Masker “Tali Kasih” Ornamen Karo

JAYAKARTA NEWS— Banyak hal yang berguna bisa dilakukan di tengah wabah corona yang mendunia ini. Seperti halnya yang dilakukan Liston S Depari, CEO Ornamen Karo. Ia tergerak membagikan masker untuk daerah asalnya. Demi tak semakin menyebar wabah ini di kampung halamannya, Tanah Karo.  

Membagikan 10 ribu masker kepada masyarakat di Kabupaten Karo, menjadi “Tali Kasih” dari Ornamen Karo yang telah menghimpunnya dari berbagai donatur. Liston berharap, melalui pembagian masker ini mampu meminimalisir pergerakan virus corona atau Covid-19 yang semakin menggila.

“Saya terharu, dalam tempo 3 jam rencana pembagian masker diumumkan, donatur langsung menyambut. Saat ini 10 ribu masker sudah tersedia. Ini merupakan bukti kalau semangat bersatu itu masih sangat kuat,” jelas Liston mengenai rencananya itu, Rabu (8/4).

“Semangat berbagi dan peduli sesama harus terus menerus dipupuk. Terutama dalam menghadapi wabah Corona, semua pihak semestinya bergandengan tangan.  Kebersamaan akan melahirkan kekuatan dan kekuatan akan mengatasi berbagai permasalahan,” ujarnya lagi. 

Menurut Liston,  Ornamen Karo yang selama ini berkiprah di bidang kreatif etnik,  berupaya ikut ambil bagian  dalam menghadapi serangan corona. Dan Liston sangat yakin, bangsa Indonesia, khususnya warga Kabupaten Karo akan mampu melewati badai wabah ini.

Liston juga menjelaskan, walau dana pembelian masker sudah cukup, ternyata donasi masih terus berdatangan. Ornamen Karo yang berpusat di Bandung,  kata Liston, akan terus menggalang donasi. Kegunaannya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat di Kabupaten Karo.

“Sebenarnya Ornamen Karo sudah menyiapkan 2 ton beras untuk donasi tahap kedua. Kita akan lihat bagaimana perkembangannya nanti. Bisa jadi bantuan berikutnya dialihkan dalam bentuk lain,” urainya lagi.

Pada kesempatan itu Liston juga menegaskan kalau peran Ornamen Karo bersifat memfasilitasi semua donasi untuk disalurkan ke masyarakat Kabupaten Karo. Kepedulian warga perantauan untuk membantu tanah kelahirannya jelas sangat menggembirakan. “Memang bantuan ini tidak seberapa tapi ini merupakan bentuk kepedulian,” tegasnya.

Liston juga menuturkan,  pihaknya berencana mempercepat pendirian Koperasi Ornamen Karo di Kabupaten Karo. Menurutnya, keberadaan koperasi  ini merupakan solusi jangka panjang dan permanen, baik selama wabah covid-19 dan setelahnya. Saat ini pertanian di Kabupaten Karo masih relatif normal. Kondisi ini tetap harus dijaga agar perekonomian tidak lumpuh. “Kita berharap koperasi nantinya bisa berperan membantu distribusi produk pertanian secara berkeadilan.  Kalau kita berjuang bersama-sama, saya yakin Kabupaten Karo akan mampu melewati badai ini,” harapnya. (Jaya Ginting)

Puskesmas Ikut Sediakan Layanan Periksa Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Mau ikut pemeriksaan Covid 19 dengan rapid test. Datang saja ke Puskesmas. Sekarang ini sejumah pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) menyediakan layanan pemeriksaan COVID-19 melalui uji antibodi (rapid test) dan pengambilan sampel cairan di tenggorokan (throat swab).

Informasi tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Layanan Kesehatan Kementerian Kesehatan, Bambang Wibowo, di Jakarta, Selasa (7/4). 

“Salah satu peran yang dilakukan puskesmas adalah melakukan screening (pemeriksaan, red) terhadap Covid-19. Metode screeening yang dilakukan adalah hasil penelusuran terhadap masyarakat yang diduga kontak erat dengan kasus Covid-19 yang positif,” terang Bambang dalam sesi jumpa pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Sebelum uji antibodi atau tes swab dilaksanakan, petugas puskesmas akan melakukan wawancara dan pemeriksaan epidemiologi terlebih dahulu ke pasien. 

Jika hasil pemeriksaan awal menunjukkan ada indikasi kuat COVID-19, petugas puskesmas akan mengambil darah pasien untuk diuji tingkat antibodi-nya melalui rapid test. 

“Pengambilan darah dapat dari pembuluh kapiler atau ujung jari. Cara lain adalah melalui swab pada tenggorokan maupun pangkal hidung kemudian dilakukan pemeriksaan di laboratorium. Hasilnya akan diinformasikan kemudian apakah bapak/ibu positif atau negatif,” terang dia. 

Dalam kesempatan itu, Bambang menjelaskan pasien yang tidak menunjukkan gejala sakit berat akan diminta untuk mengisolasi diri dari rumah. 

“Bila tes antibodi (rapid test) positif, tetapi tidak ada tanda gejala sakit berat, maka akan dilakukan isolasi diri di rumah kemudian puskesmas dan rumah sakit setempat akan memberi edukasi, informasi, dan monitor mengenai apa yang harus dilakukan bapak/ibu semua melalui pemanfaatan handphone secara online,” jelas dia. 

Langkah itu dilakukan karena keterbatasan tenaga kesehatan dan kapasitas layanan di puskesmas serta sejumlah rumah sakit untuk menangani pasien COVID-19. 

Pemerintah Indonesia melaporkan per Senin (6/4) jumlah kasus positif COVID-19 mencapai 2.491 pasien. Dari angka itu, 192 di antaranya dinyatakan sembuh, sementara 209 lainnya meninggal dunia. 

DKI Jakarta masih jadi provinsi dengan jumlah pasien positif COVID terbanyak, yaitu 1.232 kasus. Dari jumlah itu, 65 pasien sembuh dan 99 wafat.***/ebn

80 Persen dari 11.242 Pemeriksaan Spesimen Negatif Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Hasil  pemeriksaan spesimen terhadap 11.242 orang terkait virus corona, 80 persennya dinyatakan tidak terbukti atau negatif virus corona. Atau, 8000 dari 11.242, dinyatakan negatif covid 19.

“Kami laporkan per 6 April ini sudah melaksanakan pemeriksaan spesimen terhadap 11.242 orang,” ungkap Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto, saat konferensi pers di Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta, sebagaimana dikutip dari laman bnpb.go.id

Di sisi lain, Pemerintah juga turut prihatin masih saja ada tenaga kesehatan yang terkena Covid-19 dan gugur dalam menjalankan tugasnya menangani penyebaran virus Corona.

Dalam hal ini, Pemerintah akan terus memperkuat dengan pendistribusian alat pelindung diri (APD) yang sangat dibutuhkan tenaga kesehatan dalam menangani virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 itu.

“Distribusi terus menerus akan kita lakukan berbasis kebutuhan masing-masing provinsi. Gugus tugas sudah aktif di 27 provinsi dan 154 kabupaten/kota. Ini respon nyata kesungguhan pemerintah mengharmonisasikan upaya pencegahan Covid-19,” katanya.

Sementara itu, jumlah pasien positif Covid-19 per Senin, 6 April 2020 pukul 20.20 tercatat sebanyak 2.491 kasus, dengan rincian pasien sembuh sebanyak 192 orang, sementara 209 meninggal dunia.

Sejauh ini, catatan pemerintah menunjukkan DKI Jakarta masih jadi provinsi dengan jumlah pasien positif Covid-19 terbanyak, yaitu 1.232 jiwa per 6 April.

Setelah DKI Jakarta, ada Jawa Barat dengan 263 kasus, Jawa Timur dengan 189 kasus, Banten dengan 187 kasus, Jawa Tengah dengan 132 kasus, dan Sulawesi Selatan dengan 113 kasus.

Data Gugus Tugas mencatat 32 provinsi sudah terpapar Covid-19 dengan rincian 20 provinsi mengalami peningkatan kasus positif per 6 April di antaranya di Bali (tambah 7 kasus), Banten (tambah 10 kasus), DI Yogyakarta (tambah 6 kasus).

Kemudian, DKI Jakarta (tambah 101 kasus), Jawa Barat (tambah 11 kasus), Jawa Tengah (tambah 12 kasus), Jawa Timur (tambah satu kasus), Kalimantan Barat (tambah dua kasus), Kalimantan Timur (tambah satu kasus).

Di Kalimantan Tengah (tambah 9 kasus), Kalimantan Selatan (tambah dua kasus), Kalimantan Utara (tambah tujuh kasus), Nusa Tenggara Barat (tambah tiga kasus), Sumatera Barat (tambah 10 kasus), Sulawesi Utara (tambah dua kasus), Sumatera Utara (tambah satu kasus), Sulawesi Tenggara (tambah satu kasus), Sulawesi Selatan (tambah 30 kasus), Lampung (tambah satu kasus), dan Riau (tambah satu kasus).***/ebn

Pengembangan Vaksin Corona Minimal Satu Tahun

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai bagian dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 memastikan bahwa penelitian dan pengembangan vaksin Corona atau SARS-CoV-2 di Indonesia setidaknya memerlukan waktu minimal satu tahun. Kecuali apabila sudah ada vaksin yang telah dikembangkan di luar negeri sebelumnya sehingga kemudian bisa diproduksi di Indonesia.

Hal itu sebagaimana pernyataan Menristek BRIN Bambang Brodjonegoro usai bertemu Kepala Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo di Kantor Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta. Demikian dikutip dari laman bnpb.go.id

“Bagaimana obat dan vaksin? Ini jangka menengah panjang. Untuk vaksin, misalkan kira-kira dibutuhkan paling tidak satu tahun minimal,” terang Menristek BRIN Bambang.

Selain vaksin, Tim Konsorsium COVID-19 juga sedang fokus mengembangkan suplemen untuk menjaga imunitas tubuh yang dibuat dari berbagai bahan baku di Indonesia.

Kemudian, tim juga mengembangkan pengkajian obat COVID-19, salah satunya pil kina yang memiliki kesamaan dengan Chloroquine, obat malaria.

“Mudah-mudahan dengan pengujian ini ada sesuatu barangkali berkontribusi pada pengobatan COVID-19,” harapnya.***/ebn

100 Wartawan Depok Ikuti Rapid Test di RS Bunda Margonda

JAYAKARTA NEWS— Sekitar 100 wartawan di Kota Depok yang tergabung dalam Kelompok Kerja Wartawan Depok (Pokja), Depok Media Center (DMC), dan wartawan yang berdomisili atau ber-KTP Kota Depok,  mendapat kesempatan mengikuti Rapid Tes yang dilaksanakan selama dua hari, Senin-Selasa (5-6 April) di RS Bunda Margonda Depok.

Hari Senin, sebanyak 50 orang wartawan sudah di tes yang seluruh hasilnya diserahkan dari pihak RS Bunda Margonda ke Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Depok untuk diteruskan ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Depok dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok.

Rusdy Nurdiansyah, Ketua Wartawan Kota Depok Siaga Covid-19 mengatakan, wartawan sebagai salah satu garda terdepan dalam penanganan dan penanggulangan pencegahan pandemi virus corona harus tahu juga kondisi kesehatannya dan turut mencegah dan menjaga agar tidak ketularan atau menularkan virus covid-19. Itu sebabnya mendapat prioritas untuk tes rapid.

Ditambahkannya, rapid tes diperuntukan untuk orang yang sehat. Bukan berarti orang sehat itu tidak terpapar virus Corona (Covid-19). “Hasil rapid tes belum dapat dikatakan terkonfirmasi positif Covid-19,” ucapnya.

Rapid Test wartawan Depok di RS Bunda Margonda, 506 April 2020–foto istimewa

Jika hasil rapid tes positif, lanjut Rusdi maka peserta akan masuk daftar Pasien Dalam Pengawasan (PDP) untuk selanjutnya mengikuti pemeriksaan tahap kedua yakni tes Swab PCR untuk memastikan Terkonfirmasi Positif Covid-19 atau tidak.

“Selanjutnya, jika ada peserta yang positif akan dilaporkan Diskomimfo Kota Depok dan akan diambil tindakan oleh Dinkes Kota dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok untuk mengikuti program isolasi positif Covid-19,” jelasnya seraya berharap seluruh wartawan yang di rapid hasilnya sehat semua.

Dalam kegiatan itu hadir juga Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna yang langsung memantau proses pelaksanaan rapid tes tersebut.***rg

Mendagri Cetuskan Grand Strategi Nasional Hadapi Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Persoalan Covid-19 masih menjadi perhatian utama Pemerintah. Di saat pandemik menyerang hampir seluruh negara di dunia, Pemerintah terus melakukan upaya pencegahan dan penyebaran virus tersebut di tanah air.

“Persoalan Covid-19, sudah menyebar ke hampir semua wilayah dan berimbas ke berbagai sendi kehidupan sosial dan ekonomi kita. Pandemik Covid-19 sudah menjadi masalah  nasional, yang harus ditangani secara komprehensif dan terpadu,” tandas Mendagri Tito Karnavian di Jakarta, Senin, (06/04/202), di sela-sela vidcon rapat terbatas bersama Presiden dan Wakil Presiden, beserta sejumlah menteri Kabinet Indonesia Maju.

Demikian rilis yang diterima dari Puspen Kemendagri.

“Masalah Covid-19 tak bisa lagi ditangani secara parsial atau secara sendiri-sendiri oleh sektoral. Kita membutuhkan grand strategi nasional utuk menghadapinya”, tegas Tito.

Dijelaskannya, terdapat empat pilar strategi yang satu sama lain saling berhubungan dan merupakan satu kesatuan dari Grand Strategi Nasional.

Pertama adalah strategi pencegahan penularan Covid-19 itu sendiri. Kedua, menyangkut peningkatan sistem ketahanan tubuh, baik di tingkat indvidual maupun di tingkat komunitas masyarakat untuk menghadapi Virus Corona.

Ketiga, peningkatan kapasitas sistem kesehatan kita, baik di tingkat Pusat maupun di seluruh daerah di Indonesia. Keempat,  mengoptimalkan kapasitas produksi industri, khususnya di bidang kesehatan serta produksi kebutuhan dasar masyarakat termasuk ketahanan pangan. Petani, peternak dan nelayan harus di proteksi agar mampu melipatgandakan produksi pangan.

“Keempat komponen strategi tersebut harus dilakukan secara bersamaan di atas langkah-langkah yang operasional,” kata Mendagri.

Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), misalnya, dapat dikategorikan ke dalam strategi nomor satu, yaitu pencegahan penularan. Penerapan strategi ini memiliki implikasi ke bidang lain, seperti sosial dan ekonomi sehingga harus direspon dengan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat termasuk pangan yang dicakup di dalam strategi keempat.

Di samping itu, untuk mencapai kapasitas sistem kesehatan seperti penyediaan Alat Perlindungan Diri (APD), kecukupan ventilator di rumah sakit rujukan serta alat kesehatan lainnya, maka dibutuhkan optimalisasi industri dalam negeri di bidang kesehatan.

“Artinya, sektor dunia usaha dan industri kesehatan perlu didorong untuk berproduksi mencukupi kebutuhan yang berhubungan dengan Covid-19,”  lanjut Mendagri.

Menindaklanjuti hal tersebut, Plt. Dirjen Politik dan Pemerintahan Umum yang juga Kepala Pusat Penerangan Kemendagri, Bahtiar menganjurkan agar keterpaduan gerak dan kordinasi Pemerintah Pusat dan Daerah dapat dibangun di dalam satu kerangka Grand Strategi Nasional yang dicetuskan oleh Mendagri.

“Dalam waktu dekat kita akan mengadakan Mendagri diskusi antara Pemda bersama Kementerian terkait seperti Menperin, Kepala BKPM, Mentan, Menteri Perdagangan, Menteri Kelautan, Menaker, Mentero BUMN serta Apindo dan Kadin untuk membahas strategi optimalisasi industri di bidang kesehatan dan di bidang kebutuhan dasar  masyarakat termasuk ketahanan pangan,” tutup Bahtiar. ***ebn

Pembatasan Sosial Daerah harus Komprehensif

JAYAKARTA NEWS— Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong para gubernur, bupati dan wali kota untuk menggunakan wewenang mengajukan permohonan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dengan bijaksana. Jika akhirnya PSBB harus diterapkan, langkah itu hendaknya tidak menimbulkan ekses atau menambah persoalan baru di daerah bersangkutan.

“Selain mengacu pada syarat-syarat penerapan PSBB sebagaimana tercantum dalam Pasal 4 Permenkes No.9 Tahun 2020, para kepala daerah hendaknya juga memastikan terlebih dahulu bahwa penerapan PSBB tidak menimbulkan panik masyarakat setempat. Maka, sosialisasi sebelum PSBB diterapkan menjadi sangat penting,” ujar Bamsoet di Jakarta, Minggu (5/4/20),  dalam rilisnya.

Seperti diketahui, pekan lalu, Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto telah menebitkan Permenkes No.9/2020 tentang pedoman PSBB sebagai bagian dari upaya Percepatan Penanganan wabah Virus Corona. Selain menjadi wewenang Menkes, Permenkes ini juga menetapkan bahwa permohonan PSBB di sebuah wilayah juga bisa diminta oleh gubernur, bupati atau wali kota kepada Menkes.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, pada tahap sosialisasi, narasi atau penjelasan Pemda tentang perkembangan data pasien Covid-19 hendaknya dikemukakan dengan cara yang wajar dan terukur, tanpa dramatisasi. Terutama data perkembangan harian tentang bertambahnya jumlah pasien dan jumlah pasien Covid-19 yang meninggal. Dengan penjelasan apa adanya, respons masyarakat pun diyakini terukur alias tidak panik.

“Sebelum PSBB diberlakukan, Pemda harus memastikan stok kebutuhan pokok masyarakat setempat tersedia dalam volume atau jumlah yang aman. Serta memastikan tidak terganggunya rantai pasok kebutuhan pokok dan energi. Setiap Pemda perlu berupaya agar tidak terjadi panic buying,” urai Bamsoet.

Mantan Ketua DPR RI ini menambahkan, tak kalah penting adalah memastikan kesiagaan fasilitas layanan publik untuk permintaan atau kebutuhan bersifat darurat. Semisal, layanan medis bagi pasien penyakit lain, Lansia, anak-anak serta ibu hamil. Untuk memastikan semua itu, persiapan sebelum penerapan PSBB oleh setiap Pemda haruslah komprehensif dan mencakup semua aspek.  

“Pelaksanaan dan pengawasan PSBB di sejumlah daerah dipastikan makin rumit, karena bertepatan dengan periode mudik. Untuk menghindari ketegangan dengan para pemudik, para petugas di setiap daerah harus persuasif, dengan mengedepankan dialog untuk membangun saling pengertian,” pungkas Bamsoet. ***/sm

Ini Rekomendasi BMKG-UGM Perangi Covid 19

JAYAKARTA NEWS— Tim BMKG-UGM merekomendasikan berdasarkan fakta dan kajian terhadap beberapa penelitian sebelumnya, bahwa apabila mobilitas penduduk dan interaksi sosial ini benar-benar dapat dibatasi, disertai dengan intervensi kesehatan masyarakat (Luo et. al. 2020 dan Poirier et. al., 2020), maka faktor suhu dan kelembapan udara dapat menjadi faktor pendukung dalam memitigasi atau mengurangi risiko penyebaran wabah tersebut.

Selain itu perlu diwaspadai pula bahwa memasuki bulan April s/d Mei ini, sebagian besar wilayah Indonesia memasuki pergantian musim, yang sering ditandai dengan merebaknya wabah Demam Berdarah.

Jadi secara umum hasil kajian Tim BMKG dan UGM ini juga sangat merekomendasikan kepada masyarakat untuk terus menjaga kesehatan dan meningkatkan imunitas tubuh, dengan memanfaatkan kondisi cuaca untuk beraktivitas atau berolahraga pada jam yang tepat.

Terutama, di bulan April hingga puncak musim kemarau di bulan Agustus nanti, yang diprediksi akan mencapai suhu rata-rata berkisar antara 28 derajat Celcius hingga 32 derajat Celcius dan kelembapan udara berkisar antara 60% s/d 80%, serta tentunya dengan lebih ketat menerapkan “Physical Distancing” dan pembatasan mobilitas orang ataupun dengan “Tinggal di Rumah”, disertai intervensi kesehatan masyarakat, sebagai upaya untuk memitigasi atau mengurangi penyebaran wabah COVID-19 secara lebih efektif.

Cuaca yang menguntungkan ini, tidak akan berarti optimal tanpa penerapan seluruh upaya tersebut dengan lebih maksimal dan efektif.***/ebn

Iklim Tropis Hambat Penyebaran Covid 19

JAYAKARTA NEWS— Berdasarkan hasil kajian, ternyata ada indikasi pengaruh cuaca dan iklim dalam mendukung penyebaran wabah COVID-19, sebagaimana yg disampaikan dalam penelitian Araujo dan Naimi (2020), Chen et. al. (2020), Luo et. al. (2020), Poirier et. al (2020), Sajadi et.al (2020), Tyrrell et. al (2020), dan Wang et. al. (2020).

Hasil analisis Sajadi et. al. (2020) serta Araujo dan Naimi (2020) juga menunjukkan sebaran kasus COVID-19 pada saat outbreak gelombang pertama, berada pada zona iklim yang sama, yaitu pada posisi lintang tinggi wilayah subtropis dan temparate.

Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan sementara bahwa negara-negara dengan lintang tinggi cenderung mempunyai kerentanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara tropis.

Hasil kajian tersebut  disampaikan lewat siaran pers BMKG. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati  membenarkan bahwa Tim BMKG yg diperkuat oleh 11 Doktor di Bidang Meteorologi, Klimatologi, dan Matematika, serta didukung oleh Guru Besar dan Doktor di bidang Mikrobiologi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, telah melakukan Kajian berdasarkan analisis statistik, pemodelan matematis dan studi literatur tentang Pengaruh Cuaca dan Iklim dalam Penyebaran COVID-19.

Hasil kajian tersebut telah disampaikan kepada Presiden dan beberapa Kementerian terkait pada tanggal 26 Maret 2020 lalu.

Disebutkan, penelitian Chen et. al. (2020) dan Sajadi et. al. (2020) menyatakan bahwa kondisi udara ideal untuk virus corona adalah temperatur sekitar 8-10° C dan kelembapan 60-90%.

Artinya dalam lingkungan terbuka yang memiliki suhu dan kelembaban yang tinggi merupakan kondisi llingkungan yang kurang ideal untuk penyebaran kasus COVID-19. Para peneliti itu menyimpulkan bahwa kombinasi dari temperatur, kelembapan relatif cukup memiliki pengaruh dalam penyebaran transmisi COVID-19.

Selanjutnya penelitian oleh Bannister-Tyrrell et. al. (2020) juga menemukan adanya korelasi negatif antara temperatur (di atas 1° C) dengan jumlah dugaan kasus COVID-19 per-hari. Mereka menunjukkan bahwa bahwa COVID-19 mempunyai penyebaran yang optimum pada suhu yang sangat rendah (1-9° C).

Artinya semakin tinggi temperatur maka kemungkinan adanya kasus COVID-19 harian akan semakin rendah. Lebih lanjut Wang et. al. (2020) menjelaskan pula bahwa serupa dengan virus influenza, virus Corona ini cenderung lebih stabil dalam lingkungan suhu udara dingin dan kering.

Kondisi udara dingin dan kering tersebut dapat juga melemahkan “host immunity” seseorang, dan mengakibatkan orang tersebut lebih rentan terhadap virus sebagaimana yang dituliskan dalam studi Wang et al. (2020) tersebut.

Demikian pula Araujo dan Naimi (2020) memprediksi dengan model matematis yang memasukkan kondisi demografi manusia dan mobilitasnya, mereka menyimpulkan bahwa iklim tropis dapat membantu menghambat penyebaran virus tersebut.

Mereka juga menjelaskan lebih lanjut bahwa terhambatnya penyebaran virus dikarenakan kondisi iklim tropis dapat membuat virus lebih cepat menjadi tidak stabil, sehingga penularan virus Corona dari orang ke orang melalui lingkungan iklim tropis cenderung terhambat, dan akhirnya kapasitas peningkatan kasus terinfeksi untuk menjadi pandemik juga akan terhambat.

Kajian oleh Tim Gabungan BMKG-UGM ini menjelaskan bahwa analisis statistik dan hasil pemodelan matematis di beberapa penelilitian di atas mengindikasikan bahwa cuaca dan iklim merupakan faktor pendukung untuk kasus wabah ini berkembang pada outbreak yang pertama di negara atau wilayah dengan lintang linggi, tapi bukan faktor penentu jumlah kasus, terutama setelah outbreak gelombang yang ke dua.

Meningkatnya kasus pada gelombang ke dua saat ini di Indonesia tampaknya lebih kuat dipengaruhi oleh pengaruh pergerakan atau mobilitas manusia dan interaksi sosial.
Disampaikan pula bahwa kondisi cuaca/iklim serta kondisi geografi kepulauan di Indonesia, sebenarnya relatif lebih rendah risikonya untuk berkembangnya wabah COVID-19.

Namun fakta menunjukkan terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia sejak awal bulan Maret 2020. Indonesia yang juga terletak di sekitar garis khatulistiwa dengan suhu rata-rata berkisar antara 27-30 derajat celcius dan kelembapan udara berkisar antara 70-95%, dari kajian literatur sebenarnya merupakan lingkungan yang cenderung tidak ideal untuk outbreak COVID-19.

Namun demikian fakta menunjukkan bahwa kasus Gelombang ke-2 COVID-19 telah menyebar di Indonesia sejak awal Maret 2020 yang lalu. Hal tersebut diduga akibat faktor mobilitas manusia dan interaksi sosial yang lebih kuat berpengaruh, daripada faktor cuaca dalam penyebaran wabah COVID-19 di Indonesia.***/ebn

Meraup Rezeki Saat Pandemi

JAYAKARTA NEWS— Melawan pandemi Covid-19, masyarakat diimbau Work From Home (WFH) yaitu bekerja, berolahraga dan beribadah di rumah. Jangan kemana-mana kecuali penting, misalnya membeli lauk, mengambil uang di ATM atau urusan keluarga.

Menyikapi hal demikian, kalangan wartawan ada yang memanfaatkan waktu luangnya dengan menjual  kuliner lewat online. Shandy Gasela, yang acap menulis kritik dan esei film dan budaya di Kumparan.com, baru 8 hari mencoba jualan makanan lewat online.

Tepatnya, 27 Maret 2020 yang lalu, dengan mempromosikan empal gentong, nasi goreng kimchi, nasi goreng wagyu dan siwangbon (terasi bawang rebon). Shandy menjual produknya dari rumahnya di kawasan Andara, Jakarta Selatan.

“Yah..kecil-kecilan saja..skala rumahan,” kata ayah seorang anak yang berwajah tampan ini. Dengan modal pokok 1 juta rupiah, respon pasar cukup baik.

“Kami bisa dapat sehari 800 ribu rupiah. Ini lebih dari lumayan” katanya. Kalau ramai, Shandy dan isterinya bisa menerima 22 pesanan. Kalau sepi, dapat cuma 7 pesanan.

 “Yang pesan kebanyakan di lingkungan perumahan Andara. Tapi ada juga teman yang memesan lewat Gofood atau Grabfood dari kawasan Kuningan, Jendral Sudirman dan Gatot Subroto.

Siwangbon yang laris manis– foto dok shandy

Insan film ada yang pesan ? “Malah enggak ada. Ini kan baru mulai, step by step lah. Mungkin mereka banyak yang belum tahu,” tutur Shandy merendah.

Yang dipesan kebanyakan nasi goreng kimchi dan nasi goreng wagyu (pakai daging sapi empuk),” imbuhnya. Harga-harga kuliner dengan trade mark dirinya ini cukup terjangkau dalam suasana kritis ini : empal gentong Rp 25.000, nasgor kimchi Rp 19.500, nasgor wagyu Rp 25.000 dan 1 stoples siwangbon Rp 30.000.

Awalnya, ibu mertuanya yang dipanggil mbah Oen yang berasal dari Mandiracan, Cirebon  pernah ikut di rumah Shandy dan isteri selama 1,5 tahun. Mbah Oen acap memasak empal gentong, makanan khas dari Cirebon. Kemudian, Shandy memutuskan untuk mendaftar ke Gofood.

“Ketika anak saya pertama sudah bisa jalan, mbah Oen pulang ke desanya dan saya ambil alih. Ini untuk melanjukan usaha dari rumah dan empal gentong ini bisa dicicipi orang,” lanjutnya.

Usaha yang semula coba-coba ini akhirnya menjadi profesi. Shandy yang tak mengira, jadi ramai dan banyak pesanan. Apakah setelah situasi normal, jualan ini akan diteruskan ?

“Ya, kenapa enggak? Saya sudah berjuang dari bawah dari membeli bahan  makanan dan kemasan. Kalau saya sibuk, isteri bisa memasak dan menerima pesanan,” tandas Shandy yang masih aktif menulis.

Jamu Sejiwa produk Retno Hemawati–foto dok retno

Sedikit berbeda dengan Retno Hemawati, wartawati koran Media Indonesia. Retno mengkhususkan jualan jamu bermerek ‘Sejiwa’. Yang dijual adalah kunyit asem, gula asem, sambiloto, jahe wangi, rosella, jus kacang ijo, empon-empon, kejem (kencur, jahe, madu) berukuran setengah liter.

Harganya bervariasi antara Rp 20.000 sampai Rp 25.000. “Ihwal mahal atau murah, ini relatif. Saya ambil jalan tengah, pricing strategy,” lontar Retno.

Soal pesanan, lewat WA Retno. Boleh pesan sendiri, H-1 pesanan akan dikirim setelah pembayaran dan akan dikirim lewat grab (dikenakan ongkos kirim oleh pemesan).

“Kita memakai teknologi internet dan e-banking,” kata Retno yang masih melajang ini. Bahkan, untuk belanja botol, pesan stiker, bahan baku dll via marketplace.

“Kita gunakan konsep ‘win win solution’ dalam rangka mendukung UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah),” lanjut Retno. Berawal dari skala rumahan, dari sebuah ruang kecil di dapurnya. “Saya orangnya enggak bisa diam. Selalu ingin bergerak. Saya juga enggak suka nongkrong tapi suka berkreasi apa saja,” ujarnya.

Banyakkah teman-teman di kantor pesan?

“Ya, lumayan banyak teman di kantor di Kedoya pesan. Lama kelamaan banyak perusahaan yang dengar, misalnya ada launching produk atau peluncuran buku, EOnya pesan minuman jamu ke saya. Ini kan jamu enggak pakai pengawet, jadi untuk pemesan luar kota, belum bisa saya penuhi,” urai Retno.

Perempuan ulet ini ingin ‘business to business’, dalam arti saling menjaga kepercayaan. Kenapa lebih tertarik ke bisnis jamu, bukan makanan, Retno berkilah. “Awalnya saya menjual garang asem, arem-arem dan  setup buah. Lalu saya berpikir, investasinya terlalu lama. Kemudian, saya banting setir ke jamu. Dari bahan, kemampuan dan waktu serta pasarnya, ada. Cocok,” cerita Retno. Ya, bisnis jamu ini adalah sekoci saat masa krisis. Buat persiapan masa datang.

“Saya gembira saja menjalani bisnis ini. Saya enggak mau neko-neko, bahkan belum terpikir punya toko. Ada kerinduan kaum urban dengan minuman tradisional. Indonesia ini kaya rempah-rempah dan apa salahnya saya manfaatkan menjadi jamu penyehat tubuh” timpal Retno lagi.

Bisnis skala rumahan dengan merek Sejiwa ini kini makin mengembangkan sayap, selangkah demi selangkah. Pesan lewat online, bayar dimuka dan jamu akan dikirim dari Aneka Buana, Cirendeu, Tangsel. Semoga ‘teman jiwa’ (orang yang minum jamu Sejiwa) bisa temu jodoh (yaitu sama-sama suka minum jamu) di masa krisis ini. Bekerja, berkreasi dan minum jamu dari rumah. (pik)