51 Atlet Jebolan Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bakal Bertarung di Asian Para Games

Jendi Pangabean atlet andalan Indonesia cabang renang di Asian Para Games–foto istimewa

Menteri Sosial Agus Gumiwang bangga banyak mantan atlet binaan Balai Besar Rehabilitasi Sosial milik Kementerian Sosial, ikut bertarung dalam pesta olahraga Asian Para Games yang akan berlangsung dari 6-13 Oktober 2018 mendatang. Setidaknya tercatat 51 mantan atlet yang terdaftar dalam Kontingen Indonesia. Demikian dikutip dari rilis Humas Kementerian Sosial. Di antara atlet-atlet yang berprestasi ada Jendi Pangabean, atlet renang yang menjadi ikon Asian Para Games 2018.

Mensos juga menyampaikan apresiasi kepada Kusmita yang merupakan atlet Para Games 2018 dari cabang olahraga Volley Duduk. Ia mengungkapkan Kemensos mengawal alumni atau mantan anak didik yang juga menjadi atlet dalam Asian Para Games 2018. Mereka dulunya adalah siswa di Balai Besar Rehabilitasi Sosial yang dimiliki Kementerian Sosial.

Presiden Joko Widodo dan Jendi Pangabean–foto diskominfo provinsi kaltim

Total ada 51 atlet yang tersebar di 13 cabang olahraga yakni Angkat Berat 6 orang, Tenis Meja satu orang, Anggar 7 orang, Atletik satu orang, Basketball satu orang, Bowling 3 orang, Renang 9 orang, Badminton satu orang, Panahan 8 orang, Paracycling satu orang, Lawn Ball tiga orang, Voli Duduk 7 orang, dan Menembak sebanyak 3 orang.

“Salah satu alumni kami adalah Jendi Pangabean, atlit renang yang menjadi Ikon Asian Para Games. Ia pernah dibina di Panti Sosial Bina Daksa (PSBD) Budi Perkasa Palembang. Ini tentunya menjadi sebuah kebanggaan bagi keluarga besar Kementerian Sosial bahwa anak-anak didik kami telah menunjukkan prestasi yang luar biasa,” katanya.

Menteri mengatakan sikap mental yang tangguh dan pantang menyerah para atlet terbentuk saat pendidikan, sementara prestasi olahraganya dibentuk di NPC (National Paralympic Committee). Mereka mampu tampil dengan baik dan konsisten dalam latihan sehingga dapat berkompetisi di Asian Para Games 2018.

Di Balai Rehabilitasi Sosial, penyandang disabilitas mendapat bimbingan vokasional, bimbingan sosial, bimbingan fisik, bimbingan mental spiritual, pelayanan kesehatan dan pemberian alat bantu. Mereka ditempa menjadi mandiri, percaya diri, memiliki kompetensi dan optimistis dalam menjalani hari-hari kedepan setelah mereka lulus.

“Energi dan semangat manusia hebat ini telah menginspirasi kita semua. Saya harap media massa juga dapat menangkap dan merasakan hal yang sama sehingga dalam pemberitaan nanti dapat menggugah semangat, optimisme, solidaritas, kesetaraan, dan yang terpenting adalah berperspektif penyandang disabilitas,” terang Menteri Agus.

Ia menyontohkan misalnya penggunaan istilah disabilitas, menghindari kata-kata yang sifatnya menimbulkan rasa kasihan atau charity, mengangkat hal-hal menarik dalam pertandingan seperti medali untuk pemenang yang khusus untuk atlet para games bisa berbunyi. Masing-masing medali memiliki bunyi yang berbeda baik emas, perak, maupun perunggu.

“Untuk mendorong liputan yang ramah disabilitas, hari ini kami menghadirkan e-book Interaksi Beretika dengan Penyandang Disabilitas. Dalam buku ini kita semua dapat mengenal gaya hidup para penyandang disabilitas dan bagaimana kita dapat bergaul dalam keberagaman mereka tanpa melanggar etika,” katanya.***/ebn

 

Mensos Agus Gumiwang: Indonesia Ramah Disabilitas

Menteri Sosial Agus Gumiwang–foto humas Kemensos

Menteri Sosial Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan salah satu tugas Kementerian Sosial dalam Asian Para Games 2018 adalah untuk membangun legacy agar setelah kegiatan ini berakhir, Indonesia dikenal oleh dunia sebagai sebuah negara yang terus memperbaiki sarana dan prasarana untuk disabilitas serta ramah disabilitas.

“Tugas kami adalah memastikan sarana dan prasarana sudah memenuhi standar kenyamanan penyandang disabilitas,” kata Mensos saat menyampaikan arahan dalam acara Editor’s Meeting Asian Para Games 2018 Yang Ramah Disabilitas di Gedung Kementerian Sosial, Jakarta, Rabu. Demikian rilis Humas Kementerian Sosial.

Mensos saat menyampaikan arahan dalam acara Editor’s Meeting Asian Para Games 2018 Yang Ramah Disabilitas di Gedung Kementerian Sosial, Jakarta, Rabu (26/9)–foto humas Kemensos

Selain itu, lanjutnya, Kementerian Sosial memberikan penguatan terhadap substansi kepada koordinator volunter atau relawan terkait bagaimana memberikan pelayanan yang ramah disabilitas kepada atlet dan penonton yang merupakan penyandang disabilitas.

“Ini adalah upaya negara untuk memberikan hak yang sama kepada penyandang disabilitas sebagaimana amanat dari Undang-undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pasal 15 ayat 1 yakni Hak Keolahragaan,” tuturnya serius.

Dalam pasal ini disebutkan penyandang disabilitas berhak melakukan kegiatan keolahragaan, mendapatkan penghargaan yang sama dalam kegiatan keolahragaan, memperoleh pelayanan dalam kegiatan keolahragaan, memperoleh sarana dan prasarana keolahragaan yang mudah diakses.

“Kami berharap perlakuan yang setara terhadap penyandang disabilitas tidak hanya dilakukan karena ada Asian Para Games, namun setelah kegiatan ini berakhir seterusnya diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, disertai penyediaan fasilitas publik yang ramah disabilitas di berbagai daerah di Indonesia,” tegasnya.

Upaya ini, lanjutnya, memerlukan kerja bersama. Tidak hanya dari Kementerian Sosial, namun juga didukung kementerian dan lembaga terkait, berbagai elemen masyarakat, termasuk media massa.

Kepada 70 redaktur, editor, dan news producer desk olah raga dan kesra dari berbagai media massa di Indonesia, Menteri berharap melalui pemberitaan media dapat meningkatkan kesadaran dan perspektif publik yang ramah disabilitas.

Sementara itu Ketua Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia Maulani Rotinsulu yang hadir sebagai narasumber dalam Editor’s Meeting berharap media massa dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat atas keberadaan penyandang disabilitas yang merupakan bagian dari warga Indonesia.

“Melalui momentum ajang adu prestasi penyandang disabilitas, diharapkan masyarakat terbuka pemahaman bahwa Penyandang Disabilitas bisa berprestasi jika kesempatan diikuti dengan mengangkat hambatan,” terangnya. ***/ebn

 

Agus Gumiwang Gantikan Idrus Marham

Agus Gumiwang Kartasasmita

POLITIKUS Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, Jumat (24/8) sore di Istana Negara, dilantik Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Sosial (Mensos) menggantikan Idrus Marham yang mengundurkan diri, karena ingin berkonsentrasi menghadapi masalah hukum dirinya dii Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Agus Gumiwang dilantik Presiden Jokowi berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 148/P/2018, tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Menteri Sosial Kabinet Kerja sisa masa jabatan 2014  -2019, tertangga 24 Agustus 2018.

Pria kelahiran Jakarta, 3 Januari 1969 ini, merupakan putra mantan Menteri Koordinator Ekonomi Keuangan dan Industri Indonesia, Ginandjar Kartasamita di era pemerintahan Soeharto.

Agus Gumiwang, memulai karir politiknya sebagai anggota MPR, perwakilan dari unsur pengusaha dari Gapensi, tahun 1997 -1999. Selanjutnya, Agus Gumiwang, terpilih sebagai anggota DPR, periode 2004 – 2019.

Ketua DPP Partai Golkar, Agus Gumiwang Kartasasmita, mengaku diminta menggunakan jas dan peci untuk datang ke rumah Ketua DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto melalui telepon pukul 11.45 WIB, Jumat (24/8) siang.

“Beliau mengatakan saya dapat tugas dari Presiden untuk menangani Kementerian Sosial (Kemensos) karena Pak Idrus Marham telah menyampaikan surat pengunduran diri,” kata Agus Gumiwang kepada wartawan usai dilantik Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Sosial (Mensos), di Istana Negara, Jakarta, Jumat (24/8) sore.

Agus menilai, Kementerian Sosial merupakan sebuah institusi pemerintah yang sangat penting, terutama terkait dengan keinginan dari pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo untuk mengangkat, menghilangkan atau mengurangi kemiskinan.

“Di sini peran dari Kementerian Sosial sangat besar. Selain itu secara bersamaan meningkatkan daya beli masyarakat. Ada stimulan-stimulan dari pemerintah untuk menggerakkan ekonomi, saya kira kementerian ini adalah kementerian yang sangat strategis,” jelas Agus. (Ignatius Gunarto)

Presiden Joko Widodo saat melantik Agus Gumiwang Kartasasmita menjadi Menteri Sosial RI.

Mensos Idrus Marham Mundur

MENTERI Sosial Idrus Marham mengundurkan diri  dari jabatannya menyusul dilayangkannya Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Menurut Idrus, surat pengunduran dirinya telah disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

Idrus mengaku, Kamis sore dirinya  mendapat pemberitahuan dari KPK terkait dengan dimulainya penyidikan terhadap mantan Ketua Umum DPP KNPI itu, terkait dengan  kasus yang dialami Eni Saragih dan Johannes Kotjo.

“Saya berpikir, langkah yang saya ambil adalah tentu pengunduran diri,” ujar mantan Sekjen DPP Partai Golkar itu,  Jumat (24/8/2018) di kantornya.

Langkah pengunduran itu menurut Idrus,  sebagai tanggung jawab moral. Hal ini sekaligus untuk menjaga kehormatan Presiden yang selama ini berkomitmen dalam pemberantasan korupsi.

“Kalau saya tidak mundur, sama dengan menyandera (Presiden Jokowi). Itu tidak boleh. Karena beliau memiliki reputasi pemberantasan korupsi,” tuturnya.

Keputusan mundur itu menurut  Idrus  tidak akan menggangu kinerja Jokowi.  “Apalagi menghadapi tahun politik 2019 yang akan datang. Alasan saya bahwa sebagai warga negara yang taat asas, taat hukum,
sepenuhnya saya menghormati proses hukum yang dilakukan KPK,” tandasnya.

KPK sebelumnya telah mengisyaratkan akan menyeret  tersangka baru dalam kasus dugaan suap proyek PLTU Riau-1. Hal itu dilakukan dengan merujuk  sejumlah fakta-fakta yang ditemukan dalam proses penyidikan terhadap para tersangka dalam kasus ini.

“Kami melihat fakta-fakta baru yang berkembang dalam proses penyidikan untuk mencari siapa pihak-pihak lain yang harus bertanggung jawab dalam kasus PLTU Riau-1,” ujar Jubir KPK Febri Diansyah.

Idrus Marham Gantikan Khofifah Indar Parawansa

Idrus Marham

SEKRETARIS Jenderal (Sekjen) DPP Partai Golkar Idrus Marham, Rabu pagi (17/1) dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara dilantik menjadi Menteri Sosial (Mensos) menggantikan Khofifah Indar Parawansa, yang mengundurkan diri karena maju sebagai Cagub Jatim.

Idrus Maham selama ini dikenal sebagai politisi senior Partai Golkar. Namun ternyata Pria kelahiran Pinrang, Sulawesi Selatan, 14 Agustu 1962 ini juga dikenal sebagai seorang akademisi yang hebat.  Antara lain, Idrus pernah menyandang presidekat dosen terbaik di Universitas Islam Attahiriyah (UNIAT) Jakarta. Periode 1987 – 1992, Idrus juga pernah menjabat Purek III Universitas 17 Agustus 45 Jakarta.

Sejak kuliah Idrus Marham, aktif di sejumlah kegiatan dan organisasi, seperti Senat Mahasiswa, Dewan Mahasiswa, Pelajar Islam Indonesia (PII), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Meski sibuk sebagai politisi, Idrus masih menyempatkan diri untuk mengambil program doktor di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Idrus Marham berhasil meraih gelar doktor ilmu politik, dengan predikat cum laude, setelah mempertahankan disertasinya berjudul “Demokrasi Setengah Hati; Studi Kasus Elite Politik di DPR RI 1999 – 2004.

Karir politik Idrus terbilang lancar. Tercatat, pernah menjadi Ketua KNPI, periode 2002 – 2005, lalu sebagai anggota MPR RI 1997, berlanjut menjadi anggota DPR/MPR, periode 2009 – 2014. Pada Ketum DPP Partai Golkar dijabat Aburixal Bakrie (ARB), Idrus dipercaya sebagai Sekjen, yang berlanjut pada era Ketum DPP Partai Golkar dijabat Setya Novanto, dan  hingga kini. ***

Puisi Indah dari Kofifah

Penulis dan Mensos Kofifah Indar Parawansa, Agustus 2017 lalu di Jombang, Jawa Timur.

MENTERI Sosial Khofifah Indar Parawansa dikenal piawai berorasi, cerdas dan cekatan dalam menuntaskan persoalan. Di luar itu, ternyata Kofifah juga piawai menggubah puisi. Tanpa perlu banyak pengantar, tanpa perlu mempromosikan kehebatan Kofifah mengolah kata indah, simak puisi berjudul “Puisi Cuma Ibu yang Tahu” berikut ini.

 

 

PUISI CUMA IBU YANG TAHU

oleh : Khofifah Indar Parawansa

(Menteri Sosial RI)

 

Saat Ibu baru saja memejamkan mata…..

pecahlah tangisan si kecil dengan nyaringnya…..

dalam keadaan mengantuk, anak pun harus digendong sepenuh cinta…..

Bagaimana rasanya… ?

Cuma Ibu yang tahu rasanya…..

Saat lapar melanda, terbayang makanan enak di atas meja…..

ketika suapan pertama, anak pup dicelana…..

Bagaimana rasanya… ?

Cuma Ibu yang tahu rasanya…..

Saat badan sudah lelah tak ada tenaga…..

ingin segera mandi menghilangkan penat yang ada…..

mumpung anak-anak sedang anteng dikamarnya…..

Belum sempat sabunan, anak sudah nangis berantem rebutan mainan…..

Kacaulah acara mandi Ibu….. langsung handukan walau daki masih menempel dibadannya…..

Bagaimana rasanya?

Cuma Ibu yang tahu rasanya…..

Saat Ibu ingin beribadah dengan khusuknya…..

anak-anak mulai mencari perhatian…..

menarik-narik mukena, mengacak-ngacak lemari baju mumpung lbu tak berdaya…..

Loncat sana loncat sini, punggung Ibu jadi pelana.

Belum juga beres doa, anak-anak semakin berkuasa…..

Bagaimana rasanya?

Cuma Ibu yang tahu rasanya…..

Aaahh…..

Di balik kerepotan itu semua, namun ada jua syurga didalamnya.

Cuma Ibu yang tahu lezatnya makna senyuman anak yang diberikan…..

pelukan anak…..

Ucapan cinta anak yang tampak sederhana dihadapan orang, namun berubah menjadi intan permata dimata Ibu…..

Itulah mengapa… ?

Saat anak bahagia, Ibu menangis…..

Anak berprestasi, Ibu menangis…..

Anak tidur lelap, Ibu menangis…..

Anak pergi jauh, Ibu menangis…..

Anak menikah, Ibu menangis…..

Anak wisuda TK aja, Ibu menangis…..

Anak tampil dipanggung, Ibu menangis…..

Aah….

inikah tangis bahagia yang tak akan dapat dimiliki siapapun jua…..

jika engkau tak mengalaminya sendiri sebagai Ibu…..

mungkinkah ini bagian dari surga milikNya yang diberikan kepada seluruh Ibu, sebuah cinta yang begitu lezatnya dirasa… ?

Dan akhirnya saya percaya dimana ada kerasnya perjuangan Ibu di dalam rumah…..

maka disitu akan hadir cahaya surga yang menemani Ibu yang tak kalah indahnya…..

Jika hari ini engkau menangis karena repotnya mengasuh anak…..

maka akan ada hari dimana engkau akan tersenyum paling manis karena kebaikan yang hadir bersamanya…..

Salam buat seluruh Ibu-Ibu…

Di mana pun berada…

Mensos dorong anak-anak penerima PKH bercita-cita tinggi

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa saat acara penyerahan bantuan non tunai Program Keluarga Harapan (PKH) di Konawe Selatan. (Foto: Courtesy RRI)

 

MENTERI  Sosial Khofifah Indar Parawansa mendorong anak-anak keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) memiliki cita-cita yang tinggi. Ia meminta agar mereka tak patah semangat meraih cita-cita meskipun berstatus miskin.

“Kemiskinan bukan alasan, justru harus menjadi pelecut semangat untuk bisa keluar dari situasi tersebut,” ungkap Khofifah saat pencairan PKH di Pendopo Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara, Senin (17/7).

Dalam kesempatan itu Khofifah lebih banyak berdialog dengan Ibu-ibu KPM PKH. Dihadapan mereka, Khofifah melemparkan sejumlah pertanyaan.

“Di sini saya bersama Staff Khusus Menteri, Pak Eko dia mendapatkan beasiswa S2 dan S3 di luar negeri, Ibu-ibu pengen anaknya sekolah di luar negeri ? Siapa yang anaknya ingin jadi Pegawai Negeri ? Pegawai Bank ? atau jadi Polisi dan Tentara ?

Tidak berhenti disitu, Khofifah pun melanjutkan. “Semua cita-cita bagus, mudah-mudahan semua bisa terwujud. Tolong beri motivasi dan dukungan kepada anak-anaknya terus bersekolah, mengembangkan diri dan meraih cita-cita ya bu. Semoga ibu-ibu sehat lahirnya, batinnya, juga dompetnya”.

Ibu-ibu pun berlomba mengacungkan jari sembari mengamini semua doa yang diucapkan Khofifah. Tidak sedikit yang berteriak keras “Aamiin” saat Khofifah mendoakan agar KPM PKH juga sehat dompetnya.

Menurut Khofifah, jika ingin anak-anaknya berhasil maka keluarga harus memberikan tumpahan kasih sayang dan perlindungan. Sapa anak-anak dengan lembut dan penuh kasih sayang, jangan didik anak dengan kekerasan, jangan sampai anak-anak mendapatkan kekerasan dan dieksploitasi.

“Kekerasan bukan cuma secara fisik tapi juga psikis dan seksual. Apapun alasannya, lindungi anak-anak kita, karena kedepan mereka lah yang akan mewarisi bangsa ini,” ujarnya.

Khofifah menambahkan, setiap kali berkunjung ke daerah ia sering bertemu dengan anak KPM PKH berprestasi. Baik di bidang olahraga, kesenian, science, akademik, dan lain sebagainya. Tidak hanya di level nasional namun juga hingga internasional.

Khofifah menceritakan, jika Ia baru saja bertemu salah satu anak penerima PKH di Cirebon, Dewinta Putri Fazriani yang berhasil mendapatkan beasiswa Bidik Misi dan masuk ke Institut Teknologi Bandung (ITB). Sebelumnya Ia juga pernah bertemu Ahmad Zuhri mahasiswa asal Demak yang berprestasi dalam ajang kontes robotik internasional di Amerika Serikat.

“Saya yakin anak-anak kita semua berprestasi, tinggal kita mengarahkan dan mendorong mereka agar dapat lebih mengembangkan minatnya,” imbuhnya.

Dapat ditambahkan,  Kabupaten Konawe Selatan memperoleh jatah bantuan sosial senilai Rp44,2 Miliar terdiri dari PKH Rp16,2 miliar untuk 8.614 KPM. Rastra Rp27,7 miliar untuk 20.228 KPM. Bansos Disabilitas 66 juta untuk 22 jiwa dan Bansos Lansia 134 juta untuk 67 jiwa. ***

Mensos : Pemda Jangan Salurkan Rastra tidak Layak Konsumsi

 

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, saat meninjau Gudang Bulog Tuk di Cirebon. (Courtesy Metronews)

MENTERI Sosial Khofifah Indar Parawansa meminta Pemerintah Daerah tidak memaksakan penyaluran beras sejahtera yang tidak layak konsumsi. Jika ditemukan beras berkualitas buruk Pemda, harus segera mengembalikan kepada Bulog, agar diganti dengan beras layak konsumsi.

Selanjutnya, Bulog berkewajiban menggantinya dengan beras berkualitas lebih baik sesuai kualifikasi berdasarkan harga pembelian beras (HPB). “Lebih baik ditunda sementara daripada harus menyalurkan beras yang tidak layak konsumsi kepada masyarakat. Setelah diganti oleh Bulog, baru salurkan,” ungkap Khofifah saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog Tuk, Kota Cirebon, Jum’at (14/7).

Dari hasil sidak tersebut, Khofifah mendapati Rastra yang tersimpan di Gudang Bulog Cirebon sangat layak konsumsi dan cukup sampai ahir tahun.  Begitu pun dengam berat Rastra per karung sejumlah 15 Kilogram telah sesuai dengan hitungannya.

Diungkapkan Khofifah, keluhan mengenai kualitas kerap diterima Khofifah. Tidak hanya wujud beras yang sudah pecah-pecah, namun juga berwarna kuning kehitaman, berkutu, dan berbau apek. Padahal menurutnya subsidi pangan tersebut telah berjalan hampir 20 tahun.

“Di media masih  sering ada berita  kualitas rastra yang tidak layak konsumsi. Begitu juga di media sosial. Ditambah saat saya berkunjung ke daerah sering  masyarakat  menyampaikannya secara langsung,” ujarnya.

Menurut Khofifah, seharusnya permasalahan beras tidak layak ini tidak terus berulang. Pasalnya, dengan Harga Pembelian Beras (HPB) senilai Rp 9.220 per kilogram semestinya masyarakat menerima beras yang berkategori medium dan layak konsumsi. Harga tebus Rastra sendiri adalah Rp1.600/kilogram sementara Pemerintah mensubsidi sebesar Rp 7.620/kilogram.

“Beras adalah makanan pokok orang Indonesia, miris kalau sampai masyarakat kita makan beras yang secara tampilan saja sudah tidak layak. Pokoknya saya minta persoalan beras jelek tidak lagi terus berulang,” imbuhnya.

Khofifah mengungkapkan untuk mencegahnya, ia meminta Pemerintah Daerah dan juga Bulog untuk secara aktif turun mengecek langsung seluruh stok beras di gudang Bulog sebelum didistribusikan. Jangan karena mengejar realisasi penyaluran, lanjut Khofifah, akhirnya asal dibagikan saja tanpa mengetahui kualitasnya.

Jika memang ditemukan beras yang sudah rusak dan tidak layak konsumsi, maka Bulog harus segera mengambil langkah tegas dan cermat, sehingga beras tersebut tidak beredar di masyarakat.

Khofifah menjelaskan, dalam Program Rastra Kementerian Sosial bertindak sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) sejak tahun 2013. Sementara terkait pengadaan dan distribusinya menjadi wilayah Bulog. Adapun pemerintah daerah bertanggung jawab pada titik distribusi menuju ke titik bagi dengan tim teknis aparatur Desa dan Lurah.

“Untuk daerah Jawa Barat sendiri realisasi Rastra telah mencapai 168.620.055 kg atau 73.05% terhadap Pagu bulan Juli 2017 sebesar 230.818.665 kg. Adapun jumlah Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di Jawa Barat sebanyak 2.198.273,” tuturnya.

Khofifah menambahkan, saat ini Pemerintah terus mengupayakan percepatan konversi Subisidi Pangan (Rastra) ke Bantuan Pangan. Konversi ini yang akan memberikan jaminan kualitas beras dan berbagai jenis sembako lainnya antara lain gula, minyak, tepung terigu, dan telur.

“Prosesnya dilakukan secara bertahap. Tahun 2017 ini baru mencapai 1,28 juta keluarga. Namun, tahun 2018 mendatang jumlahnya berkali lipat menjadi 10 juta keluarga,” paparnya. ***

 

 

Jelang Tahun Ajaran Baru Sekolah, Mensos Cek Penyaluran Bansos PKH

Menteri Sosial Khofifah Indar Pawawansa tengah mengecek pelaksanaan pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) di Lamongan, Jawa Timur.(Foto: Ist.)

 

SEPEKAN sebelum siswa masuk sekolah setelah libur Lebaran, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa memastikan pencairan bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH) berjalan maksimal di berbagai titik di Indonesia.

“Bansos PKH tahap kedua harus cair maksimal pekan kedua Juli karena tanggal 17 Juli anak-anak sudah mulai masuk sekolah. Uang bansos PKH tentu sangat ditunggu ibu-ibu penerima PKH,” katanya.

Bagi daerah yang belum cair Mensos minta jajarannya meningkatkan koordinasi dengan bank HIMBARA (Himpunan Bank Milik Negara), pemerintah daerah serta agen bank setempat.

Untuk memastikan pencairan berjalan lancar, Mensos memantau langsung proses pencairan bansos PKH secara non tunai di beberapa titik. Salah satunya adalah di Kecamatan Deket, Lamongan,  Jawa Timur, Minggu (9/7).

“Mungkin ada anak-anak yang seragamnya sudah usang atau kekecilan sehingga  harus ganti yang baru, sepatu yang sudah kekecilan atau robek, buku tulis dan alat tulisnya sudah habis, tas yang sudah robek dan perlu diganti, daftar ulang dan sebagainya. Gunakan uang PKH untuk memenuhi kebutuhan anak sekolah. Semoga cukup,” tambahnya.

Khofifah menjelaskan salah satu peruntukan bansos PKH salah adalah untuk pendidikan. Maka dana tahap kedua yang cair sebesar Rp500.000 diharapkan dapat dimaksimalkan untuk menambah pemenuhan kebutuhan sekolah anak.

“Sehingga anak-anak bisa sekolah dengan tenang dan fokus belajar, saat yang sama orang tua juga tenang karena bisa mencukupinya,” tambahnya.

Bantuan sosial PKH non tunai merupakan upaya pemerintah untuk menyalurkan bantuan yang transparan dan akuntabel melalui sistem perbankan. Jumlah bantuan untuk setiap keluarga adalah Rp1.890.000 pe tahun. Pencairan dilakukan bertahap sebanyak empat kali yakni pada Februari, Mei, Agustus, dan November.

Pencairan bansos non tunai PKH menggunakan buku tabungan dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS). Melalui sistem penyaluran nontunai, bansos akan langsung disalurkan ke rekening penerima manfaat.

KKS ini, lanjut Mensos, dilengkapi dengan fitur saving account untuk menabung dan e-wallet untuk menyimpan berbagai program bantuan dan subsidi. Jadi dalam satu kartu dapat digunakan untuk berbagai bansos dan subsidi.

Di Lamongan, penyaluran bansos non tunai dilakukan oleh Bank Negara Indonesia (BNI) 46. Di kota dan kabupaten lainnya, bank yang turut mendukung penyaluran adalah BRI, BTN dan Bank Mandiri.

Kabupaten Lamongan pada tahun 2017 menerima bantuan sosial sebesar Rp229.261.877.200. Bantuan tersebut terbagi dalam beberapa progam yakni PKH, Bantuan Beras Sejahtera (Rastra), Bansos Disabilitas, Bansos Lanjut Usia dan Bansos Usaha Ekonomi Produktif-Kelompok Usaha Bersama (UEP-KUBE).

Tahun ini, sebanyak 47.562 keluarga menerima bansos PKH, sementara 100.567 keluarga menerima bantuan Rastra. Kemudian sebanyak 244 jiwa menerima bantuan disabilitas, 50 jiwa menerima bansos Lansia, dan 300 keluarga menerima bansos UEP-KUBE.

Selain menjelaskan tentang program-program Kemensos, kepada para ibu penerima PKH tersebut Mensos juga mengimbau agar tetap samangat dan optimistis kelak mereka akan dapat lulus dari PKH dan menjadi keluarga mandiri.

Menghadiri Haul Nyai Gede Pinatih

Sementara itu selain memantau pencairan PKH, Mensos juga menghadiri haul ke-550 Nyai Gede Pinatih yakni ibu asuh Sunan Giri, salah satu Wali Songo.

Ia memberikan ceramah pada Pengajian Umum Haul yang diselenggarakan di halaman makam  Nyai Gede Pinatih di Gresik. Nyai Gede  Pinatih merupakan ibu asuh dari Sunan Giri sekaligus Syahbandar Gresik pada tahun 1412 M.

“Perempuan mulia dan tangguh ini yang sangat berjasa mengembangkan Gresik sebagai daerah perdagangan. Pada masanya, ia dikenal sebagai perempuan muslimah pertama di nusantara yang  menguasai ilmu bea cukai dan keuangan. Sosok beliau sangat inspiratif dan patut kita teladani,” papar Mensos yang juga berziarah ke makam Nyai Gede Pinatih, tak jauh dari lokasi ceramah.

Nyai Gede Pinatih menguasai ilmu duniawi sangat luas dan pada saat yang sama ilmu agamanya juga sangat luas karena pernah menjadi santri Sunan Ampel sekaligus santri Sunan Malik Ibrahim.

Keseimbangan pengetahuan umum dan agama, menurut Mensos, sangat penting, karena setiap orang sekolah akan pintar dan ahli di bidangnya, serta mendapatkan gelar akademik. Tetapi kepintaran yang diperoleh di sekolah atau kampus belum tentu digunakan dengan benar. Maka melahirkan generasi bangsa yang pintar dan benar harus kita siapkan.

Di sisi lain Khofifah berpesan kepada masyarakat terutama para orang tua agar memberikan kesempatan kepada anak perempuannya untuk mencari ilmu setinggi-tingginya dan mengamalkannya seperti yang dicontohkan Nyai Ageng Pinatih di abad ke XV sudah berperan sangat strategis.

Di akhir ceramah Mensos menyampaikan agar sebagai sesama manusia terus memperkuat silaturahmi. Hal ini penting karena silaturahmi akan melahirkan sikap  rasa saling memahami dan menghargai, yang pada akhirnya akan berujung pada rasa saling percaya satu sama lain.

“Dengan adanya sikap saling memahami, saling menghargai, saling menghormati dan saling mempercayai di antara sesama manusia maka akan tercipta kehidupan masyarakat yang harmonis, dan penuh toleransi,” katanya.***