JAYAKARTA NEWS— Presiden Trump menandatangani dokumen pada hari Kamis yang memerintahkan agar Danau Ontario diganti namanya menjadi “Danau Amerika” — di tengah eskalasi perang dagang akibat tarif antara dirinya dan Perdana Menteri Kanada Mark Carney.
“Kami akan mengubah nama Danau Ontario, berlaku segera, menjadi Danau Amerika,” ujar Trump kepada para wartawan di Ruang Oval, mengutip New York Post.
“Kami telah mengajukan semua berkas, dokumen, dan segala hal lain yang diperlukan. Kami telah memberi tahu semua pihak yang memang harus diberi tahu. Jadi, kami telah melakukan semua prosedur yang harus dijalani, dan keputusan ini resmi berlaku segera.”
Peta Danau Ontario/Foto: X White House
Sebagaimana diketahui, Danau Ontario dimiliki bersama oleh Kanada dan Amerika Serikat. Batas internasional kedua negara membentang tepat di tengah danau tersebut, sehingga wilayah perairannya dibagi menjadi dua bagian:
Bagian utara milik provinsi Ontario, Kanada, sedang bagian selatan milik negara bagian New York, Amerika Serikat.
Kedua negara ini berbagi hak atas pengelolaan, transportasi, dan pelestarian lingkungan di Danau Ontario melalui perjanjian internasional.
Presiden Trump beri penejlasan soal Danau Ontario/Foto: Instagram donald trump
Trump mengatakan bahwa “para pejabat Kanada telah menangani masalah ini dengan sangat buruk. Mereka orang-orang yang jahat. Mereka mengenakan tarif 400% terhadap petani kita.”
Sebelumnya, tahun lalu, Trump juga mengubah nama Teluk Meksiko menjadi “Teluk Amerika”.
“Kalau dipikir-pikir, kita sudah punya teluk dan kita punya danau. Sekarang, tinggal butuh samudra. Jadi, mungkin kita harus mengubah nama Atlantik dan/atau Pasifik,” kata Trump pada hari Kamis, dikutip dari akun X White House. (Sumber: New York Post dan sumber lainnya)
JAYAKARTA NEWS – Ketika sebagian besar dunia belum tersentuh dan merasakan manfaat jaringan 5G, ternyata persaingan geopolitik dalam 6G sebagai teknologi telekomunikasi masa depan memanas.
Pertaruhan dalam persaingan itu sangat tinggi yang melibatkan perusahaan dan pemerintah. Betapa tidak, orang pertama yang mengembangkan dan mematenkan 6G, akan menjadi pemenang terbesar dalam apa yang disebut sebagai revolusi industri berikutnya.
Memang barangkali masih membutuhkan waktu satu dekade ke depan untuk mewujudkan 6G, yang kecepatannya dapat mencapai 100 kali lebih cepat dari kecepatan terbaik 5G. “Wow banget,” demikian kalau generasi Z mengungkapkan kekagumannya.
Bayangkan, apa teknologi yang selama ini hanya menjadi bahan fiksi ilmiah, mulai dari hologram waktu nyata hingga taksi terbang, dan tubuh serta otak manusia yang terhubung ke internet.
Scrum untuk 6G sudah meningkat, sekalipun dalam hal ini masih tetap menjadi proposisi teoretis, tetapi bagaimana kehadiran dan kelahiran 6G telah menggarisbawahi bagaimana geopolitik memicu persaingan teknologi, terutama antara AS dan China.
“Upaya ini sangat penting sehingga sampai batas tertentu menjadi perlombaan senjata,” kata Peter Vetter, kepala akses dan perangkat di divisi penelitian Nokia Oyj, Bell Labs. “Ini akan membutuhkan pasukan peneliti untuk tetap kompetitif.”
Amerika Serikat di bawah kendalai Presiden Donald Trump, telah menghantam keras perusahaan teknologi China. Pada kenyataannya, langkah keras Trump tersebut tidak dapat menghentikan China untuk muncul sebagai pemimpin dalam 5G. China punya jejak 5G terbesar di dunia. Secara global Huawei Technologies Co lebih unggul daripada para vendor 5G saingannya, dan apa yang ditawarkan perusahaan China itu sebagian besar harga lebih menarik.
Kekalahan AS dalam persaingan di 5G, telah mendorongnya Perkembangan 6G dapat memberi AS kesempatan untuk mendapatkan kembali teknologi nirkabel.
“Tidak seperti 5G, kali ini Amerika Utara tidak akan membiarkan kesempatan untuk kepemimpinan 6G meluncur begitu mudah,” kata Vikrant Gandhi, direktur industri senior teknologi informasi dan komunikasi di perusahaan konsultan Frost & Sullivan di AS. “Kemungkinan besar persaingan untuk kepemimpinan 6G akan lebih sengit daripada untuk 5G. “
Itu sangat jelas, pasti. Bagaimanapun 6G kini sudah ada dalam pikiran para pembuat kebijakan di Washington dan Beijing. Pada awal 2019 Presiden Donald Trump men-tweet bahwa dia menginginkan 6G “secepat mungkin.”
China tentu saja tidak tinggal diam oleh “provokasi” Amerika tersebut. Pada November 2020 lalu, China meluncurkan satelit untuk menguji gelombang udara sebagai potensi transmisi 6G. Menurut laporan media di Kanada, Huawei bahkan memiliki pusat penelitian 6G di Kanada. Selain itu produsen peralatan telekomunikasi ZTE Corp. juga bekerja sama dengan China Unicom Hong Kong Ltd. untuk mengembangkan teknologinya.
Pita Eksperimental
Gelombang Terahertz dapat memenuhi kecepatan 6G, persyaratan latensi
AS telah menunjukkan bahwa ia memiliki kemampuan untuk secara serius melumpuhkan perusahaan China, seperti dalam kasus ZTE, yang hampir bangkrut setelah Departemen Perdagangan AS pada tahun 2018 melarangnya selama tiga bulan untuk membeli teknologi Amerika. Langkah serupa dapat menghambat ambisi 6G Huawei.
Washington sudah mulai membuat sketsa garis pertempuran 6G. Alliance for Telecommunications Industry Solutions, pengembang standar telekomunikasi AS yang dikenal sebagai ATIS, meluncurkan Next G Alliance pada Oktober lalu untuk “memajukan kepemimpinan Amerika Utara dalam 6G”. Anggota aliansi ini termasuk raksasa teknologi seperti Apple Inc., AT&T Inc., Qualcomm Inc., Google, dan Samsung Electronics Co., dan tentu saja tidak mengajak Huawei.
Aliansi ini mencerminkan bagaimana dunia yang semula terpecah sebagai kubu yang berlawanan sebagai akibat dari persaingan 5G kemudian disatukan oleh AS. Dipimpin oleh AS, yang mengidentifikasi Huawei sebagai risiko spionase – sebuah tuduhan yang dibantah raksasa teknologi China tersebut- negara-negara termasuk Jepang, Australia, Swedia dan Inggris telah menutup perusahaan itu dari jaringan 5G mereka. Namun, Huawei disambut baik di Rusia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain di Afrika dan Timur Tengah.
Uni Eropa pada bulan Desember juga meluncurkan proyek nirkabel 6G yang dipimpin oleh Nokia, yang mencakup perusahaan seperti Ericsson AB dan Telefonica SA, serta universitas.
Kurangnya kepercayaan pada perusahaan China seperti Huawei, tampaknya tidak akan berkurang dengan 6G. Demokrasi tumbuh semakin mengkhawatirkan tentang bagaimana teknologi 5G digunakan oleh rezim otoriter, dengan kekhawatiran bahwa 6G dapat mengaktifkan teknologi seperti pengawasan drone massal. China sudah menggunakan kamera pengintai, kecerdasan buatan (AI), pengenalan wajah, dan biometrik seperti sampel suara dan DNA untuk melacak dan mengontrol warga.
“Saat ini China tampaknya melakukan segalanya dalam hal pengawasan dan penindasan untuk mengamankan posisi bagaimana mereka kehilangan pasar masa depan di AS dan Eropa,” kata Paul Timmers, penasihat senior di lembaga think tank European Policy Center yang berbasis di Brussels dan mantan direktur Digital Masyarakat Dan Keamanan Siber di Komisi Eropa. “Ini menunjukkan bahwa pendekatan teknis untuk 6G tidak dapat dipercaya untuk dipisahkan dari tujuan ideologis negara.”
5G komersial yang diperkenalkan pada tahun 2019, sejauh ini banyak negara-negara yang masih meluncurkan jaringan dan mengembangkan aplikasi yang dapat menarik bisnis dan mengubah teknologi menjadi menguntungkan. Demikian pula, 6G mungkin tidak akan dapat mencapai potensinya setidaknya 15 tahun dari sekarang, kata Gandhi dari Frost & Sullivan. Sejauh ini, hanya sekitar 100 operator nirkabel di seluruh dunia yang menawarkan layanan 5G di area terbatas.
Tetapi para peneliti memiliki visi yang ambisius tentang apa yang dapat ditawarkan jaringan generasi mendatang. Dengan kecepatan potensial 1 terabyte per detik, 6G tidak hanya jauh lebih cepat, tetapi juga menjanjikan latensi – yang menyebabkan kelambatan – 0,1 milidetik, dibandingkan dengan 1 milidetik, atau minimum untuk 5G. Untuk mencapai itu, para ilmuwan memusatkan perhatian pada gelombang terahertz frekuensi super tinggi yang dapat memenuhi persyaratan kecepatan dan latensi tersebut, meskipun belum ada chip yang mampu mentransmisikan begitu banyak data dalam satu detik.
Tentu saja untuk saat ini kita masih terlalu dini untuk mengatakan apakah dunia futuristik 6G yang dibayangkan oleh para peneliti dan pengambil kebijakan pada akhirnya akan terwujud. Dalam dunia teoretis tersebut, segala sesuatu di lingkungan kita akan terhubung ke jaringan 6G. Menarik memang, sebab dalam hal ini ke depan tidak hanya orang dapat berkomunikasi dengan hal-hal atau barang seperti furnitur dan pakaian, tetapi gadget juga dapat berkomunikasi di antara mereka sendiri.
Hambatan ilmiah utama berlimpah – misalnya, peneliti harus menyelesaikan pertanyaan tentang bagaimana gelombang udara yang menempuh jarak yang sangat pendek dapat dengan mudah menembus bahan seperti uap air atau bahkan selembar kertas. Jaringan mungkin harus sangat padat, dengan beberapa pemancar dipasang tidak hanya di setiap jalan, tetapi juga di setiap gedung atau bahkan setiap perangkat yang digunakan orang untuk menerima dan mengirimkan sinyal. Itu akan menimbulkan pertanyaan serius tentang kesehatan, privasi, dan desain perkotaan.
“Kemajuan teknologi khususnya yang futuristik dan kompleks seperti komunikasi radio 6G harus dikembangkan dengan hati-hati,” kata Gandhi. “Kami percaya bahwa negara-negara tidak dapat segera memulai. Sektor swasta tidak bisa segera dimulai. Dan itulah mengapa kami sudah memiliki inisiatif seperti Aliansi G Berikutnya.”
Kita tunggu bagaimana hasil kedepannya. (sumber: Bloomberg/sm)
JAYAKARTA NEWS – Masa depan politik Presiden AS Donald Trump mengalami pukulan telak pada Rabu waktu Washington, setelah Dewan Perwakilan Rakyat AS memakzulkannya untuk kedua kalinya. Ini adalah peringatan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya, yang berpotensi Gedung Putih akan menjadi tertutup selamanya bagi Trump.
Sepuluh anggota parlemen dari Partai Republik “menyeberang” untuk bergabung dengan semua anggota Partai Demokrat di DPR. Mereka menyatakan bahwa Trump pantas dicopot dari jabatannya, karena menghasut aksi pemberontakan, dan itu menjadi penyebab kejatuhan pemimpin AS yang memalukan.
Trump gagal dalam mengelola pandemi virus korona, namun tetap membujuk agar para pemilih tetap mempertahankannya di Gedung Putih. Tetapi yang sangat disesalkan dan dikecam adalah, presiden justru memberi ide aksi serangan dengan kekerasan dan konspirasi di alam demokrasi Amerika.
Pukulan balasan terhadap Trump terjadi setelah aksi pemberontakan 6 Januari di Capitol. Pukulan itu terjadi dengan cepat, dan menciptakan ujian yang belum pernah terjadi sebelumnya dari kekuasaannya sejak ia berkuasa pada 2016. Kerusuhan Capitol yang dipicu oleh hasutan Trump telah memicu gelombang pengunduran diri para pejabat kunci di pemerintahannya, yang juga menyebabkan diberangusnya akun Trump di Twitter. Kerusuhan itu juga telah mendorong para pemimpin perusahaan untuk menangguhkan sumbangan kepada Partai Republik yang “menjual” tuduhan palsu tentang penipuan pemilih yang meluas.
Kini Senat AS untuk kedua kalinya harus mengadakan persidangan pemakzulan Trump, dan itu kemungkinan dilakukan setelah Trump meninggalkan jabatannya. Hasilnya dapat menghalangi Trump untuk mencari jabatan federal lagi. Ambisi Trump untuk berlaga pada Pilpres mendatang, akan tertutup.
Beberapa senator dari kubu Republik telah mengatakan pendirian mereka tentang masalah ini. Pemimpin GOP, Mitch McConnell dari Kentucky, menyatakan tetap membuka kemungkinan dia akan memberikan suara untuk menghukum dalam sebuah surat kepada rekan-rekannya pada hari Rabu.
Terlepas dari bagaimana hasilnya nanti, peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam sepekan ini telah mengguncang pilar-pilar politik Amerika. Situasi ini jelas memberi sinyalemen yang sulit di masa mendatang bagi Partai Republik.
Pemakzulan Trump akan memperkuat statusnya sebagai martir di antara para pengikutnya yang paling setia, yang menganggap langkah itu sebagai upaya terbaru Washington untuk menyerang dan melemahkan orang luar yang mengancam status quo. Tetapi beberapa politisi Partai Republik, termasuk anggota parlemen Liz Cheney, Adam Kinzinger dan John Katko, berbicara dengan tegas menentang tindakan Trump dan memilih untuk mendakwa presiden.
“Ini adalah suara hati nurani,” kata Cheney pada Rabu di washington. “Ini adalah salah satu pandangan yang berbeda dalam konferensi kami. Tetapi bangsa kita menghadapi krisis konstitusional yang belum pernah terjadi sebelumnya, bahkan sejak terjadinya Perang Saudara. Itulah yang perlu kami fokuskan. “
Beberapa anggota partai, bagaimanapun, masih mencoba untuk memilih melakukan langkah dua arah. Mereka memang membenci untuk membela tindakan Trump, tetapi mereka berpendapat bahwa pemakzulan justru merusak seruan Presiden terpilih Joe Biden agar negara itu bersatu setelah Pilpres yang telah melemahkan bangsa. Trump dimakzulkan dengan suara 232-197.
Peringatan larangan melewati batas di Capitol [Foto: Courtesy NYT]
‘Kemarahan yang luar biasa’
Dalam menghadapi krisis ini, Trump berada pada posisi tetap mempertahankan postur mengancamnya. Pada hari Selasa, dia menyalahkan media dan Partai Demokrat atas apa yang disebutnya sebagai “kelanjutan dari perburuan penyihir terbesar dalam sejarah politik”.
“Saya pikir itu menyebabkan bahaya yang luar biasa bagi negara kita dan itu menyebabkan kemarahan yang luar biasa,” katanya. Pernyataan itu dikatakan pada Rabu, ketika DPR memperdebatkan pemakzulan, dengan menyerukan perdamaian.
“Mengingat laporan lebih banyak demonstrasi, saya mendesak bahwa TIDAK boleh ada kekerasan, TIDAK ada pelanggaran hukum dan TIDAK ada vandalisme dalam bentuk apa pun,” katanya. “Bukan itu yang saya perjuangkan, dan bukan itu yang diperjuangkan Amerika.”
Apa daya kerusuhan yang disertai kekerasan di Capitol telah menguji kesetiaan beberapa pendukung dan sekutu lama Trump. Trump bahkan mengasingkan Mike Pence. Trump men-tweet bahwa wakil presiden “tidak memiliki keberanian” untuk secara ilegal menyatakan Trump sebagai pemenang pemilu yang telah dia kalahkan. Kicauan semakin menyulut para pendukungnya, yang kemudian terjadi kerusuhan.
Ketika itu Pence yang berada di Capitol untuk memimpin penghitungan suara dari Kolese Pemilihan Kongres, terpaksa harus menyelamatkan diri dari kerumunan massa bersama dengan anggota parlemen lainnya.
Beberapa pejabat tinggi pemerintahan membatalkan perjalanan internasional atau mempersingkat perjalanan minggu ini karena khawatir musuh asing mungkin berusaha mengeksploitasi krisis politik AS dan Gedung Putih di bawah tekanan.
Perhatian Trump sekarang akan beralih ke meminimalkan dampak dari pemungutan suara pemakzulan pada setiap kemungkinan tindakan kedua dalam kehidupan politik, sambil mencoba menggambarkan konsekuensi atas perannya yang memicu kerusuhan sebagai tindakan yang berlebihan dan tidak adil.
Kekhawatirannya yang paling mendesak mungkin adalah bagaimana “mencambuk” dukungan di Senat, yang membutuhkan dua pertiga suara untuk menghukum Trump. Untuk memakzulkan Trump, Demokrat membutuhkan labih dari selusin dukungan anggota Republikan. Kalau dibandingkan dengan usaha pemakzulan pertama terhadap Trump, krisis yang terjadi di Capotol ini telah mengikis posisi Trump, dimana dulu hanya seorang Republikan yang menyokong pemakzulan, yakni senator GOP, Mitt Romney dari Utah.
Apa yang terjadi pada Trump ini akan dicatat sejarah Amerika, bahwa dia menjadi satu-satunya presiden yang pernah dimakzulkan dan dihukum. Oleh karena itu, para senator bisa melakukan langkah berikutnya untuk mendiskualifikasi Trump dari upaya untuk mencari jabatan federal lagi. Dan ini cukup hanya membutuhkan suara mayoritas sederhana.
Secara finansial, krisis ini juga dapat merugikan Trump. Oleh karena Trump tidak akan menjadi presiden, maka dia tidak akan mendapatkan hak untuk dibela dari penasihat hukum Gedung Putih.
Bagaimana pun faktanya Trump telah menghadapi tekanan finansial yang memuncak. Walikota New York Bill de Blasio mengatakan kota itu akan membatalkan kontrak sekitar $ 17 juta dengan perusahaan presiden, Trump Organization, termasuk kesepakatan untuk mengoperasikan arena skating dan lapangan golf. Stripe Inc. mengatakan awal pekan ini, bahwa pihaknya akan menghentikan pemrosesan pembayaran untuk kampanye Trump.
Sementara itu penyelidik Kejaksaan Agung New York terus memeriksa catatan pajak Trump atas kemungkinan dia melanggar hukum dengan melakukan pembayaran uang tutup mulut kepada wanita yang mengaku berselingkuh dengannya sebelum pemilihan presiden.
Pemakzulan juga bisa berarti hilangnya pensiun untuk presiden dan ibu negara Melania Trump, serta dana federal untuk kantor dan staf pasca-kepresidenan, meskipun dalam hal ini ada pendapat hukum berbeda tentang masalah tersebut.
Masa depan Trump
Presiden trump diperkirakan akan berusaha mati-matian untuk membingkai upaya pemakzulan dalam narasi penganiayaan dan keluhan yang lebih luas yang dia sampaikan selama masa kepresidenannya.
Modus seperti itu berhasil sebelumnya, saat peringkat dukungan terhadapnya naik kembali setelah penyelidikan kasus penasihat khusus terhadap dugaan hubungan kampanyenya dengan Rusia, dan setelah Senat gagal menghukumnya melalui upaua pemakzulannya karena menekan Ukraina untuk meluncurkan penyelidikan terhadap Biden dan putranya.
Tetapi peran Trump dalam kerusuhan – yang pecah tak lama setelah dia menghasut para pendukungnya untuk berbaris ke Capitol dan “berjuang lebih keras” melawan lawan politiknya – tidak begitu rumit. Hanya 33% orang Amerika yang menyetujui penanganan Trump atas pekerjaannya dalam jajak pendapat Universitas Quinnipiac yang dirilis Senin.
Keributan di Capitol hanya memperburuk persepsi bahwa Trump telah menjadi racun politik. Tidak hanya presiden tidak dapat memenangkan pemilihan ulang, tetapi kendali Partai Republik atas Senat menguap ketika dua orang anggota petahana Republik di Georgia kalah meskipun presiden berkampanye atas nama mereka – semua itu terjadi sebelum kekacauan pecah di aula Kongres.
Trump mungkin berharap sekali lagi, untuk dapat melawan ekspektasi dengan beroperasi di luar arus utama, meskipun dukungan terhadapnya mungkin berkurang. Saluran kabel konservatif pinggiran telah menemukan diri mereka di bawah ancaman tindakan hukum, karena menggemakan tuduhan kampanye Trump tentang mesin pemungutan suara yang dicurangi. Sementara itu Cumulus Media mengatakan kepada pembawa acara radio konservatif untuk berhenti menyarankan pemilihan telah dicuri, demikian menurut Inside Music Media.
Dan peran Trump dalam kerusuhan itu membuatnya kehilangan “megafon” terpentingnya – akun Twitter @realDonaldTrump miliknya sekarang ditangguhkan secara permanen.
Trump mencoba mencari panggung lain di media sosial dengan mengatakan bahwa dia sedang mempertimbangkan untuk meluncurkan jaringan media sosial alternatifnya sendiri. “Mereka seharusnya tidak melakukannya,” kata Trump. “Tapi selalu ada tindakan balasan saat mereka melakukan itu,” katanya mengancam. [sm]
JAYAKARTA NEWS − Ketika ancaman pemakzulan kedua membayangi, Presiden Donald Trump pada Kamis (7 Januari 2021) mengakui bahwa Joe Biden akan menjadi presiden AS berikutnya. Pengakuan atas kemenangan Biden itu disampaikan sehari setelah para pendukungnya menyerbu Capitol AS, saat Kongres tengah menggelar agenda pengesahan kemenangan Biden.
Trump, yang semenjak 3 November terus mengklaim secara palsu bahwa kemenangan dalam pemilu telah dicuri darinya, mengatakan ia sekarang fokus ke peralihan kekuasaan dan memastikan transisi dapat berjalan mulus ke pemerintahan Biden, demikian dinyatakan dalam sebuah video yang dirilis pada Kamis malam waktu Washington.
Biden, seorang Demokrat, akan dilantik pada 20 Januari. Presiden mengutuk kekerasan hari Rabu, dengan mengatakan perusuh telah mencemari kursi demokrasi Amerika.
“Melayani sebagai presiden Anda telah menjadi kehormatan seumur hidup saya,” kata Trump. “Dan untuk semua pendukung saya yang luar biasa, saya tahu Anda kecewa, tetapi saya juga ingin Anda tahu bahwa perjalanan luar biasa kita baru saja dimulai.”
Pernyataan itu sangat berlawanan dengan Trump, yang telah menghabiskan berbulan-bulan bersikeras bahwa dia menang dalam pemilihan 3 November, dan dia mengklaim telah menjadi korban “penipuan yang meluas”, meskipun klaim itu tidak ada bukti.
“Sekarang Kongres telah mensertifikasi hasil. Pemerintahan baru akan diresmikan pada 20 Januari. Fokus saya sekarang beralih ke (bagaimana) memastikan transisi kekuasaan yang mulus, tertib dan mulus. Momen ini membutuhkan penyembuhan dan rekonsiliasi,” katanya
Provokasi Trump pada hari Rabu kepada ribuan pendukung bahwa mereka harus berbondong-bondong ke Capitol untuk memprotes hasil pemilihan, akhirnya berubah menjadi aksi anarkhis. Massa menyerbu petugas polisi dan gedung Capitol. Massa memaksa anggota Kongres bersembunyi demi menjaga keselamatan mereka.
Para petinggi Demokrat di Kongres, Ketua DPR Nancy Pelosi dan pemimpin Senat Demokrat Chuck Schumer, meminta Wakil Presiden Mike Pence dan Kabinet Trump untuk menggunakan Konstitusi AS untuk mencopot Trump karena “hasutannya untuk memberontak”.
Amandemen ke-25 memungkinkan mayoritas Kabinet untuk menggulingkan presiden dari kekuasaan jika dia tidak dapat menjalankan tugas kantornya.
Tetapi seorang penasihat Pence mengatakan wakil presiden, yang harus memimpin upaya semacam itu, menentang penggunaan amandemen untuk menggulingkan Trump dari Gedung Putih.
Jika Pence gagal bertindak, Pelosi mengisyaratkan dia kemungkinan akan mengumpulkan kembali DPR untuk memulai proses pemakzulan terhadap Trump atas perannya dalam kekerasan hari Rabu, yang merenggut lima nyawa, termasuk seorang petugas Kepolisian Capitol, yang kematiannya dikonfirmasi di Twitter oleh Dewan Perwakilan AS.
Sejumlah politisi Partai Republik juga menyerukan pencopotan Trump. Halaman editorial Wall Street Journal, yang dianggap sebagai suara utama dari partai Republik, meminta Trump untuk mengundurkan diri pada Kamis malam.
Beberapa anggota pemerintahan Trump, termasuk Elaine Chao, Menteri Transportasi dan istri Pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell, mengundurkan diri sebagai isyarat simbolis terhadap kekerasan tersebut. [pers biro/ sm]
Tulisan Paul Krugman (ekonom kondang AS) bisa jadi pembelajaran kita bersama untuk melihat para pemimpin kita secara lebih kritis — dalam hal ini belajar dari tindakan Presiden AS Donald Trump.
Mungkin
tujuh atau delapan tahun lalu, saya sempat berbincang, yang tidak pernah
terlupakan, dengan seorang mantan Marinir AS, yang bertugas di Irak dan
Afghanistan. Dia dipensiunkan dengan hormat setelah cedera berat akibar ranjau,
meski dia berhasil pulih sepenuhnya. Sama seperti perwira militer lain, dia
orang yang berpengetahuan luas dan juga
pemikiran yang baik, hampir seperti seorang intelektual — orang yang saya
bisa ajak berdiskusi, kendati dia punya pengalaman yang tidak bisa saya
bayangkan.
Dia
menjelaskan pengalamannya dalam kehidupan setelah masa tugas miter tidaklah
menyenangkan. Karena, “ dalam kehidupan sipil tidak ada rasa saling menghormati
(respek).”
Meski
terasa agak aneh, saya bisa memahaminya. Saya punya kehidupan profesional yang
bagus, memperoleh penghasilan baik dan saya menikmati pekerjaannya. Namun
kadang-kadang saya merasa saya harus berbuat lebih – ingin mencapai tujuan
lebih besar, termasuk siap memberi pengorbanan besar jika diperlukan. Saya juga
tahu, bukah hanya saya saja yang berpikir seperti ini, atau mengagumi pejabat
publik, bukan hanya dari militer, yang hidup berdasarkan kode etik (etika moral
yang tinggi).
Tapi
kalau anda (sebagai pejabat publik) sangat berkuasa dan korup, anda tidak akan
mengagumi orang-orang yang melayani (negara dan rakyat) dengan etika
(kehormatan). Sebaliknya, anda akan membenci dan takut terhadap mereka, karena
mereka punya rasa tanggung jawab besar terhadap tugasnya dan menghalangi
langkah – langkah anda. Dan anda paling benci terhadap siapapun yang merasa
kagum terhada pejabat publik yang memegang teguh moralitas, yang artinya
menjadi sangat sukar menyingkirkan mereka.
Kebencian
terhadap praktek moral tinggi (etika), saya percaya terkait dengan dua cerita
tentang (Presiden AS Donald) Trump beberapa waktu lalu.
Satu
cerita mengenai Marie Yovanovitch, mantan duta besar AS untuk Ukraina yang
dipecat Trump. Duta besar diangkat dan dilengserkan oleh presiden, jadi pemecatannya
adalah legal — pasti. Dalam beberapa hari testimoni (sidang Kongres AS soal
pemakzulan presiden — catatan editor) terlihat jelas Trump menghendaki
Yovanovitch keluar karena dia berketetapan melaksanakan tugasnya (sebgai duta
besar AS) dengan melayani negaranya dan bukan kepentingan personal Trump.
Salah
satu sebab Trump tetap saja berusaja menyudutkan Yovanovitch adalah mantan
dubes tetap pada pendiriannya menjadi pejabat yang tetap menyujug tinggi
moralitas kendati bertentangan dengan presiden. Orang bisa membayangkan betapa
marahnya Trump ketika dia memperoleh sambutan besar di parlemen.
Cerita
lain mengenai kehormatan berupa
keputusan Trump —- meski ditentang semua pemimpin militer — memberi
pengampunan kepada tiga prajurit AS yang dituduh atau sudah dihukum melakukan
kejahatan perang.
Kenapa
dia mengampuni mereka? Trump “mencuit” di Twiter menyatakan dia sedang
mempelajari kasus mereka. Kemudian dia mengatakan,”Kami melatih pemuda kami
jadi mesin pembunuh, kemudian mengadili mereka ketika mereka membunuh”. Namun itulah sebabnya, tentara punya kekuatan
luar biasa dan juga tanggung jawab ketika menembak mati orang lain ketika
sedang bertugas di lapangan dan mereka harus tidak melakukan tindakan itu
sembarangan. Perilaku terhormat (dan bermoral) bukanlah halangan, yang tidak
mengenakkan, untuk menggunakan kekuatan itu, sehingga militer bukan serombongan
preman bersenjata saja.
Namun
Trump membenci mereka, yang bertugas dengan menyunjung tinggi kehormatan (dan
etika). Dia lebih suka ‘preman’.
Inilah salah satu dari Trumpism. Bukan hanya sebuah ideology saya tidak setuju; bukan hany sekedar kultus individu yang memuliakan seorang pemimpin yang seharusnya semua orang tidak menyanjungnya. Ini adalah inti dari penolakan terhadap nilai-nilai yang kita pikir jadi dasar negara kita. Anda mungkin berkata bahwa Trump sedang berperang melawan kebenaran, keadilan, dan nilai Amerika. Dan inilah yang paling menakutkan, dia bisa saja menang perang ini. (*/leo patty)
KEBIJAKAN tarif Presiden AS Donald Trump atas barang-barang China senilai US $ 250 miliar akan diselidiki oleh Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), menyusul ketidakkonsistenan Amerika terkait dengan yang ditetapkan WTO.
Hari Senin ini, 28 Januari 2019, hakim perselisihan perdagangan (arbitrase) kemungkinan akan memulai penyelidikan untuk mengetahui apakah yang dilakukan Trump bertentangan dengan persyaratan bahwa semua anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) harus saling memberikan perlakuan tarif yang sama, seperti yang ditegaskan China.
Investigasi tersebut dilakukan pada dua penguasa ekonomi terbesar di dunia berada dalam situasi yang sulit terkait dengan putaran baru pembicaraan perdagangan yang diperkirakan akan dimulai pada 30 Januari.
Jika kesepakatan tidak tercapai pada 1 Maret, pemerintahan Trump telah mengancam untuk menaikkan tarif tarif barang-barang China senilai US $ 200 miliar, naik dari posisi semula 10 persen menjadi 25 persen.
“Kasus WTO ini sangat signifikan, karena berkaitan dengan masalah hukum internasional dalam perang dagang AS dengan Tiongkok – apakah AS dapat memberlakukan pembatasan perdagangan terhadap China sebagai tanggapan atas dugaan pelanggaran WTO yang disampaikan Tiongkok, tanpa terlebih dahulu mencari penyelesaian sengketa di WTO, ” kata James Bacchus, yang mantan anggota Kongres Demokrat dan kepala badan banding WTO.
“Saya percaya tarif AS ini tidak konsisten dengan kewajiban WTO, tetapi akan diserahkan kepada penerus saya di badan banding WTO untuk memutuskan.”
WTO telah menghadapi ancaman eksistensial atas penahanan yang telah dilakukan AS terhadap nominasi hakim banding yang baru.
Sejauh tidak ada reformasi, sayap pengambilan keputusan WTO hanya memiliki terlalu sedikit hakim untuk memutuskan kasus pada akhir tahun ini. Penyelidikan baru ini dapat lebih memusuhi AS, yang akan memandang bahwa WTO telah melampaui kewenangannya.
Penyelidikan ini merupakan permintaan kedua Tiongkok terkait dengan perang dagang dengan Amerika. Yang pertama bulan Desember lalu, yang kemudian diveto oleh AS. Penyelidikan kemungkinan akan dilakukan pada Senin ini, karena aturan WTO mencegah anggota dari memblokir penyelidikan sengketa untuk kedua kalinya.
Cina sendiri tampaknya tidak akan mengharapkan begitu besar bahwa resolusi untuk penyelidikan ini akan dilakukan dalam waktu dekat ini, mengingat tumpukan dalam sistem penyelesaian sengketa WTO.
Sejauh ini, saat ini sebanyak 23 perselisihan telah diajukan terhadap pemerintah AS, termasuk penyelidikan Uni Eropa mengenai tarif yang dikenakan terhadap impor aluminium dan baja.
“Ketegangan perdagangan ini bukan hanya ancaman bagi sistem, mereka juga merupakan ancaman bagi seluruh komunitas internasional,” Roberto Azevedo, direktur jenderal WTO, mengatakan pekan lalu. “Risikonya sangat nyata dan akan ada dampak ekonomi.”
Kasus ini telah menusuk ke jantung konflik perdagangan AS-Cina. Masalah bersumber dari pernyataan Trump yang menyebutkan bahwa tarif itu diperlukan untuk melawan dugaan kampanye Cina yang mencuri kekayaan intelektual Amerika.
AS menentang adanya investigasi tersebut dengan dalih bahwa masalah ketentuan tarif berada di luar jangkauan WTO. ***
USULAN Presiden Donald Trump untuk menembus kebuntuan anggaran, tampaknya mendapat sedikit daya tarik pada Senin, karena masalah gaji yang terlewatkan muncul untuk ratusan ribu pegawai dan penutupan sebagian pemerintah federal berlanjut hingga minggu kelima.
Terlepas dari kehebohan pernyataan presiden, pemungutan suara di Kongres tampaknya tidak dapat begitu diharapkan akan berlangsung sampai akhir pekan ini.
Bahkan muncul keraguan, bahwa undang-undang yang berdasarkan pada rencana Trump, memiliki peluang untuk secepatnya mendapat persetujuan dari Senat. Memang, Partai Republik memegang mayoritas 53-47, tetapi Trump masih membutuhkan dukungan Demokrat untuk mencapai ambang batas 60 suara, untuk bisa meloloskan undang-undang.
Sejauh ini tidak ada satu pun senator Demokrat yang secara terbuka menyatakan dukungannya untuk kesepakatan dalam 48 jam sejak Trump mengumumkannya.
Kantor pemimpin Senat Demokrat, Chuck Schumer menegaskan pada hari Senin, bahwa mereka tidak mau menegosiasikan pendanaan keamanan perbatasan tersebut sampai dengan Trump membuka kembali pemerintah.
“Tidak ada yang berubah dengan tawaran terbaru Republik,” kata juru bicara Schumer, Justin Goodman.
“Presiden Trump dan Senat dari Partai Republik masih mengatakan: “Dukunglah rencanaku atau pemerintah tetap tutup. “Itu bukan kompromi atau negosiasi – itu hanya penyanderaan yang lebih besar.”
Sementara itu DPR dan Senat yang dijadwalkan akan kembali lagi pada sesi Selasa, sejauh ini tidak ada informasi bahwa mereka telah dijadwalkan untuk rencana Trump. Para senator, akan diberikan pemberitahuan 24 jam sebelum pemungutan suara, sejauh ini belum dipanggil kembali ke Washington.
Juru bicara McConnell David Popp mengatakan pada hari Senin, bahwa pemimpin GOP “akan pindah” untuk memilih berdasarkan pertimbangan proposal presiden “minggu ini.”
Trump, yang pada hari Minggu mengecam di Ketua DPR Nancy Pelosi, dengan menuduhnya telah bertindak “tidak rasional.”
“Jika Nancy Pelosi berpikir bahwa tembok adalah “tidak bermoral,” mengapa dia tidak meminta kami untuk mengambil (merobohkan) semua tembok yang ada antara AS dan Meksiko,” tulisnya Senin. “Biarkan jutaan” orang asing “yang tidak diperiksa mengalir ke A.S.”
Demokrat di DPR pekan ini mendorong maju pemungutan suara pada undang-undang mereka sendiri untuk membuka kembali pemerintah dan menambah $ 1 miliar untuk keamanan perbatasan – termasuk 75 lebih banyak hakim imigrasi dan perbaikan infrastruktur – tetapi tidak ada dana untuk tembok.
“Demokrat bercanda sendiri (mereka tidak benar-benar percaya!) Jika mereka mengatakan Anda dapat menghentikan Kejahatan, Narkoba, Perdagangan Manusia dan Karavan tanpa Tembok atau Baja Barrier. Berhentilah bermain game dan berikan Amerika Keamanan yang pantas. Krisis Kemanusiaan!,” tulis Trump di akun twitternya.
Sementara itu, dampak dari penutupan —yang terpanjang yang pernah— terus bergoyang di seluruh bangsa saat merentang hingga hari ke-31.
Pihak otoritas keamanan transportasi di bandara mengatakan, persentase dari para petugas scanner/penapis di bandara yang tidak bekerja mencapai 10 persen pada hari Mingg, naik dari 3,1 persen pada hari Minggu yang sebanding tahun lalu.
Para petugas scanner yang telah bekerja tanpa bayaran, telah mengungkapkan kesulitan keuangan mereka sebagai alasan tidak dapat melaporkan untuk bekerja. Meski begitu, pihak otoroitas keamanan transportasi bandara itu mengatakan, bahwa mereka telah menskrining 1,78 juta penumpang pada hari Minggu dengan hanya 6,9 persen yang harus menunggu 15 menit atau lebih lama untuk melewati pemeriksaan keamanan.
Penutupan pemerintah itu juga mengancam akan mengganggu rencana pelayanan tahunan Martin Luther King Jr. di Gereja Ebenezer Baptist Atlanta. Situs ini dijalankan oleh Layanan Taman Nasional dan terpaksa ditutup. Tetapi hibah dari Delta Air Lines kemudian menjaga gereja dan situs terkait, termasuk rumah tempat King dilahirkan, tetao bisa buka sampai 3 Februari.
Trump pada hari Sabtu menawarkan untuk memperpanjang perlindungan sementara bagi imigran muda yang dibawa ke negara itu secara ilegal ketika anak-anak dan mereka yang melarikan diri dari zona bencana selama tiga tahun dengan imbalan $ 5,7 miliar untuk tembok perbatasannya.
Demokrat mengatakan proposal untuk perpanjangan tiga tahun tidak dapat berjalan cukup jauh, dan Trump menggunakan sebagai program yang dia targetkan. Sementara itu, beberapa aktivis sayap kanan, termasuk komentator konservatif Ann Coulter, menuding Trump telah menawarkan “amnesti.”
“Tidak, Amnesty bukan bagian dari tawaran saya,” tulis Trump, Minggu, sebagai tanggapan atas perkembangan itu. Menurutnya, dia menawarkan perlindungan sementara untuk imigran yang bersangkutan. “Amnesti hanya akan digunakan pada kesepakatan yang jauh lebih besar, baik untuk imigrasi atau hal lain,” tandasnya.***
SEORANG model Belarusia dan instruktur seks mandiri, yang tahun lalu mengaku memiliki bukti campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS 2016, hari Sabtu di Moskow menyatakan permintaan maafnya kepada seorang taipan Rusia atas klaim tersebut.
Anastasia Vashukevich membuat pernyataan di pengadilan Moskow, yang mempertimbangkan apakah akan menahannya di penjara karena dia menghadapi dakwaan bujukan untuk pelacuran. Pengadilan memperpanjang penahanannya selama tiga hari lagi.
Pernyataan Vashukevich itu tampaknya menghalangi setiap kesempatan dia berbicara kepada penyelidik A.S. yang mencari kemungkinan kolusi antara Rusia dan kampanye Presiden Donald Trump.
Vashukevich, yang memakai nama Nastya Rybka di media sosial, ditangkap di Thailand pada Februari tahun lalu atas tuduhan pelacuran. Dia dan beberapa orang lainnya ditangkap sehubungan dengan seminar pelatihan seks yang diadakan di Thailand.
Setelah penangkapannya, dia mengklaim memiliki kaset audio taipan Rusia Oleg Deripaska, yang dekat dengan Presiden Vladimir Putin, berbicara tentang campur tangan dalam Pilpres A.S.
Dia telah menarik perhatian dunia beberapa minggu sebelumnya ketika seorang pemimpin oposisi Rusia menerbitkan penyelidikan berdasarkan pos-pos media sosialnya yang menyarankan hubungan korup antara Deripaska dan Wakil Perdana Menteri Sergei Prikhodko.
Anastasia Vashukevich, yang dikenal di media sosial sebagai Natasya Rybka, tiba di ruang pengadilan Moskow, Rusia, Sabtu, 19 Januari 2019.
Laporan tersebut menampilkan video dari kapal pesiar Deripaska pada tahun 2016, ketika Vashukevich mengatakan bahwa dia berselingkuh dengannya.
Dia dideportasi dari Thailand pada hari Kamis lalu setelah mengaku bersalah dan ditahan ketika tiba dari penerbangannya di Moskow, bersama dengan tiga orang yang dideportasi termasuk mentor Alexander Kirillov.
Dia mengatakan kepada wartawan di pengadilan Moskow, bahwa dirinya meminta maaf kepada Deripaska dan mengatakan, “Saya tidak akan lagi berkompromi dengannya.”
Deripaska termasuk di antara taipan dan pejabat Rusia yang telah diberi sanksi dalam beberapa tahun terakhir oleh Amerika Serikat, sehubungan dengan aneksasi Krimea Rusia tahun 2014. Kerajaan bisnisnya meliputi aset aluminium, energi, dan konstruksi.
Dia juga pernah menjadi klien Paul Manafort, mantan manajer kampanye untuk Trump. Manafort dihukum tahun lalu di Amerika Serikat, karena masalah pajak dan penipuan bank.***
Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden AS Donald Trump–foto south china morning post
Oleh: Dahlan Iskan
G-20 kalah dengan G-2.
Pertemuan 20 negara terbesar di dunia (ekonominya) itu tenggelam. Oleh 2 orang ini: Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Argentina menjadi saksinya.
Maka, kalau ditanya apa hasil pertemuan G-20? Di Argentina? Tanggal 30 November 2018?
Tidak banyak yang tahu.
Tapi kalau ditanya apa hasil pertemuan antara Jinping dan Trump? Di Argentina? Sehari kemudian itu?
Anda pun tahu jawabnya: gencatan senjata. Sepakat untuk tidak meningkatkan perang dagang. Antara Amerika dan Tiongkok.
Gencatan senjata itu berlangsung 90 hari.
Juru runding kedua negara akan bertemu. Harus sudah menyepakati banyak hal.
Sementara mereka berunding Amerika membatalkan rencananya: menaikkan bea masuk barang Tiongkok. Dari tambahan 10 persen menjadi 25 persen. Yang nilainya mencapai US 200 miliar dolar. Yang rencananya dimulai 1 Januari depan.
Tiongkok pun membatalkan rencana balasan setimpalnya.
Agenda yang harus diselesaikan adalah: Tiongkok harus membeli barang lebih banyak dari Amerika. Terutama produk pertanian. Ini sebenarnya sudah lama ditawarkan Tiongkok.
Agenda lain: soal transfer teknologi. Soal perlindungan hak cipta. Soal perluasan kesempatan berusaha di Tiongkok bagi perusahaan Amerika. Dan sebaliknya. Soal intip-mengintip rahasia negara. Lewat teknologi cyber. Soal kebijakan one China policy dalam urusan Taiwan.
Ups… banyak banget.
Bagaimana kalau dalam tiga bulan tidak ada kesepakatan? Perang dimulai lagi. Tarif 25 persen diberlakukan. Tiongkok pun membalas dengan tit for tat.
Jinping sudah banyak mendapat pelajaran pahit. Selama perang dagang. Empat bulan terakhir: pertumbuhan ekonominya menurun satu persen.
Trump juga mendapat pelajaran. Petaninya marah-marah.
Tapi tim negosiasi juga masih sulit. Waktu tiga bulan semoga cukup.
Untungnya situasi lingkungan sudah berubah. Sedikit.
Di Amerika, Partai Republik kalah. Dalam Pemilu sela. Bulan lalu. DPR kini dikuasai Partai Demokrat.
Di Tiongkok juga muncul kesadaran baru. Berakar dari sejarah Tiongkok kuno: mengalah untuk menang.
Bahkan filsafat Deng Xiaoping dimunculkan kembali. Agar Tiongkok jangan terlalu menepuk dada dulu. “Sembunyikan kekuatanmu. Pupuk kemampuanmu”.
Di Taiwan juga ada perubahan: Partai yang ingin Taiwan merdeka kalah. Dalam Pemilu bulan lalu. Yang pro-Tiongkok menang.
Daerah-daerah di Taiwan pun mulai bikin rencana sendiri: mempererat hubungan. Antara satu daerah di Taiwan dengan satu daerah di Tiongkok. Tanpa membicarakannya dengan pemerintah pusat di Taipei. Yang presidennya masih yang pro-merdeka.
Tiongkok kelihatannya juga berubah: tidak akan memaksakan merebut Taiwan tahun 2025. Masih perlu “memupuk kemampuan” lebih lama.
Mungkin sampai memiliki lima kapal induk dulu. Yang sekarang baru punya dua. Tiongkok tidak akan kesusu. Toh situasi di Taiwan juga sudah berubah.
Kita, yang menonton perang dagang itu sambil berdebar, bisa menarik nafas panjang.
Jair Bolsonaro, Presiden Brazil terpilih. (sumber: intpolicydigest.org)
Oleh: Dahlan Iskan
Hari ini pemilihan presiden di Brazil. Babak final. Putaran pertamanya 20 hari lalu. Diikuti 13 pasangan. Tidak ada yang mendapat suara lebih 50 persen.
Dua peraih suara terbanyak ditanding ulang. Tanggal 28 Oktober ini: Jair Bolsonaro dan Fernando Haddad, mantan walikota Sao Paolo. Pemenangnya hampir pasti: Bolsonaro. Di putara pertama Bolsonaro unggul jauh: 46 persen lawan 29 persen.
Yang ikut dag-dig-dug kelihatannya Tiongkok. Bolsonaro dikenal sebagai Donald Trump-nya Brazil. Ia menggunakan isu ‘’Brazil First’’. Dalam kampanyenya. Dan anti Tiongkok. Kayaknya.
Salah satu slogan kampanyenya dihafal rakyatnya: Tiongkok bukan membeli di Brazil, tapi membeli Brazil.
Sebenarnya tidak terlalu tepat menyamakan Bolsonaro dengan Trump. Ia bukan seorang konglomerat. Alirannya pun beda jauh: sosial liberal. Mungkin ia menggunakan isu Tiongkok untuk daya tarik kampanye saja.
Bolsonaro adalah tentara. Pangkatnya hanya kapten. Masih tinggian AHY. Pasangan sang kapten yang justru jendral: Hamilton Mourao. Sedangkan Trump pengusaha murni. Sejak muda.
Umur mereka juga beda jauh: 10 tahun. Bolsonaro berumur 63 tahun.
Satu hal yang bisa dianggap sama: isterinya yang sekarang adalah yang ketiga. Isteri pertama diceraikannya. Setelah mendapat dua anak. Isteri berikutnya juga dicerai. Dapat satu anak.
Istri yang sekarang yang paling menarik perhatian. Pernah ia rekrut sebagai sekretaris di legislatif. Dengan gaji tiba-tiba tinggi. Jabatan itu hilang ketika Brazil menelorkan UU baru: anti nepotisme. Untuk di birokrasi pemerintahan.
Di kita nepotisme belum dianggap melanggar hukum. Dari tiga huruf KKN baru dua K yang dilarang. Bolsonaro dianggap bersih dari dua K.
Orang berani memang sering mendapat momentum. Untuk nasib baik. Untuk nasib buruk. Keberanian Bolsonaro membuat nasibnya buruk. Sebentar. Lalu bernasib baik sekali. Mula-mula ia disingkirkan dari kesatuannya: pasukan para. Mirip Kopassus. Ke pasukan cadangan. Penyebabnya: Bolsonaro berani menulis di media massa. Dengan topik yang sangat ‘bukan sikap prajurit’: mengeluhkan kecilnya gaji tentara.
Keberaniannya itu mendapat sambutan hangat. Termasuk dukungan tertulis. Dari internal tentara sendiri.
Heboh. Bolsonaro menjadi top.
Momentum disingkirkan itu membuatnya ambil putusan: masuk ke dunia politik. Nyaleg untuk DPRD kota Rio de Jeneiro. Lewat Partai Kristen. Terpilih.
Karir politik Bolsonaro terus melejit. Tahun 1990 nyaleg untuk DPR Pusat. Umurnya baru 35 tahun. Terpilih. Dan terus terpilih. Menjadi anggota DPR selama 28 tahun.
Ia melihat saat ini kepercayaan rakyat pada pemerintah terus menurun. Muak. Dengan korupsi yang terus terbongkar. Juga dengan parahnya penegakan hukum.
Kapten Bolsonaro pun mencalonkan diri. Lewat Partai Sosial Demokrat.
Bahwa rakyat mengidentikannya dengan Trump adalah juga watak tegasnya. ”Kalau ada polisi yang menembak 10, 15, 20 orang jahat ia harus mendapat penghargaan,” katanya.
”Kalau polisi menghabiskan peluru sampai 30 butir untuk menembak satu penjahat harus diapresiasi,” tambahnya.
Kalau Bolsonaro terpilih, ia harus menghadapi kenyataan: bagaimana hubungan Brazil dengan Tiongkok. Ibarat madu dan racun. Menjadi satu.
Memang luar biasa banyaknya proyek Tiongkok di Brazil. Dan besarnya. Tapi juga begitu banyak Brazil ekspor ke Tiongkok. Terutama bijih besi dan kedelainya.
Apalagi sejak perang dagang Amerika-Tiongkok. Kedelai Brazil membanjiri Tiongkok. Itu menyangkut 40 persen pemilih. Yang jadi pendukungnya.
Tiongkok telah investasi 124 milyar dollar di sana. Beli apa saja: tambang, minyak, pelabuhan, kereta api.. Tiongkok juga membeli perusahaan strategis: Molybdenum Co. Dengan harga 1,7 milyar dollar.
Molybdenum adalah bahan aditiv untuk peleburan baja. Agar bajanya bisa lebih ringan tapi juga lebih kuat. Brazil menguasai 85 persen sumber bahan ini. Tiongkok sangat memerlukannya untuk kemajuan teknologinya. Brazil memang penghasil kedelai yang hebat. Kita tunggu saja apakah Bolsonaro itu kedelai atau tempe. ***