JAYAKARTA NEWS – Sastra Bulan Purnama (SBP) memasuki usia 13 tahun. Peringatan itu ditandai penerbitan kumpulan cerita pendek (cerpen) karya 44 penulis.
Ke-44 penulis cerpen, berasal dari berbagai kota di Indonesia. Di antaranya dari Jakarta, Bekasi, Bandung, Palembang, Lampung, Semarang, Wonosobo, Cilacap, Sragen, Madiun, dan Yogyakarta. Selain, ada juga penulis yang tinggal di Australia.
Buku kumpulan cerpen tersebut bertemakan museum dan koleksinya. Oleh penerbit, diberi judul ‘Cerita Dari Museum’.
Kumpulan cerpen akan diluncurkan Sabtu, 26 Oktober 2024, pukul 15.30 WIB di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta.
Keseluruhan kegiatan itu menjadi agenda 13 tahun Sastra Bulan Purnama. Beberapa penulis cerpen akan mewakili penulis lain membacakan pethikan cerpen. Mereka antara lain Isbedy Stiawan, sastrawan dari Lampung, Sri Yanti Sastro Prayitno, dari Semarang, Sus. S,Hardjono dari Sragen, Fileski dari Madiun dan Menik Sithik dari Yogya.
Sementara itu, Ana Ratri, salah satu penulis akan menggarap cerpen karya Ari Basuki menjadi pertunjukkan, yang dimainkan oleh Yantoro dan Tedjo Badut.
Halim HaDe, seorang networker kebudayaan, tinggal di Solo, dan sejak tahun 1970-an aktif menulis puisi dan esai, akan memberikan pidato kebudayaan. Dalam pidatonya, Halim sekaligus merespon 40 tahun sastra kontekstual yang dikaitkan dengan kumpulan cerpen ‘Cerita Dari Museum’.
Adapun nama-nama penulis cerpen dalam kumpulan cerpen ‘Cerita Dari Museum adalah: Adri Darmaji Woko, Akbar AP, Alfa Amorista, Ana Ratri, Annisa Siwi Pratiwi, Anto Narasoma, Ardini Pangastuti, dan Ari Basuki.
Selanjutnya, ada nama Bambang Widitiatmoko, Christina Sri Purwanti, dan Cicit Kaswami. Nama-nama lain, Dhama Dove, Eny Suswanti, Erwan Juhara, Fileski, Gayatri Jayawardani, Gunoto Saparie, Ika Zardi Saliha, dan Isbedy Stiawan ZS.
Penulis lain, Julia Utami, Kris Budiman, Kurnia Effendi, Kurniawan Junaedhie, Lies Wijayanti SW, Marlin Dinamikanto, dan penulis senior Mustofa W.Hasyim.
Kemudian ada Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Toto Sugiarto, Selsa, Siwi Dwi Saputra, Sonia Prabowo, Sri Wahyu Wardani, Sriyanti Sastro Prayitno, Sulis Bambang, Sus. S. Harjono, Susy Ayu, Sutirman Eka Ardhana, Veronika Sri Wahyuningsih, Warsono Abi Azzam, Yonas Suharyono, Yuliani Kumudaswari, dan Ngatinah.
Buku kumpulan cerpen ini diterbitkan Tonggak Pustaka, satu penerbit yang mempunyai kepedulian dengan karya sastra yang didukung PT Luas Birus Utama, yang berlokasi di Jakarta.
Dr Drs Haris Susanto, M.Hum, Direktur Utama PT Luas Birus Utama, menyambut baik atas terbitnya buku kumpulan cerpen yang ditulis oleh penulis cerpen dari kota-kota di Indonesia dan dari usia serta profesi berbeda-beda. Mereka memiliki kesenangan yang sama, yakni menulis karya sastra, dalam konteks ini cerpen.
“Saya bersama PT Luas Birus Utama akan terus mendukung penguatan literasi, karena hal ini penting untuk bangsa dan negara,” kata Haris Susanto.
Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, selama 13 tahun Sastra Bulan Purnama, telah diselenggarakan di beberapa tempat, termasuk pernah diselenggarakan di Kampus STPMD ‘APMD’, di tempat wisata Tebing Breksi, Balai Bahasa Yogyakarta, Komunitas Sanggaragam, Sewon, Sangkring Artspace dan selama 2 tahun ini secara rutin diselenggarakan di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.
“Selain kumpulan cerpen, Sastra Bulan Purnama dan Tonggak Pustaka telah menerbitkan puluhan buku kumpulan puisi yang ditulis penyair dari berbagai kota di Indonesia dan satu kumpulan esai, mengenai 10 tahun Sastra Bulan Purnama,” ujar Ons Untoro. (*)
JAYAKARTA NEWS – Kumpulan cerpen berjudul ‘Paradoksal’ karya 18 penulis perempuan akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi 156. Tajuk acaranya ‘Kisah-Kisah Perempuan di Bulan Purnama.
Peluncuran akan diisi pembacaan penggalan cerpen karya masing-masing penulis oleh beberapa pembaca cerpen, di samping oleh penulisnya sendiri. Acara berlangsung Sabtu, 28 September 2024, di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta.
Cerpen karya Ana Ratri dibacakan Gea Mytha, Ika Zardi akan membacakan cerpen karyanya sendiri. Joshua Igho, seorang penyair dan pemain keybord membacakan cerpen Nunung Rieta. Julia Von Knebel membacakan cerpen Maria Widy Aryani. Linda Sulistiawati membacakan karyanya sendiri.
Cerpen lain, karya Ami Simatupang dibacakan Menik Sithik. Cerpen Ninuk Retno Raras dibacakan Nana Loesiana Boediman. Cerpen Novi Indrastuti dibacakan Pascallia WD. Regina Gandhes Mutiarti membacakan cerpen karya Chacha Baninu. Rinawidaya membacakan cerpen Yanti S. Sastraprayitno. Sashmytha Wulandari membacakan cerpen Umi Kulsum.
Pembaca yang lain, Siti Dwi Sugiharti, seorang guru SD membacakan cerpen karya Ch, Sri Purwanti. Siti Nikandaru membacakan cerpen karya Margareth Widhy Pratiwi. Trisha Nareswari membacakan cerpen karya Savitri Damayanti. Yaksa Agus, seorang perupa membacakan cerpen karya Sonia Prabowo. Yuli Purwati membacakan cerpen karya Yuliani Kumudaswari dan Yustina Sri Warsiki membacakan cerpen karya Ngatinah.
Karena masing-masing cerpen cukup panjang, setidaknya satu cerpen bisa lebih dari 5 halaman, maka masing-masing cerpen akan dipilih bagian paling menarik sehingga tidak membutuhkan waktu panjang.
Nunung Rieta dan Linda Sulistiawati.
Ruang Cerpen
Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, belakangan Sastra Bulan Purnama memberi ruang lebih banyak pada cerpen. Alasannya, karena mulai tumbuh penulis cerpen. Setiap kali ada tawaran menulis cerpen bersama komunitas, ada banyak yang tertarik ikut mengirimkan karya cerpennya.
“Komunitas perempuan perlu sering bersama-sama menulis karya sastra, baik cerpen maupun puisi. Dengan begitu kreativitasnya tidak berhenti. Karena media cetak sudah terbatas, bahkan banyak yang sudah tidak lagi terbit,” ujar Ons Untoro.
Para peerempuan penulis cerpen dalam buku ini, sudah beberapakali ikut menulis cerpen dalam kumpulan cerpen yang berbeda-beda. Ada yang sudah sejak lama, setidaknya tahun 1980-an. Selain itu, di antara mereka ada yang menulis puisi. Pendek kata, para perempuan penulis ini sudah terbiasa menulis karya sastra. (*)
JAYAKARTA NEWS – Bulan Agustus tidak saja bulan istimewa bagi bangsa Indonesia, tetapi juga bagi Sastra Bulan Purnama (SBP). Tiga tahun terakhir, SBP bersinergi dengan Sanggaragam. Sebuah komunitas yang memiliki kepdulian terhadap keberagaman.
Sinergi keduanya diwujudkan dalam sebuah komunitas yang diberi nama Kampung Sastra, bertempat di Gubug Putih, Jl. Gatotkaca 16, Karangnongko, Pelem Sewu, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Mereka tiga tahun terakhir menggelar acara Sastra Bulan Purnama.
Disebut Gubug Putih, karena bangunan berlantai 3 semua warnaya putih dan berada di tepi kolam. Sanggaragam berkantor di Gubug Putih. Panggung pertunjukkan berada di atas kolam, dan di sekitar kolam merupakan amphytheater. Karena lokasi Gubug Putih berada di tengah kampung, maka disebut sebagai kampung sastra.
Kali ini Sastra Bulan Purnama edisi 155 dan Sanggaragam menyajikan lagu puisi, yang akan dimainkan para penggubah lagu puisi yang datang dari lima kota: Depok, Jabar, Madiun, Karanganyar, Magelang dan Yogyakarta. Tajuk dari pertunjukkan ini ‘Lagu Puisi Di Kampung Sastra’. Masing-masing akan membawakan empat lagu puisi, sehingga dari enam penampil menyajikan 24 lagu. Penampil dari Yogya ada 2 orang, Gati Andoko dan Joshua Igho.
Masing-masing menyajikan lagu puisi yang berbeda dari puisi penyair yang berbeda pula, termasuk puisi karya sendiri. Karena penampil sekaligus penyair. Fileski dari Madiun misalnya, akan membawakan lagu puisi berjudul ‘Dua Musim’ (puisi Ons Untoro), ‘Tuhan Aku Cinta Padamu (WS. Rendra), ‘Senja Bersama Pagi (Fileski), ‘’Derai-Derai Cemara’ (Chairil Anwar), Yuditeha (Karanganyar), ‘Peringatan’ (Wiji Thukul), ‘Menjadi Manusia Indonesia’ (Joko Sumantri), ‘Apa ada yang lebih asu dari rindu’ (Asef Saiful Anwar), ‘Hidup Kedua’ (Yuditeha).
Sedang Gati Andoko (Yogya) menyaanyikan lagu puisi berjudul ‘Mantra Pisau’ (Aprinus Salam), ‘Langgam Zrah’, Lagu Untuk Zaya’ dan satu geguritan Apa Bisa Pitaya (Yanti S.Sastro). Joshua Igho (Yogya) membawakan lagu puisi berjudul ‘Nyanyian Hujan (Joshua Igho) dinyanyikan Sashmytha Wulandari, ‘Di Tepi Kanal (Ayu Budhiarti) dinyanyikan Sashmytha Wulandari, ‘Nisan’ (Chairil Anwar) dan ‘Kubakar Cintaku’ (Joshua Igho).
Vincensius Dwimawan, yang akrab dipanggil Si Us, dari Depok, Jawa Barat, membawakan lagu puisi berjudul ‘Pengembara’ (Emha Ainun Najib, ‘Kupu2 Makna Kata’ (Fauzi Absal), ‘Pelukis 1’ (Ons Untoro) dan ‘Mata Leso’ Ge’ (Ivan Nestorman). Yupi (Magelang), satu2nya perempuan menyanyikan lagu puisi ‘Kidung Rara Mendut’ (Yupi), ‘Rara Mendut’ (Ahmad Masih), ‘Gugur’ (WS.Rendra), ‘Kidung Dongane Kluwung’ (Yupi), ‘Tik Tok Pelangi’ (Fauzi Absal) dan ‘Laut’ (Evi Idawati’
Yupi
“Untuk closing, semua penampil bareng-bareng melagukan puisi karya Deded Setiadi, penyair dari Magelang, berjudul ‘Sejak Kapan’” ujar Yupi
Pertunjukkan akan dibuat mengalir, agar terlihat satu penampil dan penampil lainnya menyatu, maka akan diawali penampilan bareng, dan diakhiri penampilan bersama.
Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama mengatakan, para penampil lagu puisi ini, sudah lama bergelut dengan lagu puisi, selain mereka menciptakan puisi untuk dilagukan sendiri, mereka juga menggarap puisi penyair lain menjadi lagu.
“Masing-masing penampil di tahun berbeda-beda pernah tampil di Sastra Bulan Purnama, bahkan Joshua Igho dan Yupi, seringkali menyempatkan waktu menggubah puisi penyair yang bukunya di-launching di Sastra Bulan Purnama,” kata Ons Untoro. (*)
JAYAKARTA NEWS –“Hierofani” adalah judul sebuah novel. Menurut penulisnya, Kris Budiman, Hierofani, bermakna pengejawantahan dari Yang Suci, manifestasi dari Yang Kudus. Novel itulah yang akan menjadi materi Sastra Bulan Purnama (SBP), Sabtu (20/7/2024) di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.
Novel ini terdiri atas 7 bab. Dalam acara Sastra Bulan Purnam tersebut, semua bab akan dibacakan dalam bentuk fragmen-fragmen.
Sebagai penulis, Kris Budiman yang Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UGM Yogyakarta itu meringkas setiap bab menjadi fragmen dan masing-masing fragmen akan dibacakan oleh 7 pembaca. Mereka adalah Ana Ratri, seorang pemain teater yang akan membacakan fragmen 1. Kemudian Nanik Indrati, membacakan fragmen 2, Meuz Prazt, seorang perupa membacakan fragmen 3.
Fragmen 4 akan dibacakan oleh Ida Fitri. Sedangkan, Ikun Kuncoro, cerpenis, membacakan fragmen 5. Kemudian Savitri Damayangi, alumnus Sastra Jawa FIB UGM membacakan fragmen 6 dan Bey Saptomo, penulis sastra Jawa dan pemain ketoprak membacakan fragmen 7.
Yang menarik, para pembaca tidak maju satu per satu secara bergantian, melainkan semua maju di depan. Formatnya duduk di kursi yang ada meja panjang, dan secara berurutan, tanpa jeda pera pembaca membacakan fragmen dengan cara dan gaya berbeda-beda.
“Pembacaan fragmen novel karya Kris Budiman ini seperti pertunjukan,” kata Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.
Lagu Puisi
Sebelum pertunjukkan, Yupi, seorang pelantun lagu puisi sambil memainkan keyboard, akan mengawali lagu puisi, yang sudah cukup banyak dia buat. Kemudian saat closing, Yupi kembali menutup pertujukan dengan lagu puisi.
“Sebagai fiksi perjalanan (travel fiction), novel ini mengisahkan perjalanan atau petualangan Toni, sang tokoh utama, mencari sebuah arca (Bagian I), tirta atau air suci (Bagian II), serta batu mustika (Bagian III). Dalam pencarian-pencarian ini dia didampingi sahabat-sahabatnya: Wawan, Sartika, dan Indah,” ujar Kris Budiman, Magister Antropologi, UGM itu.
Pada Bagian I, perjalanan mencari arca, Toni bertualang hingga ke pelosok Pulau Bali, Semarang, dan Lasem, Jawa Tengah. Di sana, ia menyusuri jejak para pengungsi/pemberontak Tionghoa pasca-Tragedi Berdarah di Batavia (1740).
“Sebaiknya ikuti pembacaan fragmen atau membaca bukunya, saya tidak perlu menjelaskannya di sini,” kata Kris Budiman, yang juga lulusan S3 (Doktor) Program Studi Kajian Budaya dan Media, UGM Yogyakarta itu.
Perjalanan Krisbudiman
Christina Udiani, pimpinan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), yang menerbitkan Hierofani menyebutkan, novel karya Kris Budiman adalah bacaan penting. Sebuah perjalanan Krisbudiman yang dituliskan dalam bentuk novel.
Pembacaan fragmen novel ini merupakan salah satu bentuk ajakan kepada orang lain untuk membaca novel ini. Bukan hanya novel Hierofani, melainkan novel Kris Budiman yang sudah diterbitkan.
Selama ini, demikian Ons Untoro menyampaikan, Sastra Bulan Purnama banyak menampilkan pembacaan puisi dan cerpen, sesekali geguritan dan cerkak, karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Jawa. Kali ini, novel perjalanan mengisi acara Sastra Bulan Purnama.
“Pembuatan fragmen oleh penulis, membuat format acara nanti tidak memerlukan waktu panjang. Berbeda kalau membaca novel secara utuh,” ujar Ons Untoro. (*)
JAYAKARTA NEWS – Sastra Bulan Purnama edisi 153 bertajuk ‘Bulan Purnama di Sumbing’. Materinya, pembacaan puisi karya Riwanto Tirtosudarmo, yang berjudul ‘Di Galeri Sumbing’. Acara akan berlangsung Sabtu, 22 Juni 2024, pukul 15.30 di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.
Sumbing dalam judul buku puisi Riwanto menunjuk satu tempat, yang dikenali sebagai gunung. Namun bukan di puncaknya, melainkan di area bawah. Sebuah area yang memberikan “pemandangan gelari”, menurut Riwanto.
‘Di Galeri Sumbing’ menjadi judul buku. Dalam buku puisi ini Riwanto berkolaborasi dengan seorang perupa yang tinggal di lereng Merbabu, Sogik Prima Yoga. Ia menginterpretasi setiap puisi karya Riswanto melalui sketsa.
Riwanto adalah seorang peneliti LIPI (sekarang BRIN). Ia menyelesaikan S1 di Fakultas Psikologi UI. Studi S2 dan S3 di bidang demografi Sosial di Australia. Riwanto dikenal sebagai ahli demografi sosial. Ia menulis buku, salah satunya berjudul Mencari Indonesia dari jilid satu sampau empat.
Ekspresi Perasaan
Sebagai peneliti sosial ia terbiasa menulis makalah atau artikel untuk jurnal ilmiah. Juga sering menulis esai. Meski rajin menulis puisi, Riwanto mengaku bukan kebiasaannya.
“Saya hanya sekali-sekali menulis puisi. Dan semua puisi yang saya tulis, merupakan ekspresi perasaan saya terhadap sesuatu. Jadi buat saya, puisi adalah pilihan untuk mengekspresikan perasaan,” kata Riwanto, puitis.
Puisi-puisi itulah yang akan ia bawakan di Sastra Bulan Purnama nanti. Ia tidak sendiri, melainkan banyak sahabat akan ikut membacakan karya puisinya. Termasuk akan dibacakan PM. Laksono, seorang antropolog, Guru Besar Anropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Akademisi lain yang ikut membacakan karyanya adalah Dr Yosef Yapie Taum, pengajar Uninersitas Sanata Dharma, sekaligus seorang penyair. Para pembaca lainya, dua orang dokter, Ita Fauzia dan Eny Suswanti.
Masih ada sederet pembaca puisi lagi, di antaranya Ana Ratri, Aprilia Wayar, MM, Sri Suwarni, Ninuk Retno Raras, Sonia Prabowo, Sri Wahyu Warhani dan Yuliani Kumudaswari.
Lagu dan Reviu
Bahkan, beberapa puisi karya Riwanto akan dibuat lagu oleh Joshua Igho, Yupi dan Menik Sithik bersama Thole. Yupi memilih dua puisi, ‘Nakagusuku’ dan ‘Ngliyep’ untuk dilagukan.
Sedangkan, Menik Sithik, Thome, bersama TM On, mengarap musikalisasi puisi, dan memilih tiga judul puisi. Ketia puisi itu adalah ‘Ketika Kata tak Mengungkap Makna’, ‘Pengembara yang Lelah”, dan ‘Luka’.
Selain dibacakan dan dilagukan, puisi-puisi karya Riwanto yang terbit dalam buku ‘Di Galeri Sumbing’ akan direviu Sutirman Eka Ardhana. Ia adalah sastrawan dan wartawan, yang sejak tahun 1970-an melalui Persada Studi Klub asuhan Umbu Landu Paranggi sudah aktif menulis puisi, cerpen, novel dan karya-karya jurnalistik.
Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyampaikan, sajian Sastra Bulan Purnama edisi 153 ini terbilang sangat unik dan menarik. Salah satu alasannya karena menampilkan seorang penyair yang mempunyai latar belakang akademis dan peneliti.
Penulis puisi itu juga seorang doktor. Ons melihat ruang puisi bisa untuk menyapaikan sesuatu yang tak bisa dituliskan melalui karya ilmiah.
“Saya kira menulis karya sastra, diperlukan riset, apa pun istilahnya untuk penyair, agar tema puisi memiliki isu yang berbeda,” kata Ons Untoro. (*)
JAYAKARTA NEWS – Tak kurang dari 30 manusia lanjut usia, menerbitkan buku berjudul “Kita Lansia: Terus Berkarya, Bahagia, Penuh Berkah”. Tak ayal, Badan Pembentuk Perda DIY DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta menyambut positif.
Sebagai wujud dukungan, Ketua Badan Pembentuk Perda DIY, Dr. Hj. Yuni Setya Rahayu, SS., M.Hum memfasilitasi kegiatan diskusi buku tersebut. Adapun yang bertindak sebagai penyelenggara, Komunitas Sastra Bulan Purnama dan Komunitas Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta.
“Para lansia yang usianya di atas 60 tahun ini, masih terus berkarya. Saya kira hal itu menyenangkan. Sebab, lansia tidak harus berdiam diri di rumah, melainkan tetap beraktivitas,” kata Yuni Setya Rahayu.
Diskusi buku akan berlangsung di Ruang Paripurna 2, Lantai 2 Gedung DPRD DIY, Jl. Malioboro 54, Suryatmajan, Danurejan, Yogyakarta. Dua narasumber akan hadir sebagai pembicara. Yang pertama, Dr. dr. Zaenal M. Sofro, AIFM, Sport & Circ. Med. Pengajar Fisiologi FK UGM. Pembicara kedua, Halim HD, networker kebudayaan, tinggal di Solo, sekaligus mewakili penulis buku.
Buku Kumpulan Esai “Kita Lansia”. Pembahas: Dr. dr. Zaenal M. Sofro, AIFM, Sport & Circ. Med., Halim HD, dan moderator Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp. Perio, Subsp RPID, FISIF.
Di Atas 60 Tahun
Adapun yang berperan sebagai moderator adalah Dr. drg. Ahmad Syaify, Sp. Perio, Subsp RPID, FISIF. Pengajar FKG UGM, yang merupakan salah satu penulis dalam buku ‘Kita Lansia’.
Profesi penulis buku beragam. Ada yang wartawan, dokter, penyair, pemikir kebudayaan, pengajar, peneliti, perawat, penyair, dan aktivis yang tinggal di berbagai kota. Ada yang tinggal di Jakarta, Australia, Bekasi, Tangerang, Semarang, Solo, Yogyakarta dan beberapa kota lain. Mereka berusia di atas 60 tahun, dan yang tertua berusia 79 tahun.
Ke-33 penulis itu adalah, Adri Darmaji Woko, Agoes Widhartono, Ahmad Syaify, Benedictus Mujiyadi, Bambang Prayitno, Bambang Sigap Sumantri, dan Bob Trisunuwarso. Disusul nama-nama selanjutnya, Dewi Anggraeni, Genthong HSA, Gunawan, dan Gunoto Saparie.
Nama penulis lainnya, Halim HD, Handrawan Nadesul, Herry Gendut Janarto, Isti Nugroho, Kurniawan Junaedhie, Lies Wijayanti SW, dan Mustofa W. Hasyim. Kemudian disusul ada nama Nia Samsihono, Ninuk Retno Raras, Ons Untoro, Ratna Hendrarsi, Sinta Herindrasti, Simon HT, Soeparno S. Adhy, Sofia Tri Lestari Setyaningsih, Sulis Bambang, Sunarto, dan Sutirman Eka Ardhana. Deretan terakhir, ada nama Wahid Supriyadi, Wara Kusharwanti, Wisma Nugraha Christanto, dan YB. Margantoro.
Adapun, penggagas penerbitan buku ini ini adalah Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama dan Sinta Herindrasti, Pengajar di Universitas Kristen Indonesia, Jakarta. Mereka merasa perlu memberi ruang bagi lansia untuk melakukan refleksi. Harapannya, refleksi itu berguna bagi orang lain.
“Mungkin, setelah buku ini, lansia perlu diajak menulis tema lain, agar pikirannya terus bergerak, sekaligus untuk menunjukkan bahwa lansia tidak pikun,” ujar Sinta Herindrasti.
Informasi terakhir, kapasitas 70 peserta diskusi, sudah penuh. Panitia berterima kasih atas dukungan fasilitasi dari DPRD DI Yogyakarta. (*)
Acara “Sastra Bulan Purnama” yang digelar di Museum Sandi Kotabaru Yogyakarta, Sabtu (27 April 2024), tampak beda dari biasanya. Pasalnya, kali ini menyuguhkan pembacaan 11 cerpen oleh penulisnya dengan cara yang tidak lazim.
Sebelas cerpen diambil dari buku kumpulan cerpen “Namaku Luka” yang memuat 25 karya cerpenis perempuan, oleh Ana Ratri dirajut menjadi satu fragmen cerita yang saling terkait. Diawali Ninuk Retno Raras membacakan cuplikan cerpennya berjudul “Kain Batik Ibu.” Apa istimewanya selembar kain batik yang sedang kudekap di dada? Selembar kain batik tua bermotif Sidomukti yang membuat tubuhku gemetar. Antara hangat sekaligus dingin menyatu perasaan tak menentu….
Buku Kumpulan Cerpen dari 25 penulis perempuan.
Sesaat kemudian Ana Ratri muncul dari kerumunan penonton dengan vokal cukup kuat karena selain penulis dan sutradara, ia adalah penggiat teater lulusan ASDRAFI. Ana Ratri dengan nada jenaka membacakan potongan cerpennya berjudul “Sandal Lili”. Tarjo dan Parti adalah sepasang suami istri yang baru dua bulan menikah dijodohkan orang tua mereka.
Dua bulan purnama berlalu dengan syahdu meski tanpa bulan madu. Pagi itu ada yang spesial. Parti membelikan sandal Lili buat suami tercintanya. Tarjo mengambil cutter untuk membuat ukiran di atas sandal itu. Ditulisnya kata “Suami” pada sandal sebelah kiri dan “Parti” pada sandal sebelah kanan.
Ketika Tarjo dapat panggilan kerja di Jepang, ia berpesan pada Parti, Sandal ini aku tinggal saja, aku ngga mau dia hilang. Tolong simpankan untuk saya sandal ini, hanya Suami Parti yang boleh memakainya, pesan Tarjo sebelum berangkat ke negeri Sakura.
Lima tahun berlalu terasa begitu cepat. Sebuah mobil minibus hitam memasuki kampung urung berhenti di depan rumah Parti. Mobil sarat muatan itu diminta oleh penyewanya menuju masjid.
Beberapa warga yang sempat menatap wajah penyewa mobil dengan tatapan aneh. Seperti takut atau perasaan apa yang tidak dipahami. Penyewa mobil keluar dari masjid dan hendak memakai sepatunya. Seketika keringat dingin mengucur di tubuhnya. Jantung terasa meledak.
Ana Ratri, penganyam cerita dan sutradara
Bola matanya nanar seperti hendak meloncat keluar. Berulang-ulang dia tajamkan matanya seolah tak percaya atas apa yang dilihatnya. Kepalanya digelayuti tanda tanya yang besar sekali. Apa yang sudah terjadi? Siapa gerangan memakai sandal Lili “Suami Parti?”
Tepuk tangan penonton untuk Ana Ratri masih riuh ketika Menik Sithik memulai ceritanya, “Bukan Sebuah Derita”. Penulis kelahiran Sragen yang kini menetap di Yogyakarta ini mengisahkan balada klasik, mahasiswi bernama Marissa yang mengalami kehamilan akibat hubungan dengan kekasih pilihannya.
Marissa menumpahkan segenap kepedihannya pada Frans, teman kuliah sekaligus tempat berbagi cerita tentang apa saja. Pada saat Marissa menganggap semua derita itu hanya masa lalu, justru dia dihadapkan pada permintaan sang sahabat yang mengoyak kembali batinnya.
“Terimakasih, Frans, dan maafkan aku yang tak bisa memenuhi harapanmu” Kugandeng tangan bocah laki-laki itu, melangkah meninggalkan taman kota yang sudah mulai diterangi lampu-lampu jalan.
Meninggalkan lelaki yang masih duduk sendiri dengan segala yang dipikirkannya. Sekilas di seberang jalan, aku melihat sekelebat sosok laki-laki lain melintas meninggalkan tempat di mana dia berdiri sebelumnya. Malam menelan bayangannya.
Nunung Rieta dan Menik Sithik
Cerpenis berikutnya adalah Nunung Rieta membaca potongan cerita “Yenna”. Masih tema percintaan sepasang anak muda. Hari itu Yenna menangis tersedu di dalam dekapan Frans setelah memberitahukan adanya kehidupan di dalam perutnya, benih cintanya bersama Frans. Tragedi terbangun ketika Frans dipertemukan dengan ibunya, yang tak lain adalah ibunya Yenna.
Selaku penganyam cerita, Ana Ratri coba mendramatisir alur cerita. Tokoh Frans pacar Yenna dengan Frans teman Marissa dibuat seolah orang yang sama. Ketegangan sempat terjadi sebelum diklarifikasi oleh Nunung Rieta bahwa tokoh Frans yang ia tulis bukanlah orang yang sama dengan Frans rekaan Menik Sithik.
Lagi-lagi Ana Ratri menunjukkan kepiawaiannya dalam merajut cerita. Cerpen “Pohon Mangga Ajaib” karya Sonia Prabowo dijadikan induk dari semua cerita. Sonia mempersonifikasikan pohon mangga yang buahnya kelewat lebat sehingga saling senggol, sibuk berceloteh dan bergosip. Sosok-sosok mangga itu setiap hari bergunjing, penuh sarkas dan satire.
Ana Ratri kemudian menggesekkan cerita sebelumnya dengan cerpen Maria Widhy Pratiwi bertajuk “Kamar 305”. Cerpen yang sedikit absurd dan surealistik. Maria Widhy kerap menggiring pembaca ke atmosfer horor dan misteri.
Suatu hari ketika Nana dan Berto sedang berdua di tepi pantai, Berto bercerita bahwa ia merasa sudah mengenal Nana lama. Kemudian ia bercerita bahwa dulu sekali entah kapan, ia merasa pernah ditolong oleh Nana di suatu tempat.
Ketika tubuh Berto melayang ia sempat melihat tulisan di daun pintu angka 305. Saat itu Nana terkejut. Ia shock dan ketakutan dengan cerita pengalaman Berto di waktu lampau . Lalu Nana berlari meninggalkan Berto. Ia tidak mau kembali kepadanya lagi.
Tak kalah misteriusnya cerpen “Perempuan di Bangku Panjang” karya Yuliani Kumudaswari. Semalam, satu pasien di bangsal ini kembali meninggal. Pak Eman lelaki paruh baya di ranjang terujung. Rasa duka kehilangan merebak bersama rumor Ranjang Bergoyang.
Ya, setiap ada pasien yang meninggal, ranjangnya diguncang oleh kekuatan tak terlihat malam sebelumnya. Dan anehnya, setiap terdengar derit per ranjang yang berguncang, tak ada satu pun – baik pasien maupun penunggu – yang berani mengintip.
Keanehan lain, perempuan itu, perempuan yang selalu duduk menunduk di bangku panjang di lorong bangsal, muncul di hari yang sama ketika seorang pasien dinyatakan meninggal.
Ninuk, Sonia, Novi, Chacha
Pembaca berikutnya adalah dosen Fakultas Ilmu Budaya UGM Novi Indrastuti. Judul cerpennya “Solusi Dalam Mimpi”. Pertemanan Vania dan Manda sangat akrab selama beberapa tahun. Namun Manda punya karakter suka menzalimi orang lain. Sifatnya yang ambisius, merasa dirinya tinggi, dan suka menyepelekan orang lain. Di awal pertemuan, Manda menunjukkan sikap manis, penuh perhatian, dan suka menolong Vania.
Manda mulai berulah dengan memplagiasi karya Vania pada sebuah media yang cukup prestisius. Di samping itu, saat Vania mempunyai ide untuk mengadakan kegiatan “Pelatihan Penulisan Kreatif”, Di saat Vania pergi melakukan riset ke Korea Selatan, Manda segera mengimplementasikan kegiatan “Pelatihan Penulisan Kreatif” itu dengan mencantumkan nama Manda sebagai penggagas acara.
Vania bingung solusi apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalahnya dengan Manda. Di satu sisi, Vania tidak ingin melukai perasaan Manda, tetapi di sisi lain Vania telah banyak dirugikan oleh kelakuan sahabatnya itu.
Penyelesaian apapun akan berakibat renggangnya hubungan persahabatan. Begitu rumit sebuah hubungan persahabatan yang tanpa didasari ketulusan dan kejujuran. Betapa sulitnya mencari kawan sejati yang benar-benar tulus.
Vania merasa sangat lelah secara psikis hingga akhirnya tertidur dalam kegalauan. Barangkali mimpi bisa memberikan inspirasi dan solusi.
Savitri Damayanti, penulis berlatar pendidikan Sastra UGM Yogyakarta coba menceritakan “Pangon”. Pangon adalah sebutan bagi penggembala sapi di desanya. Kanti gadis manis putri Pak Bayan tidak pernah mengira kalau Kang Ranto, pangon kesayangan bapak adalah kakak laki-lakinya dari ibu yang berbeda.
Bapak sebagai Jagabaya adalah sosok yang sangat terhormat di hatinya. Kanti baru sadar kalau ternyata mamak adalah perempuan kuat yang mampu mengulum dalam diam semua luka hatinya akibat ulah bapak selama ini.
Kanti makin tidak habis pikir lagi, ketika bapak dan mamak bersekongkol menjodohkan dirinya dengan Kang Ranto hanya demi supaya harta bapak tetap utuh.
Apakah Kanti tidak bisa menentukan nasibnya sendiri, atau harus pasrah pada takdir karangan bapak dan mamak? Jalan hidup bukanlah jalan cerita yang ditentukan oleh manusia, orangtua adalah perantara bukan pembuat skenario kehidupan anak-anaknya…..
Penulis dan pemain teater senior Ami Simatupang mengakhiri semua cerita dengan penuturan tentang “Mbah Atmo”. Seorang lelaki tua lugu berprofesi sebagai pembuat kasur tradisional yang terbuat dari kain kasur diisi kapuk randu. Keluguannya sering menjadi sasaran keusilan para pemuda tetangganya.
Suatu saat tanpa sengaja ia menemukan sepotong emas dalam kantung kapuk yang membuatnya ditahan semalam di Polres. Polisi tidak berhasil menemukan bukti kejahatan sehingga Mbah Atmo dibebaskan esok harinya.
Seluruh warga, terutama keluarga, sempat cemas dan sedih yang mendalam saat Mbah Atmo diciduk polisi. Keluarga dibantu warga merayakan kepulangan Mbah Atmo dengan menggelar pesta syukuran.
“Ibu-ibu… Mbah Atmo syukuran… ayo kita ke sana sekarang…!” Ajakan Ami Simatupang diikuti oleh semuanya. Para penulis hebat berjalan meninggalkan panggung.
Bincang Kata
Sebelum pembacaan cerpen, terlebih dahulu penyair dan wartawan senior Mustofa W. Hasyim memberikan pengantar bertajuk “Bincang Kata”. Dikatakan oleh Mustofa, telah terjadi kontinyuitas kreatif para penulis perempuan dari generasi yang dimunculkan oleh majalah keluarga (Kartini, Femina, Sarinah, Nova, dll).
Berlanjut, pada generasi yang dibesarkan oleh komunitas (Forum Lingkar Pena, Komunitas Cerpen Indonesia, Komunitas Sastra Indonesia) kemudian juga ditumbuhkan oleh berbagai lomba penulisan cerpen dan novelette, novel atau roman dan diteruskan oleh generasi terbaru yang menumbuhkan dirinya sendiri lewat mambaca karya sastra online dan offline. Adanya kontinuitas gerak penulisan kreatif ini patut disyukuri dan disambut gembira.
Lebih jauh Mustofa menyampaikan adanya kedewasaan bersikap para penulis perempuan ketika berjumpa atau menghadapi masalah hidupnya. Jiwa mereka makin matang ketika dipanggang oleh panasnya masalah yang menghampiri mereka.
Semoga ini mencerminkan kecenderungan sosial masyarakat kita yang makin dewasa dan matang bersikap meski di medsos dihajar oleh buzzer, provokator dan para pengeruk duit di tengah kegaduhan konflik wacana dengan menampilkan konten yang mendidihkan emosi. Mustofa berharap semoga kontinuitas gerak kreatif dalam sastra terus terjaga dengan sentausa.
Semua Hebat
Sutirman Eka Ardhana, wartawan senior yang telah puluhan tahun menggeluti sastra dan literasi menyambut gembira dengan peluncuran buku kumpulan cerpen cerpenis perempuan ini.
Menurut Eka, launching buku kumcer “Namaku Luka” pada acara Sastra Bulan Purnama yang menghimpun karya 25 cerpenis perempuan di Museum Sandi Yogyakarta ini tampak jauh berbeda dan lebih berkesan dibanding launching-launching sebelumnya. Karena dalam launching buku ini, penggalan-penggalan cerpen di dalamnya tak sebatas dibaca oleh penulis-penulisnya, tapi juga telah dijadikan tampilan tontonan semi teater yang menarik.
Unsur seni pertunjukannya begitu kental, bahkan pengunjung tak hanya sekadar jadi penonton saja, tapi juga telah dilibatkan menjadi bagian dalam pertunjukan itu. Walau pun mungkin penontonnya sendiri tak merasa dilibatkan, dan tak merasa kalau telah dijadikan pemeran pembantu. Cerpen-cerpen di dalam buku kumcer “Namaku Luka” itu hebat-hebat, yang ditulis oleh penulis-penulis hebat juga. Dan yang pasti pembacaan penggalan cerpen-cerpen itu telah dikemas dalam pertunjukan yang tak kalah hebatnya. Pokoknya, semua hebat.***
JAYAKARTA NEWS – Sebanyak 25 perempuan penulis dari berbagai kota, menerbitkan kumpulan cerpen berjudul “Namaku Luka”. Dua penulis di antaranya bahkan tinggal di luar negeri. Mereka adalah Dewi Anggraeni, jurnalis dan cerpenis yang tinggal di Australia, dan Eni Takahashi (Jepang).
Peluncuran kumpulan cerpen bersamaan acara Sastra Bulan Purnama, Sabtu, 27 April 2024, pukul 15.30 di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta. Di situ, para cerpenis akan membacakan karyanya.
Sebelum pembacaan cerpen, K.H. Mustofa W. Hasyim, seorang penyair, cerpenis dan novelis, akan memberikan satu catatan bertajuk “Bincang Kata”. Mustofa sedia mereviu sejumlah karya cerpen dalam buku “Namaku Luka”.
Yang menarrik, dari 25 penulis cerpen, 10 di antaranya akan membacakan karyanya dalam kemasan pertunjukan. Ana Ratri, cerpenis yang juga pemain teater, adalah salah satunya.
Sejumlah nama lain yang menyajikan pembacaan cerpen dalam format pertunjukan adalah Ami Simatupang, Menik Sithik, dan Ninuk Retno Raras. Di samping itu, ada Novi Indrastuti, Nunung Rieta, Savitri, Sonia Prabowo, Maria Widhy Aryani, dan Yuliani Kumudaswari.
“Penampilan mereka seolah seperti saling bercerita, bukan membaca satu per satu secara bergantian seperti selama ini dilakukan,” ujar Ana Ratri.
Di kesempatan terpisah. Bey Saptomo, penulis sastra Jawa dan aktor ketoprak, juga akan berpartisipasi. Ia sedia membacakan cerpen karya Rayni Massardi berjudul ‘Luka Manis’. Bey juga tidak sekadar membaca, tetapi mengubahnya menjadi seni pertunjukan.
Bei Saptomo dan KH Mustofa W. Hasyim
Ruang Berkarya
Penerbitan buku kumpulan cerpan “Namaku Luka” terwujud atas kerjasama Sastra Bulan Purnama dengan PT Luas Birus Utatma. “Melalui penerbitan ‘Namaku Luka’ ini, saya berharap Komunitas Sastra Bulan Purmama, terus memberi ruang berkarya pada anak bangsa dalam rangka mengembangkan literasi. Dari kejauhan, dengan senang hati mendukung,” kata Dr. Drs. Haris Susanto, M.Hum, Direktur Utama PT. Luas Birus Utama.
Selain dari Yogya, para penulis cerpen ini tinggal di kota berbeda. Di antaranya, Lies Wijayanti (Jakarta), Sriyanti Sastro Prayitno (Semarang), Rayni Massardi (Bekasi), Linda Sulistiawati (Madura).
Nama2 lain tinggal di Yogyakarta: Ana Ratri, Ami Simatupang, Cicit Kaswami, Chacha Baninu, Maria Widy Aryani, Ngatinah, Novi Indrastuti, Nunung Rieta, Ninuk Retno Raras, dah Menik Sithik. Di samping itu ada nama-nama Rina Widyawati, Sashmytha Wulandari, Savitri Damayanti, Sonia Prabowo, M.Widhy Pratiwi, Ch. Sri Purwanti, Ngatinah, Umi Kulsum, dan Yuliani Kumudaswari.
Ons Untoro, pimpinan Sastra Bulan Purnama menjelaskan, perempuan penulis tidak hanya berada di Yogyakarta, tetapi juga banyak perempuan kreatif di berbagai kota. “Jumlah 25 perempuan penulis, sejatinya jumlah yang sangat kecil dibandingkan jumlah perempuan penulis sebenarnya,” tambah Ons. (*)
JAYAKARTA NEWS – Sastra Bulan Purnama edisi 150, akan digelar Jumat, 22 Maret 2024 di tengah bulan Ramadhan. Sebuah event ngabuburit bersama tiga penyair Yogya, Fauzi Absal, Marjuddin, dan Yuliani yang meluncurkan buku puisi berjudul ‘Jalan Yang Dipilih’. Tempat acara tetap di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta.
Selain ketiga penyair di atas, pembaca puisi yang akan tampil, Arif Nurcahya, Eko Winardi, Esti Susilarti, Sri Kuncoro, Sonia Prabowo, Sri Surya Widati, dan Tari Sudiharto. Adapun acara Bincang Buku akan disampaikan Simon HT, seorang pemikir kebudayaan. Selain itu, Joshua Igho dan Yupi akan menggubah puisi menjadi lagu.
Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, ketiga penyair ini sengaja disatukan dalam satu buku. Setidaknya untuk memberi ruang pada penyair yang rajin menulis puisi, meskipun rubrik puisi semakin sepi.
“SBP merasa perlu menghadirkan media cetak dalam bentuk buku sebagai ganti rubrik puisi,” ujar Ons Untoro
Kedua penyair, Fauzi dan Marjuddin sudah lebih 40 tahun menulis puisi, dan hanya puisi. Keduanya tidak menulis cerpen atau artikel/esai. Sejak usia 20-an tahun keduanya sudah ‘belajar’ menjadi penyair, dan ‘niat’ menjadi penyair tidak pernah kendor. Meskipun sekarang, bahkan hari-hari ini, predikat kepenyairan tidak dipedulikannya, namun kesungguhannya menulis puisi tidak pernah luntur.
Buku kumpulan puisi “Jalan yang Dipilih”, Marjuddin, dan Fauzi Absal. (ist)
Sepatu dan Puisi
Fauzi muda bekerja sebagai perajin sepatu, sekaligus penerjemah. Di tengah kesibukannya menyelesaikan pesanan sepatu, selalu ada waktu untuk menulis puisi. Dua kegiatan itu, membuat sepatu dan menulis puisi, seperti tak bisa dipisahkan.
Aktivitas pertama upaya untuk menjaga kehidupannya terus berlangsung. Sedangkan, aktivitas kedua untuk memberi makna terhadap hidup yang dijagannya. Dengan demikian sepatu dan puisi adalah jalan hidupnya.
Usia Fauzi Abzal 73 tahun, pernah belajar di ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia), maka seringkali ia terlihat melukis, meski tak produktif. Karena pilihannya pada puisi. Pada usia lansia, Fauzi masih menulis puisi, namun tidak produktif seperti masa muda.
Marjuddin, alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di IKIP Negeri Yogyakarta, sekarang UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) memilih tetap tinggal di desa di Lendah, Kulonprogo. Ia memilih menjadi petani sambil terus menulis puisi. Karena tak memiliki kemampuan menggunakan laptop, meski ia memiliknya, gairah menulis puisi tak kunjung reda. Setiap hari ia menulis puisi di handphone-nya, yang kadang dikirimkan ke teman-temannya, atau ia pajang di laman facebook.
Petani dan Puisi
Petani dan puisi, dalam hidup Marjuddin seperti benih padi dan pupuk, keduanya saling membutuhkan dan menghidupi. Begitulah Marjuddin, tak bisa meninggalkan puisi. Di usia 70 tahun, puisi satu-satunya yang menemani hidupnya.
`Karena kedua penyair tersebut di atas, begitu teguh terhadap puisi, bahkan bisa dikatakan puisi merupakan jalan hidup menemuukan makna, maka buku kumpulan puisi ini diberi judul ‘Jalan Yang Dipilih’.
Jalan puisi yang ditempuhnya sudah cukup jauh, namun keduanya tidak melepaskan dari proses perjalanan penyair yang lebih muda. Ketika keduanya melihat perempuan penyair, menapaki jalan yang dilalui Fauzi dan Marjuddin, keduanyanya menyapa, dan mengajak Yuliani Kumudaswari, perempuan penyair yang usianya jauh lebih muda, untuk bertemu dia ruang yang sama, ialah antologi puisi.
Maka, Yuliani, alumni jurusan Biologi FMIPA UNPAD, seorang ibu rumah tangga, yang secara ekonomi sudah mapan, bersama suaminya pernah tinggal dibeberapa kota, Medan, Surabaya, Sidoarjo, Semarang dan sekarang Yogyakarta, dan terus menulis puisi, ikut bergabung dalam satu buku puisi, sehinngga buku puisi ini diberi tanda ‘antologi puisi tiga penyair Yogya’. Ketiganya memang tinggal di Yogya, meski di area berbeda, Marjuddin, masuk wilayah Kulonprogo, Fauzi wilayah Bantul, dan Yuliani wilayah Sleman.
Dibandingkan Fauzi dan Marjuddin, Yuliani termasuk ‘masih baru’ di area kepenyairan Yogya. Ia mulai menulis puisi tahun 2010. Namun kesungguhannya menulis puisi, tak kalah dibandingkan Fauzi dan Marjuddin. Selain itu, ia juga bergaul dengan penyair berbagai kota di Indonesia, yang usianya berbeda-beda. Puisi Yuliani juga masuk dalam antologi puisi bersama penyair Indonesia lainnya. Ada sekitar 120 antologi puisi bersama penyair dari berbagai kota, yang didalamnya ada puisi2 Yuliani.
Dalam kata lain, pada jalan puisi ini, jalan yang dipilih, Fauzi, Marjuddin dan Yuliani saling berjalan beriringan. (pr)
JAYAKARTA NEWS – Seperti halnya sastra Indonesia, sastra Jawa tak berhenti ditulis. Selalu ada penulis sastra Jawa dari usia berbeda-beda menulis sastra Jawa, baik berupa geguritan, cerita cekak dan novel.
Ini ada naskah lakon berjudul ‘Prahara Watusungsang’ ditulis Cicit Kaswami Rahayu. Tulisan ini mendapat penghargaan “Hadiah Sastra Rancage” tahun 2024 dari Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikan oleh sastrawan Ajip Rosidi.
Kisah Prahara Watusungsang, seolah seperti situasi politik negeri kita yang muram, yang membuat sesak dada banyak orang. Seorang raja, yang menikahi perempuan anak pekathik atau perawat kuda. Di kemudian hari, istri raja tersebut, yang berasal dari rakyat, lebih berkuasa ketimbang rajanya, sehingga membuat rakyatnya menderita.
Begitulah rakyat yang mendapat kekuasaan, Mentalnya tidak kuat dan mempunyai keinginan untuk terus berkuasa. Lalu dengan berbagai cara, termasuk merusak pranata hukum, merobek moral, meluruhkan etika, agar kekuasan tidak lepas darinya.
Pertunjukan pentas baca ini, akan dimainkan Komunitas Kembang Adas, pimpinan Cicit Kaswami Rahayu. Ia bagian dari agenda Sastra Bulan Purnama edisi 149, Sabtu, 24 Februari 2024, pkl. 15.30 WIB di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta. Tepatnya di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta. Sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru, atau juga sebelah selatan ban-ban Gondolayu.
Komunitas Kembang Adas
Anggota Komunitas Kembang Adas terdiri dari berbagai usia, Mereka sudah sering mengadaikan pentas di berbagai kesempatan, termasuk di Sastra Bulan Purnama. Para pemain pentas baca Prahara Watusungsang di antaranya Ami Simatupang dan Cicit Kaswami. Nama-nama lain, Choen Supriatmi, Martini, Purwanti, dan Plenok. Kemudian ada Lisa, Titik Y, Tutik W, Wening, Yohana, dan Imam Widyoko. Di samping, Patah Ansori, Gati, Eko, Dito, Tri R., Wahyu, Guri, Latih.
“Disebut pentas baca, karena para pemainnya pentas sambil membaca naskah. Masing-masing tidak perlu menghapal naskah sebagaimana pentas drama,” ujar Cicit Kaswami.
Bu Cicit (82 th), demikian ia biasa dipanggil, dalam usianya yang sudah lanjut masih terus produktif berkarya. Ia menulis cerkak, cerpen maupun naskah lakon.
Sastra Jawa dan Etnik
Sastra Bulan Purnama (SBP), kata Ons Untoro, koordinator SBP, sudah lebih dari 2 kali memberi ruang karya Cicit Kaswami. Keduanya berupa pentas baca.
“Sastra Bulan Purnama memang bukan hanya untuk sastra Indonesia. Terbuka terhadap sastra Jawa dan sastra etnik lainnya,” ujar Ons Untoro.
Sementara Setyo Budi Prabawa, Kepala Museum Sandi, menyambut baik sinergi Sastra Bulan Purnama dan Muesum. Menurutnya, keduanya sama-sama mengembangkan produk kebudayaan dalam rupa dan bentuk yang berbeda.
“Rasanya, sudah satu tahun lebih Sastra Bulan Purnama bersama Museum Sandi memberi ruang terhadap sastra. Bukan hanya pertunjukkan, tetapi juga diskusi buku sastra dan kebudayaan,: ujar Setyo Prabawa. (*)