Inspirasi dari Timur, Lumbung Harus Penuh

JAYAKARTA NEWS—Pandemi covid 19 yang bermula di Wuhan, Cina, merebak ke pelbagai negara sejak tahun ini, dan hingga sekarang belum sirna dari muka bumi.  Eksesnya seperti menghentikan laju peradaban. Semua sektor terdampak. Runyam,  ketika moda transportasi harus berhenti. Perdagangan mati suri. Ekspor-impor mandeg. Banyak negara menutup diri. Lockdown !

            Di saat genting seperti itu, setitik pemikiran terkuak. Di balik bencana selalu ada hikmah. Begitu pun yang terjadi atas sebaran virus corona yang telah membunuh ratusan ribu orang, dari jutaan  yang terpapar di seluruh jagat.

 Satu hal yang pasti dilakukan banyak negara adalahmenyelamatkan  warganya dari ancaman wabah, dan pemerintah pun pontang panting mencukupi kebutuhan pangan  rakyatnya. Itu berarti stok pangan harus aman. Di saat itu pula kesadaran kita dihentak, dan disegarkan kembali bahwakita harus memiliki ketahanan pangan yang kuat. Kemandirian pangan nan tangguh.

            Apalagi Indonesia temasuk wilayah rawan bencana.Andai lolos dari suatu bencana, petaka lain mungkin mengancam, seperti gempa bumi, sunami, gunung meletus, longsor, banjir, dan lainnya. Maka,  “Lumbung-lumbung desa harus selalu terisi,” kata Dr Muchtar A. Munawir, tenaga ahli Gubernur Sulawesi Selatan bidang pertanian.

            Sulsel tentu saja aman. Provinsi di Timur Indonesiaini termasuk 8 dari salah satu provinsi penghasil beras terbesar di Indonesia. Provinsilainnya Jawa Timur,Jawa Tengah, DI Yogyakarta,Jawa Barat,   Lampung, Nusa Tenggara Barat, dan Sumatera Selatan.

            Di tengah pandemi pula, awal Juli lalu Presiden mencanangkan lumbung pangan nasional di luar pulau Jawa. Lokasinya di Kabupaten Kapuas dan Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Daya upaya untuk memperbesar lumbung pangan nasional terus dikembangkan.         

            Dikutip dari laman Setkab.go.id, lahan yang disiapkan sebagai lumbung pangan baru nanti seluas 20.704 hektare di Kabupaten Kapuas.  Lahan potensialyang telah fungsional mencapai 5.840 hektare. Secara keseluruhan, terdapat kurang lebih 165.000 hektare lahan potensial di Kalimantan Tengah yang diperuntukkan bagi pengembangan kawasan lumbung pangan nasional tersebut.

Saat ini lahan seluas 85.500 hektare dari jumlah keseluruhan itu merupakan lahan fungsional yang sudah berproduksi tiap tahunnya. Korporasi petani  menjadi basis pengembangan kawasan lumbung pangan baru di Kalimantan Tengah ini yang akan dilakukan secara terintegrasi mencakup pertanian, perkebunan, bahkan peternakan di suatu kawasan.

            Kita senang melihat tekad pemerintah dalam upaya membangun ketahanan pangan.  Meski kadang heran juga, mengapa hanya beberapa  provinsi yang potensial menghasilkan pangan, khususnya beras.  Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Bulog, Imam Subowo  dalam suatu acara di Majalengka Maret tahun lalu pernah mengatakan, kebutuhan beras untuk   34 provinsi di-supply oleh 8 provinsi.

            Masih menurut Imam Subowo, sebuah daerah, disebut sebagai lumbung padi apabila produksi beras di daerah tersebut lebih besar dibandingkan dengan konsumsinya. Misal Sulawesi Selatan memproduksi 3,2 juta ton beras, dan konsumsinya  sekitar 900.000 ton.(detik.com)

            Kita longok provinsi di Timur Indonesia ini.  Visi dan Misi  Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Sulsel sbb. Visinya menjadikan “ Sulawesi Selatan sebagai Pilar Utama Penyedia Pangan Nasional Berkelanjutan dan Berdaya Saing “. Adapun Misinya meliputi:

1.Meningkatkan produksi dalam rangka swasembada berkelanjutan.

2.Meningkatkan produktivitas dan kualitas serta pengamanan produksi tanaman pangan dan hortikultura unggulan daerah.

3.Optimalisasi insfrastruktur dengan mendorong optimalisasi penggunaan lahan, air dan sarana produksi untuk berproduksi.

4.Mendorong berkembangnya sistem agribisnis dan agroindustri pangan pokok.

5.Meningkatkan ketahanan pangan masyarakat.

Visi Misi ini bukan keindahan narasi semata, melainkan yang lebih penting implementasinya.

            Kini, menurut Dr Muchtar program Gubernur Sulawesi Selatan Nurdin Abdullah mengembangkan benih jagung hibrida segera direalisasikan. Lokasi pertama di Kabupaten Wajo. Langkah awal seluas 15 hektar, selanjutnya pembenihan ditargetkan 200  hektare meliputi Kabupaten Maros dan Takalar. Benih jagung hibrida ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan benih jagung di Sulsel, melainkan akan di-supply ke wilayah lain di Indonesia.

            Benih hibrida yang hendak disebar itu merupakan hasil pengembangan penelitian di Balai Penelitian di Maros. Namanya  Nasa. Selama ini, kebutuhan akan benih jagung hibrida masih didatangkan dari luar Sulawesi. Ke depan Sulsel akan menjadi  “pengekspor” kedaerah lain di Indonesia.

            Mengapa fokus ke benih? 

            “Ini penting, mendasar. Pak gubernur mengintruksikan supaya kita meningkatkan produksi benih, “ tegas Muchtar

Setelah 17 Agustus sosialisasi dimulai. Pihaknya akan memberikan pembelajaran kepada para petani bagaimana metode penanaman jagung untuk benih hibrida jenis Nasa ini. “Kita harus bergerak cepat karena ini untuk masyarakat. Rencana 18 Agustus mulai, “ papar Muchtar yang dipercaya Dr Nurdin Abdullah masuk tim tenaga ahli sejak  Nurdin Abdullah masih menjadi Bupati  Bantaeng. Bahkan, di bidang perbenihan padi  Muchtar diminta Bupati Tanah Bumbu Mardani Maming  mengembangkan benih padi tertentu yang sesuai untuk  daerahnya.

Dr Muchtar samping kanan Presiden Jokowi

Setelah penangkaran benih, selanjutkan disiapkan pula mesin benih yang kapasitasnya 30 ton. Selain itu tentu saja benih-benih tersebut akan terbungkus dalam suatu kemasan. Untuk pembenihan ini, utuk  lahan 1 hektar dipekirakan menghasilkan 3 ton. Sedangkan lahan yang dipersiapkan untuk penanaman jenishibrida Nasa ini dalam satu hektar hanya memerlukan 25 kg benih. Karena itu benih ini akan diberikankepada petani di Sulawesi Selatan dengan cuma-cuma. Bahkan diharapkan benih ini bisa diserap untuk mmenuhi kebutuhan  petani di Indonesia Timur.

Menurut Dr Muchtar, hasil panen dari hibrida ini cukup bagus. Menstimulus peningkatan  daya beli para petani. Dalam satu hektar lahan dengan benih hibrida Nasa ini bisa menghasilkan panen antara 8-10 ton jagung.

“Harga jagung hibrida ini cukup bagus di sini,  minima Rp 70 ribu/ kg, “ tambahnya pula

Cukup menguntungkan petani? Muchtar mengiyakan. “ Ya, tapi cara penanamannya agak ribet juga, dengan cara mengawinkan  unsur jantan dan betinanya. Tapi para petani saya bimbing itu…, “ pungkasnya lagi.

Berbicara tentang produksi padi diSulawesi Selatan, diakui Dr Muchtar kawasan inimemang cukup memiliki lahan persawahan yang luas. Bahkan terluas, sekitar 654 ribu hektar lahan baku sawah setelah Jawa, lalu disusul Sumatera Selatan 470,6 ribu hektare, Lampung 361 ribu hektar, dan Sumatera Utara 308,6 ribu hektare.

Dikatakan pula, ke depan, sekitar 10 hari lagi,pihaknya akan melihat dan mengevaluasi penangkaran benih-benih padi. Benih harusbagus, unggul. Kalau benih jelek akan mempengaruhi produksinya.Kalau benih itu bagus akan dipertahankan, kalau tidak akan kita rombak. Sistem evaluasi terhadapbenih antarlembaga terkait itu sudah berjalan.  Dan katanya pula, “Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih pun jalan, “. 

Evaluasi di lapangan itu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan  kepada para petani, kata Dr Muchtar, termasuk dari mana benih didapat. Semua kita evaluasi. Petani biasanya dapat benih secara  cuma-cuma dengan anggaran negara,Benih Langsung namanya.

Penyaluran benih padi itu harus diawasi hingga bisa ditanam oleh petani. Kalau sudah ditanam ya ga perlu lagi (diawasi). “Karena benih ini kunci. Ya, ibaratnya ibu-ibu hamil, kan harus dapat kecukupan gizi. Seperti itulah benih (urgensi) ini,’ Kemudian kita lanjutkan dengan, cara-cara bagaimanacara bercococok tanam yang bagus.

Cukup komprehensif upaya yang dilakukan pemerintah dan pihak-pihak terkait dalam pengembangan petanian,dalam hal ini tanaman pangan khususnya padi.  Di Sulawesi Selatan,  upaya pengembangan pertanian juga didukung budayatudang sipulang, (permufakatan dalam mengambil keputusan). Ditunjang pula minat generasi muda menekuni bidang ini.

Seiring perkembangan teknologi, petani tidak harus main cangkul lagi. “Ada mesin pengolahan tanah, ada mesin tanam, ada mesin panen, “ kata Muchtar. Hal ini pula menurutnya pertanian itu sangat menarik minat kalangan muda.

            Tanah Surga

Anak muda yang memilih bertani salah satunya  Fahrulroji (27 tahun). Sarjana Ekonomi lulusan Universitas PGRI Wiranegara Pasuruan ini merasa bangga jadi petani meski lahan yang dikelolanya dari warisan rangtua hanya 1,5 hektare.

Mengapa bangga sebagai petani? Menurut Oji, demikian sapaannya, jadi  petani itu mendorongnya selalu berfikir,  berkreasi dan berinovasi. ” Maksudnya kreatif dalam menjaga dan merawat sesuatu yang kita tanam. Apalagi tanah kita ini tanah surga . Jangan sampai lahan luas  hanya dijadikan bangunan2 kokoh dan megah.  Maka  muda mudi  wajib bertani karena petani adalah pahlawan dalam menjaga ketahanan pangan di bumi pertiwi, “ lontar Oji yang juga aktif di PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia).

Menyinggung inovasi  pertanian, Oji beharap pertanian kita harus dimotori pula kalangan muda untuk melakukan lompatan lompatan spektakuler guna menjaga keberlanjutan ketahanan pangan ke depan. Meningkatkan produksi,  mengingat  pertumbuhan penduduk  terus bertambah dan kian padat.

“Negara kita negara agraris. Konsekuensinya perlu perhatian serius dari pemerintah  terhadap sektor pertanian agar pertanian kita jadi kuat dan tangguh.  Saya kira, pertanian memegang peranan strategis  dalam  perekonomian nasional, “

Jika pemerintah memberi perhatian lebih atas riset-riset bidang pertanian, katanya,  pasti  para petani  khususnya anak muda menjadi petani yang mandiri dan bisa bersaing guna mewujudkan bangsa yang maju. Khususnya menjadi terdepan di bidang pertanian.

Realitas anak muda suka pertanian,  dibenarkan Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR RI). Martin yang belakangan menekuni pertanian khususnya tanaman hortikultura di  Sukabumi mulai menikmati senangnya bertani,  dan tentu permasalahan yang juga  dihadapi petani.

Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan Majelis Permusyawaratan Rakyat(MPR RI)

Namun, pandemi covid 19 yang masih mengancam ini menurut mantan wakil ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), kian menyadarkan posisi kita sebagai negara agraris. Bayangkan, perdagangan stag, sektor lain juga terhenti, tapi pertanian harus terus jalan, katanya..

“Ketahanan pangan kita haus kuat. Jika lemah, bisa menimbulkan gejolak sosial. Kalaukita tidak bsa menjaga supply pangan akanmudah menimbulkan konflik sosial, “ ujar mantan anggota DPR RI dari Gerindra ini.

Dalam situasi dimana perdagangan tertutup karenapandemi, kita tak bisa berharap suppy dari negara lain. Mereka akan memanfaatkannya untuk kepeningan dalam negerinya.

Kalaupun mereka jual, tentu akan diberikan kepadanegara yang mampu membelinya dengan harga tinggi. Kita pun jika surplus, mengingat lahannya yang memungkinkan,bisa saja kita ekspor. Namun memenuhi270 juta rakyat sendiriitulah yang harus kita jaga.

“Jangan sampai  kebutuhan pangan ini menimbulkan masalah sosial, “ tandasnya

Mantan Pemimpun Umum Harian Jayakarta ini mengingatkan, agar kita tidak melulu mengkonsumsi beras sebagai pangan utama. Makanan pokok di daerah tertentu yang berbeda-beda bisa “dibudayakan” lagi, seperti jagung, sagu, dan singkong.

Misal, di Inonesia Timur dulu dikenal dengan makanan sagu. “Jadi masyarakat setempat  dapat memanfaatkan tanaman yang mudah tumbuh di daerahnya, tambah Martin.

Kecukupan pangan tidak  hanya bisa diharapkan dari ketersediaan lahan pertanian, melainkan juga tatakelolanya,  mulai dari pilihan  benih hingga produk akhir pasca panen. 

Pandemi ini tidak hanya jadi pelajaran dan meng-update kesadaran lama akan pentingnya ketahanan pangan. Rencana Sulawesi Selatan terus menggenjot produk pangan, selain beras,  kini akan dikembangkan jagung besar-besaran,  tentu tidak hanya untuk men-supply lebih banyak kebutuhan nasional selain dari daerah lainnya. Sulawesi Selatan menurut Muchtar, ingin mengisi lumbung-lumbung di desa itu terisi.

“Rencananya itu ke depan. Lumbung-lumbung desa, atau apalah…. namanya. Tanah petani kan luas.  Rencana ini sebagai realisasi bahwa kita mampu mewujudkan kemandirian pangan yang kuat, “  kata Dr Muchtar A. Nawir.  iswati

Jagung Manis Berharga Lebih Manis

Jagung manis semakin berharga manis ketika dijual dalam bentuk pipilan. Inilah yang dilakukan petani penggarap lahan jagung di area Villa Tjaringin, Bogor – Jawa Barat, milik Martin Hutabarat. Melva Tobing dan Monang Sitohang, melaporkannya untuk pemirsa Jayakarta News Channel.

Bertanam Jagung Manis, Berbuah Manis

Hanya dalam waktu 75 hari, jagung manis itu siap dipanen. Begitu pendek usia jagung, tak heran jika ada istilah “seumur jagung” untuk melukiskan pendeknya waktu. Reporter JNC berada di kebun jagung Villa Tjaringin, Bogor milik Martin Hutabarat. Anda tertarik? Ayo nyanyikan…. cangkul-cangkul… cangkul yang dalam…. menanam jagung di kebun kitaa…..

Trik Syiar Empat Pilar

Jayakarta News – Bangsa Indonesia harus senantiasa mengaktualisasikan dirinya dalam konteks berbangsa dan bernegara. Komitmen pada Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika harus senantiasa disosialisasikan.

“Persoalannya, cara sosialisasinya pun harus berkembang. Sudah tidak lagi model kelas dan top-down, tetapi harus dicari cara untuk lebih aktual dengan konteks perkembangan zaman,” ujar Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR saat berdiskusi dengan belasan wartawan senior di Gedung DPR/MPR RI, beberapa waktu lalu.

Terkait itulah, Martin yang politisi senior Partai Gerindra, mantan anggota DPR RI periode 1987-1992 itu menggali informasi dari para pelaku media senior. “Ukuran saya adalah, ketika teman-teman masih aktif di media, itu artinya teman-teman survive. Bagaimana bisa survive, pasti karena selalu meng-update dan meng-upgrade diri. Tanpa itu, pasti media saudara sudah terkubur,” ujar Martin, disambut tawa para peserta diskusi.

Diskusi pun mengerucut pada kedahsyatan media sosial. Saat ini, medsos menempati ranking pertama sebagai sumber informasi masyarakat. Ragamnya bisa melalui website, youtube, podcast, bahkan whatsapp dan facebook. Tak heran jika banyak stasiun televisi pun mengemas programnya berbasis medsos.

Martin yang mantan pimpinan Harian Umum Jayakarta itu, menambahkan, tidak sedikit akun medsos yang dijadikan media penyebar kebohongan, bahkan hoax. “Tapi saya mengapresiasi upaya Kemen Kominfo yang rajin menayangkan iklan layanan masyarakat, tentang pentingnya check and recheck setiap menerima informasi di medsos,” tambahnya.

Bukan hanya itu, masyarakat pun cenderung semakin kebas saraf sensitifitasnya. Alhasil, manakala menerima informasi yang –sebelumnya—bisa memancing emosi dan perasaan marah, saat ini sudah bisa menerima dengan lebih rileks. Mungkin tetap marah, jika suku, agama, ras, dan antargolongan menjadi bahan pelecehan. Tetapi, tingkat kemarahannya lebih terkontrol.

“Ada tren positif. Masyarakat yang terpancing berita bohong atau hoax, mulai dewasa. Indikasinya, tidak begitu saja mencerna dan menerima, tetapi akan mencari second opinion,” ujar Martin, yang secara periodik rajin berdiskusi dengan para wartawan senior. Selain untuk melepas kangen, juga untuk berdiskusi, tentang banyak hal. Utamanya, tentang media dikaitkan dengan isu-isu kebangsaan dan ketatanegaraan.

Martin menganggap, sosialisasi empat pilar yang banyak dilaksanakan oleh MPR dan pemasyarakatan ideologi Pancasila yang dilakukan BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) pun harus dimodifikasi melalui sajian-sajian informasi yang interaktif, kreatif, dan inovatif. Intinya, pesan menjadi lebih mudah tersampaikan melalui trik syiar yang kontekstual dengan perkembangan zaman.

“Bukan hanya pesan tersampaikan, lebih dari itu, bisa menjangkau segmen yang lebih luas, utamanya segmen anak-anak muda sebagai generasi penerus bangsa,” pungkas Martin. (rr)

Martin Hutabarat: Tatanan Baru Jangan Lambat

Jayakarta News – Pandemi Covid-19 akan melahirkan tatanan kehidupan baru. Termasuk cara masyarakat mengakses informasi. “Karenanya mulai dari sekarang masyarakat harus diedukasi agar tidak gagap dan terjerembab pada aspek negatif yang ditimbulkan dari lahirnya tatanan baru tersebut,” ujar Martin Hutabarat, Wakil Ketua Komisi Kajian Ketatanegaraan MPR, di gedung DPR/MPR, Rabu (17/6/2020).

Berbicara di hadapan belasan wartawan senior, Martin menegaskan, suka-tidak-suka kita sedang berada pada arah terjadinya perubahan tatanan kehidupan. Cara hidup berubah, cara bekerja berubah, cara belajar berubah, tata pergaulan berubah, dan banyak hal lain yang berubah. “Termasuk cara masyarakat mengakses serta memaknai informasi yang berkembang,” ujarnya.

Mantan Pimpinan Umum Harian Jayakarta ini bahkan menyebut, era media konvensional bakal tergeser oleh media sosial. Medsos bakal semakin besar perannya, karena masyarakat dijejali medsos dalam intensitas yang luar biasa tinggi. “Bayangkan, berita bergulir dengan sangat cepat. Baik berita terkonfirmasi maupun berita yang sumir. Baik pemberitaan media online maupun broadcast whatsapp,” kata Martin.

Keadaan seperti itu ibarat hadirnya dua sisi mata uang. Ada siang ada malam. Ada baik ada buruk. Ada berita positif ada hoax –dan ujaran kebencian. “Hoax dan ujaran kebencian masih akan marak di dalam peradaban baru yang sedang kita masuki. Tidak ada waktu lagi untuk menunda mengedukasi masyarakat. Sekaranglah waktu yang tepat. Jangan terlambat,” tandas Martin Hutabarat pula.

Martin Hutabarat saat berdialog dengan para jurnalis senior di ruang rapat Gedung Nusantara V, Rabu (17/6/2020). Pertemuan tetap memperhatikan protokol kesehatan, jaga jarak. (foto: rina ginting)

Dalam kaitan inilah, menurut Martin, MPR sebagai lembaga negara ikut bertanggung jawab dalam menjaga dan merawat ke-bhinekaan bangsa. MPR harus ikut terus-menerus mengingatkan masyarakat akan perlunya kita membangun etika dan solidaritas berbangsa dan bernegara, sebagaimana diamanatkan TAP MPR No V1/MPR/2001.

“Pentingnya sikap jujur, saling menghargai, saling mencintai, saling menolong sesama manusia, mengembangkan budaya malu, keteladanan dan etos kerja adalah bagian dari etika dan moral ke-Indonesiaan yang harus kita jaga,” tegasnya.

Kalau nilai-nilai dan etika kebangsaan ini dapat kita pelihara dengan baik, maka ke depan NKRI akan tetap dapat kita jaga dalam bingkai persatuan dan kesatuan. “Intinya, jangan sampai terjebak pada benturan yang bisa mengancam persatuan kita sebagai sebuah bangsa. Contoh, RUU Haluan Ideologi Pancasila. Ini harus disikapi secara arif,” kata Martin.

Di sinilah peranan pengendalian diri sebagai warga negara perlu kita pertahankan terus-menerus agar jangan sampai terjebak pada benturan yang mengancam persatuan kita sebagai bangsa.

Terakhir, kepada para jurnalis senior Martin mengajak agar bersama-sama mengantisipasi perubahan pola hidup masyarakat selama dan pasca pandemi Covid-19. “Kecepatan menyampaikan informasi mungkin perlu, tapi jauh lebih penting menyampaikan informasi yang akurat dan seimbang,” pungkas Martin Hutabarat. (melva)

Semalam di Caringin

Anggota Komisi I DPR RI dari Partai Gerindra, Martin Hutabarat SH, memberikan cenderamata dari MPR RI kepada Ketua Perkumpulan Jayakarta 89, Roso Daras, disaksikan Ketua Panitia Raker, Yonathan Nugraha, usai sarasehan “Pancasila Mempersatukan Kita, Hoaks dan Radikalisme Musuh Kita Bersama”, di Villa Caringin, 11-12 November 2017..

INILAH salah satu wajah kami, pengelola website www.jayakartanews.com. Sejak digagas akhir tahun 2016, kemudian diluncurkan pada awal Februari 2017, website ini telah menjadi perekat di antara para eksponen Harian Umum Jayakarta, yang telah berhenti terbit tahun 1989.

Para punggawanya, kemudian berkumpul di kediaman Pemred Suryohadi, di kawasan Depok pada November 2016. Dari sanalah kemudian lahir gagasan untuk membangun sebuah media online, sebagai perekat silaturahmi yang telah tersambung kembali. Bayangkan, betapa campur-aduknya perasaan kami setelah berpisah 28 tahun, lalu berkumpul kembali.

Rajutan tali silaturahmi itu berlanjut dengan berbagai kegiatan positif. Antara lain, pelatihan jurnalistik untuk awak non redaksi dan keluarganya. Kemudian, acara formal peluncuran website jayakartanews.com oleh Wakil Bupati Kuningan, Jawa Barat, dan terakhir, Rapat Kerja dan Silaturahmi  di VIlla Kp. Caringin, Bogor. ***

Suasana sarasehan “Pancasila Mempersatukan Kita, Hoaks dan Radikalisme Musuh Kita Bersama”, yang didukung MPR RI dan Kementerian Kominfo. Pembicara sarasehan Anggota DPR RI Komisi I, Martin Hutabarat SH dan Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo, dengan moderator Sumarno.

Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo berbincang dengan para punggawa Jayakartanews.com: Silalahi, Didik, Leo, Taopik, dan Arif.

Peserta Sarasehan, Silaturahmi, dan Raker Jayakartanews berfoto bersama. Duduk dari kiri: Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo mantan Aspemred Harian Jayakarta, Martin Hutabarat, dan Roso Daras.

Sarasehan Hoaks dan Radikalisme

Sarasehan hoaks dan radikalisme. Dari kiri, Prof Hermawan “Kikiek” Sulistyo, Martin Hutabarat, SH, dan moderator Sumarno. Foto: Rina Ginting

KELUARGA besar jayakartanews, menggelar sarasehan mengenai topik yang sangat aktual. Dengan dukungan MPR RI dan Kementerian Kominfo, sarasehan mengangkat tema “Pancasila Mempersatukan Kita, Hoaks dan Radikalisme Musuh Kita Bersama”. Dua narasumber hadir dan memberi wawasan dalam seminar yang diselenggarakan di Villa Kp. Caringin, Bogor, 11 – 12 November 2017. Mereka adalah Martin Hutabarat, SH, politisi Gerindra, Anggota Komisi I DPR RI, dan Prof (Ris) Hermawan “Kikiek” Sulistyo, Ph.D, peneliti LIPI yang juga pengamat politik.

Dalam kesempatan itu, Martin mengemukakan, betapa hoaks dan radikalisme sangat berbahaya. Bahkan, saking berbahayanya, bisa memecah belah persatuan bangsa. “Saya sudah keliling ke banyak negara, termasuk ke negara-negara kecil pecahaan Yugoslavia dan Uni Soviet. Betapa dua negara yang dulu begitu besar dan disegani dunia, bisa terpecah belah. Beruntung Indonesia, yang juga sempat diramal bakal pecah, hingga hari ini masih utuh,” ujar Martin.

Indonesia sebagai sebuah bangsa dan negara, sempat beberapa kali diancam dan terancam oleh potensi disintegrasi,yang umumnya menggunakan senjata SARA (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan). Dan sejauh ini, kita masih cukup konsisten memelihara keragaman yang memang merupakan sebuah keniscayaan bagi Indonesia sebagai negara kepulauan dengan aneka keragaman budaya, agama, bahasa, dan adat-istiadatnya.

Sumarno, moderator sarasehan menegaskan, bahwa pesan moral yang bisa dipetik dari paparan Martin Hutabarat adalah, pentingnya menjaga kerukunan, serta pentingnya meningkatkan kewaspadaan terhadap setiap upaya pemecah-belahan bangsa. “Seorang mantan menteri, sarjan ITB saja bisa termakan hoaks, apalagi rakyat biasa. Karena itu, kita harus bijak dan cerdas menyikapi apa pun informasi yang kita dapat,” ujarnya. ***

Peserta sarasehan “Pancasila Mempersatukan Kita Hoaks dan Radikalisme Musuh Kita Bersama”, di Vila Kp. Caringin, Bogor. Foto: Banjar S

Katmin, Legenda Jayakarta

INI tentang seorang lelaki bernama Katmin. Betapa, seorang office boy bisa menjadi icon di sebuah perusahaan media massa bernama Harian Jayakarta. Syahdan, ketika pertengahan tahun 2016 Agus Sundayana (bagian keuangan Jayakarta) bersama beberapa rekan perusahaan membuat WA Grup (WAG), Jayakarta, nama Katmin paling sering muncul.

Agus mengakui, sebelum memasukkan kru redaksi, grup itu belum terlalu heboh. Begitu redaksi di-invite satu per satu, dalam waktu tidak terlalu lama, penghuni grup mencapai puluhan, dan puncaknya di angka 73 orang. Satu orang menyumbang nomor telepon yang lain. Yang lain menyumbang nama yang lain lagi. Begitu seterusnya, dan silaturahmi yang terputus lebih 16 tahun itu pun terjalin kembali. Oh… alangkah indah tak terperi.

Katmin, two thumb up….

Suasana pun kembali ke ruang kerja Harian Jayakarta di Jl Arus, Cabang, Jakarta Timur tahun 90-an. Adalah Yon Moeis yang pertama melempar komen provokatif…. “Kalau belum ada Katmin, belum sah grup ini.” Anda bisa bayangkan, padahal di grup itu sudah ada Pemred Suryohadi, Pemimpin Umum Martin Hutabarat, Pemimpin Perusahaan Duta Pranowo, Wapemred Laurens Samsoeri, Redpel Roso Daras, dan anggota redaksi dan dan non redaksi senior lain.

Ramailah yang lain menimpali, “Cari Katmin sampai ketemu…..” Eddy Koko lebay berkomentar, “Bila perlu kita kerahkan BIN.” Entah siapa lagi yang berkomentar tak kalah seru, “Orang paling penting di Jayakarta adalah Katmin….” Masih banyaklah komentar yang kemudian melegitimasi nama Katmin sebagai “Sang Legenda Jayakarta”. Sungguh, semua anggota WAG merasa senang dan menerima.

Ribut-ribut tentang “Cari Katmin Sampai Ketemu” baru mereda setelah Agus Sundayana yang terkenal ringan-langkah itu nyelak, “Siap, besok saya lacak ke rumahnya!” Reda suasana. Lebih melegakan ketika keesokan harinya Agus benar-benar melacak ke rumahnya. Dia berhasil memotret sosok Katmin dalam pakaian PNS. Ya, ternyata Katmin pegawai honorer Suku Dinas Pendidikan Jakarta Timur. Bukan cuma Katmin, tetapi Agus juga berhasil mendatangi rekan Katmin yang lain, Subur dan mengunggah foto mereka.

Sayang, HP keduanya belum memungkinkan untuk aktivasi WA. Tapi setidaknya, kabar itu sudah sangat melegakan. Agus Sundayana pun menuai banyak jempol di grup. Semua berterima kasih kepada Agus.

Ahhh…. ternyata sudah panjang sekali tulisan ini. Takut dimarahi admin, saya cukupkan sampai di sini. Saya akan siasati aturan admin dengan membuat serial Katmin selanjutnya….. Dus, tulisan ini harus saya cantumkan kata “BERSAMBUNG”. ***