Drone di Bukit Cinta: Mengungkap Keindahan Alam yang Tersembunyi

JANJI MARTAHAN, JAYAKARTA NEWS – Kawasan Danau Toba di wilayah Kabupaten Samosir memiliki aneka ragam destinasi wisata alam yang masih original-alami. Spot terindah dan menarik tidaknya di destinasi wisata itu, tergantung sudut mata memandang, mood dan selera masing-masing wisatawan.

Di era serba digital dewasa ini, kordinat-kordinat tujuan wisata terpencil sekalipun di wilayah Kabupaten Samosir, setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir satu persatu spot dapat di explore keberadaannya melalui jepretan gadget, bahkan bisa viral.

Kecamatan Harian adalah satu dari sembilan kecamatan di Kabupaten Samosir, yakni Kecamatan Sianjur Mulamula, Pangururan, Palipi, Nainggolan, Sitiotio, Simanindo, Ronggur Nihuta dan Kecamatan Onan Runggu. Perbukitan mengitari keberadaan sembilan kecamatan itu, terletak di pinggiran dan diantara kawasan Danau Toba. Di tiap kecamatan, diakui memiliki potensi destinasi wisata yang khas dan bervariasi.

Dari kiri Linggom Sitanggang, Jani Situmorang (menggunakan topi dan kaca mata) Beny Situmorang (pakai topi) , Mangoloi Habeahan dan Maruli Sagala. (Foto. Monang Sitohang)

Dalam tiga tahun belakangan, di Kecamatan Harian Boho, ada lima objek wisata yang lagi booming, yakni, Menara Pandang Tele, Air Terjun Efrata/water fall, Bukit Sibeabea, Bukit Cinta dan Bukit Holbung. Diantara empat objek wisata, Bukit Cinta adalah terakhir booming.

Dengan dukungan teknologi digital, seperti penyewaan drone, Bukit Cinta bisa lebih menarik bagi wisatawan. Generasi muda lokal bisa berperan penting dalam mempromosikan destinasi ini lewat media sosial dan konten kreatif, menampilkan keindahan Bukit Cinta dari perspektif yang unik. Ini akan membantu meningkatkan nilai jual dan menarik lebih banyak pengunjung.

Penyediaan drone di Bukit Cinta kemungkinannya dapat menjadi nilai tambah, meskipun tak punya nilai jual eksklusif. Menurut sejumlah pengunjung, Bukit Cinta punya spot-spot tertentu yang tak sama dengan di Bukit Sibeabea dan Bukit Holbung. Keindahan panorama alam sekitarnya akan lebih menarik bila diabadikan lewat drone.

Melalui tangan terampil seorang pilot drone  memainkan remote control akan dapat  menjangkau panorama indah Danau Toba dan lekukan-lekukan perbukitan sekitarnya serta perbukitan yang berada di kejauhan mata memandang terekam jelas dalam video, dan hasil foto mirip persis seperti aslinya.

Dengan fasilitas drone yang disewakan, kata pengelola Bukit Cinta, menjadi salah satu daya tarik bagi sejumlah pengunjung. Biaya sewa drone terjangkau, hasil rekaman dalam video serta foto cukup eksklusif. Beberapa pengunjung yang berwisata mengaku merasa puas karena mendapatkan spot-spot yang ideal. “Keluar uang lebih tak merasa rugi, berwisata ke Bukit Cinta terasa seakan sempurna,”ujar seorang pengunjung perempuan.

Jani Situmorang saat bersama Boy William pengunjung di Bukit Cinta. (Foto. Istimewa)

Pesawat drone tanpa awak itu membuktikan bahwa di Bukit Cinta tak ada spot-spot tersembunyi, semua titik berpose sesuai keinginan wisatawan dapat terjangkau dan terekam atas kecanggihan teknologi drone tersebut.

Penggiat Wisata Drone

Baling-baling mirip helikopter adalah bagian onderdil yang dirancang mampu untuk menerbangkan drone, dan drone wisata bisa terbang mencapai ketinggian ratusan meter atau tidak melebihi batas ketentuan terbang drone.

Tak sedikit pebisnis di sektor pariwisata mendayagunakan drone sebagai alat perekam yang mampu menghasilkan foto-foto dan video eksklusif pada objek-objek tujuan wisata, terlebih objek wisata alam seperti Bukit Cinta. Angle-angle unik dan menarik suatu objek wisata hanya dapat dikerjakan tenaga profesional seorang pilot drone, dan itu akan menentukan kualitas hasil rekam atau kualitas hasil potretan.

Linggom Sitanggang (26) warga Desa Janji Martahan sebagai pengiat pariwisata di Bukit Cinta, mengatakan kepada awak media ini, Jumat (25/4/2025) bahwa kehadiran jasa drone membawa perubahan signifikan bagi destinasi wisata tersebut.

Linggom menjelaskan bahwa tugasnya adalah menyambut pengunjung yang masuk ke kawasan Bukit Cinta dan menawarkan jasa drone. Ia menawarkan beberapa paket, seperti Drone DJI Mavic 3 pro, dengan harga yang bervariasi, seperti Rp. 400.000 untuk 1 video dan 2 foto, Rp. 1.000.000 untuk 3 video dan 3 foto, dan Rp. 1.200.000 untuk 4 video dan 4 foto.

“Ternyata pengunjung yang barusan saja saya tawarkan itu memilih paket Rp. 1.200.000, namun meminta ada penambahan foto dan video,” jelas Linggom.

Kemudian Jani Situmorang, pengelola Bukit Cinta, mengatakan bahwa lokasi ini mulai ramai dikunjungi dalam 3 bulan terakhir, terutama oleh wisatawan yang menggunakan drone untuk mengabadikan pemandangan indah Danau Toba dari ketinggian. Pengunjung dapat dengan bebas menerbangkan drone nya tanpa dikutip biaya, cukup membayar biaya parkir, mobil Rp.30.000, sepeda motor Rp.10.000.

“Bukit Cinta kini dikenal sebagai destinasi wisata drone, dengan banyak pengunjung yang datang menggunakan drone untuk mengabadikan keindahan alam sekitar. Selain itu, Bukit Cinta juga menawarkan jasa drone lengkap dengan pilot handal untuk memberikan pengalaman unik menikmati pemandangan alam yang spektakuler,”kata Jani Situmorang, saat ditemui di pos pintu masuk Bukit Cinta.

Lanjut Jani lagi, Bukit Cinta ini mulai ramainya itu pada bulan Januari dan Imlek lalu, saat kawasan destinasi di Kecamatan Harian Boho tamunya membludak mulai di Menara Pandang Tele, Bukit Sibea-bea dan Bukit Holbung hingga macet, situasi itu berdampak ke Bukit Cinta hingga kini.

Rombongan Boy William saat berkunjung di Bukit Cinta. (Foto. Screenshot dok Jani Situmorang)

“Seperti hari ini, kita kedatangan pengunjung Boy William, tentu sebagai pengelola kita senang dan bangga Bukit Cinta dikunjungi artis DKI, dan sempat mengajaknya berfoto bersama. Selain itu beberapa konten creator yang sukses. Dan tamu disini juga datang dari berbagai negara, Malaysia, Thailand, Mancanegara serta daerah-daerah sekitar sumatera,” tutur ayah tiga orang anak itu.

Paket Drone di Bukit Cinta

Jadi destinasi wisata Bukit Cinta yang saat ini dikenal dengan wisata drone. Walaupun ada juga pengunjung datang membawa drone, tetap di Bukit Cinta menyediakan jasa sewa drone dengan pilot yang handal untuk mengoperasikan pesawat tanpa awak itu. Usaha jasa drone ini milik Maruli Sagala dan Mangoloi Habeahan.

Kedua bekerjasama untuk membuat usaha ini, dan masing-masing memiliki peran yang  satu sebagai pengendali (pilot) drone Mangoloi Habeahan, sedangkan sebagai pengarah gerak penguna jasa drone dilakukan oleh Maruli Sagala. Tujuannya agar pada saat pengambilan foto dan video dapat menghasilkan hasil yang optimal dan sesuai dengan keinginan pelanggan.

Seperti dikatakan Nina dan suaminya, saat  menggunakan jasa drone di Bukit Cinta. Nina mengatakan sangat puas dan hasilnya juga keren dan bagus.

Cara kerja pelaku jasa drone di Bukit Cinta ini layak diapresiasi, kata Nina, sebab kita dipandu terlebih dahulu, pertama diarahkan naik ke bukit oleh salah satu dari mereka, kemudian  diajarkan beberapa gerakan dan pose sebelum diabadikan foto dan vidionya.

“Perhatikan langkahnya ya, pegang tangannya, maju santai, kemudian nanti berputar tangan tetap pegangan, lalu berputar lepas tangan kanan pasangannya. Setelah itu, lihat ke depan dan lambaikan tangan satu, kemudian kedua tangan,” ujar Nina menirukan instruksi dari pemandu jasa drone.

Melalui lensa drone, setiap sudut panorama Bukit Cinta tampil dalam kemegahan yang memukau, menghadirkan kenangan indah yang tak pernah pudar, kata Nina.

Sekadar informasi, ada dua paket drone di Bukit Cinta, yaitu 1 vidio ditambah 2 foto Rp.200.000, 3 vidio ditambah 3 foto Rp.300.000, 4 vidio plus 5 foto drone Rp.500.000, paket Ini menggunakan drone DJI Mini 3 dan paket drone DJI Mavic 3 pro, 1 vidio, 2 foto Rp.400.000, 3 vidio, 3 foto Rp. 1.000.000 dan 4 vidio 4 foto drone Rp.1.200.000. (Monang Sitohang)

‘Waterfront City’ Pangururan, Perpaduan Teknologi dengan Panorama Alam Sekitar

PANGURURAN, JAYAKARTA NEWS – Setahun belakangan ini, Pangururan Ibukota Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut) viral dengan kehadiran sebuah pertunjukan berupa atraksi lenggak lenggok tarian air mancur,  kerennya disebut ‘waterfront city’. ‘

Atraksi itu berhasil “menghipnotis” para pengunjung dari berbagai daerah, termasuk masyarakat di sekitar kawasan Danau Toba.

Terbilang masih baru, waterfront city menjadi bagian destinasi wisata, menambah warna pengalaman baru berwisata bagi wisatawan di Samosir. Panorama Danau Toba mengelilingi waterfront city.

Mungkin itu pula salah satu daya tarik bagi pengunjung ingin melihat langsung ragam warna sinar penerang pada air mancur yang berkilauan silih berganti memancarkan cahaya terang dan redup tertata secara teknologi menjadikan waterfront city gegap gempita di malam hari. 

Letak lokasi waterfront city relatif dekat dengan Jembatan Tano Ponggol arah menuju Kota Pangururan. Jarak tempunh sekitar 15 menit dari Jembatan Tano Ponggol menuju ke waterfront city.

Akses masuk ke Pangururan ada dua pilihan, melalui  transportasi darat dan transportasi air atau angkutan penyeberangan. Jika melalui Parapat, pengunjung bisa menyeberang ke Pulau Samosir menggunakan kapal ferry. Sedangkan jalan darat dari Medan bisa melalui jalur Kabanjahe, Dairi menuju Menara Pandang Tele sampai Jembatan Tano Ponggol lalu masuk Pangururan.

Atraksi waterfront city ini, telah banyak tersebar atau beredar di sejumlah media online, media sosial dan media lainnya. Sehingga, bisa dikatakan kehadiran waterfront city ini menjadikan wajah baru destinasi wisata Pangururan. Dan kawasannya berada di garis pantai Teluk Aeknatio, yang jalurnya sepanjang 1.5 km, itu menyajikan berbagai spot wisata. 

Waterfront City Pangururan menawarkan kombinasi sempurna antara pertunjukan air mancur menari diiringi dengan musik Batak, pertunjukan seni dan budaya, keindahan alam, fasilitas yang nyaman, dan berbagai aktivitas rekreasi. 

Bahkan di pagi hari dapat menikmati keindahan matahari terbit dan terbenam di tepi danau, bagi yang ingin menjelajahi budaya Batak, hingga mencicipi kuliner khas setempat juga dapat dilakukan.

Setiap pengunjung pasti menemukan sesuatu yang istimewa di sini. Suasana yang damai dan pemandangan alam yang memukau membuat tempat ini menjadi pilihan utama untuk melepaskan kepenatan dari kesibukan sehari-hari.

(Foto: Monang Sitohang)

Jam Atraksi

Atraksi air mancur menari ini sangat dinanti oleh pengunjung, selain atraksi air pengunjung juga akan disuguhkan videotron yang menampilkan sejarah Danau Toba dan suku Batak lainnya. Jika beruntung, pengunjung dapat menyaksikan penampilan sanggar tari yang menampilkan kisah-kisah Batak.

Air mancur menari atau dalam bahasa batak bisa disebut aek manortor, atraksi ini bisa disaksikan pada malam hari, itu pun tidak tiap malam dibuka, melainkan di Jumat, Sabtu dan Minggu malam. 

“30 menit sekali show/sesi, misalkan Jumat malam satu sesi, Sabtu malam dua sesi dan Minggu malam satu sesi. Sesi pertama Pukul 19.00 WIB, sedangkan sesi kedua Pukul 21.00 WIB kadang bisa berubah juga. Seperti Rabu malam (19/6) seharusnya tidak ada show, tapi permintaan iklan ada dan ketepatan ramai pengunjung jadi permintaan kita akomodir,” ujar Staff Disbudpar Samosir malam itu. 

Kemudian dengan ramahnya, Staff Disbudpar Samosir itu menjelas lagi, “Jadi yang dimaksud dengan iklan dalam show air mancur menari ini, adalah apabila pengunjung datang membuat permintaan untuk memberikan surprise dengan menyampaikan ucapan ulang tahun, misalkan kepada anak, keluarga dan lainnya. Itu dikenakan Rp. 100 ribu dan diputar selama 30 detik,”.

Hal tersebut juga dikatakan salah seorang pengunjung pada Rabu (19/6) malam.”Sebenarnya malam ini tidak ada jadwal buka waterfront city, tapi karena ada permintaan iklan berulang tahun dan pengunjung pas ramai maka dibuka,” kata Ratna warga Pekan Baru, yang sedang berlibur ke Desa Janjimartahan, Kecamatan Harian Boho. 

Pengunjung berikutnya yang datang dari Kota Medan, Rabiatul mengatakan atraksi air mancur menari ini sangat bagus, cukup menarik dan menghibur. “Saya sebagai pengunjung yang datang dari Medan, sangat senang melihat atraksi air mancur menari ini, dan pengunjung yang lain juga sangat antusias menikmati hiburan ini dengan mengabadikan melalui HP masing-masing,” ujar Rabiatul yang sudah berkali-kali berkunjung ke Kabupaten Samosir. 

Begitu juga salah seorang pengunjung dari Kota Medan Nina Sari Siregar mengatakan bahwa April lalu berkunjung ke waterfront city Pangururan, dan ikut menyaksikan atraksi air mancur menari.

“Pangururan sangat luar biasa perkembangannya, atraksi sangat membuat kagum. Saya bilang luar biasa karena dari kecil sudah bolak-balik ke Pangururan, sebab opung saya rumahnya hanya berjarak 1,1 km dari waterfront city,” jelas Nina, Senin (8/7) melalui messenger Facebook. 

Sebelum viral seperti saat ini, kawasan waterfront city dikenal dengan Ancolnya Samosir, tapi saat ini sudah jauh lebih keren, cakep buat berswafoto, retribusi masuknya juga ekonomis, bagi yang memiliki KTP Samosir 5 ribu sedangkan pengunjung dari luar 10 ribu. Keberadaan wahana ini tentu membawa keberuntungan, sebagai penambah mata pencarian buat warga lokal, ujar Nina. (Monang Sitohang) 

DKP Provsu Tabur Benih Ikan di Kawasan Danau Toba

JAYAKARTA NEWS – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) bersama DKP Kabupaten, anggota DPRD Sumut dari Komisi B, camat, kades, pemuka masyarakat, nelayan dan lainnya melakukan tabur benih ikan di kawasan Danau Toba beberapa hari lalu. 

“Ada 5 kabupaten di kawasan Danau Toba yang kita tabur benih ikan. Yakni, Simalungun, Dairi, Humbang, Taput dan Samosir. Sebanyak 80 ribu ekor dan per-kabupaten. Totalnya 400 ribu ekor benih ikan nila,”ujar Kabid Perikanan Tangkap DKP Provsu, Yuliani Siregar melalui WhatsApp nya, Rabu (14/12) saat mewakili Kadis DKP Sumut, Mulyadi Simatupang.

Dilanjut Yuliani, kegiatan rutin ini murni dilakukan oleh DKP untuk menambah pertumbuhan ikan nila, juga untuk mengimbangi pertumbuhan ikan predator red devil atau disebut Oscar yang belakangan ini diketahui ada di Danau Toba.

Kadis DKP Sumut, Mulyadi Simatupang diwakili oleh Kabid Perikanan Tangkap DKP Provsu, Yuliani Siregar bersama anggota Fraksi PDI Perjuangan DPRD Sumut, Pantur Banjarnahor dan lainnya saat tabur benih ikan di Desa Tipang, Kabupaten Humbang. (Foto. Ist)

Seperti dikutip dari CNN Indonesia beberapa bulan lalu bahwa ikan red devil (Amphilophus Labiatus) ini berasal dari wilayah Amerika Tengah dan sebagian dari Asia. Awalnya ikan ini masuk ke Indonesia sebagai ikan hias yang dijual dengan harga terbilang cukup mahal.

Dalam Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia, Balai Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia disebutkan bahwa red devil ini merupakan jenis ikan yang sangat rakus, sehingga bisa mengganggu atau merusak kehidupan ikan lain di suatu perairan.

Maka dari itu DKP dan pihak terkait mengambil langkah-langkah yang akan dilakukan untuk mengurangi perkembangan ikan tersebut, antara lain akan melakukan lomba menangkap ikan red devil, kemudian mencari alternatif pengolahan ikan red devil untuk pakan lalu melakukan penelitian-penelitian dan restoking.

Acara tabur benih ikan oleh DKP Provsu ini disambut baik oleh masyarakat setempat dan perangkat daerah sekawasan kabupaten Danau Toba.

“Bahkan disambut dengan tarian Tor-tor di Kecamatan Bakti Raja oleh anak-anak Sekolah Dasar. Semoga tabur benih ini bermanfaat sehingga dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyat di kawasan Danau Toba demi mewujudkan Sumatera Utara yang bermartabat,”ujar Kabid Perikanan Tangkap DKP Provsu, Yuliani Siregar yang mewakili Kadis DKP Sumut. (Monang Sitohang)