Kemenpar Gandeng Milenial Kembangkan Desa Wisata Danau Toba 

Konsistensi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) membuka jalur pariwisata Danau Toba terus berlanjut. Buktinya, Kementerian di bawah komando Arief Yahya menggelar kegiatan keren yang melibatkan 3 desa wisata di daerah Danau Toba dari tanggal 21 hingga 25 November 2018.

Ketiga desa itu adalah Onan Runggu I Sipahutar, Desa Sibandang Muara – Kab. Tapanuli Utara, Desa Meat Tampahan, Toba Samosir dan Desa Sibandang, Pulau Sibandang.

Kemenpar menggandeng anak muda zaman now atau biasa disebut dengan kaum milenial. Rinciannya total ada 15 orang anak milenial, 3 orang instruktur, 1 orang agen travel Jakarta, dan 1 orang observer Singapura. Anak-anak milenials  tersebut berasal dari Inspire Travel and Tourism Learning Centre Jakarta. Peserta semua menginap di homestay dan tinggal di tiga Desa Wisata tersebut.

“Kemenpar telah membuka jalan. Kemenpar telah membuka kesejahteraan masyarakat di Danau Toba. Anak-anak muda ini nantinya akan menjadi tour travel masa depan untuk membuka paket-paket wisata yang menarik ke tiga desa ini. Kita akan berikan masukan untuk destinasi ini,” ujar Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Tetty Ariyanto.

Lebih lanjut Tetty mengatakan, nantinya anak-anak muda itu akan melaporkan tiga pointer selama berinteraksi di desa wisata tersebut. Hal-hal yang nantinya akan dijadikan rekomendasi adalah terkait standarisasi pengembengan homestay, Standarisasi Pengembangan Desa Wisata, dan pengembangan Atraksi Wisata.

“Nanti akan disimpulkan setelah mereka menginap di desa wisata tersebut dan akan dilaporkan kepada pembimbing. Mereka juga akan memberikan masukan kepada masyarakat sekitar terkait Sapta Pesona untuk pariwisata Indonesia,” kata wanita yang juga aktif di Indonesian Tour Leaders Association tersebut.

Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Pariwisata Regional I Kementerian Pariwisata Lokot Ahmad Enda mengucapkan terima kasih kepada anak-anak milenial yang sudah mau menyisihkan waktunya di acara tersebut. Lokot berharap semua peserta mampu memberikan masukan dalam poin homestay yakni prosedur reversasi, prosedur check in, kebersihan, penataan kamar, tata cara menghidangkan menu, dan peralatan makan.

“Tuangkan semua ide dan saran versi anak milenial di homestay desa tersebut,” harap Lokot yang juga diamini Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Area I Wijonarko.

Lokot mengatakan, Kemenpar juga berharap hasil dari standarisasi pengembangan Desa Wisata bisa menelaah lebih dalam terkait fungsi Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) sebagai pusat reservasi dan managemen desa wisata, mengaktifkan fungsi Tourist Information Center (TIC) yang turunannya terkait akomodasi, transportasi lokal, makan, dan pemandu wisata.

Selain itu, para peserta juga diharapkan mampu memberikan masukan tentang manajemen penanganan sampah, penataan area sekitar, dan diversifikasi hasil produk lokal. Kemenpar mengharapkan dari acara tersebut bisa meningkatkan standarisasi pengembangan atraksi wisata seperti travel pattern yang kaitannya dengan menentukan spot, point of interest, dan foto spot. Selain itu bisa melahirkan materi story telling yang di dalamnya ada unsur urban legend, pembuatan produk lokal, unsur budaya lokal, dan mendorong pembentukan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata)

“Nantinya dari acara tersebut bisa kelihatan dari ketiga desa yang didatangi apa saja yang sudah dilakukan, apa saja potensi untuk dikembangkan, dan apa saja kendala teknisnya. Karena dari situlah nantinya wisatawan yang datang ke Danau Toba bisa nyaman dan ingin kembali lagi ke Danau Toba. Goalnya kita bisa membuat paket wisata untuk ketiga desa tersebut,” beber Lokot yang didampingi Kasubid Bidang Pengembangan Destinasi Area I B Andhy Marpaung.

Menteri Pariwisata Arief Yahya memberikan apresiasi tinggi kepada acara yang melibatkan kaum milenial yang melek digital. Karena, pesatnya perkembangan digital, tidak pernah lepas dari pantauan Menpar yang ingin memanfaatkannya untuk menaikkan pariwisata Indonesia.

“Kita tidak bisa melawan zaman. Justru kita harus mengikutinya. Di masa sekarang, hampir semua memanfaatkan keunggulan digital. Baik untuk kehidupan sehari-hari, atau sebagai pemandu perjalanan, dan banyak lagi fungsinya. Kaum milenial inilah yang nantinya akan melestarikan pariwisata. Karena semakin dilestarikan semakin mensejahterakan,” tutur Menpar Arief Yahya. (monang s)

Kemenpar Kembangkan Potensi Aek Silang

Nama Aek Silang bakal lebih terkenal. Sungai di Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, ini akan dikemas sebagai salah satu atraksi wisata di Danau Toba. Selama ini, Aek Silang hanya dimanfaatkan untuk olahraga arung jeram.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, Aek Silang memiliki potensi luar biasa. Potensinya sayang jika dibiarkan begitu saja.

“Lokasi arung jeram ini sangat unik. Finish-nya di Danau Toba. Bukan di tengah sungai seperti di tempat lain. Jadi ini satu-satunya di dunia, arung jeram yang finish di sebuah danau,” ungkapnya.

 

Kecamatan Baktiraja sendiri berada di Lembah Bakkara. Sudah lama dikenal sebagai tempat kelahiran dan basis pemerintahan Raja Sisingamangaraja. Tak heran, banyak situs peninggalan Raja Sisingamangaraja yang ditemukan. Seperti Istana Sisingamangaraja, Tombak Sulu Sulu sebagai goa tempat kelahiran Raja Sisingamangaraja I, serta makam raja ke-X dan XI.

Menurut Arief Yahya, Aek Silang sudah lama dikenal sebagai lokasi arung jeram. Sering pula digunakan untuk perlombaan atlet profesional. Pertandingan eksibisi pun kerap dilakukan di sini.

“Selama ini Aek Silang belum masuk dalam paket wisata. Padahal, ini bisa dikemas dan ditawarkan sebagai atraksi paket wisata untuk wisatawan,” jelasnya.

Untuk itu, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong adanya operator arung jeram di Baktiraja. Tahap awal, saat ini sedang digelar Workshop Pelatihan Pemandu Arung Jeram. Kegiatan ini dimulai pada 3 November lalu, dan berakhir tanggal 10 November 2018. “Dengan adanya pelatihan ini, para pemuda Baktiraja dapat menjadi operator wisata arung jeram,” tandasnya.

Sementara itu, Asdep Pengembangan Destinasi Regional I Lokot Ahmad Enda menambahkan, Kementerian Pariwisata sudah memberikan dukungan homestay di Baktiraja. Wisatawan sudah bisa menginap di homestay milik penduduk. Penghasilan warga pun jadi bertambah.

Hal senada disampaikan Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata, Dadang Rizki Ratman. Menurutnya, arung jeram Aek Silang semakin memperkuat Danau Toba. Makin banyak atraksi wisata yang bisa dinikmati. Tak hanya sebatas pemandangan Danau Toba yang indah.

“Kini wisatawan bisa merasakan sensasi arung jeram di Aek Silang dengan latar belakang pegunungan, persawahan, kebun bawang, dan finish di Danau Toba. Itu sangat luar biasa,” tegasnya. (monang s)

Anambas: Surga Liburan yang Pas Buat Melupakan Medsos

 

ANAMBAS. Jangan ragu untuk datang menikmati moleknya wisata bahari di wilayah Kepulauan Riau ini. Begitu cantiknya, sampai-sampai CNN pada 2013 lalu telah menyebutnya sebagai  Pulau Tropis Terbaik di Asia.

Posisi geografisnya ada di hamparan Laut China Selatan. Anambas juga menjadi wilayah paling utara Indonesia. Sejauh-jauh mata memandang, panorama laut mengitari Anda. Lautnya biru. Orang sering bilang masih perawan –lha memang kapan mau dinikahkannya 🙂 Pastinya, itu untuk menggambarkan bahwa laut di Kabupaten Anambas tersebut belum tercemar sampah pelbagai buangan. Jadi, untuk menyelam dan memancing, sangat mengasyikkan.

Saat Anda menghadap lautan terbuka yang luas, Anambas menyediakan pemandangan panorama laut biru dan pulau-pulau hijau yang dihiasi dengan laguna biru. Bagi Anda yang menyukai olahraga menyelam, ini adalah  tempat menyelam yang sangat baik. Anda akan dibuat kagum pada kehidupan bawah laut yang penuh warna. Pemandangan juga dipercantik dengan  barisan  pohon kelapa yang tampak melindungi pantai pasir putih yang lembut, di mana penyu telah membuat pantai di Pulau Keramut dan Mangkal, menjadi habitat mereka.

Anambas merupakan kabupaten di Provinsi Kepulauan Riau, dan meliputi area seluas 46.667 km2 di mana laut luarnya hampir 90 persen dilintasi oleh kapal-kapal asing. Sebelumnya, Anambas menjadi satu wilayah kabupaten dengan Pulau Natuna, namum kemudian dimekarkan menjadi wilayah otonomi  tersendiri.

Secara keseluruhan, wilayah ini  memiliki  255 pulau di gugus Anambas di mana hanya 26 yang dihuni. Distrik ini hanya memiliki 45.500 penduduk. 97 persen wilayahnya adalah laut di mana pulau terbesar adalah Siantan, Palmatak dan Jemaja. Ibukota Kab.  Anambas adalah Kota  Tarempa yang berada  di Pulau Siantan.

Anambas memiliki banyak  lagun, terutama di pulau-pulau Pantai Selat Rangsang, Pulau Bawah, Pulau Rongkat, dan Pantai Pulau Penjalin, di mana pulau-pulau muncul dari laut entah dari mana. Saat surut, pulau-pulau itu tumbuh bersama oleh pasir yang menghubungkan, menciptakan laut pedalaman dan laut luar, dengan laguna yang “diaspal” dengan pasir putih itu dan di sana-sini karang berwarna-warni. Yang menarik, semua pulau di Kab. Anambas berpantai pasir putih yang indah. Indah sekali, dan menjadi lebih indah ketika laguna itu dipenuhi dengan air aquamarine di mana orang dapat melihat karang-karang yang aneh dan seolah-olah ikan melesat di air jernih.

Bagaimana ke Anambas

Apabila  Anda ingin mengunjungi pulau-pulau di Anambas, Anda harus yakin  benar-benar memiliki banyak waktu, karena letaknya cukup jauh di Laut Cina Selatan dan jauh dari sebagian besar pulau-pulau lainnya di Indonesia.

Untuk mencapai Anambas lewat jalur udara, Anda harus terbang ke Tanjung Pinang, ibu kota provinsi di Pulau Bintan dengan  Garuda Indonesia, Lion Air atau  Sriwijaya Air, yang mengoperasikan penerbangan harian ke Tanjung Pinang dari Jakarta dan kota-kota utama lainnya.

Dari Tanjung Pinang, Nusantara Air Charter terbang ke Bandara Matak di Kecamatan Palmatak. Pesawat 48 seater itu terbang setiap hari. Setelah itu, dari Bandara Matak Anda harus naik speedboat ke Tarempa, ibukota Kab. Anambas.

 

Sebagai alternatif, perusahaan minyak Conoco Philip yang memiliki pesawat Fokker 50, juga dapat ditumpangi penumpang  umum, bilamana tersedia kursi yang kosong.  Ini adalah pesawat yang digunakan untuk mengangkut staf perusahaan dan terbang Jakarta-Batam-Matak, beroperasi setiap hari kecuali hari Minggu.

Apabila Anda dari Singapura,  bisa naik feri ke pelabuhan Tanjung Pinang. Kemudian dilanjutkan dengan taksi ke bandara untuk mengejar pesawat Anda. Jika Anda ingin bepergian dengan perahu, MV VOC Batavia dan MV Seven Star Island, bisa naik kapal dengan   rute Tanjungpinang-Letung-Tarempa dan sebaliknya. Harga tiketnya dikisaran Rp 300.000-an untuk one way ticket.

Kapal feri berangkat hari Minggu, Senin, Rabu, dan Jumat dari Tanjung Pinang, dengan perjalanan pulang dari Tarempa pada hari Selasa, Kamis dan Sabtu. Ada kapal lain yang lebih besar, tetapi tripnya hanya beberapa kali sebulan.

Anambas Bawah

Dengan lokasi yang dapat dibilang  terpencil, pulau-pulau di Anambas  masih dianggap sebagai permata tersembunyi yang menjadi tempat yang pas untuk  wisata bahari. Sembilan puluh persen wilayah ini adalah perairan, sedangkan sisanya pulau-pulau  kecil.

Tepat di bawah Kepulauan Anambas, ada sekelompok enam pulau, tiga laguna dan 13 pantai telah diubah menjadi resor pribadi nan mewah. Namanya Bawah Reserve.  Bawah Reserve merupakan  resor mewah pertama di Anambas.  Resor ini didirikan oleh Tim Hartnoll, seorang warga Inggris yang bekerja di industri pelayaran dan pencinta semua kebaharian, seperti  perahu dan laut.

Ketika itu, Hartnoll tengah  mengarungi lautan untuk mengelilingi Singapura, dan dia  menemukan Anambas dan enam pulau yang kemudian ia bangun menjadi tempat resor itu. Mulanya, dia  ingin menghabiskan waktu pada satu hari di sana, namun kemudian Hartnoll terpesona oleh kehijauan hutan, gunung-gunung, laguna pirus dan pasir putih, saat  ia tinggali selama seminggu di sana.

Seperti sudah ditakdirkan, beberapa tahun kemudian, ada kebijakan untuk menyewakan pulau-pulau itu.  Dia segera mengambil  kesempatan itu dan meminta teman hebatnya, seorang arsitek Singapura Sim Boon Yang  untuk memimpin desain proyek. Ketika desain dirancang kembali pada tahun 2012, tim di belakangnya menginginkan resor menjadi lebih dari sekedar tempat untuk beristirahat dan bersantai. Mereka membawa misi yang kuat untuk melestarikan ekosistem tempat itu dan mengubahnya menjadi tempat ekologi impian.

“Kami memutuskan untuk tidak mengejar desain yang akan terlihat di resor lain di Asia Tenggara, seperti struktur Bali atau paviliun kayu, dan solusinya adalah merancangnya menggunakan bambu. Ini menggambungkan aspek modernitas kerajinan, sesuatu yang sangat eksotis dan ini adalah kombinasi yang sangat menarik untuk sebuah vila di resor tropis, ” demikian penjelasan Boon  dalam sebuah video wawancara yang dipasang di situs yang dikelola  Bawah Reserve.

 

Untuk membangun resor itu, mereka  tidak menggunakan mesin berat. Bambu yang dipanen di perkebunan di Jawa dikirim ke resor, semuanya dilakukan dengan tangan dan mereka membersihkan beberapa bagian kecil pulau untuk membuat jalan setapak bagi pengunjung.

“Ini menjelaskan mengapa vegetasi begitu subur di pulau sekarang, menggunakan alat  berat akan lebih cepat, tetapi akan merusak ekonsistem dan menyebabkan banyak erosi dan pembunuhan vegetasi,” jelas  Boon menambahkan.

Salah satu fitur desain menonjol dari resor adalah kurva organik dari atap paviliun publik yang mengalir menuruni bukit, yang merupakan bentuk dan siluet pulau-pulau. “Latar belakang pulau menjadi pulau ibu dengan keturunannya menjadi atap yang lebih kecil dari paviliun publik,” katanya.

Pembangunannya membutuhkan waktu lima tahun untuk diselesaikan. Secara total, ada 35 suite mewah yang dapat menampung hingga 70 tamu. Suite dibagi menjadi empat jenis: Overwater bungalow, beach suite, deluxe beach suite dan garden suite. Ini adalah satu-satunya retret di Asia di mana tarifnya mencakup semua perawatan spa, pengalaman tamu, dan transportasi melalui pesawat amfibi dari Bandara Internasional Hang Nadim di Batam dan menerbangkannya sekitar 80 menit sebelum mendarat di pulau terpencil.

Setelah para tamu selesai menetap di kamar masing-masing, ada banyak kegiatan kelautan yang harus dilakukan di sini, seperti snorkeling, diving, berdiri dayung, kayak dan bahkan berlayar.

Jika Anda sedang melakukan perjalanan petualangan, jelajahi hutan subur  di mana Anda mungkin akan mendapatkan kesempatan untuk menemukan beberapa hewan eksotis dan tanaman seperti kadal dan pohon keruing 50 meter yang berusia 500 tahun. Selain itu, Bawah Reserve telah membuka tiga jalur pendakian yang ditandai dengan baik yang mengarah ke pemandangan indah garis pantai, pantai kelapa, Rock Utara yang indah, dan pulau-pulau sekitarnya.

Ketika akhirnya waktu untuk bersantai, selain ada spa, terdapat  juga bioskop pantai di mana Anda dapat menonton film sambil duduk di beanbag ditempatkan di bawah bintang berkelap-kelip dengan suara ombak bergulir dan angin laut lembut yang menciptakan jenis baru dan berbeda dari pengalaman sinematik.

Segala yang ditawarkan di Bawah Reserve ramah lingkungan, tidak ada botol plastik di sini; mereka hanya menjual produk krim matahari ramah lingkungan dan menggunakan deterjen ramah lingkungan. Mereka juga mendaur ulang dengan telaten; semua  sisa makanan dikomposkan, air hujan disimpan dan disaring, dan air dipanaskan oleh energi matahari. Yang terpenting, tidak ada yang dibuang di laut.

Satu hal hebat terakhir tentang Reservasi Bawah adalah karena lokasinya sangat jauh dari dunia modern, koneksi internet dan penerimaan ponsel mungkin lemah yang menjadikan resor tempat yang sempurna bagi Anda untuk mengambil puasa dari media sosial dan hanya menghabiskan hari-hari Anda tanpa terus-menerus memeriksa email Anda atau menjawab panggilan telepon terkait pekerjaan. Bukankah itu terdengar seperti kebahagiaan yang sesungguhnya?***

Dengan ‘Home Car’ Menjelajah Indonesia

Dengan mobil ini, keluarga Kusmajadi keliling Indonesia. (ist)

Menjelajah alam Indonesia sekaligus memanjakan lidah dengan aneka kuliner khas daerah, adalah impian banyak orang. Sayang, tidak semua orang bisa melakukannya. Entah karena faktor ketiadaan waktu, ketiadaan biaya, dan banyak faktor lain.

Berbeda dengan Keluarga Dodi Kusmajadi. Ia bersama Melati Putri sang istri, serta dua anaknya Abdul Hakim Putra Kusmajadi (14) dan Nara Sabiya Putri Kusmajadi (13) memiliki kesempatan menjelajahi Indonesia selama setahun lebih dengan menggunakan mobil. Sebuah van dimodifikasi menjadi home car, lengkap dengan kamar mandi, mesin cuci, tempat duduk yang bisa disetel menjadi tempat tidur, televisi, kulkas mini dan lain-lain. Di dinding mobil bertuliskan Unlocking Indonesia`s Treasure.

Penjelajahan Indonesia dimulai dari Sumatera, lanjut ke Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi dan Kalimantan. Setelah itu dilanjutkan ke Maluku dan Papua tapi tidak menggunakan home car karena sejumlah pertimbangan. “Sudah dua bulan perjalanan ini kami lakukan, sejak start 3 September 2018,” ujar Dodi.

Dodi Kusmajadi bersama istri dan kedua putra-putrinya. (foto: monang s)

Dodi Kusmajadi mengawali perjalanan wiatanya dengan menelusuri pantai Barat Sumatera. Kami menelusuri Lampung, Bengkulu, Padang dan menyeberang ke Kepulauan Mentawai. Lanjut menuju Sibolga, Nias naik ke Balige, Danau Toba, Sidikalang menuju Subu Salam, Aceh dan menyeberang ke Pulau We. “Kami sampai di titik nol kilometer,” ujar Dodi, yang asli Tangerang, saat ditemui di penginapan Roemah 28, Jl. Sei Selayang, Medan Baru beberapa waktu lalu.

Selama perjalanan di Sumatera Utara banyak tempat pariwisata menarik disinggahi dan dijadikan pelajaran, Seperti di Nias, alamnya begitu indah, sejarah yang sangat menarik, serta rumah adat yang eksotik. Kemudian di Tangkahan, ia belajar langsung mengenal, memandikan dan bermain dengan gajah. Sedang, di Takengon bisa belajar dan melihat petani kopi menanam, memanen sampai memproses jadi kopi. “Semua sangat menarik dan penting, terutama buat kedua anak saya,” ujar Dodi.

Pengalaman paling menarik saat di Danau Toba. Mereka masuk Toba dari jalur utara, lewat Simalem, dan menginap di Menara Tele. “Ketepatan di Menara Pandang Tela ada parkiran strategis, maka kami pun tidur semalaman di Tele, dan paginya bisa menyaksikan sunrise yang sangat indah,” ujar Melati Putri, istri Dodi.

Belajar kopi di Takengon…. Bercengkerama dengan gajah di Lampung. (ist)
Bersama penduduk pedalaman Mentawai . . . Bersama penduduk lokal Nias yang terkenal dengan kepiawaian lompat batu-nya. (ist)

Motivasi melakukan perjalan keliling Indonesia itu awalnya di bulan Juli 2017, ketika pergi mengunjungi sebuah desa Wairebo di Flores yang letaknya 1500 dpl. Untuk mencapai lokasi itu, mereka harus tracking. Di sana, belum teraliri listrik, signal HP pun tidak ada. “Kami singgah di satu desa yang seolah tak pernah tersentuh peradaban luar. Rumah mereka sangat unik,” ujar Dodi.

Kehidupan warga Wairebo, berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat desa lain, apalagi masyarakat kota. Mereka menyatu dengan alam. Hidup dengan alam. Hidup dari alam. Penduduk dan alam setempat, seperti tercipta untuk saling menjaga, saling melindungi, saling menghidupi.

Menurut Dodi, sangat banyak keunikan lokal Tanah Air kita. “Jadi inti perjalanan ini adalah belajar, maka kami buat judul Unlocking Indonesian’s treasure, yang maknanya meng-unlock atau membuka kunci kekayaan negeri Indonesia,” ujar Putri yang lulusan Geo Fisika itu.

Di kesempatan sama Kurnia Utama, selaku Kepala Seksi Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut (Disbudpar) sangat mengapresiasi yang dilakukan Keluarga Dodi Kusmajadi, “Saya sangat terkesan dengan Keluarga Kusmajadi, yang menjelajahi keindahan alam Indonesia, dan belajar, lalu informasi yang didapat ketika menjelajahi di beberapa daerah dapat dilihat di Instagram @keluarga.kusmajadi,” ujar Utama. (monang sitohang)

Foto bersama Dodi Kusmajadi. (monang s)

Mencari Sensasi di Jembatan Terpanjang di Dunia

 

PASTI ada sensasi tersendiri tatkala kita kali pertama melewati jembatan terpanjang di dunia, yang melintang di atas laut.

Sensasi itu bisa Anda dapatkan kalau berkunjung ke China. Entrinya bisa dari Macau atau Hong Kong. Terserah Anda. Bisa juga dari China daratan, di Kota Zhuhai di Provinsi Guangdong.

Jembatan penyeberangan terpanjang di dunia yang melintasi laut itu, Selasa (23/10/2018) ini diresmikan oleh Presiden China Xi Jinping dalam sebuah upacara seremonial yang digelar di kota selatan Zhuhai.

Megaproyek senilai $ 20 miliar itu menghubungkan Cina daratan dengan wilayah semi-otonomi Hong Kong dan Makau, dengan jembatan jalan sepanjang 55 kilometer. Proyek tersebut dikerjakan selama hampir sembilan tahun.

Jembatan ini  adalah salah satu elemen kunci dari rencana Tiongkok untuk Wilayah Teluk Lebih Luas yang mencakup 56.500 kilometer persegi di  Tiongkok selatan, dan mencakup 11 kota, termasuk Hong Kong dan Makau, yang merupakan rumah 68 juta orang.

 

Jaringan transportasi yang lebih besar
Mereka yang mendukung diwujudkannya megaproyek jembatan mengatakan itu menilai, keberadaan jembatan di atas laut itu secara signifikan akan mengurangi waktu tempuh perjalanan antara kota-kota, yang memungkinkan komuter dan wisatawan untuk dengan mudah bergerak di sekitar wilayah tersebut.

“Dengan jembatan itu, waktu perjalanan antara Hong Kong dan wilayah Delta Sungai  Mutiara Barat akan diperpendek secara signifikan, sehingga akan membawa orang untuk ke Delta Barat cukup dalam waktu tiga jam perjalanan dari Hong Kong,” kata sekretaris transportasi kota, Frank Chan.

Meskipun fokus pada waktu mengemudi, namun pemilik mobil pribadi di Hong Kong tidak akan dapat menyeberangi jembatan tanpa izin khusus. Sebagian besar pengemudi harus parkir di pelabuhan Hong Kong, beralih ke shuttle bus atau mobil sewaan khusus begitu mereka melewati imigrasi. Shuttle bus biaya $ 8 hingga $ 10 untuk sekali perjalanan tergantung week days atau week end.

Presiden China Xi Jinping tampak puas dengan usainya megaproyek ini. Dia bertepuk tangan di atas panggung setelah pembukaan resmi Jembatan China-Zhuhai-Makau-Hong Kong, 23 Oktober 2018.

Namun, proyek ini bukan tidak menuai kritik. Bagaimana kalau jaringan kereta nantinya selesai, juga ketika  jembatan Shenzhen-Zhongshan, yang  selesai sekitar tahun 2024? Pastinya itu akan mengurangi lalu lintas di sambungan Zhuhai lebih dari 25% dalam 20 tahun.

Bagi para kritikus pemerintah Cina, jembatan ini dipandang sebagai alat untuk menyeret Hong Kong – yang menawarkan badan legislatif semi-demokratis dan peradilan yang independen – lebih dekat ke cengkeraman Beijing.

“Anda tidak dapat melihat koneksi transportasi yang ada – secara harfiah. Tapi jembatan ini sangat terlihat … Anda dapat melihatnya dari pesawat ketika Anda terbang ke Hong Kong, dan itu mempesona,” kata anggota parlemen Claudia Mo kepada CNN pada awal tahun.

“Ini menghubungkan Hong Kong ke Cina hampir seperti tali pusar. Anda melihatnya, dan Anda tahu bahwa Anda terhubung ke ibu pertiwi.”***

Darah Berdesir di Jembatan Situ Gunung

Jembatan gantung Situ Gunung. Panjang 240 meter, lebar 2 meter, ketinggian 120 meter.

YANG merasa phobi ketinggian, yang lemah jantung, dan yang penakut… stop, tidak perlu melanjutkan membaca tulisan ini. Ini adalah sepenggal kisah tentang objek wisata yang menjamin darah berdesir, jantung berdegup lebih kencang, dan adrenalin terpacu kencang.

Jembatan gantung Situ Gunung, itulah nama objek wisata ini. Adanya di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Jl Kadudampit, Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat.

Gapura memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango..

Jembatan ini menghubungkan obyek wisata Situ Gunung dan Curug (air terjun) Sawer. Sebuah jembatan gantung yang terbuat dari pelat tali baja dengan panjang 240 meter dan lebar 2 meter. Yang mearik, jembatan itu tergantung di ketinggian 120 meter. Konon, ini jembatan gantung terpanjang di Indonesia.

Untuk bisa menikmati sensasi melintas di jembatan gantung terpanjang dan tertinggi itu, Anda akan dikutip bayaran Rp 50.000, dan Rp 25.000 untuk anak-anak. Harga itu sudah termasuk tiket menikmati keindahan Curug Sawer dan Danau Situ Gunung.

Untuk mencapai jembatan ini, Anda harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer dari gerbang masuk. Jarak sejauh itu, harus Anda tempuh dengan berjalan kaki lewat jalur menanjak dan bebatuan. Akan tetapi tidak perlu risau, sebab sepanjang perjalanan Anda akan disuguhi keindahan hutan tropis kaki Gunung Pangrango. Hijau, sejuk, dan menyegarkan.

Pintu masuk jembatan gantung. Harus antre.

Di ujung jarak, tampak pintu masuk jembatan gantung. Sabar, petugas akan mengatur sedemikian rupa, sehingga jumlah manusia di atas jembatan tidak akan lebih dari 40 orang. Untuk itu, pengunjung memang harus rela mengantre. Menurut petugas, kapasitas jembatan gantung itu mampu menahan beban hingga 100 orang, tetapi demi kenyamanan dan keamanan, hanya 40 orang saja yang diizinkan melintas bersamaan.

Manakala kaki mulai melangkah ke atas jembatan gantung, sensasi pun mulai terasa. Makin jauh melangkah, makin kencang darah mengalir. Bukan saja karena ayunan jembatan yang menimbulkan goyangan “ngeri-ngeri sedap”, tetapi kalau melihat ke bawah, spontan darah berdesir. Perasaan itu disebut acrophobia. Orang Jawa bilang, “singunen”. Orang Sunda bilang, “sieun jangkung”.

Namun, bila Anda tidak ada masalah dengan itu semua, maka hanya keindahan yang Anda dapatkan. Ke arah mana pun pandangan Anda tebar, yang ada adalah pemandangan alam yang mempesona. Jangan lupa, pastikan baterei HP dalam posisi penuh… sebab, Anda akan sangat frustrasi kalau baterei habis saat sedang selfie di atas jembatan gantung itu.

Nah, sesampai di ujung jembatan sana, Anda dapat kembali memanjakan mata memandangi indahnya Curug Sawer dan Danau Situ Gunung. Meski untuk itu, masih ada sedikit “perjuangan”. Anda harus menempuh perjalanan kaki kurang lebih satu kilometer menuju Curug Sawer, dan satu kilometer lagi menuju Danau Situ Gunung. ***

Jembatan bambu menuju Curug Sawer.
Selfie dengan latar belakang keindahan hutan tropis Gunung Pangrango.
Curug Sawer.

Arab Saudi Bisa Jadi Tujuan Wisata Di Masa Depan

Kalau dilihat dari atas, kawasan Al-Ula tampak menakjubkan penuh dengan situs arkeologis yang belum diketahui arti atau maksudnya dan ditambah sebuah kota kosong. Kawasan seluas 22.500 kilometer persegi merupakan wilayah penuh dengan warisan budaya besar.

Tim survei, baru-baru ini, menyebutkan mereka sudah berhasil mengidentifikasi ratusan situs arkeologis dan menemukan bukti-bukti kawasan ini pernah ditinggali manusia dengan budaya tinggi jauh lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya. Mereka juga menemukan struktur-struktur bangunan aneh yang fungsi atau maknanya masih diselimuti misteri.

Amr Al Madani, CEO Komisi Kerajaan untuk Al-Ula (RCU), yang dibentuk Juli lalu, berharapkawasan ini akan mulai menerima turis dalam waktu empat tahun mendatang atau sekitar tahun 2022 dan pada tahun 2035, setelah seluruh proyek selesai, maka sebanyak 1,5 juta turis akan berkunjung setiap tahunnya.

Sebagai pembanding, 446.000 orang mengunjungi Petra di Yordania dan 5,4 juta turis mengunjungi Mesir pada tahun 2016. “Al-Ula akan jadi warisan budaya yang hidup, museum alam dan budaya, sebuah tujuan (wisata) yang akan mengejutkan dan menyenangkan, “ tuturnya.

Sejauh ini kunjungan ke Arab Saudi hanya bekerja, bisnis, atau religius. Upaya mengembangkan turisme menjadi bagian dari reformasi ekonomi, yang dirancang akan mengakhiri ketergantuan negara ini pada ekspor minyak dengan visi 2030-nya.

Selain Al-Ula, Saudi juga membangun resor-resor disepanjang pantai Laut Merah dan enam taman bermain – seperti Dunia Fantasi di Ancol — di Ibukota Riyadh. Namun visa kunjungan turis, yang direncanakan keluar bulan April 2018, belum ditetapkan dan masih dibahas oleh Kerajaan.

Potensi turisme terbesar Arab Saudi ada di Mada’in Salih. Sebuah wilayah dengan koleksi 111 kuburan kuno yang dipahat pada tebing batu, yang juga satu dari empat situs warisan budaya UNESCO. Mada’in Salih dibangun oleh Nabatean, sebuah peradaban yang juga membangun kota Petra di Yordania.

Saat ini, Mada’in Salih, bagian dari Al-Ula,  masih tertutup untuk umum. Kawasan ini akan kembali dibuka setelah RCU mengatur agar situs bisa dilihat banyak orang tapi juga terjamin kelestariannya.

Rebevva Foote, arkeolog yang bekerja untuk RCU, sedang melakukan survei untuk mendokumentasi semua bekas aktivitas manusia di masa lalu dan membuat sebuah daftar yang akan membantu situs mana yang perlu dipelajari kembali, konservasi, dan mengambangkan turisme.

Lembah Al-Ula, ketika masih kaya akan sumber air, menjadi lintasan perdagangan selama ribuan tahun. Para pedagang membawa kemenyan, dupa, dan batu mulia. Menurut Foote , kota besar pertama di lembah, Dedan — sekarang disebut Al-Khurayba — dibangun pada tahun 100 SM. “Rute dari selatan ke Mesapotamia, Mesir, dan seterusnya di bagian barat Semenanjung Arab,” jelas Foote. Jalur yang ditandai dengan oasis – oasis seperti gambar titik-titik. “Oasis menyediakan air untuk orang dan binatang. Dan Unta, yang minum sekali-kali, memungkinkan perjalanan panjang,” imbuhnya.

Namun jalur perdaganan ini pelan-pelan ditinggalkan setelah kapal dibuat dan mampu mengarungi Laut Merah.

Lembah ini sepi selama ratusan tahun dan kembali hidup setelah Islam hadir di Timur Tengah. “Mekah dan Medina jadi pusat keagamaan dan tujuan para peziarah. Al-Ula selalu dilintasi oleh peziarah yang mengambil rute selatan dari Suriah.”

Para arkeolog, beberapa tahun terakhir, memusatkan risetnya pada Mada’in Salih, Al-Khuraybah, dan Kota Tua Al-Ula. Kota ini, yang kosong, terdiri dari rumah-rumah terbuat dari batu dan bata. Menurut Foote, kota ini sudah ditinggali sejak abad ke 12 sampai tahun 1980-an.

Mereka juga menemukan tembok batu bertuliskan beberapa bahasa, Aramaic, Arabic, Nabataean, Yunani dan Latin. Tulisan-tulisan ini belum diterjemahkan dan diteliti lebih lanjut. Selain itu, ditemukan seni batu bergambar, yang berasal dari masa sebelum ada bahasa tulis. Seni batu ini memberikan penjelasan, “Ada gambar Jerapah, Burung Unta, Gajah, Unta dan gambaran perburuan binatang liar,” jelas Jamie Quartermaine, yang melakukan survei dengan bantuan teknologi tinggi.

Gambar binatang-binatang itu memberi petunjuk usia seni gambar itu. “Jerapah dan Burung Unta berasal dari periode sebelum tahun 6.000 SM, saat mereka hidup di sekitar lembah. Namun catatan perubahan iklim memperlihatkan wilayah ini berubah dari padang sabana menjadi gurun. Ketika kawasan jadi kering, binatang terdesak ke selatan di Afrika,” jelasnya.

Tingkat pelestarian di Al-Ula sangat baik. Di gurun yang juga berarti tidak ada erosi air dan banyaknya batu disekitar lokasi menyebabkan bangunan-bangunan tidak perlu dirobohkan, yang biasa terjadi di tempat lain ketika manusia ingin membangun struktur yang lain.

Struktur paling banyak di Al-Ula adalah kuburan batu, berupa tumpukan batu berbentuk lingkaran atau persegi-panjang. “Kami belum memverifikasi usia (kuburan batu ini), namun sebagian tampak berasal paling tidak dari tahun 4.000 SM,” jelas Foote. Dia menambahkan ada kemungkinan sampai pada masa Neolithic (10.000 sampai 4.500 SM). “Temuan ini sangat menarik karena memperlihatkan kawasan ini sudah ditinggali manusia jauh lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.”

Sementara itu, arkeolog David Kennedy, yang memimpin survei di Al-Ula bagian dalam dan satu tim dengan Foote, menjelaskan, “Dalam waktu 10 hari terbang (dengan helikopter) kami menemukan sekitar 4.000 situs”.

Bagian paling menarik adalah ‘Gerbang’ — berupa struktur batu seperti tembok dengan lubang pintu. Beberapa gerbang di Al-Ula sebesar 200 meter. “Pintu gerbang merupakan (struktur) unik di Arab Saudi. Saya belum pernah melihat ini ditempat lain. Tidak ada pintu masuk dan kami tidak tahu apa kegunaannya,” ujar Kennedy.

Jika turis datang ke Arab Saudi, tempat menonjol di Al-Ula tampaknya adalah Mada’in Salih, dan kota tua Al-Khuraybah.

Pemeintah Saudi sendiri sudah memandatangani kesepakatan dengan Perancis, yang akan mengembangkan Al-Ula sebagai tujuan wisata dengan pembangunan hotel, infrastruktur transportasi dan museum kelas dunia. Al-Madani mengantisipasi aka nada 50% pengunjung berasal dari Saudi dan kawasan Teluk dan 50% lain dari luar negeri.

Apakah turis akan datang di negara Islam, yang sangat konservatif ini. Apalagi berbagai pembatasan masih diberlakukan terhadap perempuan, kendati sudah agak dilongarkan khusus untuk turis — jika perempuan berusia 25 tahun lebih maka boleh berpergian tanpa dikawani oleh laki-laki (ayah atau keluarganya). Al Madani berkilah, mengunjungi tempat yang sangat unik akan menekan soal-soal seperti itu. “Saat mereka tiba disini, mereka akan menikmati keramahan kami, menerima tradisi dan kebiasaan setempat dan menghormati norma dan nilai komunitas dimana mereka bertemu.”

 

Sumber informasi: CNN

 

Tahura Djuanda… Dari Hammock hingga Pengantin

Uji nyali sampai “lantai” ketujuh. Foto: S. Resti Handini

BERFOTO ria untuk pre wedding kini tidak lagi melulu di studio foto. Out door kini lebih menarik jadi pilihan para calon pengantin, salah satunya di Tahura bagi calon mempelai yang bertempat tinggal di kitaran Bandung.

Taman Hutan Raya (Tahura) Juanda dapat dikatakan sebagai salah satu paru-parunya kota Bandung. Kini hutannya mencapai luas 590 Ha membentang dari Dago Pakar hingga kawasan Maribaya Lembang. Padahal tahun 1965, luas hutan yang didomiasi pohon pinus (pinus merkusii) serta lumut dan pakis ini, hanya 10 Ha.

Luasnya hutan yang berada di kampung Pakar Desa Ciburial Kecamatan Cimenyan, ada beberapa pintu masuk. Paling mudah dicapai adalah pintu masuk dari Dago Pakar. Dengan membayar Rp 20 ribu per orang domestik dan Rp 76 ribu tamu dari luar negeri, Anda dapat menikmati segarnya udara di antara pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi dan aneka pepohonan lainnya.

Di area Tahura yang berada di ketinggian 770 m -1330 m Dpl, Anda dapat mengunjungi beberapa objek wisata seperti goa Jepang, goa Belanda, Tebing Keraton, Curug Omas Maribaya, dan penangkaran Rusa tutul. Bahkan Anda dapat melakukan hiking ringan dan bercamping bersama rombongan. Tidak hanya itu, di sini pun Anda bisa melihat museum Ir H.Djuanda, Perdana Menteri terakhir di era Demokrasi Parlementer.

Kegiatan yang belakangan menjadi tujuan utama kawula muda adalah bergelayut (hammock) di ketinggian pohon pinus. Dengan ayunan kain parasut, kanvas dengan tali-tali pengaman, Anda bisa berebahan santai. Bergaya sendiri maupun bersama teman-teman. Makin tinggi Anda memanjat semakin diuji nyali Anda. Ingin ber-hammock, Anda hanya membayar Rp 20 ribu per orang.

Siapa penggagas wisata model baru ini? Mereka dari berbagai perguruan tinggi (Mapala) di Bandung yang memproklamirkan diri sebagai pencinta lingkungan.

Tentu saja dalam beraktivitas kegiatan ini mereka sangat concern untuk tidak merusak alam sama sekali. Yang pasti mereka tidak boleh melukai pohon sedikit pun…. Demikian pula soal kebersihan, mereka selalu mengingatkan pengunjung untuk selalu menjaganya. ***

Berselfi sekaligus uji nyali. Makin tinggi, makin sensasional rasanya. Foto: S. Resti Handini
Foto bersama di depan patung Ir H Djuanda. Foto: S. Resti Handini
Sepasang calon pengantin, berfoto pre-wedding di rimbunnya Tahura Djuanda. Foto: S. Resti Handini

Indonesian Weekend 2018 Kembali Digelar di London

MELANJUTKAN  sukses 2017 lalu, Indonesian Weekend 2018 ditargetkan dihadiri sedikitnya 39.000 pengunjung atau naik 30 persen. Sebagaimana diketahui, Indonesian Weekend merupakan festival tahunan yang dihelat Kemenpar. Festival ini bertujuan mempromosikan Wonderful Indonesia (WI) di Inggris. Festival budaya Indonesia ini akan digelar, 8 -9 September 2018, di Potters Fields Park, tepat sebelah Tower Bridge, jantung Kota London.

“Setiap Indonesian Weekend digelar selalu dipadati pengunjung. 2017 lalu, jumlah pengunjung mencapai 30.000 wisatwan manca negara (Wisman). Untuk 2018, ditargetkan jumlah pengunjung naik 30 persen menjadi 39.000 wisatawan manca negara,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Nia Niscaya, di Jakarta, kemarin.

2017 lalu, Indonesian Weekend berhasil mendatangkan 30.000 pengunjung. Rinciannya, 72,4 persen warga Inggris yang tinggal di London dan sekitarnya, 24,7 persen warga non-Inggris dan 2,9 persen orang Indonesia. “Indonesia Weekend menampilkan budaya yang kita miliki. Untuk itu, kami juga menggandeng airlines untuk menyediakan paket wisata,” tambah Nia.

Nia menambahkan, selain buat mempromosikan Wonderful Indonesia (WI), Indonesia Weekend 2018 juga sebagai upaya menarik kunjungan Wisman dari Inggris dan negara Eropa lainnya.  “Untuk pasar Eropa, Inggris merupakan sumber wisman utama bagi pariwisata Indonesia. Tahun ini diperkirakan jumlah wisatawan Inggris yang berwisata ke luar negeri (outbound) sebanyak 40 juta orang, sedangkan yang datang ke Indonesia tahun lalu sesuai target sekitar 384.000 wisman,” papar Nia lagi.

Menurut Nia Niscaya, Indonesian Weekend ini merupakan event yang strategis untuk meningkatkan kesadaran terhadap brand Wonderful Indonesia di Inggris, yang promosinya digencarkan dilakukan baik menggunakan media online maupun offline seperti memasang poster di sejumlah main London Tube Stations, pemberitaan di media lokal dan nasional Inggris, serta melalui media sosial.

Nia Niscaya menambahkan, Indonesian Weekend 2018 ini selain untuk mempromosikan Wonderful Indonesia dan menarik kunjungan wisman Inggris juga sebagai Recovery Bali. “Indonesian Weekend 2018 ini juga sebagai Recovery Bali. Kita kehilangan sekitar 1 juta wisman karena Erupsi Gunung Agung, diharapkan ajang ini ikut membantu memulihkan Pulau Dewata,” tandasnya. (gun)

Astindo Perkenalkan Keindahan Sumut Melalui Famtrip

Ketua Dewan Pimpinan Daerah Astindo (DPD Astindo) Sumut, Willy TM Sihombing dan pengurus lain saat jumpa pers di Hotel Grand Impression.

ASOSIASI Travel Agent Indonesia (Astindo) DPD Sumut menggelar acara famtrip asal Thailand guna memperkenalkan keindahan pariwisata Sumatera Utara. Acara dimulai pada 28 Agustus – 1 September 2018, dengan rute perjalanan mengunjungi Parapat, Pulau Samosir, Taman Simalem, Brastagi dan Medan.

Peserta famtrip ini selain 7 media televisi Thailand juga 14 travel agent outbound dari Bangkok dan 2 Asosiasi Travel Agent di Thailand yaitu Association of Thailand Travel Agent (ATTA), Thai Travel Agent Association (TTAA), Air Asia Indonesia dan Air Asia Thailand. Hal itu dikatakan Ketua Dewan Pimpinan Daerah Astindo (DPD Astindo) Sumut, Willy TM Sihombing di Hotel Grand Impression, Medan kepada awak media, Senin (28/8).

“Acara famtrip ini, cara kita mempromosikan potensi pariwisata secara langsung untuk melihat keindahaan alam, budaya Indonesia khususnya Sumatera utara kepada masyarakat Thailand melalui media televisi yang turut hadir dan mempertemukan para steakholder lokal dengan manca negara untuk membicarkan business to business sehingga terjalin kontak bisnis kedua belah pihak yang saling menguntungkan,” ujar Willy, didampingi Sekretaris Astindo Tengku Feria Aznita.

Di kesempatan sama Kepala Devisi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Badan Pengembangan Otoritas Danau Toba (BPODT) Wahyu Dito mengatakan sangat berharap dapat mendukung teman-teman di industri pariwisata dengan terselengaranya famtrip ini, tentunya dapat meningkatkan atmosfer industri kepariwisataan yang baik, sehingga bisa meningkatkan kunjungan wisatawan terutama khususnya wisman dari Thailand ke kawasan Danau Toba.

“Dengan kegiatan ini saya berharap para pelaku industri pariwisata lebih kreatif dalam menampilkan atraksi atau pertunjukan pariwisata, serta membuat paket wisata yang nyaman untuk wisatawan dari Thailand sehingga mungkin bisa menghabiskan waktu 2 atau 3 malam di kawasan Danau Toba maupun di kawasan Utara Danau Toba Berastagi, atau di Selatan di Balige dan sekitarnya. Kalau flight dari bandara Silangit langsung ke Bangkok belum ada, yang baru ada dari Kuala Lumpur ke Silangit dan sebaliknya, jadi kalau Bangkok ke Silangit bisa transit melalui Kualanamu (KNO) menggunakan Wings Air,” jelasnya.

Kemudian Tengku Feria Aznita juga mengatakan selaku pelaku industri pariwisata berharap dapat selalu bersinergi dengan pemerintah untuk mengembangkan dan memajukkan destinasi wisata yang ada di Sumut. “Seperti hal kegiatan famtrip ini disponsori BODT, Dinas Pariwisata Pemerintahan Kabupaten Samosir, Thomas Ginting (Anggota DPRD Tanah Karo), Hotel Horison Sky Kualanamu, Hotel Danau Toba International Medan, Taman Simalem Resort, Hotel Sinabung Hills Brastagi, Restoran Kenanga Garden Medan, seluruh member ASTINDO DPD Sumatera Utara dan Komunitas Penggiat Pariwisata Indonesia (KOPPI),” pungkas Tengku Feria Aznita. (monang sitohang)

Rombongan Famtrip dari Thailand, saat tiba di Bandara Kuala Namu, Sumatera Utara.