Dowajuseyo: Horor Psikologis Dibalut Cinta Segitiga yang Emosional

JAYAKARTA NEWS— Produksi perdana Heart Pictures berjudul ‘Dowajuseyo’ (bahasa Korea, artinya ‘Tolong Saya’) adalah horor psikologis dari sudut pandang orang Indonesia di Korsel. Tania (Saskia Chadwick) yang sedang studi di Korsel diteror kalimat ‘Tolong Saya’ dari hantu wanita misterius.

Syuting di Busan dan Seoul, Tania diganggu arwah Min Yong yaitu wanita korban pelecehan seksual yang mencari keadilan.

Tania yang memiliki indra ke enam lalu menghadapi masa lalu yang mistis.

Ia dibantu Dokter Park Min Jae (Kim Geba) yang ternyata jatuh hati dan membantu Tania.

Namun, di sisi lain ada Dion (Cinta Bryan), cowok misterius yang diam-diam juga menyintai Tania.

Diselidiki, Dion adalah pria bejat yang menyebabkan Min Yong tewas mengenaskan dan jatuh dari gedung tinggi.

Bagaimana ending selanjutnya, Dowajuseyo  akan hadir di bioskop 29 Januari 2026.

“Peran saya kesurupan di film ini. Suasana yang ditampilkan gelap gulita dan menyeramkan,” kenang Saskia Chadwick.

Senada Kim Geba atau akrab disapa Bung Korea  alias Oppa di film ini yang menyukai musik K Pop.

Saskia Chadwick sebagai Tania (foto heart)

“Dowajuseyo debut saya di film. Dan saya getol dan suka makanan Indonesia. Saya belajar bahasa Indonesia di sini cukup lama,” ujar Kim Geba yang lancar berbahasa Indonesia.

“Orang Korea percaya arwah, kesurupan (trance) dan roh gentayangan. Biasanya roh jahat membawa sial dan keburukan,” urai Kim Deba.

“Untuk mengusir roh jahat diadakan upacara ritual tertentu dengan mendatangj fortune teller alias paranormal. Cerita tentang arwah dan roh sangat dekat dengan masyarakat Korea dan kerap dibuat serial di televisi dan film,” imbuh Kim.

Produser eksekutif Herty Purba menambahkan Dowajuseyo bukan horor biasa tapi diangkat dari pengalaman nyata.

“Kisahnya dari pelajar Indonesia yang studi di Korsel yang mengalami pengalaman mistis,” cerita Herty Purba.

Kenapa debut Heart Pictures membuat film horor karena didasari pertimbangan pasar dan tantangan terberat menyangkut biaya produksi.

Gayung bersambut diiyakan produser Ricky Mulyono. “Kami sudah lama memikirkan hal ini. Bisnis film adalah gambling. Dan semoga kolaborasi dua negara ini menghasilkan hal yang positif menyangkut budaya dan kesamaan folklore di Indonesia dan Korea,” timpal Ricky Mulyono yang lama membuat ftv dan sinetron lokal. Cerita Dowajuseyo ditulisnya berdasar pengalaman nyata.

Sutradara Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca memaparkan hal-hal mistis dan diluar nalar selama syuting di kota Busan.

“Banyak kesamaan budaya dan peristiwa di alam gaib yang digemari orang Indonesia dan Korea. Ini aneh tapi nyata. Cerita-cerita hantu, arwah balas dendam dan kereta api berdarah dari Korsel juga terjadi di sini,” ungkap Nur Muhammad Taufik.

Film ini juga dimeriahkan sederet artis yaitu Husein Alatas, Yatty Surahman, Aruma Khatijah, Dito Darmawan, Debby, Yun Jian (artis musik) dan masih banyak lagi.

Dowajuseyo yang dikurasi LSF untuk 13 tahun ke atas juga menyelipkan pesan edukatif agar pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri harus tetap berhati-hati dan membawa nilai-nilai positif. (pik)

Esok Tanpa Ibu: Hubungan Manusia dan Keluarga Lewat Kehadiran Kecerdasan Buatan

JAYAKARTA NEWS— Film.’Esok Tanpa Ibu’ (Mothernet) menampilkan kisah yang personal saat perasaan kehilangan dan duka  dari seorang remaja yang ditinggal ibu.

Kehilangan sosok ibu yang mengalami koma di usia yang sangat muda dan akhirnya wafat, membuat Rama alias Cimot akhirnya mencoba segala cara.

Menggantikan peran Ibu lewat sebuah kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus temannya.

i-BU, AI yang dipersonalisasi untuk Cimot, mampu memahami perasaannya, mengetahui hal-hal yang ia sukai dan menemani percakapan, seperti Ibu nya ketika masih sehat.

Juga suami Ibu yang berarti ayah Cimot menjadi satu-satunya yang tersisa dalam keluarga. Keduanya mencoba menjalin hubungan yang dekat.

Namun, kecanggungan membuat keduanya justru semakin berjarak.

Sebuah situasi yang sebelumnya selalu direkatkan oleh kehadiran sang Ibu.

Produksi Base Entertainment yang didukung Singapore Film Commision (SFC) dan Infocomm Media Development Authority ini disutradara sutradara asal Malaysia, Ho Wi Ding.

“Kami ingin membicarakan duka dan relasi keluarga dengan bahasa yang relevan hari ini dan dalam konteks teknologi AI yang kini sudah menjadi bagian dari keseharian kita,” ujar produser Shanty Harmayn.

Pemeran Cimot adalah Ali Fikry mengaku i-BU di film ini tempat yang nyaman untuk menggantikan peran Ibu.

“Tapi saya juga percaya i-BU tak bisa menggantikan Ibu saya. Hanya jadi sosok baru,” kata Ali Fikry.

Dian Sastrowardoyo yang jadi produser dan Ibu memaparkan ini adalah film keluarga yang mempertanyakan autensitas koneksi manusia di dunia yang sangat modern, di saat teknologi sudah sangat dekat seperti kini.

“Bagaimana manusia modern yang beda generasi antara anak dan Bapak menghadapi duka, tanpa bantuan teknologi,” ungkap Dian Sastrowardoyo yang menyelesaikan S1 dari Filsafat UI.

Ringgo Agus Rahman sebagai Bapak juga sangat baik menampilkan berbagai lapisan emosi kedukaan yang dihadapi karakter Cimot.

Beredar 22 Januari 2026, Esok Tanpa Ibu dipastikan akan menghangatkan penonton Indonesia dan film ini masuk nominasi film terbaik dalam FF Tempo 2026.

Naskah film yang ditulis Gina S. Noer, Diva Apresya dan Melarissa Syarief, film ini juga didukung melalui kolaborasi promosi dengan Samsung Galaxy dan Telkomsel. (pik)

Angga Yunanda Jadi Anak Kembar di ‘Sebelum Dijemput Nenek’

JAYAKARTA NEWS— Aktor tampan Angga Aldi Yunanda menjajal main film komedi horor. Biasanya ia berseliweran di genre drama seperti ‘Dopamin’ dan ‘Tale of The Land’, kali ini ia diajak sutradara Fajar Martha Santoso di film horor berjudul ‘Sebelum Dijemput Nenek’.

Ia jadi anak kembar tak identik.

Pasangan kembarnya adalah komika Dodit Mulyanto.

Film ini menghadirkan mitos lokal dan luka keluarga.

“Mitos lama, teror baru. Tak hanya mengajak penonton menjerit ketakutan tapi juga tertawa. Terasa dekat dengan keseharian,” kata Angga Yunanda.

Produksi Rapi Films ini menyajikan tema segar yang dikemas ringan.

“Tapi terasa unsur ketegangannya ada. Konflik emosi kuat. Tentang sumpah dan kematian yang dipercaya membawa petaka,” urai Angga lagi.

Dua saudara kembar yaitu Hestu (Angga Yunanda) dan Akbar (Dodit Mulyanto) saling berhubungan tapi renggang dan memiliki pilihan hidup masing-masing.

Hestu merantau ke kota mengejar kehidupan yang layak sedangkan Akbar tetap tinggal di desa dan merawat neneknya bernama Marsiyem yang sudah renta.

Hestu akan pulang jika sang nenek wafat.

Ternyata hal ini tak sepele. Pas nenek Marsiyem wafat di hari keramat yaitu tanggal 6 bulan 6 jam 6.

Sebelum 7 hari, arwah sang nenek gentayangan dan akan menjemput ‘tumbal’ dari anggota keluarga yang masih hidup.

Jadi, harus ada ganti yang menemani nenek ke alam baka.

Angga Yunanda (foto rapi)

Selama 7 hari, teror muncul di rumah. Ada penampakan pocong, kuntilanak dan suster ngesot yang menghantui penghuni rumah.

Dua kembar minta bantuan ke dukun Ki Mangun (Nopek Novian) dan preman Kotrek (Oki Rengga). Bahkan, kembang desa Nisa (Wavi Zihan) secara suka rela membantu dengan mengumpulkan warga desa di rumah peninggalan nenek. Si kembar nencoba berdamai dengan masa lalu.

Berhasilkah Hestu dan Akbar mengusir arwah gentayangan dan mengembalikan nenek ke habitatnya di akhirat ?

“Ini horor rasa personal. Tak ada jumpscare. Tapi dikemas lucu dan komedi. Semua beralur wajar,” cetus Angga lagi.

Tanpa lagu dan sound track tapi plot cerita mencekam.

“Saya sampai menjerit lebih sepuluh kali pas adegan penampakan. Seusai take camera syuting, saya dan mas Dodit tertawa ngakak,” kenang Angga.

Sebelum Dijemput Nenek akan dirilis mulai 22 Januari 2026 di Indonesia.

Dipastikan bioskop bakal pecah dengan ledakan jerit dan tawa. (pik)

Kiprah Gemilang Alicia Sutedja: Membawa Kualitas Musikal Indonesia ke Panggung Dunia

JAYAKARTA NEWS— Nama Alicia Sutedja semakin sering muncul di balik proyek-proyek visual berskala besar, baik di Indonesia maupun internasional. Seorang komposer yang konsisten mengembangkan praktik kreatifnya, Sutedja membangun karier yang menjembatani dunia periklanan, film, televisi, hingga teater musikal—membuktikan bahwa kualitas musikal Indonesia mampu bersaing ditingkat global.

Di Indonesia, kepercayaan terhadap karyanya datang dari berbagai institusi dan merek ternama. Ia menciptakan musik untuk kampanye premium untuk Botanical Essentials, perusahaan di bawah salah satu grup FMCG terbesar di Indonesia, Wings Group.

Di ranah gaya hidup, musiknya untuk kampanye KISAKU Drip Bag bersama Raline Shah membantu membentuk identitas emosional sebuah merek kopi urban yang menonjol di tengah padatnya media sosial.

Skala kontribusi tersebut meluas ke ruang publik. Ketika PT Alam Sutera Realty Tbk ingin memperbarui jingle resmi kawasan kota terpadu mereka, Alicia Sutedja dipercaya untuk membangun identitas suara yang merepresentasikan kehidupan hunian, bisnis, dan sosial dalam satu ekosistem.

Ia juga terlibat dalam Drive-in Senja, pengalaman bioskop drive-in yang dikenal luas di berbagai kota Indonesia, serta menggubah musik trailer resmi untuk film horor nasional Panggilan dari Kubur produksi Dunia Mencekam Productions dan Maxima Pictures.

Di luar negeri, karya Sutedja mendapat perhatian di sirkuit film independen. Dokumenter Living Un Done yang ia komposisi memperoleh seleksi dan penghargaan di festival-festival lintas benua. Film pendek Trash Gun dan Ten West turut tampil di festival dan showcase di Amerika Serikat, menandai pengakuan atas konsistensi kualitas karyanya di berbagai genre.

Di industri televisi, ia berkontribusi pada serial terkenal, Below Deck Mediterranean, produksi Bravo, dan A Killer Among Friends, hasil produksi Investigation Discovery dan HBO Max, mendukung kebutuhan naratif produksi berseri dengan audiens internasional.

Kiprahnya tidak berhenti di sana. Alicia Sutedja juga aktif mengembangkan proyek berbasis komunitas dan generasi muda di Indonesia, termasuk sebagai komposer tunggal untuk musikal Keris “Gematta” bersama SMAN 28 Jakarta.

Di ranah musik populer, ia terlibat dalam penulisan dan produksi lagu untuk Rafi Sudirman (Warner Music Indonesia) serta Cassette Tape. Melalui lintasan karier yang beragam, Alicia Sutedja menghadirkan gambaran nyata tentang peran komposer Indonesia dalam ekosistem kreatif global—bukan hanya sebagai partisipan, tetapi sebagai penentu arah artistik.***

Penerbangan Terakhir: Skandal antara Pilot dan Pramugari

JAYAKARTA NEWS— Diproduseri Tony Ramesh, film produksi VMS Studio ini berlatar belakang dunia penerbangan, tapi ceritanya relate ke penonton.

Berjudul ‘Penerbangan Terakhir’ yang disutradarai Benny Setiawan, film ini membawa kisah tentang skandal dunia penerbangan (aviation) namun juga mengajak penonton untuk mengenali taktik laki-laki manipulatif.

Melalui karakter Tiara (Nadya Arina), pramugari baru dan kurang pengalaman dalam percintaan, bagaimana perjuangan wanita untuk bangkit saat ia menjadi korban manipulasi.

Pilot muda ganteng Kapten Deva (Jerome Kurnia) menjadi sosok yang menjerat banyak wanita, termasuk Tiara.

Karakter Tiara mewakili banyak wanita yang jadi korban manipulasi laki-laki, dan caranya untuk bangkit menjadi kemenangan milik semua kaum hawa.

Nadya Arina sebagai Tiara (foto vms)

“Karena cerita yang dialami Tiara bisa terjadi dimana saja dan oleh siapa saja. Ini kerap terjadi di sekitar kita,” ujar Nadya Arina yang sebelumnya memesona lewat seni perannya di film ‘Hati Suhita’ dan ‘Perfect Fit’.

Dikatakannya, kalau ada laki-laki yang sudah beri pujian berlebihan, sudah waktunya mundur perlahan.

“Jangan sampai nantinya terjebak di hubungan manipulatif,” imbuh Nadya.

Sedangkan Jerome Kurnia sebagai Kapten Deva mengungkapkan ada banyak ‘roller coaster’ emosi dalam adegan-adegan yang ia mainkan.

“Salah satu yang paling sulit  adalah saat Kapten Deva memohon-mohon agar cintanya kembali diterima Tiara,” urai Jerome yang juga bermain elok di ‘Perang Kota’.

Dalam adegan pertengkaran antara Deva dan Tiara, naik turunnya secara emosi dikatakannya susah sekali.

“Yah maklum. Karakter Deva kan sangat kompleks,” tutur Jerome.

Sutradara Benny Setiawan memaparkan skandal dunia penerbangan ini sebagai satu contoh saja ihwal siasat laki-laki yang juga bisa terjadi dimana saja di segala profesi.

Jerome Kurnia sebagai Kapten Deva (foto vms)

“Saya angkat topi ke pemeran-pemeran. Ya Jerome, Nadya dan Aghni Haque. Juga cameo lain yang berperan sebagai pramugari dan awak pesawat. Mereka semua bermain pas dan cemerlang,” puji Benny Setiawan.

Produser Tony Ramesh mengaku film ini penting diceritakan sebagai bagian dari edukasi.

“Belajar dari pengalaman apapun kesalahan kita. Kita bisa bangkit dari kesalahan itu,” ujar Tony Ramesh diiyakan Shalu T.M selaku produser eksekutif.

Penerbangan Terakhir terpilih sebagai salah satu Hot Picks oleh media film internasional Variety dan akan dirilis di bioskop seluruh Indonesia mulai 15 Januari 2026.

Sewaktu special screening di 10 kota seperti Jakarta, Tangerang, Palembang, Cirebon, Surabaya dan Makassar pada 10 dan 11 Januari 2026, tiket juga terjual habis. (pik)

Penunggu Rumah Buto Ijo: Simbol Keserakahan dan Konsekuensi Pilihan Manusia

JAYAKARTA NEWS—  Dalam folklore lokal Jawa dan Sunda, sosok makhluk  besar berbadan ijo (hijau) adalah penjaga dan pembawa petaka.

Film berjudul ‘Penunggu Rumah Buto Ijo’ yang disutradarai Achmad Romie, meski  berpijak pada konsep cerita rakyat klasik, tapi dibuat reinterpretasi baru tentang Buto Ijo.

Datang dengan ancaman mengerikan, dan Buto Ijo ditafsirkan adalah simbol keserakahan dan konsekuensi dari pilihan manusia serta meninggalkan kesan emosional.

“Film yang akan dirilis 15 Januari 2025 ini dibuat dengan sentuhan baru yang lebih kelam, modern dan penuh misteri,” kata Gandhi Fernando sebagai produser, penulis cerita dan aktor utama.

Celine Evangelista sebagai Srini (foto creator)

Awalnya, mbok Srini (Celine Evangelista) diteror dan ketakutan oleh sosok Buto Ijo.

Seperti mimpi buruk dan imajinasi yang tak masuk akal, Buto Ijo selalu hadir menghantui.

Menagih janji kepada mbok Srini ihwal puterinya yang bernama Timun Emas (Meryem Hasanah) yang berusia 6 tahun untuk diserahkan kepada dirinya.

Ini adalah perjanjian antara Srini yang janda dan Buto Ijo.

Srini lalu minta bantuan kepada Ali, mantan kekasihnya yang kini bekerja sebagai konten kreator khusus horor.

Bersama adiknya, Lana (Valerie Thomas) Ali kemudian mencari tahu ihwal Buto Ijo.

Gandhi Fernando optimistis film proyek barunya ini akan sukses ditonton banyak orang karena kisahnya diadaptasi dari folklore terkenal yang disukai masyarakat.

Gandhi Fernando sebagai produser, penulis cerita dan aktor (foto maxstream)

Dari segi visual, film ini bersetting rumah sebagai pusat teror dengan tata cahaya yang elok dan disain suara yang sangat intens.

“Tonton saja nanti. Ada jumpscare di ending yang menjadi andalan dan kunci cerita ini,” janji Gandhi Fernando.

Produksi kolaborasi Creator Media, Maxstream Studios, Serujuga Films dan Vibe ini juga dimeriahkan sederet pemeran lain yaitu Adnan Djani, Arie Dwi Andika dan Pratito Wibowo.

Kehadiran Ardina Rasti yang melantunkan lagu ‘Suatu Hari Kamu akan Mengerti’ yang jadi OST  menghangatkan kengerian film Penunggu Rumah Buto Ijo (pik)

Avatar: Fire and Ash Raup Rp12,7 Triliun dalam Minggu Kedua

JAYAKARTA NEWS— Satu gebrakan besar dilakukan distributor film Avatar 3 alias ‘Avatar: Fire and Ash’ (Api dan Abu) menutup Tahun 2025. Avatar yang berarti perwujuduan atau reinkarnasi dalam minggu ke dua Desember 2025 berhasil mengumpulkan USD 760 juta atau Rp12,7 triliun dari pasar Global.

Dan hampir pasti, hingga memasuki awal tahun 2026, Avatar akan meraup USD1 milyar perolehan dari tiket seluruh dunia.

Dan sutradara James Cameron yang aslinya berasal dari Kanada bakal menjadi miliader.

Khusus di Indonesia, penonton masih memadati gedung bioskop. Bahkan, di kawasan Senayan, 7 layar bioskop XXI didominasi Avatar yang dikurasi LSF untuk 13 tahun ke atas.

Diproduksi Lightstorm Entertainment dan distributor oleh 20th Century Fox, film waralaba Avatar yang berlokasi di Selandia Baru ini disutradarai James Cameron yang juga bertindak sebagai penulis cerita, produser (bersama John Landau) dan editor.

James Cameron mengumpulkan US $ 760 juta (foto century)

Skenario ditulis James Cameron, Rick Jaffa dan Amanda Siner. Sinematografer ditangani Russell Carpenter dan musik digubah apik oleh Simon Franglen.

Pemeran bejibun yaitu Sam Worthington, Zoe Saldana, Sigourney Weaver, Stephen Lang, Kate Winslet, Joe David Moore, Eddie Falco, Cch Pounder, Giovanni Ribisi, Brendon Cowell, Cliff Curtis, Cona Chaplin dan masih banyak lagi.

James Cameron sudah mempertimbangkan sekuel 4 n 5 berjudul ‘Avatar : The Seed Bearer’.

Bergenre fiksi ilmiah, film Avatar seri ke tiga ini hampir seluruh adegannya di bawah air. Ini sebuah prestasi luar biasa  plus efek visual yang maha dahsyat.

Boleh dikata, Avatar 3 ini lebih bersahabat bagi penonton, lebih berani dan mudah dipahami, lebih bervariasi dengan tokoh seabrek, pemilihan warna yang kontras dan lebih memanjakan mata.

Berdurasi 3 jam 11 menit, Avatar memiliki identitas khas : adegan aksi dan ritme yang ciamik dan pas.

Kali ini, kemunculan tokoh antagonis yang sesama Avatar memberikan nilai tambah.

Dengan kata lain, di Avatar 3 ini  plot bergeser dan tak ada konflik dengan manusia  tetapi benturan terjadi diantara mereka, bangsa Na’vi  di Pandora yang bermata biru.

Kisah di Avatar 3 meneruskan kisah perjalanan keluarga Jake Sully dan Neytiri di Pandora (bulan fiktif).

Adegan film Avatar (foto century)

Suku Na’vi menghadapi ancaman baru dari Klan Api  pimpinan Varang yang keras, kejam dan konfrontatif yang ingin memusnahkan keluarga Jake Sully.

Ini memicu pergolakan baru.

Masalah lain muncul dengan kehadiran Wird Traders alias klan pengembara langit yang hidup nomaden. Klan dan rombongannya menggunakan kapal-kapal udara yang mirip ubur-ubur.

Pertempuran pecah. Suku Na’vi menggunakan ikran yaitu burung serupa naga melawan bangsa langit yang ingin menguasai Pandora.

Sosok dan tokoh lama maupun baru silih berganti muncul dan mudah diingat seperti Tuk, Loak, Aonung, Paylak, Neteyam dan Spider serta banyak lagi yang lain semakin memeriahkan cerita Avatar.

Pesan emosi film ini sampai ke penonton karena inti cerita mudah dipahami dan tak membuat bingung.

Sampai bertemu di dua sekuel Avatar karya James Cameron di tahun-tahun mendatang. (pik)

Musuh Dalam Selimut, Tentang Persahabatan Palsu dan Pengkhianatan

JAYAKARTA NEWS—  Sutradara Hadrah Daeng Ratu tahun ini membuat film lagi. Sukses Sijjin, Makmum dan A Perfect Fit, Hadrah kini siap merilis film bergenre drama thriller psikologis berjudul Musuh dalam Selimut.

Beredar 8 Januari 2026, film ini bertema tentang persahabatan palsu dan pengkhianatan cinta yang datang dari lingkaran dekat dan paling dipercaya.

Rumah tangga Gadis (Yasmin Napper) dan Andika (Arbani Yasiz) awalnya tampak sempurna. Datang Susi (Megan Domani, tetangganya yang dikenal baik dan karib.

Arbani Yasiz sebagai Andika bermain apik (foto narasi)

Gadis mulai menyimpan gelagat curiga atas Susi yang ternyata hanya manis di bibir tapi hatinya jahat. Inilah awal mala petaka yang mulai meretakkan rumah tangga Gadis dan Andika.

Saat Gadis hamil pertama, Susi mulai menggoda dengan rayuan mautnya. Sikapnya melewati batas persahabatan.

Produksi Narasi Semesta dan Unlimited Production ini juga dimeriahkan sederet pemeran lain yaitu Fitri Arsyid, Cakra A, Willem Bevers dan Raden Mas Cemen.

Selain pemeran utamanya Yasmin Napper,  Arbani Yasiz dan Megan Domani.

Hadrah Daeng Ratu ketika syuting dan mengarahkan Yasmin Napper tak kuasa menahan keharuan dan linangan air mata.

“Ini bukan film drama biasa. Saya jamin Musuh dalam Selimut akan menguras emosi penonton di awal tahun,” kata Hadrah yang telah membuat puluhan film beragam genre. (pik)

Suka Duka Tawa: Menertawakan Luka

JAYAKARTA NEWS— Film  pembuka Tahun 2026 – tepatnya 8 Januari 2026 – berjudul ‘Suka Duka Tawa’ bisa menjadi ruang refleksi yang mengajak penonton menertawakan luka-luka yang belum selesai.

Produksi Bion Studios dan Spasi Moving Image dengan kisah drama komedi ini bercerita tentang bagaimana luka bisa diolah lewat komedi.

“Dunia stand up comedy sangat representatif. Film ini mewakili banyak anak yang tumbuh dengan kehilangan sosok ayah alias ‘fatherless’. Harapan saya, film ini membuat penonton tertawa dan terharu di saat bersamaan,” ujar sutradara Aco Tenriyagelli kepada penulis di Plaza Senayan baru-baru ini.

Ini debut film cerita panjang bagi dirinya yang sebelumnya banyak membuat film pendek dan video musik.

Banyak penonton merasa dekat dengan perjalanan Tawa (Rachel Amanda) yang harus menghadapi luka masa kecilnya saat beranjak dewasa.

Relasi orang tua dan anak yang dipenuhi kesalahpahaman, rasa bersalah dan kasih sayang yang sulit dipercaya.

“Film ini mengajak penonton merefleksikan arti memaafkan dan bertumbuh bersama luka yang pernah dialami,” papar Aco Tenriyagelli.

Sementara itu, interaksi Tawa dengan Ibu Cantik (Marissa Anita) dan Keset (Teuku Rifnu Wikana) menghadirkan drama keluarga yang membumi.

Rachel Amanda (foto bion)

Rachel Amanda yang hadir di peluncuran trailer dan poster Suka Duka Tawa menuturkan ia bisa berempati apa yang dialami Tawa tapi juga mencoba memahami posisi ayahnya, Keset.

“Semua karakter membawa emosi yang sangat manusiawi, dari marah, kecewa, dendam sampai ke titik mencoba membuka pintu maaf,” jelas Rachel Amanda.

Chemistry antar pemeran terasa mengalir terutama antara Tawa dan geng stand-up nya : Bintang Emon, Ency Storia, Arif Brtata, dan Gilang Bhaskara.

Kehadiran Abdel Achrian, Nazira C Noer (anak Arifin dan Jajang C Noer) dan Mang Saswi ikut menambah warna komedi dengan pendekatan berbeda.

Sayang aktor Teuku Rifnu  Wikana (aktor terbaik di FFI Manado di film ‘Night Bus’) tak bisa hadir karena ada syuting film lain.

Suka Duka Tawa karya debut Aco Tenriyagelli ini menunjukkan pendewasaan yang kuat sebagai pembuat film (film maker).

Kedekatan Aco dengan musik kembali tercermin lewat soundtrack yang bukan hanya mengiringi tapi menghadirkan pengalaman emosional yang utuh dan kuat. Salah satunya adalah hadirnya kembali karya The Adams di film ini membangun suasana reflektif dan nostalgia sepanjang film.

Last but not least, film ini menggiring penonton terhibur dengan ide-ide segar sutradara selain menangkap pesan menghadirkan pendekatan yang sangat personal lewat gagasan ‘menertawakan luka dengan tawa’. Bravo untuk Aco Tenriyagelli !. (pik)

Para Perasuk ke FF Sundance

JAYAKARTA NEWS— Sebuah langkah baru Indonesia ke panggung dunia. Film produksi Rekata Studio berjudul ‘Para Perasuk’ (judul asingnya ‘Levitating’) akan mewakili RI dalam Festival Film independen Sundance, Amerika Serikat, awal 2026.

Film ini masuk 10 karya untuk kompetisi di World Cinema Dramatic Competition.

Sutradara Wregas Bhanutedja mengatakan, film cerita panjang ke tiga ini – setelah ‘Penyalin Cahaya’ dan ‘Budi Pekerti’ –  bukan bergenre horor.

“Para Perasuk lebih ke film drama lokal,” kata Wregas Bhanutedja dalam acara kick off Para Perasuk di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta, Kamis (11/12).

Idenya tercetus ketika Wregas yang alumni SMA Kolese De Britto Jogjakarta ini kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Saya membayangkan manusia yang kerasukan di dua alam, realitas dan halusinasi,” ujarnya.

Di sebuah desa, ada tradisi kerasukan roh bersama. Ini jadi fenomena unik dan jadi pesta hiburan. Ada warga kerasukan roh Bulus, roh Kerbau, roh Kodok dan roh Semut.

“Ceritanya lokal tapi premisnya enggak biasa. Yah ada di realitas tapi saya masukkan unsur fiksi,” ungkap Wregas yang pernah menyabet award di FF Cannes kategori film pendek. Film karyanya ‘Prenjak’ berdurasi 12 menit berdasar kisah nyata di Jogja ihwal mengintip organ vital pria dan wanita dengan bayaran tertentu.

Para Perasuk dibintangi sederet pemeran terkenal yaitu Angga Yunanda, Bryan Domani, Chicco Kurniawan, Maudy Ayunda dan Anggun.  Anggun yang dikenal sebagai biduanita dan jadi debut berakting di ranah film bioskop.

“Ini pengalamanku main film jadi bu guru Sri. Tapi saya ikut kerasukan. Saya diminta sutradara menciptakan 20 jenis mantra memanggil roh,” urai Anggun yang berwarganegara Jerman, Perancis dan Indonesia, tersenyum.

Lain lagi pengalaman Maudy Ayunda. Ia diharuskan menari roh hewan.

“Ya, saya harus totalitas. Saya jadi Laksmi, pelamun.Wanita desa yang suka rela dirasuki roh,” ucap Maudy.

Lalu Maudy belajar menari pada Siko Setyanto agar gerakan  tarinya tak kaku.

“Lumayan sulit. Bayangkan. Laksmi berakting seolah-olah hilang kesadaran. Ini harus seimbang agar tak tabrakan dengan dialog yang saya ucapkan,” tutur Maudy.

Dan Bryan Domani di film ini wajib memukul perkusi tam tam atau tom tom guna memanggil roh.

“Belum dipukul saya sudah keberatan. Saya panggul di atas perut lalu saya gebuk itu tam tam. Irama dan biramanya harus beriring harmonis. Ditambah lagi saya juga di scene lain meniup seruling Jawa kayak tukang sihir dari India memanggil ular kobra,” cerita Bryan Domani terpingkal.

Satu hal pasti. Semua pemeran melakukannya dengan intens dan disiplin. Wregas merasakan kerasukan tak harus mata berbalik-balik dan kemerahan. Kerasukan hal wajar dan semacam pesta adat di desa yang menghibur.

“Saya apresiasi. Meski saya harus menurunkan ego demi meningkatkan kualitas foto dan penghematan bujet,” aku Wregas.

Maklum, saat syuting Wregas ingin 300 penari dan syuting di Studio. Tapi ini batal dan lokasi dipindah ke gudang tak terawat di Taman Siswa Jogjakarta.

Walhasil, Para Perasuk yang akan beredar di tahun 2026 di Tanah Air adalah sekeping wajah masa depan sinema Indonesia yang tumbuh dari cerita dan identitas sejarah bangsa sendiri.

Dan film bukan hanya sekedar produk industri tapi medan tempur ide, nilai dan masa depan kebudayaan.

Maju terus Wregas Bhanutedja ! (pik)