Arie Kriting Provokasi Mahasiswa Komunikasi PTIQ Jadi Content Creator Andal

JAYAKARTA NEWS— Komika  kenamaan Arie Kriting ‘memprovokasi’ mahasiswa agar piawai dalam storytelling atau kompetensi narasi  pengalaman, atau informasi yang bertujuan menghibur, mendidik, dan membangun koneksi emosional dengan audiens. Jika kompetensi tersebut dikuasai melalui pembuatan  kontek kreatif (content creator) di media sosial, merupakan peluang aktivitas dan karir yang menggiurkan.  

Hal tersebut disampaikan Arie Kriting pada acara Workshop of Narrative bertajuk “The Power of Narrative: Strategi Storytellling dalam Pembuatan Film Pendek dan Konten Digital yang Berdampak”, Kamis (5/2) di UPTQ. Acara dibuka Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UPTQ Achmad Fachrudin. Sesuai request dari Arie Kriting dan agar kegiatan fokus, peserta dibatasi sekitar 50 orang. Workshop akan berlangsung hingga Jum’at (6/2).

Pemilik nama lengkap Satriaddin Maharinga Djongki yang naik daun setelah membetot juara ketiga ajang Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV  2013 menjelaskan,  aktivitas konten kreatif di media sosial tidak bisa dilepaskan dari hadirnya revolusi ketiga yang sering disebut pula dengan era digital. “Kehadiran era digital telah menggeser peluang usaha dari sektor manufacture ke konten kreatif,” ujar Arie.

Menurut Arie, peluang menjadi pembuat konten kreatif andal tidak mesti dimonopoli artis  atau selebriti beken. Kalangan mikro-selebiriti atau individu yang mampu membuat konten kreatif secara online  di Tiktok, Face book, Youtube, Tread/X, Instagram dan lain-lain yang menarik dan memiliki distingsi dari yang lain, berpotensi menggaet pengikut (followers) puluhan ribu, ratusan ribu bahkan hingga jutaan. Jika hal tersebut tercapai,  ungkap Arie lagi, popularitas dan cuan berlimpah hanya dalam waktu sekejap bisa diraih.

Arie yang juga dikenal sebagai penulis, aktor dan sutradara film, memberikan sejumlah resep yang mesti diperhatikan dan dimiliki para calon mikro-selebriti andal. Antara lain memahami materi yang disempaikan secara rinci (detail), menentukan tujuan yang hendak dicapai (goals), memahami penonton yang akan disasar (audience), memilih secara tepat medium yang akan digunakan (platform), dan merumuskan konsep yang ideal (concept). (abah)

Dosen Prodi KPI Universitas PTIQ Urun Rembuk Komunikasi Berbasis Al-Qur’an

JAYAKARTA NEWS— Para dosen pengampu rumpun ilmu komunikasi pada  Program Studi (Prodi) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah Universitas Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta melakukan urun rembuk mengenai visi bangunan  keilmuwan (body of knowledge) komunikasi berbasis  Al-Qur’an. Kegiatan tersebut dibuka Dekan Fakultas Dakwah Universitas PTIQ Jakarta Topikurohman Bedowi, Kamis (12/1).

“Visi bangunan keilmuwan komunikasi berbasis  Al-Qur’an, harus menjadi distingsi dari Prodi KPI PTIQ  karena hal tersebut menjadi ciri khas Univeritas PTIQ,” ungkap Topikurohman yang juga lulusan Program Doktor PTIQ Jakarta. Hadir pada kegiatan tersebut sejumlah   dosen KPI Prodi PTIQ. Di antaranya:  Ellys Lestari Pambayun, Wahab Kadri, Syahlul Fuad, Toto Sugiarto, Edy Koko, Yusron Sjarief,  Ahmad Zahrul Haq dan Ahmad Rizalmi.

Pada urun rembuk yang dipandu oleh Ketua Prodi KPI Achmad Fachrudin, muncul sejumlah gagasan dan usulan dari para dosen KPI agar bangunan keilmuwan komunikasi yang berbasis Al-Qur’an tersebut ditindaklanjuti secara konkrit dan masuk dalam kurikulum, Capaian Pembelajaran, Rencana Pembelajaran Semester, Deskripsi Singkat Mata Kuliah (MK), Bahan Kajian/Materi Pembelajaran dan sebagainya.

Isu lain yang menjadi perbincangan hangat  adalah peningkatan kompetensi profesional, pedegogik, kepribadian dan sosial dosen.   Implementasi tri darma perguruan tinggi khususnya terkait dengan penulisan dan publikasi jurnal ilmiah dan buku yang terkait dengan rumpun keilmuwan komunikasi, serta peningkatan proses pembelajaran dibarengi dengan ketersediaan laboratorium dakwah dan multi media sebagai sraana praktik bagi mahasiswa.

Ke depannya Prodi KPI PTIQ akan lebih meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam penulisan (writing), berbicara di depan umum (public speaking), pendengaran (listening), dan sebagainya.  Yang tidak kalah pentingnya penguatan kompetensi mahasiswa di bidang teknologi digital dan multi media khususnya  audio visual untuk kepentingan pengembangan  dan pemasaran dakwah secara virtual, maupun pengembangan karir mahasiswa. Serta penguatan kemampuan berfikir  kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration).***abh

PTIQ Rumuskan Konsep Khairo Ummah Versi Indonesia

JAYAKARTA NEWS— Sejauh ini belum ada satupun  institusi pemerintah maupun non pemerintah yang secara komprehensif  merumuskan konsep khairo ummah,  sebagaimana diamanahkan Al-Qur’an ayat 104. Untuk itu, Insitut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an  (PTIQ) yang telah bertransformasi dari institut ke universitas akan berikhtiar untuk  mengisi kekosongan tersebut.

Hal tersebut dikemukakan oleh Rektor Institut PTIQ Jakarta Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA pada acara Rapat Kerja  (Raker) Insitut PTIQ Jakarta Tahun Akademik 2022/2023, Sabtu (7/1/2023) di Bali.   Acara Raker diikuti sebanyak 73 orang. Terdiri dari Pembantu Rektor, Dekanat, para  Ketua Program Studi dan karyawan di lingkungan Institut PTIQ.

Dalam formulasinya, konsep khoiro ummah akan dikombinasikan dengan strategi kebudayaan yang compatible, kompetitif  dan diarahkan untuk memajukan ekonomi bangsa di kancah global, sebagaimana pernah digagas Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Al-Qur’an Ponco Sutowo. Tujuan akhir dari konsep khairo ummah, dapat bermanfaat bukan hanya bagi PTIQ, melainkan juga umat dan bangsa Indonesia.

Sebelum sampai pada gagasan dan inisiasi  tersebut, Nasaruddin Umar yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal memotret  pengalaman dan praktik pembangunan sejumlah negara. Seperti Jepang, Cina, negara-negara Skandinavia, serta Timur Tengah. Salah satu variabelnya adalah  tingkat kebahagiaan (happiness) warganya.  Mengacu hasil riset World Happines Report,   negara-negara Skandinavia, berada pada peringkat 1 sampai 10. Sementara Indonesia berada di peringkat 60 dari 150 negara yang diriset/survei..

Guru Besar  Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta menambahkan, Indonesia merupakan  negara paling tepat  untuk merumuskan konsep khairo ummah, bukan dari Timur Tengah. Peran Timur Tengah selesai dengan menghadirkan Islam ke dunia ini. Sedangkan untuk merawat dan mengembangkan serta mewujudkan Islam sebagai khairo ummah menjadi tugas Indonesia. Meskipun saat ini,   Indonesia mempunyai problem aktual sangat serius. Yakni:  terjadi ketimpangan  ekonomi  luar biasa antara Jawa dengan wilayah  luar Jawa.***abh

Rektor PTIQ Nasaruddin Umar: Indonesia Berpeluang Jadi Negara Demokrasi Terbesar di Dunia

JAYAKARTA NEWS— Indonesia bukan hanya negara dengan pemeluk Islam terbesar, tetapi juga berpeluang menjadi negara demokrasi terbesar di dunia. Hal tersebut dikemukakan Rektor Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA, Sabtu (9/10) di kampus Institut PTIQ Jakarta.

Menurutnya, demokrasi Indonesia lebih maju dari negara lain, termasuk dari Amerika Serikat (AS). Sebab, Pilpres AS masih berdasarkan representasi wilayah geografis (electoral colloge). Sedangkan di Indonesia menggunakan one man one vote (satu orang satu suara).

Ia menyebut kasus Pilpres AS dimana calon presiden Hillary Clinton kalah dari Donald Trump. Itu terjadi karena penentuan pemenang dengan representasi. Bukan one man one vote. “Jika Hillary ikut Pilpres di Indonesia, dia berpeluang memenangkan Pilpres”, jelas Imam Besar Islam Masjid Istiqlal tersebut.

Untuk mewujudkan Indonesia sebagai negara muslim dan demokrasi terbesar, menurutnya memerlukan berbagai terobosan. Salah satunya dengan mengembangkan dan mewujudkan Islam moderat untuk menjawab berbagai tantangan dan problematika saat ini, termasuk di bidang demokrasi.

Dalam kontek ini, menurut Guru Besar Universitas Islam Negeri Jakarta, Institut PTIQ berpeluang menjadi garda terdepan dalam pengembangan doktrin Islam moderat. Sebab, fokus studinya pada pengembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an dan berwawasan Islam moderat. Jika nanti PTIQ bertransformasi menjadi universitas, ia berharap tetap harus berbasis Al-Qur’an.

Sebelumnya Nasaruddin mengatakan, PTIQ bertekad mempertahankan eksistensinya sebagai perguruan tinggi Islam swasta terbaik di Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek). Pengakuan PTIQ sebagai perguruan Islam swasta terbaik itu, dilatari oleh berbagai pengakuan dari berbagai kalangan. Salah satunya adalah pemberiaan bea siswa Pendidikan Kader Ulama (S2 dan S3) Masjid Istiqlal bekerja sama dengan Institut PTIQ dengan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). (fc)

Perlu Diperkuat Epistemologi Ilmu Dakwah

JAYAKARTA NEWS – Ilmu dakwah saat ini masih normatif. Karena itu, perlu  dilakukan penguatan epistimologi ilmu dakwah agar menjadi bangunan keilmuwan yang komprehensif, kokoh dan disepakati bersama. Hal tersebut dikemukakan Dekan Fakultas Dakwah Institut PTIQ Jakarta Topikurahman Bedowi pada acara Webinar tentang “Epistemologi Ilmu Dakwah” yang dilaksanakan Pusat Studi Dakwah dan Komunikasi (Pusdakom) Fakultas dakwah Institut PTIQ Jakarta, Kamis.

Topik menjelaskan, Al-Qur’an sebenarnya mengandung dimensi ontologis, epistemologis dan aksiologis yang bisa digunakan sebagai sumber ilmu dakwah. Secara ontologis misalnya, Al-Qur`an memperkenalkan sejumlah istilah atau konsep dasar dakwah yang diekspresikan dalam bentuk kata kerja transitif (fi`il muta`addî), bahkan ada yang secara tegas menggunakan kata kerja perintah (fi`il amr).  Hal ini mengindikasikan proses kegiatan dakwah perlu dilakukan secara dinamis, serius, sistematis, profesional, dan proporsional.

Secara epistemologis, Al-Qur`an mengenalkan gagasan dan visi dakwah sehingga melahirkan prinsip dakwah Qur`ani. Kemudian, secara aksiologis, Al-Qur`an menegaskan suatu misi dan tujuan sebagai pesan moral utamanya, yang diejawantahkan melalui wujud penghayatan (internalisasi), penyebaran (transmisi) dan perubahan (transformasi) nilai-nilai kebaikan (al-birr), kebenaran (al-haqq, al-khayr dan alma`rûf), dan kesucian sebagai hidayah llahi yang perlu ditegakkan dalam kehidupan umat manusia dari masa ke masa.

Untuk itu, menurut Topik, diperlukan kontekstualisasi ilmu dakwah dalam beberapa mata kuliah yang relevan. Seperti Ciciv Education, Ilmu Sosial Budaya Dasar (ISBD), Sosiologi, Bahasa, Komunikasi, Tafsir dan Hadist, dan lain-lain. “Hal ini pekerjaan besar dan berat, namun bukan mustahil untuk bisa dilaksanakan dan diwujudkan manakala dilakukan secara konsisten dan sungguh-sungguh,” ungkapnya.

Sementara Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Acmad Fachrudin mengatakan, Fakultas Dakwah perlu merumuskan capaian kompetensi yang diharapkan dari alumninya secara terukur. Ia mengusulkan setidaknya lulusan Fakultas Dakwah memiliki 6 (enam) kompetensi. Yakni kompetensi dakwah lisan, dakwah kewirausahaan (bil hal), dakwah dengan tulisan (al qalam), dakwah melalui media sosial, dakwah melalui multi media, dan dakwah melalui keteladanan. (abah)

PTIQ akan Bermetamorfosis Menjadi Universitas

JAYAKARTA NEWS— Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta berencana bermetamorfosis menjadi universitas. Sebab hanya dengan cara demikian, PTIQ dapat mewujudkan nilai-nilai universalitas Al-Qur’an dan Islam sebagai rahmatan lil Al-Amin.

Hal tersebut dikemukakan Rektor Institut PTIQ Jakarta Nasaruddin Umar saat membuka rapat kerja Institut PTIQ, di Aula Kampus II PTIQ Selasa (16/2). Hadir di acara tersebut para pembantu Rektor, Dekan, Ketua Program Studi, dan pimpinan unit di lingkungan Institut PTIQ Jakarta.

Nasaruddin mengatakan, rencana institut PTIQ Jakarta bermetamorfosis menjadi universitas mendapat dukungan Yayasan dan Alumni PTIQ.
Meskipun demikian, kata Nasaruddin, untuk mewujudkannya diperlukan kajian mendalam dan persiapan yang matang dan komprehensif.

Nasaruddin yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal menambahkan, pengembangan PTIQ ke depan tidak sekadar melalui pendekatan formalistik karena akan banyak terbentur dengan aturan formal yang ada. Melainkan lebih diarahkan kepada pendekatan semi lembaga swadaya masyarakat (LSM) supaya mudah melakukan pelayanan kepada masyarakat, membuka cabang PTIQ di seluruh Indonesia hingga luar negeri.***fc

Pelantikan HIMADA PTIQ

Kader Dakwah Diminta Jadi Pengusaha

JAYAKARTA NEWS – Mahasiswa Perguruan Tinggi Islam, khususnya Fakultas Dakwah, diminta melakukan reorientasi cita-citanya. Dari hanya pegawai negeri atau swasta menjadi dai  profesional dan menguasai multimedia  serta pengusaha andal. Hal tersebut dikemukakan Dekan Fakultas Dakwah Institut PTIQ Jakarta H. Topikurohman Bedowi, MA, saat melantik pengurus baru Himpunan Mahasiswa Dakwah (HIMADA) Periode   2020-2021, Rabu (20/1) di auditorium PTIQ Jakarta.

Untuk itu, Topik mengingatkan agar pengurus HIMADA sebagai wadah berhimpun mahasiswa di Fakultas Dakwah menyelenggarakan  berbagai  kegiatan positif yang dapat mendukung reorientasi dari lulusan Fakultas Dakwah tersebut. Ada tiga program yang disarankanya dilaksanakan pengurus HIMADA, yakni: pengembangan keterampilan di bidang radio, televisi dan kewirausahaan berbasis internet, serta tentu saja pengetahuan dakwah lainnya.

Hanya saja, alumnus Al-Azhar Kairo tersebut  mengingatkan,  karena saat ini berada di masa pandemik Covid-19, kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa harus  realistik yakni: lebih banyak menggunakan 99. Jikapun terpaksa harus dilaksanakan secara off line, ditekankannya harus  menaati secara ketat Protokol Kesehatan (Prokes) Covid-19. Sedangkan Ketua HIMADA Maulana Yusuf berkomitmen akan melaksanakan arahan Dekan Fakultas Dakwah PTIQ Jakarta tersebut. (abah)