Puisi, Geguritan, dan Cerkak Sastra Bulan Purnama

JAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Mengawali tahun 2024, Sastra Bulan Purnama akan diisi tiga buku sastra, satu buku kumpulan puisi dan skesta karya Eros Sudardjono (Jombang), dan dua buku lainnya kumpulan geguritan dan cerkak (cerita cekak), atau cerita pendek yang ditulis menggunakan bahasa Jawa, dan ditulis perempuan anggota komunitas Rinonce.

Pertunjukkan Sastra Bulan Purnama edisi 148 diselenggarakan Sabtu, 27 Januari 2024, pkl. 15.30 di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta.

Selain pertunjukan, pada hari dan tanggal berbeda, yaitu, Rabu 24 Januari 2024 di tempat yang sama, Obrolan Sastra Bulan Purnama seri 8 akan membahas buku ‘Yogyaku, Yogya Kita, Indonesia’ karya beberapa anggota Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta, dengan pembicara Idham Samawi, anggora DPR RI Fraksi PDI dan Sutirman Eka Ardhana, wartawan dan penyair.

Mereka dipilih karena merupakan penulis buku sekaligus anggota Paguyuban Wartawan Sepuh. Diskusi kali SBP bersibergi denngan Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS),” ujar Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama, sekaligus penanggung jawab Obrolan SBP.

Sementara peluncuran 3 buku, yang yang merupakan Kumpulan Cerkak, Kumpulan Puisi dan Sketsa Puisi di  Sastra Bulan Purnama  bersinergi dengan Komunitas Melati Rinonce, yang anggotanya perempuan penulis yang tinggal di wilayah tiga propinsi Jawa Tengah, DIY dan Jawa Timur.

Yanti S. Sastro Prayitno menjelaskan, Melati Rinonce merupakan komunitas perempuan pecinta bahasa dan sastra Jawa yang berdiri 5 Februari 2022. Komunitas ini digagas oleh beberapa penulis yang pernah terlibat dalam penulisan buku geguritan Wanodya, di antaranya: Ninuk Retno Raras, Windu Setyaningsih, Endang Wahyuningsih, Yanti S. Sastro.

“Dengan niat awal mempererat persaudaraan yang sudah terjalin lewat Wanodya, melalui kegiatan menulis sastra Jawa maka disepakati membentuk komunitas Melati Rinonce, yang diambil dari salah satu tembang ciptaan Sang Maestro Ki Narto Sabdo. Tujuannya melestarikan (nguri-uri) dan mengembangkan bahasa dan Sastra Jawa. Komunitas ini bersifat terbuka, independen dan mandiri. Perempuan dari segala usia, latar belakang pendidikan, di manapun berada, asal berkeinginan untuk belajar menulis dalam bahasa Jawa bisa menjadi anggota,” kata Yanti S. Sastro Prayitno.

Beberapa nama yang akan hadir membacakan karyanya di Sastra Bulan Purnama di antaranya, Sriyanti S. Sastro Prayitno (Semarang), Windu Setyaningsih (Purbalingga), Ninuk Retno Raras (Yogyakarta), Endang Wahyuningsih (Yogyakarta), Ardini Pangastuti (Yogyakarta), Rachmani Susiatty (Purbalingga), Lelly Faizatillah (Purbalingga), Anastasia Sri KS (Purbalingga), Novi Indrastuti (Yogyakarta), Cicit Kaswami (Yogyakarta), Ami Simatupang (Yogyakarta), Suprihatin (Yogyakarta), Suratmini (Salatiga), Anastasia Sunu Murwani (Sragen), Widharningsih (Semarang), Liliek Budiastuti Wiratmo (Semarang), Yuli Purwati (Magelang), Nurrohmah PM (Nganjuk).

Ons Untoro, selaku koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, di tahun 2024 selain memberi ruang untuk para sastrawan di Indonesia mengisi di SBP, akan coba melakukan apa yang disebut sebagai silaturahmi sastra dalam bentuk kunjungan sastra di rumah sastrawan, yang tinggal di Yogya maupun di kota lain, untuk saling bertemu dan belajar.

“Proses belajar menulis tidak pernah berhenti, oleh karena itu diperlukan silaturahmi untuk saling belajar bersama,” ujar Ons Untoro. (pr)

Ada Bulan di Pohon Trembesi

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – “Bulan di Pohon Trembesi” adalah judul buku kumpulan cerpen karya 11 perempuan cerpenis. Cerpen-cerpen dalam buku itulah yang akan menjadi konten Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi ke-147, Jumat, 15 Desember 2023.

Acara yang digelar mulai pukul 15.00 itu, bertempat di Balai Bahasa Yogyakarta, Jl. I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru, Yogyakarta. Balai Bahasa Yogyakarta adalah lembaga pemerintah yang peduli pada pengembangan literasi.

Belakangan ini, SBP bersinergi dengan beberapa lembaga, di antaranya Akademi Komunitas Negeri Yogyakarta, Museum Sandi Yogyakarta, Sekolah Tinggi Pengembangan Masyarakat Desa ‘APMD’ Yogyakarta, Balai Bahasa Yogyakarta, dan Komunitas Sanggaragam.

“Sepanjang tahun 2023, dan diteruskan tahun berikutnya, Sastra Bulan Purnama akan melakukan sinergi dengan berbagai pihak. Tentu, lembaga-lembaga yang telah melakukan sinergi akan terus dijaga,” ujar Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama.

Sedang Dwi Pratiwi, Kepala Balai Bahasa Yogyakarta mengatakan, Balai Bahasa sudah lama mempunyai kegiatan sastra Indonesia. Untuk kali ini, ia bersinergi dengan Sastra Bulan Purnama, yang sudah 12 tahun diselenggrakan secara rutin setiap bulan.

“Selain pertunjukkan sastra, sinergi yang sudah dilakukan dengan SBP ialah ‘Obrolan SBP’, yang setiap bulan membuka bincang-bincang sastra dan sudah memasuki putaran ke-7,” ujar Dwi Pratiwi.

Tema Perempuan

Penulis cerpen dalam buku ini tidak hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan ada yang tinggal di luar Yogya. Di antaranya Antarini Arna, Lies Wijayanti (Jakarta), Sriyanti Sastro Prayitno (Semarang). Sedangkan, delapan penulis lainnya dari Yogya. Mereka adalah Ninuk Retno Raras, Dwi Pratiwi, Yuliani Kumudaswari, Umi Kulsum, Savitri Damayanti, Margerteh Widhy Pratiwi, Tri Wahyuni, Ika Zardi Zaliha.

Semua cerpen menggarap tema perempuan dan ditulis oleh perempuan. Tidak semua menulis menyangkut dirinya sendiri. Ada juga yang mengangkat kisah nyata. Cerpen merupakan karya fiksi, sehingga meskipun ditulis dari kisah nyata, ia tetap sebagai karya fiksi, karena selalu diberi dimensi lain, sehingga kisah nyata terasa hidup.

“Sastra Bulan Purnama sebagai ruang pertunjukkan tidak hanya diisi pembacaan puisi, tetapi terbuka pembacaan cerpen dan cerkak, cerita pendek yang ditulis menggunakan bahasa Jawa, pertunjukkan musik puisi dan lainnya,” kata Ons Untoro

Sepanjang tahun 2023, Sastra Bulan Purnama bersama penerbit Tonggak Pustaka, setiap bulan menerbitkan satu buku puisi dan diluncurkan di Sastra Bulan purnama, termasuk untuk mengisi acara Obrolan SBP, yang diselenggarakan setiap jumat minggu pertama di Balai Bahasa Yogyakarta. (pr)

Puluhan Penyair “Pulang ke Kampung Nenek”

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Tak kurang dari 66 penyair berbagai kota di Indonesia, menulis puisi dengan tema desa. Kumpulan puisi itu kemudian diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul “Pulang ke Kampung Nenek”.

Antologi puisi itulah yang menjadi tema sentral Sastra Bulan Purnama edisi ke-146, pada hari Sabtu, 18 November 2023. Acara digelar mulai pukul 15.00 di Kampus STPMD “APMD”, Jl. Timoho, Baciro, Yogyakarta. Tajuk acaranya “Bulan Purnama di Desa Timoho”.

Dr Sutoro Eko, Ketua STPMD “APMD” mengatakan, para sahabat penyair bukan hanya membentuk masyarakat puisi yang selalu hidup, tetapi juga melakukan perjumpaan dengan desa dan kampus. Utamanya Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa “APMD”.

Perjumpaan adalah bentuk connecting people yang penting untuk merajut dan mempertahankan tradisi agung masyarakat (society), di tengah arus kuasa modernisme, digitalisme, dan milenialisme. Sebuah nilai dan tatanan baru yang ada kalanya membentuk kolonisasi ruang publik sekaligus menciptakan kabut tebal kedaulatan. 

“Perjumpaan antara puisi dan desa pasti menghadirkan kesan romantisme yang menampilkan keindahan desa. Berbeda dengan frasa ‘kebodohan kehidupan desa’ yang ditulis Karl Marx, untuk menandai moda produksi Asiatik. Frasa keindahan desa adalah ekspresi tradisi Asia, sebagaimana dihadirkan oleh Kaisar Meiji ketika dia melancarkan restorasi Jepang yang mengambil kembali budaya, tradisi dan nilai dari desa,” papar Sutoro Eko yang pernah menjadi salah satu Tim Ahli pembentukan UU Desa itu.

Rini Intama (Tangerang), Nia Samsihono (Jakarta), Sri Surya Widati (Yogyakarta).

Para Penyair

Nama-nama penyair kondang akan hadir. Tak hanya hadir, tetapi juga membacakan puisi. Mereka antara lain Nia Samsihono (Jakarta), Rini Intama (Tangerang), dan Bambang Widiatmoko (Bekasi).

Berikutnya, ada nama penyair Yonas Suharyono (Cilacap), Gunoto Sapari (Semarang), Selsa (Temanggung), Wicahyanti (Magelang), Dimas Indiana Senja (Purwokerto), dan Sus S. Harjono (Sragen). Dari Jawa Timur ada nama-nama seperti Arieyoko (Bojonegoro), Matroni Muserang (Sumenep), Tjahjono Widarmanto (Ngawi), dan Suyitno Ethex (Mojokerto).

Dari Yogyakarta, hadir penyair Afnan Malay, Sutirman Eka Ardhana, Masduki Atamimi, Marjuddin, Marwanto, Yuliani Kumudaswari, Mustowa W. Hasyim, Eko Winardi, Salama Elmie, Fauzi Absal (Yogyakarta), dan sejumlah nama lain.

Yuditeha, penyair dari Karanganyar akan menggarap puisinya menjadi lagu. Sementara puisi Joshua Igho akan dinyanyikan oleh Sashmytha Wulandari, diiringi permainan keybord oleh Joshua Igho.

Selain para penyair yang akan tampil, akan ada pembaca tamu Sri Surya Widati. Dia adalah Bupati Bantul Periode 2010-2015. Penampilannya akan diiringi permainan musik Doni Onfire bersama grupnya ‘Selamat Sampai Tujuan’.

Yang menarik, di antara nama penyair yang hadir, terdapat alumni STPMD “APMD”. Selain aktif sebagai penyair, ada yang berprofesi sebagai wartawan. Ada juga yang pernah menjadi anggota KPUD dan sekarang menjadi anggota Bawaslu daerah.

Sastra di Kampus

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, perguruan tinggi memang perlu membuka ruang untuk sastra, Menurutnya, karya sastra mengajak pembacanya untuk berpikir sekaligus mengasah rasa kemanusiaan.  

“STPMD yang memiliki perhatian pembangunan masyarkat desa mempunyai kepekaan untuk mengajak sinergi dengan para penyair. Lebih asyiknya lagi para penyair diminta menulis puisi dengan tema desa, sehingga terdapat banyak puisi yang mengeksplorasi desa,” ujar Ons Untoro.

Joshua Igho, seorang penyair dan sering menggubah puisi menjadi lagu, yang bertindak sebagai kurator mengatakan, beragam ekspresi telah ditorehkan oleh 66 penyair. Penyair, dalam kapasitasnya sebagai manusia otonom, yang terlibat dalam antologi puisi ini, mencoba mengisahkan kembali pengalaman batin mereka tentang desa. Termasuk kehidupan masyarakatnya, tradisi yang berpuluh-puluh tahun dijalani, gambaran lanskap pedesaan, cerita legenda yang beredar, bahkan mitos-mitos yang selama ini diyakini mampu memengaruhi kehidupan sosial masyarakatnya.

“Meski begitu, tak sedikit pula yang mencurahkan kerisauan akan adanya perubahan suasana desa terkini dibanding suasana semasa mereka kanak-kanak. Ada juga ungkapan cinta ala anak desa yang polos, yang belum begitu mendalami makna cinta dan kehidupan,” kata Joshua Igho. (rr)

Silaturahmi Puisi 99 Penyair

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Seperti apakah wujud “silaturahmi puisi”? Ternyata berbentuk buku. Buku berjudul “Silaturahmi Puisi” berisi karya 99 penyair berbagai kota.

Buku itulah yang akan jadi “lakon” pada Sastra Bulan Purnama edisi 145, bulan Oktober 2023. Pada moment 12 tahun usia Sastra Bulan Purnama itu, juga akan diluncurkan satu buku lagi berjudul “Oase di (Tepian) Kota”.

“Bedanya, buku ‘Silaturahmi Puisi’ berisi Kumpulan puisi karya 99 penyair dari berbagai kota di Indonesia. Sedangkan buku ‘Oase di (Tepian) Kota’ berisi Kumpulan esai karya 41 penulis berbagai kota. Mereka adalah yang pernah tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama. Masing-masing menuliskan pengalamannya mengenai Satra Bulan Purnama,” ujar Ons Oentoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama.

Dua buku tersebut diluncurkan Sabtu, 14 Oktober 2023. Dimulai pukul 13.00 yang diisi bincang-bincang mengenai kedua buku tersebut, yang akan diselenggarakan di Balai Bahasa Yogyakarta, Jl. I.Dewa Nyoman Oka No 34, Kotabaru, Yogyakarta. Adapun narasumbernya adalah Simon HT, alumni Filsafat UGM. Ia adalah seorang pemikir kebudayaan. Narasumber lain adalah Matroni Muserang, penyair dan pengajar STKIP PGRI Sumenep. Adapun moderator oleh Indro Suprobo, editor dan penerjemah.

Usai bincang-bincang, dilanjutkan pembacaan puisi karya 99 penyair yang terkumpul dalam buku ‘Silaturahmi Puisi’. Sejumlah penyair akan tampil membacakan puisi karyanya.

Mereka di antaranya: Naning Pranoto, (Jakarta), Adri Darmaji Woko (Depok), Indri Yuswandari, (Blitar). Heru Mugiarso, Sulis Bambang, (Semarang), Suyitno Ethex, (Mojokerto), Selsa, Nella, Dini, Tri Rahayu dan Ika Permata Hati, (Temanggung). Agus Manaji, (Magelang), Dimas Indiana Senja (Banyumas). Yuliani Kumudaswari, Sutirman Eka Ardhana,  Daffa Randai, Ana Ratri, Genthong HSA, Enes Pribadi, Sonia Prabowo, Joshua Igho, Marjuddin Suaeb (Yogyakarta). Serta sejumlah penyair lain.

Sastra Bersinergi

Ons Untoro kali ini melakukan sinergi dengan beberapa lembaga di antaranya Balai Bahasa Yogyakarta, Museum Sandi Yogyakarta. Keduanya di Kotabaru, dan didukung PT.  Luas Birus Utama, yang peduli pada perkembangan literasi.

“Kegiatan literasi, dalam hal ini pertunjukan sastra tidak bisa bergerak sendiri. Perlu sinergi dengan lembaga-lembaga lain untuk menopang agar kegiatan sastra terus berlanjut,” ujar Ons.

Sementara Dr. Drs. Harris Susanto, M.Hum direktur PT. Luas Birus Utama, merasa perlu mendukung  kegiatan pengembangan literasi agarr tidak berhenti, apalagi Sastra Bulan Purnama sudah memsuki 12 tahun.

“Saya kira penting, satu perusahaan menyangga kegiatan pengembangan literasi, agar karya karya sastra terus dipublikasikan,” kata Harris Susanto.

Fathul Wahid, Rektor UII Yogyakarta, yang pernah membaca puisi di Sastra Bulan Purnama menyebutkan, SBP telah menjalani 12 tahun yang penuh makna. Usia ini bisa jadi masih pendek untuk menuntaskan misi mulai bersama di jalan sastrawi yang lengang, tetapi cukup panjang untuk menguji konsistensi.

“Semoga SBP terus menjadi wadah inklusif yang mengakomodasi beragam kalangan penikmat dan pegiat sastra. Dengan dukungan dan partisipasi beragam pihak, SBP dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi positif bagi dunia sastra Tanah Air,” kata Fathul Wahid.

Sementara itu, Fauzi Absal, penyair Yogyakarta mengatakan, barangkali karena Ons bernaluri atau berlatar belakang aktivis di masa Orde Baru yang kemudian berganti haluan menjadi penggerak sastra, maka naluri keaktivisannya sangat mendukung untuk menggapai tujuannya.

“Di tangan dingin Ons, dinamika sastra Yogyakarta menjadi bersemarak dan menginspirasi gerakan sastra di batin masyarakat” ujar Fauzi Absal. (pr)

“Tukang Cukur Tuan Presiden”

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Buku puisi berjudul ‘Tukang Cukur Tuan Presiden’ karya penyair-aktivis Afnan Malay segera meluncur. Acara peluncuran dibarengkan momentum Sastra Bulan Purnama edisi 144, Jumat, 22 September 2023, Pkl. 15.00, di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.

Puisi-puisi Afnan Malay, selain akan dibacakan oleh penyairnya sendiri, juga akan dibacakan beberapa penyair Yogya. Di antaranya Hamdy Salad, Heru Marwata, Wahjudi Daja, dan juga seorang kurator seni rupa, yang ketika masih mahasiswa tahun 1980-an sering menulis puisi, ialah Suwarno Wisetrotomo.

Selain itu ada perupa Meuz Prast dan Waty Respati, yang rajin pameran, masing-masing akan membacakan dua puisi. Meuz Prast membacakan puisi berjudul ‘Rahasia’ dan Pemotong Kue’, Watie Respati membacakan puisi berjudul ‘Mulutmu Berasap’ dan ‘Pencari Alamat’.

Pembaca lainnya, Hairus Salim, seorang pemikir kebudayaan akan membacakan puisi berjudul ‘Kemana Wiji’, dan ‘Selebaran Gelap’. Ilham Rabbani, seorang penulis akan membacakan puisi berjudul ‘Apakah Aku Rindu’ dan ‘Benteng’. Para pembaca lain ialah Savitri Damayanti, Nanik Indarti, Tri Wahyuni, Yuda Wira Jaya, dan Ida Nurmawati masing-masing akan membacakan 2 puisi karya Afnan Malay.

Selain dibacakan, puisi Afnan Malay yang berjudul ‘Laut’ dan ‘Rindu’ akan dilagukan oleh Cak Rus dan Fitri.

Suwarno Wisetrotomo. (ist)

Afnan Malay menjelaskan, buku puisi ini mencoba merekam peristiwa-peristiwa yang terjadi selama 25 tahun reformasi. Tentu tidak rinci, kronologis dan detil satu per satu. Hanya membidik secara acak mana-nama yang layak dikritisi, direfleksi.

“Bila puisi dibuat satu dua tahun pasca peristiwa reformasi, bisa dipastikan yang terpotret hanyalah suasana eforia yang menabalkan heroisme belaka,” kata Afnan Malay.

Sedang Faruk HT, Guru Besar Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UGM mengatakan, kumpulan puisi ini, sebagaimana yang tampak dari judulnya, merupakan refleksi atau perenungan kembali dari seseorang yang dulu terlibat aktif dalam aksi gerakan mahasiswa untuk reformasi.

“Hampir semia puisi dalam kumpulan ini memperlihatkan kecenderungan ‘Aku lirik’ yang mendua, yaitu sebagai bagian dari kekuasaan dan sekaligus berjarak darinya,” ujar Faruk HT.

Sementara, Nezar Patria. Kawan aktivis Afnan Malay, yang sekarang menjadi Wakil Mentri Komunikasi dan Informatika menyebutkan, sajak-sajak Afnan dalam kumpulan ini adalah semacam catatan yang mengungkap lapis demi lapis dari pengalamannya bersentuhan dengan kekuasaan.

“Afnan membawa bagasi pengalaman itu ke dalam ruang mediatif, menatap dan menggugat, dan sesekali melakukan hardikan,” ujar Nezar Patria

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, Afnan Malay, seorang aktivis sekaligus penyair, yang sejak mahasiswa sudah rajin menulis puisi. Bahkan setelah reformasi dan dia berdekatan dengan kekuasan, ia tidak lupa pada puisi. Mugkin karena Afnan tahu, habitatnya di situ.

“Afnan bukan kali pertama tampil di Sastra Bulan Purnama. Ini kali kedua bukunya diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Buku pertama diluncurkan secara online live di youtbe sastra bulan purnama karena masih pandemi. Buku terbarunya ini diluncurkan secara offline,” kata Ons Untoro. (pr)

Penyair Tiga Kota di Bulan Purnama

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Penyair dari tiga kota: Dedet Setiadi (Magelang), Yanti. S.Sastro Prayitno (Semarang) dan Didik Eros Sudarjono (Jombang) akan tampil di Sastra Bulan Purnama edisi 142. Acara itu bakal digelar Sabtu, 15 Juli 2023, pkl. 15.00-18.00 WIB di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Lokasi persisnya di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta, atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru.

Penampilan ketiganya sekaligus untuk meluncurkan buku karyanya. Yanti Sastro Prayitono akan meluncurukan buku kumpulan cerkak berjudul ‘Ing Komplek 21’ dan kumpulan geguritan berjudul ‘Lembaran Anyar’.

Dedet Setiadi

Sedang Didik Eros Sudarjono meluncurkan buku puisi berjudul ‘Rawat Kata, Jaga Budaya’ dan buku geguritan berjudul ‘Piye Jal’. Adapun Dedet Setiadi akan membacakan puisi-puisi terbarunya, termasuk puisi yang terkumpul dalam buku ‘Apokalipsa Kata’.

Selain peluncuran buku terbaru, sebelumnya beberapa buku puisinya di tahun berbeda-beda sudah terbit. Khusus untuk Yanti S. Sastro Prayitno dan Didik Eros Sudarjono, selain menulis puisi juga menulis karya sastra dalam bahasa Jawa yang disebut geguritan dan cerkak.

“Dalam Sastra Bulan Purnama edisi 142 ini saya dan eros akan meluncurkan dua buku, dalam bahasa Jawa, dan Eros buku puisi dan geguritan,” ujar Yanti S. Sastro Prayitno.

Sedang Dedet Setiadi, selalin membacakan puisi yang ada di dalam bukunya, juga akan membacakan puisi karyanya yang tidak ada didalam buku dan termasuk puisi baru, yang belum dipublikasikan.

“Beberapa puisi saya juga akan dilagukan oleh Yupi dengan iringan keybord. Ia memang sudah membuat beberapa puisi saya menjadi lagu,” kata Dedet Setiadi.

Didik Eros Sudarjono

Puisi dan geguritan serta cerkak ketiga penyair tersebut, selain dibacakan sendiri, juga akan dibacakan para pembaca lain. Masing-masing pembaca akan membacakan karya Dedet Setiadi dan Didik Eros Sudarjono. Para pembaca itu ialah Ami Simatupang, Cicit Kaswani, Marjuddin, Harno DP., Novi Indrastuti, Supri Sapta Atmaja, Budi Siswanto, Hisyam Billy, M.Marhaban,  Rizal Eka dan Wicahyati.

Sedang geguritan dan cerkak karya Yanti. S.Sastro Prayitno akan dibacakan dan dipentaskan oleh komunitas Maleti Rinonce, yang anggotanya di antaranya; Ninuk Retno Raras, Endang Wahyuningsih, Endah Sr., Suprihatin, Sudinem, Danik Sekar, Sabatina RW., Anastasia Sunu Murwani dan Robingah.

Yanti S.Sastro Prayitno, selain membacakan karyanya, ia juga akan nembang untuk menghidupkan sekaligus memberi warna dalam pertunjukkan karya-karyanya.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, bahwa ketiga penyair dari kota berbeda ini masing-masing sudah saling mengenal, dan ketiganya sudah beberapakali tampil di Sastra Bulan Purnama di tahun berbeda-beda.

“Setiap penyair yang pernah tampil membaca puisi, lebih2 meluncurkan buku karyanya, masih terus terbuka untuk tampil sejauh memiliki karya baru, syukur buku baru yang sudah terbit,” ujar Ons Untoro. (pr)

Yanti Sastro Prayitono

Emha Ainun Nadjib dan Sastrawan Lesehan Lainnya Terbitkan Buku Puisi

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Buku puisi ‘Jalan Puisi’ karya 14 penyair Yogya, diterbitkan Tonggak Pustaka, didukung Sanggaragam. Buku itu akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 141, Sabtu, 17 Juni 2023, pkl 15.00-18.00 di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Kota Yogyakarta. Persisnya di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta, atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, atau selatan ban-ban Gondolayu.

Para penyair kelahiran tahun 1950-an ini, sejak tahun 1970-an sudah mulai menulis puisi. Sampai sekarang mereka masih menulis. Artinya, konsistensi kepenyairannya terjaga. Pada tahun 1970-an, para penyair ini saling bersaing untuk mempublikasikan puisinya di media cetak lokal maupun nasional, sambil terus membina persahabatan sampai sekarang.

Emha Ainun Nadjib

Pada tahun 1970-an di Yogya bercokol Persada Studi Klub (PSK), asuhan Umbu Landu Paranggi. Para penyair ini, meski tidak semuanya, kebanyakan aktif di PSK. Umbu mendidik para remaja untuk menjadi penyair.

Para penyair yang lahir tahun 1951, Fauzie Absal, Landung Simatupang, 1952, Sutirman Eka Ardhana, Jabrohim, 1953, Emha Ainun Najib, 1954, Marjuddin Suaeb, Mustofa W. Hasyim, Simon Hate, 1955, Darwis Khudori, Wadie Maharied, 1956, Suminto A. Sayuti, 1957, Krishna Miharja, 1958, Enes Pribadi, dan yang paling muda 1959, Ons Untoro.

Menurut Fauzi, Absal Sastra Yogya tujuhpuluhan bisa dibilang sastra lesehan, namun sengit dalam adu kreativitas. Kenapa kata lesehan menempel padanya? Ini kaitannya dengan jejeran lesehan di Jalan Malioboro yang kini hilang tapi melegenda.

Landung Simatupang

“Lesehan-lesehan warung makan yang bertebar di emperan toko-toko Malioboro yang banyak diminati para kaum seniman, budayawan, intelektual dan para calon sarjana yang tak sekadar ingin berhura-hura cari angin di sana namun juga mencari inspirasi setidaknya energi kreatif,” ujar Fauzi.

Sedang Mustofa W. Hasyim  menyebutkan, ibarat ruang yang amat luas dan segar udaranya, Sastra Yogya 1970an (Sastra Malioboro) adalah rumah para sastrawan dan pecinta sastra. Rumah itu terbuka dan ramah. Orang boleh masuk di dalamnya terlibat aktif dan serius dalam kegiatan mengembangkan kreativitas individual dan kreatif komunal.

“Berdebat seru tentang apa saja. Tidak harus tentang sastra, malah seringnya tentang pernik-pernik kehidupan yang menarik. Tentang makna-makna pengalaman hidup diselingi gojegan kere karena sama-sama minim duit. Dan ini justru membangun solidaritas kemanusiaan yang amat kuat antar sesama warga Sastra Yogya 1970an,” kata Mustofa

Sekarang, para penyair ini memiliki kegiatan yang lebih luas, tidak hanya puisi, Emha Ainun Najib  misalnya, yang pada tahun 1970-an pernah menjadi salah satu ikon penyair Yogya, ruang aktivtiasnya meluas ke area kebangsaan. Suminto A. Sayuti, sebagai guru besar, ruang akademik menjadi medan kreatifnya, dan Landung Simatupang, aktivitasnya seringkali dihabiskan main film, dan penyair lainnya mempunyai aneka kegiatan yang berbeda-beda. Namun yang menggembirakan mereka masih menulis puisi.

Suminto A. Sayuti

“Para penyair ini, masih terus menulis puisi, sehingga hanya dalam waktu  2-3 hari diminta mengirim 10-15 puisi, dengan segera mereka mengirim puisi karyanya yang dtulis antara tahun 2021-2023, sehingga puisi cepat terkumpul, dan dalam waktu relatif pendek buku bisa segera diterbitkan,” ujar Ons Untoro, penggagas buku puisi ini sekaligus sebagai editornya.

Selain dibacakan oleh para penyairnya, beberapa pembaca tamu akan membacakan puisi para penyair lain, misalnya Laretna T. Adhisakti, seorang arsitek, akan membacakan puisi karya Darwis Khudori, karena yang bersangkutan sudah pulang ke Perancis. Darwis, penyair asal Kotagede, yang tahun 1970-an ikut aktif di Malioboro, medan kreativitas sudah mengglobal.

Pembaca tamu yang lain, Joko Kamto, seorang aktor teater, akan membacakan puisi karya Emha Ainun Najib. Pembaca lain, Yuliani Kumudaswari, perempuan penyair akan membacakan puisi karya Ons Untoro dan Vivin Rachmawati, seorang pelajar SMA akan membacakan puisi karya Simon Hate.

Selain dibacakan, beberapa puisi penyair akan dibuat lagu, Joshua Igho, seorang penyair, akan melagukan puisi Sutirman Eka Ardhana, Vincensius Dwimawan akan melagukan puisi Emha Ainun Najib. Puisi Jabrohim, pengajar di Universitas Ahmad Dahlan, akan dilagukan Sigit Baskara dan Edi Widiyanto. Satu puisi Ons Untoro dilagukan Fileski, penyair dari Madiun. (pr)

Gema “Cerita tentang Kawan” di Museum Sandi

JAYAKARTA NEWS, Yogyakarta – Kumpulan cerpen ‘Cerita tentang Kawan’, diterbitkan Tonggak Pustaka. Cerpen dihimpun dari para cerpenis berbagai kota. Peluncurannya, akan dilakukan pada moment Sastra Bulan Purnama edisi 140, Sabtu (20/5) pkl. 15.00 di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta.

Museum Sandi tepatnya berada di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta. Lebih pas lagi, sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru, atau sebelah selatan ban-ban Gondolayu.

Kepala Museum Sandi, Setyo Budi Prabowo menyebutkan, museum Sandi terbuka terhadap kegiatan sastra, karena sesungguhnya, museum Sandi bisa dimasukan di area pengembangan literasi. “Sastra dan koleksi museum saling bisa mengisi dan menginpirasi,” kata Setyo Budi Prabowo.

Para penulis cerpen ini datang dari kota yang berbeda, Anto Narasoma (Palembang), Dewi Anggraeni (Australia), Kurnia Effendi, Lies Wijayanti, Dyah Arini SW (Jakarta), Yonas Suharyono (Cilacap), penulis lain tinggal di Yogyakarta: Aris Basuki, Agus Suprihono, Bey Saptama, Dhanu Priya Prabawa, Meuzt Prast, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Krishna Miharja daam Margareth Widhy Pratiwi. Sastra Bulan Purnama edisi 140 ini bertajuk: “Cerita tentang Kawan di Bulan Purnama’.

Cerita Kawan-kawan

Cerpen dalam buku ini, sebelum diterbitkan ditayang di website tonggakpustaka.com, setiap hari Selasa. Di bulan Mei diterbitkan untuk diluncurkan di Sastra Bulan Purnama. Penerbitan ini kerjasama dengan PT. Luas Birus Utama.

Bey Saptama

Menurut Indro Suprobo, editor buku cerpen ini, Cerita tentang Kawan, sebagai kumpulan cerita bercerita tentang kawan-kawan. Sebuah cakrawala luas yang memberi kemungkinan untuk memasuki beragam pintu pengalaman. Semuanya adalah cara berbagi yang memungkinkan setiap orang untuk saling menumbuhkan dan memperluas diri.

“Namun ada hal utama yang tak boleh terlupa. Cerita adalah perluasan dan artikulasi diri manusia sendiri. Cerita-cerita yang dibangun, sebenar-benarnya adalah artikulasi manusia tentang siapa dirinya. Meskipun menghadapi pengalaman-pengalaman yang barangkali sama, cerita-cerita yang dibangun oleh setiap manusia tentangnya, selalu memiliki kemungkinan berbeda. Itulah tanda-tanda dari keunikan manusia,” ujar Indro Suprobo.

Sementara, Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, selama ini puisi dan cerpen secara bergantian mengisi Sastra Bulan Purnama yang diselenggarakan setiap bulan. Karena biasanya, penyair sekaligus cerpenis, atau setidaknya selang seling antara menulis puisi dan cerpen.

Cerpenis Membawa

Eko Winardi

“Meskipun selama ini, Sastra Bulan Purnama lebih sering menampilkan pembacaan puisi ketimbang pembacaan cerpen,” ujar Ons Untoro.

Beberapa cerpenis akan membacakan puisi karyanya, atau membacakan cerpen karya orang lain.  Bey Saptama, penulis novel sastra Jawa dan pemain ketoprak, akan membacakan cerpen berjudul ‘Dinda Kekasih Masa Laluku’ karya Agus Suprihono. Meuz Prast, seorang perupa, akan membacakan penggalan cerpen karyanya sendiri berjudul ‘Mimpi  Djene di Serapeum”.

Ninuk Retno Raras, yang sejak tahun 1980-an sudah sering menulis cerpen, akan membacakan penggalan cerpen karyanya sendiri yang berjudul ‘Ziarah’. Margareth Widhy Pratiwi, seorang penulis novel berbaahasa Jawa, akan membacakan pethikan cerpen karyanya yang berjudul ‘Antara Aku, Ibu dan Anak Perempuanku’.

Eko Winardi, seorang aktor teater, akan mengolah cerpen berjudul ‘Senyuman Butet’ menjadi satu pertunjukkan. Eko, sebagai aktor telah melakukan banyak pentas bersama teater Perdikan, maupun pentas monolog.

Selain pembacaan cerpen akan ada selingan lagu puisi dari Yupi, seorang pelantun lagu puisi, dan akan menggubah puisi Dedet Setiadi, penyair dari Magelang menjadi lagu.

Joshua Igho, penyair dari Magelang, akan memaikan piano sepanjang pertunjukkan untuk memberi nuansa musikal dalam pembacaan cerpen. (pr)

Cerkak Ageng Cicit Meluncur di Sastra Bulan Purnama

JAYAKARTA NEWS, YOGYAKARTA – Ada yang berbeda di Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi 139, Sabtu 15 April 2023, pukul 15.00 WIB. Dalam kesempatan itu akan diluncurkan buku kumpulan cerkak (cerita cekak) karya Ageng Cicit atau Cicit Kaswami.

Kumpulan cerkak ini akan dibacakan komunitas ‘Kembang Adas’, satu komuntas yang dipimpin Cicit Kaswami. Sastra Bulan Purnama digelar di Museum Sandi, Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta. Tepatnya, di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta. Atau sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru, atau juga sebelah selatan ban-ban Gondolayu.

Buku kumpulan cerkak berjudul ‘Wit Tanjung Ngiringan Omah’ akan dibacakan oleh Landung Simatupang. Ia adalah aktor teater dan pemain film. Selain itu ada Patah Ansori, pemain Teater Gajah Mada. Juga Ami Simatupang, pemain teater Stemka dan para pembaca lain. Di antaranya Lia Pascalia, Eko Yuwono, Imam Widoyoko, Tri Raden, dan Titik Yatiman.

Mulai tahun 2023, Sastra Bulan Purnama bersifat mobile, tidak diselenggarakan di satu tempat. Selama 3 bulan,  Januari, Februari dan Maret diselenggarakan di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya, di Jalan Parangtritis. Di bulan April ini diselenggarakan di Museum Sandi, di Kotabaru.

“Beberapa bulan ke depan Sastra Bulan Purnama akan diselenggarakan di Museum Sandi, yang lokasinya di tengah kota. Karena selama ini SBP lebih banyak diselenggarakan di wilayah selatan,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Museum dan Sastra

Setyo Budi Prabowo, Kepala Museum Sandi menyambut baik kehadiran komunitas sastra di museum. Karena bagi Setyo, museum dan karya sastra sama-sama berada di ruang budaya.

“Ini bentuk pertemuan budaya. Khususnya antara karya sastra dan para sastrawan dengan museum, dalam hal ini koleksi museum Sandi. Sesungguhnya keduanya tidak perlu saling dipisahkan,” ujar Setyo Budi Wibowo.

Bu Ageng Cicit, atau Cicit Kaswami (82 th), telah banyak menulis karya sastra Jawa, khususnya cerita cekak dan naskah sandiwara. Baru kali ini karya-karyanya diterbitkan dalam bentuk buku. Dari sejumlah cerita cekak yang pernah ditulis, 3 karya di antaranya ada dalam buku ‘Wit Tanjung Ngiringan Omah’.

“Kalau tidak diterbitkan, karya yang sudah saya tulis banyak yang tercecer. Mungkin malah hilang,” kata Ageng Cicit.

Ageng Cicit, ketika muda, di tahun 1970-an pernah ikut di teater Stemka, Yogyakarta, yang dipimpin Landung Rusyanto. Pada tahun 1978 sampai 2019, ia kerja di Tepas Pariwisata Kraton Ngayogyakarta, dan tahun 2017 mendirikan kelompok ‘Kembang Adas’. Satu komunitas sastra Jawa, yang sering mementaskan karya-karyanya. (pr)

Puisi dengan Pola Ucap Liar, Lugas, Bodoh

“Trilogi Teka-Teki Titik Nol” di Sastra Bulan Purnama

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Penyair yang tinggal di Lendah Kulonprogo, Yogyakarta, Marjuddin Suaeb, akan membacakan karya puisinya. Puisi-puisi penyair berusia 69 tahun itu, terhimpun dalam buku terbarunya, ‘Trilogi Teka-Teki Titik Nol’.

Acara berlangsung Rabu, 15 Maret 2023, pukul 15.00 WIB di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya, Jl. Parangtritis, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul (timur Piramid atau depan SMA N 1 Sewon).

Marjuddin menulis puisi sejak tahun 1970-an. Waktu itu, ia tergabung dalam Persada Studi Klub yang diasuh Umbu Landu Paranggi. Puisi-puisi Marjuddin dipublikasi di sejumlah media cetak, pada masa itu. Ia adalah alumni IKIP Negeri Yogyakarta, sekarang UNY.

“Puisi merupakan salah satu produk budaya. Puisi juga merupakan alat komunikasi kreatif, catatan pengalaman empirik, sekaligus respon terhadap peristiwa puitik dari seorang penyair”, kata Marjuddin.

Di era media sosial sekarang ini, Marjuddin tambah produktif menulis puisi. Karya-karyanya diikutkan dalam antologi puisi bersama penyair Indonesia lainnya. Yang unik, ia menulis puisi-puisinya di layar handphone. ”Saya tidak lincah menulis menggunakan laptop, lebih cepat pakai HP,” kata Marjuddin.

Buku puisinya terbarunya, “Trilogi Teka-Teki Titik Nol” memuat 69 karya, diterbitkan oleh Tonggak Pustaka. Penerbit Yogya yang khusus memfasilitasi para penyair menerbitkan buku puisi atau karya sastra lainnya.

“Sejak tahun 2016 sampai sekarang sudah lebih dari 60 buku diterbitkan Tonggak Pustaka dan kebanyakan buku puisi,” ujar Indro Suprobo, editor Tonggak Pustaka.

Tidak Sendiri

Marjuddin tidak akan membacakan puisinya sendiri, tetapi akan tampil para pembaca lain. Mereka adalah Heru Marwata (FIB UGM), Dhanu Priyo Prabowo (peneliti sastra), Fauzi Absal (penyair), Iranda Yudatama (aktivis LSM). Selain mereka akan tampil pula Dwi Winarno, Deni Saputra, Hisyam Billya, Khoirunnida, dan Vivin Rachmawati. Selain dibacakan, Yupi akan menggubah dua puisi Marjuddin menjadi lagu.

“Syam Chandra, penyair yang setiap membaca puisi selalu melempar uang atau barang lainnya kepada penonton akan ikut tampil membacakan puisi Marjuddin,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Fauzi Absal, penyair teman karib Marjuddin melihat puisi-puisi Marjuddin ibarat Abunawas. Puisi-puisi Marjuddin mempunyai pola ucap liar, lugas, bodoh, yang seperti kabut menyelimuti kewarasan intelektualnya.

Sedang Genthong Hariono, seorang aktor dan penulis naskah teater mengatakan, membaca antologi puisi Trilogi Teka Teki-Titik Nol, kita akan dikejutkan oleh pemakaian kata dan gramatika yang kurang lazim.

“Jangan menyerah, selami rahasia ratna mutu manikam yang tersembunyi di baliknya,” ujar Genthong Hariono. (pr)