Dengan ‘Home Car’ Menjelajah Indonesia

 Dengan ‘Home Car’ Menjelajah Indonesia
Dengan mobil ini, keluarga Kusmajadi keliling Indonesia. (ist)

Menjelajah alam Indonesia sekaligus memanjakan lidah dengan aneka kuliner khas daerah, adalah impian banyak orang. Sayang, tidak semua orang bisa melakukannya. Entah karena faktor ketiadaan waktu, ketiadaan biaya, dan banyak faktor lain.

Berbeda dengan Keluarga Dodi Kusmajadi. Ia bersama Melati Putri sang istri, serta dua anaknya Abdul Hakim Putra Kusmajadi (14) dan Nara Sabiya Putri Kusmajadi (13) memiliki kesempatan menjelajahi Indonesia selama setahun lebih dengan menggunakan mobil. Sebuah van dimodifikasi menjadi home car, lengkap dengan kamar mandi, mesin cuci, tempat duduk yang bisa disetel menjadi tempat tidur, televisi, kulkas mini dan lain-lain. Di dinding mobil bertuliskan Unlocking Indonesia`s Treasure.

Penjelajahan Indonesia dimulai dari Sumatera, lanjut ke Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi dan Kalimantan. Setelah itu dilanjutkan ke Maluku dan Papua tapi tidak menggunakan home car karena sejumlah pertimbangan. “Sudah dua bulan perjalanan ini kami lakukan, sejak start 3 September 2018,” ujar Dodi.

Dodi Kusmajadi bersama istri dan kedua putra-putrinya. (foto: monang s)

Dodi Kusmajadi mengawali perjalanan wiatanya dengan menelusuri pantai Barat Sumatera. Kami menelusuri Lampung, Bengkulu, Padang dan menyeberang ke Kepulauan Mentawai. Lanjut menuju Sibolga, Nias naik ke Balige, Danau Toba, Sidikalang menuju Subu Salam, Aceh dan menyeberang ke Pulau We. “Kami sampai di titik nol kilometer,” ujar Dodi, yang asli Tangerang, saat ditemui di penginapan Roemah 28, Jl. Sei Selayang, Medan Baru beberapa waktu lalu.

Selama perjalanan di Sumatera Utara banyak tempat pariwisata menarik disinggahi dan dijadikan pelajaran, Seperti di Nias, alamnya begitu indah, sejarah yang sangat menarik, serta rumah adat yang eksotik. Kemudian di Tangkahan, ia belajar langsung mengenal, memandikan dan bermain dengan gajah. Sedang, di Takengon bisa belajar dan melihat petani kopi menanam, memanen sampai memproses jadi kopi. “Semua sangat menarik dan penting, terutama buat kedua anak saya,” ujar Dodi.

Pengalaman paling menarik saat di Danau Toba. Mereka masuk Toba dari jalur utara, lewat Simalem, dan menginap di Menara Tele. “Ketepatan di Menara Pandang Tela ada parkiran strategis, maka kami pun tidur semalaman di Tele, dan paginya bisa menyaksikan sunrise yang sangat indah,” ujar Melati Putri, istri Dodi.

Belajar kopi di Takengon…. Bercengkerama dengan gajah di Lampung. (ist)
Bersama penduduk pedalaman Mentawai . . . Bersama penduduk lokal Nias yang terkenal dengan kepiawaian lompat batu-nya. (ist)

Motivasi melakukan perjalan keliling Indonesia itu awalnya di bulan Juli 2017, ketika pergi mengunjungi sebuah desa Wairebo di Flores yang letaknya 1500 dpl. Untuk mencapai lokasi itu, mereka harus tracking. Di sana, belum teraliri listrik, signal HP pun tidak ada. “Kami singgah di satu desa yang seolah tak pernah tersentuh peradaban luar. Rumah mereka sangat unik,” ujar Dodi.

Kehidupan warga Wairebo, berbanding terbalik dengan kehidupan masyarakat desa lain, apalagi masyarakat kota. Mereka menyatu dengan alam. Hidup dengan alam. Hidup dari alam. Penduduk dan alam setempat, seperti tercipta untuk saling menjaga, saling melindungi, saling menghidupi.

Menurut Dodi, sangat banyak keunikan lokal Tanah Air kita. “Jadi inti perjalanan ini adalah belajar, maka kami buat judul Unlocking Indonesian’s treasure, yang maknanya meng-unlock atau membuka kunci kekayaan negeri Indonesia,” ujar Putri yang lulusan Geo Fisika itu.

Di kesempatan sama Kurnia Utama, selaku Kepala Seksi Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut (Disbudpar) sangat mengapresiasi yang dilakukan Keluarga Dodi Kusmajadi, “Saya sangat terkesan dengan Keluarga Kusmajadi, yang menjelajahi keindahan alam Indonesia, dan belajar, lalu informasi yang didapat ketika menjelajahi di beberapa daerah dapat dilihat di Instagram @keluarga.kusmajadi,” ujar Utama. (monang sitohang)

Foto bersama Dodi Kusmajadi. (monang s)
Digiqole ad

Related post

1 Comment

  • […] kami ada janji wawancara dengan media lokal, lalu Pak Tama, Staf Pariwisata Sumatera Utara yang kebetulan ketemu kami di Roemah28, mengajak […]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *