Bahaya BPA Bukan Hoaks

JAYAKARTA NEWS—-Tagar #BahayaBPABukanHoax trending topik di lini massa. Posisinya menduduki posisi atas. Dari akun @misterespect langsung memberi kultwit tentang bahaya BPA, pada Sabtu pagi (9/1/2021).

Menurut akun @misterespect bahwa BPA yang terdapat dalam galon guna (Isi) ulang dengan nomor kode 7 berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil.

Akan tetapi upaya mengedukasi kepada masyarakat, agar masyarakat lebih aware dan berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman kemasan plastik berbahan BPA, dihalangi oleh Aspadin.

Rachmat Hidayat sebagai Ketua Umum Aspadin nyata mengatakan di media-media, bahwa bahaya BPA adalah Hoaks dan mengatakan BPA tidak berbahaya. Ini jelas penyesatan kepada publik dan upaya mendiskreditkan dunia kesehatan, hak konsumen bayi, balita dan ibu hamil serta mengkhianati regulasi SNI, BPOM dan Paparan Bahaya BPA yang disampaikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Seharusnya Rachmat Hidayat Ketum Aspadin lebih mengerti dan mengetahui bahwa  dunia kesehatan melalui regulasi telah melarang bahan baku kemasan  plastik BPA  yang berbahaya bagi usia rentan, dan sudah tidak boleh bersentuhan dengan wadah makanan dan minuman yang dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Sangat disesalkan seharusnya Aspadin merespon hak konsumen bayi, balita dan ibu hamil yang terlewatkan, bukan berlindung dengan SNI, BPOM dan mengatakan bahaya BPA adalah HOAKS.

Semua AMDK telah mendapat izin edar dari BPOM dan memenuhi SNI. Di dalam SNI 3553 2015 Air Mineral  mempunyai tujuan dirumuskannya SNI untuk melindungi kesehatan dan konsumen. Manakala ada kegelisahan di masyarakat tentang bahaya BPA, SNI perlu memperhatikan dan BPOM perlu memberi catatan tambahan pada kemasan, bahwa kemasan tersebut mengandung BPA agar bayi, balita dan ibu hamil tidak mengonsumsi produk dari kemasan tersebut. Sebab bagi bayi, balita dan ibu hamil, mempunyai hak konsumen tidak boleh mengonsumsi makanan atau minuman dari kemasan plastik yang ada kandungan BPA walaupun dengan kandungan 0.6 bpj. Bagi ibu hamil kandungan BPA harus nol, tidak boleh kompromi.

Menurut akun @misterespect dirinya tidak menentang penggunaan galon guna (Isi) ulang yang bahan bakunya mengandung BPA, tapi sebaiknya agar galon tersebut diberi label dari BPOM, ada kandungan BPA supaya ibu hamil, bayi dan janin ibu hamil tidak mengonsumsinya.

“Untuk batas ambang BPA jangan disamakan bahwa semua aman. Jika untuk wadah makanan dan minuman bayi, balita dan ibu hamil tidak ada kompromi untuk ambang batas! Semua harus dipastikan zero! Makanya ada peraturan di setiap negara termasuk Indonesia free BPA,” cuitnya.

Jadi maksud cuitan itu agar masyarakat aware bahwa BPA berapapun kandungannya tetap berbahaya bagi bayi, balita dan ibu hamil.

Dari akun @misterespect ini berharap untuk galon guna (Isi) ulang menempelkan label bahwa galon tersebut mengandung zat BPA yang berbahaya bagi bayi, balita dan ibu hamil karena paparan zat BPA berbahaya dapat mempengaruhi berat badan lahir, perkembangan hormonal dan perilaku, hingga risiko kanker di kemudian hari.***

Roso Daras : ASPADIN Lupa Tujuan Dirumuskan SNI

JAYAKARTA NEWS—-Ketua Aliansi Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (AJPKL) Roso Daras menyesalkan tindakan  Rachmat Hidayat, Ketua Umum ASPADIN (Perkumpulan Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia) yang telah mengirimi surat ke berbagai media dan meminta untuk menghapus berita tentang bahaya BPA. Tindakan itu jelas bertentangan dengan kebebasan pers. Dan nyata-nyata menunjukkan arogansi seolah sebagai pemegang kebenaran.

ASPADIN berlindung di balik SNI dan BPOM. Menurut Roso Daras, ASPADIN lupa bahwa tujuan dirumuskan Standar Nasional Indonesia (SNI) Air mineral ini yang merupakan revisi SNI 01-3553-2006 mengenai Air Minum dalam kemasan, dengan tujuan sebagai berikut. Pada poin nomor 3, bertujuan Melindungi kesehatan dan kepentingan konsumen. Nomor 4, menjamin perdagangan pangan yang jujur dan bertanggungjawab. Dan poin nomor 5 Mendukung perkembangan dan diversifikasi produk industri air minum dalam kemasan.

“Jadi jelas tujuan dirumuskan Standar Nasional Indonesia untuk melindungi kesehatan dan kepentingan konsumen. Dalam hal ini, konsusmen harus mendapat informasi cukup di dalam kemasan. Informasi itu bukan hanya melulu mencantumkan soal  isi dari makanan atau minuman tersebut. Tapi juga kemasan itu terbuat dari bahan apa? Jika mengandung BPA katakan bahwa plastik kemasan itu mengandung BPA.  Informasi ini harus sampai kepada konsumen. Produsen tidak boleh menutupi ini,” ungkap Roso Daras dalam siaran pers pada Jumat (8/1/2021).

Kenapa pencantuman kandungan BPA atau BPA Free bagi kemasan yang tidak mengandung BPA perlu dilakukan, supaya konsumen tahu dan lebih berhati–hati dalam memilih produk yang akan dikonsumsi.  Sebab soal bahaya BPA sudah tidak perlu diperdebatkan lagi.

Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 20 Tahun 2019 di halaman 120 dalam kolom artikel, Persyaratan monomer bisfenol A (BPA) batas maksimal (bpj) adalah 0,6. Tentu saja ini kalau dikonsumsi oleh orang dewasa.

Akan berbeda jika makanan atau minuman dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil tentu tidak menolerir adanya kandungan bisphenol A. Kemasan makanan dan minuman itu harus memiliki prinsip keadilan. Semua konsumen harus diperlakukan secara adil dan mempunyai informasi yang memadai. Harus mengingat juga bahwa produk makanan atau minuman itu juga akan dikonsumsi oleh bayi, balita dan ibu hamil.

Natalya Kurniawati peneliti YLKI

Pendapat Roso Daras juga didukung oleh Natalya Kurniawati Peneliti YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia). Menurut Natalya Kurniawati,    di dalam aturan Kemenkes dan BPOM sudah lama menyatakan bahwa wadah makanan dan minuman yang mengandung BPA atau  bisphenol A ini berbahaya. Dan apalagi kalau untuk dipakai di produk–produk kemasan yang dipakai berulang.

“Bahwa kita tidak mendukung untuk produk–produk kemasan yang mengandung  atau mendukung, berpotensi timbulnya bisphenol A. Seperti misalnya kalau kita cari referensi jenis- jenis plastik daur ulang, atau bahan plastik di situ ada simbol – simbol dari mulai angka 1 sampai dengan angka 7. Nah yang angka 1 ini digunakan untuk produk – produk kemasan yang sekali pakai.  Dan di sini yang harus dilihat nomor (3) nomor (6) dan nomor (7) itu berbahaya bagi kesehatan,” ungkap Natalya Kurniawati saat dilakukan wawancara melalui voice note baru – baru ini.

Masih menurut Natalya, Itu memang tidak diperuntukkan  bersentuhan dengan makanan atau minuman, seperti misalnya steroform, plastik untuk campuran pipa pvc dan lain sebagainya. Kemudian di situ juga dilihat biasanya produk –produk kemasan lunch box atau kotak makanan di situ ada kode (PP) Polypropylene itu yang lebih aman.

“Di situ biasanya yang BPA free dan bisa dipakai ulang, tahan terhadap suhu tinggi. Ini yang biasanya dipilih dipakai untuk konsumen. Tapi tetap harus diperhatikan dari konsumen itu bukan dari nomor berapa yang dipakai itu bisa didaur ulang dan aman” tandas Natalya.***

Ngeri, Begini Masuknya Molekul BPA ke Tubuh Kita

JAYAKARTA NEWS – Untuk mengurangi risiko terpapar BPA (bisphenol A) adalah dengan tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang termigrasi molekul BPA. Artinya tidak makan atau minum, dari wadah plastik yang mengandung unsur kimia BPA.

Dr -Ing Azis Boing Sitanggang S.TP MSc

Caranya, hindari minum dari minuman air galon isi ulang, yang sudah jelas mengandung unsur BPA. Itulah salah satu kesepakatan dari webinar dengan tema ‘Mengenal BPA dari Rumah’ yang diikuti dr Darrel Fernando SpOG dokter spesialis kandungan dari Rumah Sakit Mayapada Kuningan, dr Daulika Husna SpA dokter spesialis anak Neonatologist dari Rumah Sakit Mayapada, Kuningan, Nucha Bachri co-founder parentalk.id dan Dr -Ing Azis Boing Sitanggang S.TP MSc, pakar teknologi pangan.

Webinar yang diselenggarakan Cerdik Sehat bekerja sama dengan Rumah Sakit Mayapada dan Parentalk ini, intinya ingin memberi edukasi kepada masyarakat, bahwa minuman yang ditempatkan di dalam wadah mengandung BPA maka makanan tersebut telah terpapar BPA.

Dalam webinar itu, tentu salah satu solusinya adalah menghindarinya wadah yang mengandung BPA. Untuk jelasnya, hindari minum air dari galon isi ulang yang bisa dipastikan mengandung BPA.

Menurut dr. Daulika Yusna, Sp.A, kemasan makanan dan minuman atau galon dengan kandungan yang tidak tepat, seperti mengandung BPA, sangat berbahaya jika isinya dikonsumsi setiap hari dalam jangka waktu lama. Para panelis sepakat bahwa untuk mengurangi resiko BPA adalah dengan tidak mengonsumsi makanan dan minuman yang termigrasi molekul BPA.

“Sebagai orang tua apakah kita sudah berkomitmen memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak kita,” ujar Nucha Bachri, Co-Founder Parentalk.id.

Nucha menambahkan hal yang harus orangtua lakukan di rumah adalah berani menyingkirkan wadah makanan atau minuman yang mengandung BPA. Jangan membeli karena tertarik pada  bentuk kemasannya melainkan mengutamakan faktor kesehatannya. Diperlukan sikap yang bijaksana untuk meneliti lebih dulu kode kemasan dan bahan kemasan makanan dan minuman yang kita sajikan.

“Kita harus teliti melihat kode plastik pada setiap produk yang kita gunakan. Misalnya kode plastik no 7 (jenis plastik polykarbonat) yang perlu kita perhatikan dalam kemasan makanan kita karena kode plastik no 7 biasanya mengandung BPA. Meskipun bukan di level yang berbahaya tapi kalau bisa diihindari agar tidak terjadi akumulasi jangka panjang,” ujar Dr Darrell.

Hal senada diungkapkan oleh Nucha Bachri. Nucha mengingatkan jangan tergiur tampilan.

“Beli barang jangan cuma karena lucu dan harga aja. Tapi harus diperhatikan juga keamanannya. Perhatikan baik-baik dan pelajari dan cari tahu dulu bahan yang mau kita beli seperti apa. Jangan sampai mengandung BPA yang dapat mempengaruhi kesehatan anak balita,” ungkap Nucha.

Bahaya BPA memang dapat dirasakan setalah kurun waktu yang lama. “Bahaya BPA dapat dirasakan dalam waktu lama. Jadi bahaya BPA tidak serta merta berefek. Contohnya pada gangguan hormon pada anak atau balita yang sedang tumbuh. Gangguan lainnya dapat memicu kanker jika BPA dikonsumsi terus menerus,” papar dr Daulika Husna Sp.A.

Lantas bagaimana zat kimia BPA ini masuk ke dalam tubuh? Dalam prosesnya, molekul BPA atau monomer di polimerisasi menjadi plastik karbonat (PC). Di proses polimerisasi itulah proses tidak berjalan sempurna sehingga menimbulkan molekul-molekul BPA bebas. Molekul  BPA bebas ini kemudian bermigrasi dari kemasan atau utilitas ke makanan atau minuman yang terkonsumsi. Masuknya BPA ke dalam tubuh melalui dua cara yaitu dietary exposure dan non dietary exposure.

“Masalah BPA adalah migrasi. Migrasi adalah berpindahnya zat kimia BPA yang ada pada kemasan makanan ke dalam produk pangan. Kita akan terpapar jika kita mengkonsumsi produk pangan yang terkontaminasi BPA. Hindari risiko dengan mengurangi paparan,” tutur Dr Azis.

Sebagai contoh proses migrasi BPA dalam kemasan galon yang kemudian larut kedalam air didalam galon isi ulang, prosesnya yaitu,  saat pengisian air ke dalam galon isi ulang di pabrik atau depo pengisian, mungkin sudah sesuai standard keamanan pangan yang telah ditetapkan, tetapi pada saat proses distribusi hingga sampai ke tangan konsumen, tidak ada yang bisa menjamin air tidak terpapar BPA, walaupun jika di cek masih dalam batas toleransi tapi jika terakumulasi bertahun tahun  maka tentu saja akan mengakibatkan hal yang serius bagi kesehatan anak balita dan ibu hamil. Oleh karena itu dapat kita  temui jurnal kesehataan dan kebijakan Negara maju di dunia telah melarang dengan tegas penggunaan BPA dalam kemasan makanan dan minuman.

Cara yang pertama migrasi BPA ke makanan dari bahan pengemas yang kontak dengan minuman atau makanan. Cara yang kedua antara lain debu, thermal paper, kosmetika dan lain lain. (*/tg)

Kemasan Plastik BPA Sangat Berbahaya

JAYAKARTA NEWS – Organisasi jurnalis dunia yang peduli terhadap lingkungan, Orb Media (orb-media.org) belakangan mengungkapkan hasil investigasinya, bahwa dalam air kemasan berpotensi mengandung zat kimia yang tercemar dari plastik.

Belakangan ini, plastik kemasan yang mengandung BPA menjadi sorotan para peneliti. BPA adalah adanya senyawa lain yang berfungsi menghasilkan plastik polikarbonat yang kuat dan tangguh dan mengandung racun.

Partikel plastik BPA bisa menimbulkan gangguan kesehatan,berbahaya bagi bayi dan balita, bahkan bisa berpotensi memicu penyakit kanker, plastik BPA disarankan tidak lagi dipakai untuk kemasan plastik minuman dan makanan, apalagi kemasannya digunakan dalam keadaan panas dan dipakai berulang kali.

Menurut dr Dian Kristiani, Direktur Klinik Dian Perdana Medika, Jawa Tengah mengingatkan tentang bahaya Bisphenol A yang terkandung di dalam plastik.

“Plastik BPA berbahaya bagi bayi karena terbukti dapat memengaruhi berat badan lahir, perkembangan hormonal, perilaku dan resiko kanker di kemudian hari. Sementara itu, penggunaan plastik BPA juga dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan berikut : sindrom ovarium polikistik (PCOS) persalinana prematur,” tutur Dr Dian Kristiani saat dihubungi melalui sambungan telepon.

Akan tetapi, menurut Dr Dian Kristiani, ketergantungan manusia kepada plastik sangat tinggi.    Maka dari itu harus pandai – pandai memilih plastik yang aman bagi kesehatan. Begitu juga memilih makanan atau minuman, pilihlah yang sudah menggunakan plastik yang aman. Tidak menganudng BPA. Alias, BPA free.

“Bahan BPA merupakan bahan yang telah lama digunakan untuk mengeraskan plastik, termasuk botol minuman dan kotak tempat makanan yang dapat dipakai ulang. Bahan ini juga umumnya terdapat pada kaleng susu formula untuk mencegah karat, botol susu bayi, dan beberap perlengkapan balita,” tandas dr Dian Kristiani. 

“Yang lebih bahaya lagi, kalau yang kita konsumsi sehari – hari, yaitu di galon kemasan isi ulang yang bahan galon-nya mengandung BPA,” pesan dokter Dian.

Sebagai contoh jika seorang Ibu mempersiapkan susu formula untuk bayinya, untuk botol susunya sudah free BPA, kemasan susu formulanya juga sudah free BPA. Coba bayangkan jika susu tersebut diseduh dengan menggunakan air yang keluar dari mesin dispenser galon isi ulang  terbuat dari Polikarbonat yang mempunyai kandungan BPA, sangat disayangkan jika air yang keluar diduga tercemar BPA yang luruh dalam air dan tercampur dalam susu yang hendak dikonsumsi bayi dalam jangka panjang, tentu saja hal ini akan mempengaruhi kesehatan bayi, karena usia Balita sangat rentan terhadap efek dari BPA.

Lebih jauh menurut Iwan Nefawan, Ahli Kesehatan Lingkungan, Kementerian Kesehatan mengatakan, Plastik BPA itu Bisphenol A adalah zat tambahan kimia untuk pembuatan kemasan plastik berbahan PVC (kode3) dan PC (kode 7).

“Hal itu bisa menimbulkan dampak kesehatan kalau dalam dosis rendah, salah satunya akan mneimbulkan perubahan permanen dalam organ kemaluan, meningkatkan kadar prostate, menurunkan hormon testoteron. Artinya kurang kuat untuk mendapatkan keturunan. Dia juga bisa menyebabkan kanker, terutama kanker payudara. Terutama pada kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, manula dan ibu hamil,”  ungkap Iwan Nefawan pada Selasa (1/12) lalu.

Malah menurut Iwan Nefawan, penggunaan BPA di dalam plastik sudah dilarang pihak Badan POM. BPA itu sangat berbahaya. Semestinya sudah tidak digunakan lagi untuk kemasan minuman ataupun makanan.

“Enggak boleh karena BPA itu masuk kelompok mikroplastik, kecil sekali. Walaupun dalam waktu pendek tak menyebabkan dampak langsung, tapi ke depan bisa muncul dampak lainnya,” tanda Iwan Nefawan.

Lantas bagaimana solusinya? Bagi negara – negara sudah maju sudah mengganti BPA dengan bahan lain yang lebih aman. Sejak tahun 2010, misalnya, pemerintah Kanada sudah melarang penggunaan plastik BPA pada botol minum bayi. Penggantinya adalah BPS (bisphenol-S) dan BPF bisphenol-F (bisphenol-F).

Begitu juga Austria yang melarang BPA pada tahun 2011, Belgia (tahun 2012), Swedia (2012), Prancis (2012) dan Denmark (2013). Melalui regulasi yang ketat dari pemerintah masing-masing, mereka sudah melarang penggunaan kemasan yang berbahan baku plastik BPA. Di negara Perancis pemerintahnya telah melarang seluruh kemasan Plastik BPA.

Produsen minuman Danone Prancis yang mempunyai wilayah pemasaran di Amerika melalui Dannon sudah mengumumkan melalui twitter resminya bahwa pihaknya tidak lagi menggunakan plastik berbahan BPA yang mengandung polikarbonat (kode plastik no 7) untuk cangkir kemasan plastik apapun. Dannon lebih memilih menggunakan kode plastik nomor 5, 6, dan 2, tergantung pada produknya. Tapi sepertinya hal ini belum berlaku secara keseluruhan, termasuk di Indonesia, Danone dengan merk dagang Aqua masih menggunakan kemasan galon isi ulang yang berbahan Polikarbonat yang mempunyai kandungan BPA (kode plastik no 7), untuk dipasarkan di Indonesia.

Herannya meski dunia telah resmi mengeluarkan regulasi untuk  tidak menggunakan  plastik berbahan BPA untuk penggunaan kemasan makanan atau minuman, di Indonesia regulasi belum mengatur secara ketat penggunaan Polikarbonat yang mempunyai kandungan BPA( kode plastik no 7), baru hanya sebatas penerapan di Botol Bayi dan wadah makanan, dan terkait hal ini konsumen belum memahami dan menyadari bahaya dari BPA.

Di Eropa, profil zat kimia pada plastik BPA telah dipelajari di Uni Eropa selama bertahun-tahun. Pada tahun 2016, dengan mengumpulkan data-data ilmiah, Uni Eropa mereklasifikasi BPA sebagai kategori reprotoksik 1B, dari reprotoksik kategori 2, oleh ATP-9 hingga Peraturan (EC) 1272/2008 tentang ‘Klasifikasi, Pelabelan dan Kemasan Zat dan Campuran (Peraturan CLP) dan penggunaan kertas termal yang sudah dibatasi penggunaannya. (*/tg)