JAYAKARTA NEWS— Menteri Pendidikan, Kebudayaan Ristek dan Dikti, Nadiem Makarim dinilai semakin tidak kompeten mengurusi kebijakan pendidikan nasional sehingga bisa mengancam masa depan SDM Unggul Indonesia.
Selain ahistoris terhadap perjalanan pendidikan nasional, kebijakan yang dikeluarkan Nadiem Makarim dianggap sudah tidak memiliki keadaban dan melawan pembukaan UUD 1945.
Demikian ditegaskan Wakil Ketua Bidang Pendidikan dan Pembangunan SDM Jaringan Masyarakat Profesional Santri (NU Circle) Ahmad Rizali di Jakarta hari ini, Selasa (29/3/2022), menanggapi dihapusnya pendidikan formal Madrasah dalam RUU Sisdiknas.
“Menempatkan Madrasah hanya di bagian penjelasan apalagi menghapus dari RUU Sisdiknas menunjukan ketiadaan adab dan ketiadaan penanaman sejarah Nadiem Makarim dan tim penyusunnya,” tegas Nanang, panggilan akrab Ahmad Rizali.
Ketua Pokja Pendidikan di Tim Transisi Jokowi 2014 itu menyatakan bahwa Madrasah itu merupakan transformasi pendidikan rakyat jelata yang digerakkan oleh para tokoh pergerakan umat Islam, seperti Jamiat Kheir, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, awal abad ke-20. Mengabaikan pendidikan Madrasah adalah ahistoris terhadap sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
“Semestinya Presiden tidak hanya menegur Nadiem karena serapan belanja barang lokal yang kecil, Presiden sudah selayaknya memberhentikannya karena sering membuat kebijakan yang ahistoris dan melanggar UUD 1945, salah satunya yang terlihat kasat mata adalah pembuatan RUU Sisdiknas ini, “ tuturnya.
Sebelumnya, Nadiem Makarim secara sembrono menghilangkan tokoh KH Hasyim Asyari dalam Kamus Sejarah Indonesia. Pelajaran Pancasila dan Bahasa Indonesia juga sempat hilang dari Peraturan Pemerimtah Nomor 57 Tahun 2021 tentang Standar Nasional Pendidikan. Kali ini, sekolah formal Madrasah juga hilang dari RUU Sisdiknas.
RUU Sisdiknas ini, katanya, merupakan mandat para pendiri bangsa yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945. Di sana dengan sangat jelas ditegaskan bahwa pemerintahan ini harus melaksanakan tugas dan fungsinya untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.
Lahirnya RUU Sisdiknas menunjukkan kondisi yang memprihatinkan karena tugas dan fungsi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa itu diabaikan dan tidak dipedulikan. Negara, dalam hal ini, pemerintah, semakin melepaskan diri dari tanggung jawabnya untuk Mencerdaskan Kehidupan Bangsa.
“Dalam RUU Sisdiknas, Menteri Pendidikan semakin tidak peduli pendidikan dan semakin tidak kompeten. Kekeliruan terbesar periode kedua Jokowi adalah memilih Nadiem sebagai menteri pendidikan,” katanya.***ebn
JAYAKARTA NEWS— Sudah 2 tahun lebih Nadiem Makarim menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Bahkan sejak 28 April 2021, lingkup kerjanya bertambah dengan membidangi juga Riset dan Teknologi Indonesia sehingga jabatannya menjadi Mendikbud Ristek.
Menyambut Hari Guru 25 November 2021, Federasi Guru Seluruh Indonesia (FGSI) memaparkan hasil survey Rapor Kinerja 2 Tahun Mas Menteri Nadiem. Disebutkan, FGSI melakukan survey pada 7 indikator Kinerja Pendidikan dengan reponden 777 orang guru. Hasilnya, hampir 80% reponden menilai ‘Baik’ kinerja Nadiem.
Wasekjen FSGI Mansur menjelaskan, 74,9 % responden menilai Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) Berjalan dengan baik. Sebanyak 74,3 % responden berpendapat bantuan Kuota berjalan dengan baik. Terkait ANBK, lebih dari 80,2% guru menyatakan pelaksanaan ANBK sudah baik.
Sedangakan Program Guru Penggerak (PGP)dinilai baik oleh 82,5% responden, Program Sekolah Penggerak (PSP) dirasakan baik oleh 79,4% Responden, dan 73,6% responden menilai Program Organisasi Penggerak baik untuk kemajuan Pendidikan di Indonesia. Terakhir 80,8% responden menilai proses rekrutmen P3K Guru Honor telah berhasil membantu penyelesaian masalah guru honor.
Selain itu, sekitar 10-20% responden menilai semua Kebijakan/Program mas Menteri Nadiem dalam kategori Cukup. Hal ini dapat difahami karena sebagian besar program mas Menteri diberlakukan secara selektif artinya masih terdapat komponen guru yang tidak merasakan manfaat dari program-program Kemendikbudristek.
“PGP, PSP dan POP diberikan melalui seleksi yang cukup ketat, sedangkan P3K masih terbatas pada guru honorer yang sudah tercantum di Dapodik,” ujar Heru Purnomo Sekjen FSGI sebagaimana dikutip dari rilis FGSI (24/11/2021).
Masih terdapat kelompok guru yang menilai kurang terhadap kebijakan mas Menteri Nadiem, meskipun di bawah 10%. Hal ini tidak dapat diabaikan begitu saja. Khususnya untuk bantuan kuota belajar, terdapat 10,4% guru yang menilai kurang.
Artinya masih terdapat proses penyaluran yang tidak tepat sasaran maupun peruntukannya. Secara umum penilaian kurang ini hendaknya menjadi ruang koreksi dan evaluasi bagi kementerian untuk perbaikan pada tahap pelaksanaan kedepannya.
Berikut Rekomendasi FGSI:
1. Kualitas PJJ harus tetap ditingkatkan, mengingat masih ada 50% lebih responden yang menyatakan PJJ belum berjalan lancar. PJJ tidak hanya diperlukan saat pandemi.
2. Bantuan Kuota Belajar sebaiknya tetap diberikan dengan perbaikan pada proses penyalurannya.
3. ANBK harus dilanjutkan serta dilakukan peningkatan pada pemanfaatan hasil UNBK
4. Program Guru Penggerak dapat dilanjutkan dengan perbaikan pada proses rekrutmen yang tidak mementingkan jumlah/kuantitas
5. Program Sekolah Penggerak harus diperbanyak karena lebih dirasakan kemanfatannya oleh sekolah
6. Program Organisasi Penggerak harus dievaluasi karena masih banyak guru yang tidak merasakan dampaknya
7. Model Rekrutmen P3K guru harus dievaluasi terkait pola pemberian nilai afirmasi.***/ebn
JAYAKARTA NEWS – Nasib sebuah bangsa tak jarang ditentukan dari kegiatan membaca buku. Salah satu contohnya adalah yang dilakukan Sukarno, Presiden Pertama Republik Indonesia. “Dengan membaca, pikiran beliau senantiasa bebas merdeka,” ujar Mendikbud Nadiem Anwar Makarim saat membuka Pameran Daring dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya”, Selasa (24/11/2020).
Buku, kata mas menteri, adalah sumber pengetahuan yang mencerdaskan. Dengan membaca, persepektif kita lebih luas dan beragam. Ada hubungan erat kemajuan bangsa dan minat baca. Semakin maju sebuah bangsa, semakin tinggi minat baca. Masyarakt yang membaca adalah masyarakat belajar dan ingin belajar.
Nadiem menambahkan, dalam mayasrakat yang membaca dan belajar, buku punya kedudukan yang sangat penting. Ini sejalan dengan program merdeka belajar Kemendikbud. Esensinya adalah kemerdekaan berpikir, keleluasaan yang terarah pada satuan pendidikan untuk mengembangkan kompetensi dasar.
“Bangsa ini bangsa yang cerdas, dan anak-anak kita memiliki minat baca tinggi asal semua pihak menyediakan bacaan yang mudah diakses. Bung Karno telah memberi inspirasi nyata. Pemikiran beliau yang merdeka, bahkan sebleum kita lepas dari penjajahan. Ini contoh yang baik. Bayangkan, di tengah pengasingan, dikurung dalam pengasingan, dia tetap masnuia Indonesia yang merdeka. Berkat buku yang dibaca itulah ia berpikiran bebas dan tidak terkekang,” papar Menteri Nadiem.
Karenanya, ia berharap Pameran Daring “Bung Karno dan Buku-bukunya” hasil kerjasama Museum Kepresidenan RI Balai Kirti dan Historia.id ini bisa menjadi inspirasi generasi muda untuk lebih giat membaca dan mengerti apa arti merdeka sebenarnya.
Karenanya, tema pameran dan dialog sejarah ini bisa menginspirasi generasi muda untuk lebih giat membaca. “Generasi muda harus meneladani Bung Karno. Dari muda sudah kenal pemikiran luhur dari para pemikir dunia,” ujarnya seraya menambahkan, “Bung Karno telah memberi teladan kepada kita semua, bahwa kemampuan literasi membangun kehidupan bangsa. Ini sangat penting.”
Bonnie Triyana, Pemred Historia.id dalam pembukaan Pameran Daring dan Dialog Sejarah “Bung Karno dan Buku-bukunya”.
Inspirasi Perjuangan
Sementara itu, penggagas sekaligus kurator pameran, Bonnie Triyana (Pemred Historia.id) dalam kesempatan itu mengatakan, buku oleh Bung Karno telah menjadi inspirasi perjuangan. Karenanya, pameran ini adalah pameran warisan intelektual Bung Karno. Objeknya, buku.
Apa yang membuat buku-buku yang dipamerkan ini menjadi istimewa? Menurut Bonnie, sekitar 20 buku ini adalah buku koleksi tokoh sentral pergerakan kemerdekaan kita, Sukarno. “Saya peneliti pidato-pidato Bung Karno, jadi saya mengenali betul tulisan tangan beliau yang khas. Catatan-catatan tangan itulah yang ada di buku-buku yang dipamerkan. Ini bukti bahwa buku-buku yang dipamerkan adalah otentik milik Bung Karno. Tahun penerbitan buku antara tahun 20-an hingga 30-an.
Dari sumber “first hand”, Guntur Soekarnoputra, Bonnie mendapat keterangan dan konfirmasi tentang banyaknya koleksi buku Bung Karno, serta kecintaan Bung Karno terhadap buku. “Dalam bahasa lain, Mas Tok (panggilan Guntur Soekarnoputra) punya kegilaan membaca yang luar biasa,” tambah Bonnie.
Kesaksian langsung, diperoleh dari K.H. Saifuddin Zuhri, Menteri Agama Republik Indonesia pada Kabinet Kerja III, Kabinet Kerja IV, Kabinet Dwikora I, Kabinet Dwikora II, dan Kabinet Ampera I di era kepemimpinan Sukarno. Suatu hari ia diajak masuk kamar Bung Karno di Istana Merdeka. Di situ ia melihat buku dan buku. Hanya menyisakan ruang sempit di atas tempat tidur untuk istirahat Bung Karno. Sekelilingnya, buku-buku koleksi Bung Karno yang jumlahnya puluhan ribu.
Pertanyaan Bonnie, ke mana semua buku Bung Karno tadi? Tiba kesempatan ia bertandang ke Museum Kepresidenan RI Balai Kirti. Di situ ia menemukan sejumlah buku lengkap dengan catatan-catatan tangan Bung Karno. “Kalau buku ditandatangani oleh Bonnie itu biasa, tapi kalau ditandatangani Bung Karno, ini luar biasa. Itulah yang mengawali ide membuat acara ini,” tutur Bonnie, lulusan Sejaran Universitas Diponegoro tahun 2003 itu.
Acara ini didedikasikan bagi sebuah niat, agar masyarakat Indonesia, utamanya generasi muda mengetahui bagaimana Bung Karno membaca buku-buku dalam bahasa asli, seperti Jerman, Belanda, Inggris, Perancis, dan lain-lain. “Salah satu buku misalnya, Der Weg zur Macht karya Karl Kautsky, itu ditulis dalam bahasa Jerman huruf ghotic, huruf fraktur, yang bahkan untuk membacanya saja sangat sulit. Tapi Bung Karno melalap buku itu, bahkan memberi catatan-catatan dan komentarnya dalam tulisan tangan berbahasa Belanda. Jadi sebagai kurator pameran ini, sangat menguras energi. Saya banyak dibantu teman Belanda saya. Sebab, untuk mengetahui bahasa Belanda Bung Karno yang sangat fasih itu sangat sulit kalau tidak oleh orang yang berbahasa-ibu Belanda,” papar Bonnie.
Ini barang yang menurut saya yang perlu diketahui masyarakat oileh ngerasi muda, bagaimana bK membaca buku itu dalam bahasa asli, dalam bahas jerman, belanda, inggris, perancis, BK ini kenapa saya jadi teman teman tim jadi merasa ini benar benar objek menarik, satu buku misalkan, bukunya ther wehc curmah, jalan menuju kekuasaan, tokoh kiri penulisnya. Karl kautsckjy, ditulis dengan huruf jerman ghotic, huruf fraktur, yang akan sangat sulit bagi gernasi kida, untuk membacanya, dan bk membaca buku itu dalam tulisan bahasa jerman aslinya, dan ditulis dalam font ghotic yang tidak mudah ktia pahami, dan bk memberi komentar dalam bahasa belanda. Jadi sebaga ikurator pameran ini kerja beberapa kali, ssaya dibantu teman belanda saya menerjemahkan beberapa hal, kaerna sulit bagi kita, mengetahui mengenali kta kata BK tadi, kalau tidak bahsa ibunya.
Buku lain yang tak kalah menarik adalah satu buku berbahasa Belanda yang diberi catatan di covernya. Tulisan tangan Bung Karno dalam bahasa Belanda yang artinya kurang lebih “buku yang diberikan kawan-kawan Bandung saya saat saya di penjara”. “Ini tentu buku yang sangat bersejarah, sebab ia adalah saksi bisu bagaimana Sukarno menjalani hari-hari dalam kerangkeng penjara dan tetap merdeka berpikir melalui buku-buku yang dibacanya,” ujar Bonnie pula.
Menurut Bonnie, di Balai Kirti ada sekitar 700 judul buku yang diyakini merupakan buku-buku koleksi Bung Karno yang ada di Istana Bogor. Sementara, buku-buku Bung Karno tersebar di Istana Merdeka, Istana Yogyakarta, Istana Cipanas, bahkan Istana Tampaksiring.
Melalui pameran daring “Bung Karno dan Buku-bukunya”, ia berharap kita tergelitik untuk menyelami tradisi literasi Bung Karno. Ia tidak sekadar membaca. Ia tidak meng-copy-paste tulisan yang ada dalam buku yang dibacanya, melainkan diendapkan, dioleh, dan dituliskan kembali sebagai sebuah ide atau pemikiran yang genuine. (rr)
JAYAKARTA NEWS— Keputusan pemerintah mengizinkan sekolah yang berada di zona kuning dapat membuka pembelajaran tatap muka, menuai kontroversi. Berbagai pihak menyayangkan keputusan ini karena dikhawatirkan akan berisiko bagi kesehatan siswa. Di antaranya Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang menyayangkan munculnya keputusan tersebut. Menurut KPAI hal itu sangat berisiko bagi anak-anak.
Jika melihat data Gugus Tugas Covid 19, papar Retno Listyarti, Komisioner KPAI bidang Pendidikan, berarti total yang diijinkan membuka sekolah mencapai 249 kota/kabupaten atau 43% jumlah peserta didik. “KPAI memandang bahwa hak hidup dan hak sehat bagi anak-anak adalah yang lebih utama dimasa pandemik saat ini. Apalagi dokter Yogi dari IDAI dalam rapat koordinasi dengan Kemdikbud beberapa waktu lalu menyampaikan bahwa anak-anak yang terinfeksi Covid 19, ada yang mengalami kerusakan pada paru-parunya,” ungkap Retno.
Terkait permasalahan tersebut, pihak Kemendikbud menjelaskan salah satu dasar pertimbangan kenapa sekolah yang berada di zona kuning diizinkan menggelar pembelajaran tatap muka.
“Hal tersebut terkait dengan banyaknya satuan pendidikan di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal) sangat kesulitan untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) karena minimnya akses. Hal ini dapat berdampak negatif terhadap tumbuh kembang dan psikososial anak secara permanen,” jelas Kemdikbud di akun instagramnya.
Saat ini, 88% dari keseluruhan daerah 3T berada di zona kuning dan hijau. Dengan adanya penyesuaian Surat Keputusan Bersama (SKB) Empat Menteri, maka satuan pendidikan yang siap dan ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka memiliki opsi untuk melaksanakannya secara bertahap dengan protokol kesehatan yang ketat. . Walaupun berada di zona hijau dan kuning, satuan pendidikan tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa adanya persetujuan (1) Pemda/kanwil, (2) kepala sekolah (setelah sekolah dapat memenuhi protokol kesehatan yang ketat), dan (3) adanya persetujuan komite sekolah.***/ebn .
JAYAKARTA NEWS— Sejumlah aturan harus dipatuhi pihak sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka. Salah satunya adalah pelaksanaan protokol Kesehatan yang ketat. Juga, kantin tidak boleh dibuka serta tiada kegiatan ekstrakurikuler yang berisiko interaksi antar masing-masing rombel (rombongan belajar).
“Mendikbud menegaskan bahwa pada saat sekolah melakukan pembelajaran tatap muka, kondisi protokol kesehatan sangat ketat. Masing-masing rombongan belajar hanya diperbolehkan maksimal 50% dari kapasitas. Berarti sekolah harus melakukan rotasi/shifting saat siswa mengikuti pembelajaran tatap muka,” demikian dikutip dari Instagram Kemdikbud, Sabtu (8/9/2020).
Selain itu, sekolah juga tidak diperbolehkan membuka aktivitas kantin, kegiatan berkumpul, atau kegiatan ekstrakurikuler yang memiliki risiko interaksi antara masing-masing rombel.
Siswa hanya diperbolehkan mengikuti kegiatan belajar mengajar, kemudian langsung pulang setelah sekolah selesai. Selama berada di sekolah, siswa harus memakai masker dan sekolah maupun siswa harus memenuhi berbagai macam persyaratan atau checklist yang sangat ketat.***/ebn
JAYAKARTA NEWS— Sekolah-sekolah di zona hijau maupun kuning sudah diperbolehkan untuk melakukan pembelajaran dengan cara atap muka. Meski begitu kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, tetap saja pelaksanaannya harus seizin pemerintah daerah/dinas pendidikan setempat juga sepersetujuan orangtua/wali siswa.
Tanpa persetujuan tersebut, pihak sekolah tidak bisa menggelar pembelajaran tatap muka. Intinya, sekolah tidak bisa semaunya sendiri dalam menggelar pembelajaran tatap muka. Meski sekolah itu berada di zona hijau.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim menyampaikan bahwa meski berada di zona hijau dan zona kuning, sekolah-sekolah tidak dapat serta merta melakukan pembelajaran tatap muka.
“Walaupun berada di zona hijau dan kuning, satuan pendidikan tidak dapat melakukan pembelajaran tatap muka tanpa adanya persetujuan dari pemerintah daerah/dinas pendidikan dan kebudayaan, kepala sekolah, dan adanya persetujuan orang tua/wali siswa yang tergabung dalam komite sekolah,” ucap Nadiem kepada Tim Komunikasi Komite Penanganan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan Pemulihan Ekonomi Nasional, di Provinsi DKI Jakarta, Sabtu (8/8). Demikian dikutip dari laman setkab.go.id
Walaupun kemudian sekolah sudah melakukan pembelajaran tatap muka, Nadiem sampaikan bahwa persyaratan terakhir yang harus dipenuhi adalah adanya persetujuan dari orang tua atau wali peserta didik. “Jika orang tua atau wali siswa tidak setuju maka peserta didik tetap belajar dari rumah dan tidak dapat dipaksa,” kata Nadiem.
Lebih lanjut, Nadiem menyampaikan bahwa pembelajaran tatap muka akan dilakukan secara bertahap dengan syarat 30-50% dari standar peserta didik per kelas. “Untuk SD, SMP, SMA dan SMK dengan standar awal 28-36 peserta didik per kelas menjadi 18 peserta didik. Untuk Sekolah Luar Biasa, yang awalnya 5-8 peserta didik menjadi 5 peserta didik per kelas. Untuk PAUD dari standar awal 15 peserta didik per kelas menjadi 5 peserta didik per kelas,” tutur Nadiem.
Begitu pula jumlah hari dan jam belajar akan dikurangi, dengan sistem pergiliran rombongan belajar (shift) yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan sesuai dengan situasi dan kebutuhan.
Namun jika satuan pendidikan terindikasi dalam kondisi tidak aman atau tingkat risiko daerah berubah, Nadiem tegaskan maka pemerintah daerah wajib menutup kembali satuan pendidikan.
“Implementasi dan evaluasi pembelajaran tatap muka adalah tanggung jawab pemerintah daerah yang didukung oleh pemerintah pusat. Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan Provinsi atau Kabupaten/Kota, bersama dengan Kepala Satuan Pendidikan wajib berkoordinasi terus dengan satuan tugas percepatan penanganan Covid-19 guna memantau tingkat risiko Covid-19 di daerah,” ujar Nadiem.
Menanggapi banyaknya satuan pendidikan di daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) yang sangat kesulitan untuk melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh dikarenakan minimnya akses, Nadiem mengatakan bahwa hal ini dapat berdampak negatif terhadap tumbuh kembang dan psikososial anak secara permanen.
“Saat ini, 88% dari keseluruhan daerah 3T berada di zona kuning dan hijau. Dengan adanya penyesuaian SKB ini, maka satuan pendidikan yang siap dan ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka memiliki opsi untuk melaksanakannya secara bertahap dengan protokol kesehatan yang sangat ketat,” kata Nadiem.***/ebn
Jayakarta News – Bangunan sekolah Sanggar Anak Alam (Salam) tak berpagar. Tiga gedung tempat anak-anak belajar terpisah oleh petak-petak sawah. Tepat di depannya, sungai irigasi dari arah utara berbelok ke timur menyalurkan air yang memberikan kesan sejuk dan segar sepanjang hari. Jalan setapak yang tercipta di pinggir pengairan ini memberi alur koneksi bagi siapa saja yang hendak bergerak dari jalan raya menuju gedung sekolah itu.
Atau sebaliknya. Lewat pematang yang sama pula mereka
berjalan kaki meninggalkan areal sekolah yang beralamat di Nitiprayan, Kasihan,
Bantul Yogyakarta ini. Dari pusat kota Yogyakarta, tempat ini berjarak sekitar
empat kilometer ke arah barat daya.
Ke arah timur laut sejauh sekitar 12 kilometer dari titik nol Yogyakarta ada sekolah serupa, Sekolah Eksperimental Mangunan. Sama dengan Salam, sekolah ini berjarak beberapa puluh meter dari jalan besar serta berdekatan dengan lahan persawahan. Bukan pematang seperti Salam yang digunakan sebagai jalur penghubung lalu lintas dari dan ke tempat ini, tetapi sebuah gang kecil yang cukup dilewati mobil tanpa bisa bersimpangan. Tak seperti Salam yang setiap gedungnya dikitari lahan sawah. Di Mangunan, lahan persawahan hanya bisa disaksikan di belakang kompleks sekolah saja.
Sekolah Eksperimental Mangunan bertetangga dengan rel kereta
api jurusan Yogya-Solo. Puluhan kali sehari, deru mesin kereta mengirimkan
suara khas pemecah keheningan di sekolah yang menyatu dengan permukiman warga
kampung Mangunan, Kalitirto, Berbah, Sleman ini.
Bila di tempat ini sedang riuh ocehan anak-anak berfrekuensi
tinggi, suara sepur itu sekejapan membaur, menambah gaduh, kemudian lenyap
menjauh. Bila keheningan sedang mendominasi tempat ini, begitu kuat bunyi itu
menggampari gendang telinga, seolah-olah si kereta sedang melaju kencang persis
di samping bangunan kelas. Seperti Salam, Mangunan pun terbuka, tak
berpagar.
Suasana belajar di Salam. (foto: ernaningtyas)
Salam juga Mangunan, sepertinya tak menunjukkan tanda-tanda bahwa tempat itu adalah sekolahan. Salam terkesan seperti rumah yang pemilikya jatuh cinta pada areal persawahan dengan segala pernak-perniknya: irigasi yang hidup oleh gemericik air, petani dengan atribut caping dan cangkul di pundak, traktor yang berputar-putar membajak tanah, suasana panen dan tanam yang khas, serta teriakan para petani yang sedang berkomunikasi satu sama lain di tempat terbuka.
Sementara Sekolah Eksperimental Mangunan lebih cocok sebagai
lansekap perkampungan. Ruang-ruang kelas sekolah Mangunan serupa rumah-rumah
kayu mungil berdinding bambu saling berhimpitan namun teratur. Lapangan besar
di belakang pendapa selayaknya tempat berkumpul warga di sebuah perkampungan
adat yang khas.
Salam dan Mangunan unik lagi berkarakter. Siswa-siswinya tak
berseragam. Tak ada gepokan buku paket berjejalan di tas-tas yang membebani
punggung-punggung atau pundak-pundak para murid. Tak ada pembatas antara guru
dan murid. Keduanya sejajar, duduk bersama, akrab, selayaknya relasi
antarsahabat yang sedang mengobrol santai.
Kurikulum yang kaku dan instruksional tak berlaku di kedua
tempat ini. Ringan, tanpa beban, gembira dan bebas merdeka tampak dari
wajah-wajah mereka. Beginilah suasana belajar anak-anak Salam dan murid-murid
Sekolah Eksperiental Mangunan.
Suasana belajar di Salam. (foto: ernaningtyas)
Salam berstatus sebagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat). Posisi demikian membuatnya luwes mendampingi anak-anak berposes.
Tak ada beban kurikulum drop-dropan, bebas buku paket dan tak ada buku latihan
soal-soal. Murid-murid Salam belajar apa
saja dengan cara melakukan riset. Tema penelitian bebas. Anak-anak memilih
sendiri topik eksperimennya. Apa saja yang memikat atau menarik perhatian,
boleh mereka jadikan bahan eksplorasi.
Semuanya terkesan lokal dan dekat dengan kehidupan
keseharian anak-anak. Ada yang meneliti batik, yang lain tertarik dengan tanaman
herbal bahan dasar jejamuan, ada pula yang mempelajari kerang lengkap dengan
cara pengolahannya serta yang mendalami masalah seputar kopi pun ada. Setiap
anak memiliki ketertarikannya masing-masing. Dengan kata lain, jika ada seribu
kepala di Salam, ada seribu ide pula yang siap dieksekusi menjadi tema
penelitian.
Dari satu tema riset, anak-anak bisa belajar aneka hal yang saling terkait. Misal tema: mengolah singkong. Sambil memasak, anak-anak belajar biologi tentang tumbuhan singkong yang berakar serabut, bertulang daun menjari sampai belajar cara budidaya tanaman itu. Pelajaran matematika pun ikut serta. Mereka belajar hitung-hitungan atau mengukur berat tatkala menakar bahan seperti satu kilogram singkong, setengah kilogram gula Jawa, satu sendok teh garam, dll.
Bahasa pun masuk ketika anak-anak menyusun resep atau
mempresentasikan hasil masakan. Tak hanya bahasa Indonesia tetapi juga yang
lainnya seperti Jawa dan Inggris. Hitung-hitungan ekonomi tak ketinggalan pula.
Ketika hasil masakan singkong itu dipasarkan, anak-anak akan tahu cara
menghitung harga jual sekaligus hasil akhirnya, laba ataukah rugi. Semakin
tinggi tingkatan kelas, semakin mendalam yang mereka pelajari dari tema memasak
singkong ini. Kian tinggi jenjang kelas pula kian mengerucut pada tema yang
lebih spesifik.
Upacara Sumpah Pemuda di Sekolah Mangunan. (foto: ernaningtyas)Siswi SMP Eksperimental Mangunan berbaju daerah pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2019. (foto: ernaningtyas)
Begitu juga murid-murid Sekolah Eksperimental Mangunan.
Sekolah yang dirintis rohaniwan Katolik YB Mangunwijaya ini memiliki
kurikulumnya sendiri, kurikulum Mangunan. Berstatus sebagai sekolah formal,
membuat sekolah ini mengikuti pola seperti sekolah pada umumnya dengan mata
pelajaran yang terbagi pada jam-jam tertentu. Namun, mereka memiliki tema besar.
Tahun 2019-2020 tema yang dipilih adalah Mekar Bersama di Bumi Indonesia Tanah
Pancasila. Setiap mata pelajaran mengacu pada tema besar ini, salah satunya
Retorika di jenjang SMP dan Kotak Pertanyaan (Koper) di tingkat Sekolah
Dasar.
Retorika adalah proses belajar yang mengasah anak untuk
bepikir logis dan runtut. Di sini anak-anak dipupuk untuk bisa mengemukakan
pendapat secara konstruktif dan solutif. Semuanya dikemas dalam wujud diskusi
dan dialog yang kritis dan terarah. Anak-anak dibiasakan bertanya dan
berpendapat.
Forumnya sebelas-duabelas bila disandingkan dengan panggung
debat presiden atau sidang akademik di perguruan tinggi. Ada penyaji, ada
pembahas, ada audiens. Mereka duduk bersama mengkritisi sebuah tema. Jika debat
presiden mengkritisi Indonesia lewat kacamata politik, ekonomi, kemiskinan,
sosial budaya dll, retorika Mangunan membedah Indonesia dari sudut pandang yang
lebih santai, misal lewat lagu Koes Plus “Kolam Susu” atau dari aneka tradisi
yang terserak di jantung-jantung suku bangsanya.
Anak-anak mencari sendiri data rupa-rupa tradisi di
Nusantara lantas mempresentasikan di depan kawan-kawan dan guru. Guru mendengar
seperti lazimya murid, murid berperan selayaknya guru. Di salah satu dinding Sekolah
Mangunan ada tulisan di atas selembar kotak kayu: Murid adalah Guru.
Dalam setiap langkah mendampingi anak-anak, Salam dan
Mangunan memiliki satu nafas yang sama:
memekarkan nilai kemanusiaan (jujur, tanggung jawab, cinta sesama,
percaya diri, kerja keras, dll) serta mengedepankan budaya dan kearifan lokal.
Keduanya mampu keluar dari sistem pendidikan dengan kurikulum yang kaku dan instrukif serta tidak berorientasi pada hasil berupa nilai kognisi yang diurutkan dalam bentuk ranking. Segala bentuk penyeragaman tak berlaku di tempat ini. Salam dan Sekolah Eksperimental Mangunan adalah potret sekolah merdeka! ***
Sri Wahyaningsih, penggagas Salam. (foto: ernaningtyas)
Sri Wahyaningsih: Siswa Indonesia Asing di Negeri Sendiri
“Terjebak pada hafalan, tidak adaptif terhadap lingkungan
yang ada sehingga anak-anak Indonesia menjadi asing di negeri sendiri,” tutur
Sri Wahyaningsih mengomentari pendidikan di Tanah Air. Dari Sabang sampai
Merauke, di pusat kota atau pelosok desa, di kawasan pertanian, pesisir,
pedalaman, perindustrian atau pun perkampungan semua siswa di sekolah-sekolah
dengan lingkungan yang berbeda itu
mempelajari hal yang sama. Kurikulum dan buku paket drop-dropan dari pusat
menjadi semacam koridor yang mesti dilalui, ditaati, lurus, terpola,
instruksional. Melihat kenyataan ini, Sri Wahyaningsih pun merasa resah dan
gelisah.
Wahya, demikian panggilan akrab Sri Wahyaningsih, lantas menciptakan
atmosfer baru dunia pendidikan. Ia menggagas berdirinya Sanggar Anak Alam (Salam)
di awal abad ke-21 ini. Ia sadar Salam adalah sesuatu yang baru. Bila
disandingkan dengan dunia pendidikan di Tanah Air pada umumnya, Salam menjadi
tak lazim.
Belajar budaya dan unggah-ungguh leluhur. (foto: ernaningtyas)
Murid sekolah ini tak berseragam, kurikulum dibuat sendiri,
sama sekali tak berbasis mata pelajaran. Pemekaran bakat anak ditempuh melalui
metode riset. Sampai dengan kelas tiga SD riset dilakukan secara berkelompok. Kelas
empat SD sampai SMA riset dilakukan masing-masing anak. Setiap anak memilih
tema sendiri berdasar ketertarikan masing-masing.
Ada empat tema besar yakni pangan, kesehatan, lingkungan
hidup, dan sosial budaya. “Setiap siswa mempresentasikan apa yang telah mereka
pelajari,” tutur Wahya. Metode seperti ini membuat anak-anak dekat dengan apa
yang dipelajari, mengerti betul prosesnya, menemukan sendiri jawaban dari
sesuatu yang mereka ingin tahu. Ini semua membuat anak-anak paham, sehingga
tidak terjebak pada kabiasaan hafalan yang temanya jauh dari kehidupan
anak-anak. Tak hanya itu, jiwa-jiwa mandiri tampak pada anak-anak Salam.
Salam berstatus sebagai PKBM (Pusat Kegiatan Belajar
Masyarakat). Dengan posisi demikian, setiap siswa yang menginginkan ijazah bisa
mendapatkannya dengan cara mengikuti ujian Kejar Paket A, B, dan C. Wahya
menjelaskan bahwa demi kepentingan ini Salam mengintip kurikulum pemerintah
untuk mengambil kompetensi dasarnya. Bahan yang digunakan untuk membedah
kompetensi dasar tersebut adalah hasil riset anak-anak. “Hampir semua anak ikut
andil, jadi mereka tidak asing,” tambahnya.
Yudhistira Aridayan, ketua PKBM Salam. (foto: ernaningtyas)
Yudhistira Aridayan, Ketua PKBM Salam, menjelaskan, beberapa
bulan sebelum mengikuti ujian kejar paket, anak-anak melakukan riset tentang
soal-soal ujian. Ini penting untuk mempersiapkan anak-anak mengenali tipe soal dan cara-cara
penyelesaiannya. Yudhis mengungkapkan sebuah cerita menarik. Suatu ketika,
anak-anak menyalahkan soal yang mereka riset. Ia mencontohkan sebuah soal
pilihan ganda. Pot terbuat dari: a. Logam b. Plastik c. Tanah liat d. Kayu. “Mungkin
maksud pembuat soal adalah pot gerabah, dengan demikian jawaban yang benar
adalah tanah liat. Tetapi anak-anak kan tahu bahwa pot bisa juga dibuat dari
logam, kayu atau plastik dan mereka pernah melihat pot yang berbahan aneka rupa
itu. Jadi mereka menyalahkan soalnya,” papar Yudhis.
Tak ada guru di Salam, yang ia punya fasilitator, berstatus
voluntir. Fasilitator ini datang dari berbagai latar belakang. Ada mahasiswa
tingkat akhir, ada pula orang tua siswa. Sementara anak menjadi “guru” atas
dirinya sendiri. “Tantangan besar para fasilitator ini adalah mereka sering ingin
memberitahu,” tutur Yudhis. Sementara para orang tua yang menjadi fasilitator,
menurut pengalaman Yudhis, terkadang mereka susah menerima anak apa adanya.
Salam menerima sejumlah 15 murid di setiap jenjang kelas
mulai dari Kelompok Bermain, Taman Anak, SD, SMP, dan SMA. Masing-masing
jenjang itu hadir bertahap. Tahun 2004 Wahya mendirikan Kelompok Bermain, 2006
Taman Anak, 2008 SD, 2012 SMP, dan 2017 SMA. Kini sekitar 200-an murid belajar
di Salam setiap harinya. Sepuluh persen di antaranya anak-anak berkebutuhan
khusus (ABK).
Wahya tak ingin memekarkan Salam dengan cara membuka cabang. “Saya tak ingin terjebak pada penyeragaman, karena setiap tempat memiliki kekhasan masing-masing,” tutur Wahya memberikan alasan. Metode pendidikan yang mandiri dan merdeka ala Salam telah menginspirasi banyak komunitas, di antaranya Sekolah Akar Rumput di Sewon, Bantul DIY, Sekar Pelangi di Balikpapan, dan Edu House di Semarang. ***
Dr Rm Mulyatno: Penyeragaman Mematikan Identitas
Pendidikan di Indonesia serba seragam: satu kurikulum dan
satu model diaplikasikan untuk semua sekolah dari Sabang sampai Merauke. Tak
sebatas itu, baju sekolah pun dibuat seragam. “Penyeragaman itu mematikan
identitas. Kembalikan pendidikan dasar kita kepada kebutuhan anak dan sesuaikan
pendidikan dengan konteks kearifan lokal,” kata Dr Rm Mulyatno, Ketua Yayasan
Dinamika Edukasi Dasar (DED).
Dr Rm Mulyatno Pr. Ketua Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED). (foto: ernaningtyas)
Mulyatno menceritakan bahwa YB Mangunwijaya amat prihatin
dengan rupa dunia pendidikan dasar di Indonesia yang seragam, instruktif, penuh
kompetisi, mengutamakan kognisi serta keberhasilan diukur lewat ranking.
“Pendidikan yang benar tidak seperti itu,” tutur Mulyatno.
Karena itulah, tambah Mulyatno, Mangunwijaya mendirikan
sekolah Eksperimental Mangunan. Awalnya, sekolah yang menyatu dengan
rumah-rumah penduduk Mangunan itu dibuat Romo Mangun, demikian rohaniwan
Katolik itu biasa disapa, untuk orang-orang miskin setempat. Dalam prosesnya
hingga detik ini, para murid tak hanya berasal dari kampung Mangunan dan
sekitarnya. Mereka yang berumah di Bantul, Yogya kota, Muntilan bahkan Klaten
Jawa Tengah pun tak sedikit yang memilih bersekolah di Mangunan. Para murid
juga berasal dari latar belakang beragam mulai dari sosial, ekonomi, agama,
suku bangsa. Seperti juga Salam, Mangunan merangkul pula anak-anak berkebutuhan
khusus (ABK).
Mulyatno adalah rohaniwan adik kelas Romo Mangun. Ia kini
duduk di kursi Ketua Yayasan DED.
Yayasan ini menaungi Sekolah Eksperimental Mangunan yang didirikan Romo
Mangun 25 tahun silam untuk jenjang SD dan TK serta SMP yang baru mulai dua
tahun belakangan ini. “Sekolah Eksperimental Mangunan memberi kesempatan kepada
anak-anak untuk belajar dengan gembira dan merdeka sesuai usia mereka, namun
terarah pada pengembangan bakat secara eksploratif, kreatif, dan integral,”
tutur Mulyatno.
Jiwa eksplorasi mendorong kemampuan berkreasi, kemampuan
menemukan ide. Selanjutnya anak-anak akan mampu membuat karya inovatif serta menjelajah
wilayah-wilayah baru. Semua itu dilakukan dengan tetap menghargai keberagaman,
kearifan lokal khas Indonesia. “Atmosfer yang kemudian kami bangun adalah
memberi kemerdekaan seluas-luasnya agar anak mampu bertanya,” tutur Mulyatno.
Dalam setiap kesempatan, Romo Mangun memang selalu menekankan bahwa mendidik
anak bertanya jauh lebih penting dibanding seribu jawaban anak-anak atas sebuah
pertanyaan yang belum tentu tepat bagi mereka.
Pelajaran IPS, anak-anak belajar tentang angin sekaligus keberagaman dalam satu permainan. (foto: ernaningtyas)
Belajar Bahasa Inggris dengan bermain drama. (foto: ernaningtyas)
Sementara untuk pemekaran bakat anak, Mangunan mengembangkan
tujuh potensi dasar yang ada pada setiap anak yakni: karakter (nilai
religiusitas, kesetiakawanan, kejujuran, kemandirian), bahasa (ekspresi diri
dalam berkomunikasi lisan maupun tertulis plus kemampuan literasi), identitas
dan orientasi diri (pengenalan terhadap lingkungan keluarga, masyarakat dan
cita-cita hidup), logika dasar (kemampuan berpikir secara logis), pengenalan
piranti atau perkakas yang dipakai untuk hidup keseharian, kerjasama tim dan
berorganisasi, kemampuan kinestetik (bakat dan minat olah raga), serta mengenal
norma-norma umum dalam kehidupan.
Setiap anak, menurut Mulyatno, memiliki bakat dan minatnya
sendiri. Untuk mengetahuinya para guru melakukan penelitian tindakan. Ini
penting agar proses pembelajaran berorientasi pada pemekaran bakat anak. Prosesnya
melibatkan dialog dan kerjasama antara guru, anak dan orang tua. Sekolah
Eksperimental Mangunan berstatus formal. Namun, status itu tak mengurangi
keleluasaan dalam memberikan warna berbeda. Ia tetap menjadi sekolah merdeka,
memiliki karakter khas dalam mendampingi anak-anak.
Sekolah Eksperimental Mangunan menerima sejumlah 25 anak untuk setiap kelas. Ada dua kelas paralel di setiap jenjang pendidikan. Kini, ratusan anak setiap hari mendatangi Sekolah Eksperimental Mangunan untuk berproses dan berdinamika dalam mengembangkan bakat dan minat mereka. ***
Nadiem Makarim, Kerang, dan Tradisi
Selasa 29 Oktober 2019, ada perhelatan di Sekolah
Eksperimental Mangunan. Bertempat di ruang pendapa berlangsung seminar bertajuk
“Guru yang Punya Hati Memekarkan Anak Melalui Penelitian Tindakan”. Seminar
berlangsung sewajarnya, hingga pada sesi tanya jawab terakhir seorang peserta
unjuk jari. “Saya ingin bertanya, seandainya Pak Nadiem Makarim hadir dalam acara
ini, apa yang akan Anda katakan pada beliau?” Tawa hadirin pun pecah.
Tak jelas, apa yang memancing gelak tawa itu. Yang jelas,
beberapa hari sebelumnya, 23 Oktober 2019, Presiden Joko Widodo melantik
menteri-menterinya untuk periode jabatannya yang kedua. Bos Go-Jek Nadiem
Makarim ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan. Di dunia maya maupun nyata, ramai
orang berkomentar. Mungkin ada sesuatu yang lucu, ketika bos Go-Jek yang muda
dan milenial itu menduduki kursi Menteri Pendidikan. Dan mungkin, saat nama
Nadiem disebut oleh si peserta seminar, kelucuan itu terlintas kembali dalam
pikiran mereka. Bisa jadi pula bukan itu penyebab tawa hadirin, tetapi
berkaitan dengan tema seminar.
Para pembicara seminar, dari kiri: Novi Dwi Rusmawaty, Rm Edi Wiyanto Pr, M.Hum, dan St Kartono. (foto: ernaningtyas)
Seminar itu bertema pemekaran anak melalui penelitian tindakan.
Pembicara pertama Romo Edi Wiyanto Pr, M.Hum menjelaskan perihal pentingnya
guru pembelajar yang punya hati. “Kehadiran guru yang punya hati ini harus
terus diperjuangkan, karena ketika guru meletakkan hatinya maka anak akan
tumbuh mekar,” kata Edi. Ini sejalan dengan “quote” Romo Mangun yang berbunyi
“Di mana hati diletakkan, di situ proses belajar dan maju dimulai”.
Pembicara kedua St Kartono, kolumnis pemerhati masalah
pendidikan dan guru SMA Kolese De Brito Yogyakarta, mengungkapkan pentingnya gembira
dan berkembang menjadi guru. “Kalau guru
berkembang tapi tidak gembira, ia tertindas. Kalau guru gembira tapi tidak
berkembang ia sekadar numpang hidup,” kata Kartono di hadapan seratus lebih
peserta seminar yang mayoritas berprofesi sebagai guru dan berasal dari berbagai
kota di pulau Jawa.
Pembicara ketiga Novi Dwi Rusmawaty guru SD Mangunan
memaparkan bahwa dia beruntung menjadi guru di Sekolah Eksperimental Mangunan. Di
tempat ini ia berusaha memberikan hatinya kepada anak-anak. “Satu per satu
semua murid saya kenali,” kata Novi. Dengan mengenal, ia memiliki data tentang
apa yang dibutuhkan anak demi memekarkan bakatnya berdasarkan tujuh modal dasar
yang dimiliki setiap anak. Ada yang butuh dimekarkan kemampuan membacanya,
kemampuan motoriknya, afeksinya, dan lain sebagainya. Novi beruntung,
komunitasnya memiliki tim teaching
yang membantunya dalam berdinamika bersama anak-anak. “Saya ini orang biasa
yang ingin menjadi guru yang luar biasa,” ucapnya.
Singkatnya, materi yang dibawakan ketiganya tampak seperti
“dunia lain” jika disandingkan dengan image
dunia pendidikan di Indonesia pada umumnya. Sementara seratus lebih peserta
seminar berasal dari sekolah yang berkategori “pada umumnya” itu. Di benak para
peserta seminar sepertinya Nadiem tak akan bisa berkutik menghadapi carut marut
dunia pendidikan di Tanah Air yang terbelenggu beban kurikulum dan susah menerima perubahan. Pesimisme
inilah yang mungkin memancing gelak tawa saat seorang peserta seminar
mengemukakan pertanyaannya, “Apa yang akan Anda katakan kepada Pak Nadiem
Makarim jika beliau hadir di sini?”
St Kartono angkat jawaban untuk pertanyaan itu. Katanya,
“Pak Nadiem, kami hanya guru kecil. Yang menjadi persoalan dan harus dibongkar
adalah lembaga Anda dan guru-guru besar yang ada di tempat itu. Lakukan
perubahan, kita butuh revolusi mental,” kata Kartono dengan semangat membara.
Windu Aji, guru Sekolah Eksperimental Mangunan yang saat itu
menjadi moderator pun memberikan jawaban. “Pak Nadiem, saya ingin sekolah Indonesia
menjadi tempat yang asyik yang bisa mewadahi semua keanekaragaman,” kata
Windu.
Dalam perjalanan waktu kemudian, ada sesuatu yang tak biasa.
Nadiem Makarim, si muda yang dipercaya memegang departemen raksasa yang
kiprahnya tersebar merata di seluruh penjuru negeri ini sepertinya tak akan
mengikuti seniornya, menduduki kursi menteri tanpa perubahan mendasar.
Nada-nadanya Nadiem berbeda. Mas Menteri, demikian sapaan kekinian Nadiem, bertemu
dengan sebarisan praktisi dan pakar pendidikan yang tak biasa. Salah satunya
Sri Wahyaningsih, penggagas Salam. Dalam pesan yang beredar melalui whatsapp, Wahya menuliskan masukannya
kepada Nadiem. Salah satunya, janganlah kurikulum dipukul rata. Biarlah sekolah
atau guru membuat kurikulumnya sendiri sesuai situasi dan kondisi setempat.
Tugas pemerintah cukup sebatas membuat peraturan yang esensial untuk dipatuhi
bersama.
Nadiem bergeming. Dalam sebuah pesan whatsapp pula Mas Menteri angkat bicara. Ia berpidato khusus untuk menyambut Hari Guru 25 November 2019. Setelah sedikit berbasa-basi di awal, Nadiem masuk pada inti pidatonya. “Guru Indonesia tercinta, tugas Anda adalah yang termulia dan yang tersulit. Anda ditugaskan untuk membetuk masa depan bangsa tetapi sering diberi aturan dari pada pertolongan. Anda ingin membantu murid yang tertinggal di kelas tetapi waktu Anda habis mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas. Anda tahu betul potensi anak tidak bisa diukur dari hasil ujian, tapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk untuk belajar dari dunia sekitarnya tetapi kurikulum yang padat menutup pintu petualangan. Anda frustrasi karena Anda tahu di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi yang akan menentukan kesuksesan anak bukan kemampuan menghafal. Anda tahu setiap anak punya kebutuhan yang berbeda tapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murid terinspirasi tetapi Anda tidak diberikan kepercayaan untuk berinovasi. Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. Tapi perubahan tidak bisa dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dengan guru. Jangan menunggu aba-aba. Jangan menunggu perintah. Ambillah langkah pertama! Besok di manapun Anda berada lakukan perubahan kecil di kelas Anda. Ajaklah kelas berdiskusi, jangan hanya mendengar….” kata Nadiem panjang lebar.
Elang bersama Ika sedang membahas kerang. (foto: ernaningtyas)
Elang Sakti Wiwardhana sudah mendapatkan kemerdekaan
belajarnya jauh sebelum pidato Mas Menteri dipesanberantaikan lewat ponsel
pintar. Ia ingin menjadi koki profesional yang ahli memasak kerang. Elang,
demikian ia akrab disapa meneliti kerang. Semua seluk beluk kerang ia pelajari.
Segala hal yang berkaitan tentang kerang
ia cari sendiri di perpustakaan. Ia juga berselancar di internet untuk
mendapatkan informasi tentang binatang bercangkang itu.
Di sekolah bersama fasilitator Natalia Ika Prasetyo
Kurniawaty, Elang mendiskusikan temuannya. Berawal dari ketertarikannya
terhadap kerang, Elang bisa belajar apa saja: matematika, bahasa, komunikasi,
biologi, dll. Semua kemampuannya baik motorik, kognisi maupun afeksi terasah
hanya dari seekor binatang yang memiliki rupa-rupa jenis itu. Elang, siswa
kelas tiga SD ini bisa mendapatkan kemerdekaan belajarnya karena ia murid
Sekolah Salam.
Yolessa Roosando, M.Pd mengampu pelajaran Retorika di Sekolah Eksperimental Mangunan. Anak-anak ia minta mempresentasikan “sesuatu” berdasarkan tema besar “Mekar Bersama di Bumi Indonesia Tanah Pancasila”.
Dari Kiri Antonio, Ayik, Sebi, dan Denting sedang mempresentasikan tradisi. (foto: ernaningtyas)
Satu kelompok remaja, Ayik, Atonio, Sebi dan Denting
berdiskusi dan sepakat membedah tema itu lewat sudut pandang beragam tradisi
yang ada di Indonesia. Bahan dan data mereka dapatkan dari perpustakaan dan
internet. Setelah siap semuanya, mereka mempresentasikan temuan itu di hadapan
kawan-kawan dan gurunya. Selayaknya peneliti kawakan, semua presenter angkat bicara
termasuk Sebi siswa ABK. Siswa lain menjadi penanggap. Forum itu persis seperti
sebuah sidang akademik di perguruan tinggi.
Ayik dan kawan-kawan di Sekolah Eksperimental Mangunan serta
Elang di Salam adalah anak-anak yang
berproses dalam kemerdekaannya. Tampaknya Nadiem ingin pengalaman
anak-anak ini juga menjadi pengalaman murid-murid lain di seluruh pelosok tanah
air. Sepenggal ucapan dalam pidato Nadiem berbunyi “Besok di manapun Anda
berada lakukan perubahan kecil di kelas anda. Ajaklah kelas berdiskusi, jangan
hanya mendengar….”
Usia pidato itu terhitung baru beberapa hari sejak diucapkan
Mas Menteri 25 November silam. Tak ada data yang jelas, apakah sudah ada guru yang
meresponnya. Tentu saja guru yang berkarya di sekolah-sekolah pada umumnya. Sekolah
yang terlanjur menjalankan tradisi kurikulum drop-dropan, sekolah yang mengukur
keberhasilan siswanya dengan angka-angka dan mengurutkannya dalam
ranking-ranking, serta sekolah yang sering menjadi momok karena murid-muridnya
trauma terhadap pelajaran tertentu, biasanya matematika atau bahasa Inggris.
Wajar-wajar saja, seandainya belum ada respon. Mas Menteri
dalam pidatonya sudah menyadari bahwa perubahan itu sulit dan penuh
ketidaknyamanan. Sementara guru di Indonesia pun terlanjur nyaman bermonolog di
depan kelas, mentransfer pengetahuan sesuai kurikulum, mengandalkan buku paket
dan lembar kerja yang instan serta membuat nilai dari ulangan dan ujian akhir.
Puluhan tahun ritual itu dijalani para guru. Puluhan tahun
pula para penyedia buku-buku dan sederetan birokrat yang terlibat mendapatkan
keuntungan fiansial dari bisnis buku pelajaran. Namun demikian, ST Kartono yang
berharap agar Mas Menteri membongkar semua permasalahan yang ada di lembaganya
serta harapan Windu Aji agar tercipta sekolah yang asyik, tampaknya tetap
optimis. Di awal menjabat, bertepatan dengan Hari Guru, Nadiem Makarim menyatakan
tekadnya siap berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia. (Ernaningtyas)