“Ketidakpastian” Kata Kunci Seni Pertunjukan

Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi” HUT ke-50 Teater Alam

JAYAKARTA NEWS – Dunia seni pertunjukan menghadapi kenyataan tentang “ketidakpastian”. Itulah tantangan terkini dunia seni pertunjukan. “Tidak saja di Indonesia, tetapi juga dunia,” ujar Dirjen Kebudayaan, Kemendikbud, Hilmar Farid, Ph.D saat tampil sebagagi keynote speaker Seminar “Reposisi Seni Pertunjukan di Era Disrupsi”, di Museum Sonobudoyo Yogyakarta, Selasa (25/10).

Hilmar menyambut baik tema seminar yang diselenggarakan dalam rangka memperingati HUT Teater Alam ke-50 itu. Sekalipun, bagi Hilmar, tema “disrupsi” bukan tema baru. Akan tetapi, faktanya, semua elemen kehidupan memang mengalami persoalan disrupsi. Mengalami dampak disrupsi, baik sosial maupun ekonomi.

Dirjen Kebudayaan yang sejarawan itu mengajak peserta seminar untuk sebelumnya memahami terlebih dulu apa itu disrupsi dan apa yang menyebabkan disrupsi. Selama ini, kita cenderung hanya fokus pada urusan teknologi, padahal teknologi adalah salah satu bagian dari disrupsi yang bersifat multidimensional.

Saat ini, disrupsi yang terjdi jauh lebih besar dampaknya terhadap dunia kesenian kita. Bukan hanya teknologi tapi bagaimana lansekap produksi bergeser dan berubah drastis. “Jadi di sini bukan tentang panggung pertunjukan, tapi disrupsi yang terjadi pada panggung pertunjukan,” ujar pria kelahrian Bonn, Jerman itu.

Tiga Elemen

Dirjen Kebudayaan menyitir terbitnya sebuah publikasi PBB yang memotret sebuah kondisi yang begitu kompleks yang disebut “ketidakpastian baru”. Jadi kata kuncinya “ketidakpastian”. Ada tiga elemen yang menjadi sumber ketidakpastian.

Pertama, perubahan pada bumi kita, lingkungan kita, iklim kita. Alhasil, kita merasakan adanya cuaca ekstrem, banjir bandang, kekeringan yang berakibat pada gagal panen, gagal menangkap ikan, dan dampak buruk yang lain.

Kedua, transformasi sosial yang cepat dan mendasar. Sebuah perubahan yang signifikan. Ketiga, polarisasi sosial. “Nah, siapa yang harus bertanggung jawabatas ketidakpastian itu? Kita semua. Ingat, krisis serupa tidak saja terjadi di Indonesia bahkan di Eropa dan belauhan dunia yang lain,” tegas Hilmar.

Ia berharap seminar mengarahkan konteks kea rah sana. Ke arah tiga elemen ketidakpastian yang secara nyata kita hadapi. Sebab, itu semua akan berhubungan langsung dengan dunia seni pertunjukan.

Reposisi di era disrupsi, menurut Hilmar Farid, adalah bagaimana kita merespon keadaan. Merespon perubahan-perubahan yang sangat cepat. Misalnya dimulai dari respon terkait konten, kreasi, konsep, baik di tingkat teks yang ingin disampaikan. Narasi apa yang hendak diangkat untuk menyampaikan isi. Terakhir, memikirkan bentuk virtual, skema distribusi, dan lain-lain. “Kita tempatkan reposisi seni pertunjukan dengan mempertimbangan konteks tadi,” tegasnya.

Seni pertunjukan juga diharap tidak tenggelam dalam platform digital, termasuk media sosial. Lebih dari itu, sebuah karya seni pertunjukan harus bisa ikut memaknai dan mempengaruhi keramaian media sosial yang ada dalam platform digital.  “Perlu kerja cerdas, kreatif, dan kekinian,” ujarnya. (rr)

37 Tahun Slank, Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan): ‘Ikon Kemajuan Budaya Indonesia’

JAYAKARTA NEWS—- Ultah band Slank ke 37 diperingati secara virtual, tanpa menggelar konser seperti tahun sebelumnya. Karena masih maraknya pandemi Covid-19, konser diganti menjadi acara yang tak kalah seru dan diberi tajuk ‘SlankFestival 2020’ dan dialog ‘Salute to Slank ’37 Tahun, Untuk Indonesia’.

Dihelat secara live streaming di Out the Box Cafe, Jakarta, Sabtu (26/12) dan Minggu (27/12), acara dialog menampilkan narasumber utama yaitu Dirjen Kebudayaan RI, Hilmar Farid dan pengamat musik Bens Leo. Selama dua hari itu, diputar video lama Slank ‘on stage’ dan dibalik panggung, komentar dan pendapat artis-artis Indonesia seperti Najwa Shihab, Joe Taslim, Nirina Zubir, Poppy Sovia, Tissa Biani, Hamish Daud dll.

Kali ini, Slank ‘nobar’ lima band junior didikan mereka selama ini di markas Slank, jalan Potlot. “Bagi para slanker, kami enggak main. Semua acara bisa ditonton di SlankTube alias di Channel Music Slank di YouTube,” ujar Bimbim, pendiri Slank yang meminta maaf karena ketakhadiran Ridho Hafieds (gitaris) karena sakit dan harus dikarantina selama 14 hari di rumah.

Yang hadir dalam acara dialog adalah Bim Bim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bas) dan Abdee Negara (gitar). Dipandu Buddy Ace, acara dialog berjalan lancar. Dua nara sumber menceritakan kisi-kisi perjalanan Slank di kancah musik Indonesia.

Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan mengaku salut atas perjalanan karier musik Slank dan sampai saat ini masih eksis. “Slank mampu menjadi ikon musik untuk perkembangan dan kemajuan budaya Indonesia di mata Internasional,” demikian penilaian Hilmar Farid.

Sedangkan Bens Leo mengamati Slank sebagai pengusung musik rock dan mampu menghipnotisir khalayak di setiap konsernya. “Slank juga band rock yang tetap kompak dan bertahan dengan formasi lamanya,” papar Bens Leo. Slank dibangun oleh anak-anak SMA Perguruan Cikini tanggal 26 Desember 1983 oleh Bim Bim. Kala itu, band ini membawa bendera Cikini Stone Complex (CSC) karena acap membawakan lagu-lagu Rolling Stones di panggung.

Dimotori Bim Bim, CSC mengalami 14 kali pergantian personel. Dan formasi terakhir bertahan tahun 1996 dengan mempertahankan Kaka, Ivanka, Ridho, Abdee dan Bim Bim. Di tahun itulah, Slank mengalami masa kelam dengan didepaknya 3 personelnya yaitu BIP (Bongky, Indra dan Pay) yang jadi pengguna narkoba.

Justru dengan formasi terkini, Slank sekarang dinobatkan sebagai band anti-narkoba. Berdasar catatan, Slank termasuk band dengan honor tertinggi yaitu Rp500 juta sekali main di tahun 2008-2009 (Indonesian Highest Paid Music Star). Tahun 2020 saat ultah Slank ke-37, kita ngeSlank dari rumah masing-masing dulu ya. (pik)

Kemendikbud Minta Maaf, Somasi Jalan Terus

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengklarifikasi isu penayangan film ‘Sejauh Kumelangkah’ dalam program Belajar Dari Rumah (BDR) di TVRI, 25 Juni 2020 (BDR tayang pertama 13 April 2020).

Dalam hal ini, Kemendikbud mendukung pembelajaran jarak jauh dan BDR adalah bentuk gotong royong pembelajaran yang dilakukan oleh berbagai pihak. Setelah 6 bulan berjalan, program ini diakui banyak manfaatnya bagi peserta didik, guru dan orang tua. Terlebih lagi, belajar dari rumah melalui internet sangat terbatas.

Tanggal 29 Juni 2020, in-Docs menjadi perantara sedari awal. Pihak in-Docs merasa keberatan atas tayangnya film dokumenter tersebut di Vidio.on-Demand-USee TV. Hal ini disebabkan karena sutradaranya, Ucu Agustin terikat kontrak dengan Jazeera International ketika tidak terikat kontrak hukum dengan Jazeera International untuk tidak menayangkan film tersebut dalam versi apa pun.

Untuk itulah, baru-baru ini, Kemendikbud minta maaf secara resmi dan ikut menurunkan film tersebut dari TVRI dan USee TV. “Ada kendala administrasi penayangan film Sejauh Kumelangkah. Kami beritikad baik. Tidak ada tujuan komersial dalam penayangan film tersebut di program BDR. Ini murni belajar melalui film,” kata Dirjen Kebudayaan, Hilmar Farid. “Kami menghormati aturan hukum yang berlaku dan berharap masalah ini segera rampung,” sambung Hilmar Farid. (pik)

Dua Presiden Tuan Rumah Asian Games

Gelora Bung Karno menjadi pembuka pameran instalasi “Dua Presiden Tuan Rumah Asian Games 1962-2018” di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Komplek Istana Bogor. Foto: Roso Daras

MUSEUM Kepresidenan Balai Kirti – Bogor menyambut Asian Games 2018 dengan cara berbeda. Minggu (20/5) sore, museum yang terletak di kawasan Istana Bogor itu menggelar pameran instalasi “Dua Presiden RI Tuan Rumah Asian Games 1962-2018”. Kegiatan yang merupakan pembuka rangkaian acara menyambut Ulang Tahun Balai Kirti itu, juga diisi acara bedah buku “Presiden Republik Indonesia 1945 – 2014”.

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid.

Dirjen Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid, hadir dan membuka acara dengan menggunting pita, didampingi Kepala Museum Balai Kirti, Amurwani Dwi Lestariningsih, serta para pendukung acara. Tampak di antaranya Duta Besar Laos untuk Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Museum Amurwani melaporkan, bahwa kegiatan ini terselenggara berkat kerjasama Balai Kirti dengan berbagai pihak, di antaranya Adhi Karya Kawasan sebagai mitra utama. Selain itu, pameran juga didukung mitra kerja ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), PPKGBK (Pusat Pengelolaan Kawasan Gelora Bung Karno), Kementerian PUPR, PT Unitri Cipta serta biro konsultan arsitek PT Atelier Enam.

Kepala Museum Balai Kirti, Amurwani Dwi L.

Inilah jawaban Balai Kirti atas imbauan Presiden Joko Widodo untuk menyambut Asian Games 2018, Agustus mendatang. Terkait hal itu, Balai Kirti menunjuk arsitek Yuke Ardhiati sebagai kurator. Yuke menguraikan proses terselenggaranya pameran tersebut, mulai dari riset sampai pembangunan instalasi dan pengaturan soal panel, dan lain-lain.

Memasuki ruang pamer, instalasi pertama yang dipajang adalah bangunan komplek Gelora Bung Karno yang megah. Gelora yang dibangun menyongsong perhelatan Asian Games 1962. Untuk mewujudkannya, Bung Karno sempat pergi ke Moskow. Di sana, kata Yuke, Bung Karno berdecak kagum menyaksikan kemegahan stadion utama. Sejak itu, Bung Karno menginginkan Indonesia pun memiliki stadion yang sama.

Kurator pameran, Yuke Ardhiati

Untuk mewujudkannya, Sukarno sebagai “tukang insinyur” mengambil referensi dari dunia pewayangan, Ramayana dan Mahabharata. Gubahan bentuk metafora Gelang Candrakirana, berbentuk benda melingkar di tangan tokoh Bima, melembangkan kecerdasan ksatria, tergambar mencorong seperti cahaya rembulan. Gestur angun Sri Rama sedang memanah pun menjadi ungkapan artistic yang menjiwai kecermatan, ketangkasan, dan kejujuran. Itulah yang menjadi spirit ever oward, maju terus, tertanam pada jiwa para atlet.

Nah, demi menyambut Asian Games 2018, 56 tahun kemudian, Komplek GBK kembali akan menjadi panggung dunia, setidaknya Asia. Terkait hal itu, Presiden ketujuh, Joko Widodo menginstruksikan kepada para arsitek agar tidak semata-mata merenovasi komplek GBK, tetapi juga memberi unsur kebaruan. Perlu ada aktualisasi dan sentuhan kekinian. Dalam waktu satu tahun, komplek GBK yang sudah menjadi monumen kebanggaan bangsa itu pun tampil dengan wajah yang lebih sempurna.

Museum Kepresidenan Balai Kirti menampilkannya dalam tata-pamer yang runtut dan menarik. Secara keseluruhan pameran ini menampilkan arsip dan artefak pendukung, yang merepresntasikan gagasan arsitektural dua Presiden Tuan Rumah Asian Games 1962 – 2018. Sebuah “Panggung Indonesia untuk Dunia”, menjemput kejayaan yang pernah hadir tujuh windu yang lampau. ***