Episode “Galih dan Ratna” Lupa Usia

Penulis (Syarifah Lartifah) berpose cantik di pelataran Candi Prambanan. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Tak kusangka, perjalanan ke Yogyakarta kali ini mengingatkanku pada episode “Galih dan Ratna”, 30-an tahun lalu. Sebuah kenangan yang melanglang ke alam silam, saat  SMA-ku dulu mengadakan tour ke Yogyakarta. Teringat kembali kedekatan dan kekompakan selama di sana, yang menyisakan kenangan tak terlupakan.

Kota Istimewa itu pun aku injak kembali, 1 – 4 Februari 2019. Tujuan sama, dengan rombongan yang berbeda. Kali ini, kami berangkat bersama teman-teman Perkumpulan Jayakarta 98, dalam trip bertitel “Jayakarta News Goes to Jogja”. Wajah Yogya pun sudah berbeda dengan wajah Yogya 30-an tahun lalu. Fisik kami pun, tentu saja berbeda. Jika dulu remaja penuh vitalitas untuk bergerak, saat ini semangat-tinggi-pegal-linu setelahnya…..

Tapi ada satu kesamaan yang kulihat dan kurasakan, yakni semangat. Setidaknya, kami merasakan semangat muda. Yogya adalah faktor utama, kukira. Kota ini adalah kota semangat sekaligus kota penjaga tali persaudaraan. Perjalanan ke Yogya kali ini pun kami rasakan penuh semangat dan pengalaman baru. Yogya memang istimewa.

Hari kedua di Yogya, kami memulai perjalanan wisata dengan mengunjungi situs Candi Prambanan yang indah dan megah. Lelah mengitari pelataran candi, kami lanjutkan perjalanan menuju kawasan sejuk Kaliurang. Sebagian teman menikmati Museum Gunung Api Merapi, sebagian lain menikmati Tour Lava Erupsi Gunung Merapi.

Ketika perut berontak minta diisi, kami memenuhi undangan jamuan makan siang oleh Aqua Dwipayana, sang motivator “The Power of Silaturahim”. Kembali ke penginapan, kami mengadakan tumpengan syukuran ulang tahun ke-2 Jayakarta News, media online yang kami bangun awal tahun 2017, sebagai pengganti Harian Umum Jayakarta yang berhenti terbit akibat krismon, tahun 1998.

Lepas pukul 22.00, kami menyudahi acara santai sambil nyanyi-nyanyi. Setelah itu, kami menuju Angkringan Gadjah Jl. Kaliurang, memenuhi undangan Aqua Dwipayana (lagi). “Terima kasih Pak Aqua telah menjamu makan siang dan makan malam, serta memberikan ilmu kepada kami. Semoga kita semua selalu bermanfaat untuk orang banyak, khoirunnas anfa’ahum linnas,” kata hatiku buat Aqua.

Esok harinya adalah hari Minggu (3/2) yaitu hari bebas untuk berkunjung ke tempat wisata yang kami inginkan. Di antara teman-teman ada yang melakukan perjalanan ke Solo menggunakan Kereta PramEx (Prambanan Express), ada yang menjadi “anak pantai” ke Pantai Drini dan sekitarnya. Sementara, kami sepakat mengunjungi sekitar keraton dan Malioboro. Adalah kami bertujuh, di antaranya saya (Latifah), Rina, Melva, Dini, Ira, Elty, dan Dina.

Pagi yang cerah dan senyum di bibir merah. Kami seperti bidadari yang akan mandi di pemandian Taman Sari (The Fragrant Garden). Tapi, tempat ini urung kami kunjungi. Kami hanya mengunjungi keraton. Itu pun sudah membuat hati kami sumringah.

Objek yang cantik nan klasik itu pun tidak kami sia-siakan untuk berfoto-foto, dan mulailah kami beraksi, camera roll…. action!! Ha… ha… ha…. Emak-emak Old-Milenial pun mulai beraksi dengan aneka gaya. Sungguh, saat itu, jangan ada yang berani tanya berapa usia kami, sebab kami pasti akan serentak menjawab, “sweet seventeen…..”

Foto kiri, di Keraton Yogyakarta. Paling depan, Dini, ke belakang Elty, di belakangnya lagi Melva dan Latifah, dan paling belakang Ira dan Dina. Foto Kanan di Malioboro. Dari kiri: Dini, Rina, Latifah, Melva, Elty. (foto: dok pri)

Matahari terus merangkak naik, sinarnya mengukir kepala dengan panasnya. Tujuan selanjutnya adalah jalan legendaris Malioboro. Sesungguhnya, bisa saja kami jalan kaki. Bukankah jarak keraton dan Malioboro hanya berbatas alun-alun utara dan sepenggal jalan raya? Tapi, apa Anda semua lupa, kami bukan lagi anak SMA?

Karena itu, kami pun memesan taksi online. Tapi mimpi apa semalam, kami mengalami pengusiran oleh seorang sopir taksi, gara-gara jumlah kami lebih banyak dari ketentuan maksimal empat orang. Sempat terjadi ketegangan antara kami dan sopir. Ketegangan itu berakhir dengan diusirnya kami semua dari mobilnya. Saat itu, terasa sungguh pahit hidup ini….. Akhirnya, kami yang bertujuh orang itu, terpisah menjadi dua kelompok.

Tidak lama kemudian kami mendapatkan taksi pengganti. Dan sampailah kami di Malioboro. Mimpi buruk bersama sopir taksi online barusan, seketika menjadi mimpi indah, demi melihat Jalan Malioboro yang sekarang sungguh cantik. Pedestrian yang lebar dengan banyak tempat duduk di sana-sini, sungguh memanjakan wisatawan dengan banyak usia seperti kami.

Jalan-jalan, berbelanja, dan berfoto-foto di sekitar Malioboro sungguh membuat bibir kami kembali merekah dengan senyuman indah. Meski, bibir kami tak lagi merah, karena sudah terenggut kuah soto ayam saat makan siang tadi….. (syarifah latifah)

Penulis (Latifah) berpose di bawah papan nama jalan legendaris di kota Yogyakarta, Jl. Malioboro. (foto: dok pri)

Pesona Pecel, Peyek, dan Malioboro

Syahdina, S.R. Handini, Melva Tobing, Rina Ginting, Latifah, dan Elty. (foto: dok pri)

JAYAKARTA NEWS – Tak terasa, waktu bergulir hingga dua tahun sudah kami berkumpul di wadah baru, Jayakarta News. Memperingati dua tahun media online yang kami dirikan usai reuni akhir tahun 2016 itu, panitia mengemas dalam acara “Jayakarta News Goes to Jogja 2019”, atau Jayakarta News Tour de Jogja, tanggal 1 – 4 Februari 2019.

Sejak berkumpul kembali, setelah lebih 20 tahun berpisah, inilah perjalanan terjauh. Beberapa tour sebelumnya, relatif dekat: Kuningan, Bogor, dan Pandeglang (Pantai Carita). Setiap tour, dibarengkan dengan rembug perkumpulan, sekaligus ajang silaturahmi. Saya sangat mendukung sekaligus sangat senang bisa berkumpul kembali dengan teman-teman lama.

Dulu, kami bernaung di bawah perusahaan pers yang sama, PT Citra Jaya Press yang menaungi Harian Umum Jayakarta. Posisi terakhir di bawah manajemen Suara Pembaruan. Suratkabar ini tak mampu bertahan saat krisis moneter mendera. Kami semua mengalami PHK massal. Setelah itu, masing-masing berpindah kantor. Ada yang masih bisa bergabung dengan beberapa teman sekantor, ada yang tercerai berai.

Lebih dua dasawarsa, teknologi Whatsapp mempertemukan kami kembali, hingga kemudian terjadilah “Jayakarta Reborn”, bentuknya media online, www.jayakartanews.com. Pendek kata, saya bersyukur sekali bisa berkumpul kembali bersama teman-teman lama. Bukan saja serasa muda kembali, tetapi kami sudah saling tahu karakter teman satu dan lainnya.

 

Acara jalan-jalan ke Yogyakarta sambil rapat kerja perkumpulan sekaligus peringatan ulang tahun ke-2 Jayakarta News pun menjadi acara yang sangat menarik. Kalau aku harus menceritakan secara detail, rasanya sejumlah teman sudah menulis. Sempat termenung lama, apa ya yang paling mengesankan, yang belum ditulis teman-teman?

Aha! Pecel pincuk di area pusat oleh-oleh Candi Prambanan. Salad Jawa bumbu kacang itu sangat enak. Apalagi peyek kacang tanahnya. Selain renyah, gurih, kacang tanahnya pun besar-besar. Awalnya sempat trauma dengan peyek tengik yang acap dijual penjual pecel…. tapi peyek itu benar-benar yahud. Harga? Sama sekali tidak mahal, apalagi sebagai dagangan di objek wisata. Karenanya, aku membeli lumayan banyak untuk oleh-oleh.

Kesan lain di Prambanan, Lava Tour Merapi, Makan Jejamuran, makan malam di Angkringan Gadjah dan semua motivasi dan spirit kebaikan yang ditularkan Dr Aqua Dwipayana, rasanya sudah ada di tulisan teman-teman.

Bersama Leo Patty dan Rina Ginting di tepian Jalan Malioboro. (foto: dok pri)

Dan tetiba saja teringat, Jalan Malioboro. Kebetulan, hari Minggu, saat acara bebas, kami jalan-jalan ke Malioboro. Orang bilang, belum ke Yogya kalau belum ke Malioboro.

Malioboro telah berubah. Area pedestrian menjadi sangat nyaman. Bukan saja lebar, tetapi juga tersedia banyak tempat duduk untuk sekadar istirahat setelah menyelusuri jalanan bersejarah itu. Bukan saja bisa berfoto-foto, tetapi juga bisa belanja batik atau cendera mata murah, kuliner, dan tentu saja berfoto-foto. (syahdina)

Syahdina di komplek Candi Prambanan. (foto: dok pri)

Sensasi Taman Pelangi Monjali

Warna-warni lampion laksana pelangi. Foto: Roso Daras

TAMAN Lampion… ada di mana-mana. Tapi kalau ingin melihat awal mula sebuah taman lampion, tengoklah Monumen Jogja Kembali (Monjali). Di sekitar halaman luar monumen, bertebaran lampion aneka bentuk. Yang paling menonjol adalah bentuk pelangi yang tergantung di atas. Karenanya, taman ini juga disebut Taman Pelangi.

Jauh sebelum marak wisata lampion, Taman Pelangi Monjali sudah hadir. Persisnya sejak akhir tahun 2011. Sejak itu pula, objek wisata bersejarah Monumen Jogja Kembali, memperpanjang jam buka. Pengunjung monument di siang hari, dan pengunjung taman lampion di malam hari.

Tap pelak, objek wisata ini menjadi alternative wisata malam Kota Gudeg, selain objek lain yang tak kalah menarik, seperti di alun-alun kidul, Jalan Malioboro, Tugu Jogja, dan lain-lain. Lokasinya relatif mudah diakses, karena terletak di ring road utara, Arahnya, dari Malioboro lurus ke utara.

Dengan tiket masuk sepuluh ribu rupiah, Anda bisa menikmati aneka lampion warna-warni serta aneka bentuk. Aneka lampion besar menggantung di atas, menyerupai pelangi yang warna-warni. Melintas di bawahnya, serasa berada di bawah pendar pelangi yang indah.

Aneka lampion model mobil-mobilan. Foto: Roso Daras

Selanjutnya, Anda akan terpukau dengan aneka lampion model flora dan fauna. Bahkan bentuk dinosaurus pun ada. Beberapa lampion ditata sedemikian rupa, sehingga terkesan romantis. Tak heran jika banyak pasangan calon pengantin memilih lokasi ini sebagai lokasi pemotretan pre-wed.

Tak pelak, Taman Lampion Monjali menjadi wahana wisata keluarga yang komplet. Sebab, selain suguhan aneka bentuk lampion, di sini juga tersedia aneka permainan lain. Bukan hanya itu, di sekitar area Monjali, juga tersedia aneka tempat kuliner. ***

Misteri Jalan Malioboro

BAGI kebanyakan wisatawan, kata Malioboro melekat dengan nama kota pemiliknya, Yogyakarta. Sejumlah turis asing yang kemudian kembali lagi ke Kota Gudeg, biasanya akan berkorespondensi dengan teman lokal, dan berkata, “see you at Malioboro”. Betapa nama sebujur jalan ini, bisa diasosiasikan menjadi nama sebuah kota bersejarah.

Memang, bukan hanya Yogyakarta yang istimewa, Malioboro pun istimewah…. Tidak heran jika kemudian banyak orang penasaran dengan asal-usul nama Malioboro. Masyarakat mafhum, bahwa huruf vocal “o”, memang identik dengan kebanyakan kosakata Jawa. Tapi dalam ujaran sehari-hari, bahkan dalam kamus bahasa Jawa sekalipun, tidak ada kata “malioboro” dan artinya.

Jika Anda searching di internet, akan ditemukan dua kata yang “didekat-dekatkan” dengan Malioboro. Pertama, nama Malioboro diabadikan dari nama seorang bangsawan Inggris bernama Marlborough di tahun 1811. Sangat janggal dan susah dilesakkan ke akal. Pertama, mengapa harus menggunakan nama Inggris yang notabene pernah menyerbu keraton Yogyakarta, untuk menamai jalan utama di kota itu? Kedua, silakan dilafal kata “Marlborough”. Jauh nian dengan pelafalan “Malioboro”.

Ketiga, jalan itu sudah ada bahkan sejak Perjanjian Giyanti 1755, yang membagi wilayah Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Mengapa harus menunggu 56 tahun kemudian baru menamakannya dengan nama bangsawan Inggris, Marlborough? Keempat, mungkinkah nama seseorang yang dijadikan nama jalan kemudian berubah bunyi? Rasanya tidak. Itu artinya, kalau benar argumen di atas, maka hingga hari ini harusnya nama jalan adalah Jalan Marlborough.

Tapi seandainya Marlborough adalah benar cikal bakal nama jalan itu, maka besar kemungkinan untuk menghindari sentimen terhadap bangsa asing, maka Marlborough kemudian diubah menjadi Malioboro. Sekali lagi, itu pun kalau benar.

Masih kata sejumlah artikel di internet. Ada yang merujuk kata Malioboro diambil dari bahasa sansekerta, malyabhara yang artinya karangan bunga. Dari segi pelafalan kata, lebih masuk akal dibanding Marlborough. Vokal “a” dalam bahasa Jawa, khususnya Jawa Yogya, diucapkan “o”. Malyabhara diucap Malyobhoro. Malyobhoro menjadi Malioboro. Sampai di sini, argumen asal-usul Malioboro menjadi lebih rasional, lebih mudah diterima akal.

Menjadi sulit diterima jika merujuk pada toponimi. Toponimi adalah bahasan ilmiah tentang nama tempat, asal-usul, arti, penggunaan, dan tipologinya. Nah, dari sudut toponimi, “karangan bunga” menjadi tidak nyambung. Sebab, belum ada data yang merujuk adanya pusat karangan bunga di sepanjang jalan itu, era tahun 1700-an, atau abad ke-17. Di samping itu, “apa pentingnya” karangan bunga menjadi nama jalan utama di kota sebuah “negara” Yogyakarta?

Ya, Kasultanan Yogyakarta ketika itu adalah daerah otonom, sekalipun wilayah Indonesia dalam cengkeraman penjajah. Orang sekitar kota Yogya zaman dulu, jika hendak ke kota selalu mengatakan, “bade dateng negoro”, mau ke negara. Ketika tahun 1945, Bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia, tidak lama kemudian Raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, “menyatakan bergabung” dengan Republik Indonesia. Itulah dasar pelekatan status “Istimewa” untuk Yogyakarta hingga sekarang.

Kembali ke laptop. Soal nama Malioboro. Anggap benar, kata Malioboro berasal dari Malyabhara, yang artinya karangan bunga. Argumen yang bisa didekat-dekatkan dengan itu barangkali nama Pasar Kembang. Ya, Jalan Pasar Kembang adalah salah satu jalan kecil di sekitar Malioboro, tak jauh dari Stasiun Tugu, ujung utara Malioboro. Jika merujuk pada toponimi, sangat mungkin di sekitar situ dulu terdapat pasar kembang. Apa karena itu, kemudian nama jalan utamanya Malioboro?

Rujukan lain, pada abad ke-18, di Belanda, rangkaian bunga digunakan untuk menghiasi rumah-rumah para pejabat dan keluarga kaya. Jenis rangkaian bunga yang populer saat itu “Tussie-Mussie atau Posy”, yaitu buket bunga melingkar. Bisa jadi, “latah karangan bunga di Belanda” sana, dibawa ke negeri jajahannya di Hindia Belanda. Tapi kalau itu alasannya, mengapa nama jalannya bukan Jalan Tussie Mussie, atau Jalan Posy? Mengapa justru mengambil kata Sanskerta? Entahlah.

Pendek kalimat, sependek pengetahuan penulis, belum ada satu catatan ilmiah pun yang mengupas tentang asal usul atau sejarah penamaan Jalan Malioboro, Yogyakarta. Itu pula yang membuat jalan yang membujur lurus utara-selatan tadi menjadi penuh misteri. Misteri Malioboro yang belum terungkap hingga hari ini.

Sekadar me-refresh ingatan yang sudah pernah ke Malioboro, bahwa jalan ini membujur dari Tugu hingga Kantor Pos tak jauh dari alun-alun utara Keraton Yogyakarta, yang dikenal sebagai “titik nol”. Sejarah jalan ini juga tak pernah lepas dari pembangunan stasiun kereta api Tugu Yogyakarta tahun 1887 oleh Staat Spoorweg. Bentang rel itu memotong Jalan Malioboro, yang kemudian membaginya menjadi dua bagian, utara rel dan selatan rel. Sekarang, utara rel hingga Tugu, dinamakan Jalan Mangkubumi.

Jika Anda cermati, simpang jalan di Kota Yogyakarta memiliki garis tegas mata angin utara-selatan, barat-timur. Potongan-potongan jalan berupa perempatan, selalu tegak lurus. Ihwal konsep tata ruang kota Yogya, barangkali di Leiden Belanda sana, lengkap data tersedia.

Dari banyaknya jalan besar di kota ini, Jalan Malioboro bukan saja penuh misteri, tetapi juga jalan sakral. Ada yang menyebut Malioboro sebagai sumbu imajiner utara-selatan yang menghubungkan Gunung Merapi di utara, Keraton Yogyakarta Hadiningrat di tengah, dan Pantai Parang Kusumo di bibir Samudera Hindia. Inilah sumbu supranatural, jalinan ghaib antara Eyang Merapi, Sri Sultan (Raja Yogyakarta), dan Nyi Roro Kidul (penguasa laut selatan). Itu artinya, Jalan Malioboro bukan jalan-sembarang-jalan.

Sayang, di era kolonial Belanda (1790-1845), pola tata kerajaan Yogyakarta diganggu dengan sejumlah bangunan yang tak diinginkan. Belanda membangun dua gedung berhadap-hadapan di ujung selatan Malioboro yang dikenal dengan Benteng Vredeburg (1790) di timur jalan, dan The Dutch Governor’s Residence (sekarang Istana Negara) 1830. Di sekitarnya, berdiri banyak bangunan Belanda yang sekarang masih megah berdiri sebagai kantor Bank Indonesia, kantor Pos, dan Bank BNI.

Perkembangan pesat terjadi pada masa itu yang disebabkan perdagangan antara VOC dengan orang Cina. Komunitas Belanda di Yogyakarta berkembang pesat sejak masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana VII ( 1877 – 1921).

Jalan Malioboro juga memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di sisi selatan Jalan Malioboro pernah terjadi pertempuran sengit antara pejuang tanah air melawan pasukan kolonial Belanda yang ingin menduduki Yogya. Pertempuran itu kemudian dikenal dengan peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yakni keberhasilan pasukan merah putih menduduki Yogya selama enam jam dan membuktikan kepada dunia bahwa angkatan perang Indonesia tetap ada. Momentum pertempuran ini berada di titik nol, pojok barat daya Benteng Vredeburg.

Malioboro juga melahirkan banyak seniman. Seniman gaek, sampai senimian masa kini. Tidak satu pun di antara mereka yang tidak pernah menghabiskan malam di Jalan Malioboro. Sejumlah nama seniman yang dulu tenar, seperti Rendra, Hendra Cipta, Bagong Kussudiardjo, Linus Suryadi AG, dan lain-lain, pelan tapi pasti namanya makin samar terdengar.

Generasi berikut seperti Butet Kertaredjasa, Djaduk Ferianto, Garin Nugroho, Pongky Barata sempat Berjaya, sebagian masih eksis, dan cepat atau lambat, nama mereka pun akan memudar, bersamaan munculnya seniman-seniman muda Yogya yang tumbuh begitu subur.

Waktu boleh berlalu, Malioboro tetap di situ. Peradaban boleh tergerus, Malioboro tetap misterius. ***

Dhahar Kembul Jenang Lemu di Malam Tirakatan Harlah Pancasila

Ritual budaya Malam Tirakatan Harlah Pancasila di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Kamis (31/5) malam. Foto: Ist

YOGYA kota budaya. Malam Tirakatan Hari Lahir Pancasila, Kamis (31/5) pun sarat ritual budaya. Acara yang digelar mulai pukul 20.00 WIB itu, tak pelak menjadi kegiatan kebangsaan yang dikemas secara menarik. Tak heran jika wisatawan pun antusias mengikuti, bahkan terlibat dalam acara yang digelar di Titik Nol Kilometer Kota Yogyakarta.

Acara yang digelar Komunitas Perempuan Yogyakarta itu, didukung elemen lain seperti Kagama, Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan, Koseta, Padi, LKJ Sekar Pengawikan, dan lain-lain. Doa bersama disusul dhahar kembul jenang lemu (makan bersama jenang lemu) bersama Sujarjoso SK Margono Widyasworo, Ki Sutikno, Miftah Bacria Saadah, Leana and Friends, Ivy Laurens, Bambang Nursinggih, dll.

Acara dibuka dengan Ritual Kidung Rumeksa Pancasila (berbahasa Jawa) karya R. Bambang Nursinggih oleh LKJ-Sekar Pangawikan pimpinan R. Bambang Nursinggih. Kemudian renungan serta orasi kebudaayaan bersama Dewan Kebudayaan Yogyakarta, Kharis Zubair, serta musikalisasi puisi.

Puncaknya, pembacaan deklarasi oleh Yayasan Indonesia Rumah Kebhinekaan, disusul gragmen lahirnya Pancasila oleh Teater Gadjah Mada. Dalam kesempatan itu, Ki Sutikno membawakan Renungan Pancasila. Partisipan lain, menghibur dengan sejumlah repertoar musik dan lagu.

Bambang Nursinggih juga tampil membacakan geguritan (puisi bahasa Jawa), berjudul “Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila”. Seluruh rangkaian ditutup dengan pembacaan doa lintas agama. Setelah itu, makan jenang lemu bersama (dhahar kembul jenang lemu). ***

R. Bambang Nursinggih, membacakan geguritan (puisi berbahasa Jawa) “Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila”. Foto: Ist

 

Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila*

Karacik dening ; R. Bambang Nursinggih, S. Sn.**

Bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap katon

Lir wukir ginoncang angin, sabarang kadulu wukir moyag-mayig, oooo

 

Gara-gara, apa ta tandhane gara-gara kang nggonjak Yogyakarta.

Kawula gendra nggugu karsa priyangga, gawe sengsara kawula

Ya jalaran pakartine tetunggul tan bisa tinuladha,

ngangsa-angsa dhemen ngumbar nepsu candhala

Pindha brahala ngumbar angkara nedya nguntal negara,

mulyaake kawula minangka pawadan, jebul ngugung kersane wangsa

 

He durjana, aja padha murang tata. Nggonjak Ibu Pertiwi. Ponang Indonesia.

Kang adil paramarta. Bebarengan dipepetri. Murih raharja. Kuncara kadi wingi.

 

Lamun kawula paham bab Pancasila, negara ora bakal geger gombel

beda karep lan tata cara, bab-bab kang remeh digawe udreg,

becik Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila

 

Muji hayu, ing ngarsane Gusti. Warga Yogja nyadhong pangayoman. Andhap asor adhedhepe.

Cipta tansah angidung. Ngreksa yuwanane Pertiwi. Tinebihna king walat. Srana jenang lemu.

Rumeksa pan Pancasila. Patik nggadhang Indonesia makmur adil. Bangsa nunggal sajuga.

Amung dhateng, Jengandika Gusti. Inggih Pangeran Kang Maha Wikan. Tuhu welas myang dasihe.

Patik nyuwun panjangkung. Ngidung laire dhasar nagri. Pun ponang Pancasila. Ical malanipun.

Temah Pancasila lana. Mangka dhasar nagri Indonesia adi. Amin tutuping puja.

Mangka Pancasila dudu asil pamikire politisi lan ahli demokrasi jaman saiki.

Kepara Pancasila wis ngumandhang sadurunge Indonesia disebut NKRI

Kena apa, pendhak-pendhak arep tumapake gawe, Pancasila diucik-ucik

Dimen ora nuwuhake gendra,

pangukir Pancasila koma-koma lan bedhamen anggone ngukir.

Kenapa bedhamen kuwi ditindakake,

jalaran pangukir ngajap Pancasila minangka dhasaring NKRI.

Bangsa Indonesia salah sawijine bangsa kang ora nate njajah bangsa liya.

Jalaran rasa kamanungsane kajiret rapet ing sanubarine bangsa kang luhur berbudi bawalaksana

Lamun ngajap kehing dur bisa kabirat, ayo Sayuk Rukun Rumeksa Pancasila dhasaring negara kang wis lawas angslup datan kacatur, enggal-enggal karangkul murih ora kebanjur nyrunthul ucul.

Kawula-gusti, narapraja lan wira mudha, pundhinen Pancasila minangka keblating bangsa Indonesia.

Murih Ibu Pertiwi ora duhkita, kawulalit kentas king kasangsayan, bisa nyecep adil kang sanyata,

bisa icip-icip kamulyan lan antuk payung kukum kang murwat

Kanthi ngregem semangate Bung Karna pahlawan nasional,  presidhen RI kapisan

kang nggagas laire Pancasila dhasaring negara, klawan mandhe semangat persatuan,

tan mangrwa mring darma, linambaran semboyan Bhineka Tunggal Ika, kekancing UUD ’45,

ayo gandheng konca, nunggal tekad njlumat NKRI dimen kaloking rat

 

Merdeka, merdeka, merdekaIndonesia, tetap Jaya !!!!

Rahayu, rahayu, rahayu

 

Minomartani, 31 Mei 2018

*) Kawaos ing Titik 0, adicara tirakatan mengeti hari lahir Pancasila 2018,  tgl 31 Mei 2018.

**) Pametri kabudayan Jawa, Sastrawan Jawa, juru beksa, panulis lan juru dongeng, Ketua LKJ-Sekar Pangawikan (Bima Kunthing no. 2, Ngayogyakarta), Ketua PSJKS (Paguyuban Sastrawan Jawa Kabupaten Sleman), Ketua Sekar Nawung Bujano, Ketua GPMB D. DIY, peng. LSBO Kab. Sleman, mapan ing Jln. Gurameh II/04, Perum. Minomartani, Ngaglik, Sleman, telp. 0274. 886165, 0274. 520511,  0851 0087 5883, 0822 7333 7487, Email: skr.pangawikan@gmail.com.

 

Buruh Gendong di Denyutnya Beringharjo

Seti (60), salah satu buruh gendong di Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Foto: Roso Daras

EMPAT perempuan buruh gendong, bercengkerama di lantai dua Pasar Beringharjo, Yogyakarta. Satu di antaranya berbadan kecil, tetapi sangat cerewet. Apa saja dikomentari. Teman-temannya memanggil dia “Prenjak”. “Manuk prenjak kan gak bisa diem, makanya dipanggil Prenjak,” ujar Seti (60), mengibaratkan sahabatnya sebagai burung prenjak yang tak henti berkicau.

Jam menunjuk pukul dua siang. Kota Yogya mandi matahari. Terik bukan kepalang. Sesiang itu, Seti, Prenjak dan teman-temannya, masih bercokol di dalam pasar menawarkan jasa gendong bersama 250 buruh gendong lain yang semuanya perempuan, dan tak lagi muda. Sedikit saja buruh gendong yang berusia di bawah 50 tahun.

Di Kota Gudeg, profesi buruh gendong sudah lama ada. Keberadaan mereka barangkali setua usia pasar-pasar tradisional yang ada. Seperti di Pasar Giwangan, di sana juga ada sekitar 135 buruh gendong. Kemudian di Pasar Gamping, tak kurang dari 44 buruh gendong. Paling sedikit di Pasar Kranggan, hanya sekitar 13 orang.

Seti (60), menggendong belanjaan dari pasar Beringharjo ke parkiran. Foto: Roso Daras

Mereka mencari nafkah dengan menggendongkan belanjaan sejak matahari terbit hingga jam lima senja, saat pasar tradisional berhenti berdenyut. Jika melihat ada ibu-ibu memborong belanjaan, spontan mereka akan menawarkan jasa gendong, menggendongkan belanjaan keliling pasar, hingga membawakannya ke parkiran kendaraan, atau ke halte bus.

Ada kalanya, mereka menggendong belanjaan hingga 50 – 70 kg. Ada kalanya pula, bukan menggendong bawaan untuk satu trip, dari dalam pasar ke parkiran. Tak jarang mereka mengikuti pengunjung yang belanja, berkeliling pasar. Tidak hanya berkeliling, tetapi juga naik ke lantai dua, bahkan ke lantai tiga, lantai paling atas, kemudian turun lagi.

Berapa ongkos untuk sekali menggendong belanjaan? “Gak mesti mas….  gak pernah nyebut ongkos, seikhlasnya saja,” ujar Seti, ibu empat anak dan nenek dari 11 cucu itu kepada Jayakartanews. Dari pengunjung pasar yang lain, Jayakarta mendapat gambaran mengenai tarif buruh gendong. “Seikhlasnya mas…. Ada yang ngasih dua ribu rupiah, lima ribu rupiah…,” ujar seorang ibu sambil asyik memilih sayur mayur di lantai dua Pasar Beringharjo.

Akan tetapi, tidak jarang mereka mendapat rezeki lebih. Seperti yang didapat Seti siang itu. Wanita berambut putih asal dari Kulonprogo, 30 km barat Yogya itu, diberi pecahan Rp 50.000, usai menggendongkan belanjaan pengunjung ke parkiran mobil. Seti menerima uang itu dengan wajah berbinar. Matanya tampak berkaca-kaca. “Matur nuwuuun…,” katanya, sambil membungkukkan badannya yang mulai renta. ***

Gelombang Sejarah di Pojok Utara Malioboro

HOTEL di pojok utara Jalan Malioboro Yogyakarta itu, kini bernama Grand Inna. Sejatinya, hotel ini memiliki sejarah panjang. Ia bahkan pernah menjadi kantor kabinet, ketika Presiden Sukarno memindahkan ibukota negara dari Jakarta ke Yogyakarta, tahun 1946. Tak kurang dari Panglima Sudirman pernah berkantor di sini selama dua bulan.

Mengunjungi dan menginap di Hotel Grand Inna, tak ubahnya melarutkan diri dalam suasana sejarah masa lalu. Hotel tua tetapi terawat dengan sangat baik itu, terbilang murah untuk kategori hotel bintang empat dan berada di pusat kota Yogyakarta. Posisinya kurang lebih ada di tengah-tengah antara Tugu dan Keraton Yogyakarta. Dan, segelas wedang uwuh, menjadi welcome drink yang hangat.

Ke mana pun pandangan mata dilayangkan, kental pemandangan klasik. Tergambar dari lukisan besar di ruang lobby bagian atas. Sepeda onthel dipajang di sebuah sudut tak jauh dari counter resepsionis. Foto-foto tua berjejer adalah pemandangan berikutnya.

Di balik tembok resepsionis, tertata apik satu set gamelan. Nun di dinding sebelah barat, terpajang wayang kulit satu set, seolah siap dimainkan pak dalang. Di sebelahnya, sebuah baby piano bertengger anggun. Setiap malam, mulai pukul 19.00, seorang pianis pria melantunkan nada-nada ritmis.

Sejenak duduk di sofa memandang ke arah barat, terbayang betapa kokoh bangunan ini. Catatan sejarah di dinding menyebut, hotel ini dibangun tahun 1908. Tiga tahun baru selesai, dan dioperasikan tahun 1911 oleh pengusaha Belanda, tentunya. “Nama lahir” hotel ini adalah “Grand Hotel The Jogja”. Tahun 1938, dilakukan penambahan sayap bangunan utara dan selatan.

Jepang masuk, Belanda kabur. Hotel ini pun dikuasai Jepang dan diganti nama menjadi Hotel Asahi. Seumur jagung saja, karena pada tahun 1945, Indonesia merdeka dan menghapus nama Asahi dan mengganti dengan nama Hotel Merdeka. Sebuah euforia kemerdekaan pada zamannya.

Sempat sebentar menjadi kantor kabinet, hingga kemudian difungsikan kembali sebagai hotel. Tahun 1950, pemerintah mengganti nama hotel Merdeka menjadi Hotel Garuda. Baru di Orde Baru, tepatnya 1975, hotel ini diubah status menjadi Badan Usaha Milik Negara dan berganti nama menjadi Natour Garuda.

Sri Sultan Hamengku Buwono IX, sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, terpatri dalam sebuah prasasti tahun 1984. Itulah momentum yang menandai pengembangan Natour Garuda menjadi 120 kamar dengan meninggikan bangunan tengah menjadi tujuh lantai.

Pada tahun 1991, dilakukan renovasi dan pengembangan kembali menjadi 240 kamar, dan diresmikan Sri Paduka Paku Alam VIII, pada 29 Juni 1991. Yang menarik, terdapat 2 kamar istimewa di sini: kamar 911 dan 912. Ini terkait sejarah MBO (Markas Besar Oemoem) Tentara Keamanan Rakyat pimpinan Panglima Besar Jenderal Soedirman di Natour Garuda ketika itu. ***