Perangi Kabar Hoax Pakai Jawarah

PERSATUAN Wartawan Indonesia (PWI) menginisiasi  Jaringan Wartawan Anti-Hoax (Jawarah), sebagai  produk dari  peringatan Hari Pers Nasional 2017. Jaringan ini bertujuan  membantu masyarakat untuk  mengatasi ketidakpastian dan kebingungan sebagai dampak tersebarnya berita bohong atau lazim disebut sebagai hoax.

Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menyabut baik atas pembentukan jaringan ini. Semula, nama jaringan ini disingkat dengan Jawah, yang kalau orang Jawa bisa memaknai ini sebagai “hujan”. Namun Wapres kemudian menyarankan agar disingkat Jawarah, biar ada unsur heroiknya. Sedikit ditambah “h” dari kata “Jawara”. Tambahan “h” sehingga menjadi “Jawarah”, maksudnya biar tidak melanggar hak cipta. Tentu, ini sedikit berkelakar maksudnya, karena sejauh ini belum ada yang mempatenkan kata Jawara (pendekar) Banten itu.

Usulan Wapres tersebut  disetujui  oleh PWI, dan singkatan Jaringan Wartawan Anti-Hoax menjadi Jawarah akan dipatenkan. Dengan singkatan  tersebut,  Kalla berharap, dengan Jawarah maka para wartawan akan memiliki  sifat heroisme dalam memerangi  kejahatan dan kedzaliman.

Jawarah dipandang penting karena untuk memerangi beredarnya berita hoax yang lazimnya memanfaatkan media sosial. Celaka tiga belas,  kalau berita yang tidak berbobot sama sekali itu kemudian justru dikutip oleh media mainstream.

Kalla mengungkapkan, mengikuti perkembangan teknologi, sebagai sebuah keniscayaan. Berbagai peristiwa besar di dunia, terjadi karena penggunaan teknologi yang sesuai pada jamannya. Revolusi Iran, lahri karena menyebaran informasi yang dilakukan oleh Khomaeni menggunakan kaset. Perubahan di kawasan Arab, digerakkan oleh penggunaan media sosial.

“Perkembangan teknologi telah mengubah banyak hal, karena itulah maka media mainstream harus juga mengawasi,” kata   Kalla,  Jumat (28/4/2017).

Jawarah adalah  himpunan mereka yang punya komitmen besar untuk memerangi hoax. Jaringan didukung oleh kalangan  jurnalis,  pemimpin redaksi, dan ahli media. Selain itu bergabung pula  tokoh pemerintah, pemimpin masyarakat dan kalangan pengusaha, baik dalam kedudukan mereka sebagai dewan penasehat atau dewan pakar.

 

 

 

 

 

Wapres dan Sentilan Kabar Hoax Ahok-Djarot

BUKAN SEKALI DUA Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi korban berita hoax (bohong). Dimulai menjelang masa pilihan raya (Pilpres) pada 2014 lalu, tatkala itu pasangan calon presiden dan wapres Joko Widodo – Jusuf Kalla, acap diterpa dengan kabar hoax.

Kali INI  Kalla akhirnya angkat bicara mengenai kabar hoax. Ini soal banjir karangan bunga yang ada di halaman kantor Gubernur DKI Jakarta, sebagai apresiasi warga Jakarta dan masyarakat Indonesia atas kinerja Ahok-Djarot. Hingga Jumat (28/4/2017), masih banyak warga dari berbagai kalangan dan wilayah berdatangan ke kawasan Balaikota Jakarta. Selain ada yang mengirimkan karangan bunga, ada juga yang ingin berselfie dengan Ahok.

Wapres mengaku, dirinya sangat jarang menyimak berita hoax, termasuk yang menyerang dirinya. Tapi, tadi pagi Pak Kalla diperlihatkan hoax yang seolah-olah dirinya mengkritik soal masifnya kiriman karangan bunga ke Balaikota.

“Tadi pagi saya diperlihatkan oleh Sofjan dan Uceng, yang menyatakan bahwa saya mengatakan daripada kirim (karangan) bunga lebih baik kasih ke anak yatim. Apa gunanya bunga-bunga sepanjang jalan itu khan. Kapan saya ngomong itu?” kata Kalla di Istana Wapres.

Hal itu disampaikan saat memberikan sambutan pada peluncuran Jawah  (Jaringan Wartawan Anti Hoax) , sebuah aplikasi  untuk IOS dan Android bagi para wartawan yang ingin berperan aktif dalam menolak beredarnya  berita hoax. Aplikasi yang merupakan kreasi Institut Teknologi Bandung (ITB) itu dapat diunduh di GooglePlay.

“Saya tidak pernah merasa ngomong begitu,” lanjut Wapres. Benar, sebelumnya memang telah beredar  gambar (meme) Kalla. Dalam teks meme tersebut, Kalla digambarkan  tidak setuju dengan aksi pengiriman  aneka karangan bunga ke Balai Kota Jakarta untuk Ahok-Djarot tersebut.

“Baru tadi pagi terkejut membaca itu, seakan-akan saya memberikan komentar. Padahal, saya tidak pernah mengomentari mengenai bunga-bunga terkecuali bunga bank, saya selalu minta untuk turun,” kata mantan Ketua Umum DPP Golkar itu.

Dalam pandangan Kalla, pemesanan karangan bunga yang dikirimkan ke Ahok-Djarot justru memberikan  keuntungan yang memadai bagi para pemilik toko dan pengrajin bunga. “Setidaknya, banyak pengrajin bunga yang dapat kerjaan baik, itulah suatu contoh. Belum lagi  yang lain,” kata Kalla.

Gambar di media sosial yang menyudutkan dirinya tersebut, merupakan salah  satu contoh   berita bohong alias hoax yang menimpa dia. Kalla mengungkapkan, sebetulnya dirinya sangat jarang menengok medsos untuk mengecek apakah ada yang menyebarkan berita hoax tentang dirinya atau pemerintah. Malah, yang sering  mengecek berita hoax justru Presidenj Jokowi. Jadi, kata Wapres, kalau nyoba-nyoba menyebarkan hoax ke presiden, pasti kepala negara mengetahuinya.***