Tanah yang Lebih Tua dari Namanya

Kisah Panjang Nusantara Sebelum dan Sesudah Menjadi Indonesia

Oleh: Heri Mulyono | Februari 2026

Jauh sebelum kata “Indonesia” terucap oleh siapa pun, sebuah peradaban agung telah berdenyut di antara dua samudra—merajut rempah, bahasa, dan kepercayaan menjadi satu hamparan takdir yang sejak ribuan tahun silam kita kenal sebagai Nusantara.

Sebelum Ada Peta

Sekitar 1,8 juta tahun yang lalu, ketika sebagian besar Eropa masih tertutup gletser, Homo erectus telah menginjakkan kaki di tanah yang kini kita kenal sebagai Jawa. Fosil “Manusia Jawa” yang ditemukan Eugene Dubois pada 1891 di Trinil, Ngawi, bukan sekadar tulang rapuh di dalam batu—ia adalah pernyataan keras bahwa kepulauan ini adalah salah satu pangkalan peradaban tertua umat manusia di planet ini.

Ribuan tahun kemudian, sekitar 2000 SM, gelombang migrasi bangsa Austronesia mengalir deras dari daratan Asia Tenggara ke seluruh kepulauan. Mereka membawa perahu bercadik, benih padi, dan kemampuan navigasi bintang yang bahkan hari ini membuat para arkeolog berdecak kagum. Catatan linguistik menunjukkan bahwa dari satu rumpun bahasa Proto-Austronesia, lahirlah lebih dari 700 bahasa daerah yang hingga kini hidup di seluruh nusantara—sebuah kekayaan yang menjadikan Indonesia negara dengan keragaman bahasa terbesar kedua di dunia setelah Papua Nugini (Ethnologue, 2023).

Ketika Kerajaan Menembus Cakrawala

Abad ke-7 Masehi adalah momen ketika nusantara pertama kali memperkenalkan dirinya kepada dunia dengan lantang. Sriwijaya—kerajaan maritim berbasis di Palembang—menguasai Selat Malaka selama lebih dari enam abad. Pada puncak kejayaannya, armada niaga Sriwijaya menghubungkan India, Tiongkok, dan semenanjung Arab dalam satu jaringan perdagangan yang mengalirkan sebagian besar rempah dunia pada abad ke-9.

Biarawan Tiongkok I Tsing, yang singgah di Sriwijaya pada 671 M, menulis dengan kagum tentang sebuah kota yang memiliki lebih dari seribu biksu Buddha—menjadikannya pusat studi agama yang setara dengan universitas-universitas besar di India. Ini bukan sekadar kerajaan pedagang. Ini adalah pusat intelektual.

Lalu, tiga abad kemudian, dari pedalaman Jawa muncullah Majapahit. Prabu Hayam Wuruk, yang berkuasa antara 1350–1389 M, bersama Mahapatih Gajah Mada membangun sebuah entitas politik yang membentang dari Semenanjung Malaya hingga sebagian Papua. Sumpah Palapa yang diucapkan Gajah Mada pada 1336 M—“tidak akan memakan buah palapa sebelum seluruh nusantara bersatu”—adalah deklarasi visi yang begitu modern dalam semangatnya, seolah ditulis untuk generasi yang belum lahir.

Ketika Dunia Datang Merebut Rempah

Pada 1511, armada Portugis di bawah Afonso de Albuquerque merebut Malaka. Bagi dunia Barat, ini adalah kemenangan strategis. Bagi nusantara, ini adalah pembuka dari luka panjang yang baru akan benar-benar disadari dua abad kemudian. Cengkeh dari Maluku dan lada dari Banten bernilai lebih dari emas di pasar-pasar Eropa. Dalam catatan Jan Huyghen van Linschoten (1596), satu kapal penuh cengkeh yang tiba di Lisbon bisa mengembalikan modal ekspedisi berlipat ganda.

VOC—Vereenigde Oost-Indische Compagnie—berdiri pada 1602 dan menjadi korporasi multinasional pertama dalam sejarah dunia. Pada masa jayanya, VOC memiliki lebih dari 50.000 karyawan dan armada dagang terbesar di dunia. Namun di balik angka-angka megah itu tersimpan kisah yang jauh lebih kelam: monopoli paksa, kerja rodi, dan penghancuran tatanan sosial yang telah dibangun selama berabad-abad.

Perlawanan tak pernah berhenti. Pangeran Diponegoro (1825–1830) menggerakkan Perang Jawa yang menelan korban lebih dari 200.000 jiwa dan menguras kas Belanda hingga nyaris bangkrut. Cut Nyak Dien dan Teuku Umar memimpin perlawanan di Aceh yang berlangsung selama 40 tahun (1873–1913), menjadikannya salah satu perang kolonial terpanjang dalam sejarah Asia. Thomas Stamford Raffles, yang sempat berkuasa di Jawa (1811–1816), ironisnya justru meninggalkan karya ilmiah monumental: History of Java (1817)—sebuah pengakuan betapa luar biasanya peradaban yang sedang ditundukkan itu.

Kata yang Mengubah Segalanya: Sejarah Nama “Indonesia”

Lahirnya nama “Indonesia” adalah kisah tentang sebuah kata yang lebih dulu milik ilmu pengetahuan sebelum akhirnya direbut oleh sejarah. Pada 1850, di halaman Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia (JIAEA) terbitan Singapura, etnolog Inggris George Samuel Windsor Earl mengusulkan dua nama untuk kepulauan ini: “Indunesia” atau “Malayunesia.” Earl sendiri memilih Malayunesia—ia merasa nama itu lebih tepat menghormati ras Melayu yang mendominasi kepulauan ini.

Namun seorang sarjana hukum asal Skotlandia, James Richardson Logan, yang juga menulis di jurnal yang sama, justru memungut nama yang dibuang Earl itu. Logan mengganti huruf “u” menjadi “o” agar bunyinya lebih merdu, dan lahirlah: INDONESIA. Logan-lah yang pertama kali konsisten menggunakannya dalam tulisan-tulisan ilmiahnya. Nama itu kemudian dipopulerkan secara luas oleh etnolog Jerman Adolf Bastian melalui lima volume bukunya, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (1884–1894), hingga sempat timbul anggapan keliru bahwa Bastian-lah penciptanya.

Adalah pribumi pertama yang menggunakan nama “Indonesia” secara resmi sebagai identitas politik: Ki Hajar Dewantara (Suwardi Suryaningrat). Ketika diasingkan ke Belanda pada 1913, ia mendirikan Indonesische Pers-bureau—sebuah gerakan kecil yang kelak memantik api besar. Nama itu baru benar-benar menjadi senjata perlawanan di tangan para pelajar muda yang tergabung dalam Perhimpunan Indonesia di Belanda pada dekade 1920-an.

Kebangkitan yang Dimulai dari Bangku Sekolah

Sebelum nama “Indonesia” bergema dalam sumpah para pemuda, ada sebuah ruang kelas di STOVIA, Batavia, tempat perjuangan mengambil wujud yang lebih senyap namun tak kalah dahsyat: organisasi. Pada 20 Mei 1908, Dr. Soetomo dan para mahasiswa sekolah kedokteran itu mendirikan Budi Utomo—yang kelak diakui sebagai organisasi modern pertama di Indonesia, dan tanggal berdirinya ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional (Keppres No. 316 Tahun 1959).

Budi Utomo lahir dari gagasan Dr. Wahidin Sudirohusodo yang berkeliling Jawa sejak 1907, menyebarkan cita-cita sederhana: beasiswa bagi pemuda pribumi berprestasi yang tak punya biaya sekolah. Sederhana memang, namun dari sanalah kesadaran kolektif pertama menyala. Organisasi ini awalnya bersifat sosial dan budaya—bukan politik—dan memang sempat dikritik karena keanggotaannya yang terbatas pada kalangan priyayi Jawa dan Madura. Namun justru di situlah keberanian terbesarnya: untuk pertama kali dalam sejarah kolonial, kaum pribumi terpelajar berani berorganisasi secara modern, membuktikan bahwa perlawanan tidak selalu harus berupa pedang.

Budi Utomo menjadi benih. Dari semangat yang sama, lahirlah Sarekat Islam (1912), Indische Partij (1912), Muhammadiyah (1912), hingga Perhimpunan Indonesia di negeri penjajah. Masing-masing membawa ideologi berbeda, namun satu tujuan: martabat bangsa.

Sumpah yang Mendahului Zamannya

28 Oktober 1928. Di sebuah gedung sederhana di Batavia—yang kini menjadi Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta—ratusan pemuda dari berbagai suku bangsa mengucapkan janji yang tampaknya mustahil: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Mereka memilih bahasa Melayu, bukan Jawa yang dominan secara demografis, sebagai bahasa persatuan—sebuah keputusan yang mendahului teori-teori modern tentang nation-building. Benedict Anderson dalam Imagined Communities (1983) menyebut momen ini sebagai salah satu contoh paling bersih dari “komunitas yang dibayangkan” yang menjelma menjadi nyata.

Subuh yang Paling Lama Ditunggu

17 Agustus 1945, pukul 10.00 pagi. Soekarno berdiri di depan mikrofon di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, membacakan sebuah teks sepanjang dua alinea yang ditulis tergesa-gesa setelah malam panjang yang dipenuhi perdebatan dan desakan para pemuda. “Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.” Dua kalimat. Tiga puluh tujuh kata. Dan tiga ratus tahun penjajahan runtuh.

Indonesia memasuki kemerdekaan dengan kondisi yang jauh dari ideal. Angka harapan hidup rata-rata hanya 35 tahun, sebagian besar rakyat belum mengenyam pendidikan dasar, dan tidak satu pun universitas modern dikelola oleh pribumi sendiri. Ini bukan warisan, ini adalah titik nol yang harus dibangun dari awal oleh sebuah bangsa yang baru saja belajar menyebut dirinya sendiri.

Namun dari titik nol itu, bangsa yang terdiri dari lebih dari 1.340 suku (data BPS 2010), 714 bahasa daerah, dan membentang sepanjang 5.100 kilometer—setara jarak London ke Teheran—memulai perjalanan paling nekat dalam sejarah manusia modern: membangun sebuah negara dari serpihan impian.

Warisan yang Belum Selesai

Indonesia hari ini adalah negara dengan ekonomi terbesar ke-16 di dunia (World Bank, 2024), dengan 277 juta jiwa penduduk yang tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Namun angka-angka itu hanyalah kulit luar dari sesuatu yang jauh lebih dalam dan lebih tua: sebuah peradaban yang telah melewati gelombang zaman—dari Sriwijaya hingga Majapahit, dari VOC hingga fasisme Jepang, dari Budi Utomo hingga Proklamasi—dan selalu menemukan cara untuk tetap berdiri.

Warisan terbesar Nusantara bukan emas, rempah, atau candi—melainkan sebuah bangsa yang lahir dari keberagaman dan memilih untuk tetap satu. Itulah Indonesia: bukan kebetulan sejarah, melainkan keputusan peradaban. (*)

Referensi: Ethnologue (2023); Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia, Vol. IV (1850); Benedict Anderson, Imagined Communities (1983); Adolf Bastian, Indonesien oder die Inseln des Malayischen Archipel (1884–1894); Thomas Stamford Raffles, History of Java (1817); Badan Pusat Statistik Indonesia (2010); World Bank Development Report (2024); M.C. Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200–2008 (2008); Keppres No. 316 Tahun 1959.

Ganti Mudik Motor Gratis dengan Tambahan Kuota Bus dan Kereta

Oleh Djoko Setijowarno

Sejak tahun 2014, program Mudik Motor Gratis (Motis) Kemenhub hanya menyerap kurang dari 1 persen pemudik motor. Daripada mempertahankan program yang tidak signifikan ini, hentikan program motor gratis dan alihkan dengan menambah kuota bus dan kereta api gratis.

Meski tidak dirancang untuk jarak jauh, sepeda motor menjadi primadona mudik sejak sistem angsuran diberlakukan pada 2005. Kemudahan ini memicu lonjakan produksi sepeda motor dari 3 juta menjadi 8 juta unit per tahun. Namun sayangnya berbanding lurus dengan tingginya angka kecelakaan yang tidak dikehendaki.

Sejak 2014, program mudik motor gratis Kementerian Perhubungan hanya menyerap kurang dari 1 persen pemudik, sehingga kurang efektif mengurangi beban jalan. Solusi yang lebih masuk akal adalah mudik via kapal laut ke Semarang atau Surabaya; pemudik bisa menghemat tenaga hingga 7 jam perjalanan dan hanya perlu berkendara singkat menuju tujuan akhir.

Sementara kondisi mudik ke Lampung berbeda, pemudik masih harus menempuh jarak jauh dengan sepeda motor ke ibu kota kabupaten karena minimnya akses angkutan umum ke lokasi tujuan. Perlu disediakan mudik gratis dari Bakauheni ke semua ibukota kabupaten/kota di Lampung dan dari Jabodetabek diadakan bus gratis diperbanyak ke Lampung yang menyasar ke seluruh kabupaten/kota.

Berdasarkan survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan terkait pergerakan masyarakat Lebaran 2026, mobil pribadi menjadi moda transportasi favorit dengan jumlah mencapai 76,24 juta pengguna (52,98 persen). Sementara itu, sepeda motor menempati posisi kedua dengan total 24,08 juta pengguna atau sekitar 16,74 persen .

Hingga 17 Februari 2026, Korlantas Polri mencatat jumlah sepeda motor di Indonesia telah mencapai 146,3 juta unit, mendominasi 84 persen dari total kendaraan bermotor nasional. Hal ini menandakan hampir setiap rumah tangga memiliki sepeda motor.

Regulasi Sepeda Motor

Sesuai Pasal 10 Peraturan Pemerintah Nomor 74 Tahun 2014 tentang Angkutan Jalan, angkutan barang di sepeda motor wajib memenuhi syarat lebar tidak melebihi stang, tinggi maksimal 900 mm dari jok, dan posisi barang harus di belakang pengemudi.

Selain itu, pastikan beban tidak berlebih, barang terikat kuat, dan tidak menutupi lampu. Gunakan bagasi jok atau gantungan dek untuk barang kecil, dan selalu posisikan muatan besar di belakang pengemudi.

Di negara maju, standar keamanan motor tak hanya soal helm dan SIM, tapi juga mewajibkan perlengkapan berlisensi seperti jaket, celana, dan sepatu khusus untuk meminimalisir dampak kecelakaan.

Larangan Anak Mudik Naik Sepeda Motor

Mengingat risiko keselamatan yang sangat tinggi, bagi para orang tua sangat tidak disarankan membawa anak mudik dengan sepeda motor. Selain karena kapasitas motor yang terbatas, paparan angin ekstrem dan kelelahan fisik selama perjalanan panjang dapat berdampak buruk pada kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Mengingat motor adalah kendaraan berisiko tinggi tanpa pelindung kabin, pemerintah perlu melarang pelibatan anak-anak dalam mudik motor demi melindungi mereka dari bahaya kecelakaan dan gangguan kesehatan.

Hingga sekarang, pemerintah belum melarang secara resmi, namun para ahli kesehatan memperingatkan risiko tinggi mudik motor bagi anak. Selain bahaya kecelakaan dan polusi, anak rentan mengalami hipotermia, kelelahan, stres, hingga risiko tergencet. Terlebih bagi anak di bawah dua tahun yang kemampuan motoriknya belum kuat untuk berpegangan dengan aman.

Penerapan larangan resmi bagi anak-anak untuk ikut mudik menggunakan sepeda motor harus dibarengi dengan tanggung jawab pemerintah dalam memperluas aksesibilitas transportasi publik. Hal ini berarti pemerintah wajib meningkatkan kapasitas program mudik gratis secara masif, baik melalui moda bus maupun kereta api, guna menyediakan alternatif perjalanan yang jauh lebih aman, layak, dan manusiawi bagi keluarga.

Mudik Sepeda Motor Gratis Ditiadakan

Mudik menggunakan sepeda motor sangat tidak dianjurkan karena risiko kecelakaan yang tinggi, terutama jika membawa muatan barang berlebih atau berboncengan lebih dari satu orang.

Tren mudik motor mulai marak sejak 2005 seiring kebijakan kemudahan kepemilikan kendaraan. Dengan sistem uang muka ringan dan angsuran bulanan, sepeda motor menjadi solusi mobilitas yang terjangkau bagi masyarakat.

Sepeda motor tetap menjadi pilihan karena jauh lebih ekonomis dibanding tiket transportasi umum yang harganya melonjak dua kali lipat saat Lebaran. Selain faktor biaya, pemudik memilih motor demi fleksibilitas waktu istirahat, meskipun risiko kecelakaan tetap membayangi sepanjang perjalanan.

Penyediaan bus gratis dan kemudahan pendaftarannya adalah solusi kunci untuk mengalihkan pemudik motor ke moda yang lebih aman. Hal ini penting untuk menegakkan aturan keselamatan sekaligus melindungi anak-anak dari risiko tinggi kecelakaan lalu lintas.

Anggaran mudik gratis sepeda motor sebaiknya dialihkan untuk menambah kuota bus, mengingat selama ini penyerapannya kurang dari 1 persen dan tidak efektif mengurangi kepadatan motor di jalan raya. Lagipula, ketersediaan sepeda motor di daerah sudah melimpah sehingga pemudik tetap bisa bersilaturahmi menggunakan kendaraan milik keluarga atau jasa sewa lokal.

Di Pulau Jawa, pemudik tak perlu khawatir karena jarak stasiun atau terminal ke tujuan akhir relatif dekat dan tersedia banyak moda lanjutan, termasuk jemputan keluarga.

Hentikan program mudik motor gratis (motis), karena akan lebih efektif dengan menambah kuota bus dan kereta api gratis.

Inilah pentingnya ketersediaan angkutan umum di setiap daerah yang semakin terasa saat momen Lebaran. Dengan transportasi umum yang terintegrasi, masyarakat memiliki alternatif perjalanan yang nyaman dan tidak terputus. Bahkan, saat penggunaan sepeda motor dibatasi, mulai dari depan pintu rumah hingga sampai ke kampung halaman dapat layanan transportasi umum.

Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat

Dari Big Bang ke Kecerdasarn Buatan: Perjalanan Energi, Atom, dan Masa Depan Manusia

Oleh Brigjen (Purn) MJP Hutagaol

PENDAHULUAN

Manusia hari ini hidup pada zaman yang sangat berbeda dibandingkan masa lalu. Kita dapat berbicara dengan mesin, mengendalikan alat dari jarak ribuan kilometer, dan melihat bumi dari luar angkasa. Namun di balik kemajuan teknologi itu, ada satu pertanyaan mendasar:
Dari mana semua ini bermula, dan ke mana arah peradaban manusia akan bergerak?
Ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa seluruh realitas—bumi, manusia, energi, teknologi, bahkan kecerdasan buatan—berasal dari satu proses panjang yang dimulai sejak kelahiran alam semesta.

Tulisan ini mengajak pembaca menelusuri perjalanan tersebut: dari singularitas dan Big Bang, menuju atom dan unsur kimia, lalu ke reaksi fisi dan fusi, hingga lahirnya teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI), serta tantangan dunia dan Indonesia hari ini.

  1. SINGULARITAS DAN BIG BANG: AWAL SEGALANYA

Para ilmuwan menyimpulkan bahwa alam semesta bermula dari suatu kondisi ekstrem yang disebut singularitas, yaitu satu titik yang sangat kecil, sangat panas, dan sangat padat energi.
Sekitar 13,8 miliar tahun lalu terjadi peristiwa yang dikenal sebagai Big Bang. Big Bang bukanlah ledakan seperti bom, melainkan proses ekspansi ruang dan waktu.

Contoh sederhana: seperti balon yang ditiup. Balon tidak meledak, tetapi mengembang. Demikian pula alam semesta yang terus mengembang hingga hari ini.
Teori ini dikembangkan oleh para ilmuwan seperti Georges Lemaître, Edwin Hubble, dan Stephen Hawking.

  1. DARI ENERGI MENJADI ATOM

Beberapa menit setelah Big Bang, suhu alam semesta menurun. Energi mulai membentuk partikel dasar: proton dan neutron. Dari sinilah terbentuk atom pertama, yaitu hidrogen dan helium.
Nama unsur kimia berasal dari bahasa Yunani dan Latin:
Hidrogen berarti “pembentuk air”.
Oksigen berarti “pembentuk asam”.
Atom tersusun dari inti (proton dan neutron) serta elektron yang mengelilinginya.
Ilmuwan yang berjasa dalam teori atom antara lain Antoine Lavoisier, John Dalton, dan Niels Bohr.

  1. REAKSI FUSI: DAPUR BINTANG

Di dalam bintang terjadi reaksi fusi, yaitu penggabungan atom hidrogen menjadi helium yang menghasilkan energi sangat besar.

Contoh sederhana: seperti menggabungkan dua api kecil menjadi satu api besar.

Dari reaksi fusi inilah lahir unsur-unsur berat seperti karbon, oksigen, kalsium, dan besi. Unsur-unsur ini kemudian menyebar ke seluruh alam semesta dan menjadi bahan dasar planet serta makhluk hidup.
Dengan kata lain, tubuh manusia adalah hasil proses kosmik selama miliaran tahun. Kita berasal dari unsur yang dibentuk di dalam bintang.

  1. REAKSI FISI: ENERGI ATOM DI BUMI

Jika fusi adalah penggabungan atom, maka fisi adalah pemecahan atom berat seperti uranium.
Contoh sederhana: seperti memecah kayu besar menjadi serpihan kecil yang menghasilkan panas.
Dari reaksi fisi lahirlah:
pembangkit listrik tenaga nuklir,
bom atom,
bom nuklir.
Ilmuwan penting dalam bidang ini antara lain Marie Curie, Enrico Fermi, dan Albert Einstein dengan rumus terkenal E = mc².
Ilmu yang sama dapat digunakan untuk menerangi kota atau menghancurkan peradaban.

  1. UNSUR KIMIA DALAM TUBUH MANUSIA

Tubuh manusia tersusun dari unsur alam:
oksigen,
karbon,
hidrogen,
nitrogen,
kalsium,
fosfor.
Secara teori, tubuh manusia dapat diuraikan menjadi atom-atomnya.

Namun secara praktis, tidak mungkin mengumpulkan unsur seperti uranium dari tubuh manusia untuk senjata, karena jumlahnya sangat kecil dan tidak ekonomis.
Hal ini menunjukkan pentingnya membedakan teori ilmiah dan kenyataan praktis.

  1. DARI ATOM KE DIGITAL: LAHIRNYA AI

Teknologi modern bekerja melalui:
listrik,
magnet,
gelombang elektromagnetik,
frekuensi.
Ilmuwan yang meletakkan dasar teknologi ini antara lain James Clerk Maxwell, Nikola Tesla, dan Alan Turing.
Kini berkembang kecerdasan buatan (AI), satelit, drone, sensor jarak jauh, dan komputasi supercepat.
Tokoh modern seperti Elon Musk mengembangkan roket, jaringan satelit, dan riset AI untuk masa depan manusia.
AI bekerja melalui gabungan data, algoritma, dan energi listrik.

  1. PERANG MASA DEPAN: TAK TERLIHAT

Perang masa depan tidak lagi hanya menggunakan senjata fisik, tetapi juga:
serangan siber,
drone,
kecerdasan buatan,
manipulasi informasi,
gelombang frekuensi.
Musuh dapat diserang tanpa terlihat. Ilmu fisika dan matematika menjadi senjata strategis.

  1. POSISI INDONESIA HARI INI

Indonesia berada di persimpangan sejarah: menjadi pengguna teknologi atau menjadi pencipta teknologi.
Bangsa ini membutuhkan:
ilmuwan,
insinyur,
pemikir,
rohaniawan,
ahli etika.
Agar teknologi tidak kehilangan arah kemanusiaan.

PENUTUP

Dari Big Bang hingga AI, perjalanan alam semesta adalah perjalanan energi menjadi kesadaran.
Ilmu bukan musuh iman. Ilmu adalah cara manusia membaca hukum ciptaan.

Tantangan terbesar bukan menciptakan teknologi, melainkan menjaga agar teknologi tetap melayani kehidupan, bukan menghancurkannya.
Indonesia harus menjadi bangsa yang cerdas, beretika, dan berdaulat teknologi.

DAFTAR ILMUWAN
Georges Lemaître
Edwin Hubble
Stephen Hawking
Isaac Newton
Antoine Lavoisier
John Dalton
Niels Bohr
Marie Curie
Albert Einstein
Enrico Fermi
Nikola Tesla
James Clerk Maxwell
Alan Turing
Elon Musk

Penulis:
Brigjen (Purn) MJP Hutagaol
Jakarta, Akhir Februari 2026

Lidah Rakyat, Nama Berani: Jajanan Nusantara dan Tradisi Penamaan yang Tak Tahu Malu

Sebuah Jurnalisme Sejarah Jajanan Nusantara

Oleh : Heri Mulyono

Bayangkan Anda berdiri di tengah hiruk-pikuk pasar tradisional di Bantul, Yogyakarta. Asap mengepul dari wajan minyak panas. Seorang ibu paruh baya berteriak dengan santai kepada calon pembelinya: “Kontol kejepit, Bu! Enak, anget, murah!” Tak ada yang tersipu. Tak ada yang menoleh dengan ekspresi terkejut. Semua berlangsung wajar—sama wajarnya seperti menjual tempe atau jadah.

Inilah Nusantara, tempat di mana nama makanan bisa terdengar begitu liar di telinga modern, namun justru menyimpan kearifan, kelugasan, dan bahkan filsafat tersendiri. Di sinilah letak keunikannya: di balik nama-nama yang membuat orang kota mengernyit, tersembunyi tradisi penamaan yang sudah berusia lebih dari satu abad—lahir bukan dari sembarangan, melainkan dari cara pandang masyarakat agraris yang jujur, langsung, dan tanpa pretensi.

Peta Kuliner yang “Berbahaya”

Mari kita keliling Nusantara melalui lidah dan nama.

Peli Kipu adalah penganan khas Blora, Jawa Tengah. Berbentuk seperti kue keris panjang bertaburan wijen, rasanya manis dan renyah. Dalam bahasa Jawa, peli berarti penis, dan kipu berarti kotor. Gabungkan keduanya, dan Anda akan mengerti mengapa namanya terasa provokatif. Namun asal penamaannya sederhana: bentuk adonan yang memanjang, ditaburi wijen hingga terkesan “berbintil-bintil,” secara visual dianggap menyerupai alat kelamin laki-laki dalam kondisi tertentu. Di Solo, kue serupa kini lebih banyak dijual dengan nama mancho—sebuah penyesuaian terhadap selera zaman yang makin peka.

Peli Gudiken dari Jawa Timur adalah saudara kandungnya. Berbeda dalam teknik dan tekstur, namun mewarisi logika penamaan yang sama: bentuk fisik sebagai cermin nama.

Bergeser ke Kontol Kambing dari Malang, Jawa Timur. Gorengan berbahan kacang hijau atau kacang tolo yang dicampur gula ini sudah lama jadi primadona di pasar-pasar tradisional kota apel itu. Isiannya adalah kacang hijau atau kacang tolo yang diberi campuran gula, dan jajanan ini mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional.

Mengapa namanya demikian? Tidak ada dokumentasi pasti. Yang ada hanya ingatan kolektif: bentuknya memanjang, sedikit bengkok, permukaannya keriput akibat digoreng—dan imajinasi masyarakat bekerja dengan cara yang sangat visual.

Di Bantul, ada Kontol Kejepit—atau dalam singkatan yang lebih sopan disebut tolpit. Nama kontol kejepit muncul dari cara pembuatannya, yakni dengan cara dijepit menggunakan sumpit bambu, membuat kue ini memiliki bentuk yang unik. Kue adrem yang terbuat dari tepung beras, gula jawa, dan digoreng ini hadir dalam beragam warna. Rasanya manis, teksturnya kenyal—dan namanya, menurut para pembeli, justru menjadi daya tarik tersendiri.

Lalu ada Dawet Jembut Kecabut dari Purworejo. Meski terdengar vulgar, nama Jembut Kecabut merupakan akronim dari Jembatan Butuh, Kecamatan Butuh, sebab penjual es dawet tersebut berada di sebelah timur jembatan itu. Es dawet hitam bertape ketan ini segar, manis, dan gurih—sama sekali tidak ada hubungannya dengan konotasi yang terbayang saat pertama kali mendengar namanya. Ini adalah contoh penamaan berbasis lokasi yang bertabrakan secara fonetis dengan kosakata vulgar.

Sementara Kupat Jembut dari Semarang punya kisah yang lebih dalam. Ketupat jembut merupakan ketupat yang dibelah diagonal tanpa putus, lalu disisipkan isian yang terdiri dari taoge, kol, parutan kelapa, dan bumbu-bumbu. Tampilan taoge yang mencuat dari ketupat itu dianggap menyerupai rambut kemaluan perempuan. Yang membuat Kupat Jembut istimewa bukan sekadar namanya, melainkan konteksnya: makanan ini menjadi sajian spesial yang hanya dihidangkan saat tradisi Syawalan di Semarang, Jawa Tengah, dan menurut Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan UGM Murdijati Gardjito, tradisi ini sudah ada sejak tahun 1950-an.

Dari Penjuru Lain Nusantara

Fenomena ini bukan monopoli Jawa Tengah dan DIY. Ia tersebar ke seluruh Nusantara.

Kontol Sapi dari Cilegon, Banten, adalah kue dari tepung beras ketan dan kelapa yang digoreng lalu dilumuri gula jawa cair. Bentuknya lonjong panjang—dan orang Cilegon tak merasa perlu memperindah namanya.

Turuk Bintul dari Jepara merupakan jajanan berbahan ketan dengan taburan kacang tolo. Nama turuk bintul terdiri dari kata turuk yang merupakan sebutan kemaluan perempuan dalam bahasa Jawa, sementara kata bintul berarti bengkak kecil—seolah-olah terdapat bekas bintul atau bengkak kecil pada jajanan ini.

Kontol Pesok dari Brebes adalah roti manis lonjong bertabur wijen yang digoreng. Nama pesok disematkan karena sajian ini bertekstur lembut dan mudah peyot atau pesok saat ditekan dengan jari.

Peler Berdebu dari Kepulauan Seribu, Jakarta, adalah versi lokal klepon: ubi ditumbuk, dicampur sagu, diisi gula merah, dikukus, dan ditaburi kelapa parut. Konon Peler Bedebu sudah ada sejak tahun 1970-an dan merupakan makanan khas Kepulauan Seribu.

Bol Jaran dari Jawa—nama yang merujuk pada bagian belakang kuda—adalah sebutan untuk kue ku berbentuk motif kura-kura berwarna merah yang populer saat Imlek dan selamatan.

Tai Kucing atau telek dari Solo adalah camilan tepung ketan bertabur gula yang juga dikenal sebagai widaran manis. Sejarawan Solo Heri Priyatmoko menjelaskan bahwa makanan ini sudah ada lebih dari satu abad, dan sumber tertua yang menyebutnya adalah majalah Sasadara terbitan Radyapustaka tahun 1901.

Wedang Pejuh dari Kudus, yang namanya mengingatkan pada cairan tertentu, ternyata adalah akronim dari: jeruk pemelo, jahe, sereh, dan susu kental manis. Segar dan hangat—jauh dari konotasi namanya.

Dan dari Aceh, ada Memek—bubur khas Pulau Simeulue berbahan pisang, beras ketan, dan santan. Dalam bahasa setempat, memek berasal dari kata mamemek yang artinya mengunyah beras. Sama sekali tidak vulgar dalam konteks aslinya.

Bedah Antropologi: Mengapa Nama-Nama Ini Lahir?

Pertanyaan yang lebih menarik bukan apa nama-nama itu, melainkan mengapa masyarakat merasa nyaman menggunakannya—bahkan mewariskannya lintas generasi.

1. Logika Penamaan Visual: Dunia Sebelum Metafora yang Sopan

Sejarawan Solo Heri Priyatmoko menjelaskan: “Wong Jawa senantiasa tidak memperumit dalam perkara penamaan barang. Acap terinspirasi dengan apa yang dijumpai di sekitarnya.”  Ini adalah prinsip kognitif yang sangat tua: penamaan berdasarkan kemiripan visual langsung, tanpa filter kesopanan yang baru muncul belakangan. Masyarakat agraris yang hidup dekat dengan alam—tubuh manusia, hewan, tanah—memandang anatomi bukan sebagai hal tabu, melainkan sebagai referensi deskriptif yang paling mudah diakses.

Dalam kerangka antropologi, ini disebut sebagai folk taxonomy—taksonomi rakyat yang mengkategorikan dunia berdasarkan pengalaman indrawi langsung, bukan berdasarkan norma linguistik yang dibangun institusi.

2. Tubuh sebagai Peta Semesta: Dimensi Filosofis

Dalam kosmologi Jawa—dan banyak tradisi Asia Tenggara—tubuh manusia bukan sesuatu yang memalukan. Tubuh adalah mikrokosmos, cerminan dari makrokosmos alam semesta. Organ reproduksi, dalam kerangka ini, bukan sesuatu yang hina; ia adalah simbol kesuburan, kelanjutan hidup, dan kekuatan kreatif.

Beberapa antropolog menghubungkan fenomena ini dengan tradisi phallicism yang tersebar luas di Asia Tenggara sebelum datangnya pengaruh kolonialisme dan puritanisme agama modern. Di Bali, misalnya, simbol phallus (lingga) adalah representasi spiritual yang dihormati. Di Nias dan beberapa masyarakat Dayak, referensi anatomis dalam ritual dan penamaan benda adalah hal yang lumrah—bukan lelucon, melainkan penanda kosmologis.

Ketika seorang nenek di Bantul menamakan kue buatannya “kontol kejepit,” ia mungkin tidak sedang bergurau. Ia sedang melakukan apa yang nenek moyangnya lakukan selama ratusan tahun: mendeskripsikan dengan jujur apa yang ia lihat.

3. Humor sebagai Strategi Sosial

Dari sudut pandang sosiologi, nama-nama ini juga berfungsi sebagai social glue—perekat sosial melalui tawa bersama. Di komunitas kecil, candaan bersama menciptakan rasa kebersamaan. Nama makanan yang mengundang tawa menjadi penanda identitas komunal: ini milik kita, dan kita tidak malu karenanya.

Dalam teori komunikasi, ini disebut carnivalesque—konsep yang dikembangkan filsuf Rusia Mikhail Bakhtin—yakni ruang di mana norma-norma sosial yang ketat sementara dibalik, tubuh dirayakan, dan bahasa yang biasanya ditekan justru dimunculkan. Pasar tradisional adalah ruang carnivalesque par excellence: bising, penuh warna, dan bebas dari kesopanan formal.

4. Pergeseran Makna Akibat Modernisasi

Fenomena menarik lainnya adalah bagaimana nama-nama ini bertransformasi atau bertahan justru karena tekanan modernisasi. Di era media sosial, nama seperti “kontol kejepit” menjadi viral—bukan karena masyarakat Bantul tiba-tiba menjadi vulgar, melainkan karena orang kota menemukan sesuatu yang dianggap shocking namun menghibur.

Ironinya, viralitas inilah yang kemudian menyelamatkan banyak jajanan ini dari kepunahan. Peli Kipu yang nyaris terlupakan kini mulai dijual lagi karena rasa penasaran wisatawan. Tolpit (kontol kejepit) menjadi primadona di Pasar Kangen Yogyakarta. Makanan-makanan ini menemukan pasar baru—bukan karena nostalgia, melainkan karena nama mereka yang provokatif bekerja sebagai strategi pemasaran organik yang luar biasa efektif.

Warisan yang Tak Boleh Malu

Ada sebuah paradoks yang indah di sini. Semakin “jorok” namanya, semakin ia bertahan. Sementara jajanan dengan nama biasa-biasa saja hilang ditelan zaman, Kontol Kejepit dan kawan-kawannya terus hidup—dibicarakan, diburu, dan difoto untuk diunggah ke media sosial.

Ini mengajarkan sesuatu yang dalam tentang memori kolektif: bahwa yang bertahan bukanlah selalu yang paling sopan atau paling elegan, melainkan yang paling jujur pada dirinya sendiri. Jajanan-jajanan ini adalah potret masyarakat yang tidak kenal munafik—masyarakat yang menamai dunia dengan apa yang mereka lihat, merayakan tubuh dengan cara yang sederhana, dan menyimpan filosofi besar di balik nama yang terdengar kecil.

Penamaan makanan tersebut, pada akhirnya, disepakati secara kolektif hingga akhirnya dikenal secara turun-temurun dan populer sebagai penamaan umum hingga saat ini. Itu bukan kecelakaan sejarah. Itu adalah pilihan budaya yang sadar—pilihan untuk tidak berpura-pura.

Di tengah dunia yang makin terstandarisasi, makin steril, dan makin khawatir pada political correctness, ada sesuatu yang melegakan dari sepiring kontol kejepit yang panas, renyah, dan sama sekali tidak peduli pada penilaian orang: ia ada, ia enak, dan ia bangga dengan namanya sendiri.

Begitulah jajanan rakyat Nusantara berbicara—keras, jujur, dan tak pernah memohon maaf.(*)

Mudik Lebaran 2026: Jangan hanya Bertumpu pada Jalan Tol

Oleh Djoko Setijowarno

Menghadapi mudik Lebaran 2026, pemerintah jangan hanya terpaku pada jalan tol. Dengan perbaikan jalan arteri yang layak, pemudik tak perlu lagi memaksakan diri masuk tol demi mencari kenyamanan yang setara .

Meskipun angka pergerakan masyarakat pada Lebaran 2026 diprediksi mencapai 143,9 juta orang (hasil Survey Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan Tahun 2026), jumlah ini sebenarnya mengalami penurunan tipis dibandingkan tahun 2025 yang mencatat potensi 146 juta orang.

Berdasarkan hasil survei prakiraan pergerakan masyarakat pada angkutan Lebaran 2026 (Badan Kebijakan Transportasi, 2026), mayoritas masyarakat memilih bepergian dengan alasan utama untuk merayakan Idulfitri di kampung halaman, yakni mencapai 95,27 juta orang (66,2%). Alasan lainnya adalah tradisi mengunjungi orang tua atau sanak saudara sebesar 27,78 juta orang (19,3%).

Di sisi lain, bagi masyarakat yang memutuskan untuk tidak melakukan perjalanan luar kota, alasan utamanya adalah memilih berlibur di dalam kota saja (34,40 juta orang atau 23,9%) serta kendala biaya (32,96 juta orang atau 22,9%).

Mengenai pilihan moda transportasi, mobil pribadi menjadi favorit utama masyarakat dengan jumlah mencapai 76,24 juta orang (52,98 persen). Sementara untuk kategori transportasi umum, bus menjadi pilihan paling populer yang digunakan oleh 23,34 juta orang (16,22 persen).

Pemudik yang menggunakan mobil untuk bepergian pada libur Lebaran memilih melewati Jalan Tol 50,63 juta orang (66,40 persen), kemacetan parah sulit dihindari. Solusi kuncinya bukan lagi sekadar menambah tol, melainkan membenahi jalan arteri agar pemudik punya pilihan jalur alternatif yang setara, baik dari segi keamanan maupun kenyamanan.

Ruas Tol Jakarta–Cikampek menjadi jalur yang paling padat dengan proporsi 16,30% (8,25 juta kendaraan). Kepadatan ini diikuti rapat oleh Jakarta–Cikampek II Elevated (Layang MBZ) sebesar 15,10% (7,64 juta) dan Tol Dalam Kota Jakarta sebanyak 14,20% (7,19 juta).

Sejak 2019, Tol Trans-Jawa tetap menjadi primadona karena dianggap jalur tercepat. Namun, popularitas ini harus dibarengi pengelolaan matang guna mencegah penumpukan ekstrem di titik-titik kritis.

Menurut data terbaru dari PT Jawa Marga (2026), guna menunjang kelancaran arus mudik tahun ini terdapat penambahan infrastruktur jalan tol fungsional sepanjang 120,76 km yang tersebar di empat titik utama. Kontribusi terbesar berasal dari Tol Jakarta–Cikampek II Selatan dengan panjang 54,75 km, diikuti oleh Tol Probolinggo–Banyuwangi sepanjang 49,68 km. Melengkapi jaringan tersebut, dua ruas di wilayah Provinsi DI Yogyakarta dan Provinsi Jawa Tengah juga akan dioperasikan, yakni Tol Jogja–Solo segmen Prambanan–Purwomartani (11,48 km) dan Tol Jogja–Bawen segmen Ambarawa–Bawen (4,85 km).

Jalan tol maupun arteri di Jawa tidak dirancang untuk lonjakan volume ekstrem saat Lebaran. Oleh karena itu, Pengaturan lalu lintas yang matang menjadi kunci utama. Disamping itu, kemacetan saat mudik Lebaran sulit dihindari, maka fokus utama adalah mengendalikan arus lalu lintas dan menjamin keselamatan pemudik.

Masyarakat memilih jalan tol demi kenyamanan dan keamanan, meski risiko macet tetap tinggi saat mudik. Sebaliknya, jalur alternatif menuntut kewaspadaan ekstra akibat padatnya sepeda motor serta minimnya rambu dan penerangan jalan.

Jika terjadi kerusakan kendaraan berhenti di jalur kiri dan segera menghubungi pusat pelayanan petugas untuk meminta bantuan. Pastikan kendaraan dalam kondisi prima dengan BBM terisi penuh atau keterisian batere mencukupi.

Jalur Arteri

Meski jalan tol jadi pilihan utama, kepadatan ekstrem saat Lebaran sering kali tak terhindarkan. Pemudik sebenarnya punya alternatif menarik: Jalur Pantura yang legendaris atau Jalur Pansel yang indah. Pada momen tertentu, jalur arteri ini justru menawarkan durasi perjalanan yang lebih terukur dan bebas dari jebakan macet panjang di tol. Pasar tumpah masih menjadi gangguan kelancaran lalu lintas.

Keterbatasan konektivitas utara-selatan membuat Jalur Pantura tetap menjadi tumpuan utama, apalagi Tol Bocimi dan Tol Cigatas belum rampung. Namun, kehadiran Tol Cisumdawu kini memberi angin segar; jalur ini efektif memangkas beban Tol Cipali dan Cipularang, terutama bagi pemudik dari Bandung menuju Jawa Tengah dan sekitarnya.

Ironisnya, ekspektasi bahwa jalan tol selalu lebih cepat justru memicu penumpukan kendaraan yang melampaui kapasitas. Kondisi ini diperparah oleh rest area yang dirancang untuk situasi normal. Saat Lebaran, area ini kewalahan menampung lonjakan pemudik hingga berubah menjadi titik penyumbat arus yang memicu kemacetan baru.

Penambahan Fasilitas

Menghadapi lonjakan mudik, Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) perlu memperkuat fasilitas rest area dengan penambahan toilet secara masif. Prioritas khusus harus diberikan pada jumlah toilet perempuan demi meminimalisir antrean panjang. Selain itu, pembangunan rest area tambahan darurat yang fokus pada kebutuhan dasar sanitasi menjadi langkah krusial untuk menjaga kelancaran arus di dalam tol.

Penyediaan rest area di luar jalan tol yang dekat dengan pintu keluar (gerbang tol) diharapkan mampu menghentikan kebiasaan berbahaya beristirahat di bahu jalan. Dengan adanya alternatif yang memadai, risiko penyempitan jalur dapat ditekan. Masyarakat perlu diingatkan bahwa bahu jalan bukanlah tempat istirahat, melainkan jalur steril khusus untuk kondisi darurat.

Sinergi antara BUJT dan Pemerintah Daerah menjadi kunci untuk menghadirkan tempat istirahat sementara di dekat pintu keluar tol. Contoh sukses terlihat di Tol Salatiga; hanya 500 meter dari gerbang tol, pemudik sudah bisa menemukan rumah makan dan SPBU yang luas. Agar efektif, informasi fasilitas luar tol ini perlu diintegrasikan secara real-time ke dalam aplikasi Travoy.

Meningkatnya tren mobil listrik mewajibkan BUJT menyediakan SPKLU di titik-titik strategis ruas tol. Di sisi lain, sirkulasi rest area harus dijaga melalui petugas parkir yang tegas memberlakukan batas waktu istirahat maksimal 30 menit saat padat. Aspek keamanan pun tetap jadi prioritas lewat peningkatan patroli serta kesiagaan mobil derek gratis hingga pintu keluar terdekat.

Rekayasa Lalu Lintas

Penerapan rekayasa lalu lintas satu arah (one way) yang menjadi solusi rutin dalam beberapa tahun terakhir sejatinya perlu dikaji lebih mendalam, terutama terkait dampaknya terhadap pergerakan bus antarkota. Kebijakan satu arah ini harus mempertimbangkan kelancaran armada bus yang perlu segera kembali ke Jakarta untuk menjemput  pemudik berikutnya setelah menyelesaikan pengantaran ke daerah tujuan.

Untuk mengantisipasi berulangnya kecelakaan akibat kendaraan di jalur berlawanan arah (contraflow) belajar dari kasu KM 58 yang menewaskan 12 orang pada mudik Lebaran 2024, perlu sosialisasi masif sebelum pelaksanaan. Kondisi pengemudi harus fit (hindari jangan lelah dan mengantuk), memastikan kendaraan tetap di lajur kiri (lajur kanan untuk mendahului), batas kecepatan (maksimal 60 km per jam), menjaga jarak dan mematuhi rambu lalu lintas, jika terjadi kerusakan kendaraan berhenti di jalur kiri dan segera menghubungi pusat pelayanan petugas untuk meminta bantuan, pastikan kendaraan prima dengan BBM terisi penuh atau keterisian batere mencukupi.

Kemudian pembatas jalan untuk mengamankan kendaraan dipasang lebih rapat. Semula 30 meter menjadi setiap 10 meter. Disiapkan pula mobil pengaman (safety car) serta pemadam kebakaran dan mobil derek disiapkan untuk mengantisipasi kecelakaan yang dapat mengakibatkan kebarakaran.  ***

Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pus

Koperasi di Tengah Raksasa Korporasi: Jalan Realistis Mengembalikan Amanat Konstitusi

Oleh: Brigjen Purn MJP Hutagaol

Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 tidak pernah menempatkan Perseroan Terbatas (PT) sebagai sokoguru perekonomian nasional. Yang ditegaskan justru koperasi sebagai bentuk usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan.

Mohammad Hatta tidak membayangkan koperasi sebagai usaha kecil rakyat, melainkan sebagai sistem produksi nasional yang modern, efisien, dan berkeadilan.

Namun lebih dari tujuh dekade setelah kemerdekaan, struktur ekonomi Indonesia tumbuh terbalik. Industri strategis, pabrik, distribusi, dan ekspor dikuasai korporasi besar berbentuk PT dan BUMN, sementara koperasi dipersempit menjadi simpan pinjam dan usaha kecil. Koperasi hidup dalam jumlah, tetapi mati dalam kekuatan.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah koperasi penting, melainkan: di mana koperasi dapat ditempatkan secara realistis di tengah sistem ekonomi yang telah dikuasai raksasa korporasi?

Jawabannya bukan dengan membubarkan PT dan BUMN. Jalan yang mungkin adalah membangun koperasi sebagai pemilik kolektif produksi rakyat dan mengintegrasikannya ke dalam struktur ekonomi nasional secara bertahap.

Koperasi Harus Kembali ke Produksi

Kesalahan terbesar kebijakan koperasi selama ini adalah memisahkannya dari sektor produksi. Koperasi dibiarkan tumbuh tanpa arsitektur industri yang jelas: serba usaha, serba kecil, dan terfragmentasi. Padahal koperasi seharusnya spesifik sektor dan terintegrasi rantai nilai.

Koperasi petani tidak cukup hanya menjual gabah. Ia harus memiliki penggilingan, gudang, dan jaringan distribusi. Koperasi nelayan tidak cukup hanya melaut. Ia harus menguasai cold storage dan akses ekspor. Koperasi peternak tidak cukup hanya beternak. Ia harus memiliki pabrik pakan dan rumah potong. Koperasi energi rakyat harus mengelola biomassa dan bioetanol.

Dengan cara ini, koperasi tidak lagi menjadi perkumpulan sosial, melainkan pelaku industri.

Inilah fondasi ekonomi koperasi yang sesungguhnya: penguasaan alat produksi, bukan sekadar jumlah anggota.

Integrasi, Bukan Konfrontasi

Kekhawatiran bahwa koperasi akan mengganggu perusahaan yang sudah ada adalah keliru. Yang dibutuhkan bukan persaingan destruktif, melainkan pembagian peran yang sehat.

Pengalaman Selandia Baru menunjukkan koperasi dapat berada di hulu sebagai pemilik kolektif, sementara PT menjadi unit operasional profesional. Koperasi menguasai bahan baku dan arah produksi, PT mengelola pengolahan lanjutan, logistik, dan pasar global.

Dalam konteks Indonesia, koperasi dapat menjadi mitra strategis BUMN. Koperasi petani memasok pangan ke Bulog, koperasi nelayan memasok ikan ke Perindo, koperasi energi biomassa menjadi mitra PLN. Bahkan sebagian saham anak usaha BUMN dapat dimiliki koperasi sektor terkait sebagai bentuk kepemilikan sosial atas alat produksi.

BUMN tetap menjadi tulang punggung negara, tetapi rakyat ikut memiliki sistem produksi melalui koperasi. Ini bukan nasionalisasi, melainkan demokratisasi ekonomi.

Dari Simbol ke Struktur

Selama ini koperasi diperlakukan sebagai simbol ideologi, bukan sebagai instrumen struktural. Pendidikan koperasi lebih banyak berbicara rapat anggota daripada manajemen industri. Regulasi lebih sibuk mencatat badan hukum daripada membangun skala ekonomi.

Jika koperasi ingin bangkit, negara harus berani mengambil langkah struktural: menetapkan koperasi berbasis sektor produksi, bukan koperasi serba usaha; mengintegrasikan koperasi dengan industri, logistik, dan ekspor; serta mengubah pendidikan koperasi dari administratif menjadi manajemen industri modern.

Koperasi harus diberi tempat dalam arsitektur ekonomi nasional, bukan dibiarkan tumbuh liar tanpa arah.

Antara Idealisme dan Kenyataan

Memang, banyak koperasi mati karena salah kelola, moral hazard, dan politisasi. Tetapi kegagalan masa lalu tidak boleh dijadikan alasan untuk mengubur gagasan koperasi itu sendiri. Yang gagal bukan ide koperasinya, melainkan desain strukturalnya.

Selama koperasi hanya diberi peran kecil, ia akan tetap kecil. Selama koperasi tidak diberi akses ke alat produksi, ia akan tetap lemah. Dan selama koperasi tidak diposisikan dalam sistem industri nasional, ia akan terus menjadi slogan.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Yang kurang adalah keberanian menata ulang struktur ekonomi agar rakyat tidak hanya menjadi buruh dan konsumen, tetapi juga menjadi pemilik produksi.

Penutup

Koperasi tidak akan bangkit melalui seminar, slogan, atau penambahan jumlah badan hukum. Ia hanya akan hidup jika diberi tempat dalam struktur produksi nyata. Indonesia tidak perlu membubarkan PT dan BUMN. Yang diperlukan adalah mengembalikan koperasi ke posisi konstitusionalnya: sebagai pemilik bersama alat produksi rakyat.

Jika koperasi ingin benar-benar menjadi sokoguru ekonomi bangsa, maka tidak ada pilihan lain selain menjadikannya mitra strategis dalam pangan, energi, perikanan, dan industri nasional. Inilah jalan realistis antara amanat konstitusi dan kenyataan ekonomi modern: koperasi sebagai kekuatan ekonomi, bukan sekadar warisan ideologis. (*)

Uang Benggol Jendela Peradaban

Gde Mahesa

Salah satu metode pengobatan tradisional warisan nenek moyang yang populer di negeri kita adalah “kerokan” menggunakan uang logam atau “benggol” (uang koin Hindia Belanda). Koin ini menjadi pilihan karena ukurannya yang besar dan tebal, serta bagian pinggirnya rata tidak bergerigi, sehingga tidak mudah melukai kulit saat dikerik. Konon kandungan tembaga yang ada pada koin benggol dipercaya bikin angin cepat keluar.

Uang koin kuno bagai jendela peradaban serta saksi bisu masa lalu yang mencerminkan sejarah, budaya, dan kepercayaan masyarakat di segala penjuru dunia.

Benggol ada juga yang menyebut “gobang” atau koin uang kuno yang berbentuk bulat dan ada yang di tengahnya berlubang merupakan uang tertua di Indonesia, yang berasal dari zaman kerajaan Majapahit yang kala itu disebut “gobog” (informasi akun Instagram resmi Museum Bank Indonesia).

Dalam penelusuran sumber lain, temuan para peneliti arkeologi menunjukkan, ada sejumlah mata uang yang berlaku pada masa Majapahit. Di antaranya, uang koin kepeng dan ma.

Mata uang koin kuno bukan hanya sekadar alat tukar, namun juga telah memainkan peran penting dalam kisah kehidupan manusia. Benggol, atau gobang selain menjadi incaran kolektor ternyata juga dipercaya mempunyai mitos dan aura mistis yang melekat kuat di setiap keping koinnya.

Benggol juga dipercaya mempunyai energi gaib, aura leluhur, hingga daya tarik spiritual. Memang diyakini tidak semua koin adalah uang, karena ada mata uang yang dianggap mempunyai nilai magis dan dipergunakan sebagai jimat atau syarat upacara untuk menggantikan sesuatu barang atau tindakan sesuai tujuan yang ditentukan.

Uang gobog merupakan contoh mata uang yang dipergunakan untuk benda upacara dalam kaitannya keselamatan, kesuburan, penciptaan dan ucapan syukur.

Alasan mengapa uang ini tidak banyak digunakan sebagai alat pembayaran namun justru digunakan dengan ritual karena mata uang ini tidak dibuat secara massal seperti halnya alat pembayaran. Sehingga pada masa kini telah menjadi primadona di kalangan pemburu koin kuno atau kolektor barang antik dan pecinta dunia spiritual.

Makna, fungsi uang benggol dalam dunia supranatural dan spiritual:

  • Jimat Penglaris Dagangan: Dipercaya memiliki daya magis untuk menarik pelanggan. Biasanya diletakkan di laci uang, diikat di atas pintu warung, atau dijadikan kalung/liontin oleh pemilik usaha.
  • Sarana Pengasihan (Pemelet): Melalui ritual khusus dipercaya dapat meningkatkan daya tarik penggunanya, sehingga orang lain menjadi segan, hormat, atau terpikat.
  • Tolak Bala dan Perlindungan: Karena bahannya yang tembaga tebal dan sejarahnya yang tua, benggol dianggap mampu menangkal energi negatif, gangguan makhluk halus, atau santet.
  • Penyembuhan Tradisional (Mistis): Dalam konteks kerokan, dipercaya bahwa koin kuno memiliki energi mempercepat pengeluaran angin jahat (masuk angin) dari tubuh.
  • Media Ritual Pesugihan: Uang benggol yang sudah diisi “berisi” (telah diisi khodam atau ritual khusus) kadang digunakan dalam praktik pesugihan untuk memanggil kekayaan atau sebagai perantara, meskipun hal ini termasuk dalam mistis gelap. 

Lain daripada itu, uang koin tersebut, juga digunakan sebagai pelengkap dalam persyaratan atau sesaji upacara budaya dan agama.
Sehingga sampai sekarang uang koin gobog atau benggol masih dipercaya sebagai jimat tolak bala yang dipasang di tiang utama atap rumah, atau ditanam di bawah soko guru rumah.

Bullll…. Bullll…. klepussss…..

Antara Mistis dan Artistik Jathilan

Gde Mahesa

Kesenian kuda lumping, atau jaran kepang, adalah bagian yang tak terpisahkan dari adat Jawa, dan juga populer disebut Jathilan. Sebagai kesenian tradisional yang bukan hanya sekadar tarian, tetapi juga merupakan pertambahan budaya Jawa yang sarat akan mitos dan kepercayaan mistis.

Nama tarian ini di setiap daerah berbeda. Contohnya, Kuda Lumping di Jawa Barat, Jathilan Hamengkubuwono di Jawa Tengah dan Yogyakarta, Jaran Kepang di Surabaya, Jaranan Sang Hyang di Bali, Jaranan Buto di Banyuwangi, sampai Jaranan Turonggo Yakso di Trenggalek.

Pertunjukan ini punya satu keunikan yang paling menonjol, yakni aksi kesurupan yang ditonton secara bebas dengan pengendalian seorang pawang. Ada pula atraksi kanuragan atau kekuatan magis, badan kebal, makan beling, dan lain sebagainya.

Jathilan, atau kuda lumping identik dengan gerak tarian yang energik dan dramatis, dengan menggunakan properti kuda tiruan dari anyaman bambu. Dalam permainan ini, ada momen yang ditunggu penonton. Yakni, saat pemain ndadi alias kesurupan, dalam iringan bunyi gamelan yang dinamis, dan suara cetar lecutan cemeti.

Jathilan atau kuda lumping memang boleh dikata bentuk kesenian berbahaya yang melibatkan kejadian magis dan di luar nalar. Konon dalam permainan ini yang seringkali merasuki pemain ada 4 sosok siluman antara lain, seperti siluman sejenis kuda, celeng serenggi sejenis babi dan lain sebagainya.

Tak ketinggalan dalam pertunjukan ini sering disandingkan dengan sesajen untuk tolak bala, memanggil arwah, yang kadang dianggap syirik dalam pandangan agama tertentu. Mitos pertunjukan ini berpusat pada unsur magis, di mana penari diyakini kesurupan siluman atau roh leluhur juga makhluk halus lainnya, sehingga menyebabkan para penari kebal terhadap pecutan, memakan kaca/beling, dan terus menari tak kenal lelah.

Kesurupan dalam pertunjukan kuda lumping secara budaya diyakini sebagai fenomena kerasukan roh leluhur atau makhluk gaib, di mana penari kehilangan kesadaran dan melakukan aksi ekstrem. Namun, sebagian pandangan lain menganggapnya sebagai bagian dari pertunjukan.

Mitos populer pada budaya Jathilan yang masih dipercaya :
1.Mitos Kesurupan sebagai Bukti Kekuatan Gaib :
Kesurupan yang dialami oleh penari Jathilan seringkali dianggap sebagai bukti bahwa mereka telah “dimasuki” roh leluhur atau makhluk halus.
2.Kuda Lumping sebagai Lambang Keberanian dan Perlindungan:
Kuda lumping, yang terbuat dari anyaman ini, diyakini memiliki makna simbolis sebagai lambang keberanian dan memberikan perlindungan kepada penari dari gangguan roh. Untuk itulah kuda lumping seringkali diberi sesaji khusus.
3.Ritual Sesaji untuk Penjaga Gaib:
Sebelum pertunjukan dimulai, sesaji atau persembahan berupa makanan, bunga, dan dupa seringkali dipersiapkan untuk makhluk gaib yang dianggap menjaga lokasi pementasan.
4.Mitos tentang Penggunaan Susuk atau Azimat Khusus :
Diyakini bahwa penari Jathilan, terutama mereka yang terlibat dalam peran tertentu seperti warok atau pemimpin kelompok, sering kali menggunakan susuk atau azimat khusus untuk meningkatkan kekuatan mereka selama pertunjukan.
Azimat berfungsi untuk kekebalan terhadap benda tajam, seperti pecut, beling, atau paku, yang sering dipakai dalam atraksi-atraksi berbahaya.
5.Mitos Pemanggilan Roh Leluhur untuk Kelancaran Pementasan :
Pawang atau pemimpin biasanya melakukan doa dan ritual tertentu untuk memohon izin dari leluhur agar pementasan berjalan lancar dan penonton terhibur tanpa gangguan.
6.Tujuan Magis:
Selain hiburan, tarian ini sering diadakan untuk ritual tolak bala (menghindari musibah) di desa-desa. 

Walaupun tidak semua orang percaya, masyarakat Jawa masih menghormati aspek-aspek budaya dan keyakinan yang melekat pada Jathilan.

Melalui mitos dan kepercayaan, Jathilan tetap hidup dan menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Jawa, menjadikannya tradisi yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan artistik.

Meskipun zaman telah berubah, Jathilan tetap memikat penonton dan masyarakat yang ingin menikmati keindahan seni dan mistisnya, sambil menjaga warisan budaya leluhur yang penuh misteri. 

Asal-usul dari tarian ini pun beragam, selain sebagai bagian dari ritual tolak bala, mengatasi berbagai musibah, konon juga dikatakan bahwa tarian tradisional ini lahir dari dukungan rakyat Jelata terhadap Pangeran Diponegoro   yang berperang melawan kekuatan kolonial Belanda. Namun juga ada versi yang mengatakan bahwa tarian ini muncul di era Kerajaan Mataram   ketika pasukan penunggang kuda yang dipimpin oleh Sultan Hamengkubuwono I berperang melawan penjajah Belanda.

Hal inilah menjadikan tari kuda lumping sebagai simbol perjuangan dan harapan masyarakat.
Maka pantas jika tari kuda lumping bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi juga representasi budaya yang kaya dan penuh makna simbolik.

Bullll….. bullll…. klepussss……

Imlek di Nusantara: Dari Perayaan Terlarang hingga Hari Libur Nasional

Oleh : Heri Mulyono

Perayaan Imlek di Nusantara telah melewati perjalanan panjang dari masa kejayaan, penindasan, hingga kebangkitan kembali sebagai bagian tak terpisahkan dari mozaik budaya Indonesia yang beragam.

Suara petasan memecah keheningan malam, barongsai menari lincah di jalanan, dan warna merah menghiasi setiap sudut kota. Begitulah pemandangan yang kini lumrah ditemui di berbagai penjuru Indonesia saat merayakan Tahun Baru Imlek. Namun, di balik kemeriahan ini tersimpan kisah panjang yang penuh lika-liku, mencerminkan perjalanan masyarakat Tionghoa-Indonesia dalam memperjuangkan identitas budayanya.

Jejak Awal: Kedatangan dan Asimilasi

Sejarah perayaan Imlek di Nusantara tidak bisa dilepaskan dari kedatangan orang-orang Tionghoa ke wilayah ini. Catatan sejarah menunjukkan bahwa hubungan dagang antara Tiongkok dan Nusantara telah terjalin sejak abad ke-7 Masehi. Laksamana Cheng Ho yang berlayar ke Nusantara pada awal abad ke-15 menjadi salah satu tonggak penting yang memperkuat komunitas Tionghoa di berbagai pelabuhan penting seperti Semarang, Surabaya, dan Palembang.

Pada masa itu, perayaan Imlek dilakukan secara sederhana namun penuh makna di kalangan pedagang dan perantau Tionghoa. Mereka membangun klenteng-klenteng sebagai pusat kegiatan keagamaan dan budaya, tempat di mana tradisi-tradisi dari tanah leluhur dijaga dan dilestarikan. Perayaan Imlek menjadi momen untuk berkumpul, berdoa kepada leluhur, dan memohon berkah untuk tahun yang akan datang.

Yang menarik, sejak awal masyarakat Tionghoa di Nusantara telah mengalami proses asimilasi dengan budaya lokal. Mereka tidak hanya membawa tradisi murni dari Tiongkok, tetapi juga mengadaptasinya dengan nilai-nilai dan kebiasaan setempat. Inilah yang kemudian melahirkan keunikan tersendiri dalam perayaan Imlek di Indonesia.

Makna Mendalam di Balik Perayaan

Bagi masyarakat Tionghoa, Imlek bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender lunar, melainkan perayaan yang sarat dengan nilai filosofis dan spiritual. Imlek adalah momen untuk memperbaharui diri, meninggalkan keburukan tahun lalu, dan menyambut harapan baru dengan hati yang bersih. Ritual membersihkan rumah sebelum Imlek melambangkan pembersihan spiritual dari energi negatif. Warna merah yang mendominasi perayaan bukan hanya estetika, tetapi simbol keberuntungan, kebahagiaan, dan penolak bala.

Tradisi berkumpul dengan keluarga besar pada malam tahun baru mencerminkan nilai kekeluargaan yang sangat dijunjung tinggi, di mana tiga generasi atau lebih berkumpul dalam satu meja makan untuk memperkuat ikatan darah dan menghormati leluhur.

Pemberian angpao kepada anak-anak dan yang lebih muda mengandung makna berbagi rezeki dan doa agar generasi penerus mendapat berkah. Sembahyang di klenteng dan altar leluhur adalah wujud penghormatan kepada nenek moyang serta ungkapan syukur atas segala berkah yang telah diterima, mencerminkan nilai Xiao (孝) atau bakti yang menjadi inti ajaran Konfusianisme yang dianut mayoritas masyarakat Tionghoa.

Era Kolonial: Berkembang di Tengah Segregasi

Pada masa kolonial Belanda, komunitas Tionghoa mengalami sistem segregasi yang menempatkan mereka dalam kelompok tersendiri. Meskipun demikian, perayaan Imlek justru berkembang lebih meriah. Di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya, perayaan Imlek menjadi festival besar yang tidak hanya diikuti oleh masyarakat Tionghoa tetapi juga penduduk pribumi dan Belanda.

Pada era ini, tradisi-tradisi seperti pembakaran dupa di klenteng, pertunjukan barongsai dan liong, serta pembagian angpao mulai mengakar kuat. Pecinan-pecinan di berbagai kota menjadi pusat perayaan yang ramai dengan aktivitas perdagangan dan ritual keagamaan. Belanda, yang menerapkan politik devide et impera, justru memberikan ruang bagi komunitas Tionghoa untuk mempertahankan identitas budayanya, termasuk dalam merayakan Imlek.

Masa Keemasan Pasca Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, awalnya terdapat ruang kebebasan bagi seluruh warga negara untuk mengekspresikan budayanya. Perayaan Imlek pada tahun 1950-an hingga pertengahan 1960-an mencapai masa keemasannya. Festival ini dirayakan secara terbuka dan meriah di berbagai kota. Klenteng-klenteng dipenuhi umat, pertunjukan seni barongsai dan liong memadati jalan-jalan, dan suasana kebersamaan begitu terasa.

Pada periode ini, perayaan Imlek mulai dianggap sebagai bagian dari keberagaman budaya Indonesia. Tokoh-tokoh nasional, termasuk Presiden Sukarno, sempat menunjukkan apresiasi terhadap kontribusi masyarakat Tionghoa dalam pembangunan bangsa.

Masa Kelam: Larangan dan Penyembunyian

Namun, keadaan berubah drastis setelah peristiwa G30S pada tahun 1965. Rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mengeluarkan kebijakan yang membatasi, bahkan melarang, ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik. Melalui Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967, segala bentuk perayaan, ritual, dan upacara keagamaan Tionghoa hanya boleh dilakukan dalam lingkup keluarga dan di dalam ruang tertutup.

Selama lebih dari tiga dekade, perayaan Imlek harus dilakukan sembunyi-sembunyi. Tidak ada lagi kemeriahan barongsai di jalan-jalan, petasan tidak boleh dibunyikan, dan lampion merah tidak boleh dipajang di depan rumah. Klenteng-klenteng tetap buka, namun aktivitasnya sangat terbatas. Banyak tradisi terancam punah karena generasi muda tidak bisa belajar dan mewarisi budaya leluhur mereka secara bebas.

Masa ini meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia. Identitas budaya mereka ditekan, bahkan nama-nama Tionghoa harus diganti menjadi nama yang berbau Indonesia. Namun, di balik pengekangan ini, semangat untuk melestarikan tradisi tetap menyala. Di ruang-ruang privat, keluarga-keluarga tetap menjalankan ritual Imlek: menyalakan dupa, menyajikan makanan untuk leluhur, dan memberikan angpao kepada anak-anak.

Kebangkitan: Era Reformasi

Angin perubahan mulai berhembus setelah Presiden Soeharto lengser pada tahun 1998. Era Reformasi membawa harapan baru bagi kebebasan berekspresi, termasuk bagi masyarakat Tionghoa-Indonesia. Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi pahlawan bagi komunitas ini ketika pada tahun 2000 ia mencabut Instruksi Presiden No. 14/1967 dan menetapkan Imlek sebagai hari libur fakultatif.

Keputusan ini disambut dengan sukacita luar biasa. Perayaan Imlek tahun 2001 menjadi yang pertama kali dirayakan secara terbuka sejak tiga dekade sebelumnya. Barongsai kembali turun ke jalan, petasan kembali meledak, dan lampion merah kembali menghiasi pecinan. Banyak yang menangis haru, merasakan kebebasan yang selama ini dirindukan.

Pada tahun 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengukuhkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2002. Sejak saat itu, Imlek tidak hanya menjadi perayaan komunitas Tionghoa, tetapi juga bagian dari perayaan nasional yang dihormati dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.

Keunikan Tradisi Imlek di Berbagai Daerah

Salah satu kekayaan perayaan Imlek di Indonesia adalah keunikan tradisi di berbagai daerah yang mencerminkan proses akulturasi budaya lokal dengan tradisi Tionghoa.

Jakarta dan Tangerang: Pusat Perayaan Metropolitan

Di Jakarta, terutama di kawasan Pecinan Glodok dan Pantai Indah Kapuk, perayaan Imlek berlangsung sangat meriah dengan kemegahan perkotaan. Pertunjukan barongsai dan liong raksasa memadati jalan-jalan protokol, ada festival kuliner khas, dan dekorasi megah di pusat-pusat perbelanjaan. Di Kelenteng Dharma Bhakti (Vihara Jin De Yuan), ribuan umat berdatangan untuk bersembahyang dan memohon berkah.

Yang unik, di Jakarta telah berkembang tradisi “Car Free Day Imlek” di beberapa kawasan, di mana jalan-jalan protokol ditutup dan menjadi panggung pertunjukan seni budaya Tionghoa secara gratis untuk publik. Ini menunjukkan bagaimana Imlek telah menjadi perayaan inklusif yang dinikmati semua kalangan.

Semarang: Tradisi Sam Poo Kong

Semarang memiliki keunikan tersendiri dengan adanya Kelenteng Sam Poo Kong, kompleks kelenteng bersejarah yang dibangun untuk menghormati Laksamana Cheng Ho. Pada perayaan Imlek, ribuan umat dari berbagai penjuru datang ke Sam Poo Kong untuk bersembahyang. Yang menarik adalah tradisi prosesi arak patung Cheng Ho keliling kompleks, diiringi musik tradisional dan tarian.

Di Semarang juga berkembang tradisi “Semawis Night Market” yang berlangsung menjelang dan saat Imlek, di mana kawasan Pecinan Gang Lombok dipenuhi pedagang makanan khas Tionghoa dan pertunjukan budaya. Tradisi ini berhasil memadukan unsur wisata kuliner dengan pelestarian budaya.

Singkawang: Kota Seribu Kelenteng

Singkawang di Kalimantan Barat dikenal sebagai “Kota Seribu Kelenteng” dan memiliki tradisi Imlek yang paling spektakuler di Indonesia: Festival Cap Go Meh. Perayaan ini mencapai puncaknya pada hari ke-15 Tahun Baru Imlek dengan prosesi pawai Tatung yang sangat unik.

Tatung adalah tradisi di mana medium spiritual (kebanyakan pria) memasuki kondisi trance dan menusuk pipi, lidah, atau bagian tubuh lainnya dengan benda tajam tanpa merasa sakit atau berdarah. Mereka percaya bahwa roh dewa masuk ke dalam tubuh para Tatung untuk memberkati masyarakat. Ribuan penonton memadati jalanan untuk menyaksikan prosesi ini yang diiringi barongsai, musik tradisional, dan pembakaran dupa.

Yang membuat Singkawang istimewa adalah kerukunan antarumat beragama. Perayaan Imlek dan Cap Go Meh di sana diikuti oleh semua kalangan, tidak hanya Tionghoa atau Buddhis, tetapi juga Melayu Muslim dan Dayak. Ini menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman bisa hidup harmonis.

Surabaya: Tradisi Klenteng Hong Tiek Hian

Surabaya memiliki Klenteng Hong Tiek Hian yang menjadi pusat perayaan Imlek di Jawa Timur. Keunikan di Surabaya adalah tradisi “Ba Chang” atau membagi-bagikan bakcang (bacang) kepada masyarakat umum sebagai simbol berbagi rezeki. Ribuan bakcang dibagikan gratis kepada siapa saja yang datang, tanpa memandang suku atau agama.

Di kawasan Kya-Kya dan Kembang Jepun, perayaan Imlek berlangsung selama berhari-hari dengan pertunjukan barongsai, pameran seni, dan bazar kuliner. Tradisi “Salam Tempel” juga berkembang, di mana warga saling menempelkan amplop angpao di dahi sebagai simbol persahabatan dan keakraban.

Medan: Perpaduan Budaya Tionghoa-Melayu

Di Medan, Sumatera Utara, perayaan Imlek memiliki sentuhan khas perpaduan budaya Tionghoa dengan budaya Melayu dan Batak. Di Kelenteng Tjong A Fie dan Vihara Gunung Timur, perayaan Imlek diwarnai dengan pertunjukan musik tradisional yang memadukan alat musik Tionghoa dengan musik Melayu Deli.

Kuliner khas Medan seperti babi panggang, mie Tiong Sim, dan kue keranjang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan. Yang unik, ada tradisi “Guan Gong Keliling” di mana patung Dewa Guan Gong diarak keliling kampung sambil membagikan angpao dan buah jeruk kepada warga.

Solo dan Yogyakarta: Akulturasi Jawa-Tionghoa

Di Solo dan Yogyakarta, perayaan Imlek menunjukkan akulturasi yang sangat indah antara budaya Jawa dengan Tionghoa. Di Klenteng Tay Kak Sie Solo dan Kelenteng Poncowinatan Yogyakarta, ritual Imlek dilakukan dengan penambahan unsur budaya Jawa seperti penggunaan gamelan dan tarian tradisional Jawa.

Yang menarik adalah tradisi “Bakpia Pathok” di Yogyakarta yang sebenarnya berasal dari kue Tionghoa “pia” yang telah diadaptasi dengan selera lokal. Pada saat Imlek, bakpia menjadi oleh-oleh wajib yang dibagikan sebagai simbol keberuntungan.

Imlek Hari Ini: Perayaan Nasional yang Inklusif

Saat ini, Imlek telah berkembang menjadi perayaan nasional yang inklusif. Bukan hanya masyarakat Tionghoa, tetapi juga masyarakat dari berbagai latar belakang ikut merayakan dan menikmati kemeriahan Imlek. Ucapan “Gong Xi Fa Cai” terdengar di mana-mana, restoran-restoran Tionghoa penuh sesak, dan pertunjukan barongsai menjadi tontonan yang dinantikan.

Media massa memberikan liputan luas tentang perayaan Imlek, pemerintah daerah menggelar berbagai acara festival, dan pusat-pusat perbelanjaan berlomba-lomba menghadirkan dekorasi dan promo spesial Imlek. Ini menunjukkan bagaimana Imlek telah menjadi bagian integral dari kalender budaya Indonesia.

Yang lebih penting, perayaan Imlek hari ini menjadi momen untuk memperkuat kerukunan dan persatuan. Banyak keluarga non-Tionghoa yang ikut memberikan angpao kepada anak-anak, menikmati kuliner khas Imlek, dan bahkan menghadiri perayaan di klenteng. Sebaliknya, masyarakat Tionghoa juga aktif dalam perayaan budaya suku lain, menciptakan pertukaran budaya yang harmonis.

Penutup: Dari Perjuangan Menuju Keberagaman

Perjalanan perayaan Imlek di Nusantara adalah cerminan dari perjalanan Indonesia sendiri dalam mengelola keberagaman. Dari masa kejayaan, penindasan, hingga kebangkitan kembali, Imlek telah membuktikan bahwa identitas budaya adalah hak fundamental yang tidak boleh dirampas.

Keunikan tradisi Imlek di berbagai daerah menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang lahir dari proses akulturasi dan dialog antarbudaya. Ini adalah bukti bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekayaan yang harus dijaga dan dirayakan bersama.

Hari ini, ketika lampion merah berkibar dan barongsai menari di jalanan Indonesia, kita tidak hanya merayakan Tahun Baru Imlek, tetapi juga merayakan kemenangan toleransi, pluralisme, dan kemanusiaan. Sejarah telah mengajarkan kita bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada kemampuannya merangkul dan menghormati semua unsur yang membentuknya. (*)

Jejak Rokok Klobot hingga Jenderal Sudirman

– Gde Mahesa

Klobot menurut Ensiklopedia adalah jenis rokok dari campuran tembakau, cengkeh, dan saus yang dibungkus dengan kulit jagung, dan modelnya mengerucut keatas. Mitos rokok klobot berkaitan erat dengan tradisi Jawa kuno, dianggap sebagai rokok tertua Indonesia.

Aslinya klobot atau daun jagung ini lebih sering dimanfaatkan sebagai bahan pangan ternak atau hewan, karena memiliki kandungan protein, lemak, dan serat yang cukup. Namun oleh beberapa orang kerap memanfaatkan klobot ini sebagai bahan penggulung tembakau saat merokok.

Siapa sebenarnya yang mengawali rokok klobot? Tidak ada jejak atau catatan sejarah pasti mengenai siapa individu pertama yang membuat rokok klobot (rokok yang dibungkus dengan kulit jagung kering).

Namun rokok klobot adalah warisan leluhur dan bentuk rokok tradisional yang sudah melegenda sejak zaman Belanda, dimana ditengarai masyarakat Indonesia baru mulai mengonsumsi tembakau pada awal abad ke-16.

Namun ada hal yang perlu diingat, bahwa konon dalam sebuah legenda, diceritakan Rara Mendut menjadi perempuan pembuat dan penjaja kretek ternama di masa itu. Dengan ciri khas model rokok yang dilinting sendiri, direkatkan dengan jilatan lidahnya, dan dihisap sedikit.

Nah rokok bekas hisapan Rara Mendut inilah yang konon laku keras dengan harga mahal dan dipercaya memiliki cita rasa magis karena daya tarik erotis dari bibir sang penjual. Rokok buatan Roro Mendut memiliki kekhasan tersendiri dikenal dengan nama Klobot.

Akhirnya pada zamannya aktifitas merokok menjadi status simbol elite yang hanya dipunyai kalangan atas dari lapisan masyarakat.  Raja Mataram Sultan Agung tercatat dalam sejarah sebagai salah seorang perokok berat, beliau kerap digambarkan membawa pipa cangklong perak dalam berbagai kegiatannya, serta tak lupa rokok klobot yg selalu tersedia.

Rokok klobot memang termasuk rokok tertua yang diciptakan oleh masyarakat Indonesia, yang asal-usulnya sebenarnya berasal dari kesulitan memperoleh kertas guna melinting rokok. Sehingga ada anggapan ditengah masyarakat tentang para penikmat Klobot, yang mana hanya dinikmati oleh golongan umur tua dan para petani atau nelayan. Boleh dikatakan jarang dijumpai anak muda yang menikmati kretek ini.

Namun berbeda dengan masyarakat Suku Tengger, rokok klobot dianggap sebagai produk khas buatan tangan Suku Tengger, yang mana rokok ini juga sangat kental dengan simbol serta makna kehidupan. Dalam budaya Suku Tengger, memiliki rokok biasanya menjadi salah satu benda yang wajib ada dalam sesajen.

Salah satu ritual sesajen di sana adalah Gedang Ayu. Ritual tersebut berlangsung dengan tujuan memberikan penghormatan kepada arwah leluhur dalam bentuk pemberian atau penyediaan berbagai bahan sesaji yang digunakan oleh mendiang selama hidupnya.

Makna rokok klobot dalam sesajen :

– Penghormatan dan Sajen untuk Leluhur: Rokok klobot sering disajikan sebagai simbol penghormatan kepada arwah leluhur atau danyang (penjaga wilayah) yang diyakini menyukai aroma tembakau tradisional.

– Filosofi Kehidupan: Dalam masyarakat Tengger, rokok klobot memiliki makna filosofis “roso kang klobot”, yang berarti perasaan yang tertutup atau terbungkus. Ini melambangkan manusia harus bisa mengendalikan hawa nafsu dan menutup diri dari perbuatan buruk.

– – Wujud Warisan Budaya dan Tradisi: Penggunaan klobot, bukan rokok modern, menandakan penghormatan terhadap warisan nenek moyang (warisan leluhur) dan menjaga otentisitas ritual.

– Sarana Komunikasi Spiritual: Dalam klenik atau ritual Jawa, klobot dianggap sebagai media “penyambung” atau sarana spiritual yang wangi (melalui asapnya) untuk mengirim doa kepada yang sudah meninggal agar mendapatkan pengampunan atau tempat yang baik.

– Simbol Gotong Royong: Secara sosial, rokok klobot juga merepresentasikan semangat gotong royong dan kebersamaan, sering digunakan dalam kegiatan adat yang melibatkan banyak orang. 

Secara keseluruhan, rokok klobot dalam sesajen adalah simbol pengikat antara manusia, alam, dan leluhur, serta pengingat akan tata laku kehidupan yang luhur.

Bagi perokok berat, atau pencinta rokok, sebatang rokok ibarat sudah seperti penyambung nafas mereka setiap saat.

(Dicuplik dari Inibaru.id) – Salah satu pahlawan kemerdekaan Indonesia, Panglima Besar Jenderal Sudirman juga tidak bisa terlepas dari rokok klobot. Beliau adalah seorang perokok berat, mulai merokok sejak remaja. Merek rokoknya? Tingwe alias nglinthing dewe, artinya meramu sendiri, dengan model rokok klobot. Rokok yang pembungkusnya menggunakan kulit jagung.

Peristiwa pertumpahan darah sesama bangsa Indonesia, membuatnya terpukul, hingga menyebabkan batin dan raganya kelelahan. Meski badan merasa sakit, kegemarannya merokok tingwe tidak bisa dijauhkan. Sembari terbaring, sesekali Jenderal Sudirman tetap mengisap rokok klobot.

Agresi Militer II bikin Sudirman kembali turun berperang, meski kelompok kecilnya harus menandu selama bergerilya tujuh bulan lamanya, dan tentu beliau tidak pernah lupa membawa bekal paket rokok klobot di tangan.

Kecintaan Sudirman pada rokok klobot nggak berhenti setelah paru-parunya hanya satu. Sungguh luar biasa, secinta itu pahlawan kemerdekaan kita Jenderal Soedirman yang terus berjuang dan berperang dengan satu paru-paru, tanpa meninggalkan kecintaannya akan rokok klobot.

Bullll…. Bullll…. klepussss…..