Oratmangun.

Susunan Kepengurusan yang Lintas Profesi dan Teruji

TRI memiliki struktur organisasi yang terdiri dari tokoh-tokoh berpengalaman dari latar belakang militer, kepolisian, hukum, dan dunia seni.
Di posisi Pelindung, hadir nama-nama seperti Mayjen TNI (Purn) Zaedun, Brigjen TNI Agus Wijanarko, dan Brigjen Pol (Purn) Drs. Puja Laksana. Di kursi Pembina, terdapat Kombes Pol Daniel Widya Mucharam serta H. M. Ali Badarudin, yang juga aktif di ranah hukum dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Ancha Syaiful Bachri dipercaya sebagai Ketua TRI, didampingi oleh Hetty Mulyati (Wakil Ketua), Mardiana Bugis (Sekretaris), dan S. Mulyono (Bendahara). Struktur pengawas dipimpin oleh Nugraha Surya Sumantri, bersama Sugito dan Ir. Teguh Yuswanto.

Komitmen dari Ketua TRI: Keadilan dan Kejujuran sebagai Fondasi

Dalam sambutannya, Ketua TRI, Syaiful Bachri biasa dipanggil Ancha menyatakan bahwa pendirian TRI bukan sekadar bentuk partisipasi dalam sistem, melainkan lahir dari panggilan moral untuk menghadirkan tata kelola royalti yang benar-benar adil bagi pencipta lagu di Indonesia.

“Ini bukan hanya soal administrasi. Ini soal tanggung jawab dunia dan akhirat. TRI hadir untuk melayani, bukan mencari panggung. Kami ingin memastikan bahwa setiap pencipta lagu, dari yang senior hingga pemula, mendapatkan haknya tanpa terhambat oleh sistem yang rumit atau tidak transparan,” tegas Ancha.

Royalti yang Transparan, Musik yang Berkelanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, wacana mengenai royalti musik kerap menjadi perdebatan, mulai dari kurangnya transparansi, distribusi yang tidak merata, hingga minimnya komunikasi antara LMK dengan anggotanya. TRI hadir untuk merespons situasi tersebut dengan sistem terbuka, pelaporan berbasis digital, serta mekanisme komunikasi dua arah.

Kehadiran TRI juga diharapkan mampu mendorong pemulihan kepercayaan para pencipta lagu terhadap sistem pengelolaan hak cipta di Indonesia. Melalui pelibatan figur-figur yang berintegritas dan pendekatan pelayanan yang lebih humanis, TRI menargetkan tumbuh menjadi LMK yang mampu menjawab kebutuhan zaman: efisien, adil, dan inklusif.

Babak Baru bagi Hak Cipta Musik Indonesia

Dengan resmi beroperasinya TRI, Indonesia kini memiliki tambahan kekuatan baru dalam membangun ekosistem musik yang lebih sehat. Di tengah era digital yang serba cepat dan konsumsi musik yang meluas, pengelolaan royalti yang adil menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan karya dan kesejahteraan pencipta.

TRI hadir dengan janji, dan kini publik menanti bukti. Apakah ini akan menjadi titik balik bagi tata kelola royalti musik Indonesia? Waktu yang akan menjawab — namun hari ini, harapan telah dilahirkan.*(Agus Oyenk)

SIPA 2025 Usung Tema “Nifty, Artful & Visionary”

Bagi Anda pemerhati dan penikmat budaya berkualitas, bersiap-siaplah mencatat tanggal event yang satu ini: Solo International Performing Arts (SIPA). Event tahunan ini akan digelar awal September 2025, tepatnya tanggal 4, 5, dan 6, di Pamedan Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah.

Seperti hajat SIPA tahun-tahun sebelumnya, maka SIPA 2025 pun akan menampilkan penari, pemusik, dan pemain teater dalam dan luar negeri. Sejak pertama diselenggarakan, SIPA tahun ini merupakan event yang ke-17. Tak kurang dari 50.000 penonton setiap tahun menyaksikan pergelaran tiga malam berturut-turut.

SIPA terselenggara berkat kerjasama apik antara SIPA Community, Pura Mangkunegaran, dan Pemerintah Kota Surakarta. “SIPA 2025 digelar di panggung terbuka. Di sana juga aka nada SIPA Show Case Stage yakni pertunjukan di berbagai titik keramaian kota Solo, seperti pusat perbelanjaan, car free day, taman  kota, dan juga pasar tradisional,” ujar Direktur SIPA, Dra Irawati Kusumorasri, M.Sn kepada Jayakarta News, hari ini.

Dokumen pertunjukan SIPA 2024.

Ira menambahkan, pembukaan SIPA akan dimeriahkan pertunjukan koreografi yang memukau dan kembang api spektakuler. Sedangkan pada penutupan, panitia merencanakan penampilan istimewa dari Guest Star Nasional, diiringi penyalaan kembang api yang pasti akan meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh penonton.

Sejauh ini, event SIPA telah menjadi destinasi wisata budaya di kota Solo. Hal ini sekaligus meneguhkan posisi kota Solo sebagai kota seni pertunjukan. Setiap tahunnya, SIPA mengusung ide dan tema yang berbeda, unik dan inovatif.  Tahun ini, tagline yang diusung adalah “Nifty, Artful & Visionary”.

“Setidaknya, ini adalah bentuk sumbangsih kami putra-putri Solo dalam ikut melestarikan dan mengembangkan seni budaya Tanah Air,” pungkas Irawati seraya menambahkan, “penyelenggaraan SIPA 2025 bersifat hybrid. Selain bisa disaksikan secara offline juga bisa menyaksikan secara daring”. (*)

Kemeriahan SIPA 2024.

Pelukis Sohieb Bongkar Fakta Syailendra Lebih Hebat dari de Houtman

JAYAKARTA NEWS— Adalah Pahrur Dalimunthe, pakar hukum dari DNT Lawyers yang tergerak hati mendukung pameran lukisan Sohieb Toyaroja, “Borobudur: The Way of Life”. “Selain saya menyukai karya-karya dia, tema Borobudur kali ini sungguh menyentak kesadaran saya tentang betap besar leluhur kita,” ujar Pahrur, pada pembukaan pameran Sohieb di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/7/2025).

Ia lalu menunjuk lukisan masterpiece pada pameran kali ini, yang berjudul “Samodra Raksa”. Lukisan berukuran 435cm x 152cm itu memiliki makna penting, baik dalam konteks sejarah, budaya maupun spiritual.

Masterpiece pameran, lukisan “Samodra Raksa” yang menunjukkan kebesaran maritim Nusantara

Samodra Raksa adalah bukti peradaban maritim leluhur kita. Perahu ini menjadi pencatat penting kegiatan penyebaran budaya dan teknologi maritim, berikut potensi perdagangan bagi kemakmuran rakyat. Kapal nan gagah perkasa ini mengarungi jalur pelayaran kuno dari tanah Jawa ke Madagaskar, Afrika Selatan, dan Ghana.

Nakhoda Wangsa Syailendra pada abad ke-8 telah menunjukkan pemahaman tentang sistem navigasi yang kompleks menggunakan rasi bintang, bulan, dan angin muson. “Jadi kesimpulannya, pelaut Wangsa Syailendra sudah lebih dulu mengarungi samudera lintas benua. Jauh sebelum Vasco da Gama atau Columbus yang baru memulai pelayaran pada abad ke-14 dan awal abad ke-15,” ujar Pahrur.

Welcome Speech, Pahrur Dalimunthe

Pahrur, sebagai praktisi hukum, mengaku suka lukisan sejak lama. “Khusus karya mas Sohieb, lebih kurang sekitar 15 lukisan yang sudah saya koleksi. Yang saya paling suka lukisan Semar main catur. Kemudian saya juga mengoleksi karya lama mas Sohieb, sebuah lukisan kepala kuda, sebab saya suka kuda,” kata Pahrur.

Wamenaker Immanuel Ebenezer, pelukis Sohieb Toyaroja, Staf Khusus Presiden, Raffi Ahmad, dan Pahrur Dalimunthe

Ihwal pameran “Borobudur: The Way of Life”, Pahrur sangat mengapresiasi para pihak yang hadir. Di luar dugaan, selain pejabat tinggi negara seperti Staf Khusus Presiden Raffi Ahmad, Wamenaker Immanuel Ebenezer, dan pejabat Kementerian Ekonomi Kreatif, juga hadir sekitar 15 duta besar negara sahabat.

“Saya juga mengundang teman-teman, yang kebanyakan pengusaha. Bukan itu saja, apresiasi media massa dan para seniman-budayawan juga tampak sangat antusias. Terima kasih,” kata Pahrur. Ia berharap, seni lukis Indonesia tetap berjaya di pentas dunia. ***

Rafi Ahmad Tertawa Lebar Lihat Lukisan Wajahnya di Pameran Borobudur: The Way of Life

JAYAKARTA NEWS— Selebriti Raffi Ahmad yang menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, menghadiri pembukaan pameran lukisan karya Sohieb Toyaroja. Pameran bertajuk “Borobudur: The Way of Life” dibuka Jumat (11/7/2025) malam di Tugu Kunstkring Paleis, Menteng, Jakarta Pusat.

Usai pembukaan secara resmi oleh Menteri Ekonomi Kreatif, yang diwakili Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Damdam Mahdar, Sohieb menyerahkan apresiasi kepada sejumlah tamu. Di antaranya, Raffi Ahmad.

Raffi Ahmad menerima apresiasi dari pelukis Sohieb Toyaroja.

Setelah bungkus dibuka, ternyata sebidang lukisan wajah Raffi Ahmad dalam guratan palet pelukis Sohieb yang khas. Suami Nagita Slavina itu tampak sangat senang, dan tertawa lebar. “Wah, luar biasa…. Ini bagus sekali. Saya akan pajang lukisan ini di kantor,” ujar Raffi sambil memeluk hangat Sohieb sebagai ekspresi terima kasihnya.

Raffi Ahmad di depan karya utama Sohieb dalam pameran yang berjudul “Samodra Raksa”.

Raffi dalam testimoni di ruang pamer mengatakan, kehadirannya adalah bentuk apresiasi sekaligus dukungan terhadap para pekerja seni, termasuk pelukis, seperti Sohieb Toyaroja. Hal itu sesuai dengan topoksi dia sebagai Staf Khusus Presiden bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni.

Topik Borobudur menurutnya sangat menarik. Bukan saja karena Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang ada di Indonesia. Lebih dari itu, pilihan tema relief Borobudur pada 9 karya Sohieb yang dipamerkan juga sarat makna.***

Lalu “Losing My Religion” pun Mengguncang Dunia

Orang-orang ramai memperdebatkan agama Michael Stipe, vokalis R.E.M. itu. Ada yang bilang dia atheis, ada yang menyangka pemuja setan.

Padahal Stipe sendiri angkat bahu: “Aku cuma insan spiritual yang tak suka dikurung agama,” bisiknya.

Lebih rela membela kaum pinggir ketimbang berdebat kitab. 

Lalu Losing My Religion pun mengguncang dunia.

Lagu ini bukan khotbah murtad, brother !

Cuma ungkapan orang Georgia, orang selatan amrik kala jengkel, mirip tukang sate di Blok M yang teriak: “Gue bakalan gila kalo lo gak bayar!”

Stipe menciptakannya karena gemetar menahan rindu.

“Itu aku di pojok ruang, mencoba mengejarmu,” desahnya. Bukan gugatan pada langit. 

Tapi manusia kerap salah tafsir. Judul provokatif plus video penuh malaikat jatuh, langsung dituduh menghujat.

Padahal cuma lukisan jiwa resah. Bagai melihat kenduri tanpa sesajen, lantas dituduh menghina leluhur. 

Lucunya, lagu ini malah meledak ke puncak tangga Amerika, menggoyang Eropa, bahkan dibungkus dua Grammy.

Anginnya sampai menerbangkan topi pejabat di Jakarta, yg berlagak jadi manusia global.

Stipe cuma geleng kepala : “Ini lagu cinta, bukan perang salib!” 

Seniman licik ini memang sengaja menulis samar. Tapi bukan berarti harus dikuliti bagai naskah kuno.

Kadang, lagu cuma lagu: rintihan yang ingin didengar, bukan dikawal polisi syariat. 

Maka mari kita bernyanyi saja. Biar Stipe tetap di pojokannya, dan kita tak perlu jadi mufti gadungan. ($@¥)

Seribu Bayang Purnama: Kisah Heroik Petani

JAYAKARTA NEWS— Petani adalah tulang punggung, tiang penting dan pahlawan utama pengadaan pangan secara nasional.

Produksi Baraka Films berjudul ‘Seribu Bayang Purnama’ yang disutradarai Yahdi Jamhur berkisah tentang problematika pertanian masa kini.

Film yang akan tayang 3 Juli 2025 ini bernuansa berbeda,  ihwal sekelompok petani muda yang heroik di sebuah desa di kawasan Jogjakarta.

Cara petani mendalami pertanian dengan pupuk pestisida yang diproduksi mandiri  yang akhirnya menyebar di seluruh petani.

“Saat ini, petani termarjinalisasi karena kapitalisasi. Usia petani kini di atas 40 tahun. Dibawah 40 tahun enggak ada. Di tahun 2035, regenerasi petani habis,” keluh Yahdi Jamhur prihatin.

Prilly Latuconsina (foto ffi)

Seorang petani bernama Putro Hari Purnomo yang jadi tokoh utama pulang ke desanya dan ia mengenalkan cara bercocok tanam dan teguh melawan dengan hati, tanpa kekerasan.

“Putro mengajak petani melawan pupuk kimiawi yang mahal dan dijual para tengkulak. Para petani terjerat oleh rentenir dengan bunga pinjaman yang mencekik,” cerita Yahdi Jamhur yang pernah bekerja sebagai junalis televisi dan pembuat film dokumenter.

Putro menjadi panutan dan ini realita yang ada.

Putro bersama ayahnya, pak Haji Budi selalu mengajarkan pelatihan metode Nusantara yaitu gerakan kembali ke alam untuk menjaga bumi.

Namun, di sisi lain ada sosok Gatot dan anaknya bernama Dodit. Pak Gatot adalah tuan bagi Budi.

Haji Budi sukses bahkan bisa membangun langgar (mushola).

“Haji Budi itu tokoh pembaru di desa. Sebaliknya, Dodit tokoh yang dibenci dan antagonis. Dia terjerat hutang meski rumahnya mewah dan punya mobil,” ungkapnya.

Kisah ini dibalut percintaan Putro dan Ratih (adik Dodit).

Ada unsur lokal di film ini.

Marthino Lio sebagai Putro (foto baraka)

Budi dan Putro pintar menentukan hari tanam, hari pasaran dan panen sesuai perhitungan kalender Jawa.

Para pemeran bermain cemerlang yaitu Marthino Lio, Nugie, Whani Darmawan, Aksara Dena dan Givina. Penulis skenario Swastika Nohara adalah petani yang menerapkan metode Nusantara yang telah diterapkan di Timor Farm Nusantara, NTT dan menyebar keberbagai penjuru Indonesia.  Bahkan sampai Timor Leste.

Sebanyak 1500 petani dari berbagai daerah telah mempelajari dan menerapkan metode Nusantara dengan hasil memuaskan.

Ia menulis buku Panduan Pelatihan metode Nusantara bersama Joao Mota dan Sancho Soares Marques.

Joao Mota yang juga seorang petani menjadi produser eksekutif film ini

Digambarkan juga tentang ketulusan dan kedermawanan kaum wanita yaitu Ratih yang rela meminjamkan tabungan guna membeli sepetak lahan bagi Gatot dan Dodit.

“Divisualisasikan juga dalam pelatihan, bagaimana para petani membangun pergerakan organisasi politik secara kolektif untuk memperjuangkan reformasi agraria, kedaulatan pangan dan metode pertanian alam.

Pelatihan ini menciptakan suasana pembelajaran horisontal yang harmonis yang beorientasi pada dialog, praktik, evaluasi kegiatan dan kesinambungan sebagai sarana membangun cara berpikir berdasarkan akal sehat,” demikian timpal Yahdi Jamhur yang hadir di gala premier ‘Seribu Bayang Purnama’ di XXI Metropole, Jakarta. (pik)