Ratusan Penonton Padati Event International Mask Festival 2022 

JAYAKARTA NEWS— Hari kedua International Mask Festival 2022 berlangsung ramai dengan ratusan penonton. Cuaca yang cerah dan bersahabat, pengunjung antusias untuk menyaksikan pergelaran tersebut. Hal ini terlihat dari panjangnya antrian di gerbang open gate, tercatat 700 orang yang hadir dalam acara malam ini.

Penampilan perdana disajikan oleh Athanasios Yanuari Christyawan (Yogyakarta) dengan judul “Hormat Bagi Sang Guru”.  Tarian yang dibawakan bercerita tentang penghormatan kepada guru sang penari, serta tarian ini menggambarkan keteladanan sang guru. Sikapnya yang halus serta dapat mengendalikan diri menjadi contoh bagi banyak orang, sehingga penampilan pertama ini sangat memiliki banyak filosofi di balik tariannya.

Tidak hanya itu, penampilan dari dalam negeri juga dibawakan oleh Sanggar UKM SEBA UNKHAIR (Maluku Utara), Kemantren Langenpraja (Solo), Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kab. Pati), Toto Sudarto, S.Kr., M.Hum. (Karanganyar), Uti Setyastuti (Yogyakarta), Sanggar Tari Beber (Majalengka), Sanggar Tari Bonoroto (Solo)Darmawan Dance Company (Yogyakarta), dan Agung Dancing Center (Klaten). 

cristina duque-ekuador

Pada puncak acara International Mask Festival 2022 tentunya tidak hanya menampilkan tarian dari dalam negeri, melainkan juga dari mancanegara salah satunya penampilan dari Norisham Osman dari The Kaizen M.D Collective (Singapura) yang berjudul “IN ESSENCE”. Tarian ini menggambarkan pengejawantahan budaya yang diwujudkan dalam wadahnya dan membangkitkan emosi ketidakpastian. Selain itu penampilan dari luar negeri juga ditampilkan oleh Sirisook Dance Theater (Thailand) dan Cristina Duque (Ekuador).

Wakil Walikota Surakarta, Drs. Teguh Prakosa,  menyampaikan, “Saya berharap untuk pelaksanaan IMF pada tahun depan bisa lebih luar biasa dan spektakuler baik dalam sisi penyelenggaraan pertunjukan maupun pameran kerajinan topengnya. Saya berpesan untuk lebih melibatkan seniman-seniman muda agar muncul ide-ide dan kreatifitas yang semakin segar serta regenerasi seniman dan budayawan akan terus berlanjut.” 

Keseruan puncak acara IMF hari kedua semakin pecah dengan adanya penyajian flashmob dance. Para delegasi dan panitia turut berpartisipasi di dalam tarian flashmob ini untuk menutup rangkaian acara IMF 2022.***/ebn

‘Sabdo Pandito Rakjat’, Mengenang Ki Nartosabdo

JAYAKARTA NEWS—  Guna mengenang Ki Nartosabdo (maestro dalang wayang kulit dan karawitan), Indonesia Kita menyuguhkan lakon rekaman pentas bertajuk ‘Sabdo Pandito Rakjat’ (‘Rakjat’ sengaja ditulis pakai ejaan lama) hari Minggu (9/8) di www.indonesiakaya.com dan channel YouTube IndonesiaKaya.

Difasilitasi Bakti Budaya Djarum Foundation, lakon yang disutradarai Sujiwo Tejo ini memadukan unsur seni dan dibalut teknologi untuk menyuarakan makna-makna yang tersirat dalam cerita pentasnya.

Adegan lakon ‘Sabdo Pandito Rakjat’,(Foto : Image Dynamic)

Ceritanya tentang seorang dalang yang bersikap teguh dan kritis terhadap apa yang terjadi disekelilingnya serta diperkuat dengan lagu-lagu ciptaan Ki Nartosabdo yang diaransemen ulang oleh Bintang Indrianto bernuansa jazz. Beberapa komposisi Ki Nartosabdo antara lain Gambang Suling, Perahu Layar, Dara Muluk  Ibu Pertiwi dll.

Ki Nartosabdo termasuk komponis jenius dan melampaui zamannya. Dalang terbaik yang pernah ada di Indonesia, kata Presiden 1 RI, Bung Karno. Agus Noor selaku penulis naskah mengemukakan bahwa seorang dalang harus bisa menjaga akal sehatnya ditengah kegaduhan sosial politik.

Dia peka mendengar suara-suara jernih rakjat dalam jenjang moralitasnya. Beberapa pemain andal tampil dalam lakon ini, yaitu Sujiwo Tejo (merangkap sutradara), Cak Lontong, Marwoto, Akbar, Didiek Nini Thowok, Happy Salma, Trio GAM (Gareng, Joned, Wisben), Butet Kertaredjasa, Sruti Respati, Bonita, Inayah Wahid, Gita Sinaga dan Joe Kiwil. (pik)

‘Hom Pim Pah’ Hibur Penikmat Kesenian Tradisi di Galeri Indonesia Kaya

Foto istimewa

Hom Pim Pah Alaihom Gambreng. Kalimat ini mungkin sering kita dengar atau diucapkan oleh anak-anak maupun kita yang dewasa untuk mengundi suatu permainan dan sebagai penentu siapa yang menang, siapa yang kalah. Namun, siapa yang mengira jika kalimat yang diadaptasi dari bahasa Sansekerta tersebut memiliki arti yang sangat dalam, yaitu ‘dari Tuhan kembali ke Tuhan, mari kita bermain’.

“Melalui pertunjukan ini, kami mengajak para penikmat seni untuk bersama-sama memaknai arti yang tersirat dalam musik yang kami sampaikan,” ujar Guruh Purbo Pramono selaku pimpinan produksi dari Hom Pim Pah.

Foto istimewa

Minggu (10/3) kemarin, dengan tema Panggung Ruang Kreatif, Galeri Indonesia Kaya bersama Guruh Se-Balane mempersembahkan sebuah pertunjukan bertajuk Hom Pim Pah. Kelompok yang berasal dari Banyumas ini memaknai kalimat Hom Pim Pah dalam sebuah alunan musik tradisi Indonesia yang menghibur para penikmat seni di Auditorium Galeri Indonesia  Kaya.

Selama kurang lebih 60 menit, penikmat seni menyaksikan dan mendengarkan alunan musik indah yang dibawakan oleh kelompok Guruh Se-Balane. Perpaduan alat musik tradisional dan modern seperti gambang calung, dhendhem, kenong, klunthung sapi, saxophone, biola, gong bumbung, dan suling yang dibawakan ini mencerminkan ajaran luhur yang bersahaja bagi anak-anak untuk senantiasa melakukan perbuatan sekecil apapun dengan penuh keseriusan dan berjiwa besar.

Konsep Hom Pim Pah dapat dikatakan sebagai dunia bermain-main yang dilakukan secara sungguh-sungguh, karena dalam sebuah permainan pasti memiliki aturan-aturan yang sudah disepakati secara bersama.

Guruh Purbo Pramono selaku pimpinan produksi dari Hom Pim Pah—foto istimewa

“Guruh Se-Balane merupakan satu dari empat belas kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia 2018. Program tahunan yang rutin diselenggarakan sejak 2016 ini merupakan program yang bertujuan untuk menumbuhkan bakat-bakat baru kreator seni di dunia seni pertunjukan Indonesia. Kami harap, kedepannya kelompok-kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia dapat terus berinovasi dan menghasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi serta memajukan seni budaya Indonesia,” ujar Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation.

Dalam proses persiapannya, 14 kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan didampingi oleh para mentor yang ahli dalam bidangnya seperti, Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ratna Riantiarno, Rama Soeprapto, Djaduk Ferianto, Tinton Prianggoro, Iswadi Pratama, Ruth Marini, Subarkah Hadisarjana, Hartati, dan Butet Kartaredjasa.

“Program Ruang Kreatif sangat dibutuhkan di zaman ini, karena program Ruang Kreatif dapat mewadahi generasi baru untuk berkembang dan berkarya lewat kreativitasnya.  Guruh merupakan seorang komposer muda yang mampu menafsirkan tradisinya ke dalam ruang kreatif dan mampu menjadikannya sebuah tradisi baru.”

“Dengan didukung para pemain yang beragam, mulai dari milenial hingga berpengalaman, menjadikan karyanya penuh imaji dan menyadarkan kita akan kekayaan musik yang ada di Indonesia. Hom Pim Pah seakan membawa kita ke dalam dunia permainan anak-anak, namun ditangan Guruh dunia main-main tadi menjadi serius. Saya harap, kedepannya kelompok-kelompok terpilih dalam program Ruang Kreatif dapat mempersembahkan karya-karya bermanfaat bagi Bangsa dan Negara kita,” ujar Djaduk Ferianto selaku mentor dari kelompok Guruh Se-Balane. (pik)

Sruti Respati Berjuang Lestarikan Kesenian Tradisi

Nilai-nilai yang merupakan karakter bangsa kita telah mulai tergerus oleh arus modernisasi. Pengaruh globalisasi begitu kuat, khususnya di kalangan generasi muda. Ini merupakan tantangan juga ‘PR’ buat kita semua.

Begitulah ungkapan keprihatinan Sruti Respati, seniman seniman Jawa yang dalam berbagai kesempatan berkarya berupaya tetap konsisten menjunjung kebudayaan negeri sendiri, sembari menularkannya kepada masyarakat.

Diakui atau tidak, faktanya modernisasi dan globalisasi telah menggerogoti nilai-nilai nasionalisme. Yang paling terasa adalah di bidang budaya, di mana sebagian masyarakat kita seolah lebih suka budaya negeri lain ketimbang mengusung budaya sendiri.

Gejala yang mengkhawatirkan ini sekaligus memprihatinkan, sudah seharusnya menjadi keprihatinan kita bersama, yang jika dibiarkan bukan tidak mungkin kita akan kehilangan jati diri sebagai bangsa.

“Kalau dibilang prihatin, memang prihatin ya. Mau nggak mau kita memang harus mengakui bahwa nilai-nilai yang merupakan karakter bangsa kita telah mulai tergerus oleh arus modernisasi. Pengaruh globalisasi begitu kuat, khususnya di kalangan generasi muda. Ini merupakan tantangan juga ‘PR’ buat kita semua.

Harus ada cara untuk mengembalikan kepedulian kita semua. Bagaimana membangkitkan nasionalisme di kalangan anak-anak muda, ini yang penting dilakukan. Bagaimana membuat agar generasi muda yang merupakan harapan bangsa peduli pada nilai-nilai keindonesiaan, nilai-nilai budaya sendiri,” ungkap penyanyi keroncong ini.

Jika itu tidak dilakukan, ucap Sruti, dia tak bisa membayangkan akan jadi seperti apa bangsa ini puluhan tahun ke depan. “Bisa jadi 20 atau 30 tahun ke depan, kita tidak tahu lagi bagaimana cara mengenalkan budaya negeri kita kepada generasi muda pada masa itu lantaran sudah hilang,” tambahnya mengingatkan.

Menurutnya, semua orang Indonesia harus terlibat dalam menggelorakan semangat ‘merah putih’ , dan para seniman entah itu penyanyi, artis, adalah salah satu pihak yang paling harus bergerak untuk melakukan ‘pekerjaan besar’ (membangkitkan nasionalisme) ini lewat karya-karyanya.

“Seperti saya misalnya, sebagai penyanyi adalah salah satu yang pas untuk mempromosikan budaya kita. Itu yang saya lakukan lewat karya-karya saya melestarikan kesenian tradisi negeri. Bukan hanya lewat lagu tapi juga penampilan, misalnya kebaya yang kerap saya kenakan atau konde,” lanjutnya sembari menambahkan, pihak media pun juga harus ikut bersama melakukan ‘pekerjaan besar’ ini, lewat publikasinya.

Tentunya, diakui wanita kelahiran Solo 1980, agar bisa memikat hati kalangan muda, harus ada ide-ide kreatif yang dimunculkan. Dalam bidang seni misalnya, tidak melulu kesenian tradisional tapi juga seni kreatif yang tentunya tidak meninggalkan unsur-unsur tradisi. Yang terpenting adalah kemasannya. Dengan begitu kalangan muda bisa tertarik, dan mulai peduli.

Untuk mencapai tujuan utama yakni menularkan kecintaan terhadap budaya sendiri, tambah Sruti, kita harus bisa memahami sikap dan minat anak muda. “Apa sih yang disukai anak muda? Musik apa yang mereka gemari, rock, pop, jazz, atau seni kotemporer. Dari sini lah kita bisa masuk untuk memikat mereka”.

“Ketika sudah ada kepedulian maka akan muncul cinta. Jadi anak muda tidak perlu dipaksa untuk menyukai karena rasa itu sudah muncul dengan sendirinya dari dalam. Setelah proses ini berjalan maka sesekali atau saat-saat tertentu kita tampilkan kesenian tradisi kita,” tambah Sruti.

Sruti pun memberi contoh lagu keroncong yang sebagian orang menyebutnya sebagai musik jadul, juga mulai digemari kalangan muda. Itu karena kreativitas. “Ternyata yang namanya musik keroncong asyik juga didengarkan. Anak muda mulai tertarik karena ada sentuhan kreativitas yang disesuaikan dengan kondisi sekarang. Inilah salah satu upaya melestarikan musik keroncong,” ucapnya.

Tapi sebetulnya, kata Sruti lebih jauh, dalam bidang apapun kita berkarya tetap bisa mempertahankan karakter kita sebagai bangsa Indonesia. Entah itu penyanyi, artis bahkan peneliti pun tetap bisa menampilkan karakter bangsa. Karena pada dasarnya setiap orang yang berkarya, dalam hal apapun, selalu mencari karakter dalam karyanya.

“Nah jika kita sudah tahu jati diri kita sebagai orang Indonesia, dengan adat ketimurannya dan kebudayaannya yang beragam, kebudayaannya yang agung, pastilah akan memberi sentuhan yang berbeda pada karya-karyanya apapun itu,” kata Sruti yang bukan saja piawai menyanyi keroncong juga menari. ***