Setahun Setelah Mas Bens Leo Pergi

JAYAKARTA NEWS –  “Setahun Bens Leo Pergi”, begitu tertulis di spanduk elektronik di M Bloc Space, Jalan Panglima Polim Raya, Melawai Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Spanduk elektronik itu memang sengaja dibuat dalam rangka memperingati setahun sudah pengamat musik sekaligus wartawan senior, Bens Leo wafat (29 November 2021).

”Ini sebagai bentuk penghormatan, karena jasa beliau dalam jurnalisme musik Indonesia dari era 1970  hingga 2000-an,” kata Wendy Putranto Co-Founder at M Bloc Group di tengah acara mengenang Setahun Bens Pergi di MBloc Space, 30 Noveber 2022.

Sekitar 50 tamu undangan hadir dalam acara tersebut. Antara lain, Triawan Munaf, Candra Darusman, Kadri Mohamad, Harry Koko Santoso dan sejumlah wartawan musik.

Titiek Hamzah menangis di depan Dr Pauline Endang. (foto Ipik)

Titiek Hamzah, eks personel band Dara Puspita menceritakan pengalaman dan suka dukanya bersama Bens Leo. Titiek Hamzah menangis tersedu-sedu dalam rangkulan isteri almarhum Bens Leo, dokter Pauline Endang. “Dia terlalu baik untuk saya, untuk seniman musik. Dan mas Bens terlalu cepat untuk pergi…,” ujar Titiek Hamzah terbata-bata.

Candra Darusman mengakui, perjalanan awal kelompok musik Chaseiro yang dipimpinnnya ikut dibentuk oleh Bens Leo.

”Saya dan Chaseiro memulai karier bermusik secara profesional darI Festival Musik, di mana Mas Bens menjadi juri. Sejak itu, ia rajin meliput dan menulis aktivitas kami,” kata Candra Ketua FESMI sekaligus Ketua Umum YAMI.

Sementara itu Triawan Munaf (Ketua Badan Ekonomi Kreatif 2005-2009), juga mengakui hal yang sama, ketika mengingat perjalanan kariernya sebagai anak band dalam kelompok Giant Step di tahun 1970-an.

“Kalau sudah bisa ditulis Mas Bens dan masuk di majalah Aktuil rasanya senang luar biasa! Soalnya Aktuil adalah media cetak musik yang paling top masa itu.”

Dalam perjalanan kemudian, Bens Leo tetap menjadi teman di mata Triawan.

“Satu yang paling saya ingat dari Mas Bens adalah pribadinya yang toleran. Meski menganut Katolik yang taat, namun di saat Ramadan, ia selalu mengirim salam berbuka puasa dan sahur! Itu luar biasa, 30 hari penuh tanpa bolong!”

Isteri almarhum Bens Leo, Dr Pauline Endang dan anak, Addo Gustaf. (foto Ipik)

Isteri mendiang Bens Leo , dr. Pauline Endang Praptini, MS, Sp.GK, yang hadir bersama putera tunggal Addo Gustaf mengaku terharu dengan penyelenggaran acara yang diinisiasi oleh sekumpulan sahabat Bens Leo.

“Di bulan Agustus, kelompok ini telah menerbitkan buku tentang Mas Bens berjudul Tatkala Musik Indonesia Dicatat. Sebuah buku bagus yang beberapa isinya, bahkan tidak saya ketahui sebelumnya. Sebuah penghormatan untuk Mas Bens, sekaligus penghiburan untuk kami yang ditinggalkan,” ucap Pauline dengan penuh haru.

Buku Tatkala Musik Indonesia Dicatat ditulis oleh Dion Momongan dan Nini Sunny. Buku setebal 242 halaman ini, berisi testimoni 123 narasumber dan memuat 276 foto, dan 46 foto di antaranya adalah foto selfi yang diambil sendiri oleh Bens Leo.

Nini Sunny dan Dudut SP, Panitia acara setahun wafat Bens Leo. (foto DSP)

“Buku ini mengungkap fakta tentang  peran dan aktivitas Bens Leo sepanjang  ia berkarier sebagai jurnalis, juri, sekaligus master of ceremony di berbagai event,” kata Dion Momongan.

Pada akhirnya fakta yang ditampilkan para narasumber memperlihatkan kepingan-kepingan cerita, yang ketika disatukan seperti kepingan puzzel.

“Dan kepingan itu bukan hanya memperlihatkan sejarah perjalanan karier Bens Leo pribadi, namun juga termuat tentang sejarah musik Indonesia,” ungkap Nini Sunny, sambil menyebut buku tersebut dicetak  secara terbatas dengan dana dari Kemendikbudristek. (pik)

37 Tahun Slank, Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan): ‘Ikon Kemajuan Budaya Indonesia’

JAYAKARTA NEWS—- Ultah band Slank ke 37 diperingati secara virtual, tanpa menggelar konser seperti tahun sebelumnya. Karena masih maraknya pandemi Covid-19, konser diganti menjadi acara yang tak kalah seru dan diberi tajuk ‘SlankFestival 2020’ dan dialog ‘Salute to Slank ’37 Tahun, Untuk Indonesia’.

Dihelat secara live streaming di Out the Box Cafe, Jakarta, Sabtu (26/12) dan Minggu (27/12), acara dialog menampilkan narasumber utama yaitu Dirjen Kebudayaan RI, Hilmar Farid dan pengamat musik Bens Leo. Selama dua hari itu, diputar video lama Slank ‘on stage’ dan dibalik panggung, komentar dan pendapat artis-artis Indonesia seperti Najwa Shihab, Joe Taslim, Nirina Zubir, Poppy Sovia, Tissa Biani, Hamish Daud dll.

Kali ini, Slank ‘nobar’ lima band junior didikan mereka selama ini di markas Slank, jalan Potlot. “Bagi para slanker, kami enggak main. Semua acara bisa ditonton di SlankTube alias di Channel Music Slank di YouTube,” ujar Bimbim, pendiri Slank yang meminta maaf karena ketakhadiran Ridho Hafieds (gitaris) karena sakit dan harus dikarantina selama 14 hari di rumah.

Yang hadir dalam acara dialog adalah Bim Bim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bas) dan Abdee Negara (gitar). Dipandu Buddy Ace, acara dialog berjalan lancar. Dua nara sumber menceritakan kisi-kisi perjalanan Slank di kancah musik Indonesia.

Hilmar Farid selaku Dirjen Kebudayaan mengaku salut atas perjalanan karier musik Slank dan sampai saat ini masih eksis. “Slank mampu menjadi ikon musik untuk perkembangan dan kemajuan budaya Indonesia di mata Internasional,” demikian penilaian Hilmar Farid.

Sedangkan Bens Leo mengamati Slank sebagai pengusung musik rock dan mampu menghipnotisir khalayak di setiap konsernya. “Slank juga band rock yang tetap kompak dan bertahan dengan formasi lamanya,” papar Bens Leo. Slank dibangun oleh anak-anak SMA Perguruan Cikini tanggal 26 Desember 1983 oleh Bim Bim. Kala itu, band ini membawa bendera Cikini Stone Complex (CSC) karena acap membawakan lagu-lagu Rolling Stones di panggung.

Dimotori Bim Bim, CSC mengalami 14 kali pergantian personel. Dan formasi terakhir bertahan tahun 1996 dengan mempertahankan Kaka, Ivanka, Ridho, Abdee dan Bim Bim. Di tahun itulah, Slank mengalami masa kelam dengan didepaknya 3 personelnya yaitu BIP (Bongky, Indra dan Pay) yang jadi pengguna narkoba.

Justru dengan formasi terkini, Slank sekarang dinobatkan sebagai band anti-narkoba. Berdasar catatan, Slank termasuk band dengan honor tertinggi yaitu Rp500 juta sekali main di tahun 2008-2009 (Indonesian Highest Paid Music Star). Tahun 2020 saat ultah Slank ke-37, kita ngeSlank dari rumah masing-masing dulu ya. (pik)

Bens Leo Buka Kartu Kebiasaan Unik Panbers

Bens Leo

PENGAMAT musik Bens Leo mengungkap satu hal menarik yang kerap dilakukan mendiang Benny Panjaitan dan rekannya di Panjaitan Bersaudara (Panbers), namun mungkin terlewatkan sebagian orang.

“Di tahun 1970-an, ada yang menarik, saat saya mengikuti tur konser mereka. Selalu ada, perjalanan menarik. Misalnya, kalau pergi dengan pesawat, maka Panjaitan Bersaudara, itu berfoto di dekat pesawat,” ujarnya.

Kebiasaan ini mengisyaratkan seolah-olah Panbers memiliki pesawat sendiri layaknya musisi-musisi ternama di dalam dan luar negeri. Tak hanya itu, menurut Bens cara ini bahkan merupakan upaya publikasi yang unik.

“Minimal charter flight, untuk menjangkau daerah-daerah tertentu, selalu foto di sana, menjadi dokumentasi. Jarang sekali ada band Indonesia yang memakai publikasi seperti itu,” kata Bens.

Bens menuturkan, perkenalannya dengan Panbers bermula saat dirinya berniat menulis soal Panbers di era 1970-an. Saat itu, mendiang Toni Koeswoyo-lah yang mempertemukan mereka.

Menyoal sosok mendiang Benny sebagai musisi, tak hanya lagu soal cinta yang pernah ia ciptakan, walau memang kebanyakan soal cinta.

“Kebanyakan tema cinta, tetapi ada lagu yang menjadi kebanggaan tanah air, adalah “Indonesia my Lovely Country. Itu adalah lagu, populer sekali. Dengan bahasa Inggris sederhana, tetapi mudah dicerna orang di negara manapun. Ini menarik, pernah menjadi hits di tangga lagu luar Indonesia,” papar Bens.